
Raffa pasrah, laki-laki itu letih bersaing dengan laki-laki yang jelas-jelas ingin mengganggu rumah tangganya. Satu-satunya harapan Raffa hanya berharap Celina akan tetap setia padanya.
Pagi itu, Raffa membuka matanya, langsung menatap gadis yang dicintainya. Celina masih terlelap sambil memeluk Raffa, laki-laki itu mengecup puncak rambut istrinya itu. Celina mengerjapkan mata, langsung tersenyum menatap Raffa yang sedang memandanginya.
"Kakak, sudah bangun dari tadi ?" tanya Celina, dagunya bertumpu di dada Raffa.
Laki-laki itu mengangguk sambil membelai rambut Celina, Celina maju kedepan dan mengecup bibir Raffa. Laki-laki itu tersenyum langsung meraih tubuh gadis itu dan membaringkan disampingnya. Membalas kecupan Celina dengan ciuman yang hangat.
"Masih belum ada tanda-tanda sayang ?" tanya Raffa disela-sela ciumannya.
"Aku belum periksa lagi kak, maafkan aku" ucap Celina sambil membelai pipi suaminya.
Celina merasa menyesal, sampai saat ini belum bisa memberi kabar yang diinginkan keluarga besar itu.
"Tidak apa-apa, aku cuma ingin kamu jangan terlalu lelah bekerja, ya ?" ucap Raffa sambil terus menciumi leher istrinya.
Laki-laki itu tidak perlu mendengar jawaban istrinya lagi, yang diinginkannya hanyalah segera menyalurkan perasaan cintanya pada istrinya.
Saat sarapan pagi Ozora meminta izin untuk pergi bersama Keira. Hari ini mereka ingin membahas mengenai permasalahan di perusahaan Cartwright. Sebenarnya Ozora bisa melakukannya secara online tapi Keira ingin melihat secara langsung bagaimana cara kerja tim.
Demi auntie Kei nya, Ozora menuruti, Raffa sebenarnya merasa kurang senang dengan dengan pembicaraan itu karena mengingat Edward adalah salah seorang anggota tim kerja Ozora. Namun laki-laki itu tidak bisa menghentikannya, melarang Ozora tanpa alasan hanya akan membuat anak itu berpikir buruk terhadap dirinya.
Raffa hanya bisa menahan diri.
"Auntie Kei menyediakan ruang rapat untuk kami jadi kami bisa berdiskusi secara langsung. Setelah itu auntie akan mengantar Ozora ke toko mama, boleh ya pa ?" ucap Ozora meminta izin pada Raffa.
"Ya sayang, tapi jangan terlalu keras bekerja ya, kamu masih terlalu kecil untuk beban itu" ucap Raffa.
"Jangan terlalu semangat menolong perusahaan itu" ucap Rowenna sambil tersenyum.
Ozora tertawa, satu-satunya orang yang kurang mendukung usaha penyelamatan perusahaan itu adalah neneknya. Saat bermain dengan Ozora, Ny. Rowenna menasehati Ozora agar jangan terlalu keras bekerja demi keluarga itu.
Apalagi sampai mengorbankan waktu bermainnya, Ozora hanya tertawa mendengar hasutan neneknya. Sorenya seperti yang dikatakan Ozora, Keira mengantar Ozora ke toko Celina, gadis itu juga mencari beberapa buku yang dibutuhkan dalam memahami masalah yang terjadi di perusahaan itu.
Ozora membantu mencarikan buku yang dibutuhkan Keira. Setelah mendapatkan yang dicarinya Keira pun pamit pulang. Celina mengantar Keira ke parkiran.
"Kalian belum menetapkan tanggal pernikahan kalian ?" tanya Celina.
"Kami masih perlu memantapkan diri, menyiapkan mental dan lain-lainnya" ucap Keira sambil tertawa.
"Auntie cepatlah menikah, biar Ozora segera punya adek" ucap Ozora.
"Oh ya sayang baiklah kalau gitu maunya Ozora, auntie akan paksa uncle Kev segera menikahi auntie ya" ucap Keira yang tak habis-habisnya merasa gemas terhadap anak itu.
"Kalau Ozora yang bilang kamu langsung setuju, kalau aku yang bilang kamu banyak alasan" ucap Celina sewot
Keira tertawa.
"Ini semua salahmu, nggak liat Ozora sangat ingin punya adik tapi kamu belum memenuhi keinginannya" ucap Keira sambil mengangkat dagunya.
Celina balik tertawa.
"Ya.. siapa yang nggak mau, kalau belum dikasih ya mau gimana lagi" ucap Celina sambil berkacak pinggang.
Keira kembali tertawa.
"Itu artinya, usaha mu dan Raffa masih kurang maksimal" ucap Keira sambil kembali mengangkat dagunya.
Ozora menepuk jidat. Lalu melangkah meninggalkan dua wanita cantik itu diparkiran. Keira dan Celina tertawa melihat anak itu bosan melihat tingkah mereka. Keira dan Celina berpelukan, Keira pun berpamitan sambil tertawa.
Celina melambaikan tangan saat mobil gadis itu meninggalkan parkiran. Celina kembali berjalan menuju toko.
"Celina"
Celina menoleh kearah suara, terlihat Edward yang berjalan mendekatinya.
"Ada keperluan apa, anda disini ?" tanya Celina.
Edward berdiri dihadapan Celina, memandang gadis itu lamat-lamat. Mengamati setiap lekuk wajah gadis itu, lalu tersenyum. Celina merasa risih dipandangi seperti itu.
Gadis itu memilih untuk beranjak pergi, namun Edward menahan tangannya. Celina kaget berusaha melepaskan tangannya. Ozora dari dalam toko melihat ibunya berbincang dengan Edward.
Anak itu hanya menunggu ibu dan teman diskusinya itu datang ke toko. Tapi apa yang dilihatnya, Celina terkulai di pelukan laki-laki itu lalu membawanya pergi. Ozora panik sambil berlari berteriak memanggil ibunya, pelayan toko langsung menghampiri.
"Ozora, apa yang terjadi ?" tanya pelayan toko yang tak mengerti kenapa Ozora menjerit sambil menangis.
__ADS_1
"Mama,... mama diculik... mama diculik uncle Ed" teriak Ozora panik.
Mereka segera berlari menuju parkiran, berusaha mengejar mobil yang baru saja melaju keluar dari area itu. Ozora menangis, pelayan segera menelpon temannya dan segera berlarian menghampiri.
"Ibu Celina di culik orang, apa yang harus kita lakukan ?" tanya pelayan toko itu.
"Kita telepon suami Bu Celina" ucap seorang karyawan toko.
Pelayan itu menyerahkan ponselnya pada Ozora, anak itu langsung menelpon ayahnya menceritakan apa yang dilihatnya. Raffa sangat terkejut mendengar cerita anak nya, segera laki-laki itu meninggalkan kantornya.
"Kita lapor polisi saja pak ?" ucap pelayan toko pada Raffa saat laki-laki itu tiba disana.
"Belum bisa sebelum satu kali dua puluh empat jam, polisi belum bisa menerima laporan sebelum itu" ucap Raffa panik, lalu menelpon Kevin.
Tak berapa lama kemudian, Kevin dan Keira datang. Mereka berkumpul di kantor Celina. Keira langsung memeluk Ozora yang menangis.
"Rasanya tidak percaya, kami baru saja berpisah diparkiran" ucap Keira yang juga menangis sambil memeluk Ozora.
Kevin mengusap punggung tunangannya.
"Aku akan mencari informasi alamatnya di club " ucap Kevin.
Raffa terduduk, laki-laki itu lemas memikirkan apa yang terjadi. Raffa mendengar Ozora bercerita pada Kevin secara detail apa yang dilihatnya. Lalu berlari memeluk ayahnya, anak itu merasa menyesal mengenal Edward.
Raffa memeluk anak itu erat, memberi pengertian bahwa semua itu bukanlah kesalahannya.
"Ozora pulang kerumah saja ya sayang, jangan disini, kalau disini Ozora akan selalu sedih" usul Raffa pada anaknya.
Namun Ozora menggeleng kuat, sedikitpun dia tidak ingin meninggalkan tempat itu. Anak itu menyesal meninggalkan ibunya sendirian di area parkir.
"Kalau begitu jangan menangis lagi ya, berdo'alah agar mama baik-baik saja" ucap Raffa pada Ozora.
Anak itu mengangguk lalu duduk disamping Keira. Kevin terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Dia tidak mengangkat telponku, gawat, apa yang ada di otaknya ? setahuku dia bukanlah orang yang bisa bertindak sejauh itu" ucap Kevin.
Raffa tertunduk, apapun bisa terjadi, dia sendiri juga tidak pernah menyangka akan bisa bertindak sejauh itu, saat menculik, menyekap dan memperkosa Celina di villa nya saat itu.
Laki-laki itu menghembuskan nafas berat, siapa yang akan menyangka Celina akan mengalami peristiwa penculikan lagi. Mengingat pikiran buruk yang terlintas di benaknya, air mata laki-laki itu langsung menitik.
"Apakah kesaksian Ozora tidak berlaku ? dia melihat sendiri ibunya dibawa pergi" jerit Keira semakin tidak sabar.
"Kita coba saja, Raffa, aku akan melaporkan kejadian ini bersama Ozora. Kamu disini menunggu kabar atau informasi apapun" ucap Kevin yang segera mengajak Ozora pergi.
Keira juga ingin ikut menemani Ozora, namun Kevin melarangnya. Dia ingin Keira menemani Raffa yang terlihat sangat terpukul. Keira mengangguk setuju, dia pun duduk disamping Raffa mencoba menghibur laki-laki itu.
"Dia selalu takut mendengar kata-kata culik, aku tidak menyangka dia masih belum terbebas dari kejadian seperti itu" ucap Keira sambil menangis.
Raffa tertunduk dengan tatapan mata yang kosong, jiwanya terasa letih, laki-laki itu juga belum terbebas dari ujian ketabahannya. Raffa merasa semua itu adalah hukuman dari dosa-dosanya.
Keira mencoba menghibur Raffa, namun dia sendiri rasanya perlu untuk dihibur. Keira terlihat lebih panik dari pada Raffa. Namun saat melihat laki-laki itu Keira merasa sangat kasihan, wajah Raffa terlihat sangat letih.
Barulah Keira menyadari, Raffa mengalami syok, yang membuat laki-laki itu hanya diam menatap kosong. Keira sadar orang yang paling menderita adalah Raffa, mengingat yang pernah terjadi saat Celina, diculik hingga hampir terbunuh.
Dan sekarang Celina telah menjadi istrinya, belahan hatinya harus mengalami hal seperti itu lagi, tentu Raffa merasa sangat bersalah karena tidak mampu melindungi wanita yang dicintainya.
Ponsel Keira bergetar, Kevin mengirim nomor ponsel Edward meminta gadis itu mencoba terus menghubungi Edward. Keira melakukan perintah Kevin, mencoba menghubungi Edward. Ponselnya tersambung, namun laki-laki itu tidak mau menerima panggilannya.
"Jika aku tau kelakuannya seperti ini, aku tidak akan percaya pada sikapnya yang terlihat sopan, tenang namun menyimpan rencana busuk" ucap Keira kesal.
Tapi apapun yang diucapkan Keira tidak sedikitpun membuat hati mereka menjadi lebih tenang. Yang ada hanya penyesalan, kenapa semua ini bisa terjadi, dan kenapa mereka bisa begitu lengah.
Setelah lelah menunggu, tak ada satupun kabar mengenai Celina. Entah dari laki-laki itu yang ingin memberi tau apa maksudnya membawa Celina. Raffa akan memberikan apapun yang laki-laki itu inginkan bahkan jiwanya pun rela dia berikan jika itu yang dimintanya. Tapi Edward sama sekali tidak menghubungi mereka.
Kevin datang dan langsung menanyakan kabar, Keira hanya menggelengkan kepala. Kevin menghembuskan nafas berat.
"Sekarang kita hanya bisa pasrah menunggu kabar dari kepolisian" ucap Kevin pelan.
Semua termenung.
Sementara itu, Celina terbangun disebuah kamar yang sangat indah bergaya klasik. Begitu sadar gadis itu langsung turun dari ranjang dan ingin berlari namun kakinya terasa lemah. Celina terjatuh dilantai marmer, gadis itu seperti membayangkan apa yang pernah terjadi pada dirinya waktu dulu.
Celina menangis, seseorang membuka pintu lalu menghampirinya. Celina terkejut saat melihat siapa yang datang. Barulah Celina terbayang ingatan terakhirnya.
Celina tidak ingin bicara lagi dengan Edward, dia tidak ingin menyakiti hati suaminya dengan masih berhubungan dengan laki-laki itu. Celina ingin Edward menjauhinya.
__ADS_1
Namun Edward bersikeras ingin tetap mendekati Celina bahkan ingin mengajaknya ke suatu tempat.
"Aku tidak akan ikut denganmu, aku dan suamiku tidak menyukaimu. Cukup tuan Edward, mulai sekarang anggap saja kita tidak pernah saling kenal" ucap Celina lalu hendak beranjak pergi.
"Aku tidak bisa Celina, kamu harus ikut denganku. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu" ucap Edward.
Edward mencoba menahan Celina namun gadis itu langsung menepis tangannya. Tiba-tiba Celina merasa sesuatu membekap mulutnya, tak berapa lama kemudian Celina tidak ingat apa-apa lagi.
Dan terbangun dikamar mewah bergaya klasik itu. Celina berlari menuju pintu dan termangu, rumah yang besar, mewah dan megah, nyaris seperti istana. Celina termangu, gadis itu bahkan tidak tau kemana arah yang ingin dituju.
Namun dia terus berlari, kemanapun dia asal menjauh dari Edward. Langkah Celina terhenti, gadis itu mengedarkan mata ke sekeliling ruangan. Celina sangat terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Di dinding terpampang lukisan-lukisan yang mirip dengannya.
Begitu mirip hingga nyaris sama, namun terlihat lebih anggun dengan gaun yang indah. Celina berjalan perlahan mengikuti lukisan-lukisan yang terpajang di dinding ruangan yang begitu lapang itu. Matanya terpaku memandang satu persatu lukisan itu.
Tanpa disadarinya, Edward berjalan pelan mengiringi langkahnya. Sambil tersenyum menatap ekspresi heran di wajah Celina. Edward seperti menikmati wajah heran gadis itu.
Celina membalik badan, langkah Edward terhenti.
"Siapa ini ? kenapa... " ucapan Celina yang terputus karena dia sendiri tidak tau harus bertanya apa.
"Ibuku, dia adalah ibuku" ucap Edward sambil ikut memandangi lukisan itu.
"Ini hanya penglihatanku atau... "
"Dia mirip denganmu, dia sangat-sangat mirip denganmu" ucap Edward.
"Apa kamu terobsesi dengan ibumu ? membawaku kesini karena mirip dengan ibumu ?" tanya Celina.
"Bukan terobsesi tapi ingin membuktikan" lanjut Edward.
"Lalu apa hubungannya denganku ? aku bukanlah ibumu, apa yang kamu inginkan ? dimana ibumu ?" tanya Celina bertubi-tubi.
"Sayangnya dia sudah tiada" ucap Edward.
"Oh, maaf, aku tidak tau" ucap Celina menyesal.
"Tidak apa-apa, itu bukan salahmu. Ibuku meninggal dua setengah tahun yang lalu" cerita Edward.
"Sebenarnya apa tujuanmu membawaku kemari, keluargaku pasti sangat mengkhawatirkanku. Edward, aku harus pulang" ucap Celina tak peduli dengan urusan laki-laki itu.
Celina mencari pintu keluar rumah besar itu.
"Bagaimana caramu pulang ?" tanya Edward.
"Entahlah, apa saja, jalan kaki kalau perlu" ucap Celina, gadis itu melihat ke kanan dan ke kiri mencari pintu.
Edward mengikuti sambil tersenyum.
"Kamu pikir ini dimana ?" tanya Edward.
"Aku tidak tau, aku akan bertanya diluar sana" ucapnya masih berjalan.
"Celina, ini di New York, kamu tidak bisa kemana-mana" ucap Edward.
"Apa ? jangan bercanda, bagaimana mungkin aku bisa kesini ?" tanya Celina.
"Dengan pesawat pribadi" ucap Edward.
"Tolong Edward, aku harus pulang. Aku punya keluarga, aku punya anak. Anakku sangat membutuhkanku. Tolong Edward, bukankah kamu sangat mengenal Ozora ? dia sangat menghormatimu, dia juga menyukaimu" ucap Celina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Benarkah ? setelah apa yang kulakukan pada ibunya, dia masih akan menyukaiku ? bagaimana dengan suamimu ? setelah kamu pergi berhari-hari bersamaku apa dia masih mencintaimu ?" ucap Edward.
"Apa maksudmu ? sudah berapa lama aku disini ?" tanya Celina.
"Hampir dua hari dua malam" ucap Edward.
"Apa ? tolong Edward, keluargaku pasti mencariku. Aku harus pulang Edward" ucap Celina memohon.
"Benar-benar mirip" terdengar suara dari arah lain, Celina menoleh ke arah suara.
Terlihat seorang bapak tua yang duduk dikursi roda. Edward langsung mendatangi dan mengambil alih kursi roda itu dari pelayan.
Bapak tua itu memandang wajah Celina lalu tersenyum.
"Celina, kamu sangat mirip dengan ibumu"
__ADS_1
...~ Bersambung ~...