Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 124


__ADS_3

Ozora membaringkan Olivia setelah menggendong gadis itu dari dermaga. Tentu saja Celina menyusul putra putrinya itu dan bertanya apa yang terjadi. Ozora menjawab singkat lalu meninggalkan keduanya di dalam kamar. Kembali tenggelam dalam suasana ramai para tamu. Sementara itu Olivia memeluk Celina yang kebingungan atas tangis gadis itu kali ini.


"Mama, maafkan Livia. Livia hanya menyusahkan Mama." Suara serak Olivia yang memelas membuat Celina segera menggelengkan kepalanya.


"Nggak sayang, Livia nggak menyusahkan Mama. Livia anak baik. Selalu patuh, selalu membantu Mama menjaga Aurora. Livia sama sekali tidak menyusahkan," balas Celina sambil membelai rambut gadis itu. Lagi-lagi Olivia menangis dalam pelukannya.


"Livia mau tidur aja, boleh nggak, Ma?"


"Boleh Sayang, kamu pasti lelah. Kita adakan pesta ini selama tiga hari. Siapa yang ingin menginap dipersilahkan, yang ingin kembali besok juga boleh. Livia masih bisa nikmati pesta ini besok dan besoknya lagi. Kamu masih terguncang oleh berita tentang Mommy, tentu saja kamu lelah hati dan tubuhmu. Istirahatlah Nak," jelas Celina sambil membelai rambut gadis cantik itu.


"Kalau gitu, Livia ganti gaunnya ya Ma," ucap Livia dan Celina pun mengangguk.


Meninggalkan gadis itu di dalam kamarnya seorang diri. Dengan langkah gontai Celina kembali menghampiri teman-teman dan juga suaminya. Raffa segera merangkul istrinya. Dengan senyum penuh canda laki-laki tampan itu memijat pundak istrinya.


"Istriku pasti lelah, bagaimana kalau kita istirahat sekarang?" ajak Raffa. 

__ADS_1


"Kita tuan rumah acara ini Kak, bagaimana mungkin justru kita yang tak terlihat? Kita nggak mungkin tinggalkan tamu-tamu. Itu namanya tak bertanggung jawab mengadakan pesta," jawab Celina.


"Nggak apa-apa Cel, istirahatlah dulu. Tamu yang datang pasti maklum, persiapan pesta itu menguras tenaga. Pasti bukan hari ini saja kamu persiapkan semua. Kamu sudah sibuk sejak lama kan?" tanya Keira yang dibalas dengan senyum oleh Celina. 


Wanita itu akhirnya bersedia diajak beristirahat oleh suaminya. Namun, baru saja hendak melangkah ke lantai atas, Celina dikejutkan oleh apa dilihatnya. Tatapannya terpaku pada Ozora dan seseorang yang tengah berdiri saling berhadapan. 


"Kak, kenapa itu?" tanya Celina sambil menunjuk. 


Raffa pun menoleh ke arah yang ditunjuk. Terlihat seorang pemuda setinggi Ozora, dengan raut wajah tampan tak kalah dengan cucu keluarga Saltano itu. Melihat gelagat yang aneh, langkah kaki Celina yang hendak menaiki anak tangga, justru beralih ke arah Ozora berdiri.


"Entahlah mungkin salah satu tamu pesta. Salah satu dari teman sekolah Livia mungkin?" tanya Celina ragu-ragu.


"Nggak mungkin perawakan dan wajahnya tak seperti anak kelas 3 SMP," jelas Raffa.


"Mau apa dia? Sepertinya mereka ingin berkelahi, Kak," ucap Celina panik. Wanita berlari menghampiri putranya tetapi segera dicegah suaminya.

__ADS_1


"Tunggu Sayang, kamu jangan ikut campur …."


"Apa? Itu anakku, mana mungkin aku biarkan orang lain menyakiti anakku!" jawab Celina berusaha melepas genggaman tangan suaminya.


"Celina! Ozora sudah besar. Kamu hanya akan permalukan dia. Kita nggak boleh ikut campur apalagi ini di depan teman sebaya–"


"Tapi–"


"Sabar Celina," ucap Raffa sambil mengamati kedua pemuda yang berhadapan bahkan mulai saling dorong itu. 


Para tamu yang tadinya menikmati suasana pesta mulai teralihkan perhatiannya. Sejak salah satu gelas yang tersenggol tamu itu itu jatuh. Hancur berantakan mengeluarkan suara dentingan kaca pecah yang sangat keras. Celina hendak maju kembali, tapi kembali dihalangi suaminya. 


Bisa dibayangkan pandangan para tamu terhadap Ozora, jika pemuda itu dibela olehnya. Ozora akan dicap sebagai anak yang bergantung pada ibunya. Tak bisa membela diri sendiri. Celina tahu anaknya tidak seperti itu. Ozora seorang anak pemberani bahkan tak merasa takut saat menghadapi orang yang menculiknya.


Tak hanya saling mendorong, hingga membuat benda-benda yang berada di sekitar mereka menjadi berjatuhan. Pemuda yang menjadi tamu itu bukanlah pemuda biasa. Terlihat dari penampilannya yang terlihat mentereng. Pemuda itu mengenakan setelan jas yang terlihat mahal. 

__ADS_1


__ADS_2