
Keira memandang wajah suaminya yang masih tertidur. Perlahan mendekat ke wajah yang selalu dirindukannya selama ini. Sambil tersenyum Keira, menatap setiap lekuk wajah tampan suaminya.
Memperhatikan setiap detail wajah itu hingga tanpa disadarinya tangan kekar Kevin telah menangkap dan mendekapnya erat, meski matanya masih terpejam.
"Ayo mandi, kita sarapan dulu. Aku sudah lapar" ajak Keira.
"Kamu udah mandi ya, mmm...wangi sekali" ucap Kevin menciumi aroma shampoo gadis itu.
"Udah dong, ayo cepat mandi, abis sarapan kita jalan-jalan ya" ajak Keira.
Kevin duduk dengan malasnya, matanya masih terlihat mengantuk.
"Nanti siang saja ya sayang, sekarang sarapannya pakai layanan kamar saja ya. Aku masih ngantuk berat" mohon Kevin.
"Baiklah, aku pesankan sarapan untukmu tapi aku sarapan di restoran hotel ya" usul Keira.
"Jangan sarapan sendirian nanti kamu diganggu orang" ucap Kevin dengan mata yang masih terpejam.
"Selama ini aku kemana-mana juga sendiri, kenapa sekarang begitu takut. Udah nggak apa-apa nanti makan siangnya baru barengan ok !!!" ucap Keira, langsung memesan sarapan untuk suaminya.
Setelah layanan kamar yang membawakan sarapan untuk suaminya datang. Keira bersiap-siap pergi, gadis itu mengecup pipi suaminya sekilas lalu beranjak keluar kamar. Berjalan menuju restoran hotel untuk memperoleh sarapannya.
Bermacam-macam hidangan tersedia disana, kali ini Keira memilih croissant sandwich untuk menu sarapannya. Saat melihat croissant puding cokelat Keira langsung ingin mencomotnya, namun tak disangka seseorang wanita juga menginginkannya.
Keira batal mengambil dan beralih ke matcha baklava almond cashew namun ternyata wanita itu juga reflek beralih ke baklava yang sama. Mereka tertegun lalu saling memandang, reflek mereka tertawa bersama.
"Ternyata selera kita sama" ucap wanita itu.
"Silakan" ucap Keira mempersilakan wanita itu mengambil dessert yang tadi mereka perebutkan.
"Tidak, silakan kamu pilih duluan" ucapnya lagi.
Keira akhirnya memilih croissant puding coklat dan wanita itu memilih baklava almond cashew. Mereka tersenyum bersama. Wanita itu mengajak Keira sarapan di meja yang sama.
"Gabriella" ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
"Keira" balas Keira menjabat tangan Gabriella.
"Kenapa mereka tidak menyediakan menu dessert kesukaan kita lebih banyak lagi, jadi kita tidak perlu rebutan seperti tadi" ucap Gabriella sambil tertawa.
"Mungkin tadinya tersedia banyak, tapi karena banyak yang suka jadi cepat habis. Ini salah kita, karena kita yang datangnya terlambat" bela Keira.
"Iya juga ya ? aku terlalu mudah menyalahkan orang lain" ucap Gabriella.
Mereka tertawa bersama dan memutuskan untuk sarapan di meja yang sama sambil berbincang seru. Mereka langsung akrab, menceritakan pengalaman-pengalaman menarik dalam hidup mereka.
"Aku bercerai belum lama ini" ucap Gabriella dengan wajah sedih.
Akhirnya mereka sampai pada pembicaraan yang lebih serius dan bersifat pribadi.
"Oh, maaf, aku tidak menyangka, kamu tidak terlihat seperti seorang yang memiliki masalah, karena kamu terlihat begitu lincah dan ceria" ucap Keira.
"Tidak apa-apa, itu bukanlah salahmu. Bagaimana denganmu ? apa kamu sudah menikah ?" ucap Gabriella.
"Sebenarnya saat ini kami sedang berbulan madu" ucap Keira tersipu.
"Oh manisnya, aku jadi ingat saat berbulan madu. Kami melakukan perjalanan ke Hawaii. Sebuah perjalanan yang indah, jika mengingat semua itu tak pernah terpikir kalau suatu saat kami akan berpisah" ucap Gabriella.
"Kalau boleh aku tahu, apa yang menjadi penyebab kalian bercerai ?" tanya Keira.
"Aku tidak tahu dimana letak kesalahanku. Aku juga tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Aku selalu merasa kehidupan rumah tanggaku baik-baik saja. Hingga akhirnya aku mendapati suamiku berselingkuh dengan sekretarisnya." ucap Gabriella menunduk.
"Tidak ada kemungkinan kalau semua itu cuma salah paham ?" tanya Keira sangat hati-hati.
"Bagaimana mungkin itu sebuah salah paham Keira, jika aku melihat sendiri suamiku, bersama perempuan itu diranjang kami" cerita Gabriella.
"Oh ya ampun, pasti kamu syok sekali melihat kejadian itu" ungkap Keira kaget.
Keira ikut prihatin mendengar cerita Gabriella.
"Anehnya aku justru tenang saja, mungkin karena aku sudah mencium gelagat perselingkuhan suamiku dengan sekretarisnya sejak lama. Yah.. apa yang kulihat saat itu hanya sekedar pembuktiannya saja" jelas Gabriella.
"Bagaimana kamu bisa tabah menjalani semua itu. Apa kalian memiliki anak ?" tanya Keira.
"Untungnya tidak ada satu anakpun dalam pernikahan kami, jadi anak itu tidak harus menderita memiliki orang tua seperti kami" ucap Gabriella sambil tersenyum pahit.
"Aku benar-benar menyesal mendengar semua ini" ucap Keira.
"Terima kasih Keira, sejak aku meninggalkan Amerika dan kembali kesini. Baru kali ini aku terbuka menceritakan masalah keluargaku. Terima kasih sudah mau mendengar curhatku" ucap Gabriella.
"Tidak perlu, aku tidak melakukan apapun. Aku hanya bisa mendengarkan saja" ungkap Keira.
"Itu saat juga sudah cukup, rasanya sedikit lega. Semoga kamu dan suamimu selalu bahagia dan keluarga kalian langgeng selamanya" ucap Gabriella.
"Terima kasih atas do'anya" ucap Keira.
__ADS_1
Setelah acara sarapan mereka selesai, Keira dan Gabriella pun berpisah. Mereka kembali ke kamar masing-masing. Saat sampai dikamar Keira melihat suaminya yang baru selesai sarapan.
"Aku baru saja ingin menyusulmu" ucap Kevin menyeka mulutnya.
"Kalau gitu kita jalan-jalan aja yuk" ucap Keira.
"Ayo, kita jalan-jalan ke pantai lagi, atau kemana ? shopping ?" tanya Kevin.
Keira mengangguk semangat, dalam hatinya dia sangat ingin melihat-lihat souvernir khas daerah itu. Untuk dibawanya sebagai kenang-kenangan berbulan madu.
Mereka mengamati apapun yang menarik, membeli apapun yang mereka inginkan.
"Aku ingin membeli pakaian dengan motif khas daerah sini" ucap Keira.
"Boleh, ayo kita cari sesuatu yang seksi disana" ucap Kevin.
"Apa ? seksi ? kami ingin aku mengenakan pakaian seksi ? Ok, siapa takut" ucap Keira.
Gadis itu memilih beberapa gaun di boutique itu dan mencobanya. Kevin terbelalak melihat pakaian yang dikenakan istrinya. Segera laki-laki itu mendorong istrinya kembali masuk ke fitting room.
Keira kembali mencoba yang lain, laki-laki itu menutup matanya, Keira tertawa.
"Katanya disuruh mencari baju yang seksi tapi kenapa dari tadi kamu nggak ada yang suka" ucap Keira sambil tertawa.
"Mana bisa aku membiarkan kamu memakai gaun seperti itu. Gaunnya terlalu pendek sayang, aku tidak ingin laki-laki lain memandang tubuh indahmu. Daripada memakai baju itu mending kamu nggak pake apa-apa tapi dikamar aja, gimana ?" ucap Kevin.
Keira melempar gaun yang dipegangnya ke wajah Kevin sambil tertawa, lalu beralih ke bagian lain.
"Jadi gimana nih, masa nggak ada satupun yang bisa dibeli disini ?" tanya Keira.
"Coba yang ini, gaun ini warnanya lembut dan tidak terlalu minim. Mungkin karena tubuhmu tinggi hingga gaun-gaun itu terlihat pendek bagimu" ucap Kevin sambil tersenyum.
Keira pun kembali ke fitting room, Kevin sabar menanti. Sementara dia menunggu istrinya mengenakan gaun yang baru dipilihnya laki-laki itu melihat-lihat scraf yang terpajang di dalam etalase.
"Kevin ?"
Kevin menoleh kearah suara yang memanggil namanya.
"Gaby ? kamu disini ?" balas Kevin.
Wanita yang memanggil Kevin itu langsung menghambur kepelukan Kevin. Laki-laki itu terlihat bingung mendapati situasi yang tak terduga itu. Kevin ingin segera melonggarkan pelukan Gaby tapi wanita itu menolak. Dia tetap saja memeluk bahkan pelukannya semakin erat.
"Kamu kenapa ? apa yang terjadi ? Ayo kita bicara disana" ucap Kevin, masih berusaha membuat wanita itu melepaskan pelukannya.
"Biarkan aku seperti ini Kevin, aku merindukanmu. Setelah apa yang kuperbuat padamu, aku menyesal, aku ingin kita kembali seperti dulu" ucap Gaby.
"Ayolah, lepaskan dulu pelukanmu. Disini sangat ramai tidak enak dilihat orang, apalagi sekarang aku sudah memiliki seorang is..."
Ucapan Kevin terputus saat melihat Keira muncul sambil mengenakan gaun yang baru saja dipilih Kevin. Keira diam terpaku, pandangannya nanar menatap suami yang baru dinikahinya berpelukan dengan wanita lain.
"Keira !!!" teriak Kevin.
Keira membalik badan, kembali masuk kedalam fitting room. Kevin mendorong Gaby dengan kuat dan langsung menyusul Keira masuk ke dalam fitting room.
"Dengarkan aku, ini tidak seperti yang kamu duga" ucap Kevin sambil membalikkan tubuh Keira ke hadapannya.
"Aku sudah sering mendengar kata-kata itu" ucap Keira sambil ingin kembali membalik badannya namun Kevin menahan dan tetap membuat gadis itu menghadap kearahnya.
"Tidak, kali ini beda. Kamu harus dengar aku, dia tiba-tiba muncul dan memelukku. Aku membujuknya untuk melepasku tapi dia sepertinya sedang bersedih. Aku hanya ingin dia merasa tenang sebentar. Keira jangan salah paham, dia tak ada artinya lagi bagiku. Hanya kamu satu-satunya wanita yang berharga dalam hidupku" jelas Kevin.
Keira tercenung mendengar ucapan Kevin, matanya yang tadi berkaca-kaca sekarang mengalirkan air matanya.
"Siapa dia ?" tanya Keira.
"Dia, Gaby, mantan pacarku saat di Amerika. Dia tiba-tiba memanggilku dan langsung memelukku. Kalau kamu setuju, aku akan mengenalkanmu padanya" jelas Kevin.
Keira menunduk, terlihat ekspresi bingung diwajahnya.
"Aku ingin dia tahu kalau aku sudah menikah, aku juga ingin mengenalkan istriku padanya, agar dia tahu seperti apa wanita yang telah menguasai hatiku sekarang ini" ucap Kevin sambil mengecup kening Keira.
Gadis itu tersenyum meski ragu-ragu, mendengar ungkapan manis dari suaminya, kepercayaandirinya kembali muncul, sambil tersenyum Keira mengangguk. Kevin langsung menggandeng tangan istrinya dan berjalan keluar dari fitting room sambil mencari keberadaan Gaby.
"Kevin" panggil Gaby.
Kevin dan Keira menoleh, Gaby tersenyum lalu beralih memandang wanita yang digandeng Kevin. Terlihat Keira yang terperangah memandang wanita itu.
"Gabriella ?" ungkap Keira.
"Keira ?" sahut Gabriella
"Jadi Gaby itu adalah kamu ?" tanya Keira.
"Kevin, siapa dia ?" tanya Gabriella
"Dia istriku, aku tidak tahu kalau ternyata kalian sudah saling mengenal ?" tanya Kevin.
__ADS_1
"Tapi bukankah namamu Gabriella ?" tanya Keira.
"Namaku memang Gabriella, Gaby adalah panggilan kesayangan Kevin padaku" ungkap Gabriella sambil tersenyum kecut.
Hatinya terasa pedih saat mendapati kenyataan bahwa Kevin telah menikah.
"Kalian sedang berbulan madu ? aku sungguh tidak menyangka kalau yang kami bicarakan tadi adalah bulan madumu Kevin" ucap Gabriella.
"Kami bertemu saat sarapan tadi" jelas Keira pada Kevin.
Kevin mengangguk mengerti.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu ya" ucap Gabriella sambil menghembuskan nafas berat.
Gabriella meminta diri dan berlalu dari hadapan Kevin dan Keira. Suami istri itu menatap Gabriella yang berjalan pelan sambil menunduk. Kevin mengangkat genggaman tangannya, membuat Keira tersadar lalu menoleh kearah suaminya.
"Dia baru saja bercerai" ucap Keira dengan wajah prihatin.
"Benarkah ? itu yang kalian bicarakan saat sarapan ?" tanya Kevin.
Keira mengangguk, lalu kembali menatap Gabriella yang berjalan semakin menjauh.
"Pantas, saat bertemu tadi wajahnya terlihat sedih" ucap Kevin.
Keira menatap wajah suaminya, terlihat ekspresi Kevin yang terlihat risau.
"Kamu ingin kembali padanya ?" tanya Keira langsung.
"Apa ? tidak mungkin, kisah kami sudah berlalu sejak lama, hanya karena statusnya sudah tidak menikah lagi, bukan berarti aku akan kembali padanya" jelas Kevin.
Keira menunduk.
"Pertanyaanmu itu terlalu to the point, membuat aku kaget setengah mati. Kenapa ? kamu cemburu ya ? takut kehilangan suamimu yang tampan ini ?" tanya Kevin sambil tersenyum.
"Ya, ada ungkapan yang beredar, kutunggu jandamu, apa kamu pernah dengar itu ?" tanya Keira lalu berjalan meninggalkan Kevin sambil cemberut.
Kevin tertawa sambil mengejar istrinya yang berjalan cepat.
"Ya, aku tau, tapi itu mungkin bisa terjadi kalau aku tidak menikah dengan seorang gadis cantik, pintar, baik hati yang bernama Keira" ucap Kevin sambil mensejajarkan langkahnya dengan istrinya.
Keira menghentikan langkahnya, lalu menatap mata suaminya.
"Benarkah ? tak ada sedikitpun keinginanmu untuk kembali padanya ?" tanya Keira.
Kevin menggeleng lalu meraih kedua tangan gadis itu.
"Kenapa aku harus menunggu janda mereka-mereka yang pernah meninggalkanku. Kalau dihitung sekarang mantanku sudah dua orang yang menjadi janda, apa aku harus menampung mereka semua ?" ucap Kevin sambil tertawa.
"Dua orang ?" tanya Keira.
"Jessica dan Gabriella, keduanya adalah mantanku yang telah menjadi janda. Mungkin itu adalah hukuman bagi mereka yang telah meninggalkanku. Karena itu jangan coba-coba meninggalkanku ya ?" ucap Kevin sambil menangkup wajah istrinya.
"Kalau semua itu hukuman karena meninggalkanmu, bagaimana dengan Celina ? apa dia akan akan menerima hukuman juga ?" tanya Keira penasaran dengan pemikiran Kevin.
"Jangan, kasihan Celina dan Raffa, lagi pula dia tidak meninggalkanku tapi aku yang menyerahkannya pada Raffa, apa kamu lupa sayang ?" ucap Kevin.
"Aku tidak akan meninggalkanmu" ucap Keira sambil tersipu.
Kevin memeluk istrinya, setelah memilih kembali semua gaun-gaun yang telah dicoba Keira. Kevin membayar semua gaun-gaun sambil mendelik pada istrinya.
"Awas kalau dipakai keluar rumah, kamu memakai gaun-gaun ini hanya untukku, mengerti !!!" ucap Kevin.
Keira tersenyum, sambil meraih shopping bag dari tangan suaminya dan berjalan dengan riang. Keira sangat menyukai semua motif dan model yang dicobanya, wanita itu terlihat begitu imut mengenakannya. Namun, karena modelnya yang minim membuat Kevin tidak mengizinkan gadis itu mengenakannya diluar rumah.
"Baiklah suamiku sayang, aku mengenakan gaun-gaun ini hanya untukmu" ucapnya sambil melangkah mundur.
"Terima kasih sayang, karena menjadi istri yang patuh untukku, tapi ada sesuatu yang masih mengganjal pikiranku" ucap Kevin.
"Apa itu ?" tanya Keira sambil menghentikan langkahnya.
"Aku iri pada Raffa, istrinya selalu memanggil dia dengan panggilan kakak tapi kamu selalu memanggilku dengan panggilan namaku. Hanya karena selisih hitungan bulan kamu nggak mau memanggilku kakak" curhat Kevin.
Keira cuek, Kevin mengikuti langkah gadis itu dengan lesu. Merekapun kembali ke kamar hotel. Sesampai disana Keira membalik badan lalu memeluk Kevin.
"Aku tidak ingin memanggilmu kakak, sama seperti Celina memanggilmu. Jika diizinkan, aku ingin memanggilmu abang" ucap Keira.
"Aku suka panggilan itu, Keira sayang" bisik Kevin sambil menangkup wajah Keira.
Membenamkan bibirnya ke bibir Keira, gadis itu menyambut ciuman Kevin dengan hangat.
"Mau ngasih adek perempuan untuk Ozora ?" tanya Kevin.
Keira tersenyum sambil mengangguk lalu membiarkan suaminya melepaskan hasratnya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1