
Rencana Ozora yang ingin melanjutkan pendidikan di luar negeri sebenarnya telah lama dikeluhkan Ozora pada Edward. Namun, Ozora tidak pernah mau mendesak ibunya. Edward tampil sebagai paman yang peduli pada keponakannya.
Edward membujuk Celina untuk mengizinkannya menempuh studi di luar negri, kakak tiri Celina itu pun berjanji akan menjaga Ozora. Meskipun tingkat kecerdasan Ozora melebihi kecerdasan orang dewasa namun di mata Celina, Ozora masih sama seperti anak kecil lainnya.
Ditambah lagi kejadian penculikan yang pernah di alami anak itu. Celina sangat takut membayangkan hal-hal buruk terjadi pada anaknya. Untuk itu Edward menyarankan Ozora memilih universitas terbaik lainnya di New York.
Bersama-sama dengan Kevin, David, Alyssa dan Keira mereka mengantarkan Ozora ke Bandara. Raffa merangkul istrinya untuk menenangkan hatinya yang sedih berpisah dengan putra kesayangannya.
"Hanya sebentar saja sayang, bahkan mungkin tidak akan terasa" hibur Raffa.
Tapi gadis itu menggelengkan kepalanya, ucapan Raffa itu sama sekali tidak dipercayainya. Ozora mendekati ibunya, gadis itu langsung memeluk anaknya.
"Mama, jangan sedih nanti Ozora sering-sering video call atau e-mail mama. Ada Uncle Ed bersama Ozora, mama jangan khawatir lagi" ucap Ozora menghibur Celina.
Gadis itu tidak berkata apa-apa, yang ingin dilakukannya sekarang ini hanyalah menikmati masa-masa sebelum keberangkatan Ozora.
"Peluk Auntie juga dong" ucap Keira.
Keira memeluk Ozora dan Celina, Alyssa pun ikut bergabung. Mereka berempat berpelukan bersama.
"Auntie Kei jaga adek Ozora baik-baik ya" ucapnya sambil menepuk lembut perut Keira.
"Auntie Al, adek cewek yaa" ucap Ozora.
Mereka semua tertawa mendengar permintaan Ozora yang masih menginginkan adik perempuan lagi. Ozora pun akhirnya berangkat bersama Edward dan juga tuan Albert.
Celina melambaikan tangannya sambil terus menitikkan air mata. Ozora selalu tersenyum melambaikan tangan sambil melompat dengan gerakan yang lucu agar ibunya dan yang lain tertawa.
Mereka memang tertawa tapi tetap saja menitikkan air mata. Ozora akhirnya menghilang masuk ke dalam gate keberangkatan internasional itu. Celina, Keira dan Alyssa tercenung, berdiri tak bergerak dari tempat mereka, suami masing-masing mengajak istrinya untuk pulang.
Mereka berpisah di parkiran, selama dalam perjalanan Celina hanya termenung memandang keluar jendela kaca mobil. Raffa menyentuh tangan gadis itu, Celina menoleh lalu tersenyum.
"Kita masih ada tugas lain" ucap Raffa.
"Tugas apa kak?" tanya Celina.
"Konsultasi rutin Aurora, kita juga harus memperhatikan perkembangan pertumbuhan Aurora" jelas Raffa.
"Oh ya, kapan kita akan menemui Neurolgis itu kak?" tanya Celina.
Raffa tersenyum melihat istrinya yang telah kembali dari lamunannya dan memiliki perhatian kembali untuk rencana selanjutnya.
"Dalam minggu ini tapi aku akan membuat temu janji dulu dengannya" ucap Raffa.
"Ok, baiklah" ucap Celina yang kembali ceria.
Raffa tersenyum melihat tawa istrinya, segera mereka pulang ke rumah. Celina masih mengambil cuti melahirkan hingga gadis itu masih bisa merawat putrinya sendiri di rumah.
Saat konsultasi dengan Neurolgis, Celina datang bersama Raffa. Suaminya itu melakukan janji temu dengan dokter itu sebelumnya. Sambil menggendong Aurora mereka masuk ke ruang praktik Dokter itu.
"Oh, dokter?" teriak Celina kaget melihat dokter yang mereka temui.
Dokter itu tersenyum, Raffa merasa heran Celina seperti telah mengenal dokter itu.
"Ternyata memang benar, anda Nyonya Celina ibunya Ozora" ucap dokter itu.
"Kak, dokter ini yang dulu mendiagnosa Ozora. Dokter ini yang menyatakan kalau Ozora mengalami sindroma kecendikiaan sehingga membuatnya menjadi cerdas" jelas Celina.
"Oh, pantas waktu itu dokter melihat Celina rupanya dokter telah mengenal istri saya" ucap Raffa baru mengerti.
Dokter itu tersenyum sambil menunduk. Setelah itu lanjut memeriksa Aurora. Dari ekspresi dokter itu terlihat kalau tidak ada masalah dengan Aurora.
"Sejauh ini tidak terlihat hal-hal yang mengkhawatirkan tapi kita harus terus melihat perkembangan selanjutnya. Untuk itu diharapkan Aurora mendapatkan gizi yang cukup karena Aurora masih bayi ASI adalah nutrisi yang terpenting. Jangan sampai lengah dalam pemberian ASI karena kandungannya yang sarat nutrisi dapat mengurangi risiko bayi terkena penyakit, ASI juga sangat berguna bagi perkembangan otak bayi. Yang lebih menakjubkan dari kandungan ASI adalah bahwa karakteristik cairan ini dapat berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan bayi. Seiring waktu, kandungan ASI juga berubah sesuai dengan pertambahan usia bayi. Nutrisinya akan disesuaikan dengan kebutuhan bayi pada tiap tahap tumbuh kembangnya" jelas dokter itu panjang lebar.
"Wah ASI itu mengagumkan ternyata" seru Celina.
Dokter memberikan arahan-arahan lain, selain pemeriksaan yang di lakukan ahli. Seorang ibu pun di tuntut untuk bisa melihat sendiri seperti apa perkembangan bayinya jika ada hal yang tidak di mengerti Celina boleh berkonsultasi dengan dokter itu.
"Kalau begitu kami permisi dokter terima kasih atas konsultasi hari ini, Oh ya salam juga untuk istri dokter, mbak siapa namanya aduh saya lupa, karena terlalu banyak pelanggan yang saya kenal" ucap Celina.
"Lily, dia sudah tenang di alamnya" ucap Dokter Dino.
"Maksud dokter?" tanya Celina dengan senyum yang tiba-tiba hilang dari bibirnya.
"Dia sudah tiada tiga tahun yang lalu" ucap Dokter Dino sambil tersenyum kecut.
"Oh, saya tidak tahu, saya juga merasa heran tidak pernah melihatnya lagi. Saya pikir karena kesibukannya mengurus anak" ucap Celina dengan mata yang berkaca-kaca.
Dokter Dino menunduk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tapi bukankah saat itu dokter datang ke toko untuk menjelaskan tentang asal kecerdasan Ozora. Tapi Dokter tidak cerita apa-apa" ucap Celina.
"Karena anda tidak bertanya" ucap Dokter itu kembali tersenyum kecut.
"Maaf dokter" ucap Celina yang telah mengucurkan air mata.
"Tidak apa-apa saat itu anda juga sangat terkejut dengan diagnosa Ozora karena kecerdasannya yang berawal dari cedera otak, karena itu saya mengerti sebabnya anda tidak bertanya tentang istri saya" jelas Dokter Dino.
Celina mengangguk pelan meski Dokter Dino memaklumi tapi perasaannya masih terasa tidak enak. Raffa mengajak istrinya segera pulang. Setelah menjadwalkan kembali konsultasi berikutnya Raffa beserta Celina dan putrinya pulang.
Di dalam perjalanan pulang Celina menatap putri yang ada di dalam gendongannya. Aurora tersenyum setiap saat membuat gadis itu tidak lepas-lepas bermain dengannya.
"Kamu terlihat sedih sekali saat mendengar kematian istri dokter itu, seberapa dekat hubungan kalian?" tanya Raffa.
"Istrinya sangat menyukai Ozora, mbak Lily pertama kali datang saat Ozora masih berumur empat bulan. Dia sangat terkejut saat melihat kecerdasan putra kita. Mbak Lily bahkan meminta bantuan Ozora yang masih bayi untuk memilih bukunya" cerita Celina.
"Oh ya, kenapa bisa begitu?" tanya Raffa.
"Berawal dari keraguannya memilih buku, Ozora memilihkan untuknya. Dia baca dan dia suka lalu datang lagi menemui Ozora, datang lagi, datang lagi hingga akhirnya suatu saat membawa suaminya. Mbak Lily yang membuat Ozora terkenal melalui media sosialnya. Hingga akhirnya seperti sekarang ini" jelas Celina.
"Lalu suaminya? sering datang ke toko buku?" tanya Raffa.
"Entahlah tapi aku pernah melihatnya beberapa kali" ungkap Celina.
"Setelah istrinya meninggal?" tanya Raffa.
"Entahlah, aku saja baru tahu kalau istrinya sudah meninggal. Kenapa kakak bertanya seperti itu?" tanya Celina.
"Mungkin dia menyukaimu" ucap Raffa masih menyetir mobilnya.
Celina tertawa, Raffa melirik istrinya.
"Tidak percaya?" tanya Raffa yang di balas gelengan kepala oleh Celina.
"Mana mungkin, jika dia menyukaiku dia akan segera memberitahu kalau istrinya telah meninggal karena pada saat itu aku juga belum menikah" jelas Celina tak percaya dengan pemikiran Raffa.
Raffa tersenyum.
"Aku laki-laki, aku tahu seperti apa pandangan mata laki-laki yang menyukai seorang perempuan" ucap Raffa.
Celina tercenung menatap suaminya yang masih menyetir.
"Itu karena kakak terlalu pencemburu, kakak selalu mengira semua laki-laki menyukaiku" ucap Celina berusaha melawan untuk percaya.
Ya mungkin benar, aku memang pencemburu, selalu saja cemburu, harusnya aku tidak pedulikan laki-laki itu, yang penting Celina tetap setia padaku, batin Raffa lalu tertawa sendiri.
"Kenapa kakak tertawa sendiri?" tanya Celina.
"Tidak apa-apa" ucap Raffa.
"Tidak mau berbagi kesenangan" ucap Celina.
"Nanti aku beri kamu kesenangan yang banyak" ucap Raffa lalu tertawa.
Celina juga ikut tertawa, menatap suaminya yang sedang mengemudi. Tak bosan gadis itu menatap wajah tampan suaminya tanpa disadarinya Celina mengusap pipi laki-laki itu. Raffa tersenyum meski merasa heran.
"Bulan depan aku sendiri saja yang menemui dokter neurologi itu" ucap Celina.
"Jangan coba-coba" balas Raffa dengan nada yang panjang membuat Celina tertawa.
"Ternyata masih pencemburu" ucap Celina masih tertawa.
Raffa mengantar Celina sampai ke rumah lalu kembali berangkat ke kantornya. Celina menidurkan Aurora di ranjang bayi lalu memeriksa perlengkapan bayinya. Celina meminta asisten rumah tangga untuk menjaga bayinya.
"Mau kemana Celina? bukannya kamu baru kembali?" tanya Rowenna.
"Ya mom, Aurora kehabisan popok, aku akan ke supermarket sebentar" ucap Celina.
"Ya sudah, biar Aurora mommy yang jaga" ucap Rowenna.
"Baiklah mom, Celina cuma sebentar kok" ucap Celina.
Celina berangkat setelah menanyakan keperluan Ny. Rowenna yang bisa dibeli sekalian. Sesampai di supermarket Celina segera mencari titipan Ny. Rowenna dan popok untuk Aurora.
"Celina"
Celina menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Gadis itu terkejut saat melihat Dokter Dino yang sedang tersenyum di dekatnya.
"Oh, Dokter Dino, kok bisa ketemu di sini?" tanya Celina.
__ADS_1
"Aku baru saja menjemput anak di sekolah lalu mampir sekalian membeli keperluannya" jelas Dokter Dino.
"Oh ya, dimana dia?" tanya Celina.
Dokter Dino memanggil putrinya yang sedang memilih shampo untuk anak-anak. Celina memandang iba pada gadis kecil itu, mengingat ibunya yang telah tiada. Gadis kecil itu melangkah ke hadapan Celina, memandang sayu ke arah Celina. Celina berjongkok untuk menyapa putri Dokter Dino itu.
"Halo cantik, lagi belanja apa?" tanya Celina yang memang suka dengan anak kecil.
"Beli shampo Tante, shampo Lala habis" ucap Lala.
"Kenalkan nama Tante Celina, gadis cantik ini namanya Lala ya?" tanya Celina.
Gadis itu terdiam tak menjawab pertanyaan Celina, dia hanya memandang dengan sedih. Celina heran dengan sikap Lala begitu juga Dokter Dino. Tiba-tiba gadis itu memeluk Celina.
"Mama" ucap Lala.
Celina terperangah, begitu dengan Dokter Dino. Laki-laki itu menepuk punggung putrinya agar segera melepaskan pelukannya. Namun, Lala tetap pada posisinya bahkan menangis. Dokter Dino panik ingin menarik Lala agar melepaskan pelukannya.
Tapi Celina memberi kode pada Dokter Dino untuk membiarkan Lala seperti itu. Celina mengusap punggung gadis kecil itu untuk menenangkannya. Celina merasa kalau Lala sedang merindukan ibunya. Dokter Dino yang menuruti perintah Celina akhirnya membiarkan putrinya memeluk Celina.
Dokter itu juga sedih melihat tingkah putrinya, laki-laki itu melepas kacamatanya dan menghapus bulir bening yang menumpuk di sudut matanya. Celina menoleh pada Dokter Dino, laki-laki itu langsung memalingkan wajahnya.
"Sudah ya sayang, ayo kita duduk di sana" ucap Celina.
"Mama, mama" ucap Lala masih menangis.
Celina terenyuh mendengar tangisan gadis yang sepantaran dengan Ozora itu. Celina menghapus air mata gadis kecil itu dan mengajaknya duduk di kursi pengunjung.
"Kenapa Lala menangis?" tanya Celina.
"Mama, ayo kita pulang" ucap Lala membuat Celina tercengang.
Dokter Dino juga terkejut mendengar ucapan putrinya, laki-laki yang berparas putih dan berhidung mancung itu berusaha membujuk putrinya untuk pulang.
"Lala ayo kita pulang, Lala sudah membeli semua keperluan Lala kan?" tanya Dokter Dino.
"Pa, kita ajak mama pulang juga ya" ucap Lala.
"Lala, ibu ini bukan mama Lala" ucap Dokter Dino pelan.
"Papa bilang, mama Lala namanya Celina" ucap Lala.
"Bukan itu eh.., bukan maksudku.., maksud papa, Lala.., dia eh, Celina itu nama teman mama Lala" ucap Dokter Dino.
"Nggak, papa bilang mama Lala namanya Celina" ucap Lala bersikeras
"CUKUP LALA, AYO KITA PULANG" hardik Dokter Dino.
Celina cemberut, melihat sikap Dokter Dino yang menghardik Lala. Lala kembali menangis.
"Jangan begitu dokter, tidak baik membentak anak" ucap Celina langsung memeluk Lala kemudian mengecup puncak rambut gadis kecil itu.
"Oh begitu? baiklah lalu apa yang harus aku lakukan, dia ingin membawamu pulang bersama kami, apa kamu akan ikut dengan kami, Celina?" ucap dokter itu.
Celina kaget mendengar cara Dokter itu bicara.
"Kenapa? kenapa Lala berkata kalau nama mamanya Celina?" tanya Celina.
"Itu karena.., dia.., dia juga mengidolakan Ozora, beberapa kali menemui Ozora di toko buku. Dia mungkin ingin memiliki mama seperti mamanya Ozora" ucap Dokter Dino.
"Oh, biasanya Ozora akan mengenalkan temannya padaku tapi kenapa tidak mengenalkan Lala padaku?" ucap Celina bicara sendiri.
Dokter Dino diam sementara Lala hanya menatap Celina lamat-lamat.
"Kalau begitu, nanti kalau Tante masuk kerja di toko lagi, Lala sering-sering main ke toko ya" ucap Celina.
"Ya ma" ucap Lala yang tetap kukuh memanggil Celina dengan sebutan mama.
Akhirnya Celina pasrah, membiarkan gadis kecil itu memanggil mama padanya.
"Baiklah kalau gitu sekarang mama pulang dulu ya" ucap Celina kemudian berdiri tapi Lala memegang tangan Celina sambil menggelengkan kepalanya.
Celina kehilangan akal lalu memandang ke arah Dokter Dino. Laki-laki itu langsung mengajak Lala mengambil barang belanjaannya.
"Ya, kita pulang sama mama tapi kita ambil belanjaan Lala tadi ya" bujuk Dokter Dino.
Lala mengangguk segera berlari ke tempat anak itu menaruh belanjaannya. Dokter Dino memandang Celina dengan sayu lalu menunduk.
"Maafkan kami, Celina, sekarang pulanglah" ucapnya lalu pergi menyusul putrinya.
__ADS_1
Celina berjalan sambil membawa barang belanjaannya ke kasir. Dokter Dino menoleh pada Celina, begitu dengan Celina yang menoleh pada dokter itu dengan pandangan yang penuh tanda tanya.
...~ Bersambung ~...