
Olivia mencari Ozora hingga akhirnya melihat remaja tampan itu bersama Tita di dermaga. Mereka terlihat asyik berbincang dan tertawa. Baru saja Olivia hendak memanggil, Olivia dikejutkan oleh pemandangan yang mengagetkannya. Tita terlihat meraih tengkuk Ozora, menarik remaja tampan itu mendekat lalu menempelkan bibirnya ke bibir Ozora.
Langkah Olivia langsung terhenti. Tatapannya nanar, dadanya terasa sesak. Olivia hingga jatuh terduduk. Ozora langsung menoleh. Remaja tampan itu pun segera berdiri menghampiri Olivia.
"Sepertinya aku kelelahan. Tidak apa-apa. Aku akan istirahat di villa," ucap Olivia mencoba berdiri.
Baru dua langkah Olivia seperti kembali terhuyung. Ozora langsung meraih tangan Olivia. Gadis itu langsung melambaikan tangannya menolak bantuan Ozora. Olivia merasa kakinya lemas tapi dia tidak mau terlihat lemah. Apalagi setelah mendapat pemandangan tadi.
Olivia tak ingin Tita ataupun Ozora tahu dirinya terguncang. Tak ingin rasa sesak di dadanya terlihat oleh siapa pun, begitu juga rasa perih di hatinya. Olivia tak ingin orang melihatnya sebagai gadis yang lemah.
Namun, sekuat apa pun dirinya memaksa. Tubuhnya sendiri tak kuasa. Kembali Olivia jatuh terduduk. Segera mencoba berdiri lagi untuk segera pergi tetapi terjatuh lagi.
Tak ingin lebih lama berada di hadapan kedua remaja itu, Olivia berharap dirinya bisa menghilang saat itu juga. Entah itu ditelan ombak atau pergi untuk selama-lamanya. Tiba-tiba Olivia merasa tubuhnya terangkat. Gadis itu kaget hingga terbelalak. Pemuda bertubuh tinggi itu ternyata telah menggendongnya.
"Tidak usah, aku bisa jalan sendiri," ucap Olivia.
"Harus jatuh hingga berapa kali hingga kamu sampai ke villa?" tanya Ozora.
"Aku tidak ingin merepotkanmu," ucap Olivia begitu pelan.
"Sudahlah! Aku tak mungkin biarkan kamu jatuh bangun berulang kali di depan mataku," ucap Ozora.
"Maafkan aku," ucap Olivia pelan dan merasa sangat menyesal.
__ADS_1
Ozora diam tak lagi menyahut ucapan Olivia. Sampai di titik itu Olivia tak bisa menahan air matanya. Dirinya seperti seorang lemah yang hanya menyusahkan bagi Ozora.
Tak seperti Tita yang ceria dan berani. Olivia merasa Ozora semakin membencinya karena selalu menyusahkan. Begitu sampai di Villa, Celina langsung menghampiri mereka.
"Ya ampun, Livia kenapa Nak?" tanya Celina, saat melihat Ozora harus menggendongnya untuk kembali ke villa.
"Dia kelelahan katanya. Mungkin lemas karena terlalu banyak surprise," ucap Ozora seperti sebuah sindiran.
Ucapan Ozora menjadi tanda tanya bagi Celina tapi tidak bagi Olivia. Apa yang dikatakan Ozora sangat dimengerti olehnya dan itu memang benar. Ozora berkata seperti itu seperti sedang menyindirnya. Karena tak kuat menatap adegan tadi hingga membuatnya terguncang.
"Ya sudah, kalau begitu istirahatlah di kamar," ucap Celina sambil mengikuti Ozora membawa Olivia ke kamar.
"Apa kamu masih memikirkan Mommy?" tanya Celina pada Olivia.
Ozora hanya berdiri di ujung ranjang menatap mereka sekilas lalu melangkah keluar. Membiarkan Olivia berdua dengan ibunya agar tidak terganggu oleh kehadirannya. Laki-laki itu kembali ke lantai bawah dan melihat Tita sedang menunggu.
"Dia lemah sekali. Apa-apa menangis, apa-apa menangis," ucap Tita lalu meneguk minuman.
"Setiap orang punya batas kekuatan. Dia tidak begitu kuat menahan bebannya," ucap Ozora.
"Beban apa? Apa dia tidak sanggup melihat kita berciuman tadi? Apa dia menyukaimu?" tanya Tita dengan berani.
"Aku tidak tahu," ucap Ozora.
__ADS_1
"Jangan pura-pura tidak tahu. Kamu orang yang cerdas. Kamu bisa menilai sendiri dan kamu juga bisa merasakannya," ucap Tita.
"Hati orang itu di dalam. Tidak ada yang tahu persis apa isinya," ucap Ozora mengelak.
"Tapi seseorang bisa merasakan. Aku saja bisa merasakan kalau dia suka padamu. Awalnya aku tidak terlalu bernafsu tapi sekarang rasanya jadi penasaran. Aku ingin menguji seberapa lemah atau seberapa kuat Olivia," ucap Tita sambil tersenyum.
"Apa ... maksudmu?" tanya Ozora.
"Ini akan jadi sesuatu yang menarik. Aku ingin tahu seberapa kuatnya dia bertahan menyukaimu. Aku juga ingin lihat berapa kuat dia menangis. Berapa kali dia menangis dalam satu hari," ucap Tita lalu tertawa.
"Jangan ganggu dia," ucap Ozora.
"Salah dia sendiri, kenapa berani bersaing denganku–"
"Apa?" tanya Ozora.
"Kamu pasti tahu," ucap Tita.
"Ya aku tahu," ucap Ozora lalu duduk di sofa sambil mengambil air mineral yang tersedia di atas meja.
Meneguknya hingga tandas. Ozora merasa Tita terpancing untuk mempermainkan Olivia karena gadis itu tahu Olivia memiliki perasaan padanya. Begitu Ozora menyampaikan keputusannya tidak akan kembali ke New York, Tita begitu bahagia hingga meluapkan rasa gembiranya itu dengan mencium bibir Ozora dan akhirnya disaksikan oleh Olivia.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...
__ADS_1