
Pagi itu Ny. Rowenna dan Tn. Robby duduk di beranda belakang, sambil berbincang santai memandang taman asri di belakang rumah megah itu.
"Nyonya besar, ada tamu" ucap seorang pelayan.
"Pagi-pagi begini ? siapa yang datang pagi-pagi begini ?" tanya Rowenna.
"Tuan Edward Miller nyonya, dari New York" ucap pelayan itu.
"Dari New York ? sayang, ayo kita temui" ucap Rowenna mengajak suaminya menemui tamu yang datang.
Diruang tamu telah menunggu seorang laki-laki muda tampan dan keturunan campuran. Laki-laki itu langsung menyalami tuan dan nyonya Saltano dan memperkenalkan diri.
"Kami sudah tau, kamu adalah orang yang telah menculik menantu kami. Apa maksud kamu datang menemui kami ?" tanya Rowenna ketus.
Tuan Robby langsung menyentuh tangan istrinya meminta wanita itu untuk tenang.
"Kami sangat terkejut dengan kedatanganmu kemari bahkan hampir tidak percaya, kamu berani datang menemui kami" ucap Robby.
"Kalau begitu maafkan saya tuan, saya tidak bermaksud mengejutkan tuan dan nyonya" ucap Edward sopan.
"Apa tujuanmu datang menemui kami ?" tanya Robby dengan tenang.
"Sebelumnya saya ingin tuan dan nyonya membaca dokumen yang saya bawa ini, silahkan tuan" ucap Edward sambil memberikan lembaran dokumen yang dibawanya.
"Apa ini ? bukti hubunganmu dengan menantu kami ? kamu adalah kakak tiri Celina ?" ucap Robby.
Ny. Rowenna langsung ikut membaca dokumen bukti hubungan keluarga itu. Dengan dilampiri oleh hasil tes DNA.
"Ayah dan ibu Celina adalah Helena dan Robert Miller ?" tanya Robby meyakinkan diri.
"Benar tuan, saya adalah putra sulung Helena Miller" ucap Edward.
"Oh ya ampun, ternyata Celina memiliki keluarga di Amerika ?" tanya Rowenna.
"Ibu saya telah mencarinya selama bertahun-tahun, sejak kehilangannya saat Celina masih bayi" cerita Edward.
"Robert Miller ? apakah dia pengusaha di New York yang meninggal di gunung Elbrus Rusia ?" tanya Robby.
"Benar tuan, dia adalah ayah kandung Celina apakah tuan kenal dekat dengannya ?" ucap Edward senang ternyata tuan Robby mengenal ayah Celina.
"Saya tau dia tapi tidak kenal dekat dengannya, beliau adalah pengusaha yang sangat sukses sejak masih muda, berbakat melukis dan hobi mendaki. Saya dengar semua cerita itu dari sesama pengusaha" cerita Robby.
"Benar tuan, ini ada beberapa foto lukisan paman Robert" ucap Edward.
"Lihat sayang, lukisan ini sangat mirip dengan Celina" ucap Rowenna.
"Itu adalah lukisan ibu saya, yang dilukis oleh paman Robert" jelas Edward.
"Oh ya ampun mereka mirip sekali, aku pikir ini adalah lukisan Celina. Jadi, apa hubunganmu dengan Celina ? kenapa ayah Celina adalah pamanmu ?" tanya Rowenna.
"Ibu saya menikah dengan Albert Miller dan melahirkan saya, waktu ayah saya diduga tewas saat bertugas ibu saya menikah dengan Robert Miller adik dari ayah saya, saat itu ibu melahirkan Celina" cerita singkat Edward.
"Oh begitu, dimana ibumu sekarang ?" tanya Rowenna.
"Sudah meninggal nyonya, tepat dihari pernikahan Celina" cerita Edward lalu tertunduk sedih.
"Bagaimana kamu tau tentang pernikahan Celina ?" tanya Rowenna.
"Saya sudah menyelidiki Celina sebelumnya, saya hadir di pernikahannya, saya bahkan mengirimkan rekaman video pernikahannya. Tapi tak berapa lama kemudian kondisinya kritis, saya langsung terbang ke New York dan menemui ibu saya, beliau berpesan untuk segera menyerahkan semua harta milik paman Robert pada putrinya. Ini adalah daftar aset milik paman Robert" ucap Edward sambil menyerahkan lembaran kertas.
Tn. Robby meraih kertas itu, bersama Ny. Rowenna membacanya.
"Semua ini milik Celina ? lalu apa yang kamu dapatkan, bukankah kamu juga putra ibumu ?" tanya Rowenna heran.
"Saya mendapatkan seorang adik nyonya, itu lebih dari cukup bagi saya" ucap Edward tertawa.
"Ada orang yang tidak menginginkan harta ?" tanya Rowenna.
Edward tertawa.
"Semua itu adalah harta ayahnya Celina, saya juga memiliki seorang ayah yang juga mewariskan hartanya tapi harta yang terpenting dalam hidup saya adalah adik saya, Celina. Karena itu saya sangat senang jika Celina mau menetap di New York" harapan Edward.
"Kamu ingin Celina menetap di New York ? lalu bagaimana dengan keluarganya disini ?" tanya Rowenna.
"Itulah yang menjadi masalahnya, semua warisan ayahnya ada di New York. Karena itu saya terpaksa membawa Celina, saya tidak bisa menjelaskan semuanya disini.
Mungkin terlihat mudah untuk bicara tapi akan sulit untuk dipercaya, saya takut dia akan menolak.
Karena itu saya membawanya ke New York agar dia menyaksikan sendiri seperti apa kehidupan keluarganya, bagaimana ibunya sangat menyayanginya meskipun terpisah darinya" jelas Edward.
"Celina sulit mempercayai itu, kami saja rasanya sulit untuk percaya" ucap Robby.
__ADS_1
"Sangat sulit tuan, Celina syok mendengar cerita saya. Tapi beruntung, dengan semua yang kami miliki disana menunjukkan bahwa dia bukan putri yang sengaja dibuang, semua peninggalan ibu kami menunjukkan betapa Celina adalah seseorang yang kami sayangi" jelas Edward lagi.
Tn. Robby dan Ny. Rowenna mengangguk mengerti.
"Mungkin hingga saat ini Celina belum menceritakan apapun. Itu karena dia sendiri tidak tau bagaimana cara menceritakannya. Dan terlebih lagi Celina masih belum yakin untuk menerima semua warisan ini. Saya yang berjanji untuk menjelaskan semuanya pada keluarga disini. Karena itu setelah saya mengurus semua bukti hubungan kekeluargaan kami saya datang kemari. Saya juga telah mengurus lisensi Green Card.
Dengan itu Celina bisa mendapatkan izin tinggal dan menetap di Amerika" jelas Edward.
"Lisensi Permanent Resident agar dia bisa menetap disana tanpa menanggalkan kewarganegaraannya" ucap Robby.
"Benar tuan dengan ditandatanganinya semua kepemilikan asetnya ini, Celina mungkin bisa segera mendapatkan izin tinggal disana" ucap Celina.
"Kamu ingin mengajak menantu kami tinggal bersamamu di Amerika dan menyuruhnya meninggalkan kami ?" tanya Rowenna dengan suara tinggi.
"Itu semua terserah pada Celina nyonya, yang terpenting bagi saya adalah segera menyerahkan hak nya" ucap Edward
Sementara itu dikamar, Celina memberitahukan perihal kehamilannya pada Raffa. Tapi dengan tenang laki-laki itu mempertanyakan siapa anak yang sedang dikandung Celina.
Celina merasa dadanya terasa perih, gadis itu tercenung, matanya berkaca-kaca, berita yang dipikirnya sangat ditunggu-tunggu Raffa. Justru ditanggapi dengan kata-kata yang menusuk hatinya, Raffa meragukan anak yang dikandung Celina.
"Apa maksud kakak bertanya seperti itu ?" tanya Celina dengan mata yang berkaca-kaca.
"Begitu sering bertanya padamu apakah kamu sudah mendapatkan tanda-tanda kehamilan tapi kami tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan. Tapi setelah sekian lama bersama laki-laki itu kamu menyatakan dirimu hamil. Apa salah aku bertanya seperti itu ?" tanya Raffa.
Mendengar itu air mata Celina tak mampu lagi terbendung. Raffa tega mengucapkan kata-kata seperti itu. Celina menyesal memberitahukan kehamilannya sebelum Edward datang menjelaskan hubungan mereka.
Celina tidak bisa menahan diri saat melihat hasil tes kehamilannya karena selama ini suami dan keluarganya sangat mendambakan lahirnya keturunan baru mereka.
Tapi rasa tak sabar Celina untuk memberitahukan kehamilannya justru dibayar dengan hati yang perih. Sakit, karena ternyata suaminya tak pernah mempercayainya.
"Seperti itu caranya membuatmu hamil ? diculik, disekap, jatuh cinta dan hamil ?" tanya Raffa sambil bersiap-siap berangkat ke kantor.
Raffa keluar dari kamarnya, Celina berdiri terpaku, menangis. Test pack jatuh dari tangannya, Celina tersadar dia tidak boleh diam saja, meski sakit mendengar ucapan Raffa tapi dia harus berusaha menjelaskannya.
Percaya atau tidak, Celina harus menyatakan yang sebenarnya. Berlari gadis lalu mengejar suaminya yang berjalan hendak menuruni tangga.
"Kakak dengarkan penjelasanku, aku tidak pernah mengkhianatimu, ini adalah anakmu" ucap Celina sambil mengiringi langkah suaminya.
"Oh ya ? tapi aku pernah mendengar sendiri pembicaraan kalian. Kalau laki-laki itu ingin kamu meninggalkan keluarga ini, dan yang lebih parah lagi, kamu sendiri yang menyatakannya bahwa anakmu adalah anak dia juga" ucap Raffa yang telah sampai dilantai bawah.
"Kak, kakak salah paham bukan begitu maksudnya, dia adalah..."
"C U K U P !!!!, aku tidak mau mendengar suaramu, aku tidak mau melihat wajahmu, bagiku kamu tidak lebih dari seorang perempuan murahan" ucap Raffa berjalan kencang dan Celina mengejarnya.
Celina terkejut begitu juga Raffa.
"Wah, berani sekali kamu datang kesini" ucap Raffa.
Edward yang melihat Celina menangis langsung berlari menghampiri dan memeluknya. Melihat itu Raffa naik pitam.
"K A M U..."ucapnya sambil mengejar Edward.
"R A F F A" cegah Robby.
Langkah Raffa terhenti menoleh pada ayahnya yang tidak dia sadari juga berada disitu.
"Edward adalah kakak Celina" ucap Robby keras.
"Dia datang kesini untuk menjelaskannya" ucap Rowenna.
Raffa langsung menoleh pada Edward dan Celina.
"Apa ?"
"Sejak tadi kami mendengarkan penjelasannya, Edward datang membawa bukti-bukti hubungan mereka" jelas Rowenna lagi.
"Seperti ini perlakuan suamimu terhadapmu ? menganggapmu perempuan murahan ?" tanya Edward pada Celina.
Celina menggelengkan kepala, dia tidak ingin Edward menganggap Raffa adalah laki-laki yang jahat. Meski sering mendapat perkataan buruk dari Raffa tapi Celina tau semua hanya karena salah paham.
"Ayo pergi dari sini" ucap Edward.
"Tunggu" ucap Raffa menahan tangan Celina.
"Untuk apa ? untuk lebih menyakitinya ? kenapa bisa kata-kata seperti itu keluar dari mulutmu ? Cemburu ? atau sejak awal memang memandang rendah dirinya" ucap Edward.
"Kakak, kak Raffa tidak seperti itu. kak Raffa hanya salah paham, dia tidak bermaksud seperti itu, kak Raffa hanya cemburu" ucap Celina.
"Celina, cemburu dan memandang rendah itu berbeda. Apa karena cemburu dia boleh merendahkanmu ? Aku ini juga laki-laki, dan aku juga pernah cemburu tapi aku tidak pernah memandang rendah wanita.
Bagiku seorang wanita itu sangat berharga, bagi keluarganya seorang wanita itu adalah segala-galanya jadi tidak boleh ada merendahkan mereka seperti apapun keadaannya" jelas Edward.
__ADS_1
"Maafkan aku" ucap Raffa pelan.
"Jika Celina memang sebatang kara, jika tidak ada orang yang membelanya apakah dia akan menerima penghinaan darimu seumur hidupnya ? mungkin tidak, dalam waktu singkat kamu sudah mencampakkannya. Ayo kita pergi sayang" ucap Edward
Kembali menarik tangan Celina, namun gadis itu menahan. Ny. Rowenna maju menghalangi.
"Maafkan aku, akulah yang salah. Akulah orang yang terbiasa memandang rendah orang lain. Raffa hanya menuruni sifatku. Aku yang salah mengajarinya. Tapi aku tau pasti Raffa sangat mencintai Celina" ucap Rowenna.
Edward memandang wajah Ny. Rowenna lama.
"Kamu beruntung, ada dua orang wanita yang membelamu. Ada dua orang wanita yang sayang padamu karena itu cobalah untuk tidak merendahkan wanita" ucap Edward.
Laki-laki itu memeluk adiknya.
"Ingatlah, kamu tidak sendirian, aku sudah membawa semua dokumen yang menjadi hak mu. Terserah apa keputusanmu, yang pasti kami selalu siap menerimamu. Disana, kekayaanmu tidak akan habis meski setiap hari kamu berfoya-foya, jadi hargai dirimu, ok... aku sayang padamu, aku akan sering-sering mengunjungimu" ucap Edward.
Lalu mengecup kening adiknya.
"Tuan, nyonya saya permisi, tolong jaga adik kesayanganku ini" ucap Edward lalu menatap Raffa yang tertunduk.
"Terima kasih karena telah menjaga dan menyayanginya selama ini" ucap Edward pada Raffa.
"Kak, kakak akan memiliki keponakan lagi, do'akan aku baik-baik saja ya" ucap Celina.
"Benarkah ?" ucap Edward terkejut, tak cuma kakak Celina tapi Ny. Rowenna dan Tn. Robby pun terkejut.
"Terima kasih Raffa, kamu hebat, aku salut padamu" ucap Edward menepuk bahu Raffa.
Raffa tersenyum, dalam hatinya merasa sangat malu. Anak yang tadi diragukannya justru sangat diharapkan keluarganya dan keluarga Celina.
Ny. Rowenna langsung mendatangi Celina, memeluk dan mencium kedua pipi Celina. Melihat itu Edward merasa tenang, Celina disayangi mertuanya. Laki-laki itupun pamit untuk kembali ke New York. Keluarga Saltano memintanya untuk menginap namun ditolak secara halus.
Celina mengantar kakaknya hingga ke teras, Edward meminta Celina untuk mempertimbangkan menerima warisannya.
"Saya tidak bisa mengurus perusahaan sebesar itu kak, yang membesarkan perusahaan itu mommy dan kak Edward, saya sama sekali tidak melakukan apapun pada perusahaan itu" ucap Celina.
"Baiklah, aku bersedia tetap menjalankan perusahaan itu tapi dengan syarat kamu harus segera menerimanya dan menjadikan perusahaan itu milikmu" ucap Edward.
"Jadi kakak bekerja untukku ? itu tidak adil, aku ingin memberikan perusahaan itu untuk kakak tapi jika kakak tidak bersedia, aku berencana membagi sahamnya. Itu juga rasanya masih belum adil," tanya Celina.
"Terima saja, suatu saat Ozora pasti bisa menjalankannya" ucap Edward.
Laki-laki berdarah campuran itu memeluk adiknya lama.
"Andai aku lebih cepat menemukanmu, oh, ya kalau ada apa-apa kamu harus segera meneleponku. Jika aku tau kamu menyembunyikan sesuatu, aku akan langsung menculikmu dan tidak akan aku kembalikan lagi kesini, mengerti !!!" ucapan Edward tegas.
Celina mengangguk ragu-ragu.
"Jangan ragu-ragu dan jangan coba-coba, aku masih mau memaafkan Raffa karena aku juga tau kalau dia mencintaimu" ujar Edward.
"Kakak tau ? darimana kakak tau ?" tanya Celina.
"Aku melihat saat dia rela menerima pukulan dari Kevin demi dirimu" ucap Edward sambil tertawa.
"Kak Raffa bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkanku" cerita Celina.
"Oh ya, baguslah, jadi aku tidak sia-sia mengembalikanmu padanya. Dia terbukti mencintaimu padahal tadi aku hanya berpura-pura ingin membawamu" ucap Edward.
"Oh ya ? kenapa begitu ?" tanya Celina.
"Orang akan lebih menghargai jika dia merasa kehilangan, maka itu aku ingin membuat dia merasa kehilanganmu, agar dia tau kamu itu sangat berharga baginya" ucap Edward.
Lalu Edward kembali memeluk adiknya, meminta Celina untuk menjaga diri dan bayinya. Edward akhirnya berangkat pulang, tak lepas melambaikan tangannya pada adik kesayangannya. Begitupun Celina, hingga mobil yang membawa kakaknya hilang ditikungan Celina masih memandanginya.
Tiba-tiba Raffa memeluknya dari belakang lalu mengecup pipinya.
"Bagaimana aku tidak cemburu, kakakmu ganteng begitu" ucap Raffa.
Celina membelai wajah Raffa.
"Kak Raffa lebih segalanya dari siapapun" ucap Celina.
"Oh ya, aku yang berperangai buruk ini lebih baik dari siapapun ?" tanya Raffa.
"Ya, meski berperangai buruk aku tetap mencintaimu tapi aku tidak akan menutupinya dari kakakku, kalau kak Raffa bersikap jahat padaku, aku akan melaporkannya pada kakakku" ancam Celina.
"Ampun tuan putri, aku tidak akan berbuat seperti itu lagi" ucap Raffa.
"Janji palsu, nanti kak Raffa pasti akan mengulanginya lagi" ucap Celina.
"Tidak akan sayang, aku juga tidak ingin seperti itu. Tapi jika aku khilaf, tolong tetaplah disisiku dan sadarkan aku" pinta Raffa.
__ADS_1
Raffa membalikkan tubuh Celina kehadapannya lalu menangkup wajah gadis itu kemudian menyatukan bibir mereka. Laki-laki itu memeluk istrinya erat, memperdalam ciumannya lalu memainkan lidahnya. Raffa tak bisa hidup tanpa Celina, begitu juga sebaliknya.
...~ Bersambung ~...