
Olivia kaget saat tak mendapati ibunya di kamar atau di mana pun di rumah itu. Gadis kecil itu pergi mencari-cari dan bertanya pada para pelayan. Hingga menarik perhatian Celina.
"Ada apa sayang?" tanya Celina yang membantu menyiapkan sarapan untuk keluarga besarnya.
Tn. Robby dan Ny. Rowenna yang baru keluar dari kamarnya pun merasa heran mendengar suara anak itu bertanya-tanya.
"Mommy di mana Tante?" tanya Olivia sambil menunduk karena merasa takut telah menimbulkan keributan di rumah itu.
"Livia sudah cari di kamar mandi? Mungkin Mommy sedang mandi," jawab Celina sambil duduk berjongkok mensejajarkan tinggi mereka.
"Sudah Tante tapi Livia tak lihat Mommy," ucap gadis itu dengan wajah yang sedih dan risau.
"Baiklah! Ayo kita cari sama-sama ya, mungkin Mommy sedang jalan-jalan di taman kalau tak ada mungkin Mommy lagi jogging? Mari Tante temani cari Mommy yuk," ajak Celina yang tak tega melihat raut wajah sedih Olivia.
Mereka pun mencari di sekitar kediaman Saltano. Raffa menggeleng-gelengkan kepala melihat istrinya yang sibuk berjalan ke sana kemari mencari di sekitaran rumah sangat luas itu. Hingga akhirnya mereka kembali namun tetap tak menemukan Felicia.
"Dia itu wanita dewasa sayang, bukan anak kecil yang harus dicari-cari," ucap Raffa sambil tersenyum.
Raffa menangkup wajah istrinya yang terlihat ikut risau. Laki-laki itu tak lupa menghadiahkan kecupan di bibir wanita cantik itu.
"Kasihan Livia Kak, dia kehilangan Mommy-nya," bisik Celina.
Raffa tersenyum mengerti lalu menghampiri Olivia.
"Mommy mungkin sedang ada keperluan ke luar. Jangan khawatir ya, sekarang waktunya sarapan dulu setelah itu cari lagi sama Tante Celina, ya!" ucap Raffa pada Olivia.
Gadis kecil yang cantik itu mengangguk, Celina tersenyum menatap gadis kecil yang begitu patuh itu. Mereka pun sarapan bersama, meski masih terlihat risau namun Olivia mengikuti acara sarapan bersama itu dengan begitu patuh.
"Alangkah senangnya kalau kita sarapan seramai ini terus ya Dad?" tanya Rowenna.
"Ya, karena Edward dan Ozora belum kembali ke New York. Kalau mereka sudah kembali, kita akan sepi lagi. Satu-satunya harapan kalau Aurora sudah tumbuh besar, dan Allena punya anak lagi, barulah kita benar-benar ramai," jawab Robby sambil tersenyum.
Raffa tersenyum menoleh pada istrinya. Celina membalas senyum suaminya dengan pipi yang memerah, Raffa tertawa. Ozora mengacungkan jempolnya.
"Jangan minta adik perempuan lagi. Kamu benar-benar ingin jadi pangeran sendirian?" tanya Robby lalu tertawa.
"Ya dong Grandpa, biar nggak ada saingan. Ozora jadi cowok ganteng sendiri," jawab Ozora sambil tersenyum menyantap sarapannya.
__ADS_1
"Jadi Papamu dan para Uncle-mu ini nggak cowok-cowok ganteng?" tanya Edward.
"Oh, kalau cowok ganteng itu, cuma Ozora! Kalau Papa dan para Uncle itu bapak-bapak ganteng," jawabnya Ozora sambil tertawa.
Semua pun ikut tertawa, Olivia tersenyum mendengar gurauan Ozora. Sekilas gadis kecil yang cantik itu melupakan kerisauan hatinya. Sarapan bersama keluarga saat berkumpul selalu diselingi canda dan tawa. Membuat Ny. Rowenna, Tn. Robby dan Celina berpikir sedih jika Ozora dan Kakaknya Edward kembali ke New York. Namun Celina pasrah karena semua itu demi masa depan Ozora sendiri.
Setelah sarapan bersama, Celina mengantar suaminya berangkat kerja hingga ke depan rumah. Setelah mencium kening istrinya dan sekilas mengecup bibirnya, Raffa melajukan mobilnya hingga menghilang di balik gerbang pagar tinggi kediaman keluarga Saltano.
Celina pun kembali membantu Olivia mencari ibunya hingga akhirnya Celina menemukan sepucuk surat yang dilipat dengan lipatan origami dengan tulisan tangan Felicia sendiri. Dengan rasa penasaran yang memuncak, Celina segera membuka lembaran kertas yang dilipat rapi dan ditaruh di atas meja di kamar tamu itu.
Dear Celina.
Sebelumnya aku minta maaf atas perbuatanku yang tiba-tiba kembali hadir dalam hidupmu.
Kembali hadir? Apa maksudnya? tanya Celina dalam hati.
Kamu pasti heran dengan ucapanku, aku tidak salah tulis Celina, itu benar. Aku pernah hadir dalam hidupmu sekali dan itu terjadi di masa lalu. Saat kita masih sama-sama menjadi mahasiswa. Kamu tak ingat padaku, tentu saja karena kamu sibuk, aku sibuk. Kita sama-sama sibuk untuk membiayai hidup kita. Namun, dengan jalan yang berbeda. Kamu pasti heran kenapa aku bisa mengenalmu? Kamu ingat kejadian di kelas di mana mahasiswa-mahasiswa itu membullymu hingga akhirnya kamu jatuh pingsan dan ditolong Alyssa? Aku ada di situ. Tapi hanya diam memandangmu, sama sekali tak menolongmu. Bahkan di hatiku ada rasa syukur kamu lah yang di perlakukan seperti itu, bukan aku. Aku jahat bukan?
Aku ingat kamu dinilai sebagai wanita penghibur oleh mereka. Aku hanya bisa tertawa di dalam hati. Gadis baik-baik sepertimu mendapat cap sebagai wanita rusak. Sementara aku yang sungguh telah rusak justru menonton pertunjukan orang-orang menuduhmu sebagai mahasiswi yang tak bermoral.
Tapi semua telah terlanjur, menyesal pun tak ada gunanya. Dan salah satu bentuk penyesalan itu adalah Olivia. Aku tak tahu siapa ayahnya, aku hanya berpura-pura tahu padanya. Aku sayang padanya tapi aku lebih sayang pada diriku sendiri. Aku terpaksa meninggalkannya karena kekasih baruku tak inginkan seorang anak dalam hubungan kami. Untuk itu aku minta tolong padamu, jagalah dia. Terimalah dia dan perlakukanlah dia seperti putrimu sendiri.
Karena Olivia adalah anak yang kasihan. Ayahnya tak menyadari kehadirannya. Sementara ibunya, hanyalah seorang egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Aku telah melihatmu di toko sebelumnya. Kamu menyukai anak-anak. Kamu menyayangi anak-anak dan kamu juga disayangi anak-anak. Suamimu hanyalah jembatan untuk menghubungkan kita. Aku telah mengenalmu dengan telah beberapa hari ini. Aku melihatmu sebagai gadis yang baik saat kita masih kuliah.
Dan beberapa hari ini aku sudah membuktikan kebaikan hatimu. Kamu selalu memperlakukan putriku dengan sangat baik dan hatiku tenang melihatnya. Karena itu tolong sayangi Olivia seperti kemarin-kemarin meski hari ini kamu tahu, Olivia dilahirkan oleh wanita seperti aku. Dan tolong maafkanlah aku.
^^^Teman yang tak dikenal,^^^
^^^Felicia alias Nirmala Sari^^^
Nirmala Sari? Oh, ternyata, gadis berpenampilan culun itu. Yang memakai kacamata dan selalu menuduk itu? Aku pernah menyapanya satu kali tapi dia menghindar. Karena itu, aku pikir dia tidak mau berteman denganku. Ternyata dia seorang artis? Saat di layar kaca dia mungkin berpenampilan berbeda hingga para mahasiswa tidak ada yang mengenalinya.
Celina melipat kembali surat yang telah dibacanya lalu menoleh ke arah Olivia. Wanita itu membelai dagu gadis kecil yang cantik itu. Terlihat anak itu begitu penasaran ingin mengetahui isi suratnya.
"Mulai sekarang, Olivia tinggal di sini untuk seterusnya. Karena Mommy harus pergi untuk menyelesaikan urusan-urusannya yang sangat banyak," ucap Celina sambil duduk mensejajarkan tubuhnya dengan Olivia.
"Kenapa Mommy, tinggalin Livia Tante?" tanya Olivia.
__ADS_1
"Karena pekerjaan Mommy tidak cocok dengan anak kecil yang cerdas seperti Livia. Sering meninggalkan sekolah karena ikut Mommy shooting ke mana-mana. Karena itu, Livia tinggal di sini dan kembali bersekolah ..."
"Kembali sekolah?" tanya Olivia dengan mata yang berbinar-binar.
"Ya, Livia mau Tante daftarkan sekolah yang baru?" tanya Celina.
"Mau Tante," ucap Livia langsung.
"Kalau begitu, sebelum kita mendaftarkan Livia. Livia belajar dulu agar bisa diterima di sekolah yang bagus. Livia mau belajar sama Tante atau sama Ozora?" tanya Celina.
"Sama siapa aja Tante, Livia mau belajar dengan siapa aja," ucapnya lagi.
Begitu senangnya Olivia hingga tanpa sadar memeluk Celina. Wanita itu langsung membalas pelukan Olivia. Celina senang gadis kecil itu segera melupakan kesedihan ditinggal ibunya. Gadis kecil itu terdiam memeluk Celina beberapa saat, lalu merenggangkan pelukannya untuk menatap Celina.
Celina merasa penasaran dengan apa yang dipikirkan Olivia. Dengan matanya yang berkaca-kaca, gadis kecil itu mencium pipi Celina. Meski heran, Celina membiarkan gadis itu melakukannya.
...~ Bersambung ~...
Dear,
Penulis dan Pembaca Setia Noveltoon.
Mohon dukungannya untuk karya lombaku dalam event bertema Mengubah Takdir dengan judul :
...MENGUBAH TAKDIR KAKAKKU JADI SUAMIKU ...
Like, vote, Comment, Favorit, Rate dan segala bentuk dukungan apa saja sangat berarti bagi saya, yang akan menjadi penyemangat bagi saya dalam berkarya.
Terus beri dukungannya ya, terima kasih.
^^^Salam hormat,^^^
^^^Author^^^
^^^Alitha Fransisca^^^
__ADS_1