
Lala memberikan kue tart potongan kedua itu kepada Dokter Dinda. Dokter cantik itu terharu, dengan air mata yang meleleh di pipinya Dokter Dinda menerima. Dokter itu menangis namun bukanlah air mata kesedihan tapi air mata kebahagiaan.
Dokter Dinda memeluk Lala dan mengangkat tubuh gadis kecil itu. Lala tertawa, Dokter Dino langsung memeluk kedua gadis yang sangat berarti dalam hidupnya itu.
Pemandangan itu membuat semua yang hadir di situ terharu. Termasuk Celina dan Raffa, gadis itu berhasil menyatukan kedua dokter yang berhubungan baik dengannya itu.
Puncak acara pesta ulang tahun itu pun di mulai. Seperti yang telah di rencanakan mereka membagikan door prize dengan mengajukan pertanyaan, barang siapa yang paling cepat menjawab dan benar akan di beri kesempatan lebih dulu memilih hadiahnya. Semua anak-anak berebut menjawab.
Acara menjadi sangat meriah. Lala gadis kecil yang pintar segera menjawab pertanyaan dengan benar. Anak itu langsung berlari ke arah Celina.
"Ini untuk adek" ucap Lala sambil memberikan hadiah yang di dapatnya untuk Aurora.
"Oh, makasih Kak Lala tapi kenapa di kasih ke adek Aurora? Kak Lala nggak suka hadiahnya?" tanya Celina.
"Suka, suka sekali tapi dulu Tante udah kasih hadiah yang paling Lala suka" ucapnya sambil menyodorkan boneka pemberian Celina dulu.
Celina heran bagaimana gadis kecil itu ingat pada dirinya.
"Lala udah ingat, Tante Celina yang dulu pernah kasih boneka dari mama. Sekarang ini buat adek Aurora" ucap Lala sambil tersenyum.
"Makasih ya sayang, ini hadiah pertama yang di dapat adek dalam acara ulang tahun, Tante akan suruh dia jaga boneka ini baik-baik" ucap Celina.
Lala tersenyum dan kembali berkumpul dengan Dokter Dinda dan Dokter Dino. Raffa memandang kagum pada istrinya yang sedang memainkan boneka itu bersama Aurora.
"Aku kagum padamu sayang, kamu selalu bisa merubah orang-orang yang tadinya membencimu menjadi menyayangimu" ucap Raffa.
"Oh ya siapa itu, apa kakak termasuk? Membenciku lalu menyayangiku?" tanya Celina.
"Ya, aku sangat membencimu hingga aku ingin mengurungmu di Villa selama-lamanya" ucap Raffa tertawa.
"Lalu siapa yang membenciku lalu menyayangiku?" tanya Celina bicara sendiri lalu tercenung sendiri.
Celina berpikir apa yang di katakan Raffa benar. Dokter Dinda, Ny. Rowenna bahkan Alyssa dan Keira pun sempat membencinya. Jangan ditanya Kevin, Chicco ataupun Jessica. Mereka membencinya hingga menyakiti Celina bahkan ingin mencelakainya.
"Aku pasti orang yang sangat menyebalkan hingga begitu banyak yang membenciku" ucap Celina tiba-tiba dengan raut wajah sedih.
"Bukan karena menyebalkan, mereka membencimu karena iri. Rasa benci itu timbul karena terlalu cinta hingga menimbulkan rasa iri. Tapi kamu bisa membalikkan kembali rasa iri menjadi cinta. Kamu membuat semua orang yang membencimu menjadi mencintaimu" ucap Raffa.
"Semua orang? Aku rasa tidak. Ada seseorang yang masih tetap membenciku hingga kini" ucap Celina dengan raut sedih.
"Siapa itu? Aku tidak mengenal ada orang yang membencimu hingga kini" ucap Raffa.
"Maura, dia adalah sahabat pertamaku di kampus. Dia sangat membenciku hingga memberikan kesaksian yang memberatkanku saat perebutan hak asuh Ozora dulu" ucap Celina sedih.
"Gadis itu? Yang menjadi saksi Mommy itu temanmu?" tanya Raffa heran.
Celina mengangguk.
"Ya, dia membenciku dan aku juga membencinya. Aku bahkan memutuskan hubungan pertemananku dengannya" ucap Celina dengan mata yang berkaca-kaca mengingat kembali masa lalunya.
"Tapi semua yang kumiliki sekarang ini semua justru karena dirinya" lanjut Celina.
"Apa maksudmu Celina?" tanya Raffa.
"Aku bisa bersamamu, menjadi istrimu, memiliki Ozora dan Aurora semua karena dirinya. Jika saat itu dia tidak mengajakku bekerja di Night Club, jika saat itu dia tidak menyebarkan rumor itu. Kakak tidak akan datang mencariku, kita tidak akan bertemu dan aku juga tidak akan bersahabat dengan Alyssa, kak Kevin dan Keira, Jessica, semuanya. Ternyata semua berawal dari dirinya, harusnya aku tidak lagi membencinya, harusnya aku bersyukur karenanya. Kak, aku ingin mencarinya, aku ingin berbaikan dengannya. Aku harus mencarinya" ucap Celina sambil menangis tersedu-sedu.
Raffa memeluk istrinya, berusaha menenangkannya. Raffa berjanji akan menemaninya mencari sabahat pertama istri tercintanya itu.
Sekian lama mereka mencari keberadaan Maura, akhirnya Celina berhasil menemukannya. Setelah bertanya ke sana kemari dari Night Club satu ke Night Club yang lain akhirnya Celina berhasil menemukannya.
Celina membuka pintu ruangan rawat inap rumah sakit khusus pasien kanker itu. Berjalan perlahan sambil menatap wajah yang kurus tanpa sehelai rambut pun di kepalanya.
Celina menangis tersedu-sedu, gadis itu tidak sanggup menahan rasa sedihnya. Raffa memeluk tubuh istrinya yang berguncang karena menangis.
"Celina" terdengar suara lemah dari Maura.
Celina membalik badan dan menatap ke arah Maura. Gadis itu menangis sejadi-jadinya di hadapan sahabatnya itu.
"Akhirnya kamu datang juga" ucap Maura lemah.
"Maura, kamu harus sembuh. Kita akan mengusahakan yang terbaikmu" ucap Celina sambil terisak.
__ADS_1
"Sudah terlambat, waktu ku tidak lama lagi" ucap Maura lemah.
"Jangan berkata seperti itu, kita harus berusaha Maura. Jangan putus asa, kita akan berusaha" ucap Celina masih menangis.
"Tidak ada yang kuharapkan lagi selain kedatanganmu. Aku ingin meminta maaf padamu atas semua kesalahanku padamu. Ketahuilah Celina meskipun kamu memutuskan hubungan pertemanan kita tapi bagiku kamu tetaplah temanku. Aku hanya merasa takut untuk mendekatimu, aku takut kamu tidak menerimaku lagi karena itu aku menjauhimu, bahkan memberikan kesaksian untuk memberatkanmu semua demi menguatkan rasa benciku padamu. Aku merasa tidak punya harapan lagi untuk berbaikan denganmu. Karena aku sadar, perbuatanku sudah terlalu jauh, aku telah mencelakaimu, menjahatimu, memfitnahmu. Hingga membuatmu menderita. Aku sadar semua terjadi padamu karena kesalahanku. Akulah sumber penderitaanmu" ucap Maura.
"Itu tidak benar, itu sama sekali tidak benar. Kamulah yang membawa kebahagiaan dalam hidupku. Kamulah yang menyebabkan aku memiliki segala-galanya. Ini.., ini. suamiku, aku bertemu dengannya karena dirimu. Aku memiliki keluarga, memiliki sahabat semua berawal darimu. Pertemuanku dengan mereka semua karenamu. Aku tidak akan merasakan hidup bahagia sekarang ini jika bukan karenamu" ucap Celina sambil menarik suaminya mendekati ranjang Maura untuk memperkenalkan Raffa.
Maura tersenyum, Celina berusaha membuktikan bahwa dia bahagia bertemu dengan orang yang dicintainya, semua karena ulah Maura.
"Benarkah Celina?" tanya Maura tidak yakin.
"Aku kesini ingin berterima kasih padamu. Semua yang kukira berawal buruk ternyata berakhir baik bagiku. Aku menyalahkanmu untuk semua yang terjadi padaku selama ini. Tanpa aku sadari semua yang ku miliki sekarang ini berawal dari mu. Aku hanya menikmati kebahagiaanku sendiri tanpa menyadari dari mana semua itu berasal. Maafkan aku Maura, aku tidak mensyukuri apa yang kudapatkan aku justru menyalahkanmu" ujar Celina dengan tangis yang terisak-isak.
"Aku memaafkanmu Celina tapi.., maukah kamu memaafkanku" ucap Maura semakin pelan.
"Tentu, aku tidak lagi menganggap ini adalah kesalahanmu, tapi baiklah aku akan memaafkanmu" ucap Celina sambil memeluk Maura.
"Terima kasih Celina, aku bahagia bisa bertemu lagi denganmu. Kamu adalah sahabatku yang sejati. Aku bahagia bisa mengenalmu " ucap Maura sambil berusaha membalas pelukan Celina.
"Aku juga Maura, aku juga bahagia bisa bertemu denganmu lagi. Kamu adalah teman sejatiku" ucap gadis itu masih memeluk erat Maura.
Mereka berpelukan begitu lama, begitu hangat namun tiba-tiba tangan Maura terjatuh, Celina merenggangkan pelukannya dan menoleh ke wajah Maura. Celina memanggil Maura yang memejamkan mata seperti tertidur namun gadis itu tidak menjawabnya. Raffa segera memanggil paramedis. Mereka berdatangan memeriksa keadaan Maura.
Celina menangis dalam pelukan suaminya. Berharap tidak terjadi hal yang buruk namun paramedis telah menggelengkan kepala dan tangan Maura pun telah silangkan. Celina menghambur memeluk tubuh sahabatnya menangis tersedu-sedu. Meski Raffa mengajaknya pergi tapi Celina menolak, gadis itu ingin memeluk sahabatnya untuk yang terakhir kalinya.
Setelah pemakaman Maura, Celina masih terlihat murung. Hanya sesekali tersenyum saat bermain dengan Aurora. Gadis itu bisa melupakan kesedihannya hanya dengan bayi cantik itu. Saat Aurora tidur Celina akan kembali termenung.
Raffa memintanya cuti bekerja untuk sementara, laki-laki itu mengkhawatirkan kondisi istrinya. Bahkan saat Ozora menelpon Raffa tidak berani mengganggunya.
"Mama mu sedang bersedih nak. Mama baru saja kehilangan sahabatnya" ucap Raffa melalui Sambungan Langsung Internasional.
"Kalau begitu Ozora punya usul Pa" jawab Ozora.
Anak itu langsung menyusun rencana bersama ayahnya. Raffa menyetujui sambil tertawa. Beberapa hari kemudian Raffa mengajak Celina berlibur ke Villa. Gadis itu masih enggan melakukan apa-apa. Celina menolak untuk kemana-mana.
Tapi Raffa memaksa, hingga berpura-pura merajuk. Sejak kehilangan sahabatnya Celina kurang perhatian padanya. Celina merasa bersalah dan akhirnya bersedia diajak berlibur ke Villa.
"Kita berdua saja, aku ingin mengenang saat pertama kali bertemu berdua denganmu di Villa" ucap Raffa.
"Kejadian apa yang harus di kenang di situ. Cuma kejadian yang menyeramkan" ucap Celina acuh.
"Hei gadis cantik, karena kejadian itu kita memiiki Ozora dan Aurora. Cobalah melihat sesuatu dari sisi baiknya" ucap Raffa mengingatkan gadis itu sambil tersenyum.
Celina ikut tersenyum mendengar ucapan suaminya.
"Sok bijak, padahal dikit-dikit cemburu, dikit-dikit cemburu" ucap Celina sambil mencubit pinggang suaminya.
Raffa menangkap kedua tangan gadis itu dan melingkarkan hingga ke punggungnya. Membuat mereka semakin mendekat dan saling berpelukan, Raffa melancarkan aksi lidahnya, bermain-main di dalam rongga mulut Celina.
Raffa menggendong tubuh Celina dan menghempasnya ke ranjang.
"Mau kasih Aurora seorang adik?" tanya Raffa.
"Kakak, Aurora itu masih bayi" ucap Celina sambil tertawa.
"Kalau begitu kasih Ozora seorang adik?" tanya laki-laki itu masih menggoda istrinya.
Celina tertawa mendengar usaha suaminya membujuk.
"Tidak usah alasan memberi adik, kalau mau lakukan saja" bisik Celina.
Raffa tersenyum, langsung melancarkan aksinya. Memeluk dan mencium bibir istrinya. Perlahan menyusuri leher jenjang Celina, gadis itu pasrah menikmati permainan cinta suaminya.
"Terima kasih sayang untuk semuanya" bisik Raffa.
Celina tersenyum dan memejamkan mata dalam pelukan suaminya. Raffa mengecup puncak rambut istri tercintanya, menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya. Laki-laki itu memeluk gadis yang sangat dicintainya itu lalu memejamkan mata sambil tersenyum manis.
Seperti yang telah disepakati, hari itu Celina bersedia di ajak ke Villa.
"Ayolah ikuti kata suamimu" ucap Rowenna sambil menggendong Aurora.
__ADS_1
"Tapi kak, nggak enak tinggalin Aurora sama Mommy nanti merepotkan" ucap Celina.
"Merepotkan apa? Nanti kamu juga yang urus di sana" ucap Rowenna.
"Hee..., apa maksud Mommy?" tanya Celina.
"Sudahlah ayo berangkat sana" ucap Rowenna sambil tertawa.
Raffa juga ikut tertawa dan langsung mengajak istrinya naik ke mobilnya, melaju ke jalan raya. Raffa mengajak istrinya berbelanja beberapa keperluan untuk di Villa.
"Kak, kenapa kita harus ke Villa?" tanya Celina.
"Karena semua khawatir melihat kamu selalu murung" ucap Raffa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Aku menyesal karena terlambat menemukan Maura. Menyesal kenapa selama ini aku tidak peduli padanya, aku menyesal menyimpan dendam padanya. Kenapa aku tidak berpikir apa yang aku miliki sekarang semua berawal darinya, Aku menyesal, aku sulit memaafkan diriku sendiri" ucap Celina lalu menangis tersedu-sedu.
Raffa mengusap lengan istrinya.
"Karena itu aku berharap setelah kita ke Villa, kamu bisa melupakan penyesalanmu. Bisa melupakan kesedihanmu karena kehilangan Maura" ucap Raffa.
"Aku tidak mau melupakannya, aku tidak akan bisa melupakannya" ucap Celina masih sesenggukan.
"Sayang, aku tidak memintamu untuk melupakan Maura. Aku ingin kamu melihat apa yang telah kamu miliki dan jangan sampai karena kesedihanmu kamu kehilangan semuanya" ucap Raffa.
Celina tercenung, apa yang dikatakan Raffa benar. Celina seperti kehilangan semangat hidup, seperti tidak peduli dengan apa yang ada disekitarnya. Hanya tangis dan tawa Aurora yang membuatnya sadar dari lamunan. Perlahan Celina melupakan semuanya. Pekerjaannya, suaminya, sahabat-sahabat yang datang menghiburnya, Celina hanya menanggapi dengan sikap seadanya.
Celina selalu merasa menyesal dan berandai-andai jika dia mencari Maura lebih cepat, gadis itu bisa melakukan pengobatan. Tidak mengabaikan kesehatan dan lebih cepat menjalani perawatan. Celina merasa itu adalah kesalahannya.
"Dia masih ada jika aku cepat mencarinya" ucap Celina dengan suara serak.
"Itu semua takdir, tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi. Tapi kita harus bersyukur di detik-detik terakhir dia masih bisa bertemu denganmu. Kalian masih bisa saling memaafkan dan dia pergi dengan tenang. Kematian tidak dapat di tunda tapi kamu datang tetap pada waktunya. Kamu melepasnya dalam pelukanmu dan dia terlihat sangat tenang. Kamu harus bersyukur karena itu" ucap Raffa sambil tersenyum.
Raffa berhenti di sebuah minimarket dan meminta Celina berbelanja keperluan untuk di Villa. Gadis itu dibiarkan memilih sendiri apa yang dibutuhkannya sementara Raffa menelpon seseorang.
Laki-laki itu terlihat tertawa sambil melirik Celina, sontak berpaling saat gadis itu menoleh ke arahnya. Celina merasa curiga tapi terlalu lelah untuk peduli. Gadis itu melanjutkan belanjanya. Memandang beberapa makanan ringan di tangannya.
"Kenapa cuma di pandangnya?" bisik Raffa tiba-tiba muncul dari belakang.
"Ini Snack kesukaan Ozora, aku jadi kangen sama anak itu" ucap Celina dengan wajah murung.
"Kalau gitu ambil yang banyak, biar bisa kita menikmati di Villa" ucap Raffa memunguti Snack sejenis dengan jumlah yang banyak.
"Kenapa harus sebanyak itu?" tanya Celina.
"Tidak apa-apa nanti juga bisa habis" ucap Raffa sambil tersenyum.
Setelah dirasa cukup mereka melanjutkan perjalanan ke Villa. Hingga tiba di halaman, Celina berjalan pelan ke depan pintu sambil bergandengan tangan dengan Raffa. Celina kembali mengenang saat-saat di Villa di masa lalu. Laki-laki itu membuka pintu, Celina masuk ke dalam.
"SURPRISE"
Terdengar teriakan bergemuruh dari dalam begitu Celina menginjakkan kaki di lantai Villa yang luas itu. Terlihat semua sahabat Celina berdiri berbaris menghadap ke arahnya. Ozora berdiri menunggu di deretan paling depan sambil tersenyum.
...~ Bersambung ~...
Dear,
Pembaca dan Penulis Setia Noveltoon.
Mohon dukungannya untuk karya lombaku dalam event Lomba Menulis #BerbagiCinta yang berjudul :
...BERBAGI CINTA - SUAMI YANG DINGIN...
Like, vote, Comment, Favorit dan segala bentuk dukungan apa saja sangat berarti bagi saya, yang akan menjadi penyemangat bagi saya dalam berkarya.
Terus beri dukungannya ya, terima kasih.
^^^Salam hormat,^^^
^^^Author^^^
^^^Alitha Fransisca^^^
__ADS_1