
Dear,
Pembaca dan Penulis Setia Noveltoon
Atas permintaan reader, kisah ini akan di lanjutkan ke Season 2 ya ...🤭, Othor jadi malu tadinya mau tamat malah nyambung lagi haha ... Tapi dukung Othor terus ya biar tetep semangat lanjut, hehe ... segala bentuk dukungan Like, vote, komentar, favorit, hadiah berupa koin atau pun poin dan rate bintang 5 nya selalu Othor nantikan. Terima kasih 🤗🤗🤗
^^^Salam hormat,^^^
^^^Author^^^
^^^Alitha Fransisca^^^
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Di bandar udara internasional, semua menatap ke arah Ozora yang memeluk ibunya begitu lama. Terasa begitu berat bagi mereka untuk berpisah. Ozora harus kembali ke New York karena liburan musim panasnya telah berakhir. Meski telah berjanji akan secepatnya menyelesaikan kuliahnya, anak genius menjelang remaja itu masih ingin bermanja pada ibunya.
"Celina ayo lepaskan, kapan giliran kami? Kami juga ingin peluk, Ozora," ucap Alyssa protes setelah dirinya diam menunggu dari tadi.
"Ayo sini," ungkap Edward sambil tersenyum merentangkan tangannya.
Celina kontan menepuk tangan itu yang siap memeluk itu. Perangai Edward yang suka menggoda wanita tak bisa ditahannya. Meski yang digoda sudah seperti saudara bagi adiknya sendiri. Melihat adiknya yang berpura-pura cemberut, Edward pun langsung tertawa. Setelah Celina menepuk tangannya, wanita itupun langsung memeluk kakak satu-satunya itu.
Mereka berpamitan, tak ketinggalan para gadis kecil yang cantik-cantik itu. Tita, Lala dan Olivia yang ikut mengantar keberangkatan Ozora. Mereka bahkan memberikan kenang-kenangan untuk remaja tampan itu. Meski telah disampaikan kalau Ozora hanya pergi untuk beberapa bulan saja, tapi mereka tetap saja ingin memberikan kenang-kenangan dengan alasan, agar Ozora tak melupakan mereka sedetik pun apalagi sampai beberapa bulan.
Celina pun tak sepenuhnya percaya jika Ozora pergi hanya untuk beberapa bulan saja karena pernah terdengar olehnya ketertarikan Ozora untuk menjalankan perusahaan miliknya bersama kakak laki-lakinya Edward di New York. Ozora merasa putranya itu akan memperpanjang masa berpisah mereka.
Anak laki-laki tampan itu kemungkinan akan langsung bekerja di perusahaan milik Celina begitu di wisuda. Awalnya Celina kecewa tapi wanita itu akhirnya sadar, dia tak boleh memaksakan kehendaknya pada putra dan putrinya. Celina pun akhirnya merelakan putranya pergi sesuai dengan kehendaknya sendiri.
"Mama, Ozora kangen," ucap Ozora melalui panggilan video setelah beberapa bulan lamanya mereka berpisah.
"Bohong! Kalau kangen kenapa nggak pulang," jawab Celina sambil pura-pura merajuk.
Ozora tertawa lalu melambaikan tangannya pada adik kecilnya yang duduk di pangkuan ibunya. "Aurora tambah cantik ya Ma," ucap Ozora yang dibalas dengan anggukan dan senyum oleh Celina.
__ADS_1
"Sudah hubungi teman-temanmu belum?" tanya Celina mengingatkan putranya agar selalu menjalin komunikasi dengan teman-temannya di tanah air.
Ozora justru tertawa, Celina merasa heran. "Kenapa malah tertawa?" tanya Celina.
"Hampir setiap hari Mama, mereka menghubungi Ozora bahkan kadang bentrokan," jawab anak itu lalu tertawa.
"Benarkah? Apa Livia juga sering menghubungimu?" tanya Celina, Ozora pun mengangguk.
"Ya Ma, kadang kami belajar bersama," jawab Ozora.
"Bantu dia ya Nak! Mama juga bisa bantu dia belajar, tapi jika dia ingin belajar denganmu, jangan abaikan dia ya!" ucap Celina.
"Ya Ma! Oh ya Ozora pamit dulu ya Ma. Ada meeting pagi ini," ucap Ozora lalu kembali melambaikan tangannya pada ibu dan adiknya.
"Oh baiklah sayang," ucap Celina membalas lambaian tangan dari putra kesayangannya itu.
Celina dan Aurora tercenung sesaat setelah mereka memutuskan sambungan panggilan video itu lalu saling memandang. Aurora tersenyum pada ibunya. Gadis kecil yang telah berumur empat tahun itu kini telah menamatkan sekolah menengah tingkat pertamanya. Aurora tak banyak bicara seperti abangnya, gadis kecil itu lebih suka mengamati.
Selain di sekolah Aurora menghabiskan waktu di toko buku di mana ibunya bekerja. Hampir sama seperti abangnya, Aurora melahap semua buku untuk dibacanya tetapi berbeda aliran. Jika Ozora lebih senang dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan bisnis dan menajemen, Aurora lebih suka segala sesuatu yang berbau science.
"Kakak udah selesai bikin tugasnya?" tanya Aurora.
"Udah ini, apa Adek mau periksa?" tanya Olivia.
Tanpa terasa Aurora kini telah berumur tujuh tahun. Cucu kedua keluarga Saltano itu tumbuh dengan pesat. Kecerdasannya pun tak kalah dari abangnya. Olivia tak segan-segan membantu Olivia belajar. Kali ini saat Olivia telah selesai mengerjakan tugasnya di toko buku itu, Olivia meminta Aurora untuk memeriksa hasil kerjanya. Dengan cepat Aurora pun memeriksa tugas Olivia. Sama seperti Ozora dulu, Aurora juga telah menamatkan sekolah menengah atasnya sebelum berumur tujuh tahun. Sambil mengangguk-angguk gadis kecil itu memberitahu kalau tugas Olivia sudah benar seluruhnya. Mereka pun bersama-sama melangkah ke kantor ibu mereka untuk berpamitan. Olivia bertingkah seperti kakak bagi Aurora tapi dalam urusan pelajaran Aurora berlaku seperti gurunya.
"Mama kami mau pulang Ma," ucap Olivia berpamitan pada ibu asuhnya itu.
"Oh! Sudah selesai tugasnya, Sayang?" tanya Celina sambil berdiri dari meja kantornya.
"Sudah Ma," jawab Olivia.
"Baiklah, kalau begitu Mama panggil supir dulu. Kalian tunggu di sini," ucap Celina yang langsung menghubungi supir keluarga Saltano.
__ADS_1
"Kalian pulang sama Pak Trisna ya. Mama masih ada pekerjaan," ucap Celina.
"Ya Ma," jawab keduanya.
Tak lama kemudian sopir keluarga mereka datang menjemput putri-putri Keluarga Saltano itu untuk pulang ke kediaman mereka. "Kami pulang dulu ya Ma," pamit keduanya sambil mencium pipi Celina.
"Ma, jangan lupa," ucap Aurora lalu membisikkan sesuatu di telinga Celina.
Wanita cantik itu mengangguk. Di teras toko buku itu kedua putri-putri cantik itu lalu melambaikan tangannya pada ibu mereka dan pulang. Celina langsung menghubungi orang-orang terkait untuk memenuhi permintaan putri bungsunya. Anak itu ingin melakukan sesuatu untuk Olivia.
Olivia menjalani ulangan semester dan tak lama kemudian menerima hasil penilaian akhir. Berkat usaha kerasnya, Olivia berhasil mengejar ketinggalan kelasnya dengan mendapatkan kelas akselerasi.
Program akselerasi bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan hingga dapat menyelesaikan program regular dalam waktu yang lebih singkat dibanding teman-temannya itu. Olivia mendapat kesempatan mempercepat mencapai kelasnya yang sempat tertinggal. Semua itu didapatkannya dengan bantuan Aurora dan Celina dalam belajar.
Masih teringat olehnya, pendidikannya yang sempat tertinggal karena selalu mengikuti ibu kandungnya yang menjalani syuting di berbagai daerah. Felicia yang tak memiliki siapa-siapa lagi tak memungkinkan bagi putrinya untuk di tinggal seorang diri. Felicia akhirnya menitipkan putri satu-satunya itu pada Celina.
"Jadi apa rencana liburan kita sekarang?" tanya Raffa saat mereka makan malam bersama.
"Kita ke Villa ya, Pa," ucap Aurora langsung.
"Kalau maunya anak Papa begitu, ya ayok kita berlibur di villa," jawab Raffa.
Aurora langsung bersorak gembira, rencananya mengisi liburan Olivia di Villa akhirnya bisa terwujud sesuai rencananya. Mereka pun berangkat bersama-sama menuju Villa. Tak ketinggalan Tn. Robby dan Ny. Rowenna. Mereka berangkat dengan segala keperluan untuk menginap beberapa hari. Aurora begitu gembira hingga tak sabar ingin segera sampai di Villa megah milik keluarga besar itu.
Tak lama kemudian mereka telah melalui jalan kerikil menuju ke Villa. Olivia ikut bahagia melihat keceriaan Aurora menyambut liburan ini. Namun, senyum di bibir Olivia sebenarnya tak bisa sepenuhnya dari hati karena ada beberapa hal yang masih mengganjal di hatinya untuk Ozora. Rasa rindu yang tak cukup diwakilkan dengan hanya panggilan video saja. Setelah sekian lama berpisah dengan remaja tampan itu, membuat hati Olivia hanya bisa menahan rindu.
"SURPRISE!!!" teriak orang-orang yang telah berada di dalam Villa saat mereka baru saja tiba di Villa mewah itu.
Olivia terkejut saat melihat tulisan yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Gadis itu bahkan langsung menubruk tubuh Celina. Memeluk wanita yang telah dianggap ibunya itu. Menangis dalam pelukan wanita penyayang itu. Olivia tak menyangka jika keluarga itu mengingat ulang tahunnya.
"Dasar cengeng!"
Seruan itu terdengar seperti memaki. Olivia langsung melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah suara. Olivia kesal mendengar makian itu tetapi tertegun saat melihat siapa yang memaki itu. Makian yang tak sesuai dengan ekspresinya. Ekspresi bahagia dengan senyum manis dari Ozora.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...