Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 79 ~ Terlanjur ~


__ADS_3

Lily mengalami dilema, ingin tetap mempertahankan kebanggaannya sebagai seorang wanita dengan resiko membahayakan dirinya atau mengikhlaskan namun hidup seperti wanita cacat.


"Tidak masalah bagiku yang terpenting bagiku kamu bisa sehat dan terus menemaniku" ucap Dokter Dino sambil memeluk istrinya yang menangis.


Suatu saat Lily setuju untuk pengangkatan payudara sesaat kemudian membatalkannya. Hatinya bimbang, setiap helaan napas beratnya selalu diiringi gelengan kepala yang kuat. Pikiran-pikiran buruk selalu menghantui dirinya.


Berkali-kali Lily putus asa dan memberi nasehat pada suaminya untuk mendekati Celina.


"Tidak akan, aku tidak akan mendekatinya jika itu hanya akan membuatmu tidak sungguh-sungguh berusaha. Lagi pula kenapa harus dia?" tanya Dokter Dino.


"Karena aku sangat menyukainya, saat di toko aku selalu memperhatikannya. Celina sangat menyukai anak-anak, dia tulus menyayangi anak-anak. Itu sangat jelas terlihat, saat melihat anak kecil dia akan menyapanya dan membantunya mencari apa yang diinginkannya" cerita Lily.


"Itu karena dia memang bekerja di toko buku, tugasnya memang melayani pengunjung" ucap Dokter Dino.


"Tapi yang lain tidak begitu, cuma dia yang tulus melayani dan membantu orang. Cuma dia yang begitu menyukai anak-anak. Aku yakin anak kita akan bahagia memiliki ibu seperti Celina" ucap Lily dengan pandangan yang jauh melayang membayangkan Celina.


"Sudahlah jangan sebut nama Celina lagi" ucap Dokter Dino.


Jangan sebut nama Celina lagi, itu sangat sering terlontar dari mulut Dokter Dino. Namun, tetap saja dalam setiap pembicaraannya, Lily membandingkan segalanya dengan Celina. Meski kesal mendengar cerita Lily namun terkadang Dokter Dino terpancing untuk mendengarkan.


"Jika karena Celina kamu merasa tenang dan tidak bersungguh-sungguh menjalani pengobatan, aku tegaskan, aku tidak akan menemuinya sekali pun" ucap Dokter Dino tegas.


"Aku akan berusaha sungguh-sungguh, aku juga ingin hidup lebih lama bersamamu. Aku bahkan ingin selamanya denganmu. Tapi jika takdir berkata lain aku ingin kamu berjanji memenuhi keinginanku karena itu akan membuat perasaanku tenang" ucap Lily dengan mata yang berkaca-kaca.


Dokter Dino tertegun, ucapan Lily menegaskan dirinya tetap akan berusaha. Dan Lily juga menginginkan Dokter Dino bersedia memenuhi keinginannya demi ketenangan hatinya.


Dokter Dino mengangguk demi membuat tenang perasaan istrinya. Dokter Dino berjanji akan memenuhi keinginan istrinya untuk mendekati Celina jika akhirnya takdir memisahkan mereka.


Perawatan Lily pun dimulai, Lily menjalani operasi pengangkatan payudara secara keseluruhan. Membuat istri Dokter Dino itu hanya memiliki sebelah payudara. Namun, Dokter Dino tetap bersikap seperti sebelumnya. Kasih sayang Dokter Dino justru semakin berlimpah pada istrinya.


Rangkaian kemoterapi pun akhirnya harus dijalani Lily, perlahan-lahan napsu makannya pun berkurang. Dokter Dino membelikan apa pun makanan sehat untuk istrinya yang mulai sering mual-mual hingga muntah.


Dokter Dino dengan tabah menemani istrinya, pengobatan kemoterapi dilakukan dengan menyuntikkan obat langsung ke pembuluh darah dan akan berlangsung selama dua belas minggu. Itu membuat Lily putus semangat kadang Lily mengalami penurunan kondisi kesehatan hingga membuat pengobatan berjalan lebih lama.


"Tidak adakah metode pengobatan yang lain. Rasanya aku tidak sanggup menjalani kemoterapi lagi" ucap Lily putus asa seperti menyerah.


"Ada, terapi hormon tapi biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama, hingga bertahun-tahun" jelas Dokter Dino.


Lily semakin lemas mendengarnya terapi hormon memiliki efek samping rasa nyeri tulang dan sendi. Akhirnya Lily memilih untuk tetap menjalani pengobatan dengan kemoterapi.


Perlahan efek lain pun dirasakan Lily seperti serangan hawa panas atau hot flashes. Lily mengatasinya dengan menggunakan pakaian berbahan tipis, menghabiskan waktu di ruangan AC. Saat mengenakan pakaian minim, Dokter Dino akan menggoda istrinya. Menuduh Lily ingin menggodanya, Lily selalu mendapat hiburan dan tambahan semangat dari suaminya


Rasa lelah yang dirasakannya diatasi dengan istirahat yang cukup serta mengonsumsi makanan yang sehat. Namun, hal yang paling membuat Lily sedih adalah kerontokan rambutnya.


Dokter Dino menyarankan istrinya untuk membotaki kepalanya dibandingkan selalu merasa sedih saat melihat rambutnya yang rontok.


"Tidak mau, kak Dino ingin aku terlihat jelek" ucap Lily.


"Meskipun tidak memiliki rambut sehelai pun, kamu akan tetap terlihat cantik. Lihat saja tak sedikit artis-artis terkenal yang pernah berpenampilan botak seperti Natalie Portman idolamu itu atau Charlize Theron.."


"Dia juga pernah botak? padahal dia itu sangat cantik" ucap Lily terpancing.


"Kamu tidak pernah melihat penyanyi terkenal tahun 90-an? Sinead O'connor dia bahkan selalu tampil botak" ucap Dokter Dino sambil browsing foto penyanyi dan penulis lagu asal Irlandia itu.


"Wah, cantik banget" ucap Lily melihat foto artis itu saat masih muda dan terkenal.


"Cantik? tapi bagiku kamu lebih cantik" ucap Dokter Dino sambil mencium bibir istrinya.


"Kakak bohong" ucap Lily sambil menjauh dan menutup bibirnya dengan jari tangannya.

__ADS_1


"Diam" ucap Dokter Dino sambil menarik tangan Lily yang menutupi mulutnya.


Dokter Dino selalu berupaya menghibur istrinya, membuat Lily merasa menjadi seseorang yang selalu dibutuhkan Dokter muda itu. Dan Lily sangat bersyukur memiliki suami yang selalu men-supportnya.


Hari berganti hari, masa-masa pengobatan telah dilalui. Lily dinyatakan sembuh dari penyakitnya. Kehidupan wanita itu kembali seperti semula dengan suami yang tak pernah berkurang rasa cintanya.


Lily mulai kembali menumbuhkan rambutnya, sehari-hari merawat diri dan bayinya. Namun, Lily belum diizinkan untuk keluar rumah oleh suaminya. Lily penasaran seperti apa Ozora sekarang, mencari informasi tentang anak yang telah terkenal sejak bayi itu.


"Ozora sudah delapan bulan, sudah bertambah besar dan kecerdasannya luar biasa" ucap Lily bicara sendiri.


"Oh ya ampun telah lancar bicara sejak berumur enam bulan? anak itu benar-benar genius" ucap Lily kagum.


Semakin melihat Ozora, rasa rindunya semakin menjadi. Hingga akhirnya Lily mengajak suaminya untuk mengunjungi toko buku. Tapi Dokter Dino selalu mengelak, sejak Lily menjodohkan dirinya dengan Celina ada perasaan berbeda dihatinya.


Bahkan Dokter Dino menahan diri untuk menjelaskan pada Celina perihal asal kecerdasan Ozora yang telah di diagnosanya. Lily sedih, Dokter Dino selalu mencari alasan kesibukan hingga tidak sempat menemani Lily. Sementara Lily merasa Dokter Dino sengaja menghindar dari Celina. Sekarang Lily menyesal telah menjodohkan suaminya dengan Celina.


Lily hanya bisa mengikuti perkembangan Ozora melalui media sosial, semakin hari kekaguman Lily semakin bertambah. Saat Nazolla berumur dua tahun, Lily mengajak putrinya mengunjungi toko buku itu. Dengan penuh semangat Lily melangkah menuju lantai tiga namun, apa yang dilihatnya. Dokter Dino baru turun dari lantai atas. Lily bersembunyi di antara ramainya pengunjung.


Kenapa kak Dino ada di sini? kenapa setiap kali aku mengajaknya dia tidak pernah mau? apa mereka diam-diam bertemu dibelakangku? kenapa? kenapa dadaku terasa sakit? padahal dulu akulah yang menyuruhnya mendekati Celina. Kenapa di saat semua itu terjadi aku justru sakit hati? batin Lily.


Lily tak sanggup melanjutkan niatnya bertemu Celina dan Ozora. Sesampai di rumah pun Lily hanya bisa termenung.


Seperti ini rasanya dikhianati, kenapa tidak terus terang kak Dino? jika kakak terlanjur menyukai Celina? ini semua salahku? aku yang terburu-buru menjodohkan mereka, ini salahku, batin Lily.


Wanita itu menangis terisak, sebuah penyesalan yang tidak bisa ditanggungnya. Hingga membuat Lily menjadi murung. Saat Dokter Dino pulang dari praktiknya dengan jelas laki-laki itu melihat perubahan perilaku istrinya.


"Sayang, kamu kenapa? apa kamu sakit?" ucap Dokter Dino langsung memeriksa nadi istrinya.


"Sepertinya kamu kelelahan, kamu sudah makan belum?" tanya Dokter Dino.


Lily kesal, rasanya ingin mengabaikan perhatian suaminya. Lily merasa perhatian Dokter Dino hanyalah palsu tapi Lily wanita yang baik hati, dia orang yang tidak tega mengabaikan orang apalagi itu adalah suaminya sendiri. Lily akhirnya menggelengkan kepala untuk semua pertanyaan suaminya.


Begitu perhatian Dokter Dino pada dirinya membuat Lily yang tadinya ingin mengamuk sekarang hanya memilih diam. Namun perasaannya masih belum tenang. Dokter Dino datang membawa nampan berisi nasi dan lauk pauk yang banyak.


Selama kemoterapi fisik Lily harus kuat jika tidak dia tidak akan mampu melawan efek dari obat yang di suntikan padanya. Hingga wanita itu telah dinyatakan sembuh, gizi yang diberikan pada istrinya tetap diperhatikan oleh Dokter Dino.


Laki-laki itu duduk di meja makan lalu mengajak istrinya. Lily terlihat malas-malasan, wanita itu terlihat kembali tidak napsu makan.


"Bibi bilang tadi udah disiapin makannya tapi kamu tidak mau makan, apa alasannya?" tanya Dokter Dino.


Kamu kak alasannya, yang membuat napsu makanku hilang, ucap Lily dalam hati.


Namun, dimulutnya wanita itu hanya diam.


"Ada apa? bukankah aku sudah pernah bilang kondisimu harus selalu fit, jangan terlalu lelah dan makan makanan yang bergizi" ucap Dokter Dino sambil menyuapi istrinya.


Lily justru menangis melihat sikap dan ucapan suaminya. Lily tidak sanggup kehilangan perhatian yang begitu besar dari suaminya itu. Namun, Lily juga tidak ingin perhatian suaminya itu hanya sebagai sebuah tipuan untuk menutupi kelakuan suaminya. Lily ingin bertanya tapi tidak sanggup untuk memulai.


"Ada apa sayang? katakan padaku apa yang terjadi?" tanya Dokter Dino semakin khawatir.


Pertanyaan dokter Dino seolah-olah memberi kesempatan bagi Lily untuk bertanya.


"Apa kak Dino masih mencintaiku?" tanya Lily.


"Pertanyaan macam ini? apa kamu tidak lihat? aku saat ini sedang menyuapimu meski aku baru pulang kerja, apa masih belum membuktikan cintaku padamu?" tanya Dokter Dino sambil tersenyum mendengar pertanyaan istrinya.


"Apa kak Dino tidak sedang menyukai wanita lain?" tanya Lily.


"Apa maksudmu aku sedang berselingkuh?" Dokter Dino balik bertanya.

__ADS_1


Lily kembali menitikkan air mata, sejak menderita sakit Kanker payudara beberapa tahun lalu membuat wanita itu menjadi lebih sensitif.


"Susah atau senang, sehat atau sakit aku akan selalu mencintaimu. Itu janjiku saat menikahimu, aku tidak pernah mengingkarinya" ucap Dokter Dino agar istrinya yakin.


Dokter Dino tidak ingin membuat istrinya larut dalam prasangka.


"Tapi tadi aku melihat kak Dino dari lantai atas toko buku Celina" ucap Lily ragu-ragu.


"Apa? kamu kesana? sendirian?" ucap Dokter Dino kaget.


Sekarang justru Dokter Dino yang menjadi marah , laki-laki itu langsung berdiri.


"Aku bilang apa? jangan kemana-mana? jika terjadi apa-apa bagaimana?" tanya Dokter Dino.


"Aku baik-baik saja, aku bosan di rumah. Aku ingin melihat Ozora dan Celina. Aku juga ingin mengenalkan putriku padanya" ucap Lily yang sekarang justru merasa bersalah.


Dokter Dino kesal lalu meninggalkan istrinya sendiri di meja makan. Laki-laki itu memilih masuk ke kamar dan langsung masuk ke kamar mandi. Lily mengikuti namun terhenti di depan pintu kamar mandi. Hatinya sekarang menjadi risau. Suaminya kesal karena mengetahui dirinya pergi tanpa meminta izin.


Lily kembali ke meja makan, menatap makanan yang disiapkan suaminya. Wanita itu memutuskan untuk menghabiskannya, berharap dengan itu suaminya yang kesal akan memaafkannya.


Pelan namun pasti, Lily menghabiskan semua makanan yang disiapkan dihadapannya. Dokter Dino tersenyum melihat istrinya menghabiskan semua makanan itu lalu mengecup puncak rambut istrinya.


"Begitu dong, makan yang banyak biar selalu sehat" ucap Dokter Dino.


Meski sakit kanker yang di derita istrinya telah lenyap namun Dokter Dino selalu menjaga kondisi tubuh Lily. Dokter muda itu tidak ingin lengah lagi dalam menjaga kesehatan istrinya.


"Ada yang ingin aku tanyakan kak" ucap Lily.


Dokter Dino yang telah segar setelah mandi mengangguk sambil tersenyum. Lily memberanikan diri bertanya karena melihat sikap Dokter Dino yang tidak lagi marah. Ditambah sehabis mandi biasanya pikiran laki-laki itu selalu terbuka dan tidak mudah marah.


"Kakak ke toko buku untuk menemui Celina? kenapa setiap aku mengajak kakak selalu menolak? tapi Kak Dino justru pergi sendiri ke sana" tanya Lily dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Kamu mencurigaiku berselingkuh dengan Celina?" tanya Dokter Dino.


"Apa mas menyukainya?" tanya Lily semakin ingin tahu.


"Tentu saja menyukainya bukankah dia wanita yang baik? bukankah itu yang selalu kamu ucapkan?" tanya Dokter Dino.


"Jadi kakak benar-benar berhubungan dengannya?" tanya Lily dengan air mata yang telah mengalir.


"Ya tapi bukan hubungan seperti yang ada dalam pikiranmu. Aku kesana bukan untuk mencari Celina, aku kesana ingin mencari buku-buku yang kuperlukan untuk menambah koleksi di perpustakaan rumah sakit. Aku diperintahkan kepala rumah sakit untuk menjadi salah seorang konsulen" jelas Dokter Dino.


"Apa itu?" tanya Lily tidak mengerti.


"Konsulen itu sejenis pembimbing bagi para koas ketika menjalankan program mereka. Tugas konsulen sama seperti dosen pembimbing bagi para sarjana kedokteran yang ingin mendapatkan gelar dokter. Seorang sarjana kedokteran harus melalui program profesi. Program profesi ini yang disebut sebagai koas. Aku menemukan beberapa buku yang kuperlukan dan meminta toko buku untuk mengantarnya ke perpustakaan rumah sakit. Aku bahkan tidak bertemu dengan Celina" jelas Dokter Dino.


"Benarkah? bukankah Kak Dino ke lantai atas? tidak mungkin tidak menemukannya. Dia selalu berada di situ" tanya Lily ragu.


"Kalau kamu tidak percaya ayo kita tanyakan ke toko buku. Celina izin tidak bekerja karena mengikuti sidang skripsi" jelas Dokter Dino.


"Oh, jadi Kak Dino tidak bertemu dengannya?" ucap Lily.


"Nggak sayang lagi pula kalau bertemu dengannya memangnya kenapa? apa masalahnya?" tanya Dokter Dino berusaha untuk bersikap wajar.


Dokter Dino selalu berusaha bersikap wajar jika berhubungan dengan Celina. Menepis perasaan yang muncul karena perjodohannya dengan Celina oleh istrinya sendiri.


Lily mengangguk dengan wajah lega, tiba-tiba ponsel Dokter Dino bergetar. Lily berinisiatif mengambilkan ponsel itu pada suaminya, sekilas memandang nama kontak yang tertera di layar. Lily tercenung, nama kontak itu adalah Celina.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2