Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 29 ~ Terbuka ~


__ADS_3

Menjelang subuh Kevin dan Celina kembali kerumah Alyssa yang terletak di sebuah kompleks perumahan dengan panorama alam yang indah. Celina turun dari mobil, memandang kearah ruang terbuka hijau yang tak jauh dari rumah Alyssa.


Terlihat langit dengan cahaya yang kemerahan-merahan. Pancaran cahaya yang berkilau orange keemasan dengan gradasi ungu violet membuat warna langit terlihat sangat indah, gadis itu seperti tersihir untuk menatapnya lebih dekat.


Dengan langkah satu satu Celina berjalan pelan menuju taman, berhenti di lapangan dimana penghuni kompleks biasa berolahraga atau tempat anak-anak yang bermain, berlari, dan tertawa. Cuaca dingin tak dihiraukannya.


Cahaya membias diwajahnya, Celina diam terpaku memandang bias langit yang semakin lama semakin terlihat indah. Pikirannya kosong, gadis itu hanya ingin menikmati pemandangan yang jarang dilihatnya karena kesibukan itu.


Tangannya yang sejak tadi menggenggam krah kemejanya dibiarkan lepas begitu saja, dua kancing atas kemeja yang telah lepas karena direnggut Kevin telah hilang.


Celina menatap cincin yang masih melingkar di jarinya, cincin pertunangan palsu itu dilepas dari jarinya. Celina memandang cincin yang ada di telapak tangannya itu. Menggenggamnya erat lalu bersiap mengayunkannya.


Kevin menangkap tangan itu.


Celina menatap heran Kevin yang berdiri disebelahnya. Laki-laki itu tersenyum menatap langit, bias cahaya langit membuat senyum di wajah tampan itu terlihat sangat manis. Kevin masih menggenggam tangan Celina yang berisikan cincin di telapaknya.


"Kamu akan membuang begitu saja cincin itu ? " ucap laki-laki itu lalu memandang Celina sambil tersenyum.


"Aku ingin membuang kebodohanku" balas Celina lalu menunduk.


"Apa kamu lupa betapa mahal harganya" lanjut Kevin.


"Harga sebuah kebodohan itu memang mahal" ucap Celina pelan masih menunduk.


"Kalau begitu jangan biarkan kebodohanmu menjadi dua kali lipat" ucap Kevin sambil membuka telapak tangan Celina lalu mengambil cincin berlian itu.


Lalu menjatuhkan di saku kemeja Celina, Celina memandang Kevin dengan tatapan heran. Sambil tersenyum laki-laki tampan itu mengambil cincin yang berada di saku celananya. Memasangkan kembali cincin pertunangannya itu ke jari manis Celina.


Laki-laki itu memandang cincin yang memancarkan kilau indah terkena bias cahaya langit yang semakin terang itu lalu perlahan mengecupnya lembut.


"Aku juga tidak mau bodoh, semalam aku mencari dan akhirnya menemukannya lagi" ucap Kevin sambil tertawa.


Celina juga ikut tersenyum memandang cincin pertunangannya yang telah kembali ke jarinya. Kevin memutar tubuh Celina kearahnya.


"Wah... kancing bajumu lepas, aku jadi bernafsu lagi" ucapnya memandang kemeja Celina dengan dua kancing atas yang terbuka.


Sambil tersenyum Celina langsung mendorong tubuh Kevin, laki-laki itu terdorong mundur namun dengan cepat menangkap tangan Celina lalu menarik tubuhnya. Kevin mendekap gadis itu dalam pelukannya. Memandang wajah gadis cantik itu lalu mengecup puncak rambutnya.


Kevin menenggelamkan gadis itu ke dada bidangnya. Diam, saling merasakan kehangatan tubuh mereka. Tenggelam dalam pikiran masing-masing, mengingat kembali kejadian malam tadi.


Saat Kevin mengucapkan kata-kata yang membuat Celina terdiam. Membuat gadis itu berhenti meronta.


~ Apa lagi yang ingin kamu pertahankan


Aku... Seorang CEO... Kenapa harus mengemis mendapatkan cinta dari GADIS KOTOR SEPERTIMU !!!" ~


Kata-kata itu membuat Celina langsung tercenung.


Benar, Celina adalah gadis kotor, gadis yang telah ternoda, apa lagi yang ingin dipertahankannya ?


Ucapan Kevin membuat gadis itu terdiam, kata-kata itu seolah-olah mengingatkan siapa dirinya. Celina telah lupa seperti apa dirinya. Dia hanyalah seorang gadis yang telah kehilangan mahkota kebanggaannya, seorang gadis yang telah kehilangan kehormatannya.


Dan gadis seperti dirinya telah membuat laki-laki itu frustrasi dan menangis, membuat laki-laki itu menderita. Karena hingga kini gadis itu masih belum bisa memilih antara rasa sayang dan rasa cinta.


Celina diam, gadis itu akhirnya pasrah menerima perlakuan Kevin. Membiarkan dekapan, belaian dan ciuman dari laki-laki itu. Kepasrahan Celina membuat laki-laki itu terlena, semakin ingin menguasai Celina. Malam ini Kevin harus memilikinya, Celina harus menyerahkan dirinya dan harus melayaninya.


Celina pasrah membiarkan Kevin melepas semua kancing kemejanya. Membiarkan laki-laki itu memeluknya meresap manisnya bibirnya berkali-kali semakin lama semakin mendalam. Menciumi seluruh leher gadis itu hingga ke bahunya yang terbuka.


Namun isak tangis yang tersisa mengguncang tubuh Celina, membuat Kevin tersadar. Inikah yang benar-benar diinginkannya ? memiliki tubuh gadis itu ? membuat gadis itu melayani nafsunya sementara gadis itu menangis dihatinya.


Kevin melepaskan ciumannya menatap wajah Celina yang memejamkan mata dengan isak tangis yang masih mengguncang tubuhnya. Kevin menatap gadis itu lama, membuat Celina membuka matanya. Menatap heran wajah laki-laki yang begitu dekat dengannya namun hanya diam memandanginya.


"Maafkan aku" ucap Kevin pelan.


Mendengar itu air mata Celina kembali mengalir. Kata-kata yang seharusnya keluar dari mulutnya. Yang hingga saat belum bisa membalas pengorbanan Kevin yang telah sabar menunggunya.


"Kenapa ? kenapa selalu kakak yang meminta maaf ? akulah yang salah, akulah yang tidak punya ketegasan" ucap Celina kembali berderai air mata.

__ADS_1


"Maafkan aku, karena mengucapkan kata-kata yang menghinamu, merendahkanmu, padahal aku tau pasti, aku sangat menghormatimu, aku sangat memuliakanmu" ucap laki-laki yang masih menggenggam tangan gadis itu.


Laki-laki itu melepas genggaman tangannya, beralih membelai lembut pipi Celina, lalu kembali mengecup lembut bibir gadis itu.


Tidak, aku harus menghentikannya, jika terus seperti ini, aku takut tidak bisa menahan diri, batin Kevin.


Perlahan menghentikan ciumannya lalu berbaring disamping Celina. Memeluk gadis itu, hingga akhirnya mereka tertidur. Celina yang meronta melepaskan diri, Kevin yang berusaha menaklukkan Celina, membuat mereka sama-sama merasa lelah.


Tubuh dan hati mereka lelah. Lelah karena kesedihan, lelah karena perasaan, lelah menahan hasrat. Membuat mereka segera tertidur.


Lewat tengah malam Celina terbangun, masih dengan posisi yang sama, dalam pelukan Kevin. Celina mendorong tubuh terbuka laki-laki itu, namun Kevin justru mengetatkan pelukannya.


"Kakak, bangunlah, kita harus pulang, Alyssa dan Ozora pasti khawatir" bisik Celina.


"Nanti saja, aku masih ingin seperti ini, kapan lagi aku bisa tidur memelukmu seperti ini" ucap Kevin masih dengan mata terpejam.


Celina langsung sadar kalau Kevin sudah benar-benar bangun.


"Kakak.. kakak" ucap Celina membangunkan.


Kevin diam seolah-olah tertidur, namun pelukannya masih ketat. Celina kembali diam, tidur dalam posisi ini sama sekali tidak bisa membuatnya tidur nyenyak. Tertidur sebentar lalu terbangun karena sesak, tak bisa bebas bernafas.


Kevin menyadari itu, langsung mendorong tubuh Celina, memutar membelakanginya, lalu kembali menarik dan memeluk gadis itu. Dengan begitu Celina bisa bebas bernafas, dan Kevin masih bisa terus memeluknya.


Andai bisa seperti ini selamanya, andai kamu telah menjadi istriku, batin Kevin lalu mencium puncak rambut belakang gadis itu.


Lalu mereka tertidur, kali ini hingga menjelang subuh.


Kemudian mereka kembali pulang kerumah.


"Disini rupanya kalian, nggak ngajak-ngajak menikmati matahari terbit" ucap Alyssa setengah berteriak.


Terdengar tawa kecil Ozora, Kevin yang sedang memeluk Celina langsung merenggangkan pelukannya. Lalu mendekati anak tampan itu.


"Maaf ya, tadi malam kami nggak bisa pulang" ucapnya sambil menggendong Ozora.


"Enak tidur sama Auntie ?" tanya Kevin sambil berjalan kembali kerumah.


Ozora kembali mengangguk.


"Kalau gitu nanti malam tidur sama Auntie lagi ya, Uncle sama mama" ucapnya santai yang langsung diteriaki oleh Alyssa.


Celina berjalan sambil tersenyum, mengingat hari-hari berat yang telah lalu. Saat rahasia-rahasia masih ditutupi, saat pikiran masih penuh dengan prasangka. Kevin dan Celina berjanji dalam hati masing-masing, akan selalu terbuka menjalani hubungan mereka.


Mereka berempat kembali bersiap-siap menjalani kegiatan rutin mereka. Celina menyiapkan sarapan, Ozora menata meja makan. Kembali sarapan bersama sambil bercanda. Tiba-tiba ponsel Celina bergetar, sekilas melihat kontak, senyum yang tersisa di wajah gadis itu langsung menghilang.


Nama Ny. Rowenna tertera di layar ponsel, gadis itu langsung ragu menerima panggilannya. Kevin menyadari keraguan Celina, langsung memberikan izin gadis itu menerima panggilan teleponnya.


Celina berdiri keruang tengah untuk menerima telepon dari Ny. Rowenna. Terlihat wajah Celina yang begitu serius mendengar pembicaraan dari seberang sana. Beberapa saat kemudian gadis itu menutup panggilan teleponnya.


Dengan ragu-ragu melangkah kembali ke ruang makan. Menceritakan pembicaraan di ponsel pada Kevin atau memilih diam. Berkali-kali gadis itu bolak-balik ruang tengah.


Kevin tidak sabar menunggu Celina, laki-laki memperhatikan sambil tersenyum melihat gadis itu yang mondar-mandir. Celina kaget saat tiba-tiba Kevin sudah berada dihadapannya.


"Kenapa bingung seperti itu ?" tanya Kevin sambil menangkup wajah gadis itu.


"Ny. Rowenna meminta izin mengajak Ozora menginap di rumahnya untuk merayakan ulang tahun Tita" ucap Celina memutuskan untuk bicara.


"Lalu kamu jawab apa ? tidak atau iya" ucap Kevin sambil menggoyangkan wajah gadis itu menggeleng dan mengangguk.


Mau tidak mau Celina tertawa diperlukan seperti itu. Kevin langsung memeluk gadis itu.


"Apapun yang bisa membuat kalian bahagia, lakukanlah" lanjut Kevin.


"Berarti bo-leh ?" tanya Celina ragu.


"Tentu saja, kalau Ozora nginap disana, aku bisa nginap dikamar mu" ucap Kevin sambil tertawa.

__ADS_1


Celina mencubit pinggang Kevin, laki-laki itu meringis sambil tertawa.


"Iishh.. pagi-pagi udah mesra-mesraan, keburu bosan baru tau" ucap Alyssa tiba-tiba muncul.


"Ada yang iri" ucap Kevin cuek, masih memeluk Celina.


"Cel.. gimana kakak mau pindah ke apartemennya kalau kamu manjain dia terus" ucap Alyssa lagi.


Ozora menunduk, melihat kemesraan Kevin dan ibunya. Kevin melepaskan pelukannya lalu menggendong Ozora.


"Ozora ayo kita berangkat" ucap Kevin.


"Kalau dibolehkan menginap disana berarti aku harus menyiapkan pakaian untuk Ozora dulu, Ozora mau nginap dirumah Tita nak ?" tanya Celina pada Ozora.


"Boleh ma ?" tanya Ozora ragu-ragu.


"Boleh, uncle Kev nggak akan marah" ucap Kevin langsung.


Ozora tersenyum lalu mencium pipi uncle Kev nya.


"Ya udah kalau gitu kamu siapin pakaian Ozora, kami tunggu di depan" ucap Kevin.


Hati Kevin sekarang benar-benar terbuka, dia tidak peduli lagi dengan hubungan antara keluarga Saltano, Ozora dan Celina. Menghalangi mereka akan membuat hidup Celina menjadi sulit, penuh dengan keraguan, berdiri diantara dirinya dan keluarga Saltano pasti akan membuatnya bimbang.


Kevin ingin gadis itu merasa nyaman dengannya, meski itu bisa membuatnya cemburu, iri atau merasa takut kehilangan. Kevin ingin Celina berpihak padanya, saat ragu memilih antara Raffa atau dirinya.


Siang itu Kevin telah berdiri didepan toko, seperti biasa ingin menemui Celina tapi langkahnya terhenti, apa yang akan dilakukannya jika mendapati Celina bersama Raffa. Apa yang harus dilakukannya, menyapa, bersembunyi atau menghindar.


Laki-laki itu memutuskan menunggu dilantai bawah berbaur dengan pengunjung. Menunggu Raffa menjemput Ozora, dadanya terasa perih saat membayangkan Raffa naik ke lantai tiga dan bertemu dengan tunangannya.


Kevin merasa menjadi orang yang sangat bodoh membiarkan tunangannya bertemu dengan laki-laki yang jelas-jelas berusaha mendapatkan cinta gadis itu. Dan Kevin hanya bisa bersembunyi membiarkan laki-laki itu menggoda gadis yang dicintainya.


Tapi apa yang dibayangkannya buyar dalam sekejap, Celina turun kelantai bawah menanti orang yang akan menjemput Ozora. Kevin tersenyum, gadis pujaannya itu tidak memberi kesempatan Raffa untuk menggodanya di lantai tiga. Laki-laki itu tertawa sendiri membayangkan pikiran buruknya tadi.


Raffa datang bersama Tita, laki-laki itu tidak memiliki kesempatan mendekati Celina. Mereka langsung pergi membawa Ozora bersamanya, tinggal Celina melangkah sendiri menaiki tangga ke lantai tiga.


Trimakasih sayang, batin Kevin


Kevin keluar dari toko, laki-laki itu harus kembali ke kantornya. Seorang kolega dari sebuah perusahaan manufaktur telah sejak tadi menunggunya.


Kedatangan Ozora disambut hangat oleh Ny. Rowenna dan Tn. Robby. Nyonya itu langsung menunjukkan kamar khusus yang disediakan untuknya. Makan siang bersama dengan Ozora membuat Ny. Rowenna semangat mendengar cerita dan wawasan Ozora.


Aku harus segera mendapatkan sampel untuk tes DNA anak itu, setelah lama menunggu akhirnya anak itu bisa datang kerumah ini, batin Rowenna.


Ny. Rowenna melakukan segala cara untuk mendapatkan sampel untuk tes DNA mulai dari mengajak anak itu bermain dikamarnya, membantu menyisir rambut Ozora. Anak itu hanya mengikuti kehendak nenek dari Tita itu. Ozora telah mencium gelagatnya.


Ulang tahun Tita yang akan dilaksanakan dalam tiga hari lagi itu membuat Ozora heran. Karena terlalu cepat mengajaknya menginap di rumah keluarga Saltano. Hingga akhirnya Ozora menyadari niat Ny. Rowenna, nenek cantik itu ingin memastikan asal usul Ozora sebelum pesta dimulai.


Hasil tes yang diam-diam dilakukannya akhirnya telah berada ditangannya. Perlahan nyonya yang tetap cantik di usia senja itu membuka amplop berisi kertas hasil tes yang dimintanya.


Terlihat senyum yang mengembang dari bibir wanita kaya itu. Langsung memeluk hasil tes itu dengan kuat hingga remuk. Baru sekaranglah hatinya merasa lega setelah mengetahui Tita bukanlah cucu kandungannya.


Waktumu tinggal sebentar lagi Jessica, setelah aku berhasil merebut Ozora, kamu harus angkat kaki dari rumah ini, batin Rowenna.


Untuk sementara Ny. Rowenna masih harus bersabar membiarkan Jessica lalu lalang dirumahnya. Karena masih membutuhkan Tita untuk mendekati Ozora. Tanpa gadis kecil itu, Ny. Rowenna tak punya alasan untuk membawa Ozora kerumahnya.


Ozora harus dibuat nyaman dirumahnya, hingga saat mengambil alih hak asuh anak itu, Ozora akan memilih untuk tinggal bersama keluarganya.


Ozora adalah keturunan Saltano, keturunan Saltano, anak genius itu keturunan Saltano, keturunan kami, jerit Rowenna dalam hati.


"Aku akan merebutmu dari wanita itu, kamu tidak pantas hidup bersama orang-orang seperti mereka, kamu adalah Saltano, kamu adalah seorang Saltano" ucap Rowenna seorang diri.


Berkali-kali menegaskan diri, bahwa anak yang telah merebut perhatiannya itu, anak yang membuatnya terkagum-kagum akan kecerdasannya ternyata adalah keturunannya, calon putra mahkota dalam kerajaan bisnisnya. Rowenna tertawa terbahak-bahak seorang diri di ruang kerjanya.


Ozora adalah penerus yang tepat bagi perusahaannya.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2