Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 78 ~ Kenapa Celina ~


__ADS_3

Dokter Dino membujuk putrinya agar Celina bisa pergi dari supermarket itu. Laki-laki itu berusaha untuk mengalihkan perhatian putrinya. Mengajaknya menambah belanjaan setelah itu mengantarkan putrinya pulang ke rumah.


"Pa, mama mana?" tanya Lala.


"Mama mana? mama Lala sudah tidak ada lagi bersama kita. Dia sudah pergi jauh nak, sudah menjadi bidadari sekarang" ucap Dokter Dino sambil mengeluarkan barang belanjaannya dari bagasi mobil.


Lala tertunduk diam, sama sekali tidak bergerak di belakang bagasi mobil ayahnya. Dokter Dino menatap putrinya itu dengan hati terenyuh. Ini adalah salahnya karena mengikuti keinginan istrinya. Dokter Dino melangkah mendekati putrinya lalu mengangkat putrinya hingga tinggi.


Membuat anak itu gamang, takut namun merasa senang. Lala terkejut, lalu kemudian tertawa. Sangat mudah ayahnya memancing tawa anaknya. Mereka masuk ke dalam rumah dan disambut oleh asisten rumah tangganya yang sekaligus pengasuh anaknya.


Dokter Dino melangkah ke ruang kerjanya duduk di kursi sambil menatap foto istrinya yang sedang tersenyum. Dokter Dino meraih figura yang selalu terlihat mengkilap itu. Tak boleh ada setitik debu pun menempel di figura itu bahkan sudah menjadi kebiasaannya mengusap bingkai foto dengan ukiran klasik itu dengan selembar sapu tangan lembut yang selalu tersimpan di laci mejanya.


Dokter Dino tersenyum, membalas senyum di wajah istrinya itu. Pikirannya melayang jauh ke tujuh tahun yang lalu saat istrinya pulang dari bepergian dengan begitu riangnya.


"Sayang, aku menemukan sesuatu yang luar biasa" ucap Lily sambil membongkar kantong plastik berisi buku-buku.


"Kamu dari mana?" ucap Dokter Dino tegas.


"Iiih, jangan marah, istri pulang dengan selamat itu harus bersyukur. Jangan dimarahi" ucap Lily sambil mengecup pipi suaminya.


"Ya, yang pergi itu bisa bersenang-senang di luar sana sementara yang menunggu di rumah berdebar-debar jantungnya" ucap Dokter Dino kesal.


"Aku bosan di rumah seharian, tadi pengen cari buku yang di kasih mommy tapi sudah hilang mungkin tak sengaja disumbangankan jadi aku cari lagi di sebuah toko buku" jelas Lily masih dengan senyum di wajahnya.


"Ya tapi kalau ingin pergi kamu bisa mengajakku, tunggu aku pulang praktik kita bisa pergi bersama-sama" ucap Dokter Dino dengan ekspresi khawatir.


"Menunggumu selesai praktik aku keburu mati kebosanan" ucap Lily dengan wajah sewot yang di buat lucu.


Melihat itu Dokter Dino langsung memeluk istrinya, mengecup lembut bibir wanita yang dicintainya itu berkali-kali. Meski perut buncit Lily menghalangi namun itu tidak menyurutkan niat Dokter Dino mencium bibir istrinya hingga lebih dalam.


Dokter Dino bahkan menggendong istrinya itu masuk ke kamar.


"Jangan di gendong, berat. Aku ini dua orang sekarang" ucap Lily yang takut suaminya merasa berat.


"Kembar lima pun aku masih kuat menggendongmu" ucap Dokter Dino.


"Tapi badanmu itu tidak besar, lebih besar badanku" ucap Lily.


"Meski tidak besar tapi sangat terlatih hingga menjadi kuat, kamu meski terlihat besar sebenarnya kamu itu sangat mungil" ucap Dokter Dino sambil merebahkan istrinya pelan di ranjang.


"Jangan pakai kata sangat, cukup mungil saja, memangnya aku ini liliput?" ucap Lily.


"Ya, karena terlalu mungil makanya orang tuamu memberi nama Lily tadinya mungkin nama lengkapmu liliput" ucap Dokter Dino sambil tertawa.


Lily menepuk lengan suaminya lalu meraih leher laki-laki itu dan menyatukan bibirnya ke bibir suaminya yang berhidung mancung itu.


"Aku ingin bibir putriku mirip dengan bibirmu" ucap Lily.


"Kenapa ingin mirip bibir laki-laki, anak dalam perutmu ini perempuan, hasil USG-nya tidak diragukan lagi" ucap Dokter Dino.


"Ya betul karena itulah aku ingin bibirnya seperti bibirmu karena bibirmu itu sangat manis apalagi kalau sedang tersenyum. Aku menerima cintamu itu gara-gara bibirmu ini, jadi hargai ini" ucap Lily sambil meremas bibir Dokter Dino.


Laki-laki itu tertawa sambil menjauh dari tangan istrinya.


"Masa begini cara kamu menghargainya?" tanya Dokter Dino.


"Lalu seperti apa?" ucap Lily masih meremas bibir suaminya.


"Seperti ini" ucap Dokter Dino sambil membenamkan bibirnya ke bibir istrinya.

__ADS_1


Mereka menikmati ciuman yang hangat hingga Dokter Dino memilih untuk melepaskan hasratnya.


"Apa baik-baik saja dalam kondisi hamil besar seperti ini?" tanya Lily.


"Malah lebih baik, itu akan membuatmu lebih mudah melahirkan" ucap Dokter Dino yang langsung membuat Lily tertawa.


"Bohong, kakak bicara seperti itu agar tetap bisa melakukannya meski kandunganku bertambah besar" tuduh Lily.


"Tanyakan ke Dokter Dinda kalau kamu tidak percaya" ucap Dokter Dino menyebutkan nama Dokter spesialis kandungan langganan Lily.


"Baiklah Dokter Dino, aku pasrah padamu" ucap Lily.


"Percaya pada dokter dalam hal ini, semakin sering melakukannya malah lebih baik" ucap Dokter Dino melanjutkan aksinya.


Lily tersenyum kemudian pasrah dengan keinginan suaminya. Hingga menjelang senja wanita hamil itu baru bisa meninggalkan ranjangnya untuk ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri, wanita itu mengambil buku-buku yang di belinya di toko buku tempat Celina bekerja.


Awalnya ingin membaca buku yang memang ingin di belinya namun setelah membaca sekejap, Lily ingin mencoba membaca buku pilihan Ozora. Wanita itu tersenyum saat mengingat betapa lucunya bayi laki-laki tampan itu.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Dokter Dino dengan kepala yang masih menempel dibantalnya.


"Aku bertemu dengan orang-orang luar biasa hari ini" ucap Lily semangat.


"Siapa?" tanya Dokter Dino sambil duduk dan meraih selimut untuk menutupi dirinya.


"Celina dan Ozora" ucap Lily.


Dokter Dino mendengarkan cerita panjang istrinya dengan serius. Terlihat kekaguman yang terlihat jelas terpancar di wajah istrinya. Lily menceritakan kehebatan Ozora dan kebaikan hati Celina. Dokter Dino senyum-senyum mendengar uraian cerita istrinya.


"Biasanya mengagumi bintang-bintang film Korea sekarang berganti arah mengagumi orang di dunia nyata. Kamu memang terlalu mudah merasa kagum" ucap Dokter Dino.


"Ya benar, daripada mengagumi tokoh fiktif lebih baik mengagumi tokoh nyata dalam hidup. Dia cantik, lembut, penolong dan cerdas sementara putranya sangat tampan, lucu dan genius" ucap Lily.


"Ada-ada saja kamu ini masih bayi mana bisa kelihatan genius? by the way di toko buku bisa ada bayi?" tanya Dokter Dino.


Hingga kehamilan wanita itu sudah menghitung hari barulah Dokter Dino dengan keras melarang istrinya keluar rumah. Namun, Lily bersikeras ingin menemui Celina dan bayinya yang semakin lucu saat itu.


Lily bahkan merajuk tidak mau menyapa suaminya karena telah melarangnya pergi menemui Celina dan Ozora. Sehari-hari wanita hamil itu hanya bisa memandang foto-foto selfie-nya bersama Ozora dan juga Celina. Melihat itu akhirnya Dokter Dino mengizinkan istrinya pergi ke toko buku.


"Aku yang akan mengantarmu, aku juga penasaran dengan cerita-ceritamu yang tidak masuk akal itu. Lama-lama kamu bisa menjadi pengarang novel fantasi jika dibiarkan" ucap Dokter Dino bercanda namun dengan ekspresi serius.


"Baguslah jika bisa seperti itu, aku juga kagum dengan pengarang-pengarang novel fantasi. Imajinasi mereka luar biasa" ucap Lily yang langsung bersiap-siap untuk berangkat.


Dengan semangat wanita cantik yang tengah hamil itu menunjuk ke lantai tiga.


"Kamu naik ke lantai tiga itu sendirian?" tanya Dokter Dino.


"Ya dong, masa beramai-ramai" ucap Lily.


Kali ini dengan dibantu suaminya Lily naik tangga untuk naik ke lantai tiga. Segera wanita itu mencari Celina dan Ozora. Dokter Dino pun diperkenalkan pada Celina dan Ozora. Dalam sekejap Dokter Dino terhipnotis dengan kecerdasan Ozora yang masih bayi itu.


Semua yang di lakukan Ozora melebihi dari aktivitas dan kecerdasan seorang bayi. Dokter itu langsung ingin meneliti Ozora. Setiap kali istrinya ingin ke toko buku, Dokter Dino akan selalu menemani. Meneliti setiap perkembangan kecerdasan Ozora sekaligus membantu Celina dengan memborong buku lantai tiga untuk di sumbangkan.


Aktivitas itu terhenti sejenak saat istrinya melahirkan putrinya. Lily di sibukkan dengan kehadiran putri cantiknya yang di beri nama Nazolla, gabungan dari Celina, Ozora dan Marcella yang merupakan nama lengkapnya yaitu Lily Marcella.


"Kamu ini egois, nama ku sama sekali tidak terselip di nama putrimu" ucap Dokter Dino sambil pura-pura merajuk.


Lily tertawa, mendengar ucapan suaminya setelah mengusulkan nama itu.


"Jangan khawatir namamu tentu saja menjadi yang utama, putri kita memiliki nama lengkap Nazolla Putri Saurus" ucap Lily sambil tertawa.

__ADS_1


"Kok Saurus? dimana letak namaku?" tanya Dokter Dino.


"Itu nama lengkapmu yang lebih terkenal, Dinosaurus" ucap Lily kembali tertawa.


Dokter Dino langsung mencubit pipi istrinya, bukannya laki-laki itu tidak tahu maksud wanita itu tapi dia sengaja pura-pura heran hingga membuat kesan dirinya dikerjai. Lily akhirnya mengusulkan nama keluarga Dino sebagai nama belakang putrinya.


Dokter Dino setuju, akhirnya memberi nama sesuai dengan keinginan istrinya. Hari demi hari Lily lalui dengan kesibukan barunya sebagai seorang ibu. Sedikit melupakan Ozora dan Celina meski pun kadang-kadang saat senggang wanita itu sangat ingin bertemu lagi dengan mereka.


Setahun berlalu, bayi Lala sudah bisa diajak untuk jalan-jalan. Namun sesaat setelah menyusui bayinya, Lily mengeluhkan rasa sakit dipayudaranya. Rasa sakit itu tidak biasa hingga membuat Dokter Dino menyuruh istrinya untuk memeriksa ke dokter.


Seperti mendengar petir di siang bolong, Dokter Dino dan istrinya terkejut mendengar diagnosa dokter yang menyatakan istrinya mengidap kanker payudara. Meski telah memiliki firasat itu tapi saat mendengar vonis dokter tetap saja Dokter Dino dan istrinya mengalami syok.


Lily mengeluhkan rasa nyeri di payudara sebelah kirinya yang disertai rasa panas di kulit bagian bawah ketiaknya. Selama ini rasa itu diabaikannya karena kadang-kadang terasa namun kadang-kadang hilang.


Dokter Dino langsung menyuruh istrinya memeriksakan diri ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam, di sana Lily diminta untuk melakukan USG Mammae dan juga cek darah. Istri Dokter Dino itu akhirnya dirujuk ke Dokter Spesialis Bedah Bagian Onkologi yang ahli dalam masalah Mammae.


"Dokter Onkologi?" tanya Dokter Dino pada teman sejawatnya di rumah sakit itu.


Dokter yang ditanyai itu mengangguk pelan. Dokter Dino mengetahui bahwa Dokter Onkologi adalah dokter yang berfokus pada deteksi dan penanganan penyakit kanker.


Dokter Dino pun mengikuti arahan Dokter Spesialis Penyakit Dalam itu hingga akhirnya mendapat kepastian bahwa istrinya menderita penyakit kanker payudara.


Dokter Dino tertunduk, Lily mengusap lengan suaminya sambil tersenyum. Meski sangat sedih mendengar vonis dokter itu namun Lily berusaha untuk tetap tegar dan memaksakan diri untuk tersenyum.


"Beruntung masih stadium dini hingga masih bisa diatasi, saran saya Nyonya Lily melakukan kemoterapi atau pengangkatan payudara, itu pilihan lebih tepat" ucap Dokter Spesialis Onkologi itu.


"Apa? pengangkatan payudara?" tanya Lily terkejut.


"Itu saran yang paling baik. Mengangkat payudara secara keseluruhan lebih baik dilakukan untuk mencegah penyebaran sel kanker" jelas Dokter Spesialis Onkologi itu.


"Nggak dokter, saya nggak mau" ucap Lily sambil menggelengkan kepalanya.


Lily yang tadinya tegar mendengar penyakit yang dideritanya sekarang justru syok setelah mendengar metode yang disarankan dokter dihadapannya itu. Dokter itu meminta Dokter Dino dan istrinya mempertimbangkan pilihan yang diusulkan.


"Tapi jangan terlalu lama memutuskannya Dokter Dino. Semakin lama akan semakin berbahaya" ucap Dokter Spesialis Onkologi itu.


Dokter Dino mengangguk, mereka pun pulang. Dirumahnya Dokter Dino kembali menanyakan usul Dokter Spesialis Onkologi itu.


"Nggak mau, aku nggak mau kehilangan kebanggaanku sebagai seorang wanita" ucap Lily tegas.


"Aku setuju usulan itu justru karena aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tidak peduli dengan kebanggaan seorang wanita, aku tidak butuh itu. Aku butuh dirimu" ucap Dokter Dino dengan suara keras.


Lily tercenung, baru kali ini suaminya berbicara sekeras itu. Wanita itu menangis, pilihan yang sangat sulit baginya.


"Apa tidak ada cara lain?" tanya Lily.


"Kemoterapi, tapi tetap saja, membuang sel kanker itu semuanya hingga ke akar-akar menjadi pilihan yang lebih baik" ucap Dokter Dino.


"Kenapa aku seperti ini? kenapa bisa mendapat penyakit ini? aku telah menjalani hidup sehat, aku bahkan telah hamil dan menyusui bayiku. Tapi kenapa aku bisa menderita penyakit ini?" tanya Lily sambil menangis.


Dokter Dino memeluk istrinya, mengusap punggung yang berguncang itu.


"Keluargamu memiliki riwayat kanker payudara bukan? ibu dan kakakmu juga menderita penyakit itu?" tanya Dokter Dino yang tidak membutuhkan jawaban tapi justru menjawab pertanyaan istrinya.


Sekitar lima hingga sepuluh persen kasus kanker payudara terjadi karena faktor genetik. Wanita yang memiliki ibu atau nenek yang pernah terkena kanker payudara berisiko hingga dua atau tiga kali lebih tinggi mengalami penyakit yang sama. Hal itu sangat dipahami oleh Dokter Dino.


Setahun setelah menikah dengan Lily, Dokter Dino mendapati ibu mertuanya menderita penyakit kanker yang telah stadium lanjut hingga akhirnya meninggal dunia. Begitu juga dengan kakak perempuan Lily, Dino hanya berharap penyakit itu tidak mengidap dalam tubuh istrinya tapi apa mau di kata. Takdir itu tidak bisa dilawannya.


"Jika aku meninggal, menikahlah dengan Celina. Dia bisa menjadi ibu yang baik bagi putri kita" ucap Lily pelan namun seperti pisau yang menghujam ke jantung Dokter Dino.

__ADS_1


Dokter Dino menggelengkan kepala meski kabar buruk ini sering menjadi momok menakutkan bagi penderitanya. Namun, masih terlalu dini bagi Lily untuk mengucapkan kata-kata seperti itu. Dokter Dino menolak keras usulan istrinya.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2