Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 84 ~ Niat di Hati ~


__ADS_3

Dokter Dino mengantar Raffa dan Celina hingga ke depan pintu. Seorang dokter perempuan berdiri menunggu di sana. Dokter Dino memperkenalkan Dokter cantik itu sebagai salah seorang dari tim dokter yang membantu proses persalinan Celina.


Celina terkejut dan sangat berterima kasih namun raut wajah Dokter cantik itu berubah terlihat canggung dan murung setelah mendengar nama Celina. Celina merasakan perubahan itu namun berusaha menepis pikiran buruk. Baginya Dokter Dinda adalah penyelamatnya dan Celina sangat berterima kasih pada dokter cantik itu.


"Dia adalah Celina yang sering diceritakan mbak Lily dulu, dokter?" tanya Dokter Dinda.


"Ya benar, kamu masih ingat?" tanya Dokter Dino.


Tentu saja aku ingat, dia adalah orang yang paling aku benci. Entah apa yang menyebabkan mbak Lily begitu menyukainya. Memuji perempuan itu setiap saat membuatku iri padanya. Terlebih lagi saat mbak Lily ingin menjodohkanmu dengan perempuan itu. Kenapa harus dia, orang yang sama sekali tidak melakukan apa-apa untukmu. Dia tidak pernah ada di dekatmu, dia tidak peduli padamu, dia tidak mencintaimu seperti aku mencintaimu, jerit hati Dokter Dinda.


"Dokter, Dokter, Dokter Dinda? Apa yang sedang kamu pikirkan. Aku memanggilmu dari tadi" ucap Dokter Dino sambil tersenyum.


Dokter Dinda menatap Dokter Dino tapi saat laki-laki berbicara dengannya, Dokter Dinda justru tidak menjawab.


"Oh, maaf aku tidak mendengar" ucap Dokter Dinda.


"Tentu saja tidak mendengar dari tadi kamu melamun saja" ucap Dokter Dino.


"Ya, aku ingat pasienku" ucap Dokter Dinda.


"Ada kamu mencariku?" tanya Dokter Dino.


"Oh, sebentar lagi ulang tahun Lala, apa dokter ingin merayakannya seperti biasa?" tanya Dokter Dinda.


"Ya, tentu saja, terima kasih kamu selalu mengingat ulang tahun Lala" ucap Dokter Dino sambil menulis sesuatu di meja kerjanya.


"Dokter? Kenapa tidak memenuhi keinginan mbak Lily untuk menikahi Celina?" tanya Dokter Dinda.


"Dia sudah memiliki seseorang yang dicintainya" ucap Dokter Dino.


"Jika saat itu dia tidak memilikinya apa Dokter akan menikahinya?" tanya Dokter Dinda lagi.


"Kenapa kamu tanyakan itu? Semuanya sudah berlalu?" ucap Dokter Dino.


"Ya benar, sudah berlalu" ucap Dokter Dinda.


"Ada apa?" tanya Dokter Dino.


"Ah, tidak. Kalau begitu saya permisi dulu dokter. Seperti biasa konsep ulang tahunnya negeri dongeng bukan?" tanya Dokter Dinda yang dibalas dengan anggukan oleh Dokter Dino.


"Baiklah kalau begitu saya permisi" ucap Dokter Dinda.


Terima kasih Dinda, kamu selalu perhatian pada putriku, batin Dokter Dino.


Hari itu Celina sedang mendata buku-buku dari penerbit yang akan dipajang di toko bukunya ketika gadis itu mendengar suara ketukan di pintu. Celina menoleh ke arah pintu yang terbuka itu.


"Oh, Dokter Dinda, silakan masuk" ucap Celina sambil tersenyum.


Celina mempersilakan Dokter Dinda duduk di kursi tamu. Celina merasa sedikit heran dengan kedatangan dokter itu.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Celina.


"Sebenarnya saya kesini bukan untuk meminta bantuan tapi untuk mengundangmu hadir di pesta ulang tahun Lala" ucap Dokter Dinda.


"Oh Lala berulang tahun yang ke tujuh tahun?" ucap Celina setelah menghitung kira-kira umurnya.


"Benar, bagaimana anda bisa tahu?" tanya Dokter Dinda.


"Karena tidak berapa jauh dari umur putraku. Saat Ozora masih sekitar empat bulanan. Mbak Lily datang dalam keadaan hamil" cerita singkat Celina.


"Oh, Nyonya Celina sepertinya sangat perhatian pada Mbak Lily" ucap Dokter Dinda.


"Bukan begitu, dia adalah pelanggan di toko buku ini dan sangat menyukai putraku. Sangat sering datang ke sini dan selalu bermain dengan putraku. Bagaimana aku tidak akan perhatian padanya karena dia juga begitu perhatian pada putraku" cerita Celina sambil mengenang masa lalu.

__ADS_1


"Mbak Lily sangat menyukai nyonya Celina" ucap Dokter Dinda.


"Panggil Celina saja, tidak usah pakai embel-embel nyonya" ucap Celina sambil tersenyum.


"Baiklah nyonya eh..., Celina" ucap Dokter Dinda.


"Tadi Dokter Dinda ingin bicara apa?" tanya Celina.


"Ya, tadi aku ingin cerita kalau mbak Lily sangat menyukaimu Celina. Beliau sangat ingin menikahkan Dokter Dino denganmu. Apakah kamu tahu itu?" tanya Dokter Dinda.


"Aku justru heran kenapa Dokter Dinda bisa tahu?" tanya Celina.


"Karena aku adalah tempat mbak Lily mencurahkan isi hatinya. Dia menceritakan rasa sukanya terhadapmu padaku. Dia juga menceritakan niatnya untuk menikahkan kalian saat di tidak bisa lagi melawan penyakitnya. Dia menceritakan semua tentangmu. Bagaimana dia sangat menginginkan kamu sebagai ibu dari putrinya" cerita Dokter Dinda sambil menangis.


"Dan Dokter iri padaku? Karena dalam hati Dokter kenapa tidak memilih Dokter Dinda untuk menggantikannya. Padahal dokter Dinda telah mencurahkan perhatian dan juga kasih sayang terhadap Mbak Lily dan keluarganya" ucap Celina.


Dokter Dinda tercengang, dokter cantik itu langsung gelagapan. Perasaannya tertebak oleh Celina, dokter itu merasa merasa bingung dan juga malu.


"Tidak perlu merasa malu dokter, saya mengerti perasaan dokter. Tapi pernahkah terpikirkan oleh dokter, mbak Lily tidak ingin menjodohkan seorang duda yang memiliki seorang anak pada Dokter cantik yang masih perawan seperti Dokter Dinda ini? Mbak Lily menyayangi Dokter Dinda seperti adiknya sendiri hingga begitu leluasa mencurahkan isi hatinya pada Dokter Dinda? Mbak Lily tentu ingin Dokter Dinda mendapatkan seorang pria yang juga masih perjaka. Terkadang memberikan wasiat itu sama dengan memberi beban. Mbak Lily tidak ingin menyerahkan beban itu pada Dokter Dinda. Kalau Mbak Lily tahu perasan Dokter Dinda pada Dokter Dino tentu dengan senang hati Mbak Lily menitipkan keluarganya pada Dokter Dinda" jelas Celina.


Dokter Dinda tercenung, matanya berkaca-kaca. Sama sekali tidak terpikirkan baginya apa yang Celina sampaikan.


"Bagaimana Kak Celina bisa berpikiran seperti itu? Apakah Mbak Lily pernah bercerita?" tanya Dokter Dinda.


Tanpa disadari Dokter Dinda telah memanggil Celina dengan sebutan yang lebih akrab. Ada timbul perasaan dekat terhadap Celina setelah mendengar penjelasan gadis itu.


"Tidak, saya hanya mencoba berpikir dari sisi Mbak Lily, dan dalam hal ini saya hanya orang luar yang bisa melihat dari sudut pandang mana pun" ucap Celina.


Dokter Dinda tertunduk.


"Saya tahu perasaan Dokter Dinda terhadap Dokter Dino. Terlihat dari perhatian Dokter terhadap Lala dan papanya" ucapnya Celina.


"Tapi sepertinya Dokter Dino menyukai kak Celina" ucap Dokter Dinda.


"Itu karena Mbak Lily yang mengarahkannya hingga Dokter Dino tergerak untuk memperhatikanku, berusaha untuk mengerti aku, berusaha untuk memahami seperti apa aku ini. Mungkin ada rasa penasaran dihatinya kenapa istrinya mengarahkan hatinya padaku. Jika Mbak Lily tidak melakukan itu mustahil rasanya Dokter Dino melirikku" ucap Celina sambil tertawa.


Ternyata Kak Celina orang yang bijak, tentu saja Mbak Lily ingin mempercayakan keluarganya pada wanita seperti Kak Celina, aku jadi malu karena telah berpikiran buruk padanya, batin Dokter Dinda.


"Kalau boleh aku tahu, sejak kapan Dokter Dinda menyukai Dokter Dino?" tanya Celina.


"Apa?" tanya Dokter Dinda gelagapan ditanya seperti itu.


"Tidak usah malu, kita sama-sama perempuan. Apalagi kita tidaklah bersaing, aku sama sekali tidak bisa menerima perasaan Dokter Dino karena dihatiku telah ada seseorang yang tidak akan pernah tergeserkan posisinya. Aku rasa Dokter Dino juga sepertiku sulit menemukan orang yang bisa menggeser posisi Mbak Lily dihatinya. Hingga setelah bertahun-tahun lamanya barulah dia mengemukakan niat istrinya. Itupun dia lakukan tidak lagi mengharapkan aku akan menerimanya" jelas Celina.


Dokter Dinda mengangguk.


"Tadinya aku takut kak Celina akan menerima Dokter Dino dan berpaling dari suami kakak. Aku justru mencoba untuk memberi nasehat agar kakak tidak mengkhianati suami kakak yang terlihat begitu mencintai kakak. Sekarang aku jadi malu memikirkan itu, aku sama sekali tidak bisa memahami orang" ucap Dokter Dinda menunduk.


Celina merasa Dokter cantik itu semakin terbuka padanya.


"Yang bertugas memahami orang itu psikiater, kalau Dokter Dinda tugasnya membantu keluarga mendapatkan kebahagiaan dari bayi yang akan dilahirkan" ucap Celina sambil tertawa.


Dokter Dinda ikut tertawa namun kali ini matanya berkaca-kaca. Mendapat teman bicara seperti Celina membuat hatinya terharu. Selama ini dokter itu hanya berpikir sendiri, bertanya dan menjawab sendiri apa-apa yang ada dibenaknya. Dokter Dinda merasa memiliki seorang sahabat sekaligus kakak dalam sekejap.


"Dokter Dinda belum menjawab pertanyaanku atau memang rahasia?" tanya Celina.


"Oh yang mana ya kak? Aku lupa" ucap Dokter Dinda.


"Sejak kapan Dokter Dinda menyukai Dokter Dino?" tanya Celina to the point.


"Oh, itu sudah lama kak, sejak kami masih SMA. Dokter Dino adalah seniorku. Sebenarnya Dokter Dino dulu menjadi idola di sekolah kami tapi semua orang tahu kalau Dokter Dino memiliki hubungan dengan Mbak Lily. Mereka pasangan sejati, semua orang tidak ada yang berani mengganggu hubungan mereka. Namun, saat lulus SMA mereka terpisah. Mbak Lily melanjutkan kuliah di kota lain, sementara Dokter Dino lulus fakultas kedokteran di kota ini. Mereka menjalani hubungan jarak jauh. Saat di kampus banyak gadis-gadis yang menyayangkan hubungan mereka. Dokter Dino harusnya mencari seorang gadis yang bisa menemaninya setiap saat. Gadis yang bisa ditatap dan dibelai, disayangi setiap saat. Tapi Dokter Dino tidak seperti itu, dia memilih setia pada Mbak Lily dari pada mengikuti keinginan gadis-gadis yang mengantri untuk mendapatkan posisi mbak Lily" cerita Dokter Dinda sambil menunduk mengingat masa lalu.


"Dokter Dinda akhirnya mengambil fakultas kedokteran demi bisa berada di dekat Dokter Dino" ucap Celina.

__ADS_1


Dokter Dinda langsung terperangah dan menunduk, tersenyum malu-malu.


"Oh, bagaimana kakak bisa tahu?" tanya Dokter Dinda tersipu.


"Entahlah mungkin karena aku banyak membaca atau banyak bertemu dengan orang-orang dengan berbagai cerita. Kadang cerita mereka mirip hingga aku bisa mengira-ngira kejadiannya" ucap Celina.


"Kakak hebat, harusnya menjadi seorang psikiater" ucap Dokter Dinda.


Teringat saat mengenal Dokter Dino, laki-laki itu langsung disukainya sejak menginjakkan kakinya di SMA itu. Diam-diam mengagumi ketampanan dan kecerdasan laki-laki pemalu itu. Namun, Dinda juga gadis pemalu, saat melihat Dino berpacaran dengan Lily, gadis itu hanya tersenyum dan mendukung hubungan mereka.


Berbeda dengan gadis-gadis lain yang berlomba menggoda dan mengganggu hubungan pasangan itu. Dinda justru mengagumi kesetiaan pasangan itu dan tidak rela jika mereka berpisah.


Hinggap akhirnya Dino dan Lily tamat SMA, begitu mendengar laki-laki itu lulus di fakultas kedokteran, Dinda mati-matian belajar demi lulus di universitas dan fakultas yang sama. Perjuangan Dinda membuahkan hasil, gadis itu berhasil menjadi adik kelas Dino lagi. Sebagai sesama alumni SMA yang sama Dino selalu membantu Dinda, mendukungnya dalam setiap mata kuliah.


Namun itu justru membuat Dino menganggap Dinda seperti adiknya sendiri. Sementara Dinda mengetahui cinta Dino hanya untuk Lily. Akhirnya Dinda hanya bisa mendukung hubungan mereka. Di dalam hatinya pun tidak tega jika dua orang yang saling mencintai itu terpisahkan.


"Bagaimana dengan Dokter Dinda? Apa yang Dokter Dinda inginkan? Juga sama seperti gadis-gadis itu? Ingin Dokter Dino memutuskan hubungannya dengan Mbak Lily?" tanya Celina sambil tersenyum.


"Nggak kak, aku sama sekali tidak berpikiran seperti itu. Justru aku sangat mengagumi kesetiaan mereka. Meski berjauhan tapi mereka tetap setia. Tidak ada keinginan untuk mendoakan mereka berpisah" ucap Dokter Dinda.


"Tapi nyatanya sekarang mereka justru berpisah. Mereka telah mencoba dengan sekuat tenaga untuk bisa tetap bersama. Mungkin sekarang takdirnya Dokter Dinda untuk bisa mengisi kekosongan hati Dokter Dino" ucap Celina sambil tersenyum.


Dokter Dinda langsung gelagapan dengan wajah yang bersemu merah.


"Tuhan telah mentakdirkan mereka bertemu dan jatuh cinta lebih dulu tapi kelanjutannya kita tidak ada yang tahu. Mungkin ini memang giliran Dokter Dinda" ucap Celina memberi semangat.


Dokter Dinda menatap wajah Celina dengan mata yang berkaca-kaca. Celina heran melihat reaksi Dokter Dinda.


"Maafkan aku kak, maafkan aku" ucap Dokter Dinda berderai air mata.


"Kenapa? Ada apa Dokter Dinda?" tanya Celina.


"Aku sungguh jahat, saat Dokter Dino mengenalkan kita dan memberitahu kalau pasien yang aku tolong saat melahirkan waktu itu adalah Celina yang membuatku iri. Celina yang selalu membuatku kesal mendengarnya. Celina yang aku benci justru pasien yang aku tolong, aku menyesal telah menolongmu. Andai saat itu aku tahu kalau pasien itu bernama Celina mungkin aku tidak akan sungguh-sungguh menolongnya. Aku sungguh jahat, aku sempat menyesal menolong persalinanmu" tangis Dokter Dinda sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Celina tersenyum sambil memberikan tisu pada Dokter Dinda.


"Kenyataannya sekarang ini aku dalam keadaan sehat dan itu karena pertolonganmu. Apalagi yang harus disesali?" tanya Celina.


"Kakak tidak membenciku?" tanya Dokter Dinda.


"Membenci niat jahatmu yang tidak kesampaian itu. Untuk apa? Jika tadi Dokter Dinda tidak cerita, aku juga tidak bakalan tahu. Aku justru kagum pada Dokter Dinda, sebagian orang mungkin akan memilih diam daripada mengakui. Dokter Dinda justru berani mengakuinya, aku salut pada Dokter Dinda" ucap Celina sambil tersenyum.


"Panggil Dinda saja kak, aku senang jika kak Celina mau menjadi kakakku" ucap Dokter Dinda memohon.


"Benarkah? Aku punya banyak teman tapi belum pernah punya adik, selain anak-anak di Panti Asuhan. Kalau Dokter Dinda mau, aku tidak keberatan menganggapmu sebagai adik" ucap Celina.


Dokter Dinda langsung memeluk Celina. Pemandangan yang sangat ironi, gadis yang tadinya sangat membenci Celina justru menjadi sangat menyayanginya. Celina selalu membuat orang yang berniat jahat atau bahkan telah menyakitinya justru menjadi orang yang ingin menyayanginya.


...~ Bersambung ~...


Dear,


Penulis dan Pembaca Setia Noveltoon.


Mohon dukungannya untuk karya lombaku dalam event Lomba Menulis Berbagi Cinta yang berjudul :


...BERBAGI CINTA - SUAMI YANG DINGIN...


Like, vote, Comment, Favorit, Rate dan segala bentuk dukungan apa saja sangat berarti bagi saya yang akan menjadi penyemangat bagi saya dalam berkarya.


Terus beri dukungannya ya, terima kasih.


^^^Salam hormat,^^^

__ADS_1


^^^Author^^^


^^^Alitha Fransisca^^^


__ADS_2