Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 39 ~ Menjelang Pernikahan ~


__ADS_3

Celina terkejut mendengar ucapan Keira tentang Kevin yang mengetahui kejadian malam itu. Saat Raffa membawa Celina yang pingsan masuk ke kamarnya. Namun Kevin tidak melakukan apapun. Celina memiliki rasa takut yang berbeda saat melihat Kevin yang seharusnya marah namun justru terlihat tenang.


Pagi itu mereka pulang, kembali pada kesibukan masing-masing. Celina banyak menyapa pengunjung hari ini karena gadis itu merasa harus mencari kesibukan, jika tidak, gadis itu menjadi lebih murung dan sering melamun.


"Selamat siang nona Celina" sapa seorang pengunjung.


Celina mengangguk, merasa tidak mengenal orang yang menyapanya.


"Perkenalkan, saya Julian, Personal Assistant tuan Kevin, saya diperintahkan untuk menemani nona menemui wedding organizer untuk acara pernikahan nona Celina dan tuan Kevin" ucap Julian memperkenalkan diri.


Celina menghembuskan nafas berat, hari-hari melelahkan terbayang didepan matanya. Pernikahan yang diputuskan begitu cepat itu pasti akan menguras tenaga dan perasaannya.


Tidak seperti calon pengantin lainnya yang begitu bersemangat menjalani segala macam persiapan menyambut hari pernikahan. Bagi Celina justru bertambah hari, bertambah rasa tertekannya.


Bersama Julian, personal assistant Kevin yang masih sangat muda itu, memilih wedding organizer dengan konsep yang diinginkannya. Semua wedding organizer yang direkomendasikan Julian itu siap mengatur penyelenggaraan pernikahan dalam waktu singkat.


Dann semua adalah wedding organizer ternama yang biasa mengatur pelaksanaan pernikahan orang-orang ternama, orang-orang penting ataupun orang-orang dari kalangan atas.


Semua WO dengan konsep mereka masing-masing itu terlihat bagus, Celina bahkan tidak bisa menentukan mana yang diinginkannya. Celina ingin Kevin membantunya memilih, tapi laki-laki itu terdengar sangat sibuk saat Celina mencoba menghubunginya.


"Kak, bisakah datang kemari ? aku bingung menentukan pilihan ? bisakah kakak membantuku memilih ? Aku harus segera menentukan pilihan, kasihan mereka jika waktunya terlalu mendesak" tanya Celina setelah berhasil menghubungi Kevin dengan ponselnya.


"Kamu pilih saja sendiri aku sibuk, aku membiarkanmu memilih karena seorang gadis pasti memiliki impian sendiri seperti apa pernikahan yang diinginkannya.


Apapun konsep pernikahan, itu tidak penting bagiku, yang terpenting bagiku hanyalah akad nikah, kamu menjadi istriku dan aku bisa segera menidurimu"


Sambungan telepon terputus, sampai titik itu, air mata Celina mengalir. Dadanya terasa sesak, bahkan seperti sulit untuk bernafas. Celina memukul dadanya berharap sesuatu yang menekan disana bisa menghilang.


Sejak kembali dari Villa sikap Kevin berubah, tenang namun menyakitkan. Sehari-hari dilalui Celina dengan ucapan-ucapan kasar, merendahkan dan menghina. Dirumah pun harus menghadapi Alyssa yang sama sekali tidak mau memandangnya.


Celina harus menghadapi mereka dengan sabar hati, tersenyum pahit adalah yang biasa dilakukannya demi menutupi sakit perasaannya. Lalu menangis sendiri dimalam hari untuk melegakan sesak didadanya.


Julian tertunduk melihat kesedihan di wajah Celina, gadis itu menangis terisak di jendela kaca gedung kantor WO itu. Sabar berdiri menunggu gadis yang sedang berusaha mengabaikan luka dihatinya.


"Tolong bantu aku pak Julian, aku benar-benar tidak memiliki pilihan. Aku serahkan semuanya pada pak Julian, apapun yang terbaik dan memudahkan semua orang akan aku terima. Aku akan menjalani semua yang pak Julian pilih untukku" ucap Celina memohon sambil terisak.


Julian mengangguk lalu melangkah pergi, berhenti sesaat memandang Celina yang berdiri tersandar di jendela kaca, air matanya terlihat jelas menetes dilantai. Laki-laki itu menghilang dibalik pintu, memilih, membantu Celina menyelesaikan urusan pernikahan Celina dengan atasannya.


Celina menyetujui semua pilihan Julian, gadis itu sangat berterima kasih atas segala bantuannya. Julian adalah satu-satunya orang yang mengerti perasaannya. Terlihat laki-laki itu begitu sabar menyelesaikan tugas-tugasnya menemani Celina.


Dikantor laki-laki itu juga melaporkan progress kesiapan pernikahan dengan sangat baik untuk meminimalisir kekesalan dan kemarahan atasannya.


Hari ini Julian kembali menemani calon istri atasannya. Julian memandang iba pada gadis itu. Tak ada ekspresi bahagia yang terpancar di wajah Celina, saat menjalani tahap demi tahap persiapan pernikahannya.


Fitting gaun pengantin dilakukannya seorang diri tanpa ditemani oleh calon suami, tak ada pujian saat memandang calon istri mencoba gaun pengantin yang indah itu.


Jangan berharap melihat senyum kagum seorang Kevin saat melihat cantiknya Celina saat pengambilan foto prewedding. Apalagi berharap Kevin akan menemani saat Celina melakukan serangkaian perawatan pranikah.


Celina melakukan semua perawatan itu dengan ekspresi yang sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan seorang calon pengantin. Para terapis dibuat heran dengan sikap Celina yang lebih banyak melamun.


Saat pengambilan foto prewedding, fotografer dibuat kesulitan dengan ekspresi Celina yang sulit menunjukkan wajah bahagia. Sekedar mendapatkan senyum tulus gadis itu, fotografer menghabiskan banyak waktu. Meskipun Celina telah berusaha namun senyum terbaik yang bisa dilakukannya adalah senyum sedih yang terpaksa.


Bagi Kevin prosesi pernikahannya itu tidaklah penting, yang terpenting baginya adalah akad nikah yang menyatakan Celina resmi sebagai istrinya. Namun reputasi Kevin sebagai seorang CEO yang tak bisa dipandang sembarangan menuntut laki-laki itu harus mendapatkan semua yang terbaik. Dan yang sibuk mengurus semua itu adalah para bawahannya, terutama Julian, sang personal assistant.


Julian memilih wedding organizer yang terbaik, untuk membantu memudahkan perencanaan dan pengaturan semua kebutuhan yang terkait dengan penyelenggaraan sebuah pesta pernikahan.


Ditambah lagi pesta pernikahan ini di adakan dalam waktu yang sangat dekat. Sebagai penyelenggara, mereka menyiapkan apa yang menjadi tanggung jawab mereka hingga terpaksa lembur mengerjakan segala sesuatu agar terlihat sempurna.


Mereka akan melakukan apapun yang terbaik untuk puncak pimpinannya. Karena Kevin terkenal sangat bijak, dan dekat dengan semua bawahannya, sehingga mereka ikhlas melakukan yang terbaik baginya apalagi untuk sebuah acara yang sakral seperti pernikahan ini.


Kevin memandang Celina yang termenung seorang diri, gadis itu dijadwalkan melakukan mineral springs spa hari ini. Kevin menyempatkan diri untuk menemui Celina kali ini, setelah sekian banyak rentetan kegiatan persiapan pernikahan yang dilewatkannya begitu saja

__ADS_1


Kevin menatap gadis yang terlihat murung itu. Melakukan semua persiapan pernikahan dalam waktu sekejap tentu saja sangat melelahkannya, Celina bahkan harus cuti kerja untuk dapat mengikuti semua prosesi persiapan pernikahan itu.


Kesibukannya membuat Celina jarang bermain dengan Ozora. Hanya bertemu dimalam hari dengan putranya, itupun dilakukannya setelah gadis itu masuk kekamar untuk menghapus air matanya, setelah mendengar kata-kata yang menyakitkan dari Kevin.


Kevin menatap Celina yang duduk termenung seorang diri, gadis itu merapikan kimono handuk yang dikenakannya. Semua itu tak luput dari pandangan Kevin yang berdiri tak jauh di depannya. Namun Celina tak menyadari kedatangannya, tenggelam dalam lamunannya.


Tak bosan-bosan Kevin memandang gadis yang akan segera menjadi istrinya itu. Celina masih cantik meski terlihat lelah dan murung.


Apa yang terjadi padaku ? benarkah ini yang kuinginkan ? menyiksanya ? mengikatnya dalam pernikahan yang tak diinginkannya ? batin Kevin.


Ada penyesalan merasuki relung hatinya, sejak menatap Raffa yang menggendong Celina masuk ke kamarnya. Membuat hati Kevin terasa hancur berkeping-keping.


Namun laki-laki itu memilih diam bertahan, tidak akan melakukan apapun. Kevin tak ingin merusak hubungan menjelang pernikahan ini. Kevin tak ingin membuat Celina membenci dirinya, menyakiti laki-laki yang dicintainya hanya akan membuat Celina semakin menaruh simpati padanya. Kevin memilih bertahan hingga kelak bisa memiliki gadis itu seutuhnya.


Kevin meraih tangan Celina mengusap punggung tangan gadis itu dengan lembut. Celina terkejut tiba-tiba mendapati Kevin ada dihadapannya. Tubuhnya langsung gemetar, matanya terasa panas. Menanti-nanti, menunggu-nunggu ucapan menyakitkan apa yang akan didengarnya hari ini.


Kevin mengecup buku jari gadis itu, terlihat seperti ingin menunjukkan rasa hormat dan sayangnya pada Celina. Celina tersenyum ragu-ragu, didalam hatinya gadis itu merasa was-was, sikap manis Kevin hanya untuk mengawali niatnya yang ingin kembali menyakiti hati dan perasaannya.


"Apa kamu merasa lelah ?" tanya Kevin, yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Celina.


Mata gadis itu mulai berkaca-kaca, kekerasan fisik tak pernah dirasakannya, namun kekerasan verbal dan psikis sehari-hari dirasakannya. Semua itu diterimanya untuk membayar rasa bersalahnya setelah Celina tau Kevin melihat perilakunya bersama Raffa di Villa malam itu.


Gadis itu merasa bersalah dan yakin apa yang dilakukannya telah menyakiti hati Kevin.


"Benarkah ? apa kamu senang menjalani persiapan pernikahan ini ? " tanya Kevin lagi.


Celina kembali mengangguk, meski pelan.


"Kenapa kamu selalu berbohong padaku ?" tanya Kevin pelan.


Mendengar perkataan itu air mata Celina langsung mengalir. Gadis itu menunduk, apapun yang diucapkannya salah dimata Kevin. Berusaha membuatnya senang hingga harus berbohong sama sekali tak membuat laki-laki itu berhenti menyakitinya.


"Sebenarnya aku tidak perlu bertanya lagi, aku sudah tau kalau berbohong itu adalah kebiasaanmu. Selama tujuh tahun, itulah yang kamu lakukan padaku, selalu memberiku harapan, selalu membohongiku" ucap laki-laki itu menarik nafas panjang lalu bersandar di kursi.


"Kak, aku tidak bermaksud seperti itu, kakak sangat baik padaku. Aku sungguh-sungguh ingin membuka hati untukmu" sanggah Celina.


"Ingin membuka hatimu ? seberapa besar usahamu ? yang kamu lakukan hanyalah memberiku harapan" ujar Kevin, berdiri dari kursinya hendak beranjak pergi.


"Aku tidak pernah memberimu harapan" ucap Celina cepat.


Kevin menghentikan langkahnya.


"Apa yang kulakukan adalah sungguh-sungguh. Aku benar-benar ingin mencintaimu, tapi.." Celina tertunduk tak mampu melanjutkan kata-katanya.


"Setelah bertemu Raffa, kamu pasti menyesal menerima lamaranku, benar bukan ?


Bagaimana rasanya terpisah dengan laki-laki yang kamu cintai ?


Tapi sudahlah bagaimanapun juga aku telah berjanji pada diriku sendiri.


Bagaimanapun caranya, aku pasti akan membawamu ke hadapan penghulu, dengan sukarela atau dengan menyeretmu" ucap Kevin lagi.


Mata Celina yang berkaca-kaca tak mampu lagi membendung air yang bertambah banyak, perlahan melimpah dan mengalir dipipinya, Kevin merasa senang melihat pemandangan di hadapannya itu.


Kevin meninggalkan Celina seorang diri, menangis menatap laki-laki yang melangkah menjauh itu. Celina merasa bukan hanya tubuh laki-laki itu yang menjauh namun hatinya pun telah menjauh.


Celina tidak tau, akan seperti apa rumah tangganya nanti. Celina hanya bisa berharap suatu saat nanti Kevin akan memaafkannya dan memberi Celina kesempatan untuk membalas kebaikannya.


Hari pernikahan pun tiba, pagi itu Celina ingin bicara dengan Alyssa. Lama gadis itu berdiri didepan pintu kamar sahabatnya yang sekarang telah membencinya. Ada keraguan untuk menemuinya. Akankah Alyssa mau menerimanya ? mau memaafkannya ?


Hari ini adalah hari pernikahan Kevin dan Celina, Alysaa yang tidak lagi mendukung kakaknya menikahi Celina, tak pernah mau menatapnya lagi. Namun begitu Celina tetap ingin memohon restu untuk pernikahannya. Celina mengetuk pintu kamar Alyssa, memanggil namanya, entah sudah berapa lama mereka tak bertegur sapa.

__ADS_1


Celina memutuskan membuka pintu, menatap Alyssa yang masih tertidur. Dengan air mata yang berlinang gadis itu meletakkan selembar kertas diatas meja kerja Alyssa. Lalu berangkat menuju gedung sanggar rias pengantin yang telah ditentukan oleh wedding organizer. Celina melangkah seorang diri menghadapi lembaran hidup barunya.


Hanya Keira yang mau menemani, hanya Keira yang memberinya semangat, hanya Keira yang mendukungnya, hanya gadis itu yang mengetahui dan mengerti diperasaan Celina yang sesungguhnya.


Setiap kali Celina melamun gadis itu akan menggoda dan menghiburnya.


"Wah lihatlah, bidadari mana yang nyasar ke ruangan ini ?" goda Keira.


Saat melihat Celina telah mengenakan gaun pengantinnya yang indah. Gaun pengantin tradisional yang dimodifikasi menjadi gaun pengantin modern itu terlihat begitu indah dikenakan Celina.


Benar ucapan Keira, gaun indah berwarna putih itu menjadikan Celina seperti seorang bidadari. Riasannya yang natural, membuat kecantikan gadis itu menonjol secara alami. Meski wajahnya terlihat murung namun tak mengurangi sedikitpun kecantikannya.


"Kevin beruntung bisa menikahi gadis secantik dirimu, aku rasa kalian akan melahirkan anak-anak yang cantik dan tampan" goda Keira melihat wajah Celina yang selalu terlihat murung.


"Terima kasih Keira, karena mau menemaniku" ucap Celina.


"Sudahlah, lagipula kita sudah berteman, kenapa masih sungkan. Sebentar lagi kita berangkat, tapi sebelumnya aku ingin minta bantuan penata rias disini dulu. Melihat mu cantik seperti ini aku juga ingin dirias disini" ucap Keira.


"Baiklah, aku akan menunggumu" ucap Celina sambil tersenyum.


Celina sangat bersyukur, kehadiran Keira disampingnya membuatnya sedikit terhibur. Sambil menunggu Keira, Celina melangkah keluar gedung. Dengan wajah yang murung, melangkah perlahan menuju teras. Banyak orang yang memandangi gadis cantik yang mengenakan gaun indah namun terlihat murung itu.


Di pintu depan Celina menarik nafas panjang, memandang buket bunga yang dipegangnya. Menyentuh lembut bunga yang cantik itu, Celina mengerjapkan mata berusaha menghilangkan air yang berkumpul dimatanya.


"Celina !!!"


Celina menoleh kearah suara, terlihat Ny. Rowenna berjalan kearahnya.


"Aku sengaja datang kesini mencarimu. Sebelum menikah, tolong pertimbangkan kembali mengenai hak asuh Ozora" ucap Rowenna.


"Tapi nyonya, bukankah sudah pasti aku mendapatkan hak asuh terhadap anakku" ucap Celina khawatir.


"Aku tau, tapi coba pikirkan lagi, Ozora adalah putra kandung Raffa, sahabat Kevin. Pertimbangkan perasaannya, setiap kali memandang anak itu dia akan teringat hubunganmu dengan Raffa. Aku tidak yakin selamanya Kevin bisa menyayangi Ozora" jelas Rowenna.


"Tidak nyonya, saya tidak bisa menyerahkan Ozora pada anda, dia adalah putra saya" ucap Celina ingin segera pergi dari situ.


"Tapi dia juga putra Raffa, dengar Celina kamu masih bisa memiliki anak lagi dengan Kevin sebanyak yang kamu mau.


Tapi Raffa ? putraku itu, dia seperti tidak ingin berhubungan dengan wanita lagi.


Ozora lah satu-satunya harapan kami, satu-satunya penerus kami." ucap Rowenna masih mencoba mempengaruhi Celina.


"Nyonya, meski nanti saya bisa memiliki anak lain bersama kak Kevin bukan berarti, cinta saya terhadap Ozora akan berkurang, meski aku memiliki anak dua, tiga atau sepuluh anak sekalipun itu tidak akan mengurangi rasa sayang saya pada Ozora, jadi menikah atau tidak, Ozora tetap akan bersama saya" jelas Celina.


"Lihatlah nanti, saat kamu memiliki anak lagi, kamu pasti akan mengabaikan Ozora, Kevin tidak akan suka kamu mengurusi anak Raffa" ucap Rowenna dengan nada yang mulai tunggi.


Celina tercenung.


"Meskipun kak Kevin tak lagi menyayangi Ozora, saat itu aku, ibunya yang akan terus menyayanginya" ucap Celina bersikukuh.


"Kamu benar-benar keras kepala, liat saja aku akan mencari cara untuk mendapatkan anak itu. Bagaimanapun caranya" teriak Rowenna.


Ny. Rowenna melangkah pergi meninggalkan Celina dengan perasaan kesal. Celina tidak peduli, meski dadanya terasa sakit saat memikirkan sikap Kevin yang berubah padanya, yang tentu akan berpengaruh pada Ozora. Tapi gadis itu tidak peduli, dia tidak ingin dipisahkan dengan anak yang dikandungnya dengan susah payah itu.


Tiba-tiba terdengar teriakan meminta tolong, Celina menoleh kearah suara. Terlihat Ny. Rowenna yang ditarik oleh beberapa orang laki-laki menuju sebuah mobil. Celina kaget melihat ke sekeliling tak ada siapapun disitu untuk dimintai tolong, Celina panik.


Gadis itu memutuskan untuk mengejar mereka. Celina berusaha memberikan perlawanan agar orang-orang itu melepaskan Ny. Rowenna. Memukul para penculik itu sekuat tenaga namun mereka begitu kuat.


Penculik itu bahkan menghempaskan gadis itu hingga terjatuh. Celina tidak putus asa, gadis itu terus berusaha membebaskan Ny. Rowenna yang telah didorong kedalam mobil.


Orang-orang mulai berdatangan, para penculik itu panik hingga akhirnya mendorong Celina masuk kedalam mobil. Keira yang sempat melihat kejadian itu berusaha mengejar namun terlambat, mereka telah membawanya pergi.

__ADS_1


Terlihat jelas wajah panik Celina yang meminta tolong sambil menggedor jendela kaca mobil, Keira menangis panik.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2