
Celina mendapat penanganan dari dokter bedah Caesar selama 50 menit. Ditandai dengan matinya lampu indikator ruang operasi, tugas dokter dan tim medis di ruangan itu telah selesai. Tinggal hasilnya yang harus mereka sampaikan.
Raffa tak mampu berdiri untuk mendengar penjelasan dokter. Saking takutnya mendengar penjelasan dokter dia malah duduk tertunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Air matanya mengalir, bibirnya bergetar.
Kevin tampil untuk mendengarkan penjelasan dokter, bagaimanapun juga harus ada seseorang yang bisa ditemui dokter. Sementara Keira hanya berdiri bersandar di dinding sambil menggigiti kukunya. Gadis itu juga tidak sanggup mendengar penjelasan dokter setiap kali teringat darah yang mengalir di sela kaki Celina.
"Bagaimana keadaan ibu dan bayinya dokter?" tanya Kevin yang memberanikan diri bertanya.
"Keadaan si ibu masih sangat lemah, kondisinya masih sangat mengkhawatirkan. Sementara bayinya.."
Dokter berhenti bicara, Kevin panik menunggu penjelasan selanjutnya. Raffa yang tadinya terkesan mengelak akhirnya berdiri sambil menangis. Memberanikan diri untuk bertanya.
"Bagaimana dengan anak saya dokter? bagaimana keadaannya? apa dia bisa selamat?" tanya Raffa yang mulai pesimis mendengar dokter itu berhenti bicara.
"Saat kami mengangkat bayi dari rahim ibunya. Bayi itu sudah tidak bernapas" ucap dokter.
Raffa terhuyung, Kevin menahan tubuh Raffa. Keira langsung menangis dan menggelengkan kepala tanda tidak percaya.
"Kami tidak tahu sudah berapa lama bayi itu tidak bernapas tapi kami tetap berusaha untuk mengembalikannya. Bayi itu akhirnya berhasil bangun kembali" ucap dokter.
Mendengar itu Raffa kembali bangkit mendengarkan penjelasan dokter. Seperti kembali memiliki kekuatan Raffa dan Keira bahkan berdiri mendekati dokter itu.
"Yang kami khawatir jika bayi terlalu lama tidak bernapas maka bayi bisa mengalami hipoksia serebral atau disebut juga dengan kekurangan pasokan oksigen ke otak. Jika pasokan oksigen terputus selama 5 menit atau lebih itu bisa membuat sel-sel otak mati, kemungkinan bayi akan mengalami cedera otak" jelas dokter dengan wajah prihatin.
"Apa yang akan terjadi dokter, jika keadaannya seperti itu apa yang akan terjadi?" tanya Raffa dengan wajah yang kembali panik.
"Kami masih harus mengamati perkembangan bayi, mungkin harus melibatkan dokter spesialis anak dan dokter saraf atau neurologis" jelas dokter itu lagi.
"Neurolgis?" tanya Kevin.
"Ya, Neurolgis adalah dokter spesialis yang biasa mendiagnosis dan mengobati masalah yang berkaitan dengan otak dan sistem saraf" ucap dokter itu.
"Kenapa seperti itu dokter? kenapa harus melibatkan seorang Neurologis?" tanya Kevin.
"Karena kita tidak tahu seberapa besar dampak cedera otak pada bayi dan jika memang berdampak buruk kita bisa berkonsultasi dengannya bagaimana cara mengatasinya. Sedapat mungkin kita mengantisipasi kemungkinan terburuk, itu lebih baik daripada kita lengah yang akan berdampak pada perkembangan bayi hingga dewasa nanti" ucap dokter itu.
"Apa itu akan mempengaruhi kecerdasannya?" tanya Kevin.
"Tentu bisa, tapi yang lebih tepat menjelaskan mengenai hal itu adalah dokter Neurolgis itu" ucap dokter lagi.
"Bagaimana dengan fisiknya dokter apakah baik-baik saja?" tanya Raffa.
"Secara fisik normal dan sehat hanya saja sekarang masih lemah" ucap dokter menjelaskan.
Satu-satunya penjelasan yang membuat mereka lega.
"Apa jenis kelaminnya dokter?" tanya Keira tiba-tiba.
"Perempuan dan sangat cantik. Bapak dan ibu bisa melihatnya di ruang perawatan bayi. Hanya saja belum boleh di gendong" jawab dokter sambil tersenyum.
Senyum dokter itu melegakan hati mereka, masih ada kabar baik yang mereka terima. Bergegas Keira mencari ruang perawatan bayi. Meski hanya bisa melihat dari kaca besar, gadis itu bersyukur saat seorang suster menunjuk bayi merah yang masih dalam inkubator itu sebagai bayi Celina.
Keira tertawa sambil menitikkan air mata, sangat bersemangat untuk melihat saat ada pergerakan dari bayi mungil itu.
Celina cepatlah sadar, cepatlah sehat, lihatlah bayimu, sangat cantik. Aku gemas ingin menggigitnya, cepatlah bangun kita rawat bayimu bersama-sama, jerit hati Keira.
Kembali tertawa saat melihat tangan bayi itu bergerak-gerak. Raffa dan Kevin berdiri di samping Keira. Gadis itu langsung menunjuk pada bayi, Raffa memandang bayi itu dengan tersenyum, dalam hatinya apa pun akan dilakukannya untuk kebaikan putri kecilnya itu.
"Lihatlah Raffa itu putrimu, cantik sekali bukan? dia sangat nakal dari tadi bergerak terus" ucap Keira.
"Benarkah? apa itu baik? kenapa dia tidak tidur?" tanya Raffa bertubi-tubi.
"Entahlah, dia seperti tidur tapi sebentar-sebentar bergerak seperti menggeliat dia seperti ingin segera tumbuh besar" ucap Keira sambil tertawa.
Kevin merangkul tubuh istrinya sambil tersenyum. Ikut memandangi putri Raffa dan mengagumi kecantikan makhluk yang baru hadir ke muka bumi itu.
"Kapan kita bisa menjenguk Celina?" tanya Keira pada Raffa.
"Saat ini Celina masih di ruang intensif, seperti dulu kita hanya bisa melihatnya dari balik kaca seperti ini" ucap Raffa.
"Tidak apa-apa, yang penting keadaan mereka berdua semakin membaik. Kita akan bersabar menunggu mereka" ucap Keira sambil menatap prihatin pada Raffa.
Kevin mengajak Keira untuk melihat Celina, meski enggan karena masih ingin menatap bayi itu. Namun, akhirnya Keira menurut juga untuk bersama-sama menuju ruang perawatan intensif Celina. Di sana berdiri Marissa yang menatap Celina dengan wajah menyesal.
"Apa yang kamu lakukan di sini? puas melihat hasil perbuatanmu?" ucap Keira begitu sampai di dekat Marissa.
"Sayang, jangan begitu. Aku rasa dia sudah menyesal sekarang" ucap Kevin sedikit berbisik.
"Setelah apa yang dilakukannya padamu, apa kamu masih membencinya? apa masih menyimpan niat buruk padanya?" tanya Raffa pada Marissa.
__ADS_1
"Aku memang bukan orang baik tapi juga tidak sejahat itu. Dia telah menyelamatkanku tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri dan bayinya. Aku tidak ada di sini jika dia tidak menolongku. Aku melihat sendiri dia kesakitan saat mempertahankanku. Dia pasti sudah menyerah jika bukan demi menolongku. Bagaimana mungkin aku membalas kebaikannya dengan niat buruk padanya. Raffa, kamu mendapatkan wanita yang terbaik, belum pernah aku menemukan orang seperti dirinya" ucap Marissa sambil menangis.
Raffa tersenyum lalu tertunduk, air matanya menetes.
"Celina memang tidak pernah mau meninggalkan orang meski itu membahayakan dirinya sendiri" jawab Raffa kembali teringat saat Celina yang tidak mau meninggalkan Raffa saat bertarung melawan berandalan yang mengganggu gadis itu.
Tiba-tiba ponsel Raffa bergetar, Raffa menatap layar ponsel. Nama kontak ibunya tampil di situ, segera Raffa menerima panggilan telepon itu.
"Kalian ada dimana sih kenapa menghilang semua?" tanya Rowenna.
"Celina telah melahirkan mommy" jawab Raffa.
"A..apa? sudah melahirkan? kenapa tidak memberitahu mommy? ngapain mommy cuma duduk-duduk di sini harusnya mommy menemaninya" ucap Rowenna menyesal karena Raffa tidak segera memberitahunya.
"Maaf mommy, itu karena kami semua panik, aku lupa memberitahu mommy" ucap Raffa sambil menahan tangisnya.
"Baiklah kalau begitu berikan ponselmu padanya, mommy ingin bicara dengannya" ucap Rowenna ingin langsung mengucapkan selamat atas kelahiran bayinya.
"Belum bisa mommy, Celina masih tidak sadarkan diri" ucap Raffa tak kuasa lagi menahan tangisnya.
"Apa? dia? kenapa bisa seperti itu? apa yang terjadi?" ucap Rowenna.
Tak lagi mendengar jawaban Raffa, tangannya lunglai diatas pangkuannya tak cukup kuat untuk sekedar mengangkat ponselnya.
"Ada apa sayang?" tanya Robby.
"Celina, dia telah melahirkan tapi saat ini tidak sadarkan diri" ucap Rowenna sambil menangis.
"Ayo kita jenguk Celina, jangan menangis di sini sayang" ucap Robby sambil memapah istri keluar dari ballroom pesta pernikahan Alyssa.
Ny. Rowenna menangis saat melihat Celina yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Ny. Rowenna bertanya apa yang telah terjadi, tapi tak satu pun di sana yang bersedia menjelaskannya hingga akhirnya Marissa tampil untuk memberikan penjelasan kejadian yang menimpa Celina dan dirinya.
Ny. Rowenna terperangah mendengar cerita Marissa, jika tidak mengingat di rumah sakit nyonya itu pasti sudah memaki-maki wanita itu. Tapi, karena Marissa menangis dan menyesali perbuatannya Ny. Rowenna akhirnya menahan diri untuk tidak menuntut Marissa.
"Berdo'alah agar dia baik-baik saja, berdo'alah agar dia segera bangun, sehat dan selamat, karena kalau tidak, aku akan menuntutmu. Aku akan kirim kamu ke penjara, mengerti kamu" teriak Rowenna masih berusaha menahan diri.
Marissa tertunduk mendengar ancaman Ny. Rowenna. Sifat garang nyonya besar itu kembali terlihat. Namun, itu semua karena rasa sayangnya pada menantu satu-satunya itu.
"Sudahlah sayang, tenanglah, dia telah menyesali kesalahannya" bujuk Robby sambil mengajak istrinya duduk di kursi tunggu.
Ozora yang ikut datang bersama Ny. Rowenna, duduk di samping papanya. Keira mengajak anak itu melihat adiknya. Anak tampan itu tersenyum saat melihat adiknya yang kadang bergerak menggeliat.
"Kalau adek udah lebih sehat dan kuat" jawab Keira.
Ozora mengangguk lalu kembali memandang adiknya, sesekali anak itu tersenyum manis sekali
"Adek, cepat sehat ya" bisik Ozora.
Keira memandang sedih pada anak itu, saat ini ibunya masih berjuang mempertahankan hidupnya. Sementara adiknya masih perlu pengawasan. Keira memeluk Ozora, anak itu membalas pelukannya.
"Auntie jangan sedih, mama dan adek akan baik-baik aja" ucap Ozora masih memeluk Keira.
Keira mengangguk, mereka pun kembali ke ruang tunggu pasien rawat intensif. Ozora berdiri di depan kaca pembatas ruangan. Tak lama kemudian anak itu tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Keira menatap ke arah pandangan mata Ozora, terlihat Celina yang melambaikan tangan sambil tersenyum. Meski lambaian tangan yang lemah namun jelas terlihat kalau Celina telah sadar. Keira tercengang dan langsung berdiri.
"Celina telah sadar" teriak Keira sambil menunjuk ke dalam ruangan.
Semua yang menunggu di situ langsung menoleh ke arah Celina. Raffa mengucap syukur dan berdiri di depan kaca pembatas itu sambil menggendong Ozora. Mereka melambaikan tangan pada orang tercinta itu. Celina tersenyum membalas sambil menitikkan air mata, terlihat tatapan rindu pada mereka-mereka yang berdiri di balik kaca itu.
Kevin segera memberitahukan paramedis mengenai kondisi Celina yang telah sadar. Paramedis langsung berlari menuju ruang intensif Celina, mereka langsung melakukan pemeriksaan fisik tanda vital yang merupakan pengukuran fungsi tubuh yang paling mendasar.
Mereka memeriksa empat tanda vital utama yang meliputi suhu tubuh, denyut nadi, laju pernapasan, dan tekanan darah.
Semua berkumpul menatap di depan pembatas kaca, Ny. Rowenna tidak sabar ingin segera menemui Celina. Ibu mertuanya itu langsung melambaikan tangannya pada gadis itu, Celina tersenyum.
Petugas medis menyampaikan pada keluarga pasien bahwa kondisi Celina telah stabil, tinggal menjalani masa penyembuhan Celina di minta mengurangi aktivitas agar luka bekas operasinya segera sembuh.
"Kondisi pasien telah stabil, sore ini pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap" ucap dokter yang memeriksa.
Semua bersyukur mendengar penjelasan dokter, tak berapa lama kemudian Celina di pindahkan ke ruang rawat inap. Celina menyentuh perutnya, gadis itu baru teringat kalau dirinya sedang hamil, wajah Celina langsung panik.
Celina tidak melihat satu bayi pun di ruangan itu. Celina ingin duduk untuk memastikan.
"Apa yang kamu lakukan? kenapa duduk? kamu belum boleh bergerak" ucap Raffa menghalangi istrinya yang ingin duduk.
"Kak, bayiku.., mana bayiku?" tanya Celina panik.
"Jangan khawatir dia ada diruangan khusus perawatan bayi" ucap Raffa.
__ADS_1
"Benarkah? dia baik-baik saja kan?" tanya Celina masih khawatir.
"Ya, dia baik-baik saja, tapi..," ucapan Raffa terhenti.
"Kenapa kak, apa terjadi sesuatu yang buruk?" tanya Celina mulai menangis.
"Jangan menangis sayang, jangan khawatir, tidak terjadi apa-apa" ucap Raffa.
Semua mendengar pembicaraan Raffa dan Celina, yang lain juga ingin tahu apa yang terjadi terutama Ny. Rowenna.
"Ada apa Raffa, kenapa dengan cucuku?" tanya Rowenna.
"Tadi saat dokter melakukan bedah caesar, bayi sudah tidak bernapas" cerita Raffa.
"Apa..!!!" jerit semua orang yang mendengar penjelasan Raffa.
"Tapi paramedis berhasil membuat bayi itu bernapas lagi hanya saja harus tetap diawasi untuk melihat dampak berhentinya napas bayi kemungkinan bayi mengalami cedera otak" ucap Raffa.
Ny. Rowenna langsung pingsan mendengar itu, nyonya itu tidak sanggup mendengar cerita yang terdengar mengerikan itu. Berbeda dengan Celina, gadis itu tercenung mengingat ucapan Raffa yang mirip dengan penjelasan kenalan yang seorang dokter neurologi dulu.
"Apa kondisi bayi baik-baik saja kak?" tanya Celina setelah memastikan Ny. Rowenna telah ditangani tenaga medis.
"Ya sayang, secara fisik kondisi bayi sehat dan normal" ucap Raffa.
"Kasihan mommy, mendengar ini mommy jadi pingsan" ucap Celina.
"Mommy syok tapi keadaannya baik-baik saja" ucap Raffa yang baru saja melihat keadaan ibunya itu.
"Apa sudah ada penjelasan dari dokter neurologi?" tanya Celina.
"Darimana kamu tahu kalau bayi itu harus ditangani dokter neurologi?" tanya Raffa.
"Tidak apa-apa kak, cuma dokter spesialis yang mendiagnosis masalah yang berkaitan dengan otak dan sistem saraf adalah dokter neurologi bukan?" tanya Celina.
"Benar, kenapa kamu bisa tahu tentang itu?" tanya Raffa.
"Dulu aku punya kenalan seorang Neurologis" jelas Celina.
"Pacarmu?" goda Raffa.
Celina tertawa meski setelah itu dia meringis menahan sakit. Raffa menyesal telah membuat istrinya tertawa. Marissa datang mendekat, wanita yang sejak tadi hanya diam akhirnya ingin mengungkapkan isi hatinya pada Celina.
"Celina, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal atas perbuatanku. Aku berharap semoga bayimu baik-baik saja" ucap Marissa sambil menangis menunduk.
Celina meraih tangan Marissa, wanita itu terkejut melihat respon Celina yang terlihat tidak membencinya.
"Aku maafkan, aku harap kita bisa melupakan masa lalu dan memulai hidup yang lebih baik" ujar Celina.
Marissa mengangguk sambil menangis.
"Terima kasih karena kamu tidak menyerah menolongku meski kamu merasakan sakit" ucap Marissa lagi.
"Jangan dipikirkan itu memang kewajiban kita untuk saling tolong menolong" ucap Celina.
Tangis Marissa semakin menjadi mendengar kebesaran hati Celina. Sementara Celina justru keheranan karena melihat respon Marissa.
"Celina bolehkah aku memelukmu?" tanya Marissa.
Celina mengangguk, segera Marissa memeluk gadis itu. Masih menangis terharu karena tidak menyangka orang yang ingin dicelakainya justru orang yang menyelamatkannya. Setelah puas memeluk Celina, Marissa melepas pelukannya dan menoleh pada Raffa.
"Istrimu memang pantas untuk dipertahankan, tidak ada orang yang sebaik dirinya. Kamu beruntung Raffa karena bisa menikahi Celina. Aku do'akan semoga kalian bahagia selamanya" ucap Marissa.
Raffa mengangguk dan Celina tersenyum berterima kasih atas do'a Marissa. Tak lama kemudian Marissa pamit pulang, Keira mengajak Kevin dan Ozora kembali melihat bayi. Ozora langsung setuju namun Kevin terlihat enggan. Keira langsung menarik tangan suaminya itu dan memberi kode untuk membiarkan Celina dan Raffa berdua saja di ruangan itu.
Raffa langsung menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya. Celina memeluk suaminya erat dan membalas ciuman hangat laki-laki itu.
"Terima kasih karena telah bertahan untuk kami, terima kasih karena telah melahirkan bayi perempuan yang cantik, terima kasih karena memaafkanku" ucap Raffa.
"Apa maksudnya memaafkan kakak?" tanya Celina.
"Karena kamu tidak marah padaku padahal kamu telah dicelakai oleh teman dari masa laluku" ucap Raffa agak ragu-ragu.
"Teman? aku sudah tahu sejauh mana hubungan kalian. Aku rasa itu bukan sekedar teman, kakak berbohong padaku. Aku benci" ucap Celina lalu membalik badan ke arah lain.
"Sayang, dengarkan penjelasanku" ucap Raffa.
Celina diam bahkan menutup kedua telinganya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1