
Celina terlihat lemas duduk dikursi pengunjung, bertopang dagu diatas meja yang disediakan untuk pengunjung. Sejak Ozora berangkat untuk menghadiri pesta ulang tahun pernikahan tuan dan nyonya Saltano, gadis itu merasa sangat kesepian.
Rasanya ingin menelpon namun setiap kali melihat nama kontak yang telah disimpannya, membuat Celina mengurungkan niatnya. Tak sanggup mendengar suara laki-laki itu.
Tiba-tiba sebuah buku dilempar tepat didepannya, gadis itu kaget, langsung melihat siapa yang berani melakukan itu padanya. Kevin telah berdiri sambil tersenyum memandangnya.
"Rusak berarti membeli" ucap Celina pura-pura kesal, kembali pada posisi semula.
"Kalau gitu aku akan merusak hatimu, agar aku bisa membelinya" ucapnya duduk dihadapan Celina.
"Not for sale" jawabnya sambil tersenyum.
Kevin duduk dibangku disamping Celina, memandang lekat gadis yang sangat dicintainya itu. Sejak pindah bekerja dari New York, laki-laki itu justru sulit fokus pada pekerjaannya.
Setiap saat memikirkan cara untuk mendekati Celina, memikirkan cara untuk membahagiakan gadis itu dan melakukan apa saja agar gadis itu membuka hati untuknya.
"Temani aku ke suatu tempat" pinta Kevin.
Celina bertanya hendak kemana, namun Kevin mengatakan itu sebuah rahasia. Celina pura-pura menolak.
"Kalau kamu nggak mau ikut, terpaksa aku menculikmu" jawab Kevin lagi.
Wajah Celina berubah pucat, ekspresinya seperti kebingungan. Gadis itu berusaha mengatasi perasaannya yang tidak tenang. Kevin heran melihat reaksi Celina, menggenggam tangan gadis itu untuk menenangkannya.
"Kamu kenapa ? kamu takut ? aku nggak sungguh-sungguh ingin menculikmu" ucap Kevin sambil tertawa lalu membelai lembut rambut gadis itu.
Celina mengelak dari belaian itu.
"Jangan bicara seperti itu lagi" ucap Celina masih dengan ekspresi panik.
"Baiklah aku janji, tapi kamu juga janji tidak akan menolak apapun keinginanku" ucap Kevin, kembali menatap gadis pujaannya itu dari dekat.
"Dimana letak keadilan itu, aku hanya minta satu tapi balasannya tidak akan menolak apapun, a-pa-pun ? itu tidak adil" ucap Celina sambil menggeleng.
"Kalau a-pa-pun itu semuanya untuk membahagiakanmu, bagaimana ?" ucap Kevin tersenyum sambil mengangkat alisnya berkali-kali.
Celina tertawa melihat tingkah Kevin, laki-laki itu selalu bisa menghadirkan suasana bahagia dihatinya. Menggoda Celina dirumah saja tidak cukup bagi Kevin, laki-laki itu selalu meluangkan waktu menemui Celina ditoko, Kevin merindukan Celina kapanpun, dimanapun.
Setelah shift kerja Celina habis mereka pun pergi ketempat yang ingin ditunjukkan kepada Celina. Mobil Celina yang dikemudikan Kevin memasuki area gedung apartemen mewah.
Area apartemen dengan segala macam fasilitas yang tak pernah dibayangkan Celina sebelumnya. Memasuki sebuah gedung berdesain modern. Kevin berhenti disebuah pintu, menekan tombol kombinasi password pada sebuah kotak pengaman dan pintu terbuka.
Kevin mempersilahkan Celina masuk, gadis itu menatap sekeliling ruangan. Desain interior apartemen yang mewah dengan rancangan langit-langit yang tinggi. Memberi kesan ruangan yang sangat elegan.
Kevin mengajak Celina melihat kamar yang tersedia di apartemen itu. Dari kamar dengan lokasi premium itu Celina bisa menikmati panorama kota dari ketinggian.
Model kamar apartemen yang disajikan dengan jendela besar dari mulai lantai hingga mencapai langit-langit.
Dari situ penghuni bisa menikmati pemandangan city lights kota dengan sempurna. Kemewahan yang tak terbatas pada segi desain, juga merambah pada fasilitas-fasilitas eksklusif yang telah tertata dengan rapi.
"Kalau kamu tidak suka interiornya, kita bisa ganti semua sesuai dengan keinginanmu" ucap Kevin sambil bersandar menatap Celina yang berdiri memandang keluar jendela.
Celina memandang dari jendela besar itu, menatap kota dari ketinggian, Celina terpaku. Pikirannya tidak hanya sebatas pemandangan dihadapannya, namun telah melayang jauh memikirkan alasan Kevin menunjukkan ini semua untuknya, gadis itu tertunduk.
Kevin datang memeluk pinggang Celina dari belakang, menempatkan dagunya dibahu gadis itu. Ikut menikmati pemandangan kota.
"A-pa-pun akan kuberikan untukmu, kamu hanya perlu memberikan satu saja untukku... hatimu" bisik Kevin.
Kata-kata yang indah, kata-kata yang hanya bisa dikhayalkan semua wanita yang mengenal laki-laki tampan itu. Namun kata-kata itu justru membuat mata Celina berkaca-kaca.
Kevin memutar balik tubuh gadis yang hanya terdiam itu. Meraih dagu Celina, menatap lembut mata yang mulai mengalirkan air karena sudah tak bisa dibendung lagi.
Celina diam, tak mengeluarkan kata-kata apapun, hanya isak tangis yang mulai terdengar. Hanya Celina yang tau seberapa dalam kesedihannya. Celina sangat menyayangi laki-laki dihadapannya, sangat ingin membahagiakannya namun masih tak sanggup mengabulkan satu permintaannya.
Kevin memeluk tubuh gadis yang terisak itu, mendekapnya dengan erat. Kevin tak ingin membuat Celina menangis, Kevin hanya ingin membuatnya bahagia.
"Aku mohon, berikan kesempatan bagi dirimu untuk bahagia" bisik Kevin.
Celina terisak dalam pelukan Kevin. Lama mendekap gadis yang tak kunjung bisa menghentikan tangisnya. Kevin meraih dagu Celina, memaksa gadis itu menatapnya.
"Tuntaskan perasaanmu padanya dan lupakan dia" ucap Kevin.
Lalu menempelkan bibirnya ke bibir gadis itu, meresapnya semakin dalam. Celina memejamkan matanya berusaha menerima ciuman tulus itu. Ungkapan sayang, cinta dan ***** laki-laki itu untuk memiliki Celina.
Aku akan mencoba melupakannya, aku akan mencoba menerimamu kak Kevin.
Aku akan berusaha mencintaimu.
Aku akan selalu mencintaimu,
Tuan Raffa, aku mencintaimu.
Membalas ciumannya, sekuat tenaga menunjukkan keinginannya menerima laki-laki itu.
Celina membuka mata, mendapati Kevin yang masih menciumnya, tangisnya menjadi, tubuhnya berguncang.
Dalam dekapan hangat Kevin, dalam ciuman lembut laki-laki itu Celina membayangkan Raffa, masih mengharapkan Raffa.
Kevin masih mencium Celina disela-sela tangis gadis itu. Yang terpenting bagi Kevin, Celina membalas ciumannya, tak peduli itu tulus atau terpaksa.
Namun Kevin sadar, air mata Celina adalah bukti pertentangan di hatinya. Belum bisa menerima Kevin sepenuhnya. Laki-laki itu melepaskan ciumannya, beralih mengecup kening gadis itu, lalu kembali mendekapnya.
__ADS_1
Sementara itu, Ozora yang diajak Raffa ke sauna, menikmati fasilitas relaksasi tubuh itu. Di sebuah ruangan sauna yang mewah hanya untuk mereka berdua.
Ozora duduk memandangi laki-laki dewasa dihadapannya. Laki-laki yang duduk bersandar sambil memejamkan mata sejak datang hingga saat ini. Terkadang menanyakan sesuatu pada Ozora lalu kembali diam.
"Ozora, apa kamu merindukan ibumu ?" tanya Raffa masih memejamkan mata.
"Tentu saja pa" jawab Ozora singkat.
"Orang seperti apa dia ?" tanya Raffa.
Ozora menatap wajah Raffa yang masih memejamkan mata. Raffa menunggu jawaban Ozora, namun anak itu justru tertunduk. Raffa membuka matanya, memandang kearah anak kecil itu.
"Mama, wanita yang sangat cantik" ucap Ozora.
Raffa membayangkan ibu-ibu yang ditemuinya ditoko saat meminta izin membawa Ozora. Laki-laki itu berpikir mungkin saat masih muda ibu itu memang cantik dan setiap anak pasti menilai ibunya cantik.
"Mama, adalah seorang yatim piatu, orang yang sangat baik. Mama orang yang mudah terharu jika ada yang berbuat baik padanya, tidak akan pernah melupakan kebaikan orang-orang yang pernah menolongnya" jelas Ozora.
"Bagaimana dengan ayahmu ?" tanya Raffa yang telah membuka matanya menatap Ozora.
"Papa menikah dengan wanita lain saat mama mengandung saya" ucap Ozora.
"Kamu tidak ingin bertemu dengannya ?" tanya Raffa penasaran.
"Tentu saja pa, saat saya mengetahui seorang anak memiliki ibu dan ayah, saat itu juga saya ingin tau siapa ayah saya.
Tapi saat saya bertanya, mama hanya menjawab papa telah menikah dengan wanita lain, lalu mama menangis.
Sejak itu saya tidak pernah bertanya lagi" jelas Ozora.
"Ayahmu pasti sangat menyesal, jika tau telah meninggalkan anak sehebat dirimu" ucap Raffa sambil tersenyum, mengucek rambut Ozora.
Anak yang tertunduk itu langsung menatap Raffa.
"Benarkah papa saya menyesal meninggalkan saya ?" tanya Ozora.
"Tentu" jawab Raffa singkat.
"Kalau papa adalah papa saya apakah papa juga akan menyesal ?"tanya Ozora.
"Tentu saja, jika aku punya anak sepertimu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu" jawab Raffa lagi.
"Beyond Recollection" ucap Ozora kembali tertunduk.
"Diluar ingatan ? apa maksudmu ?"tanya Raffa.
"Saya tidak pernah ada dalam ingatannya, ayah saya tidak pernah tau kalau saya ada" ucap Ozora murung.
Raffa memeluk anak itu lama, seakan-akan memberikan ketenangan baginya dan juga bagi Ozora. Anak itu juga tak kunjung melepaskan pelukannya, Raffa membiarkannya, bahkan semakin mengusap rambut anak itu.
"Jangan bersedih, banyak orang yang menyayangimu" ucap Raffa memberi semangat pada Ozora.
Anak itu mengangguk, lalu melepaskan pelukannya. Kembali duduk disamping Raffa, Ozora memandang laki-laki yang kembali memejamkan mata sambil tersenyum itu, seakan-akan ingin menyimpan setiap detail laki-laki itu dalam ingatannya.
Ozora memandang bekas luka yang terlihat di tubuh Raffa. Bekas-bekas luka itu terlihat jelas karena mereka hanya mengenakan handuk sauna. Ozora menyentuh bekas luka tusuk di bahu itu. Raffa yang sedang memejamkan mata terkejut.
"Maaf pa, papa kaget ya ? saya heran dengan luka itu kenapa tidak operasi plastik untuk menghilangkan bekasnya ?" tanya Ozora sambil menunjuk bekas tusukan benda tajam dibahu Raffa.
Raffa tersenyum memandang bekas luka tusuk itu.
"Aku tidak ingin menghilangkannya, karena ini adalah bekas luka yang berharga" ucapnya tersenyum melihat rasa ingin tahu Ozora yang besar.
"Bekas luka yang berharga ? siapa yang melakukannya ? seorang selebriti ?" tanya Ozora bercanda lalu tertawa.
Raffa kembali menarik bocah itu dalam pelukannya mengucek kepalanya, saking gemasnya laki-laki itu terhadap bocah tampan itu.
"Ini bekas luka karena ditusuk oleh gadis yang saya cintai" jelasnya mengingat masa lalu.
"Nyonya Jessica ? bisa berbuat seperti itu ?" tanya Ozora kaget.
"Bukan... bukan Jessica, yang melakukannya gadis yang lain. Sejak hari itu, aku tak pernah bisa berhenti mencintainya" jawab Raffa yang kembali melepas Ozora duduk disampingnya.
"Bagaimana papa bisa mencintai seorang gadis yang telah melukai papa ?" tanya Ozora heran.
"Ceritanya panjang dan kamu tidak akan mengerti, ah.. maksudku belum saatnya kamu tau cerita seperti itu" ucap Raffa sambil tersenyum kecut, wajahnya langsung murung.
Ozora mengangguk, anak laki-laki itu menarik nafas dalam, Raffa heran melihat reaksi Ozora.
"Apa terlalu panas ? tanya Raffa, takut kalau Ozora tidak tahan dengan suhunya, lalu bergerak untuk menurunkan suhu.
"Nggak pa, nggak apa-apa kok, suhunya nggak masalah" ucap Ozora.
"Nggak apa-apa juga menurunkan suhunya, sebentar lagi kita keluar dari sini, kita atur biar tidak terlalu berbeda dengan suhu diluar" ucap Raffa.
Ozora mengangguk lalu menatap kearah luka robek di bagian perut Raffa.
"Bagaimana dengan bekas luka ini ? apakah ini juga berharga ? tanya Ozora lagi.
Raffa melihat bekas luka itu, lalu tercenung. Wajahnya kembali murung.
"Yah... ini juga bekas luka yang berharga, aku mendapatkannya saat menolong gadis itu dari berandalan yang mengganggunya.
__ADS_1
Saat itulah aku mengerti apa yang namanya berjuang mati-matian.
Aku terlibat perkelahian melawan berandalan itu.
Karena takut tidak bisa bertahan, aku menyuruh gadis itu lari. Rasanya lebih baik mati daripada melihatnya dibawa mereka.
Tapi dia tidak mau meninggalkanku, tetap berdiri disitu, hanya menangis menatapku.
Saat itulah aku bertekad tidak akan membiarkannya disentuh laki-laki manapun, berjuang mati-matian hingga akhirnya berhasil mengalahkan mereka" jelas Raffa sambil menarik nafas berat.
"Aku jatuh cinta padanya" ucap Raffa kemudian menunduk.
"Gadis itu, mungkin sudah melupakan kejadian itu. Mungkin sekarang telah bahagia bersama laki-laki lain. Sementara aku, tidak pernah bisa berhenti mencintainya. Aku tidak pernah berhenti mencintai Celina" ucap Raffa semakin menunduk.
Tanpa bisa ditahan, air matanya menetes kelantai. Ozora tercenung, lalu menyentuh bahu laki-laki itu. Tubuh Raffa makin berguncang menahan tangis yang tak ingin dilihat oleh bocah itu. Namun Raffa benar-benar tidak bisa menguasai kesedihannya.
Ozora menepuk punggung laki-laki dewasa yang menangis itu. Ozora menatap sedih padanya, tapi tak bisa mengungkapkan apa-apa untuk menghiburnya.
"Maukah kamu menjadi anakku ? bersamamu, perasaanku terasa tenang" ucap Raffa tiba-tiba memandang harap pada Ozora.
"Saya memang anakmu papa" jawab Ozora sambil tersenyum.
"Terima kasih Ozora" ucap Raffa kembali memeluk anak itu.
Raffa bersyukur atas ucapan Ozora yang menyetujui permintaannya. Ozora menyetujui keinginan Raffa untuk menganggap dirinya sebagai putra laki-laki itu.
Raffa dan Ozora kembali ke hotel, laki-laki itu tak pernah lepas menggenggam tangan bocah itu. Ozora merasa sangat bahagia, anak itu memiliki seorang ayah sekarang. Sepanjang jalan kedua laki-laki itu bercanda dan tertawa.
"Besok aku harus pulang dad, mom, aku ada pertemuan penting di pulau Batam" ucap Raffa saat makan malam bersama.
"Dengan tuan Adam Ismail ?" tanya Rowenna.
"Ya mom, aku berhasil mengajaknya bekerja sama. David mengabarkan kalau besok beliau ingin bertemu denganku" ucap Raffa.
Tuan Robby mengangguk-angguk.
"Daddy bangga padamu, kamu berhasil menarik perhatian tuan Adam. Dia terkenal sangat sulit untuk didekati, sangat sulit untuk meyakinkannya. Daddy bangga padamu" ucap Tn. Robby.
"Papa harus pulang, kamu disini dulu atau pulang sama papa ? papa bisa transit kalau Ozora ikut sekalian" tanya Raffa pada Ozora.
"Saya ikut pulang pa, bukankah misi sudah selesai ?" ucap Ozora sambil tersenyum.
"Menemani Tita saat pesta" jawabnya saat ditanya misi apa.
Meski Tita sedih tapi akhirnya membiarkan Ozora pulang bersama Raffa. Ozora berjanji akan mengunjungi Tita dirumahnya. Gadis kecil itu kembali gembira, karena sangat ingin mengajak Ozora bermain dirumahnya.
Raffa bersama Ozora berjalan memasuki bandara, saat melewati pintu metal detector, kembali sinyal tanda ditemukannya barang berbahan metal berbunyi. Raffa dan Ozora tertawa, laki-laki itu melepas kalung hati Ozora sebelum petugas menggeledahnya. Petugas bandara ikut tertawa melihat tingkah dua laki-laki tampan itu.
"Kamu bawa kalung itu sengaja ya ? untuk mengerjai petugas" tuduh Raffa sambil tertawa.
"Itu berisi foto Ozora dan mama, tapi bagus juga untuk mengerjai petugas" balas Ozora sambil tertawa.
Candaan mereka sambil berjalan menuju boarding room, Raffa ingin memasangkan kembali kalung Ozora.
"Simpan dulu aja pa, dipintu keluar nanti papa kasih sama Ozora... atau mama" ucap Ozora.
Meski Raffa bingung dengan maksud Ozora namun laki-laki itu akhirnya mengikuti. Merekapun terbang, dua jam dua puluh menit, kemudian mereka mendarat.
"Sampai disini aja pa, Ozora biar keluar sendiri, papa mau lapor transit kan ?" ucap Ozora.
"Tapi papa bisa antar kamu keluar dulu, baru masuk lagi" usul Raffa.
"Nggak usah, papa jadi bolak-balik, lagian mama Ozora udah nunggu" ucap Ozora tersenyum.
"Kamu yakin ? kalau gitu baiklah, sampai ketemu lagi ya" ucap Raffa sambil memeluk anak cerdas itu.
Raffa melambaikan tangannya pada Ozora, anak itu membalas, memandang Raffa melangkah menjauh, lalu berjalan menuju tempat pengambilan bagasi, setelah menemukan kopernya anak itu langsung menuju pintu keluar bandara dimana mamanya telah menunggu.
Celina langsung memeluk anaknya penuh kerinduan. Ozora mencium kedua pipi Celina. Ozora langsung menceritakan pengalaman-pengalamannya selama perjalanan bersama keluarga
Sementara Raffa berjalan menuju boarding room. Meraih ponselnya untuk menghubungi David yang telah menunggu di Batam. Tangannya menyentuh kalung Ozora yang lupa dikembalikan, laki-laki itu tertawa mengingat kelakuan Ozora saat masuk bandara tadi.
Anak cerdas itu tahu segalanya, tak mungkin dia tidak mengetahui peraturan bandara. Anak nakal itu pasti sengaja melakukannya, batin Raffa sambil memandang kalung milik Ozora, lalu tertawa sendiri.
Baru berpisah dari Ozora, Raffa sudah merindukan anak itu.
Dia bilang kalung ini berisi foto dirinya dan mamanya, batin Raffa.
Rasa rindunya membuat laki-laki itu ingin melihat foto Ozora. Sambil berjalan Raffa membuka liontin itu, mengamati foto Ozora lalu beralih ke foto disampingnya. Raut wajah Raffa berubah saat menatap wajah disamping foto Ozora.
Celina... ini Celina, Celina ibunya Ozora ? tidak, tidak, jangan pergi, tunggu aku, jerit hati Raffa.
Langsung berbalik, berlari sekencang-kencangnya menuju pintu keluar bandara, sepanjang jalan Raffa mengingat kembali semua yang dilakukan anak itu.
Sapu tangan inisial OS itu mungkinkah Ozora Saltano ? batin Raffa berlari sambil menitikkan air mata.
Dia telah memberitahuku, dia memberitahuku, batin Raffa.
Terngiang-ngiang ditelinganya ucapan Ozora.
~~ Saya memang anakmu papa ~~
__ADS_1
...~ Bersambung ~...