Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 24 ~ Setuju ~


__ADS_3

Raffa berlari melawan arus orang-orang yang berjalan menuju boarding room. Tak peduli orang-orang yang menatapnya heran. Pikirannya hanya tertuju kepada dua orang yang sangat berarti baginya itu.


Terbayang kembali semua tingkah laku Ozora, membiarkan sapu tangan jasnya terlipat acak-acakan. Membuat Raffa harus membantunya melipat dengan rapi, hingga akhirnya menatap inisial yang tersulam disana.


Raffa yakin itu adalah nama keluarganya setelah anak itu memberi petunjuk bahwa dia adalah anaknya, anak kandungnya. Raffa semakin yakin setelah melihat foto Celina. Raffa yakin gadis itu telah mengandung anaknya.


Beyond Recollection... ucapan Ozora waktu itu, dia ingin memberi tau, dia ingin memberi petunjuk, kalau aku tidak menyadari kehadirannya di dunia ini, batin Raffa sambil berlari.


Menitikkan air matanya, tak peduli dengan orang-orang yang menatapnya dengan heran. Sambil berlari, Raffa menatap kalung yang digenggamnya.


~~ Saya memang anakmu papa ~~


~~ Saya memang anakmu papa ~~


~~ Saya memang anakmu papa ~~


Terngiang lagi ditelinganya suara kecil Ozora memberi petunjuk padanya.


Aku ingin melihatmu, aku ingin bertemu denganmu, Tuhan berikan aku kesempatan, batin Raffa.


Keluar dari gate, melewati pintu kedatangan, langsung berlari menuju daily parking area, Raffa panik, takut Ozora dan ibunya terlanjur pergi. Laki-laki itu ingin memastikannya, laki-laki itu ingin menemuinya, laki-laki itu ingin melampiaskan rasa rindunya.


Raffa meraih ponselnya, menekan nomor kontak ibunda Ozora. Celina terpaku saat melihat nomor kontak yang menelponnya. Ozora menatap ibunya yang berhenti melangkah, Celina ragu-ragu menerima panggilan.


"Tetap ditempatmu, jangan kemana-mana" ucap Raffa sambil berlari saat mendengar suara Celina menjawab teleponnya.


Celina yang memarkirkan mobilnya di area parkir harian itu urung melangkah.


Tetap ditempatmu ? apa maksudnya, apa dia akan kemari ? apa dia ingin bertemu dengan Ozora ? apalagi yang ingin dibicarakannya ? batin Celina bertanya-tanya setelah akhirnya memutuskan menerima panggilan telepon itu.


Melihat sekeliling, kebingungan, tidak tau apa yang harus dilakukannya. Melihat ibunya yang kebingungan, Ozora menarik tangan ibunya. Celina tersadar, lalu berjongkok menatap anaknya.


"Tuan Raffa mungkin ingin bertemu denganmu, kamu tunggu disini ya, mama pergi duluan ke mobil, nanti jika sudah selesai mama jemput Ozora disini, ya.." ucap Celina.


Celina hendak beranjak dari tempat itu untuk bersembunyi.


"CELINA..!!!" teriak Raffa.


Langkah Celina terhenti, tubuhnya bergetar, jantung berdebar kencang. Terdengar jelas suara Raffa memanggil namanya. Celina ingin mengabaikan suara itu hendak melangkah menghindar dari laki-laki itu.


Namun tubuhnya tertahan, Raffa membalikkan tubuhnya dengan cepat. Celina berdiri berhadapan dengan Raffa, menatap mata laki-laki yang memandangnya dengan sayu. Raffa memeluk erat tubuh gadis yang dicintainya itu.


Menangis diatas bahu Celina yang terpaku. Mereka sama-sama menitikkan air mata. Ozora hanya bisa memandang kedua orang yang disayanginya itu.


Raffa menangkup wajah Celina, ******* bibir gadis yang dirindukannya itu. Ozora langsung menunduk.


Melihat tangan ibunya yang lepas bebas, meraih tangan ibunya lalu menempelkannya di pinggang Raffa. Tanpa disadari, tangan Celina bergerak naik ke punggung Raffa. Ozora berbalik kearah lain, lalu tersenyum.


Raffa tidak bisa menahan diri lagi, laki-laki yang sudah terlalu lama menahan rindu itu memeluk Celina semakin erat. Membenamkan lidahnya sedalam-dalamnya, meresapnya semakin dalam, mendekap tubuh gadis itu semakin erat, membuat mereka sulit bernafas.


Raffa merenggangkan pelukannya, mengecup kening gadis itu lalu kembali memeluknya. Celina teringat pada Ozora segera melihat sekeliling. Melihat anak itu sedang bersandar di sebuah mobil. Raffa juga ikut menatap anak itu lalu tersenyum pada Celina.


"Ayo kita pulang" ucap Raffa sambil meraih tangan Ozora.


"Tapi papa harus ke Batam" ucap Ozora.


"Papa nggak peduli, papa ingin bersama kalian, papa tidak ingin berpisah lagi" ucap Raffa pada Ozora, tapi anak itu bertahan di posisinya.


"Ini adalah kesempatan papa, liat betapa bangganya grandpa dan grandma ? papa nggak boleh mengecewakan mereka. Kalau itu terjadi kami akan merasa bersalah" ucap Ozora lalu menunduk.


Raffa jongkok menatap anak itu.


"Tapi papa masih kangen, papa masih belum puas bersama kalian" ucap Raffa lagi mengusap pipi anak pintar itu.


"Papa tau dimana mencari kami" ucap Ozora lalu memeluk ayahnya.


Melepaskan pelukan itu lalu berjalan mendekati Celina, meraih tangan ibunya lalu mengajak Celina pulang.


"Baiklah, papa akan berangkat, tapi Ozora harus janji, akan menunggu papa, jangan kemana-mana meski... mama mengajakmu pergi" ucap Raffa.


Laki-laki itu lalu mendekati Celina, mengecup bibirnya lalu mencium kedua pipi Ozora.


"Aku pergi" ucapnya pada mereka.


Ozora melambaikan tangan, Raffa membalas. Laki-laki itu melangkah kembali ke bandara. Melangkah sambil tersenyum, menoleh kearah belakang, menatap kedua orang yang masih memandangnya.


"Aku tidak gila, mereka benar-benar ada dihadapanku" ucap Raffa sambil berjalan mundur, kembali melambaikan tangan, lalu berbalik berlari menuju bandara.


Celina mengajak Ozora pulang, setelah Raffa menghilang ditengah keramaian bandara, gadis itu sebentar-sebentar melirik Ozora. Yang dilirik hanya tersenyum-senyum.


"Ozora, ada apa ? kenapa senyum-senyum terus ?" ucap Celina sambil menggenggam tangan putranya.


Berjalan ketempat mobilnya diparkir


"Papa lupa lagi mengembalikan kalungnya"


Dan benar saja, saat melewati pintu metal detektor kembali sinyal itu berbunyi. Raffa tertawa lalu mengeluarkan semua barang di sakunya meletakkannya di keranjang lalu mengulang melewati pintu. Raffa melakukan semua itu sambil tersenyum. Petugas yang memandangnya juga ikut tersenyum.

__ADS_1


Raffa berjalan menuju boarding room. Sesampai disana laki-laki itu duduk sambil tersenyum, mengeluarkan kalung liontin Ozora lalu membuka tutupnya.


Semua gara-gara kamu, aku tidak akan mengembalikanmu pada Ozora, karena kalian semua adalah milikku, batin Raffa bicara pada liontin itu.


Tersenyum sendiri sambil memandang wajah kedua orang yang disayanginya itu, mengecup foto-foto itu sekilas lalu menyimpan kembali kalung liontin hati itu kedalam sakunya.


Sementara itu Ozora masih senyum-senyum membayangkan tingkah laku mereka saat di bandara tadi. Celina mengusap rambut anaknya sambil tersenyum, tiba-tiba usapan dan senyum itu terhenti. Setitik kilau memancar dari jari manisnya.


Celina mengangkat jari manis itu, memandang cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. Langkahnya terhenti sebelah tangannya menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. Ozora heran lalu bertanya, Celina buru-buru menurunkan tangannya mencoba bersikap wajar.


Bagaimana ini ? bagaimana aku bisa lupa ? apa yang harus kulakukan sekarang ? jerit hati Celina.


Celina berjalan dengan tatapan kosong.


"Ma, mobilnya disini" ucap Ozora yang melihat ibunya masih berjalan melewati mobilnya.


"Oh, mama pikir disebelah sana" ucapnya menunjuk kearah lain yang ternyata ujung parkiran lalu kembali melihat kearah mobilnya.


"Mama, baik-baik aja ?" tanya Ozora heran.


"Ya tentu, mama baik-baik aja sayang" jawab Celina.


Lalu buru-buru masuk kedalam mobilnya, menghembuskan nafas berat, kembali termenung.


"Mama, safety belt nya" ucap Ozora mengingatkan.


Celina tersenyum lalu memasang safety belt, kemudian mulai mengemudikan mobilnya keluar dari area parkir. Menatap jari manisnya yang memegang kemudi.


Apa yang harus kulakukan sekarang, tuan Raffa sudah tau keberadaanku, apa yang harus kulakukan sekarang ? aku harus bagaimana ? jerit hati Celina.


Jelas-jelas Raffa menginginkannya, menginginkan anaknya Ozora. Celina memejamkan matanya yang terasa panas.


"MAAAA....!!!" jerit Ozora.


Celina membuka mata, langsung menginjak rem. Mobil didepannya menurunkan kecepatan namun Celina masih melaju. Beruntung Ozora berteriak mengejutkan Celina.


"Sayang, kamu nggak apa-apa" ucapnya berkaca-kaca, sambil memeluk anaknya.


"Maafkan mama ya" ucapnya menangis.


Ozora mengangguk, Celina menoleh kebelakang mobilnya, beruntung tidak ada mobil dibelakangnya. Berhenti mendadak seperti itu bisa membahayakan, Celina menatap cincin dijarinya, lalu melepas cincin itu, melemparnya ke dalam laci dashboard.


Celina menutup wajahnya dengan tangannya yang gemetar. Ozora menyentuh bahu ibunya mencoba menenangkan wanita yang terlihat ketakutan itu. Celina tersenyum memandang putranya.


"Ayo kita pulang" ucapnya, kembali melajukan mobilnya dengan pelan keluar dari area parkir bandara.


"Sayang mau makan dulu ?" tanya Celina.


"Nggak usah ma, tadi udah makan dibandara sama papa" ucap Ozora lalu masuk ke kamarnya.


Papa, Ozora benar-benar terbiasa memanggil tuan Raffa dengan sebutan papa, oh.. apa yang harus kulakukan ? batin Celina lalu berbaring memeluk Ozora dari belakang.


Baru kemarin Celina merasa begitu rindu pada anaknya. Setelah jam kerjanya habis, gadis itu segera pulang. Namun tak ada siapapun dirumah, merasa bingung sendirian. Gadis itu berbaring di karpet ruang tengah sambil menatap langit-langit.


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu, seseorang meneriakkan paket. Celina membuka pintu.


"Saya tidak pesan apa-apa mas" ucapnya langsung.


"Dari tuan Kevin mbak" jawab kurir itu.


Akhirnya Celina menerima paket itu, membuka paket yang ditujukan untuknya. Membaca pesan dari Kevin, meminta Celina mengenakan gaun itu nanti sore. Celina ingin menelpon menanyakan maksud semua itu tapi akhirnya urung.


Sorenya Celina mengenakan gaun malam itu seperti permintaan Kevin. Alyssa sampai terpesona menatap gaun indah pilihan kakaknya.


"Beruntung sekali gadis yang dicintai kakakku ini, dimanjakan terus" ucapnya pura-pura iri.


Celina tidak enak hati, buru-buru masuk ke kamar ingin melepasnya.


"Mau kemana ? ngapain ?" tanya Alyssa langsung memegang tangan Celina menghentikan langkahnya menuju kamar.


"Mau lepas gaun ini, aku nggak pantas memakainya" ucap Celina cepat.


Kevin muncul, sambil tersenyum bersandar di dinding.


"Lalu siapa yang pantas memakainya ?" ucap Kevin sambil melangkah berdiri di hadapan Celina lalu melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. Membuat mereka berdiri sangat dekat.


Alyssa mendelik.


"Get a room, bro" ucap Alyssa hendak masuk kekamar.


"With my pleasure" balas Kevin.


Alyssa langsung tertawa, menghilang dibalik pintu kamarnya. Kevin kembali memandang gadis dihadapannya.


"Kantorku mengadakan acara, mereka memintaku memperkenalkan calon istriku" ucap Kevin.


"Jangan becanda kak" ucap Celina hendak menjauh dari Kevin.

__ADS_1


"Ok.. ok.. mereka membolehkan membawa pasangan, kamu nggak tega kan membiarkan aku datang sendirian ke pesta itu.


Dan lagi gaun yang kupilih sudah sesuai dengan dress code, aku juga telah memesan salon ternama untukmu. Kamu maukan menemaniku ?" tanya Kevin pelan sambil menempelkan keningnya ke kening gadis itu, lalu mengecup lembut bibir Celina, Celina diam.


Kevin masuk ke kamar mandi yang berada didalam kamar Celina. Celina duduk di meja makan. Saat keluar laki-laki itu telah mengenakan jas, rapi, tampan dan elegan.


Tersenyum pada Celina, lalu mengajaknya berangkat. Mengantar gadis itu ke sebuah salon. Tanpa menunggu antrian, Celina langsung dirias.


Celina menatap bingung pada Kevin, laki-laki itu cuek membaca majalah-majalah mode yang tersedia disana. Saat riasan Celina selesai barulah laki-laki itu mau menatap Celina.


"Duh belum pernah ya, saya merias gadis secantik ini. Kulitnya lembut seperti kulit bayi, lekuk wajahnya sempurna, matanya, hidungnya uuh.. semuanya perfect" ucap penata rias itu.


Entah mendengar atau tidak, tapi Kevin tak mau sedikitpun berkedip menatap Celina. Menutup sedetik matanya serasa sangat merugikan baginya. Penata rias itu terlihat puas dengan hasil riasannya.


Celina berubah secantik model internasional dengan bayaran termahal. Celina menunduk dipandangi Kevin seperti itu. Wajahnya merona merah, menambah cantik gadis yang pemalu itu.


Andai kamu adalah istriku, lebih baik aku membawamu ke kamar daripada ke pesta, batin Kevin.


Lalu memukul kepalanya sendiri, penata rias itu tertawa melihat tingkah laki-laki tampan itu.


"Sabar tuan, harus tahan godaan" ucap penata rias yang mengerti keresahan Kevin.


Kevin tersenyum lalu segera mengajak gadis itu pergi setelah membayar tagihan dan tak lupa memberi tips pada penata rias yang membuat gadis cantik itu semakin cantik hingga membuat iri bidadari karena tersaingi.


Selama melangkah, Kevin melirik Celina berkali-kali membuat gadis itu salah tingkah.


Mereka memasuki area parkir gedung lima belas lantai yang memiliki konsep cantik yang futuristik. Celina memandang gedung dimana Kevin menghabiskan hari-harinya memimpin di perusahaan ini.


Gedung ini memiliki perpaduan arsitektur modern dan alami dengan ornamen jendela kaca yang sangat cantik. Berpadu dengan lingkungan taman dan sungai, membuat bangunan ini tampak indah dan bisa dinikmati di tengah hiruk pikuk kota sepanjang waktu.


Kevin menggandeng tangan gadis yang terlihat canggung itu. Berjalan memasuki aula besar dimana pesta di selenggarakan.


Disepanjang langkah tak satupun dari orang-orang disana yang tidak memuji kecantikan Celina dan ketampanan Kevin. Kevin mempersilahkan Celina duduk dikursi yang telah disediakan untuknya.


Acara ini diadakan untuk membangun keakraban antar sesama karyawan perusahaan. Dengan tujuan untuk meningkatkan semangat tim dan membantu seluruh karyawan untuk saling mengenal satu sama lain.


Acara yang memang diusulkan oleh para staff yang rata-rata masih baru bergabung dalam perusahaan yang baru didirikan itu.


Kevin memberikan sambutan dan ucapan terimakasih atas kehadiran seluruh karyawan perusahaan dari berbagai level manajemen. Pesta yang memang dirancang tidak terlalu resmi itu diadakan untuk menciptakan rasa nyaman bagi semua karyawan.


Dalam kesempatan itu Kevin juga memperkenalkan Celina sebagai pendamping wanitanya. Dimana sejak kedatangan laki-laki itu diperusahaan, telah membawa pertanyaan bagi sebagian besar karyawati tentang status sang CEO.


Celina berdiri menyapa, semua kagum akan kecantikan dan keanggunan gadis itu. Kevin turun dari panggung lalu melangkah, bukan ke kursinya namun kehadapan Celina, berlutut dihadapan gadis itu.


Mengeluarkan kotak cantik yang mewah, membukanya dihadapan gadis itu. Jantung Celina berdebar kencang memandang benda berkilau yang terselip di kotak mewah itu.


Semua mata tertuju padanya.


"Menikahlah denganku" ucap Kevin.


Semua memandang tegang, bahkan ada yang menahan nafas, seorang gadis bahkan jatuh pingsan. Celina menatap Kevin dengan perasaan yang bercampur aduk, panik, sedih dan takut. Sangat jelas kalau gadis itu belum siap untuk menjawab pertanyaan itu.


Tapi gadis itu juga tidak ingin mengecewakan laki-laki yang disayanginya itu. Hening sekian lama, Celina hanya diam menatap.


"Hanya kamu yang aku inginkan" sambung Kevin memecah kesunyian.


"Tolong jangan permalukan aku" bisik Kevin yang masih terdengar oleh semua orang disana, semua tertawa.


Alyssa yang diam-diam menghadiri acara itu atas permintaan kakaknya, berdo'a agar Celina diberikan kekuatan untuk menjawab permintaan kakaknya. Alyssa merasa kasihan pada kakaknya yang tak letih-letih berharap pada gadis itu.


Ucapan Kevin yang meminta Celina jangan mempermalukannya bukanlah sebuah candaan tapi isyarat atas rasa takutnya ditolak oleh Celina.


Celina masih belum menjawab, gadis itu semakin bingung, suasana kembali hening menunggu jawaban darinya. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara yang disamarkan.


"Trima... trima... trima... trima... " berulang kali.


Hingga semua tamu pesta ikut latah mengucapkan kata yang sama. Suara gemuruh dalam ruangan mendengungkan kata itu membuat Celina semakin panik. Dibawah tekanan itu akhirnya Celina mengangguk ragu-ragu.


"Nona Celina mengangguk aku melihatnya, aku melihatnya mengangguk" teriak seorang laki-laki bertubuh gembul.


Bukan dia sendiri yang melihatnya, Kevin dan semua orang dapat melihatnya. Meski sebuah anggukan lemah namun sudah cukup untuk menunjukkan tanda setuju.


"Sah.. sah..sah.." jerit laki-laki itu lagi.


Semua orang tertawa, laki-laki itu mensahkan anggukan Celina sebagai tanda setuju untuk menerima lamaran Kevin. Karena jangan berharap Celina berucap ' I do ' yang bisa diterjemahkan menjadi 'saya terima lamaranmu'.


Sebuah anggukan saja sudah sangat berat dilakukannya. Kevin tidak peduli, anggukan kecil saja sudah cukup baginya. Laki-laki itu segera memasangkan cincin berlian itu dijari manis Celina.


Mata gadis itu berkaca-kaca, semua orang mengira itu tangisan terharu. Namun Kevin melihatnya sebagai tangis kesedihan. Kevin memeluk gadis itu sebagai tanda terima kasih.


Suasana diperjalanan pulang lebih didominasi suasana hening, Celina lebih sering menatap keluar jendela mobil. Kevin melirik kearah gadis itu.


Maafkan aku Celina, jika tidak dengan cara itu, aku tidak akan pernah punya keberanian untuk melamarmu, bisik hati Kevin sambil melirik Celina.


Kevin menggenggam tangan gadis itu, Celina menoleh kearah Kevin, lalu tersenyum hambar yang dimanis-maniskan. Kevin membalas tersenyum.


Dan sekarang Celina hanya bisa menangis terisak sambil memeluk anaknya Ozora yang telah kembali dan tidur disampingnya.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2