
Setelah bermain dan berbincang seharian, mereka memutuskan untuk menginap. Ozora yang masih ingin berkumpul bersama dengan Keira dan Raffa terlihat masih enggan diajak pulang.
Malam itu mereka memilih kamar yang tersedia di Villa. Celina tertegun menatap kamar dimana dirinya pernah disekap Raffa. Masih lekat dalam ingatannya saat terbangun diruangan asing dalam keadaan yang lemah.
Celina melangkah menuju kamar itu, membuka pintunya. Semua masih terlihat sama, interior dalam kamar itu tak ada yang berubah. Menatap meja, dimana dulu cek yang diberikan Raffa ditaruh disana dan tulisan tangannya dikertas yang tersandar dilampu meja.
Celina menatap ranjang dimana dia terbaring dulu, terbayang noda merah yang tak sengaja terlihat olehnya menodai seprai yang berwarna putih. Celina menatap kearah pintu, disanalah dia berusaha membuka pintu dan ingin melarikan diri.
Celina menitikkan air mata, apakah harus menyesal dengan kejadian itu ataukah bersyukur.
Aneh, saat ini, aku merasa bersyukur dengan kejadian itu, aku merasa bersyukur mengenalmu tuan Raffa, batin Celina lalu buru-buru keluar dari kamar itu sambil menghapus air matanya yang menetes.
Celina berbalik, kembali menatap kamar itu sekali lagi, mungkin ini adalah yang terakhir kali baginya, setelah itu dia harus melupakannya, melupakan semuanya, melupakan kamar, Villa dan Raffa. Kevin datang mengagetkannya, mengajak duduk bersama di ruang tengah dilantai bawah.
Setelah makan malam, mereka duduk di karpet tebal sambil menikmati saat-saat berkumpul bersama. Celina menatap putranya yang begitu ceria bercanda bersama orang-orang yang menyayanginya.
Ini benar, tidak ada yang perlu disesali, disetiap kesedihan selalu ada kebahagiaan yang mengirinya, hanya perlu kesabaran untuk bisa melihat seperti apa kebahagiaan itu, kesedihanku terbayarkan oleh Ozora-ku, batin Celina.
Celina tersenyum memandang kemanapun arah Ozora berlari. Raffa memandang Celina dengan tatapan yang sedih lalu menunduk, laki-laki itu merasa terpuruk seorang diri.
"Aku ingin mengumumkan sesuatu" ucap Kevin tiba-tiba setelah mereka letih bercanda.
Meraih dan menggenggam tangan Celina.
"Aku berencana akan menikahi Celina bulan depan, bertepatan dengan ulang tahun Ozora" ucap Kevin.
Ucapan Kevin membuat suasana berubah hening. Laki-laki itu memutuskan menikahi Celina dalam waktu yang sangat dekat, Celina tidak bisa berkutik. Tak bisa mengelak lagi. Selama tujuh tahun Kevin menunggunya dan Celina telah menerima melamarnya, meski hatinya menolak namun tak ada alasan untuk tidak menyetujuinya.
Celina memejamkan mata namun pikirannya tetap saja menerawang, gadis itu menatap jam dinding, telah larut malam namun tetap saja matanya tak mau terpejam. Perlahan Celina turun dari ranjang, memandang putranya yang tidur dengan damai, Celina tersenyum membelai rambut anak itu.
Perlahan keluar dari kamar, turun kelantai bawah yang telah sepi. Semua telah terlelap dikamar masing-masing. Celina membuka pintu kaca, angin laut menerpa wajahnya. Celina memilih duduk di beranda belakang Villa menatap kosong ke laut lepas.
Celina menarik nafasnya yang terasa berat, menepuk dadanya yang terasa tertekan, berat, perih. Perlahan air matanya mengalir, gadis itu membiarkan air matanya mengalir begitu saja tanpa mencoba untuk menghapusnya, membasahi hingga jatuh ke lehernya
Air matanya mengalir semakin deras seiring langit yang mulai meneteskan hujan. Celina menatap langit yang juga menitikkan airnya. Semakin lama semakin deras seakan-akan ikut menangis bersamanya.
Tiba-tiba pintu terbuka, Raffa berlari ditengah derasnya hujan. Sekencang-kencangnya berlari menuju dermaga, jatuh berlutut diujung dermaga kayu itu, lalu berteriak sekeras-kerasnya.
Celina menutup mulutnya dengan kedua tangannya, menahan tangisnya yang semakin menjadi.
Terdengar kembali teriakan Raffa, tak peduli derasnya hujan, tak peduli dinginnya malam. Laki-laki itu bertahan ditengah deras hujan dan angin yang kencang.
Berteriak memanggil nama Celina, membuat gadis itu semakin tidak kuasa mendengarnya. Menutup kedua telinganya tak mampu meredam teriakannya. Celina tak kuat lagi, gadis itu tak mampu menahan lagi.
Perlahan kaki Celina melangkah, semakin lama semakin kencang, melangkah berlari tanpa alas kaki meniti jembatan menuju dermaga kayu. Hujan deras yang menghalangi pandangannya tak mampu menghentikannya.
Laki-laki itu ada dihadapannya berdiri dengan tubuh yang letih, frustrasi dan menderita. Tanpa memperlambat langkahnya Celina menubruk punggung laki-laki itu, memeluknya erat.
Raffa terkejut berusaha membalik badan namun Celina justru mengencangkan pelukannya.
"Jangan berbalik, tetaplah seperti ini" ucap gadis itu disela-sela isak tangisnya.
Raffa pasrah mengikuti ucapan Celina, memeluk erat tangan yang melingkar didadanya.
"Maafkan aku tuan, maafkan aku melakukan ini, aku tidak akan sanggup menatapmu, jadi tetaplah seperti ini" ucap Celina masih memeluk Raffa, menangis ditengah derasnya hujan.
Raffa diam, membiarkan gadis itu melakukan apapun yang diinginkannya.
"Maafkan aku, maafkan aku mengucapkan ini, aku... tidak menyesal mengenalmu, aku bahagia mengenalmu, papa Ozora aku mencintaimu" ucap gadis itu lalu memejamkan matanya.
Entah berapa kali Raffa mengungkapkan kata-kata itu, namun tak sekalipun Celina membalasnya. Tak terlintas dipikiran Raffa gadis itu akan mengungkapkannya, namun kali ini justru terlontar begitu saja.
Raffa ingin berbalik ingin segera memeluk gadis itu, namun Celina masih memeluknya kuat.
__ADS_1
"Aku takut tidak bisa mengucapkannya dihadapanmu" ucap Celina sambil menangis.
"Aku mencintaimu, papa Ozora... aku mencintaimu" ungkap gadis itu terisak.
Cukup, aku tidak bisa diam lagi, batin Raffa.
Raffa langsung berbalik, Celina tak sanggup menahannya. Raffa berdiri dihadapannya, laki-laki itu menatap Celina, menangkup wajah yang basah karena hujan itu. Secepat kilat memeluknya erat, ******* bibirnya, menyesap bibir gadis yang masih menangis itu.
Raffa semakin erat memeluknya, Celina pun membalas pelukan itu, menarik Raffa sekuat-kuatnya, laki-laki itu semakin membenamkan bibirnya, merasakan manis lidahnya, jantung yang berdetak kencang tak mampu menghalangi mereka, dada yang sesak tak mampu menyurutkan keinginan mereka melepas hasrat mereka yang telah lama terpendam.
Ungkapan cinta Celina membuat Raffa tak ingin melepaskannya lagi. Tak peduli apapun yang terjadi, Raffa akan siap menghadapi. Laki-laki yang telah pasrah kehilangan gadis itu kembali menemukan semangat hidupnya.
Raffa memainkan lidahnya, berusaha menggapai manis lembutnya lidah Celina, lagi dan lagi, berulangkali dengan nafas yang semakin memburu, lalu menghentikannya saat nafas mereka terasa tersengal, perlahan Raffa melepaskan ciumannya. Raffa tersenyum lalu mengecup kening Celina, gadis itu memejamkan matanya.
"Kamu kedinginan sayang" ucap Raffa
Celina menggeleng, gadis itu ingin tetap disitu. Jangan memintanya untuk kembali ke Villa secepat itu. Celina masih ingin memeluk Raffa, dia ingin tetap disitu bersamanya. Karena jika kembali ke Villa, dia akan kembali ke kehidupan sebenarnya, kembali menjadi tunangan Kevin.
"Celina, aku tidak ingin kamu sakit" ucap Raffa khawatir.
Tak peduli tubuhnya yang dingin menggigil, tak peduli dengan tubuhnya yang semakin gemetar. Celina yang semakin lemah, masih saja bertahan memeluk Raffa ditengah hujan yang deras dan angin yang kencang.
Perlahan pelukan Celina melemah, gadis yang sejak tadi lelah menahan perasaannya itu akhirnya terkulai. Raffa langsung menangkap tubuh yang mulai merosot jatuh itu. Celina pingsan, Raffa segera menggendongnya.
Berlari menembus hujan kembali ke Villa, laki-laki itu tidak peduli apa-apa lagi. Tak peduli jika harus berhadapan dengan Kevin yang menunggunya, yang ingin melayangkan tinju padanya. Raffa tak peduli, Celina lebih penting dari segala-galanya, lebih penting dari rasa sakit yang akan diterimanya dari kemarahan Kevin.
Tapi tak seperti yang diduganya, Kevin yang dari tadi diam menatap dari jendela kamarnya tak melakukan apapun. Laki-laki itu membiarkan apapun yang mereka lakukan. Kevin memilih untuk diam bertahan, tidak akan melakukan apapun hingga kelak memiliki gadis itu seutuhnya.
Kevin tak ingin membuat Celina membenci dirinya, memukuli laki-laki yang dicintainya hanya akan membuat Celina semakin menaruh simpati padanya.
Raffa membawa gadis itu ke kamar mandinya, perlahan rebah memeluk gadis yang pucat pasi itu didalam bathtub, mengalirkan air hangat ke tubuh mereka. Celina masih terkulai di dadanya, Raffa mengusap pipi yang masih dingin itu.
Bersama mereka berendam di air hangat, perlahan wajah Celina yang pucat pasi kembali merona. Raffa tersenyum, mengulum bibir yang kembali merah itu. Celina terbangun duduk disamping Raffa, mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Tetaplah disini, hangatkan tubuhmu" ucap Raffa kembali meraih tubuh gadis itu, merebahkan di dadanya.
"Aku merasa kehilangan harapan, aku merasa kehilangan segala-galanya, Celina apa yang harus aku lakukan ? agar kita bisa bersama ? memohon pada Kevin agar mau melepaskanmu, apa itu mungkin ?" tanya laki-laki itu sambil membelai pipi Celina.
"Entahlah tuan, terlalu banyak yang menghalangi kita, kak Kevin, Ny. Rowenna dan Jessica, kita tidak akan mampu menghadapi mereka, tapi percayalah tuan meski kita tidak bersama, aku akan tetap mencintaimu, tetap mencintaimu tuan" ucap Celina sambil menitikkan air matanya di dada Raffa.
"Celina, aku hanya perlu hatimu, asalkan hatimu tetap mencintaiku, aku akan tetap memperjuangkanmu" ucap laki-laki itu kembali optimis.
Kembali mengecup bibir gadis itu yang sekarang telah kembali merona, kenyal dan manis.
"Ayo kita kembali ke kamar" ucap Raffa meminta Celina berdiri.
Tubuh mereka telah hangat, mereka berdiri diatas bathtub, Raffa ingin melepaskan kancing baju Celina. Namun gadis itu segera menahan tangannya.
"Kenapa ? aku sudah pernah melihat semuanya" ucap laki-laki itu sambil tertawa.
Celina menggeleng kuat sambil menahan malu, bagaimanapun situasinya tidaklah sama, waktu itu terjadi mereka belum saling mengenal dan gadis itu dalam keadaan tidak sadar.
"Baiklah, ganti pakaianmu, pakailah kimono itu" ucap Raffa yang keluar dari bathtub dan menunjuk kimono handuk yang tergantung di rak gantung kamar mandi.
Celina memalingkan wajahnya saat Raffa melepas pakaiannya dan mengenakan handuk yang tersedia disana. Laki-laki itu lalu keluar dari kamar mandi sambil menyeka rambutnya yang basah.
Celina mengganti pakaiannya yang basah dengan kimono handuk, perlahan keluar dari kamar mandi itu. Langsung menatap kamar itu, kamar dimana dia disekap dulu. Celina bahkan tidak memperhatikan kalau dikamar itu ada kamar mandinya.
Raffa telah duduk di ranjang, dibawah selimut hangat. Laki-laki itu menepuk ranjang disampingnya meminta gadis itu duduk di sebelahnya. Dengan langkah ragu Celina mendekati ranjang itu.
Gadis itu duduk dipinggir ranjang, Raffa langsung menariknya jatuh diatas ranjang. Raffa langsung memeluknya.
"Kamu ingat ? dikamar inilah aku menidurimu" ucap Raffa.
__ADS_1
"Disinilah Ozora tercipta, rasanya aku masih tidak percaya, aku bisa memiliki anak darimu" ucap Raffa sambil menatap Celina yang ada dibawahnya.
Celina memalingkan wajahnya yang merona, Raffa perlahan mendekatkan bibirnya, menarik tali yang mengikat kimono Celina. Gadis itu segera mencegahnya.
"Aku tidak pernah meniduri gadis lain sejak bersamamu, aku menjaga kesucian tubuhku untukmu" bisik Raffa sambil menciumi leher Celina.
Tapi Celina menolak, gadis itu mendorong tubuh Raffa pelan.
"Aku mencintaimu tuan, aku pasti akan menyerahkan diriku untukmu, jika memang takdir menyatukan kita" ucap Celina, perlahan bangun dan duduk dihadapan Raffa.
Raffa tersenyum menunduk, kecewa namun bisa mengerti. Celina bukanlah gadis yang biasa menyerahkan diri pada laki-laki, jika bukan karena pemaksaan gadis itu masih akan mempertahankan keperawanannya.
Celina beranjak dari ranjang namun Raffa masih memegang tangannya. Laki-laki itu akhirnya melepas tangan Celina dan membiarkan gadis itu kembali ke kamarnya. Raffa merasa hari itu adalah hari yang sangat indah. Kesedihannya mendengar pengumuman Kevin terhapus seketika mendengar pernyataan cinta Celina.
Mata mereka masih sulit terpejam, namun kali ini bukan karena berita yang mengguncang hati namun bahagia karena sebuah pernyataan cinta.
"Aku mencintaimu Celina, aku selalu mencintaimu mama Ozora" bisik Raffa tersenyum, mengusap bantal disebelahnya.
Pagi itu Celina bangun dengan tubuh yang terasa lelah, Ozora tidak ada lagi disampingnya. Perlahan gadis itu melangkah menuruni tangga.
"Hai sleeping beauty, udah bangun" sapa Keira.
Terlihat semuanya tengah duduk dimeja makan untuk sarapan. Ozora langsung menyambut ibunya dan menarik tangannya duduk disamping Kevin.
"Tidurmu nyenyak ?" tanya Kevin yang dibalas anggukan oleh Celina.
"Makanlah, wajahmu terlihat pucat" lanjut Kevin.
Celina langsung menyentuh pipinya, Kevin meraba kening Celina. Raffa hanya memalingkan wajahnya sambil terus berpura-pura, menyaksikan album foto yang diamati Keira.
"Kalian sering datang ke Villa ini ? difoto ini terlihat banyak sekali foto kenangan ?" tanya Keira.
"Sebenarnya kami lebih sering menginap di Villa di kota asal kami dulu, nuansanya berbeda dengan disini, Villa dengan nuansa pegunungan. Tapi kalau kebetulan ingin berkunjung ke kota ini kami menginap di villa ini" cerita Raffa.
"Kalau Alyssa ingin liburan ke pantai kami akan berlibur disini, biasanya kami berdua berenang dan Alyssa membangun istana pasir, begitu selesai Raffa akan datang menghancurkannya. Kalau Alyssa sudah menangis barulah dia membujuk sambil membantu membangun istana pasir lagi. Raffa memang suka iseng sama Alyssa" cerita Kevin.
"Alyssa benar-benar gadis istimewa, disayangi dua pria tampan seperti kalian, apa aku boleh berkenalan dengannya ?" tanya Keira.
"Datanglah ke rumah kami, setelah kami menikah, Alyssa akan tinggal sendiri. Jika ada teman yang mengunjungi dia pasti akan senang" ucap Kevin sambil tersenyum menggenggam tangan Celina.
"Kalian sekarang tinggal bersama, kamu, Celina, Ozora dan Alyssa ?" tanya Keira.
Dibalas anggukan oleh Kevin.
"Wow.. serumah dengan calon istri apapun bisa terjadi" ucap Keira sambil melirik Raffa yang duduk disampingnya.
Raffa hanya menunduk sibuk menyantap sarapannya. Sementara Celina hanya memandang Keira dengan pandangan yang canggung. Sementara Kevin tersenyum sambil merangkul bahu tunangannya itu.
"Oh ya pagi ini kita harus pulang, Personal Assistant ku menawarkan beberapa wedding organizer ternama yang bersedia mengatur acara pernikahan kita. Aku ingin kamu yang memilihnya" ucap Kevin.
Celina mendadak panik, bukan karena harus menemui wedding organizer itu tapi karena teringat pakaiannya yang basah terkena hujan. Celina tidak memiliki baju ganti. Celina ingin segera beranjak dari tempat itu namun tidak punya alasan untuk cepat pergi dari acara sarapan pagi itu.
Celina bingung bagaimana cara menanyakan pakaiannya pada Raffa, dimana dia meletakkan pakaiannya tadi malam. Saat acara sarapan selesai, Celina langsung ke lantai atas mencari pakaiannya di kamar mandi Raffa, namun tak ditemukannya. Celina bingung harus mencarinya kemana.
Celina keluar tergesa-gesa dari kamar Raffa, mendapati Keira yang berdiri menatapnya. Celina terpaku tak tau harus berkata apa.
"Aku hanya... " ucap Celina bingung bagaimana cara menjelaskannya.
Keira tersenyum, gadis itu tidak ingin membuat Celina merasa serba salah.
"Tenanglah, aku tidak akan bicara apa-apa, aku mengerti apa yang terjadi, bahkan Kevin hanya bisa diam saat melihat Raffa membawamu kekamarnya" cerita Keira.
Celina terperangah, melihat sikap tenangnya pagi ini, Celina tidak menyangka kalau semalam Kevin menyaksikannya dibawa masuk kedalam kamar Raffa.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...