
Ozora mengajak Tita mencoba permainan edukatif baru, sementara Raffa naik kelantai tiga menemui Celina. Raffa menarik tangan gadis itu menjauh dari ruangan terbuka. Namun Celina menolak, mencoba mengabaikannya laki-laki itu.
Raffa tidak tinggal diam, laki-laki itu terus menggodanya bahkan memaksa memeluk gadis itu jika Celina tidak mau mengikutinya.
Raffa bukanlah orang yang patuh menuruti kemauan orang lain. Raffa adalah laki-laki yang tidak mau gagal mendapatkan apa yang dia inginkan. Celina pasrah akhirnya mengikuti laki-laki itu berjalan kebalik rak buku disudut ruangan lantai tiga.
Semua itu tidak luput dari tatapan mata Kevin. Hari ini laki-laki itu telah menyaksikan sendiri, kelakuan Celina yang menodai pertunangan mereka. Gadis itu bertemu dan bercumbu dengan Raffa padahal Celina telah menerima lamarannya.
Kevin tidak tahan lagi dengan pandangan dihadapannya, pergi dari tempat itu dengan dada yang terasa panas oleh kecemburuan, sakit hati dan kecewa.
Sementara Raffa yang berhasil mengajak Celina bersembunyi dibalik rak buku telah siap menerjang bibir gadis itu, tinggal seinchi lagi, Raffa akan merasakan manisnya bibir Celina.
"Aku telah bertunangan" ucap gadis itu tiba-tiba.
Kata-kata itu berhasil menghentikan Raffa, laki-laki itu mundur lalu menatap tak percaya pada Celina. Meraih tangan Celina dan memperhatikan jari-jarinya, lalu tertawa miring.
"Berbohong juga harus didukung dengan bukti" ucapnya sambil mengangkat jari Celina kehadapan mereka.
"Aku hanya menyimpannya" kilah Celina yang tidak mengenakan cincin tunangannya.
"Kamu kira aku akan percaya ? bukankah aku pernah berkata padamu, jangan pernah menghindar dariku, karena aku tidak akan melepaskanmu.
Jika Jessica penyebabnya, secepatnya aku akan menceraikannya.
Aku hanya perlu mengumpulkan bukti kalau dia telah berselingkuh" ucap Raffa memberi penjelasan.
"Tuan menuduh istri berselingkuh untuk mencari alasan menceraikannya, itu sangat kejam" ucap Celina.
"Aku bukan menuduh, dia memang selingkuh dariku, bukan.. bukan selingkuh dariku, tapi dari pernikahan kami. Karena aku sudah tau kelakuannya sebelum kami menikah" jelas Raffa.
Celina terlihat bingung.
"Tita bukanlah putri kandungku, Jessica telah hamil sebelum aku menikahinya.
Kamu ingat saat Jessica menuduhmu mencelakai kandungannya hingga melahirkan prematur ? semua itu tidaklah benar.
Usia kandungannya telah cukup untuk melahirkan, dia hanya berbohong kalau kandungnya masih enam bulan sesuai dengan umur pernikahan kami" jelas Raffa.
Celina terperangah, mengetahui Jessica membohongi semua orang sampai-sampai memfitnah dirinya untuk mendukung kebohongan itu. Hingga setiap kali dia melihat Tita, hatinya merasa iba pada gadis kecil itu. Khawatir akan perkembangan tubuh dan jiwanya.
"Aku menikahi Jessica hanya untuk menghindarkan dirimu dari ancaman ibuku, aku selalu mencarimu selama ini. Bahkan saat David mengetahui bahwa yang dituduh mencelakai Jessica adalah dirimu, aku berharap kamu akan menemuiku" ucap Raffa menangkup wajah Celina.
"Tapi sudah terlambat tuan, aku telah menerima lamaran seseorang yang telah lama menungguku. Maafkan aku, sebaiknya mulai sekarang kita saling melupakan" ucap Celina melepas tangan Raffa dari wajahnya, hendak berlalu dari situ.
"Tidak, aku tidak rela, aku juga telah menunggumu, jangan harap aku akan melupakanmu, aku tidak akan pernah melepaskanmu" ucap laki-laki itu lalu pergi.
Langkahnya berhenti.
"Satu hal lagi, jangankan telah bertunangan, menikahpun, kamu akan tetap menjadi milikku" ucap Raffa kemudian melanjutkan langkahnya.
Celina hanya bisa memandang laki-laki itu, berjalan melewatinya. Terlihat Raffa mengeluarkan ponselnya.
"David, datang ke toko, temani Tita" perintahnya sambil menuruni tangga lalu pergi meninggalkan toko.
Celina memandang jari manisnya yang kosong, bukti tanda dia menerima lamaran Kevin telah hilang. Gadis itu menyesali hilangnya cincin yang bisa digunakannya untuk membuat Raffa menjauh darinya.
Setelah berpikir sepanjang hari, Celina memutuskan mencari cincin yang sama persis dengan cincinnya yang telah hilang. Celina tidak ingin merasa ketakutan setiap kali menatap wajah Kevin.
Celina mencari dibeberapa toko perhiasan, dari yang besar hingga yang kecil, dari toko yang terkenal hingga yang hampir tak terlihat.
Namun sulit baginya menemukan cincin yang mirip dengan cincin pemberian Kevin. Jangankan mirip, sekilas saja orang akan menyadari kalau cincin itu berbeda karena ukurannya, bentuknya yang tak sama atau karena jumlah kilau yang dihasilkannya berbeda.
Celina sudah hampir putus asa hingga akhirnya menemukan sebuah toko perhiasan yang memiliki cincin yang sangat-sangat mirip dengan cincinnya yang hilang. Celina sangat terkejut mengetahui harga cincin berlian itu.
Tabunganku bertahun-tahun habis hanya untuk membeli satu cincin ini, batin Celina menghembuskan nafas berat.
Celina kembali ke toko, gadis itu terpaku saat melihat David yang berdiri mengawasi Tita. Personal Assistant tuan Raffa itu ternyata telah tiba disana untuk menemani putri atasannya.
Tiba-tiba laki-laki itu melihat kearahnya, lalu tersenyum menghampiri Celina. Menyapa Celina dengan sangat sopan sama seperti dahulu, David adalah seseorang yang menghormati orang lain tanpa memandang status.
"Ternyata memang benar, anda adalah nona Celina yang dulu saya kenal. Tuan Raffa menceritakan pertemuannya dengan anda saat kami melakukan perjalanan bisnis ke pulau Batam" ucap David semangat mengawali perbincangan mereka.
"Saya tidak mengira bertemu dengan pak David disini" sapa Celina.
David mengangguk.
"Hari itu hanya terlambat hitungan menit, saya hampir saja menemukan nona direstoran tempat nona bekerja dulu" lanjut David mengingat masa lalu.
"Saya masih seperti dulu pak, tidak perlu memanggil saya dengan sebutan nona" ucap Celina lagi sambil tersenyum.
"Oh ya maaf, saya lupa" kata David singkat.
"Saat itu, adalah hari kelahiran nona Tita, tuan Raffa yakin kalau pelayan yang dituduh mencelakai nyonya Jessica hanyalah orang yang ingin dijadikan kambing hitamnya. Karena itu saya diutus untuk mencari pelayan yang dimaksud.
Saat mendengar nama anda disebut saya langsung meminta foto anda pada manager restoran untuk memastikannya.
__ADS_1
Dan ternyata memang benar, pelayan yang telah pergi itu justru adalah orang yang kami cari.
Hingga kini, tuan Raffa masih menyimpan lamaran kerja berikut foto anda di laci meja kantornya" cerita David panjang lebar.
Laki-laki yang merupakan kepercayaan sekaligus sahabat Raffa itu benar-benar tau semua mengenai kehidupan Raffa. David tau persis seperti apa perasaan Raffa terhadap Celina. Laki-laki itu menceritakan semua penderitaan Raffa selama tidak bisa menemukan gadis itu.
"Tuan Raffa bukan orang yang mudah jatuh cinta, sekali mencintai dia tidak akan mudah melepaskannya. Seperti itu yang dirasakan tuan Raffa bertahun-tahun pada nyonya Jessica. Meskipun nyonya berkali-kali mengkhianatinya namun dia selalu memaafkan dan menerimanya.
Tuan Raffa hanya bisa melampiaskan kekecewaannya pada wanita-wanita itu sebagai balasan atas perselingkuhan nyonya Jessica terhadapnya" jelas David sambil matanya terus mengawasi Tita.
Raffa membalas perselingkuhan Jessica dengan bermain dengan wanita lain. Celina adalah salah satu gadis yang menjadi korban pelampiasan kemarahan Raffa.
"Namun sejak mengenal anda, tuan Raffa berubah. Sedikitpun dia tidak tergiur mendekati wanita-wanita lain. Tuan Raffa sangat menjaga kesetiaan dan kesucian cintanya pada anda" jelas David.
Celina diam tertunduk mendengarkan.
"Anda tau sendiri seperti apa pengorbanannya untuk menyelamatkan anda bukan ? namun kalian justru terpisah, menurut anda apakah tuan Raffa akan membiarkan anda menjauh darinya setelah selama ini hidup menderita karena kehilangan anda ?" tanya David.
Celina menitikkan air mata, sebesar apapun keinginannya untuk bisa hidup bersama Raffa. Tak boleh membuatnya lupa akan janjinya menerima cinta dari Kevin. Takdir benar-benar telah memisahkan mereka.
Kevin yang telah pergi meninggalkan toko, saat laki-laki itu tidak mampu lagi memandang tingkah kedua orang yang disayanginya itu. Celina, wanita yang telah mencuri hatinya dan Raffa satu-satunya sahabat yang disayanginya bahkan telah dianggap seperti saudaranya.
Celina, kamu telah mengkhianatiku, mengkhianati pertunangan kita, jerit hati Kevin.
Kevin telah berusaha untuk mengabaikan sikap Celina yang tidak jujur mengenai hubungannya dengan Raffa, yang menutupi siapa ayah kandung dari anaknya. Padahal Celina telah lama mengetahui hubungan persahabatan antara Kevin dan Raffa.
Hari ini Kevin melihat sendiri mereka diam-diam bertemu di lantai tiga. Menjadikan Tita sebagai alasan untuk mendatangi toko, Raffa kembali mendekati gadis yang telah ditiduri dan ditinggalkannya selama lebih dari lima tahun itu.
Tiba-tiba Alyssa datang dan langsung melambaikan tangan pada Celina yang sedang berbincang dengan David.
"Kamu kesini Al, ada keperluan apa ?" tanya Celina begitu melihat Alyssa masuk dari pintu toko.
Alyssa menatap penuh selidik pada pria tampan yang ada dihadapan Celina. Celina langsung tersenyum dan memperkenalkan mereka.
"Ini pak David, orang kepercayaan tuan Raffa. Pak David sedang menemani putri tuan Raffa" ucap Celina untuk menghilangkan kecurigaan Alyssa.
"Pak David, ini Alyssa sahabat saya" ucap Celina pada David.
David langsung mengulurkan tangan dengan sopan pada Alyssa, gadis itu menyambut jabat tangan laki-laki tampan itu. David tersenyum, Alyssa salah tingkah. Gadis itu segera mencari sesuatu yang dibutuhkannya.
"Aku kehabisan kertas HVS makanya datang kesini, tadi aku lupa titip sama kakak" ucap Alyssa, ingin segera mencari barang yang diperlukannya.
Celina langsung menahan tangan Alyssa.
"Iya, memangnya kamu tidak ketemu dengannya ?" tanya Alyssa heran.
Alyssa heran, jelas-jelas Kevin meminta izin memakai mobilnya untuk ke toko buku. Tapi Kevin justru tidak menemui Celina.
"Aku tidak melihatnya" ucap Celina pelan.
Celina teringat sesuatu, dia bersama Raffa dilantai tiga.
Mungkinkah kakak melihat kami ? Oh tidak, apa yang dipikirkannya jika melihat kami, oh tidak.. tidak, jerit hati Celina.
Alyssa menepuk bahu Celina yang terlihat melamun, gadis itu menanyakan dimana dia bisa menemukan kertas yang diperlukannya. Celina kelimpungan menjawab pertanyaan Alyssa yang sama sekali tidak didengarnya.
"Kamu kenapa ? kayak linglung gitu" tanya Alyssa.
"Tidak apa-apa, kamu mau mencari HVS kan ? aku ambilkan" ucap Celina langsung pergi dari situ, bahkan meninggalkan David tanpa menoleh.
Celina galau setelah mengetahui Kevin datang ke toko. Kedua laki-laki itu datang disaat yang sama. Pikiran Celina langsung panik, dia tidak ingin Kevin mengetahui hubungannya dengan Raffa yang terlanjur disembunyikannya.
Gadis itu sedang menyiapkan mental untuk menceritakan semua hubungannya dengan Raffa. Namun sekarang sudah terlambat, Kevin telah mengetahuinya sendiri. Celina takut Kevin akan salah paham padanya.
Celina kembali membawa kertas yang dibutuhkan Alyssa.
"Ada yang lain yang kamu butuhkan ?" tanya Celina masih terlihat linglung.
Alyssa menggeleng, Celina langsung berjalan ke kasir untuk membayar. Alyssa bingung langsung mengejar Celina.
"Kamu ini kenapa sih, langsung main tinggal begitu aja" ucap Alyssa sambil menoleh pada David.
Celina ikut menoleh kearah yang ditunjuk Alyssa, gadis itu tersadar dia melupakan David begitu saja. Alyssa pamit pada David setelah membayar kertasnya, pergi meninggalkan Celina dengan pikirannya yang melayang entah kemana.
Gadis itu juga meminta maaf pada David yang tinggalkannya begitu saja. Bagi David tentu saja itu bukan masalah karena dia tidak perlu selalu ditemani. Tapi meninggalkan David ditengah pembicaraan membuat Celina merasa tidak enak hati.
Perasaan tidak enak itu terbawa hingga kerumah, bahkan saat mereka makan malam bersama. Celina lebih banyak diam. Sikap Kevin yang berperilaku seperti biasa sama sekali tidak bisa merubah suasana hatinya. Bahkan obrolan Kevin dengan Ozora terasa seperti sedang menyelidikinya.
"Gitu dong, cincinnya harus dipakai, jangan dilepas lagi ya" ucap Alyssa.
Kevin menoleh memandang pada jari Celina, gadis itu buru-buru menyembunyikan tangannya. Berusaha untuk bersikap sewajarnya.
Celina, kamu tidak henti-hentinya membohongiku, batin Kevin.
Kevin meraih tangan gadis itu, lalu mengusap cincin itu dengan ibu jarinya, membuat perasaan Celina seperti diteror.
__ADS_1
"Aku ingin mengajakmu ke apartemen malam ini" ucap Kevin pada Celina.
"Malam ini ? ada apa kak ?" tanya Celina.
"Aku ingin kamu memilih sesuatu untukku" ucap Kevin.
Celina menatap Alyssa, yang ditatap hanya tersenyum.
"Another surprise ?" tanya Alyssa, Kevin hanya tersenyum.
"Kenapa harus malam ini kak ?" tanya Celina.
"Aku ingin segera menyelesaikannya" ucap Kevin.
Akhirnya Celina mengangguk setuju, gadis yang merasa bersalah itu tidak berani menolak keinginan Kevin. Mereka meminta Alyssa untuk menjaga Ozora, kemudian melaju menuju apartemen Kevin, selama perjalanan mereka lebih banyak diam.
Sesampainya di apartemen Kevin berjalan dengan santai menuju kamar, diikuti oleh Celina. Kevin mengunci pintu, Celina kaget melihat sikap Kevin namun gadis itu berusaha untuk bersikap tenang.
"Apa yang harus ku pilih kak ?" tanya Celina.
Mencoba menenangkan hatinya yang mulai merasa takut melihat cara Kevin memandangnya. Kevin mengacungkan cincin pertunangan mereka di hadapan Celina. Gadis itu kaget melihat cincin yang dicarinya telah berada ditangan Kevin.
"Aku ingin kamu memilih cincin pertunangan yang asli atau cincin pertunangan yang palsu itu" tanya Kevin.
Celina menutup mulutnya dengan kedua tangannya, panik. Air mata gadis itu langsung mengalir, Kevin mengetahui kebohongannya tentang cincin itu. Kevin maju sambil terus menunjukkan cincin itu, Celina bergerak mundur.
"Berapa banyak uang yang kamu habiskan untuk menutupi kebohonganmu ?" tanya Kevin.
"Kamu menyingkirkan cincin ini hanya karena ingin menemuinya ? agar dia tidak mengetahui statusmu ? kamu masih begitu mengharapkannya ?" bentak Kevin dengan suara yang semakin meninggi.
Raut wajahnya penuh kemarahan, namun setitik bening jatuh dari sudut matanya.
Celina hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menangis. Gadis itu tidak bisa memberikan penjelasan atas kejadian itu. Bagaimana dia bisa melepaskan cincin itu, yang Celina tau, sama sekali tak ada niatnya dengan sengaja menyingkirkan cincin itu.
"Kak maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku sungguh tidak ingin menemuinya" ucapnya sambil terisak.
Sekarang Celina yakin, Kevin telah mengetahui hubungannya dengan Raffa.
"BOHONG !!! kamu sengaja menutupinya, karena kamu selalu mengharapkannya, karena kamu tidak ingin melupakannya, karena kamu ingin kembali padanya" ucap Kevin dengan suara yang keras.
"Tidak, aku tidak seperti itu, aku sungguh ingin melupakannya" ucap Celina dengan suara gemetar.
Kevin tertawa lalu membanting cincin yang ada ditangannya, Celina terkejut. Laki-laki itu dengan cepat melepas kemejanya. Celina terbelalak, segera gadis berlari menuju pintu. Namun Kevin meraih tangannya dan mendorong gadis itu hingga jatuh diranjang.
Kevin berjalan mendekatinya, Celina berbalik merangkak turun dari ranjang. Namun Kevin berhasil menarik kakinya hingga gadis itu kembali ketengah ranjang. Kevin menindih tubuh gadis itu dan memegang kedua tangannya.
Celina menjerit, meronta, Kevin tertawa.
"Kamu suka dengan kekerasan bukan ? suka dengan orang yang memaksamu, kamu tidak bisa melupakannya karena itu ?" tanya Kevin sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Celina.
"Kak sadarlah, kakak bukan orang seperti itu" jerit Celina dengan air matanya yang terus mengalir.
"Aku bisa seperti itu, aku bisa seperti apa yang kamu inginkan" ucapnya.
Kevin menarik kerah baju Celina membuat beberapa kancing baju gadis itu terlepas.
"Tidak kak... Jangan" jerit Celina semakin meronta.
"Berapa lama dia menyekapmu ? berapa kali dia melakukannya padamu ? AKU BISA MELAKUKANNYA LEBIH DARI ITU !!!"
Celina menjerit ketakutan, laki-laki itu seperti tidak bisa disadarkan lagi. Celina menangis sejadi-jadinya.
Kevin menciumi gadis itu dengan kasar, Celina meronta namun itu justru membuat Kevin semakin beringas. Laki-laki itu menciumi seluruh leher Celina yang telah terbuka.
"Gadis sepertimu, kenapa bisa membuat aku jadi seperti ini ?" ucap Kevin memandangi wajah Celina yang berada dibawahnya.
Air matanya menetes, Kevin menangis, Celina terdiam terpaku menatap kesedihan laki-laki itu.
"KENAPA ? KENAPA ? KENAPA MEMBUAT AKU MENGEMIS PADAMU" teriak Kevin tiba-tiba.
Laki-laki itu berusaha melepas kemeja Celina.
"Tidak.. jangan kak.. aku mohon" ucap Celina.
" Apa lagi yang ingin kamu pertahankan HAH...
AKU... SEORANG CEO... KENAPA HARUS MENGEMIS MENDAPATKAN CINTA DARI GADIS KOTOR SEPERTIMU !!!" teriak Kevin.
Celina tercenung, ucapan Kevin menyadarkannya.
Benar, aku gadis kotor, apa lagi yang aku pertahankan, aku tidak memiliki kehormatan lagi, batin Celina.
Gadis itu berhenti meronta membiarkan Kevin melepas semua kancing kemejanya. Kevin menatap Celina yang pasrah lalu kembali menempelkan bibirnya, memeluknya erat kembali meresap manisnya bibir gadis yang terus menangis itu.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1