
Ozora melakukan sesuatu yang sengaja membuat papanya panik. Anak itu sengaja mengenakan kalung silver pemberian Oma Widya-nya yang pernah membuat alarm metal detektor bandara itu berbunyi saat bersamanya dulu.
Hal yang pernah menjadi kenangan bagi Raffa dan Ozora saat kembali dari perjalanan wisata bersama keluarga Saltano. Raffa bahkan berulang kali melakukan itu demi menghilangkan rasa rindu pada putranya yang terpisah sekian lama darinya.
Kini kenangan itu dibangkitkan kembali oleh Ozora. Dan ternyata memiliki efek bagi Raffa. Meski bunyi alarm bandara itu telah berhenti namun Raffa masih mendengar bunyi itu di kepalanya. Raffa tidak tahan mendengar bunyi yang tak mau hilang di kepalanya itu hingga akhirnya jatuh pingsan.
Mereka langsung melarikan Raffa ke rumah sakit. Dokter memeriksa keadaan Raffa. Ozora dan Edward menunggu, berharap-harap cemas terhadap apa yang akan terjadi pada Raffa.
"Kamu yakin cara ini bisa berhasil?" tanya Edward.
"Kita coba lakukan semua Uncle, demi Papa, demi kami," jawab Ozora.
Meski tidak yakin seratus persen tapi Ozora tidak patah semangat. Dia tidak ingin kehilangan Papanya, meski tubuh itu milik Papanya namun kenangannya telah hilang. Ozora tak ingin Papanya kehilangan kenangan bersamanya bersama Mamanya dan semua orang yang menyayanginya.
Setelah memeriksa tanda-tanda vital Raffa. Dokter menyatakan semua baik-baik saja. Ozora lega, tinggal menunggu efek dari usaha yang dilakukannya tadi.
"Tadi itu pemaksaan, pemaksaan mengingat sesuatu yang pernah terjadi," ucap Ozora sambil tertawa.
"Ya, asal jangan pemaksaan cinta. Seperti yang di lakukan Aunty-mu Natasha," ucap Edward.
"Dia bukan Aunty-ku, semua Aunty-ku menyayangiku dan keluargaku. Tidak tau kalau Aunty yang baru nanti, apa sayang juga padaku atau tidak?" tanya Ozora.
"Aunty yang baru? Siapa?" tanya Edward.
"Itu saja tidak tahu, Nyonya Miller. Lengkapnya Nyonya Edward Miller," jawab Ozora menekankan kata-kata 'nyonya'.
Edward tertawa.
"Masih jauh, belum terpikirkan jadi kamu tidak perlu' takut punya Aunty baru," jawab Edward masih tertawa.
Mereka tertawa bersama.
"Ozora tidak cemas dengan keadaan Papa?" tanya Edward yang melihat anak itu tetap ceria.
"Cemas sekali, Ozora sayang sama Papa. Bertahun-tahun mencari dan membuktikan Papa Raffa adalah ayah kandung Ozora. Karena itu rasa cemas Ozora tidak boleh membuat Ozora patah semangat untuk menemukan kenangan Papa yang hilang," jawab Ozora tertunduk.
Edward mengusap punggung anak menjelang remaja itu. Ozora menunggu bersama Edward dengan sabar. Raffa menghilang dari rumahnya lebih dari seminggu. Selama itu juga Ozora merasa cemas. Namun kecemasan Ozora tak ingin membuat otaknya buntu.
Karena itu dia menghubungi teman-temannya di dunia maya hingga akhirnya menemukan keberadaan Raffa. Menemukan laki-laki kesayangannya itu sudah membuatnya senang. Namun sayang laki-laki itu tidak mengingatnya hingga kebahagiaan Ozora tidaklah terasa lengkap.
Sekian lama menunggu akhirnya Raffa sadar dari pingsannya. Raffa dengan lancar bertanya pada Ozora dan Edward penyebab mereka berada di ruangan rumah sakit.
Ozora langsung menunjukkan sebuah foto.
"Papa, foto siapa ini?" tanya Ozora.
"Ini foto keluarga besar kita saat berlibur di Villa. Kenapa menanyakan itu?" tanya Raffa.
"Papa bisa menyebutkan nama mereka semuanya?" tanya Ozora.
Anak itu sengaja menanyakan orang-orang yang belum ditemui Raffa saat mengalami amnesia. Dengan yakin Raffa menjawab nama semua orang-orang yang terdapat dalam foto bersama itu.
"Kenapa Ozora menanyakan nama mereka?" tanya Raffa.
"Apa Papa lupa kalau kemarin Papa mengalami amnesia?" tanya Ozora.
"Papa ingat, Papa tahu kalau sedang amnesia. Tapi mana mungkin Papa melupakan mereka semua. Ozora saja yang tidak menanyakannya kemarin," jawab Raffa.
Ozora tertawa.
"Sama Mama saja lupa malah apalagi sama mereka," jawab Ozora tertawa.
Raffa tercenung, baru ingat kalau kemarin dia melupakan semuanya. Meski bisa langsung menerima Celina tapi tetap saja dia melupakan istri yang sangat dicintainya itu. Namun, setelah itu Raffa tersenyum meski dia melupakan Celina tetap saja dia jatuh cinta lagi padanya.
"Lagi mikirin Mama ya," goda Ozora.
__ADS_1
Ozora tersenyum lalu memeluk Papanya, Edward juga ikut tersenyum. Anak itu bahagia karena Papanya telah kembali ingat sepenuhnya. Raffa langsung menelpon Celina dan mengabarkan bahwa ingatannya telah kembali seperti semula.
Celina merasa sangat bahagia hingga menitikkan air mata. Tiba-tiba sambungan ponsel terputus, Celina heran dan langsung panik. Celina mencoba menghubungi kembali namun belum sempat melakukan panggilan Raffa menghubungi Celina menggunakan video call. Gadis itu langsung mengurut dada.
"Aku khawatir, sambungan teleponnya tiba-tiba terputus," ucap Celina dengan wajah yang masih menyisakan rasa cemas.
"Aku ingin melihat wajahmu, aku sangat merindukanmu," jawab Raffa.
Celina mengangguk sambil menghapus air mata haru.
"Mana gadis cantik Papa?" tanya Raffa.
Celina langsung meletakkan ponselnya dan menggendong Aurora, kembali meraih ponselnya dan melakukan video call bersama Aurora.
"Dia lebih cantik darimu Celina tapi aku tenang saja aku tetap cinta padamu," ucap Raffa sambil tersenyum.
Celina mencium pipi bayinya dan melambaikan tangan Aurora pada Raffa.
"Kapan Kakak pulang?" tanya Celina.
"Aku ingin secepatnya tapi dua pejantan tangguh itu masih ingin berlibur," ucap Raffa.
Celina tertawa, gadis itu mengerti yang dimaksudkan Raffa adalah kakaknya dan putranya.
"Baiklah tapi kalian baik-baik saja di sana ya, jangan sampai tergoda gadis cantik di sana," ucap Celina sambil tersenyum.
"Oh jangan khawatir, kami tidak akan tergoda gadis cantik di sini. Mereka yang tergoda pada kami," ucap Raffa sambil tertawa.
Celina langsung memonyongkan bibirnya, Raffa berhenti tertawa dan diam menatap istrinya.
"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Rasanya seperti terpisah lama, aku tidak sanggup lagi berpisah darimu Celina," ucap Raffa.
Celina tersenyum, tak perlu menjawab karena dia yakin Raffa juga tahu Celina berpikiran sama.
"Sudah dulu ya sayang, nanti aku sambung lagi. Para pejantan tangguh itu memanggilku mungkin butuh bantuan untuk menggaet seorang gadis cantik," ucap Raffa menggoda Celina.
"Nggak lah, aku nggak akan berurusan dengan wanita cantik selain kamu. I love you, sayang," lanjut Raffa kemudian memutuskan sambungan video call-nya sambil melambaikan tangan.
Raffa menaruh ponselnya dan menemui Ozora yang menunggu untuk berenang bersama di kolam renang hotel.
"Papa nelpon Mama ya?" tanya Ozora.
"Ya, sayang," jawab Raffa.
"Mama nggak nyuruh kita pulang?" tanya Ozora lagi.
"Nggak, cuma bertanya kapan pulang," jawab Raffa.
Ozora mengajak Raffa duduk di kursi santai sambil tertawa menatap Edward yang telah sibuk menggoda dua orang gadis di dalam kolam.
Pertama kali bertemu dengannya dia juga seperti itu, apa tidak bosan bermain-bermain dengan gadis-gadis? Aku bahkan menuduhnya ingin menggoda Celina dulu, batin Raffa kemudian tersenyum.
"Ada apa? Kenapa Papa tersenyum?" tanya Ozora.
"Papa ingat dulu pernah melihat kejadian seperti ini juga, Uncle Ed menggoda gadis di kolam. Papa kira saat itu dia juga ingin menggoda Mama," ucap Raffa.
"Oh ya? Uncle sengaja dekati Mama?" tanya Ozora penasaran.
"Ya, rupanya dia ingin menyelidiki asal usul Mama," jelas Raffa.
Ozora mengangguk-angguk. Tak lama kemudian Ozora mengajak Raffa berenang.
"Padahal di rumah ada kolam renang, kenapa kita berenang di rumah saja?" tanya Raffa.
"Di rumah nggak ada gadis-gadisnya," jawab Ozora tertawa.
__ADS_1
"Kamu sudah mulai mirip Pamanmu," ucap Raffa.
"Nggak, semua orang bilang Ozora mirip Papa, penggoda wanita," ucap Ozora.
"Hey, jangan sembarangan bicara, siapa yang penggoda wanita?" tanya Raffa.
"Papa lah, kalau nggak gimana caranya dapat Mama?" tanya Ozora sambil berlari ke pinggir kolam.
Raffa mengejar mereka pun berenang bersama. Berlomba untuk mencapai tepian pertama kali.
"Cuma kita berenang di sini, yang lain cuma berendam," ucap Ozora tertawa melihat Edward yang masih berbincang dengan gadis-gadis cantik di pinggir kolam.
Ozora kembali mengajak papanya berlomba.
"Kalau ingin lomba renang, lawan Uncle Kev. Dia juara lomba waktu di SMA," jelas Raffa.
"Ya, nanti Ozora udah tantang Uncle Kev. Kalau ada waktu Uncle Kev akan datang ke rumah," ucap Ozora.
Ada rasa menyesal di hati Raffa mengusulkan lomba itu. Masih ada rasa pada sahabatnya itu, bagaimana pun juga Kevin dan Celina pernah bertunangan dan mencoba untuk menjalin hubungan cinta.
Ozora mengajak Papanya istirahat di kursi santai sambil menikmati minuman segar mereka.
"Permisi, bisa saya minta tolong sedikit?" tanya seorang wanita cantik yang datang bersama putrinya yang seusia Ozora.
"Ada apa ya? Pertolongan seperti apa?" tanya Raffa balik bertanya.
"Bisakah kita berfoto bersama?" tanya wanita cantik itu.
"Untuk apa? Kalau boleh saya tahu?" tanya Raffa lagi.
"Boleh saya duduk di sini? Kenalkan saya Felicia dan ini putri saya Olivia. Saya baru mengajukan permohonan perceraian dengan suami saya tapi suami saya masih saja terus mengganggu saya dan putri saya. Kami ingin meminta bantuanmu, mungkin jika dia mengira kalau aku telah memiliki calon pendamping dia tidak akan menggangguku lagi," jelas Felicia.
"Maaf aku tidak bisa membantu, aku juga memiliki keluarga tidak mungkin rasanya melakukan hal seperti itu. Saya tidak mau ada masalah di belakang hari, maaf ya mungkin bisa mencari yang lain," ucap Raffa menyesal.
"Tolong tuan, jika saya sembarangan memilih orang, suami saya tidak akan percaya. Tolong lah saya tuan, saya ingin bebas dari dia. Kami sangat menderita hidup bersamanya. Dia suka main perempuan dan melakukan KDRT. Sungguh, hanya satu kali foto dan dikirimkan padanya sudah cukup tuan," mohon Felicia.
Raffa menoleh pada Ozora, meminta pendapat pada anak itu.
"Kamu Ozora bukan? Anak jenius itu?" tanya Olivia.
"Ya benar," jawab Ozora.
"Mommy, dia Ozora yang Livia bilang waktu itu," ucap Olivia pada ibunya.
"Oh ya, yang terkenal cerdas itu? Oh ya ampun, kami belum sempat ke toko buku tempat kamu biasa menyambut pengunjung toko," ujar Felicia terpancing untuk mengenal Ozora.
"Ya, Mommy kita nggak boleh ke toko itu sama Daddy," ucap Olivia sambil menunduk.
"Begitulah tuan, suami saya itu sangat over protective, kami menjadi terkekang sementara dia bisa berbuat apa saja yang diinginkannya," ucap Felicia sambil menangis.
Raffa diam, setengah hatinya ingin menolong namun dia tidak ingin ada masalah dikemudian hari karena itu dia menolak.
"Bagaimana kalau minta bantuan kakak ipar saya, dia masih lajang. Jadi mungkin tidak ada masalah jika dia bersedia," usul Raffa.
"Bolehkah tuan, apa kira-kira dia mau?" tanya Felicia.
"Kita coba saja," ucap Raffa yang langsung memanggil Edward.
"Dia tinggal di New York jadi setelah ini mungkin tidak akan ada masalah baginya. Kalau saya terus terang tidak bisa, saya takut ada yang mengenali foto saya hingga terdengar oleh istri saya bahwa saya memiliki keluarga lain. Saya bisa kehilangan gadis yang saya cintai," jelas Raffa.
Felicia akhirnya mengerti dan meminta tolong pada Edward. Laki-laki itu bersedia bahkan bisa berpose mesra dengan wanita itu. Felicia sangat berterima kasih pada keduanya bahkan juga pada Ozora.
Seperti yang diucapkannya, foto itu dikirimkannya pada suaminya. Dan Raffa pun bebas dari permintaannya. Namun Olivia juga ingin mengambil foto kenangan saat bertemu dengan idolanya.
Raffa mempersilahkan Ozora memutuskan untuk mengikuti permintaan Olivia atau tidak. Ozora yang memang dari dulu telah biasa mengambil foto bersama dengan pengunjung di toko akhirnya bersedia berfoto bersama.
__ADS_1
Namun saat berfoto bersama Ozora, akhirnya Raffa pun ikut diminta untuk berfoto bersama. Saat kembali ke kediaman Saltano, Raffa dan Ozora di hadapkan pada berita yang tiba-tiba tersebar bahwa mereka adalah keluarga baru dari seorang aktris cantik yang terkenal.
...~ Bersambung ~...