
Edward memutuskan menginap di rumah kediaman Saltano. Setelah melihat sikap Natasha yang mencurigakan. Edward berdiri di balik dinding sambil mendengar percakapan Natasha dan Raffa menyebabkan Edward memutuskan untuk mengawasi gerak-gerik gadis itu.
Pagi itu Raffa dan Celina bersiap-siap untuk berangkat ke kantor masing-masing. Saat melintasi ruang makan, Ny. Rowenna langsung mengajak putra dan menantunya itu untuk sarapan bersama.
Di sana telah duduk Ozora dan Edward. Bangku yang biasa di gunakan untuk Celina telah di duduki oleh Natasha. Melihat itu Raffa meminta Celina duduk di samping Natasha dan Raffa sendiri duduk di samping Ozora.
Dua laki-laki itu langsung tersenyum dan melakukan hi five. Raffa sarapan sambil berbincang seru dengan Ozora, anak laki-laki itu terlihat sangat merindukan kedua orang tuanya. Banyak sekali yang di ceritakan Ozora pada Papanya, sementara yang lain mendengar dengan penasaran.
"Kalau sudah lulus mau langsung kerja di Perusahaan kita?" tanya Raffa.
Ozora mengangguk dengan mantap, Raffa mengusap rambut putranya lalu mengecup puncak rambut anak itu. Setiap kali merasa kagum pada Ozora, Raffa akan selalu melirik pada istrinya. Berterima kasih di dalam hati pada wanita yang telah melahirkan anak yang membanggakannya itu.
"Kita lanjutkan perbincangan kita nanti sepulang kerja Ok!" ucap Raffa.
Ozora kembali mengangguk, mereka pun menyudahi acara sarapan pagi. Celina mendekati putranya.
"Mama berangkat dulu ya, nanti kalau Ozora ingin ke toko datang saja. Sekarang Ozora ada rencana apa?" tanya Celina.
"Mau ajak Aurora belajar, baca buku trus berenang. Ozora ingin berenang bersama Aurora" ucap Ozora.
"Apa? Berenang bersama Aurora? Tapi..."
"Jangan khawatir aku yang mengajari Aurora berenang" ucap Edward.
"Oh, Kakak ingin mengajari Aurora berenang? Ozora juga sudah bisa berenang?" tanya Celina.
"Mama ketinggalan jaman, Ozora sudah dari dulu diajari berenang sama Papa" ucap Ozora sambil tersenyum.
"Oh, ya kalau begitu hati-hati ya? Kak kalau bisa nanti saja saat aku pulang kerja" ucap Celina khawatir.
"Ya, Nyonya Celina, sekarang biar Ozora ajari adiknya membaca dulu setelah pulang dari kantor baru belajar berenang, gimana? Setuju?" tanya Edward.
Celina mengangguk sambil tersenyum, bersyukur karena kakaknya pengertian. Bagaimanapun juga Aurora masih bayi dan Celina tidak ingin merasa khawatir saat bekerja. Ozora dan Edward beserta Aurora yang digendong melambaikan tangannya pada kedua orang tuanya.
Terlebih lagi Ozora pada Papanya, anak itu memandang Raffa yang tersenyum sambil melambaikan tangannya. Teringat ucapan Raffa pada Ozora.
"Papa berangkat kerja dulu ya. Ozora anak laki-laki kebanggaan Papa yang akan menjadi penerus keluarga ini. Pewaris perusahaan dan penjaga keluarga ini. Papa bangga padamu dan percaya padamu. Kamu pasti bisa menjaga Mama, Aurora, Grandma dan Grandpa. Jaga mereka baik-baik ya" pesan Raffa.
"Baik Pa, Papa hati-hati mengemudi. Jangan terlalu lelah bekerja dan jangan lupa pulang" ucap Ozora sambil tertawa.
Raffa tertawa mendengar kelakar anaknya dan kembali tersenyum saat mengingat candaan putranya. Melaksanakan pekerjaan dengan semangat, membuat David merasa heran. Raffa selalu bekerja semangat bekerja jika hatinya sedang gembira.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya David merasa heran.
"Apa?" ucap Raffa balik bertanya.
"Dari tadi aku lihat wajahmu berseri-seri, apa yang terjadi?" tanya David.
"Tidak terjadi apa-apa, cuma merasa senang berangkat kerja di temani anak" jawab Raffa.
"Oh, aku pikir Celina mau punya bayi lagi" ucap David tertawa.
"Aurora masih bayi masa mau punya bayi lagi. Ada-ada saja kamu" ucap Raffa tertawa.
"Celina, sejak pertama kali bertemu denganmu sudah tidak bisa berpaling lagi darimu. Apa pun yang kamu inginkan pasti akan dikabulkannya. Punya bayi lagi jika itu keinginanmu pasti tidak masalah baginya" jelas David.
"Celina juga segala-galanya bagiku. Meski dia akan mengabulkan semua permintaanku aku juga tidak akan tega membiarkan dia punya bayi lagi. Ditambah proses kelahirannya yang terakhir kali aku hampir kehilangan mereka. Rasanya cukup sampai Aurora saja. Sudah memiliki satu anak laki-laki tersayang dan satu anak perempuan tersayang sudah cukup" jelas Raffa sambil membuka halaman demi halaman laporan keuangan perusahaan.
"Baiklah tidak ada pembahasan lagi. Satu kesimpulan yang aku dapatkan. Celina dan anak-anakmu adalah yang terpenting dalam hidupmu karena mereka adalah orang-orang yang kamu sayangi. Aku dan kamu tidak boleh melupakan itu" jelas David.
"Kenapa kamu harus ikut mengingatnya?" tanya Raffa sambil tertawa.
"Tentu aku harus ingat, karena tugas utamaku adalah mengingatkanmu. Jika aku sendiri lupa bagaimana aku akan mengingatkanmu" balas David.
"Celina dan anak-anak adalah yang terpenting dalam hidupku lalu kenapa aku bisa lupa? Kenapa perlu kamu untuk mengingatkanku?" balas Raffa.
__ADS_1
Mereka tertawa bersama namun tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Sebelum Raffa mempersilahkan masuk, seseorang telah lebih dulu membuka pintu. Raffa terkejut saat melihat Natasha masuk sambil tersenyum.
"Mau apa kamu datang ke sini?" tanya Raffa dengan nada yang tidak senang.
"Mulai hari ini aku berkerja di sini" jawab Natasha lalu duduk dengan anggun di kursi tamu kantor.
"Siapa yang mengizinkan kamu untuk bekerja di perusahaan ini?" tanya David.
Natasha tidak menjawab pertanyaan David, gadis itu hanya melirik ke arah David dengan pandangan yang merendahkan.
"Keluarlah, aku ingin bicara empat mata dengan pimpinanmu" ucap Natasha dengan angkuh.
"Tidak ada yang bisa membuat David keluar dari ruangan ini selain perintahku. David adalah orang kepercayaanku, sahabatku, saudaraku. Jangan merasa dirimu lebih tinggi darinya. Kalau kamu berani berkata buruk padanya dalam waktu singkat security akan menyeretmu keluar dari gedung ini" ucap Raffa tegas.
Natasha terdiam menatap pada David dan beralih pada Raffa. Menjawab pertanyaan David namun tidak mau menatap ke arahnya.
"Tante Rowenna memberi rekomendasi untukku agar bisa bekerja di sini. Aku serahkan pada HRD dan langsung di perbolehkan bekerja di sini hari ini juga" jawab Natasha.
Raffa memijat pangkal hidungnya. Laki-laki itu baru ingat kalau perempuan itu dekat dengan ibunya.
"Aku akan menjadi sekretarismu" ucap Natasha.
"Aku tidak butuh sekretaris lagi, semua sudah di handle oleh David. Aku tidak membutuhkanmu kalau mau jadi karyawan biasa sesuai dengan jurusanmu" jelas Raffa.
"Aku lulusan luar negeri, aku tidak mau menjadi karyawan biasa" ucap Natasha tegas.
"Kalau begitu cari perusahaan lain yang bisa menerimamu sebagai sekretaris" ucap Raffa tak peduli pada gadis di hadapannya itu.
David tersenyum kecil membuat gadis itu semakin kesal melihat Personal Assistant Raffa itu. Natasha berdiri dari tempat itu dan berjalan keluar dari ruangan Raffa. Membanting pintu ruangan itu hingga membuat David menggelengkan kepala.
"Dia pikir perusahaan ini milik bapaknya. Apa kamu tidak akan memberitahukan tingkah gadis itu pada Ny. Rowenna?" tanya David.
"Untuk sementara aku akan bersabar dulu, nanti jika sikapnya sudah keterlaluan dan mempengaruhi nama baik perusahaan, mau tidak mau aku akan laporkan pada Mommy" tutur Raffa.
"Dia terlihat sangat berbahaya, sepertinya dia sangat menyukaimu. Sejak di Villa hingga sekarang dia selalu ingin menempel denganmu. Apa Celina tidak merasa terganggu?" tanya David.
Raffa menghempaskan punggungnya dikursi kerjanya. Menghembuskan nafas berat dan akhirnya memutuskan untuk bercerita pada David. Sahabat Raffa itu tercengang mendengar perbuatan nekad Natasha untuk menarik perhatian Raffa.
"Aku sudah mengira dia wanita yang berbahaya, kamu harus lebih hati-hati Raffa. Jangan pernah mau mengikuti keinginannya. Bisa-bisa kamu di jebak olehnya, kasihan Celina" ucap David prihatin.
"David, bantu aku untuk melewati ini" pinta Raffa.
Sejujurnya di dalam hati Raffa juga ada rasa takut yang entah datang dari mana. Tidak pernah Raffa merasa seperti itu.
"Rasa khawatirku terasa lebih besar saat mendengar ucapan Celina. Dia merasa lelah dengan masalah yang mengganggu rumah tangga kami. Itu membuat bebanku menjadi berat, aku merasa tergelincir sedikit saja aku akan kehilangan Celina" sambung Raffa.
"Tentu, tanpa diminta pun akan aku bantu sebisaku. Jangan khawatir" ungkap David.
Raffa sudah menceritakan tentang perilaku Natasha berikut rasa khawatirnya akan keutuhan rumah tangganya. Setelah mencurahkan isi hatinya Raffa mempersilahkan David untuk melanjutkan pekerjaannya dan meninggalkan Raffa termenung sendiri di ruangannya.
Laki-laki itu tiba-tiba sangat merindukan Celina. Menelepon gadis itu untuk berjanji makan siang di sebuah restoran. Celina memenuhi ajakan suaminya, tak sabar gadis itu pun menunggu datangnya istirahat siang.
Mendengar suara istrinya yang bersemangat menerima ajakan makan siangnya, hati Raffa kembali gembira. Laki-laki itu kembali menjalani harinya dengan semangat setelah sempat mengalami kegalauan karena kehadiran Natasha di kantornya.
Aku harus terus terang pada Celina kalau Natasha bekerja di perusahaan ini, jangan sampai dia tahu hal ini dari orang lain apalagi dari Natasha sendiri. Celina pasti akan merasa sedih, batin Raffa.
Hari ini pekerjaan Raffa tidaklah banyak, tak ada hal penting yang terjadwal dalam waktu dekat ini. Raffa pun bergegas keluar dari ruangannya begitu jam istirahat kantor tiba.
"David aku akan makan siang bersama Celina" ucap Raffa melalui sambungan telepon.
David pun mengiyakan, Raffa melaporkan hal itu agar laki-laki itu tidak perlu bertanya padanya di mana Raffa ingin makan siang hari ini atau ingin makan apa. David pun bebas ingin makan siang di mana.
Dengan semangat Raffa berjalan menuju lift yang mengantarnya menuju parkir basement gedung perkantorannya. Namun, tiba-tiba muncul Natasha dan langsung menahan lift. Gadis itu pun masuk ke dalam lift dan berdiri bersebelahan dengan Raffa.
Laki-laki itu bersikap tidak peduli, seakan-akan tidak mengenal Natasha.
__ADS_1
Sombong sekali gayanya sampai-sampai tidak mau melirik sedikit pun, jerit hati Natasha.
Melihat sikap Raffa yang terlihat tak acuh padanya membuat gadis itu geram. Dengan sengaja ingin mengganggu rencana Raffa.
"Kak, ayo kita makan siang bersama" ajak Natasha.
"Aku sudah ada janji" ucap Raffa tak acuh.
"Dengan siapa?" tanya gadis itu lagi.
Raffa tidak menjawab, laki-laki itu merasa tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
"Batalkan janji dengan orang itu dan makan siang bersamaku" ucap Natasha sambil memandang Raffa.
Gadis itu mulai menyelipkan tangannya ke lengan Raffa. Laki-laki itu langsung mengangkat tangannya.
"Apa mau mu? Kenapa begitu usil padaku? Pergilah makan siang sendiri. Aku tidak akan membatalkan janjiku karenamu" ucap Raffa tegas.
"Kenapa Kakak menolak ajakanku? Apa karena janji dengan istrimu yang sudah tua itu?" tanya Natasha.
"Tua, apa matamu buta? Kamu pikir dia tua karena memiliki Ozora? Celina mengandung anakku saat berumur sembilan belas tahun. Dia masih sangat muda dan jauh lebih cantik darimu. Jadi cukup, jangan pernah menjelek-jelekkan istriku lagi. Itu tidak akan mempengaruhi perasaanku padanya" ungkap Raffa dengan wajah kesal.
"Kalau Kakak tidak mau makan siang denganku maka aku akan bunuh diri" ancam Natasha.
"Apa-apaan kamu? Aku tidak peduli" ucap Raffa dan langsung keluar saat pintu lift itu terbuka.
Natasha terdiam dengan sorot mata yang tajam lalu menutup pintu lift. Menekan lantai dasar dan bergegas berjalan ke luar kantor. Berlari di lobby kantor tanpa mempedulikan siapa pun yang melihatnya. Dia ingin segera sampai di depan gedung perkantoran itu untuk mencegat mobil Raffa yang baru akan muncul dari parkir basement.
Dan benar saja saat mobil Raffa keluar dari basement gadis itu langsung berdiri menghadang. Raffa kaget dan buru-buru menginjak rem.
"Apa-apaan ini, kenapa dia menghadangku?" teriak Raffa di dalam mobil.
"Kalau Kakak tidak membatalkan janji itu aku akan bunuh diri lihat saja" teriak Natasha.
"Perempuan ini sudah gila!!" teriak Raffa.
Raffa masih diam di dalam mobilnya, membuat Natasha semakin nekad. Berjalan ke jalan raya dan berdiri di pinggir jalan. Raffa memperhatikan dari balik kaca mobil. Gadis itu memejamkan mata dan berjalan mundur. Raffa terkejut dengan aksi nekad gadis itu. Langsung memacu mobilnya ke jalan dan keluar dari mobil untuk mengejar.
Natasha benar-benar nekad, baginya apa pun akan di lakukannya untuk mendapatkan Raffa mesti dengan cara memaksa dan berbahaya. Semakin berjalan ke tengah dengan tangan yang direntangkan. Riuh bunyi klakson di jalanan sama sekali tak di dihiraukannya.
Sebuah mobil yang tak sabar melihat mobil di depannya memperlambat lajunya, tetap saja memacu mobil dan menyalip. Baru tersadar ada yang melintas di tengah jalan. Raffa yang melihat mobil yang tidak memperlambat lajunya langsung berlari dan mendorong tubuh Natasha ke arah median jalan.
Gadis itu pun jatuh berguling di atas jalur hijau pemisah lalu lintas dari arah yang berlawanan itu. Segera membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi. Terkejut saat melihat Raffa yang telah terkapar di tengah jalan dengan darah segar yang mengalir dari belakang kepalanya.
Natasha menjerit sejadi-jadinya, orang-orang berdatangan. Mobil yang lalu lalang pun berhenti dan menepi. Natasha berlari menghampiri Raffa yang telah bersimbah darah. Memanggil nama laki-laki itu berkali-kali.
Seseorang segera mengambil inisiatif untuk memanggil polisi dan ambulance. Raffa pun dilarikan ke rumah sakit, Natasha di mintai keterangan tapi gadis itu masih terguncang. Segera berlari mencari ruang perawatan Raffa.
Seorang perawat memberitahu kalau Raffa mengalami cedera kepala yang parah atau dikenal dengan gegar otak berat. Kondisi gegar otak parah yang di alaminya menyebabkan Raffa mengalami pendarahan dan pembengkakan di otak.
Saat di tanya siapa yang ingin di hubungi Natasha hanya menangis. Gadis itu menyesal karena apa yang dilakukannya justru mencelakai laki-laki yang dicintainya. Gadis itu terus menangis hingga dokter memberi Natasha obat penenang, gadis itu pun tertidur.
Dua jam kemudian Natasha terbangun, seorang suster langsung memberitahu kalau Raffa telah sadar. Natasha langsung menghampiri laki-laki itu.
"Kak Raffa" jerit Natasha sambil memeluk Raffa.
Raffa hanya diam memandang Natasha.
"Nona, pasien tidak mengenali anda. Pasien bahkan tidak mengingat siapa dirinya" ucap seorang dokter.
Natasha melepaskan pelukannya dan memandang tak percaya pada ucapan dokter.
"Pasien ini telah mengalami amnesia"
...~ Bersambung ~...
__ADS_1