Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 80 ~ Bidadari ~


__ADS_3

Lily melihat nama Celina di layar ponsel namun begitu dengan senyum yang dipaksakan wanita itu menyerahkan ponsel itu pada suaminya. Dokter Dino menerima dengan sedikit terkejut. Bagaimana tidak? orang yang sedang dibicarakan justru menghubunginya saat ini.


Dokter Dino sangat tidak mengharapkan telepon dari Celina apalagi dalam situasi seperti ini. Namun, Dokter Dino tetap menerima panggilan itu karena Dokter Dino tidak ingin mengabaikan Celina yang tidak tahu apa-apa tentang perjodohan mereka.


Setelah memberikan ponsel itu Lily beranjak pergi agar Dokter Dino leluasa menerima panggilan telepon itu. Meski bersikap bijak namun dalam hatinya tetap terbersit rasa ingin tahu apa yang mereka bicarakan.


"Ya, tidak apa-apa saya cuma mencari beberapa buku yang saya perlukan" balas Dokter Dino setelah menyapa Celina di telepon.


"Tidak apa-apa, saya dibantu dengan baik oleh karyawan yang lain" terdengar ucapan Dokter Dino lagi.


"Ya, saya nanti saya periksa. Tidak apa-apa Celina" ucap Dokter Dino.


Nama Celina yang diucapkan Dokter Dino terdengar sangat lembut namun membuat hati Lily terasa perih. Lily benar-benar menyesal telah menjodohkan Celina dengan suaminya. Meski pikirannya melarang untuk mendengar pembicaraan Dokter Dino namun hatinya ingin mendengar seperti apa respon suaminya terhadap wanita cantik itu.


Lily fokus ingin mendengar pembicaraan mereka di balik pintu dan terkejut saat tiba-tiba Dokter Dino muncul dari balik pintu. Lily mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Dia menanyakan maksud kedatanganku ke toko sekaligus meminta maaf karena tidak berada di tempat" ucap Dokter Dino tanpa minta dijelaskan Lily.


"Oh begitu? dia memang orang yang perhatian dan pengertian" ucap Lily yang akhirnya disesali.


Setiap ucapan tentang Celina yang keluar dari mulutnya selalu terkesan memuji.


""Hm.., karyawannya melapor kalau aku datang ke sana. Karena mereka tahu kalau kita adalah langganan Celina jadi karyawan itu memberi tahu Celina, dia merasa perlu untuk menanyakan. Aku rasa itu basa-basi karena kita mengenalnya" ucap Dokter Dino yang kemudian masuk ke kamar mandi.


Lily hanya bisa memandang pintu di mana suaminya berada. Sementara Dokter Dino juga termenung sambil mengatur napasnya. Kejadian canggung seperti itu beberapa kali mereka rasakan.


Sejak saat itu Lily bertekad melupakan Celina, berusaha tidak menyebut namanya. Kesehari-hariannya disibukkan dengan mengurus putri semata wayangnya. Lily mulai menjalani hari-hari yang bahagia.


Seperti biasa, sejak Nazolla berumur tiga tahun, Lily mengantar Nazolla ke sebuah preschool. Lily mendaftarkan putrinya ke sebuah preschool bergengsi yang menampung anak-anak dari kalangan atas. Dengan tenaga pendidik yang sebagian besar berasal dari luar negeri.


Dengan semangat Lily bangun dari ranjangnya sambil menarik kain putih lembut untuk menutupi tubuhnya. Dokter Dino terbangun karena tarikan kain dan langsung menoleh ke arah istrinya.


"Oh maaf, jadi bangun" ucap Lily sambil menutupi tubuh suaminya yang tak mengenakan apa pun dengan selimut.


Dokter Dino tersenyum dan langsung menempelkan kembali wajahnya ke bantal. Lily merapikan selimut itu namun matanya tertumpu pada bercak darah yang menempel di seprai. Lily tercenung, mengingat apa yang dirasakannya tadi malam.


Saat berhubungan dengan suaminya, Lily merasakan nyeri yang tidak biasanya. Dan pagi ini dia mendapati seprai dengan bercak darah. Lily memeriksa tanggal menstruasinya yang di rasa baru saja dilewatinya.


Baru seminggu yang lalu menstruasi, apa mungkin ini adalah sisanya? kenapa bisa timbul darah lagi? batin Lily.


Kejadian itu aneh baginya namun Lily mengabaikannya karena segera mengantar Nazolla ke sekolah. Kejadian itu tidak pernah dipikirkannya lagi. Begitu juga setiap kali Lily berhubungan dengan suaminya, rasa nyeri yang dirasakan tak pernah digubris karena sensasi permainan Dokter Dino lebih menarik baginya.


Hingga bercak darah itu mulai sering terlihat dan rasa nyeri itu tak bisa ditutupi lagi. Dokter Dino hingga kaget saat mendengar jeritan istrinya yang terasa begitu berlebihan dan bukan menunjukkan kepuasan namun kesakitan.


Dokter Dino menanyakan pada istrinya keluhan yang dirasakannya dan dijawab dengan jujur oleh Lily. Semua yang dirasakannya sejak pertama kali hingga akhirnya sekarang timbul rasa nyeri dipanggulnya.


"Kenapa kamu tidak bicara sebelumnya, hal seperti ini tidak boleh dianggap sepele" teriak Dokter Dino yang langsung turun dari ranjangnya.


Lily menangis, sejujurnya dia sendiri merasa takut dan tidak berani menghadapinya. Sekarang suaminya justru menyalahkan dan marah padanya. Lily menangis sesenggukan, Dokter Dino menyesal. Laki-laki itu memeluk istrinya dari belakang dan mengecup pipi wanita yang dicintainya itu.


Keesokan harinya mereka memeriksa kondisi Lily. Dokter Dino tercenung diruangan teman sejawatnya itu saat membaca hasil diagnosisnya. Lily telah menjalani serangkaian tes dan sekarang Dokter Dino tertunduk setelah mendengar penjelasan dokter dihadapannya itu.


"Ini adalah metastase dari kankernya yang terdahulu" jelas dokter dihadapan Dokter Dino.


Dokter Dino tertunduk, air matanya menitik. Dokter itu telah mengerti penjelasan temannya. Laki-laki itu merasa sedih hingga menangis terisak dan membuat temannya ikut tertunduk.


Saat Lily menanyakannya, Dokter Dino tidak mampu menjawab. Namun, Lily telah memiliki firasat, setelah menjalani serangkaian tes yang dilakukannya Lily tahu bahwa penyakitnya masih berhubungan dengan kanker.


"Metastase dari kanker yang kamu derita dulu" ucap Dokter Dino saat ditanya.

__ADS_1


"Apa maksudnya itu" tanya Lily dengan air mata yang meleleh di pipinya.


"Penyebaran sel kanker dari satu organ atau jaringan tubuh ke organ atau jaringan tubuh lainnya. Bisa terjadi di daerah kanker berasal atau jauh dari tempat awal munculnya kanker" jelas Dokter Dino.


"Apa kanker payudara lagi?" tanya Lily.


Dokter Dino menggeleng.


"Kanker rahim" ucap Dokter Dino singkat namun membuat Lily terperangah.


"Kenapa bisa seperti itu, apa hubungannya? kenapa bisa berpindah sejauh itu?" tanya Lily sambil menangis.


Dokter Dino memeluk tubuh istrinya yang masih mengenakan baju pasien itu. Saat ini Lily di dirawat setelah melakukan serangkaian pemeriksaan.


"Sel kanker itu bisa menyebar melalui darah atau kelenjar getah bening" ucap Dokter Dino.


Kanker yang mengalami metastasis akan sulit untuk diobati. Meski beberapa jenis kanker metastatik dapat disembuhkan dengan pengobatan yang ada saat ini. Namun, kebanyakan tidak bisa disembuhkan sayang, jerit hati Dokter Dino yang tak mampu diungkapkannya pada sang istri.


Dokter Dino hanya bisa menangis untuk mengungkapkan kondisi istrinya saat ini. Lily tercenung, entah mengapa dirinya tak lagi bisa menangis. Lily justru mengusap punggung suaminya untuk menenangkan laki-laki yang tengah terguncang itu.


Lily pasrah menjalani semua yang diperintahkan suaminya. Meski kadang bertanya untuk apa berusaha lagi jika memang tidak bisa disembuhkan.


"Karena aku ingin lebih lama bersamamu, aku tidak siap kehilanganmu" ucap Dokter Dino menangis dalam pelukan istrinya.


"Kita berusaha hanya untuk beberapa saat saja" ucap Lily pelan.


"Kamu tidak tahu ada banyak orang yang menderita lebih dari dirimu. Mereka tetap berusaha meski mereka harus memperpanjang setiap seminggu umur mereka. Jangan pernah menyerah sayang demi aku" ucap Dokter Dino masih menangis.


Lily mengangguk sambil membelai rambut suaminya yang rebah dipangkuannya itu. Dokter Dino tak melepaskan pelukannya sekali pun, menoleh ke arah lain sambil mengalirkan air matanya.


Lily berusaha bertahan demi suaminya, melakukan pengangkatan rahim pun dilakukanya. Kemoterapi pun dijalaninya demi ketenangan hati laki-laki yang dicintainya. Meski sakit, meski menderita dan terkadang rasanya ingin menyerah tapi semua tetap dijalaninya agar tidak ada penyesalan karena telah berusaha sekuat tenaganya.


"Suamiku yang tampan, di laci meja riasku ada sepucuk surat. Tolonglah aku, berikan surat itu pada Celina" ucap Lily dengan suara lemah.


Dokter Dino tertunduk, nama Celina kembali terdengar setelah sekian lama tak pernah disebut-sebut lagi. Jika keadaan Lily tidak seperti ini Dokter Dino pasti akan langsung menolak permintaannya. Tapi sekarang Dokter Dino tidak punya kekuatan lagi untuk berdebat dan tidak ingin hati istrinya bersedih. Melihat Dokter Dino mengangguk Lily kembali tersenyum.


"Terima kasih suamiku" ucap Lily semakin pelan.


Lily menyentuh tangan suaminya sambil tersenyum lalu memejamkan mata. Itu adalah senyum terakhirnya karena setelah itu Lily pergi meninggalkan dunia dan orang-orang yang dicintainya.


Dokter Dino menangis, sejak kepergian istrinya, dokter itu hanya berkurung di dalam kamarnya. Hingga berhari-hari dan tersadar saat putri kecilnya yang masuk ke kamar dan bertanya.


"Papa? papa tidak kerja?" tanya gadis kecil itu.


Gadis berumur empat tahun itu mungkin telah diajari bibi pengasuhnya. Assisten rumah tangga yang telah ikut dengan keluarga itu sejak mereka baru menikah khawatir dengan kondisi Dokter Dino yang hanya termenung di kamar.


Dokter Dino mengalihkan pandangannya pada putrinya yang telah tumbuh besar. Laki-laki itu tersenyum kemudian mengangguk. Hampir setiap hari putrinya mengingatkan agar Dokter Dino harus kembali ke dunia nyata.


"Papa tolong tanda tangan raport Lala" pinta Lala.


Dokter Dino mencari ballpoint untuk menandatangani raport yang dipegang putrinya. Membuka laci meja rias istrinya lalu tercenung saat menatap sepucuk surat yang tergeletak di dalam laci itu.


Setahun, telah setahun Dokter Dino melupakan janjinya pada mendiang istrinya. Dokter yang memang tidak pernah menyentuh meja rias itu melupakan wasiat istrinya. Tapi meski saat ini surat itu telah berada dalam genggamannya tetap saja dokter itu tidak melakukan apa-apa.


Hingga saat Dokter Dino melihat putrinya yang termenung memandang seorang temannya yang bermain bersama ibunya. Dokter Dino tertegun, laki-laki yang selalu menjemput putrinya di sekolah itu baru sadar putrinya membutuhkan seorang ibu.


Berkali-kali Dokter Dino membawa surat itu masuk ke dalam toko Celina, berkali-kali pula laki-laki kembali menyimpannya di laci meja kerjanya. Hingga suatu saat putri kecilnya itu mengajak Dokter Dino untuk berkenalan dengan seorang anak bernama Ozora.


Dokter Dino terkejut namun akhirnya bersedia mengikuti keinginan putrinya. Membawa gadis kecil yang cantik itu untuk berkenalan dengan anak genius yang terkenal itu. Dokter Dino diam-diam mengikuti saat Ozora mengajak Lala berkenalan dengan ibunya.

__ADS_1


Dokter Dino menatap sendu ke arah kedua perempuan itu. Berdiri di balik rak buku yang berjajar sambil mendengar percakapan mereka. Terlihat Celina yang tersenyum dan Nazolla yang tertawa. Dokter Dino tersenyum saat melihat Celina yang memeluk dan mencium pipi Nazolla


"Lala kesini sama siapa?" tanya Celina.


Nazolla melihat ke sekeliling seperti mencari-cari. pandangannya terhenti pada seorang laki-laki yang sedang membaca buku. Celina mengira Nazolla datang bersama bapak itu.


"Lala suka mewarnai?" tanya Celina lagi.


Nazolla mengangguk, Celina mengajak gadis itu mencari beberapa buku mewarnai.


"Ini ada buku mewarnai keluarga, ada gambar ayah, ibu dan putrinya. Lala juga bisa memberi nama ketiga anggota keluarga ini" ucap Celina semangat.


Namun, tidak dengan Nazolla. Gadis itu justru tertunduk, Celina tercenung melihat ekspresi gadis kecil itu yang tiba-tiba berubah.


"Lala kenapa?" tanya Celina.


"Lala nggak punya mama. Papa bilang mama sudah menjadi bidadari di surga" ucap Nazolla pelan hampir tak terdengar.


Celina langsung memeluk gadis kecil itu, Dokter Dino menghapus setitik bening di sudut matanya.


"Tapi Lala masih punya papa kan? Tante bahkan tidak punya mama dan papa. Lala beruntung masih punya papa yang sayang sama Lala. Karena itu Lala harus selalu berbakti dan patuh sama papa ya sayang" ucap Celina sambil memeluk Lala ke dadanya dan mengusap rambut gadis kecil itu.


Lala membalas pelukan Celina, Dokter Dino terharu melihat pemandangan itu, dia tersenyum. Sejak itu Dokter Dino merasa ucapan Lily benar. Celina adalah seorang ibu yang baik.


Celina menangkup wajah Nazolla, merapikan helaian rambut yang menutupi mata gadis kecil itu.


"Gadis kecil ini cantik sekali, mamanya juga pasti cantik. Tapi mama pasti tidak suka kalau melihat putrinya yang cantik ini bersedih" ucap Celina memandang wajah Nazolla.


Nazolla diam, gadis itu hanya memandang sendu pada Celina.


"Oh ya ampun Tante lupa, dulu ada seorang bidadari cantik yang datang kesini. Dia menitipkan sebuah hadiah untuk anak cantik yang baik, sayang dan patuh sama papanya. Apa Lala sayang dan patuh sama papa?" tanya Celina.


Lala tersenyum dan mengangguk dengan kencang.


"Benarkah?" tanya Celina yang di balas dengan anggukan kuat Nazolla.


Dokter Dino tertawa mendengar percakapan mereka. Terlihat Celina yang pergi ke sebuah ruangan, lalu muncul dengan sebuah boneka kecil.


"Nah ini dia hadiahnya, bidadari cantik itu bilang kalau Lala kangen sama mama, Lala ngomong sama boneka ini nanti mama pasti akan mendengarnya" ucap Celina.


"Benarkah Tante?" tanya Nazolla yang dibalas dengan anggukan oleh Celina.


"Boneka yang cantik hadiah dari bidadari untuk gadis cantik yang baik dan patuh. Apa Lala suka?" ucap Celina.


"Suka Tante, suka sekali" ucap Nazolla.


"Boneka ini dijaga yang baik ya sayang. Karena boneka ini tidak dijual di mana pun. Hanya satu-satunya di dunia ini" ucap Celina sambil mengangguk-angguk.


"Benarkah?" tanya Nazolla.


Celina mengangguk, gadis itu tidak berbohong. Boneka itu adalah buatan tangan anak-anak panti asuhan tempat dia dibesarkan. Celina membeli semua boneka-boneka kerajinan itu untuk menghargai hasil karya mereka. Lalu menghadiahkannya pada panti-panti asuhan lainnya.


"Boneka ini dari mama ya Tante?" tanya Nazolla.


"Ya, bidadari yang cantik sekali" ucap Celina.


Dokter Dino tertawa dari balik rak buku, kemudian tercenung memandang Celina yang sedang tertawa.


Kamu memang bidadari, Celina.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2