
Celina dan Raffa kembali kerumahnya, dikamar mereka membahas tentang apa yang terjadi pada keluarga Cartwright dan juga putra mereka, Ozora.
"Terima kasih karena telah mempertahankan putraku, aku yakin sangat sulit bagimu untuk bisa menerima kenyataan hamil diusia yang masih begitu muda. Tanpa siapapun yang mendukungmu" ucap Raffa sambil menangkup wajah Celina.
Mengingat Celina yang harus menanggung kehamilannya seorang diri. Raffa kagum, meski mendapati dirinya hamil akibat perkosaan namun masih mau mempertahankan, menjaga dan menyayangi putranya.
Celina tertunduk, akhirnya menceritakan apa yang dilakukannya sesaat setelah melahirkan Ozora, kejadian itu adalah rahasia terbesarnya dihadapan Raffa, satu-satunya orang yang telah mengetahui kejadian itu hanyalah Alyssa.
Celina menangis menceritakan semuanya, namun Raffa menghiburnya karena yang ditakutkannya tidak terjadi. Celina akhirnya mengurungkan niatnya mengakhiri hidup Ozora dan berusaha menyelamatkan hingga akhirnya sekarang hidup dengan sehat dikelilingi orang-orang yang menyayanginya.
"Apa kamu tidak merasakan tanda-tanda kehamilan lagi ?" tanya Raffa.
"Belum, memangnya kenapa ? saat hamil Ozora aku baru merasakannya setelah mengandung dua bulan. Itu juga tanpa sengaja karena memeriksakan diri ke dokter, kenapa bertanya seperti itu ?" tanya Celina.
"Aku ingin punya anak yang banyak darimu" bisik Raffa sambil menempelkan bibirnya di bibir istrinya.
Raffa adalah anak tunggal, laki-laki itu tau persis rasanya kesepian tanpa saudara. Beruntung saat usianya beranjak remaja akhirnya mengenal keluarga Kevin. Hingga laki-laki itu bisa merasakan memiliki saudara meski bukan saudara kandung.
Celina tersenyum, sambil menikmati tarikan lembut dibibirnya.
"Aku akan memberikan apapun yang kakak inginkan" bisik Celina membalas ciuman Raffa.
Raffa tersenyum, lalu merebahkan istrinya diranjang menarik selimut menutupi hingga kepala mereka. Celina tertawa, melihat cara Raffa bercanda.
Kamu cantik sekali Celina, apalagi kalau sedang tertawa, batin Raffa.
Membuat laki-laki itu tidak tahan ingin segera melepas hasratnya. Baru saja melepas satu kancing piyama Celina, terdengar ketukan dipintu. Aksi Raffa terhenti, Celina tertawa. Laki-laki itu segera membuka selimut yang menutupi mereka, lalu mempersilahkan yang mengetuk pintu untuk masuk.
Ternyata yang datang dua anak kecil itu, mereka ingin tidur bersama, Raffa menepuk keningnya. Sudah menjadi kebiasaan mereka, disaat-saat tertentu mereka tidur bersama di ranjang yang besar itu.
Karena kesibukan masing-masing membuat mereka jarang bertemu disiang hari, saat makan malam adalah saat berbagi pengalaman, dan saat tidur bersama adalah saat berbagi kasih sayang.
Setelah berbincang-bincang seru akhirnya merekapun tertidur. Celina tidur sambil memeluk Tita, sementara Raffa memeluk Ozora.
Ditengah malam Celina terbangun, merasakan geli dilehernya, ternyata Raffa yang sedang menciuminya.
"Kakak belum tidur ?" bisik Celina.
"Mana mungkin aku bisa tidur dalam keadaan seperti ini" bisik Raffa.
"Bukankah kamu sudah janji akan memberiku anak sebanyak yang aku mau" bisiknya mengingatkan Celina.
Celina tersenyum, bingung bagaimana cara memenuhi keinginan Raffa. Laki-laki itu menarik tangan Celina dan perlahan bergerak meninggalkan kamar itu dan memasuki kamar kosong lainnya. Disana Raffa ingin mewujudkan cita-citanya.
Paginya, Raffa, Ozora dan Tita berenang di kolam keluarga itu. Tuan dan nyonya Saltano bersantai menyaksikan lomba renang yang diikuti ketiga peserta itu. Menikmati weekend dengan cara berkumpul seperti itu mulai disarankan Celina. Semua anggota keluarga tak boleh berada di dalam kamar. Mereka harus ikut bergabung.
Ny. Rowenna yang awalnya tak berminat mengikuti acara keluarga itu akhirnya menurut juga setelah Celina merayunya dengan berjanji membuatkan chiffon cake kesukaannya. Ny. Rowenna memiliki kenangan tersendiri dengan kue sederhana itu.
"Kenapa mommy begitu menyukai kue ini, bukankah jaman sekarang banyak kue yang memiliki rasa yang lebih variatif dan rasanya luar biasa enak ? sebaliknya kue ini sangat sederhana" tanya Celina saat menghidangkan kue itu berikut susu hangat di meja samping Ny. Rowenna.
"Mendapatkan kue-kue dengan rasa yang bermacam-macam itu sangatlah gampang, tapi mendapatkan kue dengan rasa seperti yang kamu buat ini. Aku tidak akan bisa menemukannya meski berkeliling dunia" ucap Rowenna sambil tersenyum sedikit demi sedikit mulai mencicipi kue yang dihidangkan Celina.
Setiap gigitannya dinikmati dengan sepenuh hati, tak lupa Ny. Rowenna menghidangkan kue itu untuk suaminya. Tuan Robby mengangguk-angguk menikmati rasa kue sederhana itu. Celina hanya bisa heran mengamati pemandangan dihadapannya.
"Kadang, sederhana itu lebih bermakna dari pada sesuatu yang istimewa. Nilai istimewa itu hanya bisa diukur oleh perasaan masing-masing, benarkan Dad ?" tanya Rowenna pada suaminya.
Tuan Robby mengangguk-angguk.
"Kalau mommy memang begitu menyukainya saya bisa buatkan setiap saat" ucap Celina.
"Jangan, semua yang istimewa bisa jadi terasa biasa jika didapatkan dengan mudah. Aku tidak ingin kamu menyiapkan kue ini terlalu sering, agar nilai istimewanya tidak berubah menjadi sebuah hal yang biasa" cegah Rowenna.
Celina mengangguk meski tidak begitu mengerti. Gadis itu berkesimpulan hanya akan membuatkannya jika Ny. Rowenna menginginkannya.
"Sebenarnya nilai istimewa kue ini apa sih mom ?" akhirnya Celina memberanikan diri menanyakan pada Ny. Rowenna.
Ny. Rowenna tersenyum sambil memandang suaminya. Lalu mulai menceritakan kisah lalunya.
"Mommy berasal dari keluarga kaya yang berkuasa di sebuah kota. Begitu juga dengan daddy, keluarga kami saling bersaing, saling ingin menjatuhkan.
Kami tidak saling mengenal waktu itu, hingga suatu saat kami bertemu, mommy yang waktu itu datang ke sebuah pesta bersama pacar mommy.
__ADS_1
Mommy dirayu untuk mencicipi narkoba hingga akhirnya dipaksa untuk merasakan obat-obatan terlarang itu. Mommy menolak sekuat tenaga hingga diperlakukan kasar oleh pacar mommy waktu itu.
Daddy datang dan membela mommy, melawan pacar mommy yang ternyata memiliki banyak teman untuk mendukungnya.
Daddy mulai terdesak mommy mengajak daddy lari, disaat itu lah kami berkenalan" cerita Rowenna sambil memandang Celina yang ternyata masih sangat penasaran mendengar kisah kedua orang tua itu.
"Kami berkenalan hingga akhirnya saling mengenalkan keluarga. Tapi apa mau dikata, kami yang tidak saling mengenal, sementara keluarga kami justru telah saling mengenal bahkan saling bersaing dan saling bermusuhan" ucapnya sambil tertawa.
"Wah, seperti Romeo and Juliet ?" ungkap Celina semangat sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Pancaran matanya begitu berbinar.
"Kenapa kamu begitu bersemangat mendengar itu ?" tanya Rowenna sambil tertawa.
"Kisah cinta yang langka" ungkap Celina semangat.
"Kenapa bisa langka ?" tanya Rowenna.
"Biasanya dua keluarga kaya itu lebih suka menyatukan putra putri mereka. Dengan begitu kekayaan dan kekuasaan mereka menjadi bertambah" ungkap Celina yang tiba-tiba mendapat ciuman di pipi dari Raffa yang telah duduk disampingnya.
"Seperti kak Raffa dan nona Jessica" lanjut Celina.
Raffa langsung menatap heran, begitu datang langsung dibicarakan.
"Benar juga, tapi begitulah orang jaman dulu. Mereka lebih memilih sukses dengan usaha sendiri dibanding dengan cara mengandalkan kekayaan keluarga lain untuk mendongkrak kesuksesan keluarganya" jelas Rowenna.
"Lagi bicara apa sih ?" tanya Raffa akhirnya penasaran.
"Kisah cinta dalam sebuah chiffon cake" ucap Celina sambil tersenyum.
"Loh tapi kok ceritanya nyerempet ke aku ?" tanya Raffa lebih penasaran.
"Kakak itu hanya contoh perbandingan, nggak ada urusannya dengan kisah ini, jadi jangan ge er ya" jawab Celina.
Raffa mengangguk sambil tertawa.
"Lalu mommy gimana selanjutnya ? kok belum ada sangkut pautnya dengan chiffon cake ?" tanya Celina.
"Kami akhirnya dipisahkan, tidak dibiarkan bertemu sedetikpun. Tapi bagaimana perasaanmu jika dipisahkan dengan orang yang telah menolongmu dan kamu telah jatuh cinta padanya. Kamu mungkin tidak bisa membayangkan itu Celina ?" ucap Rowenna.
"Aku tau mommy, aku bisa membayangkannya. Aku juga pernah mengalami hal yang sama" jawab Celina.
Ny. Rowenna tercenung, baru teringat kalau Raffa juga pernah menolong Celina bahkan sampai membahayakan nyawanya. Namun Ny. Rowenna justru memisahkan mereka yang telah saling jatuh cinta.
"Kenapa aku tidak peka saat itu ?" ucap Rowenna pelan, menyesali.
Tn. Robby menepuk bahu istrinya, menyuruh wanita yang telah tua itu untuk memandang kearah Raffa dan Celina.
"Tidak perlu disesali, mereka sudah bersama sekarang. Meski menempuh perjalanan yang panjang namun akhirnya mereka bersatu dan bahagia bersama sekarang" ucap Robby menenangkan perasaan istrinya.
Celina mengangguk, Raffa memandangi istrinya. Perjalanan yang panjang, ya sebuah perjalanan yang panjang bagi mereka hingga mereka bisa bersatu.
"Mudah-mudahan itu bisa menguatkan cinta kalian. Meski dipisahkan, melalui banyak rintangan namun kalian masih teguh pada cinta kalian. Mommy yakin cinta kalian semakin bertambah kuat" ucap Rowenna menambahkan.
Raffa merangkul istrinya, Celina menatap Raffa. Kisah cinta mereka ternyata tak jauh beda dengan kisah kedua orang tua itu.
"Lalu mommy, bagaimana selanjutnya ? setelah dipisahkan ? apa yang mommy dan daddy lakukan ?" tanya Celina masih penasaran.
"Mommy berpura-pura sakit perut dan akhirnya dibawa kerumah sakit. Diperjalanan mommy melarikan diri, dengan bantuan seorang teman akhirnya kami bertemu. Kami melarikan diri dan bersembunyi hingga hampir lima bulan" ucap Rowenna yang bercerita dengan bangga.
"Kami tinggal dirumah sewa dengan berpindah-pindah. Namun lama kelamaan persediaan uang daddy menipis hingga saat mommy ulang tahun, mommy hanya diam tanpa memberitahu. Daddy akhirnya mengetahui ulang tahun mommy dan ingin menghadiahkan sebuah kue tart" cerita Rowenna lalu memandang suaminya.
"Sayangnya uang daddy telah terpakai untuk membeli nasi bungkus untuk kamu makan berdua. Lalu tanpa sepengetahuan mommy, taunya daddy bekerja sebagai kuli panggul disebuah pasar" cerita Rowenna sambil tersenyum.
Celina kaget melihat penampilan tuan Robby yang tak mungkin rasanya mau menjadi kuli panggul.
"Kamu tidak percaya ? itulah anehnya kalau sudah cinta apapun bisa dikerjakan" ucap Rowenna.
"Daddy membeli kue untuk merayakan ulang tahun mommy. Namun penghasilannya sangat kecil hingga akhirnya cuma bisa membeli kue chiffon" cerita Rowenna.
"Itu juga berkat memohon karena uangnya tidak cukup" ucap tuan Robby sambil tertawa.
__ADS_1
"Namun kami memakannya dengan lahap, karena kami juga sedang kelaparan, rasanya menjadi begitu nikmat, ya kan dad ?" tanya Rowenna pada tuan Robby yang dibalas dengan anggukan.
"Itulah sebabnya mommy sangat menyukai kue ini, dulu mommy mencari kue ini dimana-mana, di toko kue besar mereka menyediakannya namun rasanya tidak lagi asli, telah terkontaminasi oleh rasa-rasa kue modern jaman kini, sementara di toko kue kecil rasanya tidak seenak yang pernah kami rasakan" jelas Rowenna.
"Mungkin karena pada saat itu, mommy dan daddy sangat kelaparan jadi terasa sangat nikmat" jelas Raffa sambil tertawa.
"Tidak juga, buktinya sekarang ini kami masih bisa merasakan nikmatnya, persis sama dengan kue waktu itu ya kan dad ?" tanya Rowenna pada suaminya.
"Ya, persis sama" ucap tuan Robby menambahkan.
"Itu kami rasakan dari kue hasil bikinan istrimu" ucap Rowenna.
Raffa langsung memandang istrinya dengan tatapan kagum.
"Itu hanya kue sederhana yang biasa saya bikin untuk merayakan ulang tahun anak-anak yang ada di panti. Hanya itu yang saya bisa, dan hanya itu bahan-bahan yang kami punya. Namun kami bersyukur, bisa merasakan sesuatu yang berbeda dihari ulang tahun. Merasakan rasanya makan kue bersama-sama" jelas Celina sambil mengingat masa lalu.
"Aku tau kenapa rasanya sama dengan kue yang kita coba mommy" ucap tuan Robby.
"Karena Celina membuatnya dengan penuh cinta, dengan niat untuk membahagiakan orang-orang yang memakannya" lanjut tuan Robby.
Ny. Rowenna mengangguk terharu, Raffa memandang kagum pada istrinya. Laki-laki itu kembali mengecup pipi istrinya. Celina hanya tersenyum membalas tatapan mereka.
"Apa masih belum ada tanda-tanda ?" tanya Rowenna tiba-tiba.
Celina kelimpungan menjawab, heran karena semua tiba-tiba menanyakan tanda-tanda kehamilan padanya.
"Saat itu kamu bisa langsung hamil, kenapa sekarang masih belum ada tanda-tanda ?" tanya Rowenna agak murung.
"Rumah ini masih terlalu besar jika hanya dihuni oleh kita sekarang. Mommy ingin penduduknya lebih bertambah banyak" ucapnya hingga mencontohkan dengan membuat lingkaran besar dengan tangannya.
Mereka tertawa, melihat sifat Ny. Rowenna yang biasanya tegas dan kejam hari ini terlihat begitu santai dan sederhana seperti ibu-ibu biasa.
"Mungkin karena kesibukan dan juga faktor psikologis mom, Celina mengalami hari-hari yang berat belakangan ini" ucap Raffa membela istrinya.
"Ya, kamulah yang membuat hidupnya menjadi berat" tambah Rowenna yang justru membela Celina.
Mereka tertawa, tiba-tiba seorang pembantu dirumah itu datang dengan membawakan sebuah buket bunga yang indah.
"Ini ada kiriman bunga untuk nyonya Celina" ucap pembantu itu langsung memberikannya pada Celina.
Celina menerima, setelah mengucapkan terima kasih pembantu itu langsung pergi. Semua menatap kearahnya, Celina merasa heran kenapa ada yang mengirimkan buket bunga besar itu padanya.
"Dari siapa sayang ?" tanya Raffa.
Celina langsung mencari kartu ucapan yang terselip di sela-sela bunga dan langsung membacanya. Gadis itu terkejut dan ragu untuk memberi tau Raffa. Melihat itu Raffa langsung merebut kartu ucapan itu.
Ekspresinya juga langsung berubah, murung, kesal dan marah bercampur mewarnai perubahan air muka laki-laki itu.
"Dari siapa Celina ?" tanya Rowenna yang juga jadi penasaran.
Celina hanya menyerahkan kartu ucapan itu pada Ny. Rowenna. Dijelaskan pun mungkin nyonya itu tidak akan mengerti.
"Edward ? siapa dia ?" tanya Rowenna.
"Dia kenalan waktu kami berbulan madu mom" jelas Celina ragu-ragu.
Melihat ekspresi Raffa yang memalingkan wajah dengan kesal. Ny. Rowenna langsung merasa ada sesuatu yang terjadi saat mereka berbulan madu.
"Kenapa dia harus mengirim buket bunga untukmu ? " tanya Raffa.
"Aku tidak tau kak ?" jawab Celina.
Raffa kembali membaca kartu ucapan itu. Disana Edward menulis, kalau laki-laki itu berharap bisa bertemu lagi dengan Celina. Raffa meremas kartu ucapan itu. Terlihat jelas kalau laki-laki itu tidak menyukai kejadian ini.
Dikamar Raffa langsung meraih tangan istrinya.
"Kamu masih berhubungan dengannya ?" tanya Raffa dengan tatapan yang tajam.
"Tidak pernah kak, bahkan nomornya saja sudah tidak ada" jelas Celina.
"Tidak perlu menyimpan nomor untuk berhubungan dengannya, dia sudah menyimpan nomor teleponmu. Dia bisa saja menghubungimu saat berada dikantor, siapa yang tau ?" ucap Raffa terlihat sangat cemburu.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...