Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 21 ~ Pesta ~


__ADS_3

Raffa mengajak Ozora dan Tita menemui ibunda Ozora untuk berpamitan. Sekalian Raffa ingin berkenalan dengan wanita yang telah melahirkan anak cerdas itu.


Celina yang melihat Raffa menggandeng anaknya berjalan memasuki toko langsung panik, jantungnya berdegup kencang. Aliran darahnya seperti terhenti, tangannya terasa dingin,


Apa yang dilakukannya, kenapa kesini ? kenapa tidak langsung pergi ? jerit hati Celina.


Gadis itu berjalan mondar-mandir, ingin menghindar tapi tidak tau bagaimana caranya. Gadis itu berpikir bagaimana cara bersembunyi tanpa ketahuan kalau sengaja menghindar dari Raffa.


"Dimana ibumu ? apa dia sangat sibuk ?" tanya Raffa pada Ozora.


"Sayang udah mau berangkat ya ?" teriak bu Widya sambil berjalan tergesa menghampiri Ozora.


"Saya minta izin membawa Ozora bu " ucap Raffa.


"Yah, maaf ya, jika nanti merepotkan " ucap bu Widya.


"Ah tidak, justru saya yang berterima kasih, karena diizinkan membawanya. Tita sangat ingin ditemani Ozora" jelas Raffa.


Bu Widya tersenyum pada Raffa lalu memeluk Ozora.


"Baik-baik disana ya dan jangan nakal" pesan bu Widya sambil memeluk dan mencium pipi anak itu.


Ozora mengangguk. Acara berpamitan telah selesai, Raffa langsung mengajak mereka pergi. Setelah keluar dari toko, Celina langsung bernafas lega. Gadis yang sejak tadi berdiri mematung menahan nafas saat melihat mereka berjalan menuju tangga, sekarang telah bisa tersenyum kembali.


Disaat yang tepat Bu Widya menyambut Raffa, Ozora dan Tita. Raffa yang mengira bu Widya adalah ibu kandung Ozora berpamitan dengannya. Celina bersyukur sambil mengelus dada. Hari ini masih bisa menghindar dari laki-laki itu.


Sampai kapan aku siap menemuinya ? meski telah bertekad untuk lebih kuat menghadapinya, tetap saja saat melihat wajahnya, tubuhku membeku ? oh... bagaimana ini ? bagaimana ini ? jerit hati Celina.


Sepeninggalan Ozora, Celina lebih banyak melamun. Gadis itu tidak terlalu sering menyapa pelanggan. Hanya menyambut jika ada yang memerlukan bantuannya.


Ponsel Celina bergetar, terlihat nama Kevin dilayar ponsel. Celina langsung menerima panggilan telepon itu.


"Apa mereka sudah berangkat ? " tanya Kevin langsung setelah mendengar Celina menyapanya.


"Sudah, setengah jam yang lalu" jawab Celina lemas.


"Apa... Kamu bertemu dengan keluarga itu ? Raffa dan keluarganya ?" tanya Kevin ragu-ragu.


"Aku melihatnya tapi tidak bertemu langsung dengannya, setelah bicara sebentar dengan bu Widya. Tuan Raffa langsung membawa mereka pergi" jelas Celina.


Thank God, mereka belum bertemu, batin Kevin.


Wajahnya berseri-seri, tersenyum-senyum sendiri hingga tak sadar Celina yang memanggil dari seberang sana. Laki-laki itu buru-buru mengakhiri pembicaraannya.


"Ada apa kakak nelpon ?" tanya Celina hingga berkali-kali.


"Nggak apa-apa, nggak apa-apa, see you at home" ucap Kevin mengakhiri panggilan teleponnya dengan sebuah bunyi kecupan.


Celina merasa heran atas sikap Kevin, lalu tertawa sendiri. Sejenak melupakan kekhawatirannya pada Ozora.


Ozora turun dari mobil yang membawanya ke bandara. Memandang sekeliling area bandara yang ramai orang berlalu lalang. Raffa mengajak Ozora menemui orang-orang yang berkumpul disana.


Terlihat seorang wanita yang seusia dengan Oma Widyanya namun berbeda gaya, wanita didepannya itu terlihat sangat fashionable dan angkuh, berbeda dengan Oma Widya yang sederhana dan ramah.


Nyonya Jessica yang telah sekilas dikenalnya, beserta tuan yang terlihat mirip dengan tuan Raffa namun dalam versi yang lebih tua.


Ozora menyapa mereka dengan sopan, menampilkan senyumnya yang manis membuat Ny. Rowenna yang tak mudah menyukai anak-anak merasa terganggu. Tatapan lembut Ozora terhadapnya justru membuatnya merasakan sesuatu aneh.


Apa yang dilakukannya ? ingin mencoba menguasaiku ? anak ini, senyumnya seperti kukenal ? tatapannya seperti terasa akrab, siapa dia ? batin Ny. Rowenna yang akhirnya mengelak dari tatapan mata Ozora.


Mereka berjalan menuju gate yang telah ditentukan. Saat Ozora melewati pintu metal detector sinyal tanda ditemukan barang metal pun berbunyi. Petugas bandara menghampiri, dan mulai memeriksa seluruh tubuh Ozora.


Petugas bandara menemukan perhiasan berbahan metal berupa kalung hati Ozora. Petugas meletakkannya di sebuah keranjang kecil dan menyuruh Ozora mengulang melewati pintu metal detector itu. Sinyal ditemukannya logam tak lagi berbunyi.


Jessica merasa kesal dengan kejadian itu, peristiwa seperti itu sangat memalukan baginya. Begitu juga dengan Ny. Rowenna, apa yang terjadi pada Ozora membuat dirinya merasa jadi bahan tontonan.


Namun beda halnya dengan Raffa, laki-laki itu memberikan pengertian pada Ozora bahwa dilarang mengenakan apapun yang berbahan logan saat melewati pintu pemeriksaan bandara itu.


Ozora mengangguk tanda mengerti dan meminta maaf pada Raffa. Laki-laki itu tersenyum dan menawarkan diri untuk menyimpan kalung Ozora. Anak cerdas itu mengangguk tanda setuju. Merekapun dipersilahkan melanjutkan perjalanan menuju boarding room.

__ADS_1


Tangan Raffa yang menggenggam erat kedua anak itu. Membuat Jessica merasa kesal dengan sikapnya. Perhatian Raffa hanya dicurahkannya pada kedua anak kecil itu tanpa mempedulikannya.


Bahkan saat memesan kamar hotel, Raffa memilih sekamar dengan Ozora. Hal itu bukan pertama kalinya terjadi setiap kali mereka menginap di hotel, villa atau Resort, Raffa tak pernah memberikan kesempatan Jessica untuk bisa berada diruangan yang sama dengannya.


Ny. Rowenna tidak bisa memaksa Raffa untuk hal yang satu itu. Meski sering wanita setengah abad itu memancing ingin mendapatkan seorang cucu laki-laki, hal itu tidak merubah pendirian Raffa untuk tidak menyentuh Jessica lagi.


Terikat pernikahan dengan Jessica sudah merupakan pengorbanan yang besar yang bisa dilakukannya sebagai seorang anak yang berbakti pada keluarganya. Terlebih gadis itu sudah menyatakan penyesalannya memilih Raffa sebagai kekasihnya.


Setiba dikamar masing-masing mereka beristirahat. Tiga kamar yang terkoneksi dengan sebuah ruang tengah dengan interior mewah itu menjadi tempat mereka berkumpul nanti.


Raffa membantu Ozora menata pakaiannya di lemari, meski Ozora menolak untuk dibantu tapi Raffa tetap melakukannya. Mereka menata pakaian-pakaian itu sambil berbincang-bincang.


"Kenapa tuan bersama saya ? bukankah harusnya bersama nyonya Jessica ?" tanya Ozora.


"Kami memang tidak pernah sekamar" ucap Raffa singkat.


Ozora bertanya seperti itu karena saat memilih kamar Jessica terlihat kesal menatap kearahnya. Jessica merasa iri pada Ozora yang bisa dengan cepat menguasai hati Raffa, sementara anak itu hanyalah seseorang yang baru dikenal keluarga itu.


"Jangan panggil aku dengan sebutan tuan, kamu bukanlah bawahanku, kamu bukan orang yang ingin kuanggap bawahan" ucap Raffa.


"Lalu saya harus panggil apa tuan ?" tanya Ozora langsung tertunduk karena masih memanggil dengan sebutan itu.


"Bagaimana kalau sama seperti Tita, panggil saja aku daddy ?" ucap Raffa.


"Saya lebih senang kalau diizinkan memanggil papa" ucap Ozora sambil tersenyum..


Raffa tertawa.


"Baiklah kamu boleh memanggilku sesuai keinginanmu. Sekarang istirahatlah, pestanya diadakan nanti malam, jangan sampai kamu kelelahan" ucapan Raffa sambil mengucek rambut Ozora, anak laki-laki itu tertawa.


Ozora naik keatas ranjang, meski dia merebahkan diri namun matanya tak terpejam. Anak lima tahun itu justru memperhatikan Raffa yang duduk di balkon sambil menunduk.


Tuan Raffa terlihat sedih, didepan semua orang dia bersikap biasa tapi saat sendiri tuan Raffa terlihat begitu, murung, batin Ozora.


"Maaf tuan, eh... papa, saya ingin istirahat tapi saya ingat janji saya pada mama untuk menelponnya" ucap Ozora tiba-tiba berdiri disamping Raffa.


"Halo, saya Raffa Saltano, yang membawa putra ibu, maaf kami baru bisa menghubungi sekarang.


Ozora sangat ingin bicara dengan ibu, saya akan berikan ponsel ini padanya" ucap Raffa setelah telepon itu tersambung.


Diseberang sana Celina menahan mulutnya agar tidak mengeluarkan suara isak tangisnya. Gadis itu merasa tidak percaya kalau saat ini sedang bicara dengan ayah kandung dari anaknya.


"Halo... halo... apa sudah terputus ?" ucap Raffa sambil mengamati ponselnya yang masih tersambung, namun laki-laki itu tidak mendengar apapun.


"Halo, apa ada gangguan ? kalau begitu saya akan coba menghubungi lagi " ucap Raffa hendak mengulang panggilan.


"Tidak usah, tidak ada gangguan, maafkan saya" ucap Celina buru-buru dengan suara serak.


Raffa tercenung, suara itu mengingatkannya pada Celina.


Apa aku sudah gila ? merindukannya hingga suara orang lain pun terdengar seperti suaranya ? suara seraknya ? ya ampun aku sudah benar-benar gila, batin Raffa.


"Baiklah kalau begitu saya berikan ponselnya pada Ozora" ucap laki-laki itu sambil melangkah mendekati Ozora.


"Sepertinya ibumu sedang bersedih, mungkin rindu sama kamu, hiburlah dia" ucap Raffa sambil menyerahkan ponsel pada Ozora lalu kembali duduk di balkon.


"Terima kasih Papa" ucap Ozora, Raffa tersenyum.


Papa ? apa maksudnya Ozora memanggilnya papa ? jerit hati Celina.


Ozora mulai menelpon ibunya, mendengar suara anaknya Celina makin terisak.


"Apa kamu baik-baik saja sayang ? mereka baik padamu ?" tanya Celina sambil menghapus air matanya yang mengalir.


"Baik ma, Ozora baik-baik saja, mereka juga baik pada Ozora" jawab Ozora.


Ozora mencoba menenangkan perasaan ibunya, meski hingga detik ini Ozora masih belum bisa menaklukkan hati Ny. Rowenna. Tatapan mata Ny. Rowenna masih belum bisa menerima Ozora, penuh selidik dan merendahkan.


Tapi anak itu mencoba untuk bersikap wajar dan selalu berlaku sopan sama seperti dia menghadapi pengunjung toko yang sedikit sombong.

__ADS_1


Acara pesta ulang tahun pernikahan tuan dan nyonya Saltano akan segera dimulai, Ozora berjalan sambil berpegangan tangan dengan Raffa. Berjalan melewati lorong hotel mewah bintang lima menuju ballroom.


Raffa memperhatikan kerapian dirinya di cermin dalam lift, begitu juga dengan kerapian Ozora yang kali ini juga ikut mengenakan jas hitam. Raffa mengambil pocket square dari saku jas Ozora. Melipat sapu tangan jas itu dengan rapi, menatap sulaman yang tertera disana.


"Ini inisial mu ? apa ibumu yang membuatnya ?" ucap Raffa memperlihatkan sulaman di sudut sapu tangan itu.


Tertulis inisial OS disana, Ozora ikut melihat dan mengangguk kepala.


"Ya pa, itu mama yang bikin saat pesta ulang tahun Ozora yang kelima" jawab Ozora.


"Kalau begitu apa arti inisal ini Ozora apa?" tanya Raffa.


Ozora mengangkat bahu.


"Mama tidak pernah cerita" ucap Ozora singkat.


"Ya sudahlah, sekarang papa pasangkan disini ya" ucap Raffa sambil meletakkan dengan rapi sapu tangan jas itu disaku jas Ozora.


Mereka berjalan menuju ballroom yang telah di penuhi oleh tamu-tamu undangan. Ozora dan Raffa duduk berdampingan, disebelah kanan Raffa telah duduk putri kecilnya. Jessica memandang dengan kesal melihat situasi itu.


Ozora terlihat seperti permen karet yang menempel pada Raffa. Itulah yang ada dalam pikiran Jessica. Pesta megah itu mengundang seluruh kerabat, sahabat, dan orang-orang terdekat serta orang-orang dengan kedudukan penting di perusahaan.


Seseorang dari perusahaan bertugas untuk memimpin jalannya acara, mulai memperkenalkan anggota keluarga atau sahabat yang ingin memberikan kata sambutan atau ucapan selamat secara resmi kepada tuan dan nyonya Saltano.


Pesta perayaan yang tidak hanya diisi oleh pidato itu disusun secara fleksibel dan tidak terlalu ketat menghadirkan aktivitas lain yang menyenangkan dan tak kalah bermaknanya membuat tuan dan nyonya Saltano terlihat sangat bahagia.


Setelah diisi dengan serangkaian acara, tiba saatnya untuk menyantap hidangan makan malam. Seluruh keluarga Saltano duduk di satu meja bundar besar. Tita yang sekarang duduk disamping Ozora terlihat bahagia berbincang-bincang.


Ny. Rowenna tak lepas memandangi Ozora, berpikir apa yang membuat anak itu terlihat menarik dalam setiap perbincangannya.


"Ozora, Tita ayo bersiap-siap untuk makan malam" ucap Raffa.


"Baik Pa" jawab Ozora.


"Pa ? apa aku tidak salah dengar, anak itu memanggil mu papa ?" tanya Ny. Rowenna.


"Ya, saya yang memintanya, tidak enak rasanya anak sekecil itu memanggilku tuan" jelas Raffa santai.


"Papa" teriak Tita ikut-ikutan memanggil Raffa dengan panggilan itu.


"Tita, jangan ikut memanggil seperti itu, itu untuk membedakan antara anak kandung dengan anak orang lain" ucap Jessica sewot.


Raffa memandang dengan tatapan tajam, Jessica tau maksud pandangan itu tapi dia tidak peduli. Tatapan yang menunjukkan kalau ucapan Jessica adalah bohong. Dan Jessica tau kalau Raffa tidak mengungkapkan kebenaran itu hingga dia seenaknya mengeluarkan kata-kata seperti itu.


Hidangan mulai disiapkan, Ozora sekilas mengibaskan serbet sebanyak tiga kali kesamping kanan lalu meletakkan dipangkuannya. Terlihat biasa saja namun itu membuat Ny. Rowenna yang duduk dihadapan Ozora merasa terkejut.


Bukan karena itu adalah perbuatan yang aneh tapi itu adalah kebiasaan yang juga dilakukan Raffa. Rowenna terpaku, lalu berusaha untuk mengabaikan perasaannya, menganggap itu hanyalah kebetulan.


Namun sejak itu, tanpa disadarinya selalu memperhatikan tingkah laku Ozora. Hingga suatu saat matanya terbelalak saat melihat Ozora mengusap bibir gelas setiap kali dia ingin meminum air digelas itu. Kebiasaan yang hanya pernah dilihatnya pada diri Raffa.


"Ada apa sayang, kamu baik-baik saja ?" tanya tuan Robby Saltano menanyakan keadaan istrinya yang terlihat kebingungan.


"Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa, silahkan dilanjutkan makanmu suamiku" ucap Ny. Rowenna.


Siapa anak itu, kenapa begitu mirip dengan Raffa, semakin dilihat gerak geriknya, kebiasaan dan tingkah lakunya mirip dengan anakku, apalagi senyumannya itu, seperti cermin yang memantulkan bayangannya, senyum Raffa persis dengan senyum anak itu, jerit hati Ny. Rowenna buru-buru meminum air putih dihadapannya.


Ny. Rowenna berusaha menenangkan pikirannya setelah melihat Raffa dan Ozora saling tersenyum dihadapannya. Acara makan malam itu berlalu dengan pikiran yang tak menentu bagi Ny. Rowenna. Hingga akhirnya mereka kembali ke kamar masing-masing.


Sepanjang malam Ny. Rowenna tak bisa memejamkan matanya. Selalu teringat akan tingkah laku Ozora yang terlihat sangat mirip dengan Raffa. Cara bicara, berjalan, cara menatap, tersenyum.


Siapa dia sebenarnya ? benarkah hanya kebetulan ? hal-hal yang tak biasa dilakukan orang, justru dilakukan oleh kedua orang itu. Siapa ibunya ? kenapa aku tidak pernah menanyakan ? apa dia anak dari salah satu wanita yang di pacari Raffa ? ah.. membingungkan ? batin Rowenna


Turun dari ranjangnya dan berjalan mondar-mandir.


Aku harus tau siapa ibu dari anak itu ? kalau perlu saya harus menyelidikinya, apakah ada hubungannya dengan Raffa, jerit hati Rowenna.


Nyonya kaya itu bertekad untuk mengetahui siapa sebenarnya Ozora.


...~ Bersambung ~~...

__ADS_1


__ADS_2