Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 26 ~ Namanya Celina ~


__ADS_3

Kevin menatap cincin itu dengan tatapan yang tajam, lalu menggenggamnya erat. Menoleh pada Celina yang berjalan keluar toko sambil tertawa bergandengan tangan dengan Ozora. Mereka bercanda sepanjang jalan menuju mobil dimana Kevin telah menunggu.


Mereka memandang pada Kevin yang duduk dibalik kemudi sambil menunduk. Saling berpandangan, Ozora yang mengira Kevin tidak menyadari kehadiran mereka membukakan pintu mobil untuk ibunya.


Celina masuk dan mendapati Kevin yang hanya terdiam, biasanya Kevin akan langsung membukakan pintu untuknya sambil tersenyum mempersilahkan masuk. Celina merasakan ada keanehan namun gadis itu mencoba untuk bersikap wajar.


Kevin melajukan mobilnya menuju rumah, sepanjang perjalanan Kevin hanya diam. Ozora yang lebih banyak bicara, Celina menyambut semua ucapan anak itu. Menjaga agar suasana tidak begitu canggung, Ozora sepertinya juga merasakan hal yang sama.


Anak itu berkali-kali menyapa dan bertanya pada Kevin, laki-laki yang biasanya suka menggoda itu hanya membalas sekedarnya. Suasana yang benar-benar tidak nyaman, mereka berharap segera sampai dirumah.


Saat turun dari mobil Celina mendapati ponselnya bergetar, Kevin melirik namun langsung masuk kedalam rumah. Celina makin merasakan perubahan sikap Kevin. Tapi gadis itu harus fokus pada ponselnya, Celina heran karena tidak mengenali nomor kontaknya.


Mengangkat telepon sambil masuk kedalam rumah, terdengar suara kecil Tita diseberang sana. Celina langsung menyambut sapaan Tita dengan hangat. Namun agak tercenung saat melihat tatapan Kevin yang tidak begitu bersahabat.


Celina memberikan ponselnya pada Ozora, bocah laki-laki itu akhirnya mengambil alih pembicaraan di ponsel. Celina ingin bertanya pada Kevin, tapi rasa takut menghalanginya untuk bertanya. Laki-laki itu rebah di sofa ruang tengah, setiap kali melihat itu Celina selalu merasa sedih. Harusnya laki-laki itu memiliki kamarnya sendiri.


Celina serba salah, ingin keluar dari rumah itu, namun tidak mendapat dukungan. Sementara Kevin masih tetap bertahan tidur di ruang tengah. Celina mendekati Kevin yang tidur dengan lengan menutupi matanya. Celina duduk beralaskan karpet disamping sofa menghadap laki-laki itu.


"Kakak kenapa ? apa kakak sakit ?" tanya Celina.


Kevin tidak menjawab, Celina heran, melihat sikap Kevin yang berubah diam, padahal tadi masih menggodanya. Gadis itu meraba kening Kevin namun tak merasakan panas yang berlebihan. Celina bingung bagaimana cara mengetahui apa yang terjadi.


"Ma, besok Ozora disuruh nginap dirumah keluarga Saltano, boleh nggak ma ?" tanya Ozora yang tiba-tiba datang dan duduk di dekat Celina.


Kevin tiba-tiba bicara


"Kenapa kamu suka berkumpul dengan mereka ? apa bosan bersama kami disini ?" ucap Kevin masih dengan posisi yang sama.


Celina dan Ozora menoleh pada Kevin yang bicara namun tidak memandang sama sekali.


"Uncle Kev, tidak suka kalau Ozora terlalu sering berkumpul dengan mereka" ucap Celina pada Ozora.


Kevin duduk menatap tajam pada Celina.


"Jangan libatkan aku, dia anakmu, kamu yang tentukan dia harus berbuat apa, kamu izinkan atau tidak itu urusanmu" ucap Kevin dengan keras lalu kedapur mengambil minum.


Mendengar itu air mata Celina langsung mengalir, gadis itu memang perasa, gadis yang tak pernah merasakan kasih sayang orang tua itu memang tak bisa menahan air matanya.


Berkata keras sedikit saja, akan membuat air matanya mengalir begitu saja. Apalagi jika berasal dari orang-orang yang disayanginya, Kevin tidak akan pernah bersuara keras padanya, jika dia tidak sedang kesal. Bisa dipastikan sekarang Kevin sedang marah padanya tapi gadis itu tidak menyadari apa kesalahannya.


Ozora menghapus air mata ibunya, lalu rebah dipangkuan Ibunya. Air mata Celina masih mengalir, usapan tangan anaknya tak mampu menghentikan tangisnya. Hati Celina berdiri di persimpangan, menimbang perasaan anaknya atau perasaan Kevin. Celina hanya bisa berharap anak itu bisa mengerti.


"Kamu ingin pergi sekarang ? ayo aku antar ?" tanya Kevin tiba-tiba muncul dihadapan mereka.


Ozora menyembunyikan wajahnya dipangkuan Ibunya, Celina cemas menatap wajah Kevin yang berdiri dihadapannya. Air mata gadis itu semakin deras mengalir.


"Tidak cukupkah cinta dan kasih sayang yang aku berikan pada kalian ?" tanya Kevin sambil memandang Celina yang menangis menatapnya.


Melihat air mata itu Kevin semakin kesal mengambil bantal sofa dan membantingnya hingga mengenai lampu meja hingga terjatuh. Tubuh Celina berguncang karena kaget, Ozora memeluk ibunya. Kevin membanting pintu melangkah keluar rumah.


"Ma, Ozora nggak mau kerumah Tita" ucap anak itu akhirnya.


Celina hanya mengangguk dengan air mata yang terus mengalir.


"Ayo kita ke kamar" ucap Celina sambil menggendong anaknya.


Suasana seperti ini yang paling tidak disukainya, Ozora merasa bersalah. Dan lagi-lagi Kevin menunjukkan rasa tidak sukanya melihat anak itu dekat dengan keluarga Saltano.


Celina tidak ingin Ozora merasa sedih, apapun ucapan Kevin, apapun perlakuan laki-laki itu akan diterimanya. Namun Celina merasa sangat sedih bila hati anaknya tersakiti.


"Ozora mandi dulu, mama siapin makan malam ya" ucap Celina berusaha bersikap wajar.


Meski hatinya tidak karuan, namun Celina ingin Ozora cepat-cepat melupakan apa yang terjadi. Gadis itu menatap pintu dimana Kevin keluar, lalu merapikan kembali lampu meja yang terjatuh.


Apa kesalahanku kak, katakan saja, jangan lampiaskan pada Ozora, marahlah padaku, batin Celina menitikkan air mata.


Kevin duduk di taman komplek menatap kosong tanpa bergerak sama sekali, diam. Sekian lama seperti itu akhirnya Kevin mengambil cincin dari saku kemejanya, memandang cincin berlian itu dengan lekat.


Kamu sama sekali tidak ada harganya, tak ada arti baginya, berharap bisa selalu disisinya tapi dia sangat ingin membuangmu, batin Kevin.


Bicara pada cincin pertunangan mereka seolah-olah cincin itu adalah perlambang dirinya. Laki-laki itu menarik nafas berat, mengayunkan cincin itu hendak membuangnya, namun urung, Kevin menggenggamnya dengan kedua tangannya menumpu di keningnya. Laki-laki itu menangis, menangis hingga tubuhnya berguncang.


Menjelang senja Kevin masih belum pulang, Celina menatap pintu rumah. Alyssa yang telah pulang dari tadi menanyakan dimana kakaknya, namun Celina tak bisa menjawab. Dia hanya sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka.


Terdengar pintu dibuka Celina langsung datang menghampiri, namun kemudian tertunduk, ekspresi Kevin masih murung. Ozora yang sedang duduk menonton televisi diruang tengah pun langsung menunduk.


Kevin masuk ke kamar mandi, Celina duduk menemani anaknya dilantai karpet didepan TV. Ozora langsung rebah dipangkuan ibunya.


Apa yang harus kulakukan ? menyapa kak Kevin ? aku takut dia mengabaikanku.


Bertanya apa salahku ? apa dia akan menjawabnya ? batin Celina.


Tiba-tiba Kevin duduk disampingnya, laki-laki itu telah mandi dan terlihat segar. Celina menatap laki-laki tampan itu. Kevin membalas menatap Celina, gadis itu langsung menunduk tak berani menatap Kevin. Kevin tersenyum, lalu mengangkat tubuh Ozora dan di dudukan dipangkuannya, laki-laki itu bergeser mendekati Celina.

__ADS_1


"Maafin Uncle Kev ya" ucap Kevin pada Ozora.


Lagi-lagi Kevin meminta maaf pada Ozora.


"Uncle merasa cemburu, kamu tau nggak artinya cemburu ?" tanya Kevin sambil menggaruk-garuk perut anak itu.


Ozora langsung tertawa memegangi tangan Kevin dengan kedua tangan kecilnya. Celina memandangi wajah Kevin seakan-akan mencari masih adakah sisa-sisa kemarahan disitu. Kevin tertawa melihat tingkah Ozora yang tak tahan geli.


Tanpa disadari gadis itu tersenyum menatap Kevin, tawa Kevin lah yang dinantinya saat ini. Melihat tawa itu hatinya merasa tenang. Kevin tiba-tiba menoleh pada Celina, gadis itu buru-buru menunduk. Kevin meraih bahu Celina dan menarik gadis itu mendekat lalu mencium pipinya.


"Maafin aku ya ?" ucap Kevin sambil tersenyum.


Pertanyaan yang tidak perlu dijawab, Celina pasti memaafkan Kevin. Tapi apa yang menjadi penyebab kemarahannya, Celina masih belum bisa menebak. Selalu seperti itu, Kevin marah lalu meminta maaf.


Mereka makan malam bersama, wajah Kevin yang kembali ceria dan kembali menggodanya membuat hati Celina benar-benar tenang. Mereka membahas film-film yang ingin ditonton melalui layanan streaming berbasis langganan itu di ruang tengah.


"Oh my God, Money Heist season lima, tiga September lalu sudah mulai tayang ?" teriak Alyssa sambil menatap layar ponselnya.


"Film apa itu ?" tanya Celina.


"Kamu belum pernah menontonnya ?" tanya Alyssa yang dibalas gelengan kepala oleh Celina.


"Film itu tentang aksi perampokan bank yang disertai dengan drama percintaan.


Sekelompok perampok berkostum serba merah dan memakai topeng Salvador Dali, melakukan perampokan yang akan dilakukan selama 3 hari.


Mereka sengaja mengurung diri di gedung percetakan uang itu agar bisa mencetak uang lebih banyak" cerita Alyssa berapi-api.


Celina, Kevin dan Ozora memperhatikan Alyssa yang bercerita tentang keseruan film itu.


"Selama terkurung itu tercipta berbagai konflik yang terjadi antar perampok dan juga para sanderanya. Konflik yang menarik adalah disaat seorang perampok terjangkit Stockholm Syndrome, yaitu ketertarikan antara sandera dan pelaku perampok"


Kevin tersenyum sementara Celina dan Ozora terlihat serius mendengar cerita Alyssa.


"Itulah hebatnya sebuah film, sutradara harus bisa menciptakan situasi dimana seseorang sandera bisa jatuh cinta dengan orang yang menyekapnya" ujar Alyssa.


Makan Celina terhenti, wajahnya terlihat pucat, tangannya gemetar. Kevin memandang heran pada Celina, namun Alyssa tetap tak menghentikan ocehannya.


"Stockholm Syndrome itu sungguh aneh hampir tidak bisa dipercaya, bagaimana bisa seorang korban penculikan bisa jatuh cinta pada penculiknya hanya karena sebuah kebaikan kecil" lanjut Alyssa.


Itu bukan kebaikan kecil, tuan Raffa hampir kehilangan nyawanya karena menolongku, batin Celina.


Celina merasa tubuhnya lemas, nafasnya terasa sesak. Kevin melihat perubahan wajah Celina, laki-laki itu curiga kalau Celina mengalami trauma.


Kevin masih terus menatap Celina yang semakin terlihat lemas.


"Padahal korban penyekapan itu bahkan mengalami tindakan kekerasan, bahkan pemer.."


"Alyssa, cukup" ucap Celina sambil melirik pada Ozora.


"Oh.. Ozora ini pasti sudah tau semua, dia bahkan mungkin bisa mendefinisikan Stockholm Syndrome lebih baik daripada aku" sanggah Alyssa.


Celina sudah tidak sanggup lagi, gadis itu tak ingin jatuh pingsan didepan mereka. Ingin segera pergi dari situ.


"Maaf, aku udah selesai" ucap gadis itu berdiri namun terhuyung hingga menyentuh gelas dan terjatuh.


Kevin langsung berdiri menahan tubuh Celina. Laki-laki itu langsung menggendong Celina, membawanya ke kamar lalu membaringkannya. Ozora terlihat sedih melihat ibunya yang terlihat lemah.


"Ozora mau temani mama disini ?" tanya Kevin yang dijawab anggukan oleh Ozora.


"Celina sepertinya lagi nggak enak badan kak, tadi juga kelihatan murung" ucap Alyssa saat Kevin keluar dari kamar Celina.


Kevin hanya mengangguk, setelah membersihkan pecahan kaca gelas, Alyssa masuk ke kamar. Tinggal Kevin sendirian duduk diruang tengah. Tertunduk memikirkan apa penyebab Celina menjadi begitu ketakutan mendengar cerita Alyssa.


Apa Celina mengalami itu semua ? penculikan, penyekapan dan pemerkosaan ?


Aku pikir Celina hanyalah korban rayuan Raffa.


Benarkah bajingan itu melakukannya ?


Teganya ? Aku tau dia suka main perempuan tapi,


begitu banyak gadis yang rela melayaninya kenapa harus memaksa Celina ?


Bajingan... aku tidak rela, aku tidak rela Celina jatuh ketangannya, jerit hati Kevin.


Kevin mencari informasi tentang kejadian itu, browsing berita-berita tentang Celina.


Gadis itu diberitakan menghilang selama beberapa hari dan muncul disebuah rumah sakit membawa Raffa yang kritis karena terluka.


Celina memberi klarifikasi bahwa dia tidak hilang dan ditolong Raffa dari orang-orang yang mengganggunya. Rumah sakit ini berada di lokasi yang dekat dengan villa keluarga Raffa, batin Kevin.


Kevin menjadi lebih curiga, Celina dan bahkan keluarga Raffa sama sekali tidak menuntut orang-orang yang melukai putranya hingga kritis, itu untuk menghindari penyelidikan polisi terhadap kebenaran cerita gadis itu.

__ADS_1


Aku yakin Raffa lah yang menculik Celina, aku harus menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.


Keesokannya Kevin meminta bertemu dengan Raffa. Raffa menyambut hangat niat Kevin berkunjung kerumahnya. Kevin berbincang dengan Tn. Robby dan Ny. Rowenna sementara Raffa masih belum terlihat karena sedang keluar rumah.


Raffa pulang bersama Tita, gadis itu menyapa laki-laki yang merupakan teman ayahnya. Kevin yang sedang berjalan dipinggir kolam renang keluarga itu menyambut salam Tita.


"Om yang datang ke toko Ozora kan ?" tanya Tita.


"Iya benar, Tita dari mana ?" tanya Kevin sambil membungkuk mensejajarkan tinggi mereka.


"Dari toko Ozora, grandma pengen ajak Ozora nginap disini, tapi Ozora masih belum bisa, karena sedang banyak kerjaan katanya" jawab Tita dengan wajah kecewa.


Raffa semakin sering datang ke toko, jangan-jangan mereka sudah bertemu ? karena itukah Celina membuang cincin pertunangan kami ?


Dia tidak ingin Raffa mengetahui kalau dia telah menjadi calon istri orang ? batin Kevin.


Raffa menyuruh Tita masuk kedalam rumah, dia ingin berbincang dengan teman lamanya.


"Udah lama kita tidak bertanding" ucap Kevin sambil melihat ke kolam renang.


"Kamu mau menantang ? kemarin-kemarin kamu mungkin selalu menang tapi sekarang, belum tentu" ucap Raffa yang tau Kevin juara renang saat di SMA.


"Belum tentu artinya belum pasti" tantang Kevin.


Mereka akhirnya benar-benar berlomba, Raffa dan Kevin mengganti pakaian mereka dengan celana Renang. Berjalan menuju pinggir kolam. Mereka sudah bersiap-siap untuk start.


"KEVIN...!!!" teriak Jessica.


Kevin dan Raffa menoleh, terlihat Jessica yang tergesa-gesa menghampiri. Wanita itu langsung memeluk Kevin lalu mencium kedua pipi laki-laki bertubuh atletis itu. Kevin menoleh pada Raffa, yang dilihat hanya tersenyum melihat tingkah laku istrinya.


"Kamu makin ganteng aja sayang, kenapa baru muncul sekarang ?" tanya Jessica sambil membelai wajah tampan Kevin.


Kevin benar-benar heran melihat tingkah laku suami istri itu. Memeluk laki-laki lain dan memujinya didepan suaminya sendiri. Dan Raffa sebagai suami sama sekali tidak keberatan. Kevin teringat cerita Raffa kalau rumah tangganya memang tidak sehat.


"Katanya kamu menjadi CEO di perusahaan asing ya ? apa kamu sudah menikah ?" Jessica memberondong Kevin dengan pertanyaan-pertanyaan.


"Ya" ucapnya singkat.


Raffa tertawa melihat keengganan Kevin meladeni pertanyaan Jessica.


"Ya apa ? jadi CEO atau sudah menikah ? " tanya Jessica lagi.


"Ya, aku jadi CEO. Dan aku akan segera menikah" jawab Kevin.


"Benarkah ?" tanya Jessica sedikit kecewa.


Raffa segera meminta Jessica masuk kedalam rumah, laki-laki itu merasa terganggu dengan kehadirannya. Namun wanita itu menolak, Raffa tak peduli lagi.


Jessica kagum melihat tubuh atletis kedua laki-laki tampan itu. Mereka melanjutkan perlombaan, Raffa jadi pemenang seperti yang diucapkannya.


Kevin tidak peduli, karena tujuan laki-laki itu mengajak lomba hanya untuk membuktikan luka ditubuh Raffa. Dari berita yang dibacanya, Raffa mengalami luka robek diperut, dan bekasnya memang terlihat jelas oleh Kevin.


"Kenapa dengan perutmu ?" tanya Kevin sambil melihat perut sixpack Raffa yang memiliki bekas luka.


"Ini karena menolong gadis yang pernah kuceritakan padamu, gadis yang aku cintai" ucap Raffa sambil mengajak Kevin duduk dikursi santai.


Mendengar cerita itu Jessica langsung pergi, gadis itu tidak pernah bisa menerima kenyataan kalau Raffa telah mencintai gadis lain.


"Apa tidak keterlaluan berkata seperti itu di depan istrimu ?" tanya Kevin.


"Dia tau semua, bahkan sebelum kami menikah, dia juga tau kalau aku memutuskan menikahinya demi melindungi gadis itu dari ancaman mommy" cerita Raffa.


"Luka itu juga karena menolongnya ?" tanya Kevin.


"Ini karena di tusuk gadis itu" ucap Raffa.


"Dia menusukmu ? padahal kamu telah menolongnya ?" tanya Kevin.


"Ini terjadi sebelumnya, gadis itu menusukku karena ingin melarikan diri dari villa, itu adalah kekhilafan yang tidak akan pernah aku sesali" cerita Raffa.


"Apa maksudmu ?" tanya Kevin.


"Aku menyekap dan menidurinya di villa" ucap Raffa sambil mengingat masa lalu.


Ternyata benar, Raffa telah memperkosa Celina, tega sekali dia melakukannya, dasar bajingan, jerit hati Kevin.


"Siapa nama gadis itu ?" tanya Kevin untuk memastikan.


Raffa heran dengan sikap ingin tau Kevin. Dan meski Kevin merasa siap untuk mendengarnya, tapi laki-laki itu masih berharap bukan Celina lah orangnya.


"Namanya Celina, baru-baru ini aku menemukannya kembali"


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2