Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 40 ~ Di Gudang ~


__ADS_3

Celina didorong masuk kedalam mobil, Keira sempat melihat kejadian itu berusaha mengejar namun terlambat, mereka telah membawanya pergi. Keira berteriak memanggil nama Celina. Terlihat jelas wajah panik Celina yang meminta tolong sambil menggedor jendela kaca mobil, Keira menangis panik.


Orang-orang yang berdatangan mulai membicarakan peristiwa itu. Keira segera mengambil ponselnya menghubungi Kevin.


"Kevin.. bagaimana ini, bagaimana ini.. Celina dibawa orang, dia diculik" ucap Keira menangis sambil mengambil buket bunga Celina yang terjatuh.


"Jangan bercanda Keira, aku tidak akan memaafkanmu jika kamu menghasutnya untuk lari dari pernikahan ini" bentak Kevin.


"AKU TIDAK BERCANDA ! ! !" " ucap Keira keras.


Keira membentak Kevin sambil menangis, disela-sela tangis Keira, Kevin mendengar suara orang-orang ramai disekitar gadis itu.


"Kamu dimana ?" tanya Kevin mulai panik.


"Aku didepan gedung sanggar rias pengantin, kami baru saja akan berangkat, aku hanya telat sesaat, mereka telah membawanya pergi" ucap Keira masih menangis.


Kevin berjalan keluar dari ruang rias hotel bintang lima itu, berjalan tergesa menuju ballroom. Tamu-tamu sudah mulai berdatangan, Kevin terus berhubungan dengan Keira. Laki-laki itu berjalan tergesa akhirnya menemukan Raffa yang duduk termenung dimeja tamu.


"Celina diculik" ucap Kevin.


Meski tidak percaya namun akhirnya Kevin mengabarkan berita itu pada Raffa. Laki-laki yang sejak tadi hanya diam mematung itu terkejut tak percaya. Namun kabar ini berasal dari Kevin, calon pengantin dalam pesta pernikahan ini. Kevin tak mungkin bercanda.


"Apa ? apa maksudmu diculik ? " tanya Raffa tak percaya.


Kevin menyerahkan ponselnya pada Raffa, Keira masih tersambung disana. Raffa menanyakan apa yang terjadi, Keira menjelaskan apa yang dilihatnya.


"Saksi mata dari dalam gedung menyaksikan seorang wanita tua diseret oleh beberapa orang laki-laki, Celina mengejar mencoba menolongnya, akhirnya Celina juga ikut dibawa" ucap Keira masih terdengar menangis.


Raffa juga mendengar orang-orang yang ribut disekitar Keira. Raffa bertanya-tanya kenapa Celina begitu berani mengejar para penculik itu. Tiba-tiba Raffa mendapati ponselnya bergetar, Raffa menyerahkan ponsel Kevin pada pemiliknya. Raffa berlari keluar dari ballroom sambil mengangkat ponselnya, Kevin lari mengikuti.


"Kamu disini saja tunggu Celina, aku akan mencarinya" ucap Raffa.


"TIDAK.. AKU IKUT" teriak Kevin.


Tak ingin hanya berdiam diri, Kevin ikut berlari keluar dari ballroom.


"Tuan, Ny. Rowenna diculik" terdengar suara dari seberang setelah Raffa menerima ponselnya.


"APA ?" Raffa terkejut, baru saja laki-laki itu mendapat kabar dari sopir pribadi Ny. Rowenna.


Wajah Raffa bertambah panik, laki-laki itu semakin percaya kalau peristiwa ini benar-benar terjadi. Keira mengabarkan Celina berusaha menolong seorang wanita tua yang diseret masuk ke dalam mobil, dan ternyata wanita tua itu adalah ibunya sendiri.


"Kita kesana, mommy diculik bersama Celina" ucap Raffa sambil berlari menuju elevator.


Berdua mereka panik, tidak tenang didalam elevator. Begitu pintu lift terbuka mereka langsung berlari menuju mobil. Raffa mengendarai sedan sportnya dengan kecepatan tinggi. Sebisanya segera sampai digedung sanggar rias pengantin dan wedding organizer itu.


Terlihat orang-orang yang ramai membicarakan kejadian itu. Orang-orang yang tadinya berada didalam gedung mendengar suara teriakan sontak melihat ke jendela dan menyaksikan Ny. Rowenna ditarik paksa oleh orang-orang berpakaian preman.


Mereka semakin kaget melihat seorang wanita berpakaian pengantin mengejar dan melakukan perlawanan pada preman-preman itu. Namun akhirnya wanita itu ikut dibawa pergi.


Raffa dan Kevin akhirnya sampai di depan gedung itu, terlihat Keira sedang memberikan kesaksian pada seorang aparat. Begitu juga beberapa orang saksi lainnya.


Raffa langsung didatangi sopir pribadi Ny. Rowenna.


"Tuan, saya sedang menunggu nyonya disana, saat saya mendengar ada orang berteriak saya langsung mencari, saya melihat preman-preman menggunakan dua mobil pergi membawa nyonya, maafkan saya tuan" ucap sopir itu menyesal.


Raffa mengangguk menepuk bahu sopir yang terlihat sangat menyesal itu. Mereka segera menemui Keira, gadis itu terlihat sangat sedih. Buket bunga Celina masih digenggamnya, melihat Kevin datang gadis itu langsung memeluk Kevin. Terisak-isak gadis itu menceritakan apa yang dilihatnya, Kevin termangu.


Raffa menemui aparat yang sedang meminta kesaksian dari orang-orang yang ada disekitar.


"Kami akan segera memeriksa kamera pemantau yang ada disekitar sini. Mungkin bisa membantu melacak para penculik itu" ucap aparat merespon pertanyaan Raffa.


"Tolong pak, yang diculik ibu saya dan wanita yang saya cintai. Tolong secepatnya ditemukan pak, sebelum terjadi sesuatu yang buruk" ucap Raffa berkaca-kaca.


"Tentu pak, kami usahakan secepatnya. Saat ini orang-orang saya sedang bergerak mencari rekaman dari kamera-kamera pengawas yang mungkin terpasang di beberapa gedung sekitar sini. Jangan khawatir pak, kami akan pantau terus perkembangannya" ujar aparat itu kembali bertanya pada beberapa saksi.


Raffa termenung, dua orang wanita yang sangat berharga baginya telah dibawa pergi entah kemana, laki-laki itu meremas rambutnya. Frustrasi luar biasa, membuka jas hitamnya lalu membuangnya begitu saja.


Duduk di teras, Keira datang memeluk Raffa. Gadis itu belum berhenti menangis, berdua mereka menangisi kejadian ini. Kevin datang mendekat, duduk disamping Raffa.


"Kira-kira siapa pelakunya ? tante mungkin memiliki banyak musuh. Celina hanya korban, dia ikut terbawa oleh mereka" ucap Kevin mencoba mengingatkan Raffa.


"Begitu banyak pesaingnya, begitu banyak orang yang benci dan iri pada mommy, siapa yang harus aku curigai" ucap Raffa.


"Lalu apa yang harus kita lakukan ?" tanya Kevin.

__ADS_1


"Kita tunggu penyelidikan aparat, mudah-mudahan bisa segera terlacak siapa penculikannya" jawab Raffa.


Keira kembali menangis keras.


"Aku menyesal, harusnya aku menemaninya. Harusnya dia menungguku didalam, harusnya tidak mengucapkan itu" ucap Keira sambil memeluk buket bunga Celina.


Raffa menatap Keira yang menangis keras hingga tubuhnya berguncang.


"Dia sangat cantik, seperti bidadari harusnya aku tidak mengucapkan itu" ucap Keira lalu bersandar pada Raffa.


Firasat buruk tersirat dibenak Keira membuat dia menyesal mengungkapkan kata-kata itu. Keira, Kevin dan Raffa menunggu perkembangan penyelidikan dari pihak kepolisian. Pesta pernikahan sudah tidak mereka pikirkan lagi.


Kevin mengambil ponselnya, memberi kabar pada Alyssa yang masih menunggu di meja tamu bersama kedua orang tuanya di ballroom hotel tempat acara pernikahan diadakan.


Gadis yang tadinya tidak ingin menghadiri pesta pernikahan kakaknya, terpaksa ikut setelah dibujuk oleh ibunya. Meski mereka belum pernah bertemu Celina tapi kedua orang tuanya sangat percaya pada pilihan putranya.


Alyssa menerima panggilan diponselnya, sejujurnya gadis itu penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Alyssa tak melihat kakaknya sejak tadi. Alyssa menutup mulutnya, air matanya langsung mengalir, kedua orang tuanya heran melihat ekspresi putrinya.


"Pa, ma, Celina, calon istri kakak diculik orang" ucap Alyssa.


Kedua orang tua Alyssa tercengang, saling berpandangan.


"Bagaimana ini, berarti pesta ini dibatalkan ?" tanya ibunda Alyssa.


"Aparat masih mencoba melacak keberadaan mereka, tapi sampai sekarang belum ditemukan" ucap Alyssa langsung menangis memeluk ibunya.


Gadis itu merasa menyesal dengan sikapnya selama ini pada Celina. Alyssa menggelengkan kepalanya sekuat-kuatnya menghapus pikiran buruk yang merasuk dibenaknya. Alyssa akan menyesal seumur hidupnya jika sesuatu yang buruk terjadi pada Celina.


Segera Celina mencari Ozora, anak itu telah lama diabaikannya. Sejak mengetahui Ozora adalah putra Raffa, Alyssa menjauh dan menghindari dari Ozora. Gadis itu merasa menyesal dengan sikap kekanak-kanakannya. Membenci anak kecil yang tidak tau apa-apa.


Alyssa menatap anak yang diam tertunduk seorang diri dimeja tamu itu. Entah apa yang ada didalam pikirannya, apakah dia tau keadaan ibunya, Alyssa menangis mendekati Ozora.


Ozora kaget melihat Alyssa yang menangis dihadapannya. Alyssa menggendong Ozora, memeluk anak itu dengan erat. Merasa kasihan pada anak yang sekarang tidak tau dimana ibunya itu.


Sementara semua masih menunggu kabar dari Kevin dan Raffa. Penanggung jawab tim wedding organizer terlihat bingung, kedua pengantin masih belum terlihat, sementara para tamu sudah mulai berdatangan.


Alyssa menjelaskan situasi, penanggung jawab itu terperangah kaget. Mereka semua berharap segera mendapat kabar baik.


Sementara itu Celina dan Ny. Rowenna didorong hingga jatuh disebuah gudang kosong yang telah terbengkalai. Orang-orang itu langsung mengunci kembali pintu gudang itu. Celina membersihkan tangannya yang kotor terkena debu. Berdiri memandangi sekeliling gudang dengan langit-langit yang begitu tinggi.


Berlari kesana kemari, dari sudut ke sudut, mencari celah untuk melarikan diri. Namun gudang ini begitu tertutup, hanya jendela kaca yang berderet tinggi di dekat langit-langit sebagai penerangan gudang ini.


Gadis itu duduk di lantai beralaskan kardus-kardus bekas, letih berlari kesana kemari. Ny. Rowenna masih memandang gadis itu dengan tatapan sayu.


"Kenapa kamu menolongku ? padahal aku telah berbuat jahat padamu" tanya Rowenna dengan mata yang berkaca-kaca.


Celina mengangkat wajahnya, menata wanita tua yang masih terlihat cantik itu.


"Saya tidak mungkin diam saja melihat nyonya dijahati orang didepan mata saya" ucap Celina.


Ny. Rowenna menatap gaun Celina yang sekarang telah terlihat kotor.


"Maafkan saya nyonya, saya tidak berhasil menolong nyonya" ucap Celina sambil menunduk meneteskan air mata.


Ny. Rowenna memejamkan matanya, mengalir bulir bening disitu. Gadis itu menyesal, meminta maaf karena tidak berhasil menolongnya sementara dia sendiri ikut terbawa. Meninggalkan pesta pernikahan yang seharusnya menjadi momen bahagianya.


Ny. Rowenna mendekati Celina, memeluk gadis itu. Meski tidak mengucapkan sepatah katapun namun Celina bisa merasakan kalau Ny. Rowenna juga menyesal dengan kejadian ini.


Bersama mereka mengeluarkan air mata, mereka tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Apakah keluar dari tempat ini dengan selamat atau hanya tinggal nama. Hingga saat ini mereka belum tau kenapa orang-orang itu membawa mereka.


Ny. Rowenna membelai wajah gadis yang begitu cantik dengan riasan pengantinnya itu, meski air mata mengalir di wajah Celina namun kecantikannya masih terlihat nyata.


Kamu tidak hanya cantik wajahmu, namun juga cantik hatimu, kenapa aku membenci orang sepertimu ? batin Rowenna.


Hanya karena status sosial, aku memisahkannya dengan laki-laki yang dicintainya. Tapi lihatlah kami sekarang ini status sosial yang tinggi tidak menolongku sama sekali, gadis ini justru berusaha menolongku, menepis rasa. takutnya demi menyelamatkan wanita tua jahat sepertiku, jerit hati Rowenna.


Celina menatap heran pada Ny. Rowenna yang tak berhenti menatapnya, air mata wanita tua itu tidak berhenti menangis.


"Tenanglah nyonya, kita akan mencoba mencari jalan keluar lagi" ucap Celina menghibur Ny. Rowenna.


Celina kembali bangkit ingin mencari celah melarikan diri dengan lebih teliti, namun Ny. Rowenna menghentikannya.


"Tidak ada jalan keluar, bukankah kamu telah mencarinya ?" ujar Rowenna.


"Maaf nyonya, mungkin saya yang kurang teliti' jawab Celina.

__ADS_1


"Sudahlah, kamu istirahatlah, kita tidak tau sampai kapan kita akan disini. Jangan membuang tenagamu" ucap Rowenna.


Lama mereka menunggu namun tak terjadi apapun, hari sudah beranjak sore tak ada tanda-tanda orang akan datang. Baik dari pihak penculik maupun orang-orang yang akan menolong.


Ny. Rowenna tak sabar ingin mengetahui siapa dalang dari penculikannya ini. Namun hingga larut malam mereka belum didatangi oleh siapapun.


Ny. Rowenna memegang perutnya yang terasa lapar, saat inilah baru dia menyadari, seperti apa rasanya kelaparan namun tak ada satupun yang bisa dimakan. Sementara Celina hanya termenung memikirkan pesta pernikahannya yang sudah pasti gagal.


Namun Celina hanya mengkhawatirkan anaknya, gadis itu menitikkan air mata membayangkan Ozora yang ditinggalkannya, harus kehilangan ibu seperti dirinya. Sekarang gadis itu justru berharap Raffa mau merawatnya.


"Maaf nyonya ini salahku, ini dosaku yang begitu egois takut kehilangan anakku" ucap Celina menunduk menitikkan air mata.


"Aku tidak ingin Ozora dirawat keluargamu namun sekarang aku justru berharap keluarga nyonya mau merawatnya jika sesuatu yang buruk terjadi padaku" lanjut Celina.


"Ini dosaku, memisahkan Ozora dari keluarga yang ingin menyayanginya" ujar Celina lagi semakin menangis tersedu-sedu.


Ny. Rowenna menggelengkan kepalanya, memeluk erat tubuh Celina yang berguncang.


"Jangan bicara seperti itu, jangan pikirkan hal-hal yang buruk, berharaplah semoga kita bisa keluar dari tempat ini dengan selamat" ucap Rowenna.


Hari semakin gelap, tak ada penerangan apapun. Mereka tidur diatas lembaran kardus. Lelah, letih tubuh dan perasaan. Rasa takut, cemas, sedih bercampur menjadi satu.


Banyak penyesalan-penyesalan yang terlintas dibenak mereka. Membuat tubuh dan jiwa mereka terasa sangat letih.


Sementara dirumahnya, Kevin masih menunggu kabar dari aparat. Raffa ikut menunggu kabar dirumah Alyssa, laki-laki itu tidak ingin Daddy nya tau apa yang terjadi, setiap kali penghuni rumah bertanya dia menjawab Rowenna bertemu dengan teman lamanya dan ingin menginap bersama dirumah Alyssa.


Ya benar, sebagian kebohongan Raffa adalah benar, sekarang mereka berkumpul dengan Alyssa dan orang tuanya yang juga merasa khawatir akan kabar kedua orang yang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan mereka. Ny. Rowenna sahabat mereka, dan Celina calon menantu mereka.


Kevin termenung sejak pulang dari gedung dimana Celina menghilang tadi. Tak henti-hentinya laki-laki itu menyesali dirinya, menyesali sikap jahatnya, laki-laki itu menyesal hingga berjanji dalam hatinya akan membiarkan gadis itu untuk memilih kebahagiaannya.


Mereka berkumpul diruang tengah, sebentar-sebentar menatap ponsel seakan-akan takut ponsel mereka tidak berfungsi saat aparat menghubungi mereka.


Alyssa mengajak Ozora tidur dikamarnya sementara kedua orang tuanya dikamar yang biasa ditempati Celina. Raffa dan Kevin masih menunggu kabar di ruang tengah. Mereka benar-benar merasa khawatir. Hingga kini mereka masih belum mendapat kabar tentang kedua wanita itu. Raffa tertunduk menangis diam-diam, begitu juga dengan Kevin.


Celina memeluk kedua lututnya, ingin mencoba tidur namun tidak bisa, gadis itu kedinginan. Sementara Ny. Rowenna termenung merenungi nasibnya. Merenungi perbuatan-perbuatan jahatnya.


Sekarang baru menyadari akibat keegoisannya bisa berakibat buruk pada dirinya. Ny. Rowenna yakin semua ini akibat orang yang menaruh dendam padanya.


Celina dan Ny. Rowenna baru saja tertidur saat tiba-tiba pintu gudang dibuka. Ny. Rowenna dan Celina terkejut melihat siapa dalang dari penculikan mereka.


"Aku benar-benar beruntung, sekali melempar batu dua katak langsung mati" ucap Jessica sambil tertawa.


"Apa maumu Jessica ?" tanya Rowenna.


"Banyak, aku ingin membalas semua perlakuanmu padaku, perlakuan kalian.


Kau telah mengusirku dari rumahku, memaksaku berpisah dengan suamiku.


Kamu sudah berani menggoda suamiku. Aku ingin membalas dendam pada kalian" ucap Jessica lalu tertawa.


Celina terkejut dengan ucapan Jessica, tak menyangka kalau Ny. Rowenna telah mengusir menantunya itu. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk membawa anak kecil.


"Tita, apa yang kamu lakukan Jessica, kenapa membawa Tita kesini ?" ucap Celina sedih melihat keadaan Tita yang seperti tidak diurus.


Anak itu menangis.


"Sana, kalau kamu mau bergabung dengan mereka" ucap Jessica mendorong Tita yang menangis sedih.


"Teganya kamu terhadap anakmu sendiri" ucap Celina langsung memeluk Tita.


"Bagaimana lagi, aku pusing mendengarnya selalu menangis. Dari dulu aku memang tidak ingin memiliki anak, menyusahkan saja. Tapi aku terlanjur hamil dan Raffa mau menikahiku, kebetulan bukan ? aku bisa menikmati harta keluarga Saltano karena anak itu. Tapi sekarang aku justru diusir karena dia. Karena dia bukan keturunan Saltano, aku benci dia" ucap Jessica tak berperasaan.


Celina menutup telinga gadis kecil itu, tak tega jika dia harus mendengar ucapan kejam ibunya. Celina menatap tajam pada Jessica. Jika wanita itu ingin menghinanya dia akan pasrah, namun menyakiti hati anak kecil itu membuat Celina benar-benar marah.


"Perempuan jahat tak punya hati" ucap Celina.


"Ya aku memang seperti itu dan sekarang aku ingin kalian mati kelaparan disini, merasakan bagaimana rasanya mati seperti gembel" ucap Jessica tertawa.


Ny. Rowenna kesal maju kedepan menampar wajah Jessica. Nyonya itu benar-benar tidak tahan dihina seperti itu. Jessica kalap, meraih pisau yang terselip di saku seorang preman lalu menusuknya.


Wanita itu berhasil menusukan pisau itu, namun bukan pada Ny. Rowenna tapi pada Celina. Gadis itu mencoba merebut pisau itu namun terlanjur menancap diperutnya.


Ny. Rowenna menjerit, Jessica tersadar dari perbuatannya. Celina ambruk ke lantai.


Darah segar mengalir membasahi gaun putih Celina, dalam sekejap gaun indah itu telah didominasi warna merah. Ny. Rowenna menjerit, lalu merangkul gadis yang langsung terkulai lemah itu.

__ADS_1


Celina terlentang menatap langit-langit gudang yang tinggi. Tangannya dipenuhi darah yang mengalir dari perut sebelah kirinya.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2