
Celina dan Kevin telah duduk dihadapan penghulu, semua mata tertuju pada kedua pengantin.
"Kedua mempelai sudah siap, bisa kita mulai ?" tanya penghulu.
Celina gemetar mendengar ucapan bapak dihadapannya itu. Pertanyaan yang tidak akan bisa dijawabnya. Gadis itu tertunduk, berusaha untuk menenangkan diri. Dadanya terasa sesak, tidak siap memulai acara ini, perasaan gadis itu sangat tidak siap.
"Tunggu sebentar pak, saya masih ingin merasakan detik-detik sebelum pernikahan ini" ucap Kevin.
Penghulu mengangguk memberikan kesempatan pada kedua pengantin untuk bersiap diri. Itu juga diperlukan agar sebuah acara pernikahan bisa berjalan dengan lancar.
Banyak kejadian yang terjadi karena ketidaksiapan kedua pengantin. Ada yang jatuh pingsan, ada yang melarikan diri atau prosesi Ijab Qabul yang tidak lancar. Karena itu penghulu memberikan kesempatan bagi kedua pengantin untuk mempersiapkan diri dan terlebih lagi mental mereka.
Celina menoleh menatap Kevin, entah mengapa menunggu seperti ini terasa sangat menyiksa bagi Celina. Kevin menggenggam tangan Celina yang terasa dingin. Menatap lekat gadis cantik dihadapannya itu.
"Seperti ini rasanya, bisa membawamu ke pernikahan. Rasanya sangat bahagia, namun kebahagiaan ini terasa belum sempurna. Karena ada orang yang menderita karenanya" ucap Kevin lalu mendekati Celina, lalu mengecup kening gadis itu, bulir bening menitik dari sudut mata laki-laki itu.
Celina diam, pasrah menerima semua perlakuan Kevin.
"Kebahagiaan yang sempurna adalah disaat kita bisa merasakan bahagia itu bersama-sama" ucap Kevin lagi.
Lalu memeluk gadis itu erat, semua diam memandang kejadian itu. Kevin memeluk gadis itu lama seperti orang yang ingin berpisah. Hening, seperti menunggu suatu kejadian yang tak bisa diduga. Kevin melepaskan pelukannya lalu berdiri dari kursi, melangkah pasti menuju meja tamu.
Seperti janjinya, Kevin mengantar gadis itu duduk di hadapan penghulu. Dan janji itu telah ditunaikannya, namun bukan Kevin yang akan menjalani pernikahan itu.
Kevin berdiri dihadapan Raffa yang termangu, heran dengan sikap sahabatnya itu. Kevin mengambil boutonnieres yang terselip disaku jas pengantinnya. Lalu menyelipkannya bunga jas itu disaku jas hitam sahabatnya. Raffa tidak mengerti dengan apa yang diperbuat Kevin.
"Pergilah, Celina menunggumu" ucap Kevin sambil memandang Celina yang telah berdiri dari kursinya memandang kearah mereka.
"Tapi.. " ucap Raffa yang masih tidak mengerti.
Tn. Robby dan Ny. Rowenna saling berpandangan begitu juga dengan keluarga Melviano. Semua tamu yang hadir pun saling berpandangan heran. Celina menitikkan air mata, sementara Raffa memandang gadis itu. Betapa dia sangat ingin menghampiri Celina namun masih ragu terhadap niat sahabatnya itu.
Kevin mengangguk, sekuat mungkin, berusaha terlihat tegar demi laki-laki yang tengah ragu dihadapannya.
"Pergilah, sebelum aku berubah pikiran" bisiknya sambil tertawa pahit.
"Jangan lupa melamarnya dulu" saran Kevin lagi lalu mendorong Raffa pelan.
Raffa menatap Celina yang juga menatapnya, perlahan laki-laki itu melangkah ragu-ragu sambil menoleh kembali kearah Kevin. Terlihat laki-laki itu mengangguk sekali lagi, Raffa membalas anggukan Kevin. Raffa mulai melangkah dengan pasti dan semakin lama semakin yakin hingga akhirnya tiba dihadapan gadis itu.
Celina menatap Raffa yang tiba dihadapannya dengan mata yang kini berkaca-kaca. Raffa menggenggam sebelah tangan gadis itu, menatap lurus kematanya.
"Celina, bersediakah menikah denganku ? " tanya laki-laki itu.
Pertanyaan Raffa dijawab dengan air matanya yang mengalir perlahan. Celina menoleh ke arah Kevin, laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum. Celina kembali menatap Raffa, gadis itu mengangguk dengan air mata yang terus mengalir, Raffa memeluk gadis itu.
"Terima kasih sayang" balas Raffa.
Sebuah kejadian yang tak disangka-sangka, Kevin membiarkan Raffa menikahi Celina tanpa menyiapkan apapun. Ny. Rowenna yang sangat terharu dengan kejadian itu, langsung menghampiri. Mencabut cincin yang terselip dijarinya lalu menyerahkannya pada Raffa.
"Ini adalah cincin peninggalan keluarga mommy turun temurun, karena mommy tidak memiliki seorang putri maka mommy akan memberikannya pada menantu mommy" ucap Ny. Rowenna, yang diterima ragu-ragu oleh Raffa, sementara Celina menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak pantas nyonya, mengenakan cincin peninggalan yang sangat berharga itu" ucap Celina berusaha keras menolak.
"Cincin berharga untuk seorang yang juga berharga sangatlah pantas bukan ?" jawab Rowenna.
Nyonya itu membelai pipi Celina, lalu menoleh pada penghulu.
"Tolong nikahkan mereka sekarang pak" ucap Rowenna pada penghulu yang langsung dibalas dengan anggukan.
Kemudian nyonya itu memeluk Celina. Gadis itu membalas pelukan nyonya yang dulu sangat membencinya itu. Ny. Rowenna tersenyum lalu kembali ke mejanya. Raffa memandang Celina sambil tersenyum, meraih tangan kiri Celina menyelipkan cincin pemberian ibunya.
Sebuah peristiwa yang luar biasa, Ny. Rowenna melepas cincin kebanggaannya dan memberikannya untuk seorang gadis biasa seperti Celina. Semua tamu yang hadir memandang kejadian itu dengan perasaan haru.
Akad nikah dimulai, semua berjalan dengan lancar. Celina resmi dipersunting Raffa, laki-laki itu mendapat sebuah hadiah yang luar biasa dari sahabatnya.
__ADS_1
Hadiah berharga itu adalah sebuah kebahagiaan yang akan dirasakan seumur hidupnya. Raffa mengajak Celina menemui kedua orang tuanya, memeluk kedua orang tua yang telah resmi menjadi orang tuanya juga sekarang.
Tuan dan nyonya Saltano mengucapkan selamat untuk mereka. Begitu juga dengan keluarga Melviano, meskipun sedih namun nyonya Melviano akhirnya bisa menerima keputusan yang telah di pilih oleh putranya untuk merelakan Celina.
Karena bagi mereka, Raffa adalah putra mereka juga.
"Kapan giliranmu Kevin ? Raffa sudah dua kali, kamu sekalipun belum" ucap nyonya Melviano.
Kevin hanya tertawa menunduk saat ibunya berkata seperti itu. Dimeja lain, Keira menatap haru pada Kevin, gadis itu tau persis betapa besar rasa cinta Kevin pada Celina. Dan karena cintanya yang begitu besar pulalah hingga membuat Kevin memilih membahagiakan Celina dengan cara merelakannya bersama Raffa.
Melihat pengorbanan laki-laki itu membuat Keira menangis begitu sedih. Acara pernikahan yang harusnya membawa suasana bahagia bagi semua orang terlihat seperti sebuah acara menyedihkan baginya.
Kevin memandang mengitari ruangan, mencari dimana Raffa dan Celina. Namun matanya terhenti, terpaku menatap Keira yang menangis sedih menatapnya. Keira, adalah gadis yang mengerti betul bagaimana perasaannya. Mengerti betul seberapa besar pengorbanannya.
Kevin tertunduk, sebagai seorang yang gentleman melihat seorang gadis menangis tentu tak boleh tinggal diam. Laki-laki itu melangkah mendekati Keira, gadis itu berdiri dari kursinya, menatap Kevin dengan tatapan sedih.
Tiba-tiba gadis itu memeluk Kevin.
"Aku tidak sembarangan memeluk laki-laki, kamu bilang aku boleh memeluk pacarku atau orang yang aku cintai" ucap Keira masih terus memeluk Kevin.
Laki-laki itu merasa jengah dipeluk seorang gadis di depan orang banyak, menoleh kearah keluarganya yang memandang sambil tersenyum. Alyssa tertawa melihat ekspresi Kevin yang canggung.
Laki-laki yang sudah terbiasa berhadapan dengan banyak gadis itu sekarang terlihat seperti gelagapan. Laki-laki yang sejak SMA telah malang melintang bersama Raffa menaklukkan para gadis itu sekarang seperti seorang yang pemalu.
"Baiklah, tapi aku bukan pacarmu dan aku bukan orang yang.. " ucapan Kevin terputus karena tidak yakin dengan pemikirannya sendiri.
"Aku pernah bilang, merelakan orang yang dicintai bahagia bersama pilihannya adalah cinta yang sejati karena itu butuh pengorbanan yang besar.
Aku bilang aku pernah mengalaminya.
Saat itu aku merelakanmu bahagia bersama dengan orang yang kamu cintai.
Itulah pengorbananku, aku rasa itulah cinta sejatiku" ucap Keira sambil tersedu-sedu
Kevin tercenung, baru saja dia melepas Celina. Bukan berarti hatinya akan langsung kosong. Saat ini laki-laki itu hanya ingin mengobati luka hatinya. Hati yang masih terluka itu belum siap menerima seseorang untuk menempatinya.
Raffa dan Celina datang menghampiri mereka, dua keluarga itu berkumpul. Alyssa memeluk Celina, gadis itu merasa sedikit bersedih untuk kakaknya, namun bahagia untuk Celina.
"Acara pernikahannya telah selesai sebaiknya kita semua beristirahat untuk acara resepsi nanti malam" ucap Kevin.
Laki-laki itu tau persis susunan acara pernikahan ini, karena dia sendiri yang memilih semuanya. Termasuk paket bulan madu yang sekarang akan diserahkannya pada Raffa.
Raffa menatap Kevin dengan pandangan berjuta makna. Laki-laki itu juga merasa bersalah karena selalu merebut gadis yang dicintainya.
"Maafkan aku, aku terlalu egois. Aku merebut semua gadis yang kamu cintai" ucap Raffa saat mereka berbincang berdua di balkon hotel.
"Ya, kamu memang egois" balasnya lalu tertawa.
Raffa tertunduk, Kevin berucap seperti itu seolah-olah bercanda namun semua itu adalah benar adanya. Ekspresi Raffa langsung terlihat murung.
"Tapi kali ini tidak, kamu tidak merebut siapapun dariku. Karena sejak awal Celina adalah milikmu.
Hati Celina selalu menjadi milikmu, aku tidak pernah mendapatkannya" ucap Kevin.
Kevin menarik nafas berat.
"Sejak awal aku tidak pernah memilikinya, tidak pernah memiliki hatinya.
Jadi tidak ada yang kamu rebut dariku.
Justru akulah yang egois dan merebut cintamu jika aku tetap memaksakan diri menikah dengan Celina" jelas Kevin.
"Terima kasih Kevin, terima kasih karena sadar diri di waktu yang tepat" ucap Raffa tertawa.
Mereka tertawa bersama, kali ini terasa berbeda dengan saat mereka memperebutkan Jessica. Kevin merasa memiliki Jessica, Raffa juga merasa memilikinya. Kedua-duanya merasa rival mereka adalah orang yang egois, orang yang merebut. Dan itu terus berlarut hingga akhirnya Kevin mengalah dan pergi, memilih melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
__ADS_1
Kevin menepuk bahu Raffa, menenangkan hati sahabatnya yang masih merasa bersalah itu.
"Bagaimana dengan Keira ? aku liat dia punya perasaan khusus padamu. Saat di rumah sakit dia sangat mengkhawatirkan kesehatanmu" ucap Raffa.
"Masih terlalu dini memikirkan cinta baru.
Bukannya aku menutup hatiku, kamu jangan takut.
Tapi aku tidak ingin menjadikannya sebagai pelarian dari kekecewaan hatiku.
Walau aku merasa kami tidak begitu akrab, tapi tetap saja aku tidak ingin membuatnya terluka karena terlalu memaksakan diri menerima perasaannya" ucap Kevin.
"Aku hanya ingin kamu mempertimbangkannya, aku lihat dia gadis yang baik sama sepertimu" ucap Raffa lagi.
Kevin tertawa mendapat pujian dari Raffa namun begitu, laki-laki itu juga mengangguk setuju, terhadap penilaian Raffa tentang gadis itu. Kevin menilai Keira adalah seorang gadis yang berhati tulus.
Berbincang seperti itu membuat perasaan mereka menjadi lega. Sangat berbeda dengan saat persaingan dulu. Berakhir dengan saling menjauhi. Meski perasaan mereka masih saling menyayangi namun untuk bertemu ada rasa yang mengganjal.
Rasa benci, kecewa dan marah terhadap satu dengan yang lainnya membuat mereka enggan bertemu meski ada perasaan rindu merasuki hati mereka.
Rasa persaingan yang tidak pernah tuntas itu akhirnya berakhir disini, saat mereka bertemu dengan Celina yang berdiri ditengah-tengah mereka.
"Istirahatlah, nanti malam acara resepsi pernikahan kalian, kamu harus terlihat prima untuk malam istimewa ini" ucap Kevin menyarankan sang mempelai untuk beristirahat.
Raffa tertawa, merasa kembali menemukan sahabatnya yang dulu selalu peduli padanya. Begitu juga dengan Kevin, saat Celina dalam perawatan. Raffa adalah orang yang paling peduli padanya.
Mereka beristirahat, menyiapkan stamina mereka untuk acara resepsi pernikahan Raffa. Kevin juga mengundang orang-orang di kantor Raffa, rata-rata kenalan mereka adalah orang-orang yang sama.
Orang-orang penting di dunia bisnis, ditambah dengan teman-teman yang juga teman-teman bersama mereka. Nama siapapun yang tertulis di undangan itu, tetap orang-orang yang diundangnya adalah sama.
Pesta resepsi pernikahan berlangsung dengan meriah. Celina tampil dengan gaun pengantin yang sangat cantik. Dekorasi ruangan di ballroom terlihat sangat megah, Kevin memilihkan semua yang terbaik untuk kedua orang yang disayanginya itu.
Pagi itu Raffa dan Celina bersiap-siap untuk berangkat, hadiah Kevin tak cukup hanya persiapan pernikahan Raffa dan Celina namun juga memberikan paket bulan madu untuk mereka.
Ozora dan Tita terpaksa dititipkan pada keluarga Saltano. Padahal Celina berencana membawa mereka agar tidak merepotkan kedua orang tua itu. Ny. Rowenna dan Tn. Robby justru tertawa mendengar usul Celina. Membawa anak-anak dalam sebuah perjalanan bulan madu hanya akan terlihat aneh.
Ny. Rowenna bersikeras agar Ozora dan Tita menginap dirumahnya, lagi pula nenek yang satu itu sangat ingin bermain dengan cucu-cucunya.
Mereka saling melambaikan tangan saat memasuki pintu bandara. Ini bukanlah perpisahan pertama bagi Celina dan Ozora namun ini pertama kalinya gadis itu meninggalkan putra satu-satunya itu.
Raffa merangkul bahu istrinya sambil tersenyum saat melihat begitu berat langkah Celina meninggalkan putra mereka.
"Kenapa kita tidak membawa mereka saja ? " tanya Celina masih berusaha mempengaruhi keputusan semua orang untuk tidak membawa mereka dalam perjalanan bulan madu itu.
"No Way.. dengar sayang, nanti ada masanya kita mengajak mereka. Setelah ini kita rencanakan lagi perjalanan wisata bersama semua keluarga, Ok" ucap Raffa sambil menangkup wajah Celina.
Akhirnya Celina mengalah, sambil melangkah, tak lepas gadis itu melambaikan tangan untuk kedua anak dan orang tua yang mengantar mereka ke bandara itu.
Kado bulan madu yang di hadiahkan Kevin pada mereka adalah paket bulan madu selama empat hari tiga malam dengan special dinner.
Raffa dan Celina tidak hanya menginap di hotel tapi juga di Villa dengan private pool, menikmati makan malam romantis yang letaknya dipinggir pantai, dengan pemandangan sunset serta deburan ombak.
Selain itu mereka juga dapat menikmati makan malam di atas kapal dengan pemandangan laut sambil menikmati matahari tenggelam. Sebuah paket bulan madu yang akan sangat berkesan dan menambah kenangan bahagia bersama selamanya.
Celina memandang matahari yang akan tenggelam itu melalui kaca jendela hotel. Tak puas-puas gadis itu memandangi indahnya bias warna dilangit itu. Raffa memeluk gadis itu dari belakang meletakkan dagunya dibahu Celina.
"Serius sekali memandang matahari sampai-sampai lupa sama suami" ucap Raffa sambil menciumi leher Celina.
Gadis itu menghindar karena geli, Raffa langsung menarik tangan Celina, membuat gadis itu menghambur kedalam pelukannya. Memandang lekat wajah gadis yang dicintainya selama tujuh tahun itu.
Perlahan mendekat, bibirnya menyentuh bibir Celina. Membuat tarikan lembut dibibir Celina, reflek gadis itu melingkarkan tangannya ke punggung Raffa. Membuat laki-laki itu semakin bernafsu.
Raffa semakin memperdalam ciumannya, menikmati permainan lidah mereka. Lembut namun bertahan meski jantung mereka berdebar, nafas mereka memburu.
Perlahan Raffa merebahkan Celina ke ranjang, kembali menciumi leher putih Celina. Sebelah tangan Raffa menggenggam tangan Celina, sebelahnya lagi menarik tali pengikat kimono gadis itu.
__ADS_1
...Perlahan, lembut dan pasti, mereka mulai menikmati malam pertama pernikahan mereka....
...~ Bersambung ~...