Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 47 ~ Hidup Baru ~


__ADS_3

Raffa dan Celina menghabiskan bulan madu mereka dikamar. Menikmati layanan kamar hotel bintang lima itu. Hanya tinggal sehari lagi dan mereka akan kembali ke kehidupan mereka yang sebenarnya. Raffa menjadi CEO di perusahaan keluarganya dan Celina menjadi supervisor sekaligus istri laki-laki tampan itu.


Terlihat Ozora berlari mengejar kedua orang tuanya yang muncul dari pintu kedatangan. Raffa dan Celina berebut memeluk anak itu. Celina kalah, Raffa langsung menggendong Ozora, Celina cemberut, mereka tertawa.


Celina tak hilang akal langsung menghampiri Tita, gadis kecil yang jadi pendiam itu langsung tersenyum saat Celina menghampirinya, langsung mencium kedua pipinya dan menggendongnya. Mereka berjalan menuju Tuan dan nyonya Saltano yang menunggu ditempat yang tidak terlalu ramai.


Bersama mereka pulang, dalam perjalanan mereka berbincang tentang tempat-tempat mereka kunjungi. Raffa berjanji akan mengajak mereka semua mengunjungi objek wisata itu.


Kembali kerumahnya terasa sangat nyaman, Celina langsung merebahkan diri diranjang. Raffa menghampirinya. Membelai rambut Celina yang bergelombang indah, lalu mencium keningnya.


Terdengar pintu di ketuk, tak berapa lama kemudian seorang pelayan memberitahukan kalau Kevin dan Keira datang berkunjung. Raffa tersenyum, Celina membalas senyuman itu sambil menarik tangan Raffa menemui sahabatnya itu.


Ada perasaan enggan di hati Raffa menemui Kevin yang dia tau masih menyimpan perasaan pada Celina. Berbeda dengan Celina, gadis itu sekarang merasa kalau Kevin seperti abangnya sendiri, yang selalu perhatian dan sayang padanya.


Kevin dan Keira menunggu di gazebo pinggir kolam renang keluarga Saltano. Mereka saling berpelukan, Kevin sangat senang melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Celina, Keira sedikit cemburu melihat cara memandang Kevin namun segera menghilangkan perasaan itu. Keira sadar tak mudah melupakan cinta yang telah lama bertahan di hati Kevin.


Namun melihat sikap Celina yang biasa dan wajar membuat Keira sedikit tenang. Pada kesempatan itu, Keira memberitahukan tentang pertunangan mereka. Keira menunjukkan cincin yang mereka pilih bersama.


Celina sangat terkejut dan bahagia mendengar kabar gembira itu. Raffa tersenyum, berharap mereka menjadi pasangan yang saling mencintai selamanya, Celina dan Raffa mengucapkan selamat untuk keputusan mereka.


"Kapan rencana diresmikannya kak ?" tanya Celina.


Kevin menjawab secepatnya, Raffa berinisiatif sebagai penanggung jawab pelaksanaan pesta. Kevin menolak secara halus.


"Tidak apa-apa kak, kakak sudah menyiapkan pesta untuk kami, sekarang giliran kami menyiapkannya untuk kakak" ucap Celina.


"Saya akan meminta wedding organizer untuk menemuimu Keira" ucap Raffa.


"Tidak perlu repot-repot kami bisa mengatur sendiri" ucap Keira yang juga menolak secara halus.


"Sekarang giliran kami membalas kebaikan kak Kevin, kakak berdua cukup tenang-tenang saja menunggu hari h biarkan kami yang menyiapkannya" ucap Celina memohon agar mereka mau menerima niat baik mereka.


Raffa mengangguk, akhirnya Kevin dan Keira menyetujui. Mereka berbincang-bincang dengan santai, Keira menanyakan Ozora, segera pelayan rumah itu memanggil kan Ozora dan Tita. Keira sangat menyukai Ozora sehingga tak lepas-lepasnya memeluk dan mencium anak itu.


Sementara Celina memangku Tita, Celina tak ingin Tita merasa ditinggalkan. Jika ada yang menunjukkan rasa sayangnya pada Ozora, maka Celina akan menunjukkan rasa sayangnya pada Tita.


Setelah Kevin dan Keira pulang barulah Raffa dan Celina bisa beristirahat kembali.


"Aku sangat bahagia mendengar berita pertunangan mereka" ucap Celina.


"Sungguh ? bukannya cemburu ?" ucap Raffa.


"Kakak yang suka cemburu, bukan aku" jawab Celina.


"Cemburu itu tanda cinta" ujar Raffa.


Celina menatap wajah suaminya, membelai lembut wajah pria tampan itu.


"Kenapa kakak mencintaiku ? kenapa kakak mempertaruhkan nyawa untuk menolongku ? " tanya Celina akhirnya, setelah sekian lama ingin mengetahui alasan laki-laki itu menolongnya.


"Karena aku adalah orang pertama yang menyentuhmu, ego ku tidak terima kalau ada orang yang mencoba mengganggumu karena sejak itu kamu adalah milikku, aku tidak akan membiarkan orang lain merebut milikku" ucap Raffa sambil mengecup bibir istrinya.


Raffa menyisir rambut istrinya dengan jari-jari tangannya.


"Kamu pernah bilang, Ozora adalah putra dari suamimu, meski kalian tidak menikah kamu mengatakan Ozora adalah putra suamimu, kenapa kamu berkata seperti itu ?Jika bukan mommy yang membuktikannya, aku bisa saja percaya kalau Ozora bukan putraku" tanya Raffa teringat ucapan Celina saat menemuinya di taman kota.


"Papa Ozora sendiri yang mengucapkannya kalau dia adalah suamiku, saat melawan berandalan-berandalan yang menggangguku" ucap Celina.


Raffa bingung mencoba mencerna ucapan Celina, Celina tersenyum.


"Kalau nggak ingat, ya sudah" ucapnya lagi sambil membalikkan badannya.


"Aku yang mengucapkan itu ?" tanya Raffa.


Celina hanya tersenyum, Raffa mengulang kembali pertanyaannya. Gadis itu lalu tertawa.


"Saat itu kakak berkata 'aku tidak akan membiarkan kalian membawa gadis itu, dia adalah milikku'" ucap Celina menirukan perkataan Raffa.

__ADS_1


"Lalu mereka menjawab 'Jangan campuri urusan kami, memangnya kamu siapa ?" ucap Celina lagi.


"Kemudian kakak menjawab "Aku suaminya"" ucap Celina lagi sambil tertawa.


"Benarkah aku mengatakan itu ? Kamu mengingat semua perkataan itu ?" tanya Raffa yang dibalas anggukan oleh Celina.


"Mungkin saja aku mengatakan itu, karena bagiku, sejak saat itu kamu adalah milikku, aku akan mengatakan apapun agar mereka jangan mengganggumu" ucap Raffa.


"Aku selalu mengingat ucapan kakak, dan aku juga merasa kalau kakak adalah suamiku, orang yang pertama menyentuhku dan menanamkan benihnya di rahimku, bagaimana mungkin aku bisa mudah berpaling darimu, aku selalu menjaga hatiku untukmu meski kakak sudah melupakanku" jelas Celina.


"Aku tidak pernah melupakanmu, aku selalu mencintaimu sejak pertama kali bersamamu. Aku selalu ingin kembali padamu, aku justru telah mengkhianati Jessica. Tapi aku tidak peduli padanya karena sudah lama aku tau kalau Jessica juga berkhianat padaku" ucap Raffa.


"Maafkan aku kak, jika aku tidak hadir dalam kehidupan kalian mungkin saat ini kalian hidup bahagia bersama" ucap Celina.


Raffa tertawa.


"Kamu jangan lupa, akulah yang mencarimu di club malam. Kamu bukan hadir dalam kehidupan kami, tapi aku ingin kamu hadir dalam hidupku. Lagi pula hubunganku dengan Jessica juga tidak sehat, kami saling mengkhianati satu sama lain" ucap Raffa.


Laki-laki itu mendekati istrinya yang perasa itu. Yang selalu menyalahkan dirinya atas kejadian apapun.


"Jangan pernah merasa bersalah untuk itu, karena kamu bukanlah orang yang menghancurkan hubungan kami. Hubungan kami telah hancur jauh sebelum aku bertemu denganmu" bisik Raffa ditelinga istrinya yang perlahan menjalari ke pipi dan berakhir dibibir Celina.


Jika sudah seperti itu, Raffa tidak bisa dihentikan lagi. Raffa akan semakin menggebu, nafasnya semakin memburu. Celina tidak akan bisa menahannya hingga hasratnya terlampiaskan dengan tuntas.


Setelah beberapa hari menjalani masa bulan madu, di hotel maupun dirumah. Celina meminta izin untuk kembali bekerja, meski berat, akhirnya Raffa mengizinkan istrinya kembali beraktivitas.


Pagi itu Celina kembali menyapa para karyawan di toko. Semua menyalami dan memberinya selamat. Padahal mereka juga hadir di pernikahannya, para pelayan gadis bahkan memeluk Celina menunjukkan betapa mereka bahagia untuk Celina.


"Bu Celina rasanya tidak pas jika mengucapkan selamat di pesta, ucapan disana terasa seperti simbol saja" ucap salah seorang gadis pelayan.


Semua tertawa, Celina dan bawahannya memang akrab. Celina dalam mengajari para bawahannya sama sekali tidak menggurui. Sebelum menasehati dia akan selalu meminta pendapat mereka, karena ide dan pendapat orang itu berbeda-beda.


Kadang Celina justru mendapatkan ide dari bawahannya karena merekalah yang bertemu langsung dengan pelanggan, merekalah yang mengerti kebutuhan pelanggan. Dan setelah memberikan pertimbangan barulah diputuskan ide mereka disalurkan atau justru dihentikan.


Karena itu para bawahan Celina selalu menghargai gadis itu karena mereka juga merasa dihargai oleh Celina. Bu Widya datang dan langsung memeluk Celina, gadis itu sudah menganggap ibu Widya seperti ibunya sendiri. Toko itu seperti dikelola oleh sebuah keluarga besar.


Semua tercenung, hening, merasakan ada sesuatu yang penting yang akan diumumkan Bu Widya.


"Ibu berniat untuk mengakhiri masa kerja ibu di toko ini" ucap Bu Widya.


Semua tercengang, ada yang bingung, ada yang langsung bersedih.


"Ibu sudah tua, juga telah memiliki cucu, ibu ingin menghabiskan waktu ibu bermain dengan cucu-cucu ibu" lanjut Bu Widya.


Sebagian besar dari karyawan gadis langsung menangis, karyawan laki-laki hanya bisa menunduk. Tak beda dengan Celina, gadis yang telah merasakan kebaikan Bu Widya sejak menginjakkan kaki di toko ini bahkan sebelum itu, tak mampu menahan air matanya.


Bu Widya telah menjadi ibunya dan Oma bagi Ozora, gadis itu tidak tahan mendengar berita itu.


"Hei, kenapa semua jadi menangis, aku ini hanya ingin berhenti bekerja bukan mau mati" canda Bu Widya.


"Tapi kami akan merindukan ibu" ucap Celina dengan suara serak.


"Ya dan lagi kami takut jika pengganti ibu tidak cocok dengan kami" ucap karyawan lainnya.


Bu Widya tersenyum.


"Ibu juga akan sering datang kesini dan kalian juga boleh main kerumah ibu. Mengenai pengganti ibu, memang tidaklah sama, tapi cocok atau tidaknya tergantung usaha kalian untuk beradaptasi" ujar Bu Widya menjawab pertanyaan-pertanyaan karyawannya.


"Cara kepemimpinan yang berbeda itu bukanlah masalah, komunikasi yang baik bisa mengatasi semua perbedaan. Lagipula calon pengganti yang ibu usulkan juga bukan orang yang sulit, dan pihak manajemen perusahaan ini memang sudah percaya padanya" jelas Bu Widya.


Semua saling berpandangan lalu menunduk tak mampu membalas ucapan Bu Widya. Bu Widya meraih tangan Celina.


"Manajemen perusahaan percaya kalau kamu bisa memimpin toko dengan baik" ucap Bu Widya.


Karyawan merasa heran dengan ucapan Bu Widya. Semua diam, Celina tidak mengerti dengan ucapan Bu Widya. Celina tak ingin salah paham, gadis itu hanya menatap heran, ingin penjelasan yang lebih pasti namun tiba-tiba seorang karyawan pria langsung menimpali ucapan Bu Widya.


"Berarti pengganti ibu adalah Bu Celina ?" tanya karyawan pria itu.

__ADS_1


Bu Widya mengangguk, semua langsung gembira ekspresi mereka langsung berubah senang.


"Bu Widya bukannya kami senang ibu berhenti dari sini tapi kami lega Bu Celina yang menjadi pengganti ibu" ucap seorang karyawati.


Bu Widya mengerti, ibu yang bijaksana itu hanya mengangguk tersenyum, menurut Bu Widya karyawan-karyawan di toko ini adalah anak-anak yang baik. Semua berkat pendekatan yang baik terhadap mereka, memberikan kepercayaan pada mereka hingga membuat mereka malu untuk bersikap khianat.


Bu Widya memeluk Celina lalu segera mengajak Celina ke kantornya. Surat keputusan pengangkatan Celina sebagai penggantinya telah dikeluarkan karena itu Bu Widya sudah tidak sabar lagi ingin segera mengabarkannya.


Hari itu adalah hari perpisahan bagi mereka, Bu Widya yang telah bersiap sejak lama telah membereskan barang-barangnya, dibantu oleh karyawan meletakkan di mobilnya. Para karyawan melambaikan tangan sambil menangis. Bu Widya hanya tersenyum, sedih berpisah dengan anak-anak yang selama ini menjadi tanggung jawabnya namun bahagia karena akan menjalani kehidupan baru bersama putri dan cucu-cucunya.


"Sering-sering datang kesini ya bu ?"


"Kami selalu sayang ibu"


"Jangan lupakan kami ya Bu"


Terdengar teriakan-teriakan dari para karyawan, perpisahan itu mengejutkan, menghadirkan kesedihan yang mendadak dalam hati mereka namun semua itu sedikit terobati karena Celina terpilih sebagai penggantinya.


Jam kerja Celina otomatis berubah, gadis itu akan berada di kantornya seperti biasanya jam kerja Bu Widya. Mulai dari pagi hingga sore hari.


Hari itu setelah menjalani hari pertamanya sebagai manager toko. Celina berniat untuk mencari cinderamata untuk Bu Widya sekaligus kado untuk Keira. Celina yang belum sempat mengambil mobil dan barang-barangnya di rumah Alyssa terpaksa berjalan kaki menelusuri pertokoan.


Gadis itu akhirnya memutuskan untuk membeli kenang-kenangan untuk Bu Widya berupa bros berbahan emas. Celina memasuki toko perhiasan itu dan mulai mencari-cari.


Bu Widya orang yang sederhana, ibu itu pasti tidak suka dengan perhiasan dengan model yang berlebihan, batin Celina.


Sambil terus mencari-cari model yang cocok dengan kepribadian Bu Widya.


"Yang ini saja sayang" ucap wanita itu dengan manja.


Celina melirik pasangan itu dan terkejut. Terlihat Jessica sedang menggandeng seorang bapak-bapak tua dan gemuk. Bapak-bapak itu tak lepas merangkul Jessica, kadang-kadang mencubit hidungnya, kadang-kadang pipinya atau bahkan mencium pipinya di depan orang-orang yang ada disitu.


Bapak itu terlihat begitu bangga bisa menggandeng Jessica, wanita muda dan sangat cantik. Konsentrasi Celina terpecah, niatnya untuk mencari kenang-kenangan untuk Bu Widya jadi terganggu. Setelah pasangan itu mendapat apa yang mereka inginkan, segera mereka meninggalkan toko perhiasan itu.


Celina yang melihat kejadian itu merasa bingung harus berbuat apa, meninggalkan begitu saja dan mengabaikan apa yang dilihatnya sepertinya tidak mungkin dilakukannya.


Celina melangkah keluar mengikuti pasangan itu, lalu memanggil Jessica. Wanita itu berbalik, melihat siapa yang memanggil namanya.


"Oh ternyata si perusak rumah tangga orang" ucapnya saat menyadari siapa yang memanggil namanya.


Celina tidak peduli dengan ucapan wanita itu.


"Apa yang kamu lakukan Jessica ?" tanya Celina sambil melihat pada bapak tua gemuk itu.


"Apa ? kamu mau apa ? mau merebut dia juga ? merebut semua tempat bergantung ku ?" ucap Jessica.


"Jangan seperti itu Jessica, kamu bisa merasakan jika wanita lain merebut seseorang darimu tapi kenapa kamu justru melakukan itu ?" tanya Celina.


"Ini beda, dia tidak mencintai istrinya lagi, dia hanya ingin bahagia bersamaku. Berbeda dengan mu, kamu merebut Raffa dariku sementara aku masih mencintai dia" ucap Jessica.


"Cobalah jujur pada dirimu sendiri, jika kamu mencintai kak Raffa kamu tidak akan mengkhianatinya dan memiliki anak dari laki-laki lain. Kamu sudah tidak mencintainya lagi kamu hanya membutuhkan dirinya untuk tempat bergantungmu" ucap Celina.


"Benar, benar ucapanmu, aku memang tidak cinta lagi, aku sudah tidak punya rasa cinta lagi dan sekarang aku memilih dia untuk tempat bergantungku" ucap Jessica sambil menunjuk bapak yang sedang menunggunya.


"Tapi istri dan anak-anaknya masih mencintainya Jessica. Jangan kamu rusak kehidupan mereka. Kamu harus ikut aku, kamu harus perbaiki kehidupanmu tanpa harus merusak rumah tangga orang lain" ucap Celina meraih tangan Jessica.


Sontak gadis itu melepaskan tangannya.


"Aku tidak mau, kenapa aku harus ikut denganmu. Kamu pasti ingin memasukanku kedalam penjara" ucap Jessica.


"Aku tidak akan melakukan itu, demi Tita, aku tidak akan menuntutmu. Tapi kamu harus berubah, jangan sampai kamu menuai hasil dari perbuatanmu ini" ucap Celina.


"Tidak akan, aku tidak akan mengikuti keinginanmu. Aku ingin selamanya membuatmu menyesal karena telah merebut Raffa dariku" ucap Jessica kemudian pergi menyusul bapak tua gemuk yang menunggunya.


Celina ingin mengejar tapi tiba-tiba berhenti sebuah mobil dihadapan mereka. Celina terkejut lalu menghentikan langkahnya, dari mobil itu memancar semacam cairan yang langsung mengenai Jessica. Jessica menjerit kesakitan, Celina langsung berlari menghampirinya.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2