
Ozora masuk ke kantor Celina sambil menarik tangan seorang pria, yang tak lain adalah orang yang sedang dibicarakan Raffa dan Celina. Tingkah laki-laki itu yang kembali mengirim bunga untuk Celina tentu saja membuat Raffa kesal.
"Mama, papa, kenalkan ini salah seorang dari anggota tim penyelamat untuk perusahaan keluarga Cartwright, tuan Edward Miller, lulusan Stanford university sama seperti uncle Kev" ucap Ozora memperkenalkan.
Raffa dan Celina tercengang, bisa dikatakan orang yang tak diharapkan justru datang. Dan yang lebih membuat mereka kaget adalah Ozora yang terlihat sudah sangat akrab dengannya.
Raffa yang sejak awal sudah tidak menyukai laki-laki itu terpaksa bersikap wajar di depan anaknya. Apalagi Ozora dengan begitu senang memperkenalkan Edward kepada kedua orang tuanya.
"Kami sudah saling mengenal Ozora" ucap Edward.
"Oh ya, benarkah uncle Ed ? dimana ?" tanya Ozora.
Raffa dan Celina saling berpandangan, bukan karena Edward yang mengakui telah mengenal mereka, tapi panggilan Ozora terhadapnya. Begitu mudahnya anak itu memanggil seseorang dengan panggilan paman atau om pada orang yang baru dikenalnya.
"Jangan heran Celina, aku sudah mengenal Ozora hampir setahun ini, benar kan Ozora ?" tanya Edward yang dibalas dengan anggukan oleh Ozora.
"Jadi waktu berkenalan dengan kami saat perjalanan bulan madu itu kalian sudah saling mengenal ?" tanya Raffa, seperti tak sabar ingin segera mengetahui tujuan laki-laki bule itu masuk dalam kehidupan mereka.
"Ya jauh sebelum itu, aku dan Ozora telah berhubungan melalui jaringan internet. Awalnya karena tertarik dengan perbincangan sesama pebisnis di Indonesia lalu aku ikut bergabung dengan forumnya. Hingga akhirnya aku juga bergabung dengan club philanthropists" cerita Edward.
"Apa ? kamu sudah menjadi anggota club philanthropists ? sejak kapan dan kenapa aku tidak mengetahuinya ?" tanya Raffa semakin tidak suka mendengar laki-laki itu seperti telah lama mengintai keluarganya.
"Saat peresmian pembentukan Club Philanthropist, aku tadinya ingin kembali menjalin hubungan pertemananku dengan Kevin yang menjadi presiden club itu. Tapi terkendala oleh pertarungan cinta segitiga aku jadi batal menemui sahabatku" ucap Edward sambil tertawa, duduk bersandar di kursi tamu kantor Celina.
"Kamu menyaksikan kejadian itu ?" tanya Raffa, yang dibalas anggukan oleh Edward.
"Ironi bukan ? saat peresmian club, Celina adalah pasangan Kevin tapi disaat bulan madunya dia bersama denganmu" ucap Edward kembali tertawa.
Raffa meminta Celina membawa Ozora keluar ruangan, dia ingin bicara empat mata dengan Edward. Celina merasa cemas dengan perintah itu, membiarkan Raffa satu ruangan dengan orang yang dibencinya. Celina menggelengkan kepala.
Raffa menatap tajam pada Celina, dengan terpaksa gadis itu mengajak Ozora keluar dari ruangan.
"Ozora keluar ya sayang, papa ingin bicara dengan tuan Edward" ucap Raffa tetap bersikap wajar di depan anaknya.
"Baik papa" jawab Ozora.
Celina langsung memegang tangan Ozora, kembali menoleh pada suaminya yang menatap tajam pada Edward.
"Siapa kamu sebenarnya ? apa tujuanmu mendekati keluarga kami ?" tanya Raffa langsung ke pokok permasalahan.
"Aku inginkan Celina" ucap Edward santai.
"Kurang ajar, bukankah kamu tau Celina telah menikah" ucap Raffa keras dengan tangan yang telah mengepal.
"Aku tau, bukankah ceritaku sudah menunjukkan bahwa aku sudah mengamatinya sejak lama. Sejak dia masih menjadi pasangan Kevin" ucap laki-laki itu masih santai.
Raffa menggebrak meja, tentu saja terdengar oleh Celina yang berdiri di depan pintu ruangannya. Bersama Keira, Celina sama-sama terkejut mendengar gebrakan meja itu. Celina segera ingin masuk namun ditahan oleh Keira.
"Jangan, Raffa bisa marah padamu. Dia menyuruhmu keluar agar kamu tidak ikut campur" ucap Keira.
"Tapi Keira bagaimana aku bisa membiarkan suamiku bersama dengan orang tak dikenal dengan emosi seperti itu" ucap Celina dengan mata yang berkaca-kaca.
Panik, khawatir terjadi sesuatu di dalam sana, Raffa seorang petarung, tapi Celina juga tidak tau kemampuan bertarung laki-laki bule itu. Tubuhnya juga tinggi seperti Raffa. Celina takut membayangkan terjadi hal yang buruk didalam sana.
"Apa sebaiknya kita telepon Kevin ?" tanya Keira.
Gadis itu sendiri tidak tau apa yang harus diperbuatnya. Terpikirkan untuk menelpon Kevin karena Edward juga adalah sahabatnya.
"Tapi aku takut kak Raffa tidak setuju kita memanggil kak Kevin" ucap Celina.
"Sudahlah, anggap saja kamu tidak tau kalau aku menelponnya. Aku yang akan bicara jika Raffa bertanya, kamu jangan takut" ucap Keira langsung menelpon Kevin, menjelaskan situasi yang di hadapi Celina.
Sementara itu Raffa dan Edward masih perang dingin. Ucapan Edward seolah-olah menganggap Celina bisa mudah berpindah dari satu pria ke pria lain. Edward menekankan dia mengamati Celina saat masih menjadi tunangan Kevin namun kemudian tiba-tiba telah menjadi istri Raffa.
Ucapan itu membuat Raffa marah, laki-laki itu mengisyaratkan Celina masih bisa berpindah ke laki-laki lain.
"Dimana Celina menaruh bunga yang ku kirimkan untuk nya ? kamu menyuruhnya untuk membuang bunga pemberianku ?" tanya Edward dengan santainya.
"Istriku tidak butuh bunga dari laki-laki lain" ucap Raffa dingin.
"Oh ya, kenapa ? kamu sering memberinya bunga ? wanita itu perlu dipuji, diperhatikan, disayang, dimanjakan, apa kamu melakukannya ? aku rasa tidak, sekedar memberi bunga saja, mungkin tidak" ucap Edward.
"Cukup, pergi kamu dari sini atau aku tidak tahan untuk berlaku kasar padamu" ucap Raffa.
"Kenapa tidak sejak tadi kamu mengusirku ?
Kamu ingin tau tujuanku mendekati keluarga kalian bukan ?
__ADS_1
Kenapa baru sekarang ingin mengusirku ?
Tidak tertarik lagi dengan alasanku mendekati Celina ?
Atau kamu malu karena kenyataannya kamu memang tidak pernah memujinya, memperhatikannya atau memanjakannya.
Kamu ingat padanya hanya disaat ingin bercinta dengannya" ucap Edward menatap tajam pada Raffa.
Raffa telah kehilangan kesabarannya, berdiri dihadapan laki-laki itu, hendak meraih krah kemeja Edward. Sementara Edward masih terlihat sangat tenang.
"Kamu tidak tau ? dia diam saja saat aku menyapu bibirnya waktu sarapan pagi dihotel itu" ucap Edward.
Mendengar ucapan laki-laki itu, Raffa sudah tidak memiliki kesabaran lagi, siap melayangkan kepalan tangannya ke wajah Edward.
"Tentu saja kamu tidak tau, kamu terlambat datang" ucap Edward mengingatkan saat terakhir kali mereka sarapan pagi di hotel dan Edward telah mendahuluinya duduk dihadapan Celina.
Raffa terpaku, perkataan laki-laki itu, merendahkan istrinya sekaligus dirinya. Raffa benar-benar akan melayangkan tinjunya pada laki-laki lancang itu.
Namun tiba-tiba pintu kantor terbuka dan Kevin muncul dihadapan mereka. Edward jelas tidak takut pada Raffa, namun kedatangan Kevin memang menyelamatkannya.
"Apa yang kamu lakukan disini ?" tanya Raffa pada Kevin lalu menoleh pada Celina.
"Aku mencari Keira, kebetulan dia ada disini" dalih Kevin.
"Kamu yang menyuruhnya datang kemari ?" tanya Raffa pada Celina.
Celina tidak menjawab apa-apa dan Raffa langsung pergi meninggalkannya. Meninggalkan mereka semua, Celina mengejar suaminya, namun Raffa tidak mempedulikannya. Celina diam mengikuti suaminya itu, dia tidak ingin menarik perhatian pengunjung.
Sesampai diparkiran barulah Celina menghentikannya.
"Kak, kenapa ? ada apa ? kenapa pergi ? apa yang terjadi ?" tanya Celina sambil menahan tangan Raffa.
"Kamu ingin tau ? dia bilang dia menginginkanmu dan dia sangat percaya kalau dia bisa memilikimu" ucap Raffa ingin segera pergi.
"Tunggu kak, bagaimana mungkin dia berani bicara begitu pada suamiku ?" tanya Celina.
"Kenapa tidak ? dia tau sifatmu bisa berpindah dari satu laki-laki ke laki-laki yang lain" ucap Raffa menatap tajam pada istrinya.
"Apa ?" ucap Celina tak percaya, mendengar ucapan Raffa matanya langsung berkaca-kaca, dadanya terasa perih.
"Tapi kak, saat itu dia bilang ada sesuatu dibibirku" ucap Celina
"Itu hanya akal-akalannya saja, BODOH" hardik Raffa, kemudian masuk ke mobil dan meninggalkan istrinya yang terpaku mendengar ucapan kasar darinya.
Celina berdiri dengan air mata yang telah mengalir, Raffa hanya melihat istrinya dari kaca spion. Tak peduli, Raffa hanya ingin segera berlalu dari tempat itu.
Kejadian itu sudah dilupakan Celina, sesaat sebelum suaminya datang. Edward memohon diizinkan duduk dihadapannya saat sarapan pagi di restoran hotel.
Edward berkata ada sesuatu di bibir Celina, gadis itu mengambil serbet untuk membersihkannya.
"Tunggu, bersihkan saja dengan lidahmu" saran Edward.
"Apa ?" tanya Celina langsung,
"Seperti ini, kamu tidak harus mengotori serbet mu, cukup dengan lidahmu, seperti ini" ucap Edward menyontohkan.
Edward menjulurkan lidahnya dan menyapu seluruh bibirnya sambil tertawa, Celina juga ikut tertawa.
"Cobalah" ucap Edward.
Yang langsung dicoba oleh Celina, sambil tertawa juga.
"Sekali lagi" ucap Edward.
"Masih ada ?" tanya Celina.
Namun gadis itu tidak ingin melakukannya lagi, dia memilih membersihkan bibirnya dengan serbet. Edward langsung berinisiatif, mengambil serbet nya sendiri dan membantu menyapu bibir Celina. Gadis itu ingin menolak tapi tidak tega menolak niat baik Edward. Laki-laki itu terlihat tulus membantunya.
Kejadian itu sama sekali tidak ada artinya bagi Celina namun mampu menghancurkan hati suaminya. Celina menyesali kejadian yang telah dilupakannya itu. Celina kembali ke kantornya, disana masih ada Keira, Kevin dan Edward.
Celina mendatangi Edward.
"Kenapa kamu tega melakukan itu ? kenapa kamu tega mengatakan itu pada suamiku ? apa salahku padamu ?" tanya Celina yang menangis diiringi tatapan sedih pada laki-laki yang baru dikenalnya itu.
"Hanya untuk mengetahui seberapa besar perhatian suamimu padamu" jawab Edward.
"Apa hak mu menilai suamiku, apa hak mu menilaiku ?" tanya Celina dengan suara yang semakin tinggi.
__ADS_1
"Jika Raffa memang pantas untukmu maka aku akan rela melepaskanmu" ucap Edward masih begitu santai.
"Cukup, kamu tidak berhak menilai suamiku, pantas atau tidak bukan kamu yang menentukannya. Sekarang pergi dari hidupku dan jangan menggangguku dan keluargaku lagi" ucap Celina keras.
Edward berdiri dari kursi tamu itu, menatap Celina sambil tersenyum.
"Sampai ketemu lagi" ucap Edward santai sambil berjalan menuju pintu.
"Aku tidak mau bertemu denganmu lagi" teriak Celina
"Oh pasti, kita pasti akan bertemu lagi" ucap Edward sambil tertawa.
Celina terduduk dikursi tamu diruangan kerjanya itu, sambil tertunduk memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Oh ya ampun Celina, orang itu sungguh percaya diri sekali. Dia sangat yakin bisa memilikimu" ucap Keira.
"Apa ?" tanya Celina tak percaya.
Bukannya tidak percaya pada ucapan Keira tapi tidak percaya kalau laki-laki itu juga mengungkapkannya pada Kevin dan Keira.
"Dia memang seperti itu, seorang penakluk wanita. Maafkan aku" ucap Kevin menyesal.
"Kenapa kakak yang harus meminta maaf, itu bukan kesalahan kakak" ucap Celina menolak permintaan maaf Kevin.
"Karena dia menjadikanku sebagai jembatan untuk mendekatimu" ucap Kevin.
"Tidak kak, dia bisa melakukannya melalui siapa saja, Ozora justru yang membawanya kemari tadi" jelas Celina.
"Haa.. dia mengenal Ozora ?" heran Keira.
"Mereka telah mengenal lama, dia bahkan dijadikan salah satu tim penyelamat perusahaan keluarga Cartwright, dia juga anggota club philanthropists" jelas Celina.
"Benarkah ? aku memang melihat namanya di daftar anggota, tapi sungguh tidak menyangka kalau itu benar-benar dia. Dia CEO di perusahaan besar di New York, kenapa harus peduli pada perusahaan-perusahaan di sini" ucap Kevin heran.
"Wah, aku semakin salut padamu Celina, tak cukup dua CEO tapi ditambah satu lagi. Kamu ini benar-benar magnet bagi CEO" ucap Keira tulus, tanpa bermaksud menyindir Kevin.
Kevin hanya menatap tunangannya itu, dia tau Keira tidak bermaksud menyindir tapi apa yang dikatakannya entah mengapa terasa jadi masuk akal. Semua itu tergantung pada pergaulan dan lingkungannya, jika bergaul dengan CEO-CEO tentu saja yang akan menyukainya adalah CEO.
"Aku menyukaimu Celina tapi untungnya aku perempuan, jika tidak, mungkin aku juga akan menjadi CEO ke empat yang jatuh cinta padamu" ucap Keira sambil tertawa.
Celina hanya tersenyum hambar, pikirannya justru melayang pada suaminya yang sekarang tentu saja sedang marah padanya.
Sesampainya dirumah, Celina langsung mencari suaminya. Gadis itu telah melihat mobil laki-laki itu saat parkir di garasi.
Celina melihat Raffa yang berdiri diam di balkon kamar mereka. Celina langsung memeluk suaminya dari belakang, ada rasa cemas kalau laki-laki itu akan mengabaikannya lagi.
Raffa langsung tertunduk menatap tangan istrinya yang melingkar didadanya, laki-laki itu balas memeluk tangan istrinya itu.
"Apa aku kurang perhatian padamu ? apa aku pernah memanjakanmu ? kalau aku pikir-pikir, aku memang tidak melakukan apa-apa untukmu" ucap Raffa pelan seperti frustrasi.
"Tidak, itu tidak benar, kakak melakukan segalanya untukku. Apapun yang kubutuhkan telah aku dapatkan, aku tidak butuh yang lain, aku hanya butuh kakak" ucap Celina sambil menguatkan pelukannya.
Raffa tersenyum mendengar ucapan istrinya.
"Siapa yang tidak akan melayang mendengar ucapanmu, mungkin itu yang membuat laki-laki menginginkanmu. Ucapanmu begitu polos, tapi bisa membuat laki-laki merasa tersanjung.
Aku tau, tidak ada sedikitpun niatmu untuk merayu, tidak sedikitpun berusaha membuat orang menyukaimu.
Tapi semua terjadi dengan alami, ketulusanmu membuat seorang laki-laki merasa dirinya menjadi orang yang sangat berarti" ucap Raffa lalu membalik ke arah Celina.
"Aku cemburu Celina, tapi aku terlalu lelah untuk marah. Aku telah lelah bersaing dengan laki-laki manapun. Aku hanya ingin memohon padamu, pertimbangkan perasaanku, perasaan cintaku padamu" ucap Raffa dengan pandangan yang sayu menangkup wajah Celina.
"Kakak, kenapa kakak bicara seperti itu ? satu-satunya yang kuinginkan hanya dirimu, hanya cintamu, papa Ozora, aku hanya inginkan dirimu, aku mencintaimu, aku selamanya mencintaimu" ucap Celina membalas tatapan mata Raffa.
Raffa tersenyum dan mengangguk, apa yang bisa dilakukannya selain percaya pada ucapan istrinya. Jika Celina berniat meninggalkannya, mungkin telah sejak dulu dilakukannya.
"Aku mencintaimu mama Ozora" balas Raffa.
Perlahan mengangkat dagu Celina dan menyesap bibir mungil Celina, gadis itu melingkarkan tangannya dipunggung Raffa, sentuhan itu membuat Raffa semakin ingin memperdalam ciumannya.
Setitik air jatuh di pipi Celina, gadis itu terkejut. Melepas ciumannya, mengusap titik air itu lalu menatap heran ke mata Raffa. Setitik bening masih tertinggal disitu.
"Aku tidak mampu bersaing dengan laki-laki itu, aku mengakui aku tidak mampu. Hanya kamu yang membuatku merasa begitu takut kehilangan. Satu-satunya wanita yang bisa membuatku menangis hanyalah dirimu. Sejak mengenalmu, aku menangis sejak mengenalmu" ucap Raffa sambil memeluk wanita yang dicintainya.
Raffa tidak lagi berlaku kasar, tidak lagi berkata keras. Tidak lagi mengabaikan Celina. Untuk melampiaskan rasa cemburunya dia hanya bisa menangis, memohon untuk tetap dicintai istrinya. Dan tentu saja, Celina mengabulkan permohonannya
...~ Bersambung ~...
__ADS_1