Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 85 ~ Hadiah dan Hukuman ~


__ADS_3

Dokter Dinda memeluk Celina, gadis yang tadinya sangat membenci Celina justru menjadi sangat menyayanginya.


"Apa ada yang bisa kubantu untuk persiapan pesta Lala?" tanya Celina.


"Kak Celina mau bantu?" tanya Dokter Dinda bersemangat.


"Tentu, jika aku bisa" ucap Celina.


"Kami biasanya mengundang anak-anak panti asuhan untuk memeriahkan pesta Lala" cerita Dokter Dinda.


"Benarkah? Aku juga dibesarkan di panti asuhan" cerita Celina.


"Sungguh? Aku tidak percaya, seorang anak dari panti asuhan bisa sukses seperti ini?" tanya Dokter Dinda.


"Sukses apa? Nilai kesuksesan bagi setiap orang itu berbeda-beda. Bagiku bisa memiliki keluarga yang harmonis, saling menyayangi dan saling percaya itu adalah kesuksesan bagiku. Sementara karir? Bagi sebagian orang karir yang kucapai saat ini belumlah seberapa" ucap Celina.


"Apa-apaan ini terdengar seperti curhat, apa kalian kurang harmonis? Aku tidak percaya itu, suami kakak terlihat sangat perhatian?" ucap Dokter Dinda.


"Sangat perhatian, itu tidak diragukan lagi. Oh ya, mengenai pesta apa yang bisa kubantu?" tanya Celina sambil tersenyum.


"Ya, aku bingung ingin membuat acara apa? Dari tahun ke tahun hanya mengundang, mengajak makan bersama lalu bernyanyi. Aku sendiri merasa bosan dengan acara yang selalu itu-itu saja. Entah bagaimana dengan Lala? Aku takut dia juga bosan mengadakan pesta yang acaranya sama setiap tahun" keluh Dokter Dinda panjang lebar.


"Bagaimana jika kita memberikan semacam door prize untuk memeriahkannya. Biasanya anak-anak sangat suka dengan hadiah" usul Celina.


"Bagus juga, bagaimana caranya? Berarti kita menyiapkan hadiah-hadiah untuk anak-anak itu? Lalu kita bagikan saat mereka pulang?" usul Dokter Dinda.


"Aku punya hasil kerajinan dari anak-anak panti asuhan tempat aku dibesarkan dulu. Biasanya aku bagikan saat berkunjung ke panti asuhan lain. Kita bisa jadikan itu sebagai hadiah tapi dengan syarat" ucap Celina.


"Pakai syarat? Berarti tidak semuanya di kasih?" tanya Dokter Dinda semangat.


"Semua tetap mendapatkan hadiah, hanya saja kita tidak tahu hadiah mana yang mereka inginkan. Karena kesukaan setiap anak itu berbeda jadi kita beri sesuai dengan yang mereka inginkan. Caranya kita panjang semua hadiah itu lalu kita berikan pertanyaan-pertanyaan yang mudah, siapa yang bisa atau yang paling cepat menjawab akan mendapatkan kesempatan untuk memilih hadiah yang mereka suka" ucap Celina.


"Oh ide yang menarik, aku bisa merasakan kemeriahannya" jawab Dokter Dinda sambil memeluk Celina.


Celina membalas pelukan Dokter Dinda meski heran untuk apa dokter itu memeluknya.


"Terima kasih Kak Celina, terima kasih untuk bantuan dan ide-idenya" ucap Dokter Dinda terharu.


Celina tertawa kemudian mengangguk, segera gadis itu mengajak Dokter Dinda untuk melihat gudang penyimpanan hasil kerajinan tangan anak-anak panti itu. Dokter Dinda sangat kagum akan kreasi unik mereka.


"Mereka menghasilkan karya-karya yang hebat. Aku tidak percaya kalau ini hasil buatan tangan anak-anak" ucap Dokter Dinda kagum.


"Yah, kalau mereka mau belajar mereka bisa membuat apa saja" ucap Celina.


"Siapa yang mengajari mereka? Pasti ada yang mengajarkan mereka membuat kreasi ini bukan?" tanya Dokter Dinda.


"Saya menempatkan guru untuk mengajari mereka ada yang sifatnya honorer, ada juga yang sukarela. Semua hasil karya mereka dijual dan disimpan dalam tabungan mereka masing-masing" ucap Celina.


"Banyak orang yang membeli?" tanya Dokter Dinda.


"Tentu, aku termasuk orang yang suka membelinya untuk kuhadiahkan kepada anak-anak yang datang ke toko. Selain mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan di toko. Aku juga memberikan hadiah hasil kerajinan itu sebagai kenang-kenangan. Tentu saja dengan menambahkan sedikit cerita di dalamnya hingga membuat mereka merasa bersyukur mendapatkan hadiah itu" jelas Celina.


"Wah, kak Celina sungguh cerdas" ungkap Dokter Dinda kagum.


"Gimana? Apa tertarik dengan hasil kerajinan ini?" tanya Celina.


"Tentu saja" ucap Dokter Dinda cepat.


Dokter itu pun memborong semua hasil kerajinan tangan anak-anak panti asuhan itu. Namun Celina tidak menerima pembayaran atas hadiah-hadiah itu dengan alasan karena memang telah diniatkan untuk disumbangkan.


Dokter Dinda semakin kagum pada Celina. Dokter Dinda juga merasa lega. Setelah bertemu dengan Celina rasa benci yang dipendamnya selama bertahun-tahun lenyap sudah karena telah mengenal kepribadian wanita cantik yang baik hati itu.


Dibantu karyawan toko semua hasil kerajinan tangan yang akan dijadikan hadiah dikirim ke rumah Dokter Dino. Dan langsung disimpan di sebuah kamar kosong. Dokter Dino hanya bisa memandang dengan penuh keheranan.


Setelah menyusun semua hasil kerajinan itu, Dokter Dinda menceritakan pertemuannya dengan Celina hingga akhirnya memutuskan membawa semua hasil kerajinan tangan itu. Dokter Dino memandang satu per satu hasil kerajinan tangan itu. Laki-laki itu mengangguk kagum dan setuju dengan susunan acara yang akan mereka adakan.


Dokter Dinda merasa sangat bersemangat saat membayangkan kemeriahan acara ulang tahun Nazolla. Dokter Dino memuji usaha Dokter Dinda untuk memeriahkan acara ulang tahun putrinya itu. Dokter Dinda sangat bahagia hingga tanpa disadarinya memeluk Dokter Dino.


Dokter Dino juga merasa senang dan tanpa sadar membalas pelukan Dokter Dinda. Hingga akhirnya mereka sadar lalu melepaskan pelukan masing-masing dengan wajah yang bersemu merah. Dokter Dino segera berpura-pura tertarik pada sebuah hasil karya kerajinan itu untuk mengalihkan rasa malunya. Sementara Dokter Dinda segera meminta diri untuk pulang.


"Bagaimana kalau makan malam di sini dulu" ucap Dokter Dino menawarkan makan malam.


"Oh, baiklah" ucap Dokter Dinda masih terlihat malu-malu.


"Tapi sepertinya kamu harus membantuku menyiapkannya. Bibi sedang sakit jadi aku menyuruhnya beristirahat kita terpaksa memasak makan malam sendiri atau kita pesan dari restoran saja" usul Dokter Dino.


"Kita bikin sendiri saja, aku akan lihat dulu bahan-bahan yang ada" ucap Dokter Dinda sambil berjalan ke dapur dan membuka kulkas.


"Begitu banyak bahan masakan kenapa kita harus membeli di restoran? Kita masak sendiri saja Dokter" ucap Dokter Dinda.


Dokter Dino mengangguk, mereka mulai menyiapkan bahan-bahan masakan. Dokter Dino yang tadinya minta dibantu justru tidak bisa melakukan apa-apa.


"Kalau begitu biar Dinda yang masak, Dokter Dino yang bantuin Dinda ya" ucap Dokter Dinda.

__ADS_1


Gadis itu merasa geregetan melihat cara Dokter Dino mengupas bawang karena memakan waktu yang lama.


"Bisa-bisa besok matangnya masakan ini, kita bisa keburu pingsan Dokter" ucap Dokter Dinda terlihat serius namun bercanda.


Dokter Dino pasrah Dokter Dinda mengambil kendali sebagai juru masak. Dokter cantik itu dengan cekatan menyiapkan semua bahan-bahan apalagi saat mengiris bawang terlihat seperti seorang Chef. Dokter Dino sampai ternganga menatapnya.


Laki-laki itu jadi merasa tidak enak hati hingga berinisiatif membantu menyiapkan minuman. Laki-laki itu berencana membuat cocktail untuk minumannya. Setelah Dokter Dinda selesai dengan masakannya gadis itu pun membantu Dokter Dino menyiapkan aneka buah yang di mix menjadi satu.


"Dokter? Barusan makan nanas ya?" tanya Dokter Dinda.


"Nggak, jangan sembarangan tuduh ya. Dari tadi saya cuma potong-potong buah-buahan ini saja? Siapa yang makan?" ucap Dokter Dino prostes.


"Ya, akui saja itu ada bekasnya ketinggalan" ucap Dokter Dinda.


"Nggak, jangan tuduh-tuduh ya mana bekasnya?" tanya Dokter Dino reflek menyeka mulutnya.


"Bukan di situ, disitu" ucap Dokter Dinda sambil menunjuk.


Dokter cantik itu tersenyum melihat Dokter Dino yang sibuk menyeka area mulutnya namun belum bisa mendapatkan yang Dokter Dinda maksud.


"Ini ya, Dinda buktikan ya" ucap gadis itu membantu menyeka setitik nanas yang melekat di samping bibir Dokter Dino.


"Ups..," ucap Dokter Dinda sambil melihat tangannya yang berwarna pink karena sedang mengupas buah naga.


"Kenapa?" tanya Dokter Dino mengusap samping bibirnya.


"Ups.. " ucap Dokter Dinda semakin keras lalu tertawa.


Setitik warna pink itu menyebar karena usapan Dokter Dino membuat Dokter Dinda tidak bisa menahan ketawanya.


"Kamu sengaja ya? Kamu sengaja menaruh warna buah ini di wajahku" tuduh Dokter Dino.


"Nggak..., nggak sengaja tadi rencananya mau bantu hapus tapi malah.." ucap Dokter Dinda sambil tertawa.


Melihat Dokter Dinda yang kembali tertawa Dokter Dino langsung mengejar Dokter Dinda untuk membalas. Dokter Dino sengaja memegang kulit buah yang berwarna merah itu di telapak tangannya dan mengejar Dokter Dinda.


"Ampun dokter, beneran tadi saya nggak sengaja" ucap Dokter Dinda sambil terus tertawa.


Melihat itu Dokter Dino semakin ingin mengejarnya. Hingga akhirnya Dokter Dino berhasil menangkup wajah Dokter Dinda hingga warna pink mewarnai kedua pipinya.


Dokter Dinda tertegun, merasakan kedua tangan Dokter Dino yang masih menangkup pipinya, dokter tampan itu pun tertegun Laki-laki itu menatap lekat wajah cantik dihadapannya.


Perlahan Dokter Dino mendekatkan bibirnya ke bibir Dokter Dinda. Dokter cantik itu menahan nafasnya, sedikit lagi bibir Dokter Dino akan menyentuh bibirnya.


Dokter Dino kaget, begitu juga dengan Dokter Dinda. Reflek mereka menjauh.


"Papa lagi ngapain?" tanya Lala.


"Oh itu..., lagi bersihin wajah Dokter Dinda" ucap Dokter Dino langsung mencuci tangannya dan menggendong Lala.


Dokter Dinda pun segera membersihkan wajahnya menggunakan wastafel dapur itu. Diam-diam Dokter Dino tersenyum mengingat kejadian tadi.


"Ini lagi ngapain?" tanya Lala melihat bahan-bahan masakan yang berserakan di meja dapur.


"Oh ini, Dokter Dinda mau bikinin masakan kesukaan Lala, soup jagung asparagus" ucap Dokter Dino.


"Asyik, Lala suka. Nanti Lala makan yang banyak ya Pa" ucap Lala meminta izin.


"Boleh, kalau gitu Lala ucapin terima kasih dulu dong. Ayo sayang mama dulu" ucap Dokter Dino sambil menyodorkan Lala mendekati Dokter Dinda.


Lala langsung menatap papanya, begitu juga dengan Dokter Dinda. Dokter Dino bingung melihat tatapan aneh kedua gadis itu. Dokter Dino teringat ucapannya dan langsung gelagapan.


"Maaf Dinda, mungkin karena kebiasaan" ucap Dokter Dino bersemu merah.


Laki-laki itu hendak berjalan menjauh dari Dokter Dinda namun Lala justru mendekatkan wajahnya pada dokter cantik itu. Gadis kecil itu langsung mencium pipi Dokter Dinda. Dokter cantik itu terkesima, Lala tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


Dokter Dinda membalas mengecup kedua pipi gadis kecil itu. Dokter Dino terharu. Setelah makan malam bersama Dokter Dinda mengajak Lala untuk melihat hasil kreasi anak-anak panti asuhan yang disimpan di kamar kosong di rumah itu.


"Apa ini Tante?" tanya Lala.


"Ini hadiah untuk anak-anak yang datang ke acara ulang tahun Lala. Anak-anak yatim piatu yang mungkin sangat jarang mendapatkan hadiah-hadiah seperti ini, gimana bagus nggak?" tanya Dokter Dinda.


Lala mengangguk, berjalan perlahan melihat-lihat hasil kerajinan tangan yang akan dijadikan hadiah itu.


"Nanti kita bungkus pakai plastik bening setelah itu kita kasih pita biar cantik" ucap Dokter Dinda sambil mengambil salah satu dari kerajinan tangan itu.


"Lala mau bantu bungkusin" ucap Lala.


"Benarkah? Lala mau bantu? Lala bisa?" tanya Dokter Dinda.


Lagi-lagi gadis kecil itu mengangguk. Dokter Dinda langsung mengambil bungkus plastik bening yang bermotif cantik itu lalu mengajari Lala cara membungkusnya.


"Lala bisa? Kalau udah di bungkus nanti kasih ke Tante biar Tante yang pasangin pitanya" ucap Dokter Dinda.

__ADS_1


"Bisa, hadiahnya ditaruh di tengah. Ujung plastiknya diangkat ke atas terus disatuin. Gitu aja kan Tante?" tanya Lala.


"Ya, anak yang pintar" ucap Dokter Dinda.


Lala pun mulai membungkus hadiah itu dan memberikan pada Dokter Dinda untuk dipasangi pita. Lala bertepuk tangan melihat hasil bungkusan hadiah yang terlihat sangat cantik setelah dipasangi pita.


Dokter Dino yang sedari tadi hanya diam memperhatikan di samping pintu akhirnya ikut membantu. Laki-laki itu duduk di karpet di samping putrinya. Mulai membungkus seperti yang dilakukan putrinya dan memberikan pada Dokter Dinda untuk dipasangi pita.


Bergantian Lala dan Dokter Dino menyodorkan bungkusan plastik mereka. Lama kelamaan Lala dan Dokter Dino jadi berpacu membungkus dengan cepat membuat Dokter Dinda kewalahan.


"Punya Lala dulu, Pa" ucap Lala.


"Nggak, Papa dulu yang selesai" balas Dokter Dino.


"Lala duluan, Lala udah dari tadi" ucap Lala.


"Papa udah dari kemarin" ucap Dokter Dino.


Lala dan Dokter Dinda tertawa sambil menunduk menutup mulut mereka.


"Orang bikinnya baru tadi, Iiih..., Papa bohong" jawab Lala.


"Bukan bohong tapi bercanda" ucap Dokter Dino.


"Nggak, Papa bohong, Papa harus di hukum" ucap Lala.


"Ya baiklah, terus Papa harus di hukum apa?" tanya Dokter Dino.


"Cium pipi Lala dan pipi Tante" ucap Lala sambil tertawa menutup mulutnya dengan tangannya.


"Kenapa?" tanya Dokter Dino.


"Ya Pa, karena Papa bohongnya sama Lala dan sama Tante Dinda" ucap Lala.


"Oh gitu, untung nggak ada bibi di sini kalau nggak Papa terpaksa cium pipi bibi juga dong" ucap Dokter Dino sambil tertawa.


"Ya..," ucap Lala sambil tertawa sedangkan Dokter Dinda hanya tersipu.


Dokter Dino mulai menjalankan hukumannya mencium pipi Lala kemudian mencium pipi Dokter Dinda. Dokter cantik itu tertunduk membeku saat bibir Dokter Dino menyentuh pipinya. Laki-laki itu melepaskannya perlahan dan menatap Dokter Dinda. Jantung mereka berdebar kencang.


"Kalau kena hukuman lagi, aku bisa kena serangan jantung" bisik Dokter Dino.


Dalam hati Dokter Dinda membenarkannya karena dia sendiri rasanya tidak sanggup menahan debaran jantungnya. Terlebih Dokter Dino melakukannya dengan perlahan.


"Fiiuuh.. untung saja sanggup menjalankan hukuman" ucap Dokter Dino.


"Makanya jangan suka bohong" ucap Lala sambil tertawa.


"Tapi Papa masih kuat kok kalau dapat hukuman lagi. Habis hukumannya enak" ucap Dokter Dino sambil melirik Dokter Dinda.


Dokter cantik itu menunduk malu.


"Lala panggil bibi biar ikut di sini. Biar kapok hukumannya tambah banyak" ucap Lala sambil tertawa.


"Aaaaah, nggak, nggak.., udah kapok. Serius udah kapok" ucap Dokter Dino.


Lala dan Dokter Dinda tertawa bersama. Saat tawa mereka reda barulah mereka melanjutkan membungkus hadiah-hadiah itu hingga habis. Mereka melakukannya hingga menjelang tengah malam. Setelah menidurkan Lala. Dokter Dinda pamit pulang.


"Sudah begitu malam, aku antar kamu pulang ya. Mobilmu tinggal dulu di sini" ucap Dokter Dino menawarkan diri mengantar Dokter Dinda pulang.


"Nggak apa-apa dokter. Aku sudah biasa kok jalan malam. Kalau ada panggilan dari rumah sakit, aku juga jalan sendiri" ucap Dokter Dinda sambil menekan tombol kunci mobilnya.


"Dinda" panggil Dokter Dinda.


Dokter Dinda membalik badan, Dokter Dino langsung menyatukan bibir mereka. Dokter Dinda kaget matanya membesar namun hanya sekejap. Setelah itu mata itu justru terpejam menikmati ciuman lembut Dokter Dino. Dokter Dinda tersandar ke mobil namun mereka belum menghentikannya. Dokter Dino memeluk erat Dokter Dinda dan dokter cantik itu membalas pelukannya.


...~ Bersambung ~...


Dear,


Penulis dan Pembaca Setia Noveltoon.


Mohon dukungannya untuk karya lombaku dalam event Lomba Menulis #BerbagiCinta yang berjudul :


...BERBAGI CINTA - SUAMI YANG DINGIN...


Like, vote, Comment, Favorit dan segala bentuk dukungan apa saja sangat berarti bagi saya, yang akan menjadi penyemangat bagi saya dalam berkarya.


Terus beri dukungannya ya, terima kasih.


^^^Salam hormat,^^^


^^^Author^^^

__ADS_1


^^^Alitha Fransisca^^^


__ADS_2