
Aurora ingin liburan sekolah Olivia, diisi dengan acara berlibur ke Villa. Raffa menyetujui, putri bungsu keluarga itu langsung berteriak bahagia. Sesampai di Villa, Olivia dikejutkan oleh orang-orang yang berada di dalam Villa. Sebuah tulisan yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya terpampang melintang di atas ruangan yang luas itu. Olivia langsung menubruk tubuh Celina, memeluk wanita itu dan menangis dalam pelukannya. Olivia tak menyangka jika keluarga itu mengingat ulang tahunnya.
"Dasar cengeng!"
Olivia langsung melepaskan pelukannya dan mencari arah suara. Olivia kesal mendengar makian itu tetapi tertegun saat melihat seorang pemuda tampan yang justru tersenyum manis padanya. Olivia langsung berlari memeluk Ozora. Tak peduli dengan orang-orang yang melihatnya heran karena suara tangisnya yang begitu keras.
Semua tersenyum menatap pemandangan haru itu. Aurora pun tersenyum sambil menoleh ke arah ayahnya. Raffa merangkul dan mengecup anak rambut putrinya. Semua adalah ide Aurora, pelaksana adalah ibunya dan sebagai penyandang dana adalah ayahnya.
Olivia terus memeluk Ozora erat, seolah-olah tak pernah ingin melepasnya lagi. Tak kurang kasih sayang dirasakannya dari keluarga itu. Kasih sayang dari kakek dan nenek, ayah dan ibu, kakak dan adik. Namun, perasaan Olivia terhadap Ozora adalah perasaan yang berbeda. Tak hanya sebagai seorang kakak tapi seorang yang sangat spesial di hatinya.
"Sudah! Sudah! Nanti tamunya ke buru bubar lihat kamu nangis terus," ucap Ozora menepuk punggung adik perempuannya itu.
Peran Ozora dalam hidup Olivia tak kalah banyak dibanding dengan keluarga Saltano yang lainnya. Meski Ozora berada jauh di New York, pemuda tampan yang telah menginjak lima belas tahun itu selalu menyempatkan diri menghubungi Olivia di tengah kesibukannya menjadi Direktur Bisnis di perusahaan milik ibunya di pusat kota New York itu.
Olivia pun sama, apa pun yang terjadi akan dilaporkannya pada Ozora. Meminta pendapat pemuda tampan itu setiap ada kesempatan. Olivia tak akan kecewa jika Ozora tak kunjung membalas pesannya atau menolak panggilan video-nya. Gadis itu sadar, gadis itu tahu, kalau Ozora sangatlah sibuk.
{Para reader yang Othor sayangi, numpang iklan ya hehe ... main-main ke rumah tetangga di blok F ya. Bacanya nggak pake koin kok... judulnya SIRKUIT CINTA napen Kak_ICHA. Mohon dukungannya untuk karyaku ini ya, masukin ke daftar pustaka aja dulu hehe ... ditunggu kedatangannya ... makasih}
Acara ulang tahun akan dilaksanakan sebentar lagi karena menunggu beberapa tamu yang akan datang. Mereka sibuk mengisi acara dengan menikmati hidangan. Karena ini adalah acara ulang tahun Olivia. Celina tentu mengundang teman-teman sekelas gadis belia itu. Mereka terlihat asyik bercanda dan tertawa sambil menikmati bermacam-macam hidangan.
Jika anak-anak remaja lainnya berkumpul dengan orang-orang seusianya. Aurora justru bergabung dengan kelompok orang tua. Pengetahuan Aurora yang tak kalah luas dengan orang-orang dewasa membuatnya lebih senang berbincang dan berkumpul bersama dengan orang-orang seangkatan ayah dan ibunya.
"Gadis kecil yang cantik, nanti cepat tua lho kalau suka gabung bersama orang tua," ucap Kevin usil.
"Aurora di sini untuk membantu menyebarkan aura anak muda, agar Uncle Kev bisa tetap awet muda," jawab Aurora.
"Oh ya ampun anak ini. Uncle belum butuh aura anak muda, karena Uncle Kev memang masih muda," jawab Kevin tak mau kalah.
"Ih, memang begitu, kalau orang liat diri sendiri itu selalu merasa muda. Nggak sadar kalau sebenarnya udah tua," jawab Aurora.
__ADS_1
"Ya ampun anak ini, benar-benar nggak mau kalah," ucap Kevin seperti kewalahan menjawab setiap ucapan Aurora. Keira pun angkat bicara.
"Apa kamu lupa, saat hamil Aurora. Celina menolong mantan pacar Raffa dengan susah payah dan tanpa menyerah? Ini hasilnya, putrinya jadi seorang fighter sejati, nggak pernah bisa dikalahkan," jelas Keira lalu tertawa.
Celina tersenyum, wanita itu sedang memangku bayi Keira yang berumur satu tahun. Sementara Raffa tertawa sambil menunduk karena malu. Teringat kembali wanita-wanita dari masa lalunya yang begitu banyak dan kadang hadir untuk mengganggu rumah tangganya. Raffa meraih bahu putrinya lalu memeluk putri kebanggaannya itu.
"Mana Kakakmu, Sayang?" tanya Raffa.
"Itu Pa, tapi Kakak yang mana dulu nih?" tanya Aurora.
"Oh ya, kalau gitu yang satu panggil Kakak yang satu panggil Abang, gimana?" tanya Raffa asyik bicara dengan putrinya.
Aurora mengangguk, lalu menunjuk Ozora yang telah di kerubuti oleh teman-teman sekelas Olivia khususnya para gadis-gadis. Raffa ikut menoleh ke arah yang ditunjuk Aurora tetapi Raffa tak melihat Olivia. Laki-laki itu bertanya pada Celina, Celina pun akhirnya menoleh ke sekeliling mencari-cari.
"Olivia memang seperti itu Kak, mudah merasa tersisih. Padahal kalau dia ingin ikut bergabung, nggak masalah, tak ada yang melarang," ungkap Celina.
"Itu Pa, di luar duduk sendirian," jawab Aurora sambil menunjuk setelah berhasil melihat Olivia.
"Biar aku temui, Kak," ucap Celina langsung berdiri.
Keira meminta Celina menyerahkan putrinya tetapi Celina tak keberatan untuk menggendongnya. Lagi pula Keira juga sedang mengawasi putra pertamanya yang berumur enam tahun. Celina melangkah keluar menyusul Olivia yang duduk seorang diri di taman belakang Villa. Taman belakang Villa itu memang terlihat lebih indah sekarang karena telah dihiasi dengan berbagai dekorasi dan lampu warna-warni.
"Yang ulang tahun kok malah duduk sendirian?" tanya Celina menyapa.
"Oh Mama, nggak apa-apa Ma. Lagi pengen sendiri aja," jawab gadis itu.
"Kenapa ya? Mama lihat setiap kali Ozora di temani orang lain, Olivia langsung menyingkir? Padahal kalau Livia ingin gabung dengan mereka juga nggak apa-apa kok," ucap Celina.
Olivia hanya tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke bayi yang duduk di pangkuan Celina. Gadis itu beralih menatap Celina. Gadis itu lalu tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ada apa sayang? Kenapa sedih? Ini hari ulang tahunmu lho? Kamu harusnya bahagia," tanya Celina.
"Ma, kenapa Mama mau jagain Livia? Kenapa Mama sayang sama Livia? Padahal Livia bukan siapa-siapanya Mama?" tanya Olivia dengan air mata yang semakin menggenang di pelupuk matanya.
"Apa salah kalau Mama sayang sama Livia? Apa ada batasan siapa saja yang boleh sayang sama Livia?" tanya Celina.
Gadis itu lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Celina membelai rambut gadis manis itu. Mencoba membuat hati gadis itu terbuka padanya. Sejak tinggal di rumah itu Celina sangat ingin tahu isi hati Olivia.
"Kalau nggak ada batasannya kenapa Livia bertanya? Mama sayang anak-anak kecil dari dulu, karena dulu Mama tinggal dan di besarkan di panti asuhan. Mama sejak kecil juga butuh kasih sayang. Mama juga ingin disayangi. Karena itu, saat sudah besar Mama juga suka menyayangi anak-anak kecil karena Mama tahu setiap anak itu pasti ingin disayangi," ungkap Celina.
"Tapi ... Mommy nggak sayang sama Livia--"
"Jangan bilang begitu? Mommy sangat sayang sama Livia karena itu Livia dititipkan sama Mama. Jika nggak sayang mungkin saat ini ... Livia ikut Mommy ... Livia mungkin nggak bisa sekolah. Mommy memikirkan masa depan Livia. Bersama Mama, Ozora, Aurora, dan yang lainnya. Livia bisa belajar dan berprestasi, benar kan?" tanya Celina.
Dengan perasaan tak menentu, Celina berusaha menahan kesedihannya atas kenyataan Felicia yang telah meninggal karena kecelakaan. Hingga saat ini wanita itu masih belum sanggup untuk memberitahu kenyataan yang terjadi pada ibu kandung gadis manis dihadapannya itu. Bagi Celina, Olivia tetap gadis kecil yang tak akan sanggup menerima berita kematian ibunya. Berbincang dengan Olivia, sekuat tenaga Celina menahan tangisnya. Celina meraih tubuh anak itu dan memeluknya.
"Tapi mereka bilang, Livia anak pungut Mama," ucap Olivia akhirnya.
"Jangan pedulikan kata-kata yang membuatmu sedih. Kata-kata seperti itu hanyalah sebuah status untuk membedakan. Anak kandung, anak angkat, anak tiri tapi bagi Mama, semua itu tidak penting. Kandung atau bukan, semuanya sama. Pada Ozora, Aurora, Livia, cinta dan sayang, akan Mama berikan semuanya sama rata . Tidak dibagi-bagi, seratus persen masing-masing untuk semuanya," ucap Celina membelai rambut gadis remaja empat belas tahun itu.
Olivia tersenyum lalu melingkarkan tangannya ke tubuh Celina termasuk bayi Keira. Celina meminta anak itu berjanji tidak merasa berkecil hati lagi dengan status apa pun dia di rumah itu. Olivia pun mengangguk.
Tak lama kemudian seseorang memanggil mereka karena acara akan segera dimulai karena para tamu yang ditunggu-tunggu telah datang. Celina dan Olivia pun kembali ke ruang pesta. Sebelum mereka masuk, Celina merapikan gaun pesta Olivia.
Gadis itu terlihat begitu cantik dengan gaun berwarna peach itu. Warna yang lembut, selembut hati Olivia. Dengan hati yang penuh semangat mereka pun kembali masuk ke dalam villa untuk memulai acara ulang tahun gadis remaja cantik itu.
Saat memasuki ruang pesta telah terdengar lantunan lagu yang sangat lembut. Segera Olivia dan Celina mempercepat langkahnya. Namun, langkah gadis itu pun terhenti saat melihat Ozora dan Tita yang tengah berdansa.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1