Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 94 ~ Mengulang Kembali ~


__ADS_3

Raffa di antar ke kediaman keluarga Saltano, bertemu dengan kedua orang tuanya, putranya dan seorang wanita cantik langsung memikat hatinya. Tatapan rindu Celina sambil melangkah pelan mendekati Raffa dan memeluknya, laki-laki itu spontan membalas pelukannya.


Tak ada keraguan dalam diri Raffa tentang keluarga ini. Terlebih lagi menatap wajah yang dinyatakan sebagai istrinya. Tatapan yang teduh, menenangkan hatinya yang selalu merasa bimbang. Raffa bertekad untuk berusaha mengingat masa lalunya kembali.


Raffa bahagia karena mendapat dukungan dari wanita yang masih asing baginya itu. Celina bersedia membantunya mengingat masa lalunya. Tiba-tiba Celina mendapati ponselnya bergetar, mendapat sebuah pesan dari Natasha. Celina menitikkan air mata saat melihat foto yang dikirim Natasha. Sebuah test pack dengan tanda dua garis merah terpampang jelas di layar ponselnya.


"Kami tidak melakukan apa pun. Aku selalu menjaga diriku karena selalu merasa ragu dan tidak percaya padanya," ucap Raffa saat ditanya sejauh mana hubungan mereka.


Celina percaya pada Raffa, dia percaya suaminya yang masih dalam keadaan bingung tidak akan mau menutupi apa pun karena dia sendiri tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu menanyakan itu?" tanya Raffa terlihat bingung.


"Tidak apa-apa Kak, cuma Natasha sepertinya masih ingin mengganggu rumah tangga kita. Dia mengirimkan alat pendeteksi kehamilan yang membuktikan kalau dia sedang hamil," tutur Celina.


"Apa? Tidak, sungguh Celina aku tidak melakukan apa pun dengannya. Celina, percayalah aku hanya mencintaimu," ucap Raffa spontan.


"Apa? Kakak tahu namaku? Apa Kak Edward dan Kak David membicarakan aku selama di perjalanan?" tanya Celina heran.


"Setahuku tidak mereka justru membicarakan tentang Natasha," jawab Raffa.


"Apa Kakak dengar Mommy bicara padaku?" tanya Celina lagi.


"Kapan? Aku rasa, aku sibuk memandangi isi rumah, aku sedang mencoba untuk mengingat-ingat," jawab Raffa.


"Lalu kenapa Kakak bisa mengingat namaku? Dan ucapan Kakak itu adalah ucapan yang sering Kakak katakan padaku," ucap Celina dengan ekspresi bahagia.


"Benarkah? Itu muncul begitu saja dengan spontan? Aku rasa karena rasa panik jadi aku berusaha menyakinkanmu," ucap Raffa ikut gembira.


Celina menangkup wajah suaminya dan langsung menciumnya. Raffa membalas ciuman Celina dan memeluknya semakin kuat. Naluri Raffa mengatakan Celina adalah gadis yang dicintainya dan semakin bernafsu untuk membenamkan bibirnya.


"Aku mencintaimu Celina, aku merasa sangat merindukanmu," ucap Raffa spontan sambil melepas blouse wanita yang dinyatakan sebagai istrinya itu.


Celina membiarkan laki-laki itu merebahkannya di ranjang. Raffa melepaskan hasratnya pada wanita yang baru dikenalnya tapi langsung disukainya itu. Semakin kuat keinginannya untuk mengingat semakin sulit dia mendapatkan ingatannya.


Raffa ingin melakukan segala sesuatu yang spontan, sesuatu yang tersimpan di alam bawah sadarnya. Saat melihat Celina yang memejamkan mata di bawahnya laki-laki itu melihat kilasan saat pertama kali meniduri Celina. Perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit terlintas diingatannya gadis polos tanpa mengenakan apa pun hanya diam memejamkan mata saat di tiduri olehnya.


"Oh tidak," ucap Raffa dengan wajah panik.


"Apa aku memperkosamu?" tanya Raffa.


"Sekarang? Tentu tidak aku ini istrimu, aku mencintaimu. Kita melakukannya karena menginginkannya," jawab Celina.


"Tidak, bukan sekarang. Apa aku pernah melakukan itu?" tanya Raffa.


"Ya, saat pertama kali bertemu," ungkap Celina.


"Orang seperti apa aku ini? Aku pasti orang yang sangat jahat," ucap Raffa langsung melepaskan pelukannya.


Celina langsung memeluk Raffa membuat laki-laki tetap bertahan di pelukannya.


"Jangan pergi, Kakak tidak jahat. Kejadian itu adalah kesalahan tapi Kakak telah memperbaikinya. Ini buktinya, ini adalah luka yang Kakak dapatkan saat menolongku. Aku jatuh cinta padamu karena itu. Kak, jangan takut, kita pasti akan menemukan kembali ingatan Kakak. Lihat kan, Kakak baru saja mengingat pertemuan pertama kita," ucap Celina sambil menangkup wajah Raffa.


"Benarkah? Aku kaget, aku rasa, aku pastilah orang yang sangat jahat karena sanggup menyakiti gadis sepertimu," lanjut Raffa.

__ADS_1


"Jika Kakak jahat, aku tidak akan mencintai Kakak seperti ini," sahut Celina sambil mengecup bibir suaminya.


Raffa kembali hanyut dalam percintaan mereka hingga mencapai puncaknya. Raffa tidur sambil memeluk istrinya.


Kembali kaget saat terbangun dan merasakan perasaan asing pada ruangan itu. Raffa menoleh pada gadis yang tertidur masih dalam pelukannya. Kemudian tersenyum, kembali mempererat pelukannya sambil mengecup kening gadis yang polos tanpa mengenakan apa pun itu.


Aku laki-laki yang beruntung, bisa memiliki istri secantik dirimu. Begitu manis dan lembut, tatapan matamu teduh menenangkan. Jangan tinggalkan aku meski aku tidak mengingatmu, aku akan mencintaimu dengan ingatan baruku, bisik hati Raffa.


"Kakak sudah bangun? Bagaimana perasaan Kakak?" tanya Celina.


"Rasanya aneh tapi bahagia," jawab Raffa sambil meraih tangan Celina lalu mengecup telapak tangannya.


"Apa ada hal baru yang Kakak ingat?" tanya Celina.


"Tidak ada, selain yang aku kilasan tadi malam," jawab Raffa.


"Tidak apa-apa jangan di paksakan, Kakak bilang, Kakak bisa mengingat sesuatu secara spontan ya kan?" ucap Celina memastikan.


"Bagaimana kalau kita mengulang lagi, permainan kita barangkali aku mengingat hal yang baru," ucap Raffa menggoda.


Celina tertawa lalu duduk di hadapan Raffa yang masih duduk bersandar di kepala ranjang.


"Ada satu yang tak berubah dari Kakak meski pun Kakak dalam keadaan amnesia," ucap Celina.


"Apa itu?" tanya Raffa penasaran.


"Kakak masih suka menggoda, sepertinya itu bakat alami Kakak yang tidak akan hilang meski telah lupa ingatan," jawab Celina tersenyum.


Raffa terpana menatap manisnya senyum gadis dihadapannya itu. Raffa duduk dan menangkup wajah Celina, membenamkan bibirnya di bibir manis istrinya. Kemudian memeluknya erat, menghirup kuat pangkal leher gadis itu.


Masih memeluk tubuh polos itu.


"Aku rasa, aku jatuh cinta padamu," bisik Raffa.


"Terima kasih Kak, terima kasih karena kembali jatuh cinta padaku," ucap Celina.


"Aku yang berterima kasih sayang karena masih mau menerimaku," ucap Raffa.


Raffa merasa sungguh-sungguh bersyukur karena memiliki istri seperti Celina. Gadis itu menemaninya saat dia sendiri tak bisa mengenali dirinya sendiri. Celina mengantar Raffa ke kantornya dan meminta tolong pada David untuk mengawasi.


Raffa tercenung menatap gedung tinggi milik perusahaan keluarganya itu. Seperti permintaan Celina, David mengawasi Raffa yang berkeliling gedung itu namun tak ada satu pun yang bisa di ingatnya. Setelah lelah berkeliling Raffa kembali duduk di meja kerjanya.


Berusaha mengingat-ingat sesuatu di ruangan itu namun tidak ada dapat diingatnya. Justru pada saat akan pulang Raffa agak tertegun.


"Tunggu sebentar," ucap Raffa saat mobil David melaju hendak melewati gerbang keluar.


"Kenapa? Ingat sesuatu?" tanya David.


"Apa yang terjadi di sini? Aku seperti merasa sesuatu yang tidak enak terjadi di sini," ucap Raffa.


"Benar, di sini mobilmu di temukan sementara kamu mengalami kecelakaan di depan situ karena menolong Natasha," jelas David.


Raffa turun dari mobil David kemudian berjalan. ke araf jalan. Raffa merasa seperti melihat kilas balik yang tidak jelas. Raffa memegang kepalanya yang terasa sakit, David segera memapahnya. Namun, Raffa melarang, laki-laki itu merasa masih bisa berjalan sendiri.

__ADS_1


David mengantarkan Raffa kembali ke kediaman keluarga Saltano. Saat makan malam bersama Ozora berinisiatif untuk mengajak ayahnya melakukan perjalanan ke Bali.


"Kenapa harus ke Bali sayang?" tanya Rowenna.


"Ozora ingin Papa mengingat lagi masa-masa kita wisata ke Bali waktu itu Grandma," usul Ozora.


"Kita bersama-sama?" tanya Rowenna lagi.


"Tidak perlu Grandma, cukup kami berdua saja" jawab Ozora.


"Tapi Mama khawatir nak, jika cuma kalian berdua," ucap Celina.


"Jangan khawatir Ma, Ozora akan menjaga Papa," jawab Ozora.


"Kamu saja masih harus di jaga," lanjut Celina.


"Kalau begitu aku akan ikut menemani, Uncle tidak akan merusak rencanamu. Uncle hanya akan mengawasi dari jauh" usul Edward.


"Ya, benar nak. Kalau cuma Papa dan Ozora, Mama merasa khawatir," sambung Celina.


"Baiklah, kalau memang begitu lebih baik. Kita bertiga berangkat ya Pa," ucap Ozora meminta izin.


Raffa mengangguk merasa heran dengan pemikiran Ozora yang seperti telah dewasa. Laki-laki itu pasrah dengan niat Ozora yang sama sekali tidak di mengertinya. Karena itu Raffa hanya bisa mengikuti saran-saran Ozora.


Mereka pun menelusuri kemana pun mereka pernah pergi bersama. Ozora menjelaskan setiap tempat yang mereka kunjungi. Raffa menggelengkan kepalanya tanda masih belum bisa mengingat apa pun.


Edward menepuk bahu anak itu untuk memberinya semangat. Karena terlihat Ozora telah kehilangan semangat untuk membantu papanya yang masih kehilangan ingatan itu.


"Kita pulang saja Uncle," ucap Ozora akhirnya.


"Tapi Ozora, kita sudah jalan sejauh ini kenapa harus kembali? Ayolah jangan putus asa!" saran Edward.


"Maafkan Papa, Ozora," ucap Raffa tidak enak hati.


"Nggak apa-apa Pa, Ozora putus asa Uncle," jawab anak itu sambil menoleh bergantian pada keduanya.


Ozora menyatakan dirinya meminta pulang bukannya berputus asa. Melihat itu Edward yang percaya sepenuhnya pada niat dan rencana Ozora akhirnya mengikuti keinginan Ozora. Mereka pun berkemas untuk pulang, datang ke bandara dan memilih penerbangan tercepat yang tersedia hari itu untuk pulang.


Ozora tersenyum sambil berjalan melewati pintu metal detector. Tiba-tiba terdengar alarm membuat Raffa terkejut. Ozora tetap berdiri di tengah-tengah pintu itu hingga petugas bandara segera datang memeriksa. Raffa yang mendengar bunyi alarm itu tiba-tiba panik.


Laki-laki itu memegang kepalanya yang terasa sakit mendengar bunyi alarm tak kunjung berhenti itu. Hingga akhirnya petugas bendara akhirnya menemukan kalung silver yang di pakai Ozora. Edward kebingungan, selain merasa aneh dengan perbuatan Ozora. Laki-laki itu juga bingung dengan keadaan Raffa yang tiba-tiba kesakitan.


"Raffa, kamu kenapa?" tanya Edward panik.


Raffa tidak menjawab, bunyi alarm bandara itu telah berhenti namun di kepalanya masih saja terdengar. Laki-laki itu hingga tidak tahan merasakan bunyi yang tak mau hilang di kepalanya hingga akhirnya jatuh pingsan.


Mereka langsung melarikan Raffa ke rumah sakit. Dokter memeriksa keadaan Raffa. Ozora dan Edward menunggui Raffa. Hingga akhirnya laki-laki itu tersadar dan langsung menyapa kedua.


"Kak Edward, Ozora, kenapa kita ada di sini? Apa yang terjadi?" sapa Raffa.


"Papa, foto siapa ini?" tanya Ozora.


"Ini foto keluarga besar kita saat berlibur di Villa. Kenapa menanyakan itu?" tanya Raffa.

__ADS_1


Ozora tersenyum lalu memeluk Papanya, Edward juga ikut tersenyum.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2