
Hari ini kembali Ozora dikunjungi Keira, bersama mereka memantau kondisi perusahaan Cartwright. Seperti biasa Celina mengajak sahabatnya itu sarapan bersama.
"Aku bisa mengantar Ozora ke perusahaanmu jika perlu, kamu nggak perlu menjemputnya segala" ucap Celina.
"Dan melewatkan sarapan lezat pagi ini ?" ucap Keira sambil menyantap lasagna dihadapannya.
"Bagaimana wedding organizer yang kukirim kemarin, apa ada yang kamu suka ?" tanya Raffa.
"Aku suka semua, aku sampai bingung memilihnya. Tapi jangan khawatir aku telah menetapkan satu. Setelah melalui perdebatan panjang akhirnya Kevin mau menyerah pada pilihanku" ucap Keira bangga.
"Aku masih ingat bagaimana kalian bertemu, jika tidak segera kutarik ke toilet mungkin sampai acara selesai kalian mungkin masih adu mulut" ucap Celina mengingat masa lalu.
"Ya, karena emosi aku bahkan merelakan gaunku ternoda red wine dari pada harus mengalah padanya. Kalau tidak segera kamu bersihkan mungkin nodanya tidak akan bisa hilang" ucap Keira sambil tertawa.
"Bagaimana dengan kondisi perusahaan Cartwright ?" tanya Robby.
"Untuk lebih jelasnya bisa ditanyakan pada cucu om yang jenius ini, tapi secara garis besar. Tuan Cartwright sepertinya harus mundur dari posisi CEO karena menurut Ozora, beliau kurang tepat dalam mengambil keputusan untuk beberapa kondisi hingga menyebabkan perusahaan mengalami kerugian hingga beberapa kali" jelas Keira.
"Siapa yang akan memimpin perusahaannya lalu apa tuan Cartwright bersedia melepas jabatannya ?" tanya Celina.
"Ozora telah memilih orang yang tepat dalam memimpin perusahaan itu dan menempatkan tuan Cartwright sebagai komisaris perusahaan" jelas Keira.
"Oh ya ? bagaimana Ozora memilih orang itu dan kenapa memilih orang itu sayang ? bukankah orang-orang yang berkompeten telah memiliki pekerjaan di perusahaannya sendiri ?" tanya Raffa pada Ozora.
"Ozora memiliki beberapa daftar orang yang berkompeten di bidangnya papa, daftar orang-orang yang dicampakkan dari perusahaan karena tidak mau tunduk pada atasan yang sewenang-wenang, mereka orang-orang yang tidak terbiasa cari muka.
Orang-orang seperti itu memiliki kemampuan tapi tidak bisa berkembang karena biasanya karir mereka dicekal oleh atasan" jelas Ozora.
"Kamu yakin dengan setiap pilihanmu ?" tanya Raffa lagi.
"Ya papa, Ozora telah menelusuri jejak karir mereka, mereka orang-orang yang jujur dan dalam mengambil keputusan selalu mengutamakan kebaikan perusahaan dan orang-orang di perusahaan. Orang itu adalah the right man in the right place" jelas Ozora sambil menyesap sup jagung dihadapannya.
Raffa mengusap rambut putranya dengan penuh kasih sayang. Rasa bangganya terhadap Ozora melebihi apapun.
"Kami sedih, ulang tahun ke enammu terlewat begitu saja" ucap Raffa.
"Tidak apa-apa pa, situasi yang tidak memungkinkan. Ozora ngerti kok" ucap Ozora.
"Kamu anak yang pengertian, kalau Ozora punya adik, inginnya laki-laki atau perempuan ?" tanya Raffa.
"Apa saja pa, tapi kalau inginnya, adik perempuan biar bisa dikerjain. Ozora pingin ngerjain anak-anak perempuan di toko tapi takut orang tuanya marah" ucap Ozora.
Semua yang berada di ruang makan itu tertawa.
"Kamu persis seperti papamu, paling suka usil sama Alyssa" ucap Rowenna.
"Auntie Al ? tanya Ozora heran.
"Ya, auntie Al itu dulu suka dibikin nangis sama papamu" jelas Rowenna.
Ozora tertawa.
"Papa nakal" ucap Ozora tak lepas dari tawanya.
"Tapi baik" lanjut Raffa juga tertawa, Ozora mengangguk.
Semua kembali tertawa.
"Sudah, sudah, kalau begini terus, semua bisa bolos kerja" ucap Rowenna.
Merekapun mengakhiri pembicaraan, kembali pada kesibukan masing-masing. Raffa bersiap ke kantor begitu juga Celina. Ozora sudah siap di mobil Keira, mereka berangkat bersama. Sebelum memacu mobilnya Keira memberi tau kalau hari ini ingin memilih gaun seragam untuk keluarga dan sahabat.
"Baiklah, istirahat siang aku akan mampir ke kantormu" ucap Celina.
"Jangan telat, kalau nggak, aku pilih gaun yang paling norak khusus untuk mu" ucap Keira sambil tertawa, Ozora pun ikut tertawa.
Celina melambaikan tangan pada mereka, lalu kembali untuk bersiap berangkat. Raffa berpamitan dengan orang tuanya, diteras bertemu dengan Celina yang habis mengantar Ozora dan Keira didepan.
Raffa langsung menangkap pinggang istrinya, mendaratkan ciuman mesra. Semakin lama semakin dalam, membuat Celina terengah-engah.
"Kak, ini diluar malu dilihat orang" ucapnya sesaat melepas ciuman suaminya.
"Kalau dikamar aku bisa gagal ke kantor" ucap Raffa.
Celina tersenyum, lalu mencium pipi suaminya, menarik tangan laki-laki itu menuju garasi.
"Kamu belum pernah sekalipun datang ke kantorku, Kevin, Keira semua pernah kamu datangi. Kenapa tidak pernah ke kantorku ? " tanya Raffa.
"Insecure, aku takut karyawan kakak menilaiku. Oh itu rupanya istri tuan Raffa, ah biasa aja, nggak ada bagus-bagusnya, kayak gitu mah banyak dipasar" ucap Celina menirukan wanita-wanita bergosip.
Raffa mengernyitkan matanya lalu tertawa melihat gaya ceria Celina.
"Kamu barang dagangan, bisa banyak dipasar ?" tanya Raffa.
Celina hanya tersenyum, senyum polos yang menggemaskan, senyum yang membuat Raffa tidak bisa berpaling lagi dari gadis itu. Raffa menarik tangan Celina ke garasi membuka pintu mobilnya dan merebahkan istrinya di kursi belakang.
"Kita belum pernah melakukannya dimobil bukan ?" ucap Raffa nakal.
__ADS_1
"Jangan gila, kakak harus berangkat kerja" ucap Celina panik dengan kenakalan suaminya
"Aku ini CEO, boleh datang jam berapapun" ucap Raffa melepas jasnya.
"Ya, tapi jangan disini" ucap Celina.
"Di kamar itu biasa, kamu belum pernah merasakan sensasi bermain di dalam mobil kan?" tanya Raffa.
"Tapi aku takut ada yang liat" ucap Celina.
"Diajak aja sekalian" ucap Raffa berbisik lalu tertawa.
Celina kesal Raffa selalu bercanda, namun pasrah, tak bisa menentang kemauan suaminya.
"Kenapa kakak selalu memaksa ?" tanya Celina sambil bersandar di dada suaminya yang terbuka.
"Kamu merasa terpaksa ?" tanya Raffa lalu meletakkan kepala Celina di pangkuannya lalu merapikan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Celina.
"Ya, pada awalnya" ucap Celina.
"Lalu suka pada akhirnya" sambung Celina lagi.
Raffa tertawa.
"Aku tidak pernah gagal bukan ?" tanya Raffa yang dibalas anggukan Celina.
"Kata-kata itu sangat menakutkan, aku tidak pernah lupa ucapanmu saat dilorong jalan itu" ucap Celina sambil menelusuri otot dada suaminya dengan jari telunjuknya.
"Salahmu sendiri, kenapa kamu menolak. Aku tidak pernah gagal menaklukkan perempuan tapi kamu justru mengabaikanku. Terimalah hukumanmu, menjadi istriku seumur hidupmu" ucap Raffa sambil mengangkat kepala Celina dan membenamkan bibirnya ke bibir basah gadis itu.
Raffa melempar kemeja yang menutupi tubuh istrinya ke dashboard membuat gadis itu kaget, lalu menepuk dada suaminya. Bangkit dari pangkuan Raffa menyelinap ke bagian depan mobil untuk mengambil kemeja kerjanya.
"Awas pak Tarjo lewat" teriak Raffa.
Celina langsung kaget melihat kanan kirinya mencari sosok tukang kebun keluarga itu. Mengetahui tak ada siapapun gadis itu langsung membalas kejahilan suaminya. Mencubit habis-habisan pinggang laki-laki tampan itu.
Raffa tertawa, cubitan Celina terasa sesuatu yang menggelitiknya, laki-laki itu berusaha menangkap tangan mungil Celina untuk menghentikan pembalasan istrinya itu. Namun tak bisa akhirnya Raffa langsung menangkap tubuh istrinya lalu mendekap untuk menghentikannya.
Tawa mereka masih terdengar meski Celina sudah tidak berkutik di dalam dekapan Raffa.
"Ayo mandi kak, kita harus kerja" ajak Celina.
"Rasanya tidak ingin berangkat kerja, aku ingin memeluk tubuh polos ini seharian" ucap Raffa, tangannya menelusuri punggung Celina yang tanpa ditutupi apapun.
"Itu kalau toko buku itu milikku, aku bisa seenaknya tidak masuk kerja" ucap Celina mengenakan kembali pakaiannya.
"Beli saja kalau gitu, bukankah kamu kaya raya" ucap Raffa.
"Aku mencintaimu" ucap Raffa kembali menarik gadis itu dalam pelukannya.
"Aku juga mencintaimu CEO pemaksa" ucap Celina membuat Raffa tertawa.
Celina keluar dari mobil suaminya lalu melangkah masuk ke dalam rumah, masuk ke kamarnya dan mengulang mandi paginya.
"Mommy pikir kamu sudah berangkat ?" ucap Rowenna saat melihat Celina baru turun dari tangga.
"Belum mom, sekarang baru mau berangkat" ucap gadis itu sambil mencium pipi Ny. Rowenna.
"Celina, jaga baik-baik kandunganmu, jangan bekerja terlalu berat, dan jangan stress. Andai mommy bisa punya anak lebih banyak mommy akan penuhi rumah ini dengan anak-anak, tapi mommy nggak bisa. Sekarang semua tergantung padamu" ucap Rowenna.
Membuat Celina heran, wanita tua yang tegas itu tidak terlihat seperti wanita yang menyukai anak-anak. Tapi dibalik sikap tegas itu terselip keinginan yang tak bisa dia penuhi yaitu memiliki keluarga yang besar.
"Baik mommy aku akan jaga diri" ucap Celina sambil memeluk pinggang wanita itu dari belakang.
Rowenna membelai rambut Celina. Celina tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu selain yang dirasakannya dari bu Tina, ibu angkatnya di panti asuhan. Mendapat perhatian seperti itu membuatnya terharu, jangankan perhatian, perkataan cerewetan saja dirindukan olehnya.
Raffa menatap istri dan ibunya, tersenyum sambil menuruni tangga. Raffa juga telah mandi untuk kedua kalinya pagi itu dan mengganti jasnya dengan yang baru. Raffa pamit dengan ibunya yang juga kaget mendapati anaknya yang juga belum berangkat kerja.
"Yang disiplin waktu dirumah ini cuma Ozora" ucap Rowenna sambil menggelengkan kepala.
Raffa dan Celina tertawa lalu berangkat menuju mobil masing-masing. Celina tersenyum sipu memandang bangku belakang mobil suaminya.
"Jangan ngeres, kalau mau, ayo ulang lagi" ucap Raffa mendekap kepala istrinya.
Celina menyikut perut laki-laki itu, Raffa berakting kesakitan. Celina segera berlari ke mobilnya, segera memundurkan mobil itu melewati Raffa yang masih bersandar di belakang mobilnya.
"Hai cowok berapa hargamu per jam, pake dolar atau kartu kredit bisa kan, tunggu aku di tempat biasa ya ?" ucap Celina menjulurkan lidahnya kemudian melajukan mobilnya.
Raffa terpana sesaat lalu tertawa.
"Awas ya, untung buru-buru kabur, berani-beraninya nawar CEO" ucap Raffa masuk ke mobil sambil tertawa.
Hari itu Celina mengerjakan rutinitasnya seperti biasa tak ada yang berbeda. Kesempatan itu digunakannya untuk memenuhi janjinya pada Keira, membantu gadis itu memilih gaun pengantin sekaligus seragam para pendamping dan keluarga.
"Jika terjadi sesuatu segera telepon saya ya" pesan Celina pada supervisor toko.
"Baik bu Celina" jawab supervisor itu.
__ADS_1
Celina pun berangkat ke tempat yang disebutkan Keira. Setelah selesai dengan urusan perusahaan Cartwright, Keira mengantar Ozora pulang kemudian melaju menuju wedding boutique yang telah dipilihnya. Disanalah mereka bertemu.
Celina sampai ditempat yang dituju, disana juga telah menunggu Kevin. Laki-laki itu langsung memeluk Celina, meski ada perasaan aneh tapi melihat sikap Kevin yang tulus membuat gadis itu membalas pelukannya.
Kevin telah mengenakan jas pengantinnya dan sedang menunggu Keira. Celina teringat masa-masa persiapan pernikahannya bersama Kevin, saat itu hanya dijalani Celina seorang diri tanpa ada Kevin sama sekali disisinya.
Laki-laki itu membalas sakit hatinya dengan bersikap kejam menjelang pernikahan mereka, karena kekecewaan dan kemarahannya terhadap Celina yang tak bisa melupakan Raffa meski telah bertunangan dengannya.
Namun sekarang Kevin bersikap selayaknya pengantin yang antusias menjalani persiapan pernikahannya. Celina sangat bahagia melihat sikap laki-laki yang telah dianggap sebagai kakaknya itu.
Tirai penutup fitting room telah terkuak, terlihat Keira yang begitu cantik mengenakan baju pengantinnya. Celina hingga menitikkan air mata, menangkup pipinya sendiri dengan kedua tangannya.
"Cantik sekali, benar kan kak ?" tanya Celina kagum melihat wajah cantik Keira yang ceria.
Kevin mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun pada calon pengantinnya. Celina tersenyum melihat wajah Kevin yang terpana melihat kecantikan calon istrinya.
"Halo, kak ? sudah sampai di langit ke berapa ?" ucap Celina menggoda Kevin yang masih terpana.
Laki-laki itu tersenyum sambil tertunduk malu, Celina menepuknya agar membantu Keira turun dari panggung fitting room. Laki-laki itu segera meraih tangan Keira dan membimbing calon istrinya turun. Selanjutnya mereka mengambil sesi foto prewedding.
Keira meminta Celina mengarah gayanya, tentu saja gadis itu menolak karena tak bisa mengarah gaya. Pengarah gayapun turun tangan membantu Keira dan Kevin mendapat angle terbaik.
Teringat saat prewedding Celina yang hanya dijalaninya sendiri-sendiri dengan Kevin.
Ternyata inilah hikmahnya, aku memang bukan jodoh kak Kevin sehingga kami tak perlu melakukan prewedding bersama, batin Celina sambil tersenyum.
Setelah sesi foto, mereka memilih gaun bagi sahabat dan keluarga. Celina memilih warna peach berbahan lembut. Keira setuju setelah mencandai Celina dengan menawarkan gaun berwarna pink super cerah. Mereka tertawa bersama, Kevin akhirnya meminta diri untuk kembali ke kantornya.
Tak lama kemudian Celina pun pamit setelah mendapatkan semua yang mereka butuhkan akhirnya mereka berpisah melanjutkan aktivitas masing-masing. Celina mengamati jalanan yang dilaluinya. Didepan sana adalah gedung perusahaan suaminya.
Celina tergerak hatinya untuk mampir ke kantor itu setelah teringat pada ucapan Raffa yang mengeluhkan Celina yang tak pernah mampir ke kantornya.
Sesampai di resepsionis, Celina bertanya ruangan Raffa. Resepsionis itu mengarahkan Celina. Gedung luas dua puluh lantai itu benar-benar memanjakan karyawannya. Seluruh ruangan dengan interior modern yang tertata rapi. Menambah kesan elegan dan bonafide sebagai perusahaan dengan tingkat performa kerja yang tak diragukan lagi.
Celina sampai diruangan mewah dengan seorang sekretaris yang langsung berdiri menyapanya dengan sopan.
"Saya ingin bertemu dengan tuan Raffa, apakah bisa ?" tanya Celina.
"Apa ibu sudah buat janji ?" tanya sekretaris itu.
"Belum" ucap Celina.
"Kalau begitu, apa ibu bersedia menunggu ? tuan Raffa sedang ada pembicaraan " ucap sekretaris itu sopan.
"Baiklah" jawab Celina.
"Atau ibu ingin saya sampaikan kedatangan ibu ?" tanya sekretaris itu lagi.
"Tidak usah, saya menunggu saja" jawab Celina lagi.
"Baiklah ibu kalau begitu silahkan duduk" ucap sekretaris itu.
Celina duduk dikursi tamu yang tak jauh dari meja sekretaris, menunggu. Tak lama kemudian datang seorang wanita dengan penampilan yang mewah dan dandanan layaknya selebritis.
Sekretaris itu kembali bersikap seperti saat menerima Celina. Celina hanya diam mengamati.
"Aku ingin bertemu dengan Raffa sekarang, katakan saja namaku Marissa, teman kuliahnya dulu. Jika kamu sampaikan itu dia tidak akan membiarkanku menunggu" ucap wanita itu.
Celina hanya diam mengamati tamu yang tak sabaran itu, sekretaris bahkan melirik dengan perasaan tak enak pada Celina yang telah lebih dulu menunggu. Celina hanya tersenyum, sekretaris langsung mengangkat telepon dan menyampaikan pesan tamu wanita itu.
Sekretaris mengangguk membukakan pintu untuknya, wanita itu masuk dengan angkuhnya. Sekretaris itu menatap Celina seolah-olah meminta maaf, Celina hanya tersenyum.
Tak berapa lama kemudian pintu ruangan Raffa terbuka, terlihat seorang laki-laki keluar dari situ, Celina melihat sekilas, begitu juga laki-laki itu.
"Nyonya Celina datang kesini ?" ucap David kaget.
Celina mengangguk lalu berdiri, David langsung mendatangi.
"Tika, kalau nyonya Celina datang langsung hubungi tuan Raffa jangan biarkan beliau menunggu, beliau adalah istri tuan Raffa" tegur David keras pada sekretaris itu.
Sekretaris itu kelimpungan, Celina merasa bersalah.
"Pak David, saya yang salah, saya tidak memperkenalkan diri, lagipula nona ini sudah menawarkan untuk menyampaikan kedatangan saya tapi saya memilih menunggu, maafkan saya ya nona" ucap Celina meminta maaf karena telah membuat sekretaris itu di tegur David.
Sekretaris itu mengangguk, David diam, akhirnya meraih ponselnya untuk menghubungi Raffa. Namun Celina menghentikannya.
"Tidak perlu pak David, biar saya tunggu saja" ucap Celina menghentikan.
"Tapi.."
"Tidak apa-apa, saya datang di jam kerja, jadi saya harus mengalah, pak David tidak perlu merisaukan saya, jika pak David ada urusan silahkan dilanjutkan, saya tidak ingin merepotkan" ucap Celina memberi pengertian.
"Baiklah nyonya, kalau begitu saya tinggal dulu" ucap David lalu melirik sekretaris yang langsung menunduk itu.
"Maaf ya" ucap Celina sesaat setelah David pergi.
"Nggak apa-apa bu, saya yang harus minta maaf" ucap Tika terlihat menyesal.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian pintu terbuka, Raffa berdiri didepan pintu. Celina dan Tika langsung berdiri menatap menunggu, keduanya langsung terkejut saat melihat wanita bernama Marissa itu langsung memeluk dan mencium bibir Raffa.
...~ Bersambung ~...