Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 104 ~ Kejadian Lama yang Terkuak ~


__ADS_3

Olivia yang termenung seorang diri dibujuk oleh Celina hingga akhirnya gadis itu bersedia kembali masuk ke ruangan pesta. Terdengar lantunan lagu yang lembut mengalun. Segera Olivia dan Celina saling berpandangan lalu tersenyum, segera mereka mempercepat langkah untuk menyaksikan acara apa yang sedang berlangsung. Namun, langkah gadis itu terhenti, senyum dibibirnya pun menghilang saat melihat Ozora dan Tita yang sedang berdansa.


Tita terlihat sangat cantik, tersenyum menatap lurus ke mata Ozora. Anak laki-laki tampan itu pun tersenyum sambil terus mengayunkan kakinya ke sana kemari. Begitu lincah seolah-olah tak perlu lagi memikirkan langkah yang harus diambilnya. Olivia pun tertunduk, Celina langsung menepuk punggung gadis itu memintanya untuk bergabung dengan yang lainnya.


Ada banyak anak yang bisa diajak ikut berdansa tetapi Olivia bukan tipe gadis yang berani dan berinisiatif untuk mengajak. Sementara anak laki-laki lain pun tak ada yang berani mengajaknya berdansa.


"Ayo sini, dansa sama Papa," ajak Raffa langsung menarik tangan Olivia ke tengah lantai dansa.


Olivia tersenyum lalu mengikuti Raffa yang membawanya ke tengah ruangan yang luas itu. Begitu sampai di sana Raffa melepas tangan Olivia lalu membungkuk hormat. Olivia pun membalasnya, gadis itu bersikap seperti seorang gadis bangsawan. Semua itu berkat Celina yang mendaftarkan Olivia dalam kelas kepribadian sejak kecil untuk meningkatkan rasa percaya dirinya.


Teringat apa yang dikatakan Raffa saat mereka masih belum bisa memejamkan mata meski telah larut malam. Wanita itu tak bisa tidur memikirkan Olivia yang terlihat memiliki kepribadian introvert. Sehari-hari mengamati tingkah laku anak gadis yang telah tinggal lama bersamanya itu.


"Dia harus diajarkan cara bergaul agar tak semakin rendah diri. Aku pikir dia merasa diabaikan oleh ibunya. Merasa jadi anak yang dibuang oleh orang tuanya. Kalau kamu khawatir daftarkan dia di kelas kepribadian. Olivia anak yang cerdas, dia pasti bisa mengikuti pelatihan. Kelas kepribadian mengajarkan banyak hal yang diterapkan sehari-hari, terutama cara bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain, baik dalam kehidupan personal maupun dunia pekerjaan nanti," jelas Raffa sambil mengecup bibir istrinya berkali-kali.


"Kalau cara Kakak menjelaskannya seperti ini, aku rasa aku belum mengerti," ucap Celina.


Raffa tertawa, laki-laki itu justru berhenti menjelaskan dan malah semakin fokus mencumbu istrinya. Membenamkan bibirnya ke bibir manis wanita cantik itu. Menyesap kuat manis bibir beraroma vanilla itu seperti orang yang kehausan. Pelepasan hasratnya yang telah memuncak menjadi akhir pembicaraan mereka.


Selagi wanita cantik itu bangun, Raffa tak akan berhenti mengecupnya. Bibir, leher, punggung, bahu, apa saja, hingga berakhir dengan nafas yang tersengal-sengal dengan tubuh yang telah berbagi peluh. Terlihat letih, tetapi bibir mereka tersenyum.


Kini Celina menatap Raffa yang berdansa dengan Olivia. Hasil dari usaha Olivia mengikuti kelas kepribadian itu telah terbukti. Terlihat remaja cantik itu telah hanyut dalam alunan irama. Tersenyum begitu manisnya sambil mengikuti irama dalam setiap gerak dansanya. Olivia, cantik seperti Cinderella yang sedang menghadiri pesta dansa.


Tak lama kemudian, lantunan itu berakhir berganti dengan irama yang lain. Ozora melangkah menghampiri Raffa dan Olivia setelah membungkuk hormat pada pasangan dansanya. Remaja tampan itu menepuk lembut bahu ayahnya, pertanda meminta izin untuk berdansa dengan Olivia. Sambil tersenyum, Raffa pun mempersilakan.


"Aku cemburu," ucap Celina saat Raffa kembali ke sisinya dan langsung merangkul pinggang wanita cantik itu. Laki-laki yang menjadi suaminya itu pun tertawa.


"Cemburu pada anak sendiri?" tanya Raffa yang telah menganggap Olivia seperti putri kandungnya sendiri, sama seperti Aurora.


"Habisnya papanya tampan sekali," jawab Celina.

__ADS_1


"Ya benar juga, tapi harus bagaimana lagi. Papa yang tampan ini sudah ada yang punya," ucap Raffa sambil tersenyum lalu menyatukan kening mereka.


Celina pun tersenyum, sambil menangkup wajah suaminya. Wanita itu telah melalui segala macam ujian untuk mempertahankan cintanya pada Raffa. Begitu pun sebaliknya, laki-laki itu bahkan harus bersaing dengan sahabatnya sendiri. Mengingat itu, tak akan ada sedikit pun terpikirkan oleh mereka untuk berpaling ke lain hati. Keduanya sama-sama bersyukur atas apa yang telah mereka miliki.


"Lihatlah! Ozora harus terkena pancingan dulu baru mendekati Olivia. Tapi ... Olivia tak sehebat Celina--"


"Kenapa aku? Apa hubungannya denganku?" tanya Celina langsung tertawa.


"Ya, Olivia itu harus pakai pancingan agar muncul ke permukaan tapi kalau Celina, tak perlu muncul, orang-orang yang mengejarnya. Kalau perlu hingga ke dasar laut yang paling dalam," jawab Raffa sambil tertawa.


"Jadi Celina ini jenis ikan perairan laut dalam?" tanya Celina sambil tersenyum.


Raffa tertawa karena terhanyut dengan analoginya sendiri. Mereka kembali menoleh ke arah Ozora dan Olivia yang telah berdansa sambil berbincang. Raut wajah Olivia terlihat sangat senang. Raffa dan Celina saling berpandangan dan tersenyum.


"Ayo kita duduk! Tugas pemancing sudah selesai," ucap Raffa.


Celina tertawa mengikuti suaminya yang menggandeng tangannya mencari tempat duduk. Mereka memilih untuk bergabung bersama dengan para sahabat. Bayi yang tadi diserahkannya pada Kevin kini dipangkunya kembali.


"Kalau aku setuju saja. Aku cuma investor. Yang mengelolanya kan dia, masih sanggup atau nggak?" tanya Raffa sambil tersenyum menggoda istrinya.


Celina menggelengkan kepalanya dengan sebelah tangannya juga ikut melambai. Kevin dan Keira tertawa melihat sahabatnya itu seperti tak kuat lagi menambah anggota keluarganya. Kevin kembali meledek Celina.


"Mommy, ingin rumahnya ramai, kalau cuma dua orang ditambah dengan Olivia, sepertinya masih sangat sepi," ujar Kevin.


"Anak-anak saja yang akan meramaikannya nanti. Masing-masing minimal empat atau lima anak," jawab Celina penuh percaya diri.


Kevin dan yang lain tertawa, tak percaya Celina bisa memaksakan kehendaknya pada putra-putri mereka. Keira pun berpikiran sama, mengingat Celina adalah seorang yang menjunjung kebebasan berpendapat. Begitu putra putri mereka menolak, Celina tak akan bisa bicara apa-apa lagi.


Sementara itu, Ozora terlihat mengajak Olivia duduk di sofa. Laki-laki itupun menawarkan Olivia untuk diambilkan minuman. Remaja tampan itupun beranjak untuk mengambilkan minuman yang diinginkan gadis itu. Tiba-tiba Tita datang mendekati Olivia dan menyapanya.

__ADS_1


"Apa kabar Livia? Sudah lama ya kita tidak berjumpa. Kalau bukan karena acara ini mungkin kita tak akan bertemu lagi," ucap Tita.


"Ya, kita sibuk dengan kegiatan masing-masing," jawab Olivia mengiyakan.


"Kalau aku tahu kamu masih tinggal di rumah Mama Celina, aku akan sering main ke sana," ucap Tita.


Olivia langsung menunduk. Ucapan Tita seolah-olah mengingatkan kalau dirinya adalah seorang anak yang menumpang di rumah itu. Matanya pun langsung berkaca-kaca.


"Ya, aku masih bersama Mama Celina. Mommy belum menjemputku. Mama juga tidak beritahu di mana posisi Mommy sekarang," jawab Olivia.


"Mommy kamu kan seorang artis, masa tak bisa mencari jejaknya?" tanya Tita.


"Aku dilarang Mama mengikuti berita infotainment atau berita dunia hiburan. Mama bilang itu tidak baik. Itu hanya akan ingatkan aku pada Mommy. Mommy juga belum tentu dalam kondisi bisa menemuiku karena kesibukannya," jawab Olivia.


"Kapan terakhir kamu minta izin Mama Celina mencari jejak ibumu?" tanya Tita.


"Saat masih SD," jawab Olivia.


"Kamu terlalu patuh, sudah selama itu masih saja ikuti ucapan Mama Celina. Kalau masih kecil mungkin tak bisa mencari jejaknya dan butuh Mama Celina. Kalau sudah sebesar ini, masih tak bisa. Kalau aku, pasti sudah aku cari tahu sendiri," ucap Tita.


"Aku bukannya tak bisa, tapi takut Mama Celina marah ... maksudku sedih. Mama Celina pernah bilang, kalau aku selalu ingat ibuku, artinya Mama Celina kurang baik menjagaku. Seolah-olah apa yang diberikannya, kasih sayangnya, masih belum cukup untukku hingga masih berpikir untuk mencari Mommy-ku. Aku jelas tak ingin Mama Celina bersedih," jelas Olivia.


"Kamu ini terlalu patuh. Mencari Mommy-mu bukan berarti meninggalkan Mama Celina kan?" tanya Tita.


Olivia menggelengkan kepalanya. Tita langsung mengajak gadis itu mencari tahu tentang ibu kandung Olivia. Bersama mereka mencari tahu tentang keberadaan Felicia. Tita bertanya nama panggung ibu kandung gadis yang sedang berulang tahun itu lalu mulai membaca satu persatu berita tentang Felicia.


Olivia menyebutkan nama panggung ibunya dan Tita yang mencari informasi di ponselnya. Tita sama seperti ibunya sangat penasaran dengan dunia model dan entertainment. Begitu menemukannya, mereka terbelalak tak percaya dengan berita yang telah diposting beberapa tahun yang lalu itu.


Mata Olivia yang tadinya terbelalak, kini meneteskan butiran bening itu ke pipinya. Air mata Olivia pun langsung berderai. Gadis itu sontak berlari meninggalkan Tita. Sementara Ozora yang baru datang hanya bisa menatap dengan raut wajah heran. Melihat Olivia yang menangis meninggalkan sofa tempat duduknya dan berlari ke lantai atas villa.

__ADS_1


...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...


__ADS_2