
Rakit dengan dekorasi indah itu telah kembali menepi, para penumpang yang terdiri dari kedua mempelai, para saksi nikah dan tak lupa musuh lama Keira, yaitu penghulu. Telah kembali merapat ke dermaga, dengan bergandengan tangan para penumpang rakit berjalan pelan di dermaga.
Para tamu undangan menyambut mereka lalu bersalaman bergantian. Semua mengucap kagum pada konsep pernikahan kali ini. Bagi mereka acara pernikahan Kevin dan Keira adalah konsep yang tak biasa.
"Terima kasih suamiku" ucap Keira pada Kevin.
Keira meraih Kevin dan menyatukan bibir mereka, Kevin membalas ciuman Keira. Raffa, Celina, Alyssa dan David tersenyum memandang kedua mempelai yang berbahagia itu. Lalu bejalan menghampiri mereka. Bergantian mereka berpelukan mengucapkan selamat.
Keira menangis sambil memeluk Celina, saat berjalan di dermaga Kevin membisikkan kalau semua itu adalah ide Celina.
"Kamu kenapa nangis ? tidak sesuai dengan keinginanmu ya ?" tanya Celina.
Keira menggelengkan kepala.
"Terima kasih Celina, semua berkat dirimu. Jika tidak, aku akan kembali seperti dulu, aku bisa merasakannya. Aku hampir menyeburkan diri ke telaga jika tidak ingat kalau aku tak bisa berenang" ucap Keira.
Celina menepuk punggung Keira pelan.
"Kenapa nggak nyebur aja ? nanti juga ditolong sama si jago renang" ucap Celina tersenyum sambil melirik Kevin.
Keira melepaskan pelukannya, tersenyum lalu mencubit kedua pipi Celina gemas.
"Paling akad nikahnya berubah jadi konsep baru, akad nikah ala basah-basah" ucap Celina.
Semua yang mendengar percakapan mereka tertawa.
"Tapi bagaimana kalau seandainya Keira bisa berenang berarti pernikahannya bisa gagal lagi dong ?" tanya ayahnya Keira.
"Karena itu saya bertanya dulu om, apa Keira bisa berenang, kalau dia jawab bisa, saya beralih ke plan B" cerita Celina.
"Plan B ? apa itu ?" tanya Robby yang juga datang bersama Rowenna, Ozora dan Tita, bersama mereka ikut bergabung.
"Ya dad, kalau ternyata Keira bisa berenang saya bikin konsep akad nikah di puncak tebing yang tinggi, saya yakin Keira takut ketinggian" ucap Celina.
Semua tercengang mendengar ide Celina, lalu tertawa. Ozora dan Tita juga ikut tertawa.
"Di puncak tebing yang tinggi ? Kesananya naik apa sayang ? " tanya Raffa tersenyum.
"Helikopter dong" ucap Celina.
"Kalau gitu kita nggak bisa menyaksikan acara akad nikahnya" ujar Rowenna.
"Masih bisa mommy, kita bersama-sama disini menonton live streaming yang diambil kameraman dari helikopter" ucap Celina sambil tertawa.
"Kevin, aku mau coba ide Celina" ucap Keira sambil melompat memohon.
"Udah, jangan coba-coba lagi. Kamu itu udah nikah sekarang" ucap ibunya Keira.
Keira terkulai cemberut, Kevin merangkul istrinya, semua kembali tertawa.
"Auntie Kei lahirin adek cewek ya" ucap Ozora.
"What ? kamu mau adek cewek lagi ? bukannya udah ada Tita, trus kemarin ngomong sama mama juga minta adek cewek, sekarang Ozora mau adek cewek lagi ? kamu ini emang bener-bener Raffa ya, suka di kelilingi cewek-cewek" ucap Keira.
Ozora mengangguk, Keira menepuk jidat, yang lain tertawa. Ayah dan ibu Keira gemas melihat Ozora.
"Udah ganteng, pintar kalau udah besar, bisa jadi rebutan ini" ucap mama Keira.
"Iya mom, kecil-kecil udah jadi playboy, Don Juan, Casanova" ucap Keira mengulang ucapannya dulu sambil menowel hidung Ozora tiga kali.
"Biarin, auntie Kei yang baik, cantik, lucu" ucap Ozora sambil membalas menowel hidung Keira.
Keira pura-pura kesal langsung menggelitik pinggang Ozora. Gadis itu benar-benar gemas dengan anak pintar yang tampan.
Semua tertawa, melihat keakraban mereka.
"Kamu ganteng amat sih pake jas ini" ucap Keira.
"Ini sengaja dipesan mama khusus untuk pesta auntie Kei" ucap Ozora.
"Mau menjadi mempelaiku ?" tanya Keira.
Ozora mengangguk langsung mengangkat sikunya, Keira terperangah namun langsung menggandeng lengan Ozora. Berjalan pelan mereka dengan irama lagu pernikahan.
"Teng.. teng.. teng teng.. teng.. teng.. teng teng"
"STOP !!!!, belum sehari aku menikah, istriku udah langsung direbut, mentang-mentang ganteng lancang ngajak nikah istri orang, anak siapa ini hah ? mau ngajak berantem" teriak Kevin sambil mengangkat tubuh Ozora tinggi-tinggi.
"Mau diceburin ke telaga sana hah" ucap Kevin.
"Ampun uncle Kev, ampun. auntie Kei buat uncle Tek aja" ucap Ozora sambil tertawa.
__ADS_1
"Kok uncle Tek sih ?" tanya Kevin sambil menurunkan Ozora.
"Kata auntie Kei, bukan uncle Kev, yang cocok itu uncle Tek, uncle JUTEK" ucap Ozora langsung lari ke belakang ibunya.
Kevin menoleh kearah Keira, Keira langsung mendekati sambil tersenyum. Semua tertawa melihat keceriaan itu. Kemudian mereka melangkah kembali ke meja masing-masing. Menikmati hidangan siang itu, sementara resepsi akan diadakan nanti malamnya.
"Apa gunanya panggung itu ?" tanya Keira sambil berjalan menggandeng tangan Celina.
Berdua mereka melihat panggung yang disiapkan untuk akad nikah tadi.
"Untuk menipumu" ucap Celina, yang langsung dipelototi Keira.
"Itu disediakan agar kamu juga bisa merasakan akad nikah seperti umumnya. Agar kamu percaya kalau akad nikahmu sama seperti akad nikah lainnya. Hanya untuk penyamaran, kenapa ? kamu mau mencoba disana ?" tanya Celina.
Keira mengangguk sambil tersenyum, mereka berdua berjalan sambil saling mengapit. Di karpet yang terbentang menuju panggung ditaman. Semua menatap kearahnya mereka, Keira duduk berhadapan dengan Celina dimeja.
"Mau akad nikah lagi ?" ucap Kevin yang tiba-tiba telah mendatangi mereka.
"Jangan !!! cukup sekali, sekarang kami hanya mencoba menikmati konsep biasa yang nggak terpakai ini" ucap Celina sambil tersenyum.
Raffa dan yang lainnya datang, mereka berkumpul dipanggung akad nikah itu. Fotografer pun diminta mengambil foto-foto ceria mereka. Panggung yang menyediakan meja nikah dengan dekorasi yang cantik itu akhirnya menjadi spot foto bagi mereka dan para tamu.
"Ayolah, kita harus pulang, istirahat biar segar saat resepsi nanti malam" ucap Rowenna yang tidak begitu suka berfoto.
Tn. Robby mengerti dan langsung mengajak istrinya kembali pulang, setelah melambaikan tangan pada semua kenalan mereka pun beranjak meninggalkan lokasi akad nikah.
Raffa, Celina dan anak-anaknya juga berpamitan pulang. Merekapun istirahat di kamar masing-masing. Raffa meminta istrinya untuk beristirahat.
"Kamu ini sedang hamil muda, jangan sampai kamu kelelahan sayang" ucap Raffa.
Laki-laki itu meminta istrinya duduk di pinggir ranjang, melepaskan sepatu istrinya.
"Tunggu disini ya, jangan kemana-mana" ucap Raffa lalu keluar kamar.
Memangnya aku mau kemana lagi, batin Celina.
Raffa kembali membawa panci dengan air hangat dan handuk kecil, laki-laki itu memberi campuran minyak esensial aromatik dalam air hangat itu. Celina terbelalak melihat apa yang dilakukan suaminya.
Laki-laki itu duduk dilantai, meraih kaki istrinya dan merendam kedua kaki itu kedalam panci. Perlahan-lahan laki-laki itu memijat kaki dan betis istrinya. Awalnya merasa risih Celina menarik kakinya, namun Raffa membesarkan bola matanya dan menarik kembali kaki istrinya. Akhirnya gadis itu pasrah, Celina tersenyum melihat perlakuan manis suaminya.
Celina terpesona, benar-benar terpesona melihat laki-laki tampan itu begitu konsentrasi memijat kakinya. Tidak pernah menyangka, seorang CEO yang membanggakan diri sebagai penakluk wanita itu sedang duduk dilantai sambil memijat kakinya.
"Ada apa ? kenapa tertawa ?" ucapnya kembali memijat kaki istrinya.
"Tidak pernah terbayangkan olehku CEO jahat yang mengejarku dilorong waktu itu sekarang duduk dilantai dan memijat kakiku" ucap Celina.
Raffa tersenyum manis sekali membuat Celina terpesona. Raffa mengambil handuk, dengan perlahan mengeringkan kaki Celina dengan sedikit menekan-nekannya.
"Kamu pasti terpesona padaku" ucap Raffa masih sibuk mengeringkan kaki Celina.
"Nggak tuh, biasa-biasa aja" ucap Celina menutupi perasaannya.
"Aku yakin kamu pasti terpesona" ucapnya tanpa menoleh.
"Nggak" jawab Celina berbohong.
Raffa menaruh panci dan handuk kepinggir, kembali memijat kaki istrinya yang telah kering.
"Yakin tidak terpesona padaku ?" ucap Raffa lagi sambil mengangkat telapak kaki Celina.
Kemudian mengecupnya pelan sambil meresapi aroma dan lembut kulit kaki Celina.
Celina terperangah, matanya terbelalak, Raffa tersenyum lalu melanjutkan kecupannya perlahan, dari ujung kaki naik hingga ke betis, lalu melesat ke bibir Celina. Celina tak bisa menahan tubuhnya hingga membuatnya rebah diranjang.
Raffa langsung mendominasi, minyak esensial aromatik yang ditambahkannya kedalam air hangat tadi ternyata tidak hanya mampu menenangkan tubuh dan merileksasi otot namun juga meningkatkan gairah seksual. Mencium kaki Celina membuat gairahnya meningkatkan.
"Lain kali kita berendam di jacuzzi whirlpool menggunakan minyak esensial aromatik tadi, aku suka wanginya" ucap Raffa melepas kemejanya dan melemparnya sembarangan.
"Baiklah" ucap Celina sambil tertawa, pasrah menerima pelampiasan hasrat suaminya.
Raffa mengecup pipi istrinya.
"Istirahatlah sayang, maafkan aku ya, harusnya aku tidak mengganggu istirahatmu" ucap Raffa sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya.
"Baiklah suamiku sayang, aku akan istirahat sekarang" ucap Celina memejamkan mata sambil memeluk suaminya, Raffa mengecup puncak rambut istrinya.
Konsep baru ide Celina membuat gadis itu juga ikut sibuk memastikan rencana itu akan berhasil. Raffa sangat mengkhawatirkan kondisi istri dan bayi yang dikandungnya.
Raffa menyuruh istrinya istirahat tapi laki-laki itu justru tidak bisa menahan hasratnya. Seperti yang pernah dikatakannya, Celina adalah narkoba yang membuatnya kecanduan.
Malam harinya, semua anggota keluarga telah siap dengan gaun indah dan jas elegan masing-masing. Menunggu sopir yang siap mengantar mereka menuju gedung resepsi pernikahan sepasang CEO itu.
__ADS_1
Raffa dan Celina terlihat segar, tak lupa mereka mengajak kedua putra dan putrinya.
Pesta pernikahan Kevin dan Keira yang terbilang sangat mewah dengan mengundang pebisnis-pebisnis sukses, tokoh-tokoh terkenal, pejabat hingga selebriti.
Raffa yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pesta itu memilih menggunakan seluruh area ballroom yang luas itu agar seluruh tamu undangan yang ramai tetap merasa nyaman.
Dekorasi pesta yang merubah suasana hati para tamu seakan-akan masuk ke area tiga dimensi dengan menata dekorasi ruangan yang tergantung di langit-langit, membuat ruangan itu terasa begitu gemerlap.
Pemilihan warna, bahan, serta peletakkan dekorasi yang tepat, membuat suasana menjadi lebih romantis dan magical dengan kombinasi kilauan kristal, warna putih, emas, dan perak yang menghadirkan efek glamor.
Kedua pengantin berdiri tersenyum menerima ucapan selamat yang datang silih berganti. Para sahabat dan keluarga duduk berkumpul disebuah area khusus. Pernikahan dengan konsep sitting dinner itu menyediakan berbagai macam hidangan mewah dihadapan mereka.
Semua tamu undangan terlihat bahagia dengan canda dan tawa mereka. Acara pernikahan itu seperti ajang reuni dan pertemuan antara pebisnis-pebisnis tanpa harus sibuk memikirkan urusan perusahaan.
Resepsi pernikahan itu berlangsung dengan meriah, hingga akhirnya satu persatu tamu undangan beranjak pulang. Tinggal para sahabat dan keluarga, mereka berkumpul di sebuah meja besar dengan hidangan lezat yang tak habis-habis.
"Lihatlah kita, berkumpul tiga keluarga besar namun hanya ada dua orang cucu disini" ucap Rowenna.
"Benar jeng, kita ini benar-benar sepi keturunan. Lihatlah masing-masing cuma punya satu keturunan, cuma Kevin yang beruntung memiliki seorang adik. Lah kita masing-masing cuma satu" ucap ibunya Keira.
"Aku dulu menargetkan punya cucu minimal sepuluh, yah paling tidak aku harus punya lima anak. Tapi apa mau dikata, delapan tahun menunggu aku cuma dapat satu itu, laki-laki yang satu itu" ucap Rowenna sambil menunjuk Raffa.
Semua tertawa, Ny. Rowenna telah berubah menjadi seorang ibu yang ramah dan suka bercanda. Jiwa tegas, angkuh dan sombong telah lepas dari tubuhnya.
"Lalu gimana jeng, pasrah dengan targetmu, minimal sepuluh cucu ?" pancing Ny. Melviano.
"Tentu saja tidak, sekarang semuanya aku serahkan sepenuhnya pada menantuku Celina untuk mencapai targetku" ucap Rowenna santai.
Senyum Celina buyar, matanya terbelalak. Ekspresi Celina membuat semuanya tertawa.
"Mommy ? sepuluh ?" ucapnya dengan wajah melas sambil membentangkan seluruh jarinya.
Semua kembali tertawa melihat ekspresi Celina lengkap dengan jari-jarinya.
"Celina, meski mommy sudah berusaha mendapatkan anak yang banyak namun tak bisa.
Berbeda denganmu usia sembilan belas tahun kamu sudah hamil. Usia dua puluh tahun sudah memiliki bayi, kamu itu sangat-sangat sehat Celina.
Mommy menyesal, sangat, sangat menyesal menolakmu waktu itu. Kalau seandainya dulu aku tidak menolakmu sekarang mungkin aku sudah memiliki empat atau lima orang cucu" ucap Rowenna sambil mengkhayal.
Semua yang berkumpul disana kembali tertawa.
"Semangat bro, sembilan lagi" teriak Kevin pada Raffa.
"Sekarang udah jadi satu lagi kak, tinggal delapan lagi" celutuk Alyssa.
Semua tertawa, Raffa tersenyum.
"Aku cuma investor, pengelolaan sepenuhnya adalah Celina" ucapnya sambil menatap Celina yang masih berwajah melas.
Melihat wajah Celina Raffa tersenyum lalu mengecup kening istrinya. Semua yang hadir disana memberi semangat pada Celina.
"Oh ya, gimana ? udah tetapkan dimana kalian berbulan madu ? kalau sudah aku akan reservasi sekarang" tanya Raffa.
"Sudah kok Raffa, kami sudah reservasi dihotel persis tempat peresmian club philanthropists dulu" ucap Keira.
"Oh ya, kenapa tidak bilang ? itu juga tugasku" ucap Raffa.
"Keira ingin melakukannya sendiri. Dia ingin menempati kamarnya dulu" ucap Kevin.
"Kenapa ? ada alasan khusus ?" tanya Raffa.
"Ya Raffa, hotel itu adalah tempat pertama kali kami bertemu. Dan dikamar itu, pertama kali Kevin menjadi tunanganku" ucap Keira sambil tersenyum.
"Jadi tunanganmu ? bukankah saat itu Kevin bertunangan dengan Celina ? kamu tau kejadian itu sayang ?" tanya Raffa heran.
Celina mengangguk.
"Tentu saja aku tau, aku yang mengizinkan mereka menjadi tunangan" ucap Celina.
Raffa semakin bingung, Keira akhirnya menceritakan tentang dirinya yang dikejar oleh mantan tunangannya yang batal dinikahinya dan meminta tolong kepada Kevin untuk berpura-pura menjadi tunangannya.
"Dikejar oleh Chicco ?" tanya ibunya Keira.
Keira mengangguk.
"Rasanya tidak menyangka ya, berawal dari pura-pura bertunangan akhirnya memang menjadi suami istri beneran" ucap Alyssa bersemangat.
"Jodoh itu memang tidak ada yang bisa menduga, kita hanya bisa berencana dan pasrah dengan hasilnya. Yang harus kita percayai adalah apapun hasilnya itu adalah yang terbaik bagi kita" ucap Robby yang setujui oleh semua yang hadir disitu.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1