Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 27 ~ Telah Hilang ~


__ADS_3

Namanya Celina, dan Raffa telah menemukannya kembali


Pengakuan Raffa tentang kejadian masa lalu mereka membuat Kevin tercenung. Meski siap mendengar semua itu namun tetap saja membuat dadanya terasa perih. Ingin rasanya membuat wajah tampan dihadapannya itu babak belur hingga tak bisa dikenali.


Tapi tidak, mereka bukan anak SMA lagi yang harus bertarung karena seorang gadis. Bukan masanya membalas kemarahan dengan menggunakan kekerasan fisik, menyerang hatinya justru pembalasan yang lebih sempurna.


Aku akan membalas mereka, batin Kevin.


"Kamu telah bertemu dengannya ?" tanya Kevin lagi.


"Setelah sekian lama akhirnya kami bertemu lagi. Karena itu, aku ingin segera mengakhiri pernikahanku dengan Jessica. Yang harusnya kulakukan dari dulu, namun gagal karena dia selalu mengancam akan membunuh diri bersama anaknya" jelas Raffa.


"Anaknya ? kamu berkata seolah-olah Tita itu bukan anakmu" ucap Kevin.


"Tita memang bukan anakku" jawab Raffa singkat.


"Apa ? Tita bukan anakmu ? apa orang tuamu tau ?" tanya Kevin.


Raffa hanya menggeleng.


"Aku rasa tidak, mommy tidak akan membiarkan mereka tetap berada dirumah ini jika tau Tita bukan cucu kandung mereka.


Aku juga tidak bisa memberitahu Tita, anak itu sangat dekat denganku, aku tidak mau menjadi orang yang menghancurkan hatinya.


Sejak dulu Jessica tidak pernah peduli pada Tita, dia hanya ingin memanfaatkan anak itu untuk menguasai ibuku" jawab Raffa.


"Kalian benar-benar keluarga yang rumit" ucap Kevin pelan.


Raffa hanya tersenyum, sambil memandang jauh kedepan.


"Dalam waktu dekat aku akan mencari cara agar bisa menikahi Celina" ucapnya langsung tertunduk.


Jangan harap, Celina adalah milikku, kali ini kamu harus mengalah dariku, batin Kevin.


"Kamu bilang akan segera menikah ? benarkah ? kapan kamu akan memperkenalkan dia padaku ?" tanya Raffa bertubi-tubi.


"Secepatnya aku akan mengatur pertemuan kita" ucap Kevin.


"Wow, kita harus buat acara yang spesial untuk merayakannya" ucap Raffa bersemangat.


"Tentu" jawab Kevin singkat.


Semua hal yang ingin diketahui Kevin telah diperolehnya. Kevin pulang dari kediaman Saltano dengan perasaan yang bercampur aduk, kesal, marah, benci dan sedih. Memang benar, Raffa adalah pemerkosa Celina dan laki-laki itu adalah ayah kandung dari Ozora.


Raffa membiarkan Celina hidup sendiri menanggung kehamilannya dan menikahi Jessica dengan alasan ingin melindungi Celina. Kevin tersenyum kecut mendengar alasan itu, membiarkan Celina seorang diri hingga takdir membuatnya dekat dengan Alyssa dan akhirnya membuat Kevin jatuh cinta padanya.


Hal yang membuat hati Kevin terasa pedih adalah Celina yang menyembunyikan hubungannya dengan Raffa. Padahal gadis itu tau keluarga mereka dan keluarga Raffa telah lama berteman.


Gadis itu bahkan membuang begitu saja cincin tanda pertunangan mereka. Menaruhnya disembarang tempat seakan-akan tidak ada artinya sama sekali. Dada Kevin terasa sesak, laki-laki itu berusaha menenangkan dirinya. Namun justru berkali-kali memukul stir mobil Alyssa, hingga letih, bersandar di dalam mobil yang telah lama masuk ke dalam garasi itu.


"Kakak kenapa nggak beli mobil sendiri sih ? biar bisa nebeng Celina terus ya" sapa Alyssa sambil menangkap kunci mobil yang dilempar Kevin.


Kevin tidak menanggapi ucapan Alyssa, laki-laki itu langsung rebah di sofa.


"Hidup menderita demi cinta, nggak punya kamar nggak punya mobil" ledek Alyssa.


Kevin diam saja, Alyssa merasa heran, biasanya laki-laki itu akan langsung membalas ledekannya. Tapi sekarang Kevin seperti tidak bernafsu bicara. Sikap Kevin berubah beberapa hari ini, begitu juga dengan Celina, itulah yang dirasakan Alyssa.


"Ada apa kak ? ada masalah ?" tanya Alyssa penasaran.


Melihat wajah Kevin yang terlihat murung.


"Bertengkar dengan Celina ?" tanya Alyssa lagi.


"Kamu tau siapa ayah kandung Ozora ?" tanya Kevin tiba-tiba.


"Celina pernah bilang kalau dia itu tamu di Club malam tempat dia bekerja dulu" jawab Alyssa.


"Kamu tidak tanya siapa namanya ?" tanya Kevin sambil memandang langit-langit.


"Percuma aku tanyakan, mana mungkin aku kenal dengan laki-laki yang terbiasa ke club malam" ucap Alyssa.


Celina membohongi kami, dia tau persis hubungan kami dengan keluarga Saltano, tapi dia sengaja menyembunyikannya, batin Kevin sambil memejamkan mata.

__ADS_1


"Kenapa kakak tanyakan itu ? apa kakak kenal siapa orangnya ?" tanya Alyssa.


Kevin kembali diam, Alyssa juga ikut diam. Terdengar suara mobil Celina memasuki garasi. Hari Sabtu dan Minggu Kevin dan Alyssa tidak bekerja, sementara Celina tetap bekerja karena toko buku dibuka setiap hari, para pekerja disana diatur dengan pembagian shift.


Ozora langsung berlari menemui uncle dan auntie nya. Menghamburkan diri pada Alyssa yang langsung menghujaninya dengan ciuman di seluruh wajah Ozora, anak itu tertawa geli.


"Sabtu Minggu nggak usah ke toko sih, dirumah aja" ucap Alyssa pada anak itu.


"Nggak ah masuk toko aja soalnya banyak teman kalau Sabtu Minggu" jawab Ozora menolak permintaan Alyssa.


"Siapa yang datang ke toko ?" tanya Alyssa.


"Tita dan dad.." ucap Ozora terputus, langsung menatap kearah Kevin kemudian menunduk.


Kevin tidak merespon apapun, laki-laki itu telah tau kalau Tita dan ayahnya datang ke toko buku. Dapat dipastikan Ozora bertemu dengan mereka bahkan juga dengan Celina. Celina masuk dan langsung duduk bersama Alyssa dan Ozora di karpet.


Beristirahat sebentar berkumpul dengan kedua kakak adik itu. Celina melirik Kevin yang menutupi wajahnya dengan lengannya. Celina merasa bersalah setiap kali memandang Kevin.


Harusnya kakak membiarkan aku pergi, harusnya kakak tidak memaafkanku dan tidak mengizinkan aku berteman dengan Alyssa, batin Celina sedih saat menatap laki-laki itu.


Teringat saat Kevin mengetahui kehamilannya, laki-laki itu menyuruhnya pergi dari kehidupan Alyssa.


Mungkin keadaan tidak akan seperti ini jika saat itu aku benar-benar pergi dari kehidupan mereka, maafkan aku kak, batin Celina.


Mata Celina berkaca-kaca, buru-buru masuk ke kamar menenangkan dirinya. Hari ini Celina kembali bertemu dengan Raffa. Celina tak mampu menghindar dari laki-laki itu, karena hatinya ingin selalu berada dekat dengannya.


Meski selalu berkata ingin menjauhi Raffa namun saat laki-laki itu mendekatinya, Celina tidak bisa mengelak dari hantaman bibir laki-laki itu. Celina merasa menjadi seorang wanita simpanan. Gadis itu menitikkan air mata setiap kali mengingat itu.


Maafkan aku kak Kevin, jerit hati Celina, setiap kali menerima ciuman dari Raffa.


Menu makan malam mereka hari ini adalah fettucinne carbonara ala Alyssa. Setiap weekend gadis itu yang bertugas menyiapkan makanan untuk mereka. Meski Celina menawarkan diri untuk membantu tapi gadis itu selalu melarang, karena sudah menjadi keputusannya sendiri untuk bertanggung jawab terhadap makanan mereka setiap hari Sabtu dan Minggu.


Celina duduk disamping Kevin, gadis itu belum bicara sama sekali dengan laki-laki itu sejak pulang kerja tadi. Ada perasaan bersalah setiap kali menemui Kevin setelah sebelumnya bertemu dengan Raffa.


Celina melirik Kevin yang fokus dengan tontonannya. Celina serba salah, ingin membantu Alyssa menyiapkan makan malam tapi gadis itu tidak bersedia dibantu. Masuk ke kamar, tidak tau apa yang harus dilakukannya disana. Duduk disamping Kevin, laki-laki itu tak peduli terhadapnya.


Bolak-balik memandang antara dapur dan televisi. Celina memutuskan untuk keluar tapi Kevin menahan tangannya, hingga gadis itu kembali terduduk. Bukan maksud Kevin mengabaikan gadis itu, tapi perasaannya yang masih tak menentu, dendam, benci, marah ingin dilampiaskannya tapi dia sendiri merasa tidak tega.


Akhirnya makan malam telah siap, Alyssa memanggil semua menikmati makanan buatannya. Alyssa mencampur semua makanan dalam kemasan yang tersedia dikulkas. Jadilah menu makan malam hari ini, Ozora bertepuk tangan, senang karena bahan makanan kesukaannya bercampur menjadi satu dalam hidangan ala Alyssa.


"Dimana cincin mu?" tanya Kevin sambil melihat ke jari Celina.


Gadis itu kaget langsung melihat ke jarinya, langsung panik, bingung karena dia sendiri juga lupa kenapa tidak memakai cincin itu. Namun Celina berusaha bersikap tenang.


Dimana aku menaruhnya ? kapan aku membukanya ? ya ampun kenapa bisa hilang ? batin Celina.


"Aku simpan dikamar" ucap gadis itu akhirnya.


Maafkan aku kak, aku berbohong, aku akan mencarinya nanti, batin Celina.


"Kenapa dilepas Cel, itu kan cincin pertunangan kalian, cincinmu itu bukan cincin biasa, itu menandakan kamu sudah ada yang punya, kamu copot artinya kamu nggak ingin orang lain menilai kamu sudah ada yang memiliki" ucap Alyssa.


Terdengar santai namun mengena di hati Kevin, Celina ingin dinilai sebagai gadis yang belum bertunangan.


Celina tidak ingin Raffa mengetahui kalau dia telah bertunangan, bisik hati Kevin.


"Bukan begitu Al, kak, aku... aku cuma.. cuma eh.. "ucap Celina bingung.


"Kalau tidak suka modelnya, kita bisa mengganti sesuai dengan keinginanmu" ucap Kevin berusaha tenang.


Ozora hanya bisa memandang ibunya yang kebingungan.


"Bukan kak, aku suka cincin itu, aku akan memakainya nanti" ucap Celina pelan sambil mengingat-ingat dimana dia menaruhnya.


Kevin menatap Celina, gadis itu menunduk tak sanggup membalas tatapan itu. Celina benar-benar merasa bersalah, gadis itu baru menyadari sikap diam Kevin hari ini. Gadis itu bertekad akan mencarinya, begitu makan malam selesai gadis itu langsung masuk ke kamar membongkar semua laci di kamarnya.


"Mama belum mengambilnya dari laci dashboard ?" tanya Ozora.


Mata Celina terbelalak, baru teringat dia melepas cincin itu waktu akan keluar dari parkiran bandara. Celina menepuk pipi Ozora menunjukkan rasa terima kasihnya, lalu segera menuju garasi. Kevin hanya memandang gadis itu yang berjalan tergesa menuju garasi.


Terdengar alarm pintu mobil dibuka, Celina duduk di kemudi menghidupkan lampu kabin, lalu mulai mengacak-acak laci dashboard. Celina panik karena masih belum menemukan cincin itu. Berulang-ulang meraba-raba laci itu namun tetap tidak menemukannya.


Apa mungkin hilang saat tune up ? kapan jadwal perawatan mobil ini ? apa mereka berani mengambil barang-barang yang ada di dalam sini ? oh tidak, aku baru saja menuduh orang mencuri, batin Celina sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Gadis itu tertunduk letih, air matanya mengalir.


Cincin itu telah hilang, apa yang harus kulakukan ?


Aku telah lalai menjaga pemberiannya, kakak pasti akan marah.


Dia pasti menganggapku tidak menghargai pertunangan ini, jerit hati Celina.


Gadis itu menangis terisak sendiri, tak berani kembali kedalam rumah.


Maaf kak, aku telah menghilangkannya, aku tidak bisa menemukannya, tolong jangan marah padaku, tangis Celina dalam hati.


Menelungkupkan wajahnya pada stir, menangis seorang diri. Tak lama kemudian terdengar ketukan di kaca mobil, terlihat Ozora berdiri menunggu, Celina buru-buru menghapus air matanya, lalu membuka pintu mobil.


"Udah ketemu ma ?" tanya Ozora, dibalas anggukan oleh Celina.


Celina mematikan lampu kabin mobil lalu menutup pintu dan menekan remote kunci mobil. Lalu menggendong putranya masuk kedalam rumah.


Apa yang harus kulakukan, mengakui aku telah menghilangkannya ? batin Celina sambil menggendong Ozora.


Celina masuk kedalam rumah melewati ruang tengah dimana Kevin sedang mengamati layar ponselnya. Celina langsung membawa Ozora ke kamar, rasanya gadis itu tidak ingin keluar kamar itu selama-lamanya. Sangat takut berhadapan dengan Kevin. Tiba-tiba terpikirkan olehnya untuk membeli cincin baru yang persis sama seperti yang telah hilang.


Apakah itu lebih baik ? aku seperti menipunya ? tapi aku tidak sanggup menghadapi kemarahannya, jerit hati Celina.


Terdengar ketukan pintu, Celina terkejut, jantungnya langsung berdebar kencang.


"Celina, boleh aku ke kamar ?" tanya Kevin.


Gadis itu langsung membuka pintu dan mengajak Ozora untuk keluar, namun Kevin menahan tangan Celina.


"Disini saja, aku cuma sebentar" ucapnya sambil tersenyum.


Senyuman itu sangat manis tapi terasa menakutkan bagi Celina saat ini. Kevin berjalan menuju lemari pakaiannya, Celina menunggu.


"Ozora tidur ya sayang, udah malam nak" ucap Celina ingin menghilangkan suasana canggung di kamar itu.


Ozora patuh, berbaring di ranjang lalu memejamkan matanya. Celina menyelimuti anak itu lalu mengecup pipinya. Kevin memandang mereka sambil tersenyum.


"Udah mau tidur ya ?" ucapnya sambil mengecup kening Ozora.


Celina buru-buru menghapus air matanya, kasih sayang Kevin terhadap Ozora selalu bisa membuat hatinya tersentuh. Kevin berdiri dihadapannya, Celina menunduk. Kevin meraih tangan gadis itu lalu mengajaknya keluar kamar.


Aku benci kamu membohongiku, aku marah kamu tidak menghargaiku, tapi aku tidak bisa lama-lama jauh darimu, batin Kevin menatap gadis itu.


Mematikan lampu ruang tengah lalu menarik Celina kedalam pelukannya lalu membaringkan gadis itu diatas sofa.


"Temani aku disini" bisik Kevin.


Lalu ******* bibir gadis itu, Celina pasrah. Tak berani menolak sedikitpun. Tanpa disadari Kevin, air mata Celina mengalir disela-sela rambutnya menembus hingga ke sofa.


Celina membiarkan laki-laki itu memeluknya erat, semakin erat. Nafas mereka terasa sesak, namun itu tidak menghentikan Kevin memainkan lidahnya, menari-nari mengejar manis lembutnya lidah Celina.


Semakin dalam semakin ketat, lalu perlahan melemah hingga menyisakan tarikan lembut dibibir gadis itu. Kevin mengecup kening Celina, lalu memejamkan mata, tidur sambil memeluk gadis itu.


Keesokan paginya, Celina terbangun dengan posisi Kevin yang masih memeluknya, mereka tertidur disofa. Celina mencoba untuk bangun tapi Kevin menariknya kembali kedalam pelukannya.


"Tunggu sebentar lagi" bisik Kevin masih dengan mata terpejam.


Celina rebah didada laki-laki itu, Kevin tersenyum, kedua tangannya melingkar ditubuh gadis itu. Menunggu beberapa saat, lalu mencoba bangun kembali. Kevin membuka mata, langsung menatap Celina yang bertumpu di dadanya sambil memandang kearahnya.


Kevin merapikan helaian rambut yang menutupi mata Celina.


"Aku mencintaimu" ucap Kevin.


Celina, menunduk menatap dada Kevin, lalu memainkan kancing baju laki-laki itu. Gadis itu bingung ingin mengungkapkan kehilangan cincinnya atau akan menutupinya. Namun melihat situasi, akhirnya Celina memutuskan untuk menyimpan pengakuannya. Gadis itu tidak ingin merusak suasana saat ini.


Celina dan Ozora berangkat ke toko, menjalani kegiatan seperti biasa. Hari Minggu biasanya pengunjung lebih ramai, karena anak-anak yang libur sekolah mengajak orang tua yang libur bekerja untuk mencari barang-barang yang sifatnya mengedukasi anak-anak.


Itu juga yang dilakukan Tita, gadis kecil yang selalu ingin bermain bersama Ozora itu tak sabar menarik tangan ayahnya untuk segera memasuki toko, semua itu tak luput dari pandangan Kevin yang telah sejak tadi diam berdiri disudut lantai tiga mengamati Celina.


Tita langsung disambut Ozora, mengajak gadis kecil itu mencoba permainan edukatif baru. Sementara Raffa naik kelantai tiga, menemui Celina lalu menarik tangan gadis itu. Celina mencoba bertahan, melihat ke sekeliling ruangan, merasa takut ada yang melihat mereka.


Namun Raffa tetap menggodanya bahkan ingin memaksa memeluk gadis itu ditempat terbuka itu jika Celina tak mau mengikutinya. Celina pasrah laki-laki itu menarik tangannya, berjalan kebalik rak buku disudut ruangan lantai tiga.

__ADS_1


Kevin menatap semua itu dengan tatapan nanar, pedih dan sesak.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2