Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 89 ~ Menagih Janji ~


__ADS_3

Celina masuk ke dalam Villa untuk membantu suaminya membawakan minuman ringan. Dari balik pintu terdengar suara Natasha yang mengingatkan suaminya akan janjinya dulu. Janji Raffa untuk menikahi Natasha. Langkah Celina terhenti, bersandar di dinding untuk menopang tubuhnya.


Kenapa selalu saja ada yang mengusik kebahagiaanku, tidak bisakah aku menjalani pernikahan ini dengan tenang, apa yang harus kulakukan. Aku tidak ingin menyerah tapi aku merasa lelah, batin Celina.


Terdengar Raffa yang masih menyangkal ucapan Natasha. Berkali-kali gadis itu berusaha mengingatkan Raffa.


"Aku bahkan tidak ingat kapan bertemu denganmu, bagaimana mungkin aku pernah berjanji menikahimu. Kamu pasti salah orang" ucap Raffa ingin segera pergi dari dapur itu.


Setelah mendapatkan minuman ringan yang diinginkannya Raffa ingin segera berlalu dari tempat itu. Namun, Natasha menahan lengan Raffa, laki-laki itu pun menatap tangan Natasha yang menggenggam erat lengannya.


"Lepaskan Natasha, aku tidak ingin ada yang salah paham" ucap Raffa.


"Aku tidak peduli, kak Raffa. Aku tidak peduli, kak Raffa harus memenuhi janji. Aku menjaga diriku demi kakak, aku sama sekali tidak pernah berpacaran dengan siapa pun demi janji yang kakak ucapkan" jerit Natasha mulai menangis.


"Tapi aku sudah menikah dan memiliki dua orang anak. Aku tidak mungkin meninggalkan istriku demi orang yang tidak kuingat sama sekali" ucap Raffa.


"Tidak perlu meninggalkannya, aku bersedia menjadi yang kedua. Asalkan kakak mau menepati janji kakak" ucap Natasha.


"Celina tidak akan bersedia di duakan dan aku juga tidak berminat menikah lagi. Aku tidak..."


"Kapan suamiku berjanji menikahimu?" tanya Celina.


Raffa dan Natasha terkejut, Celina tiba-tiba muncul dan bertanya. Celina bertekad untuk mempertahankan suaminya.Dia tidak rela siapa pun merebut suaminya seperti dulu yang pasrah saat seorang wanita mengaku dihamili suaminya.


Celina tidak mau tinggal diam setelah mendengar sendiri ucapan suaminya. Raffa tidak ingin meninggalkannya dan dia harus mempertahankan. Celina tidak ingin membiarkan suaminya sendirian menolak gadis yang memaksa itu.


"Waktu kami masih kecil, Kak Raffa menggangguku hingga akhirnya aku menangis. Lalu kak Raffa berusaha membujukku. Saat itulah kak Raffa berjanji akan menikahiku" cerita Natasha.


"Kamu percaya pada janji anak kecil?" tanya Raffa.


"Aku selalu ingat pada janji itu, aku selalu setia pada janjiku. Kakak juga harus seperti itu" ucap Natasha.


"Maaf Natasha, mungkin saat itu aku sendiri tidak tahu apa artinya menikah. Aku pasti hanya asal bicara. Lupakanlah, aku tidak akan menikahimu demi apa pun. Aku tidak akan menduakan cinta istriku. Apa yang kuucapkan hanya untuk membujukmu agar kamu tidak menangis lagi. Aku sering melakukan itu, kamu tanyakan sendiri pada Alyssa. Waktu kecil seluruh keluarga kami tahu kalau aku sering mengganggunya. Mungkin saja untuk membujuknya aku juga berjanji akan menikahinya. Tapi lihatlah, dia berpikir ucapan anak kecil untuk hal semacam itu tidak perlu didengarkan" jelas Raffa.


Kakak dari kecil memang terbiasa mengumbar janji, mungkin bagi orang yang tidak peduli tidak akan mengingatnya tapi bagi gadis-gadis yang menginginkannya tentu saja akan disimpan dihatinya. Kakak tidak tahu kalau Alyssa dulu juga menyimpan janji itu di dalam hatinya, batin Celina.


"Natasha, jika saat itu kamu menetapkan Kak Raffa sebagai pasanganmu. Harusnya sejak dulu kamu mengikat Kak Raffa dan tidak membiarkan dia mengenal wanita lain. Sekarang sudah terlambat, kamu terlambat menuntut janji itu" ucap Celina.


"Kamu gadis yang baik, aku yakin suatu saat nanti kamu akan menemukan laki-laki yang lebih baik dariku. Kita lupakan masa lalu, jangan lagi terikat oleh janji masa lalu yang tidak pasti. Bagiku, kamu lebih pantas untuk menjadi adikku" ucap Raffa sambil mengusap rambut Natasha seperti seorang kakak terhadap adik perempuannya.


Sikap seperti ini yang membuat orang tidak bisa melupakanmu, gadis-gadis itu mengharapkanmu dari sisi yang lain, sebagai kekasih, laki-laki yang dicintai. Sementara kakak memandang gadis-gadis itu sebagai seorang adik, kakak tidak pernah tahu apa yang kakak ucapkan, apa yang kakak perbuat bisa menyentuh hati gadis-gadis itu, bisik hati Celina.


Raffa tersenyum pada Natasha, meminta gadis itu untuk mengerti perasaannya.


"Satu-satunya wanita yang aku cintai di dunia ini hanya wanita itu" ucap Raffa sambil menoleh pada Celina.


"Kak Raffa.." ucap Natasha tak bisa berkata-kata.


"Ayo Natasha, bergabunglah bersama yang lain" ucap Raffa mengajak Natasha keluar.


"Ayo sayang" ucap Raffa mengajak istrinya bergabung dengan tamu yang lain.


Raffa merangkul istrinya sambil menenteng minuman ringan dalam keranjang minuman. Mereka berjalan santai ke halaman belakang


"Sini biar aku bantu bawakan" ucap Celina.


"Kamu bantu puaskan hasratku saja" bisik Raffa membuat Celina langsung mencubit pinggang suaminya.


"Menggoda setiap saat, makanya kakak dikejar-kejar perempuan terus" ucap Celina.


"Bagaimana lagi, sudah kodratku sebagai laki-laki penuh pesona" ucap Raffa sambil tersenyum.


"Masih tidak kapok-kapok juga rupanya" ucap Celina sambil tertawa.


Tiba-tiba Raffa menghentikan langkahnya meletakkan keranjang minuman itu lalu menangkup wajah istrinya. Celina diam memandang wajah tampan suaminya. Raffa mendekatkan wajahnya ke hadapan Celina. Perlahan mengecup bibir Celina hingga akhirnya mereka terbuai. Membenamkan ciuman mereka lebih dalam hingga membuat Raffa semakin bernafsu.


"Kita ke kamar ya sayang" ajak Raffa.


"Apa? Nanti yang lain mencari kita" ucap Celina.


"Sebentar saja" ajak Raffa meninggalkan keranjang minuman dan berlari menarik tangan Celina kembali masuk ke Villa.


Natasha berdiri di samping keranjang minuman yang di tinggal Raffa. Sambil memandang pasangan suami-istri itu yang berlari ke dalam Villa sambil tertawa. Rasa kesal dan benci semakin memuncak dalam dada gadis itu.


Aku tidak akan tinggal diam, kak Raffa. Tidak semudah itu membuatku mundur. Aku pasti akan mendapatkanmu, bagaimanapun caranya, apa pun, siapa pun tidak ada yang bisa menghalangiku, batin Natasha.


Berjalan ke halaman belakang dan duduk termenung menatap para tamu yang berbincang, berkumpul, tertawa bersama. Pandangannya beralih dari satu orang ke orang yang lain hingga akhirnya menatap Aurora yang sedang di gendong Ny. Rowenna.


Natasha tersenyum menggoda Aurora yang tertawa setiap kali ada yang menggodanya. Gadis itu mendekat pada Ny. Rowenna meminta izin untuk menggendong Aurora.


"Kamu ingin menggendongnya? Apa kamu bisa?" tanya Rowenna.


"Tentu bisa Tante, Aurora sangat menggemaskan dari tadi rasanya ingin menggendongnya. Bolehkah Aurora, aku ajak jalan-jalan Tante?" tanya Natasha sambil menggenggam tangan Aurora.


"Boleh" ucap Rowenna sambil menyerahkan Aurora pada Natasha.


"Ow.. cantiknya Aurora, aku jalan-jalan dulu ya Tante" ucap Natasha langsung berdiri setelah mendapat anggukan dari Ny. Rowenna.

__ADS_1


Natasha menggendong Aurora berjalan menyusuri pantai, sesekali gadis itu membalik badan ke arah Villa.


Bersenang-senanglah kalian di sana, nikmati kemesraan kalian. Jika mengetahui putri kalian tak berada di tangan tante Rowenna apa rasa nikmat itu masih bisa bertahan? Kalian pasti menyesal melakukan perbuatan itu, batin Natasha sambil memandang sinis ke arah jendela kaca Villa.


Natasha menatap Aurora yang mengeluarkan suara berceloteh. Natasha memandang lekat bayi cantik itu.


"Kamu putri kak Raffa, harusnya terlahir dari rahimku. Kamu seharusnya menjadi putriku. Kamu harusnya tercipta dari hasil percintaanku dengan papamu bukan dengan perempuan itu" ucap Natasha sambil kembali menatap ke arah Villa.


Natasha membayangkan Raffa yang saat ini sedang berusaha memuaskan istrinya. Mengingat itu Natasha semakin geram. Memeluk tubuh Aurora dengan kuat hingga membuat bayi itu menangis.


Sementara itu Raffa melepaskan pelukannya, berbaring di samping Celina dan gadis itu langsung bersandar di dadanya sambil tersenyum. Raffa meraih gadis itu dalam pelukannya.


"Aku suka bercinta di sini. Ini tempat pertama kali kita berhubungan" ucap Raffa sambil mengecup puncak rambut Celina.


"Itu nama berhubungan? Itu namanya pemaksaan" ucap Celina.


Raffa tertawa lalu kembali memeluk gadis yang polos tanpa mengenakan apa pun itu.


"Terlihat seperti pemaksaan tapi sebenarnya percintaan" ucap Raffa sambil tertawa.


"Dasar mau menang sendiri" ucap Celina mencubit hidung Raffa.


"Kalau tidak ada pemaksaan waktu itu maka tidak ada percintaan saat ini" bisik Raffa membuat Celina tersenyum.


"Ayo kita turun kak, jangan-jangan yang lain sedang mencari kita" ucap Celina.


"Mereka pasti mengerti, jangan khawatirkan itu" ucap Raffa.


"Oh ya benar, orang harus mengerti dengan sifat laki-laki bernafsu besar ini" ucap Celina kembali mencubit hidung Raffa.


Laki-laki itu meraih tangan Celina dan meletakkannya ke samping tubuh gadis itu. Raffa kembali mencium bibir Celina.


"Sudah Kak, ayo kita turun" ajak Celina.


"Kamu tidak ingin merasakan laki-laki bernafsu besar ini sekali lagi" ucap Raff sambil terus mengecup bibir Celina.


"Mau, tapi nanti saja. Tak enak sama tamu-tamu yang mencari kita" ucap Celina sambil tersenyum.


"Baiklah, ayo kita turun" ucap Raffa tersenyum lalu menggendong Celina ke kamar mandi.


Setelah membersihkan diri mereka turun dari lantai atas. Sambil bergandengan tangan, mereka melihat para tamu yang berbincang seperti semula. Edward masih tertawa dikelilingi para wanita yang serius mendengar ceritanya.


Ozora yang masih bermain bola kaki bersama Kevin dan David. Sementara Tn. Robby dan Ny. Rowenna masih asyik berbincang-bincang. Celina tersenyum memandang kemesraan kedua orang tua itu. Tiba-tiba Celina teringat pada putrinya yang tidak terlihat.


Celina langsung menanyakan pada Ny. Rowenna.


"Apa?" teriak Celina langsung menatap ke sekeliling, Celina langsung berfirasat buruk.


"Ada apa Celina?" tanya Rowenna.


"Tidak apa-apa Mom" ucap Raffa langsung mengajak Celina mencari Natasha dan Aurora.


"Ozora tadi lihat Tante Natasha jalan ke sini sama Aurora?" tanya Celina.


David dan Kevin langsung menghampiri.


"Tadi lewat sini Ma, jalan sambil gendong Aurora ke sana" ucap Ozora sambil menunjuk ke arah ujung pantai.


Serentak semua melihat ke arah yang di tunjuk Ozora namun mereka tidak melihat siapa pun. Mata Celina langsung berkaca-kaca. Gadis itu membayangkan hal buruk terjadi pada putrinya. Tak lama kemudian air matanya pun mengalir.


"Tenang sayang tidak akan terjadi apa-apa. Dia mungkin berjalan-jalan agak jauh" ucap Raffa menenangkan istrinya.


Celina seperti tidak mendengar ucapan Raffa, gadis itu segera berlari mencari ke ujung garis pantai. Kevin dan David pun ikut mengejar. Mereka mencari bersama-sama, memanggil nama Natasha.


"Apa mungkin masuk ke dalam hutan sana" ucap David.


"Tidak mungkin, untuk apa dia masuk ke dalam sana. Kita telusuri sepanjang garis pantai ini, di sana garis pantai yang membelok mungkin mereka ada di sana jadi tidak terlihat dari sini" ucap Kevin segera berlari ke arah ujung pantai yang melingkar.


Celina jatuh terduduk di pasir pantai, tubuhnya lunglai kakinya terasa berat. Gadis itu menangis menyesali.


"Harusnya aku tidak melepasnya, harusnya aku menggendongnya. Harusnya aku tidak melepasnya sedetik pun" teriak Celina sambil menangis.


"Tidak sayang, dia akan baik-baik saja. Putri kita pasti baik-baik saja" ucap Raffa.


"Apa Kakak tidak merasa kalau Natasha membenci kita? Dan bisa saja dia melampiaskan kebenciannya pada Aurora" ucap Celina sambil menangis.


Raffa memeluk istrinya, dia sendiri merasa sangat menyesal. Menganggap masalah antara dirinya dan Natasha selesai begitu saja. Namun, Raffa tidak ingin membayangkan hal buruk karena itu akan membuatnya lebih menyesal.


Raffa mengajak Celina untuk kembali berjalan menyusuri pantai. Kevin dan David telah berjalan lebih dulu hingga menghilang di balik garis pantai yang melingkar. Tak lama kemudian terlihat mereka berteriak memanggil, Celina dan Raffa langsung berlari mengejar.


Sesampai di sana terlihat Natasha yang duduk sambil memegang pergelangan kakinya dan Aurora sedang merangkak di pasir pantai. Celina langsung menggendong putrinya dan memeluknya erat. Raffa menghampiri Natasha yang sedang diperiksa oleh David.


"Sepertinya tidak apa-apa" ucap David.


"Ada apa?" tanya Raffa.


"Natasha bilang kakinya keseleo" ucap Kevin.

__ADS_1


"Apa terasa sakit?" tanya Raffa.


Natasha mengangguk.


"Maaf kak, aku terlalu asyik berjalan-jalan bersama Aurora hingga sampai ke sini" ucap Natasha.


"Sepertinya tidak apa-apa, mungkin hanya keseleo sedikit" ucap David.


Celina hanya diam melihat sikap Natasha, entah mengapa Celina merasa tidak percaya pada gadis itu. Raffa menghampiri istrinya dan menyapa putri.


"Sayang papa tidak apa-apa kan?" tanya Raffa pada Aurora.


"Bagaimana keadaannya kak?" tanya Celina sambil terus memeluk Aurora.


"Natasha bilang kakinya sakit karena keseleo tapi David bilang tidak apa-apa" ucap Raffa.


"Lalu?" tanya Celina.


"Kita bawa dan obati dia di Villa, mungkin di kompres dengan air dingin akan membaik" ucap Raffa.


Mereka memapah Natasha untuk berdiri tapi gadis itu meringis kesakitan. David dan Kevin saling menatap bingung.


"Aku akan menggendongnya" ucap Raffa.


Laki-laki itu langsung menggendong Natasha dan mereka pun berjalan kembali ke Villa. Celina menatap Natasha yang tak lepas memandang suaminya.


Benarkah dia kesakitan atau hanya ingin digendong oleh kak Raffa, batin Celina.


Saat sampai di Villa Ny. Rowenna sangat terkejut melihat Raffa yang menggendong Natasha.


"Kamu kenapa Natasha, apa yang terjadi?" tanya Rowenna.


"Terjatuh Tante waktu jalan-jalan bersama Aurora" ucap Natasha yang dibaringkan di sofa oleh Raffa.


Ny. Rowenna menyuruh Raffa mengambil obat oles untuk keseleo. Raffa mencarikan di kotak P3K dan menyerahkannya pada Ny. Rowenna. Setelah itu Raffa menemui istrinya yang menggendong putrinya.


"Sini putri Papa, biar Papa yang gendong" ucap Raffa.


"Nggak usah Kak, Kakak juga pasti pegal habis gendong Natasha" ucap Celina.


Raffa merengut, menatap istrinya.


"Ada apa? Kenapa menatap seperti itu?" tanya Celina.


"Kamu cemburu ya?" tanya Raffa.


Celina langsung pergi keluar dari Villa dan duduk di halaman belakang, Raffa mengikuti. Natasha memandang Raffa yang mengikuti istrinya keluar. Semua berkumpul di dalam menanyakan keadaan Natasha. Celina tidak bisa menunjukkan rasa simpatinya pada gadis itu, dia memilih untuk duduk di halaman belakang.


Setelah beberapa lama situasi kembali seperti semula. Saat menjelang malam, meraka kembali makan bersama di halaman belakang. Celina tidak pernah sekali pun melepas Aurora pada siapa pun. Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang tengah sambil berbincang-bincang hingga larut malam.


Ny. Rowenna dan Tn. Robby telah lebih dulu masuk ke kamar mereka sementara yang lainnya masih berbincang-bincang. Saat malam semakin larut satu persatu masuk ke kamar. Sementara ada yang memilih tidur di sofa dan karpet tebal di ruang tengah. Ozora dan pamannya tidur di karpet setelah pertandingan catur mereka berakhir.


Raffa terbangun saat melihat ponselnya bergetar, laki-laki itu melihat pesan yang tertulis di sana.


~ Lebih baik di telan lautan dari pada tidak bisa memilikimu ~


Raffa terduduk, pengirim pesan itu adalah Natasha. Segera laki-laki itu bangun dan melihat melalui jendela. Natasha melepas semua yang melekat di tubuhnya dan berjalan ke tengah laut. Raffa keluar dari Villa dan berlari sekencang-kencangnya menuju pantai.


Melihat pakaian Natasha yang tergeletak, Raffa menoleh ke arah lautan dan melihat gadis itu yang mulai tenggelam. Raffa langsung menceburkan diri dan menyelamatkan Natasha. Raffa menggendong gadis itu dan memeriksanya. Raffa kaget saat melihat Natasha sudah tidak bernafas.


Segera laki-laki itu melakukan pertolongan dengan melakukan CPR, memberikan nafas buatan sebanyak dua kali, melihat ke arah dada Natasha yang belum juga naik. Raffa kembali memberikan nafas buatan sebanyak dua kali.


Namun dada gadis itu masih belum naik, Raffa segera melakukan kompresi sebanyak tiga puluh kali. Dengan menekan dada gadis itu lalu meniupkan nafas dua kali. Menekan lagi sebanyak tiga puluh kali, lalu meniupkan nafas lagi sebanyak dua kali.


Berulangkali, menekan lagi, meniup lagi, menekan lagi, meniup lagi hingga akhirnya gadis itu terbatuk-batuk. Gadis itu membuka matanya dan langsung menarik Raffa dan memeluknya.


Celina yang terbangun karena merasa mendengar sesuatu langsung melihat ke jendela, segera berlari menyusul suaminya. Menggelengkan kepalanya saat melihat Natasha yang polos tanpa mengenakan apa pun memeluk dan mencium bibir Raffa.


...~ Bersambung ~...


Dear,


Penulis dan Pembaca Setia Noveltoon.


Mohon dukungannya untuk karya lombaku dalam event Lomba Menulis Berbagi Cinta yang berjudul :


...BERBAGI CINTA - SUAMI YANG DINGIN...


Like, vote, Comment, Favorit, Rate dan segala bentuk dukungan apa saja sangat berarti bagi saya, yang akan menjadi penyemangat bagi saya dalam berkarya.


Terus beri dukungannya ya, terima kasih.


^^^Salam hormat,^^^


^^^Author^^^


^^^Alitha Fransisca^^^

__ADS_1


__ADS_2