
Kevin membuka matanya, laki-laki itu merasa ada yang meniup lembut wajahnya.
"Celina ?" ucap Kevin.
Celina tersenyum.
"Kamu sudah sembuh ?" tanya Kevin.
Celina mengangguk. Kevin bangun dari tidurnya, tersenyum ingin meraih gadis itu. Tapi Celina melangkah mundur, Kevin kecewa.
"Kamu marah padaku ?" tanya Kevin.
Celina menggeleng, melihat Celina yang terus mundur Kevin merasa heran, laki-laki itu mengikutinya.
" Kamu mau kemana ?" tanya Kevin.
"Pergi" ucap Celina singkat.
"Pergi kemana ? kamu itu masih terluka, kamu tidak boleh pergi" ucap Kevin khawatir.
"Aku sudah sembuh karena itu aku harus pergi" ucap Celina masih berjalan mundur.
"Kenapa ? kenapa harus pergi ?" tanya Kevin mulai menitikkan air mata.
"Karena kakak membenciku, kakak ingin aku pergi" jawab Celina.
"Tidak, itu tidak benar, aku tidak membencimu, aku mencintaimu Celina" jawab Kevin.
Celina hanya tersenyum, sambil terus berjalan mundur. Kevin berusaha mengejarnya namun kakinya terasa berat. Celina semakin menjauh, lalu gadis itu berhenti. Kevin merasa senang, laki-laki itu terus mengejarnya tapi jarak mereka tak kunjung mendekat.
Kevin kelelahan, hampir putus asa. Diujung jalan Celina hanya berhenti memandanginya sambil tersenyum lalu melambaikan tangannya.
"Tidak, Celina jangan pergi.. jangan pergi"
"Kevin.. Kevin.. bangunlah" ucap Raffa.
Kevin terbangun, laki-laki itu mengitari pandangannya, Kevin tertidur dikursi pengunjung. Terlihat Raffa yang menitikkan air mata membangunkannya.
"Celina, dia.. " ucap Raffa sambil terus menitikkan air mata.
Terlihat paramedis yang terus berlarian menuju ruangan intensif dimana Celina ditempatkan. Kevin berlari mengikuti, dari balik kaca terlihat paramedis sibuk mengelilingi Celina. Semua sibuk melakukan tugasnya.
Menyuntikan sesuatu di selang infus nya, melakukan CPR hingga menggunakan alat kejut jantung. Kevin dan Raffa hanya bisa menatap dari balik jendela kaca. Kevin menggelengkan kepalanya sambil menitikkan air mata.
Dia berpamitan padaku, kenapa ? kenapa aku tidak mengucapkannya ?
Kata-kata itu telah ada dipikiranku tapi kenapa aku tidak mengucapkannya ?
Aku merelakanmu Celina, aku akan membiarkanmu memilih cintamu.
Kenapa aku tidak mengucapkannya ?
Kenapa hanya tertahan dipikirkanku ?
Dia tidak akan pergi jika aku mengucapkan itu.
Jangan pergi Celina, beri aku kesempatan.
Beri aku kesempatan mengucapkan itu.
Kevin menangis, jiwanya tertekan oleh penyesalan hingga akhirnya laki-laki itu ambruk tak sadarkan diri. Raffa yang melihat sahabatnya pingsan langsung memanggil paramedis.
Kevin diperiksa hingga akhirnya diputuskan untuk rawat inap. Laki-laki itu mengalami dehidrasi karena stress, Raffa mengangguk mengerti saat dokter menjelaskan kondisi sahabatnya.
Raffa menatap Kevin yang terbaring lemah, laki-laki itu bisa mengerti penderitaan Kevin. Gadis yang dalam hitungan menit akan menjadi istrinya, justru terbaring antara hidup dan mati.
Raffa mengusap air matanya yang tak mau berhenti mengalir, kedua orang yang disayanginya ambruk bersamaan. Laki-laki itu juga merasa letih, terisak menatap langit-langit rumah sakit.
Inilah hukumannya atas keegoisanku, harusnya aku merelakan mereka.
Harusnya aku tulus merelakan mereka.
Raffa menghapus air matanya, lalu duduk sambil tertunduk. Laki-laki itu frustrasi, disini sahabatnya jatuh pingsan karena stress dan lelah. Disana gadis yang dicintainya sedang ditangani karena kondisinya yang memburuk. Raffa ingin berlari menghindari kenyataan tapi tidak ingin meninggalkan keduanya.
Laki-laki itu berlari kembali menuju ruangan Celina sambil terus berharap gadis itu akan baik-baik saja. Sekencang-kencangnya berlari menuju ruangan Celina, air matanya seolah terbang dibawa angin. Raffa ingin berada disamping gadis itu saat berjuang, dia tak ingin kehilangan kesempatan menemani gadis itu.
Seolah-olah ingin berada disisinya agar gadis itu tidak menyerah, Raffa tiba dengan nafas yang tersengal. Raffa melihat orang-orang yang dikenalnya telah ramai disana. Ayah dan ibunya, Alyssa dan orang tuanya serta Keira.
Ny. Rowenna langsung menghampiri putranya saat melihat laki-laki itu datang mendekati.
"Kamu dari mana saja, kamu tidak menjaganya, lihat sekarang Celina kritis" ucap Rowenna menangis menepuk bahu anaknya.
Raffa terduduk dilantai, tubuhnya terasa sangat letih. Air matanya tak berhenti mengalir. Ny. Rowenna termangu menatap Raffa yang seperti pasrah disalahkan, laki-laki itu terlihat begitu letih, tubuh dan jiwanya letih.
Menatap kosong kedepan, melihat itu Ny. Rowenna menyesal menyalahkannya. Keira langsung menghampiri, duduk dilantai sambil mengusap punggung Raffa.
"Dimana Kevin ?" tanya Keira.
"Dia dirawat, dokter bilang kadar glukosa dalam tubuh Kevin menurun, seharian dia tidak makan. Itu membuatnya lemas dan hilang kesadaran" jelas Raffa.
Keira menutup mulutnya, menatap kesedihan diwajah Raffa. Ny. Rowenna menyesali perbuatannya yang menyalahkan Raffa, putranya kesana kemari mengkhawatirkan keduanya orang yang disayanginya seorang diri.
__ADS_1
Ny. Rowenna memeluk putranya, wanita itu juga tidak sadar putranya sendiri juga bisa ambruk dengan kondisi fisik dan jiwanya yang tertekan seperti itu. Ny. Rowenna meminta maaf pada Raffa yang seakan-akan tidak mempedulikan keadaan putranya itu.
Raffa menangis dalam pelukan ibunya, baru kali ini dia seperti itu. Perasaan sedih yang mereka rasakan menimbulkan perasaan yang dekat antara satu dengan yang lain.
Keira memutuskan untuk menjaga Kevin sehingga Raffa tidak perlu mengkhawatirkan sahabatnya itu. Tak mampu menatap paramedis yang saat ini tengah berusaha melakukan penyelamatan terhadap Celina.
Sambil melangkah keruangan Kevin, tak henti-hentinya Keira berdo'a untuk keselamatan Celina.
Celina aku akan merawat Kevin, tolong kembalilah. Jangan tinggal kami, kami belum sanggup kehilanganmu, batin Keira, berjalan sambil terus menghapus air matanya.
Tn. Robby meminta Raffa untuk beristirahat pulang. Namun Raffa menolak dia ingin tetap berada disitu. Apalagi paramedis masih belum berhenti berusaha mengembalikan kondisi Celina yang kritis.
"Saya tidak bisa meninggalkannya daddy, saya takut kehilangannya dad" ucap Raffa memohon agar tidak menyuruhnya pergi dari situ.
Air matanya tak berhenti mengalir.
Tn. Robby kehilangan akal, bapak yang bijaksana itu tidak ingin anaknya jatuh sakit. Meminta David untuk mengajak Raffa makan sesuatu, David membujuk Raffa untuk mengikuti saran ayahnya.
"Tuan, saya yakin nona Celina tidak suka melihat anda seperti ini. Dia pasti akan sedih melihat anda mengabaikan kesehatan anda karena dirinya. Jika anda ingin menjaganya, tubuh anda harus kuat tuan" bujuk David.
Raffa menatap David, apa yang dikatakan laki-laki itu memang benar adanya, Celina orang yang sangat perhatian, dia bahkan memilih mengorbankan dirinya dari pada menyakiti orang lain. Gadis itu tidak akan suka orang sakit karena dirinya, akhirnya Raffa menuruti mencari sesuatu untuk mengisi perutnya.
Sementara Alyssa tak henti-hentinya menatap melalui jendela kaca, gadis itu berdiri disana tanpa berpaling sedikitpun. Menyesali perbuatannya yang mengabaikan Celina. Membaca surat yang ditinggalkan Celina membuat gadis itu benar-benar takut ucapan Celina menjadi kenyataan.
Terus terbayang apa yang ditulisnya
Jika Alyssa datang hari ini, aku janji akan menghilang dari kehidupanmu.
Aku tidak akan muncul lagi dihadapanmu.
Alyssa, maafkan aku.
Alyssa menggelengkan kepalanya kuat, kata-kata Celina seakan mengungkapkan dia akan pergi selama-selamanya.
Kenapa Celina ? kenapa mengucapkan itu ? kamu harus tarik lagi ucapanmu.
Aku tidak akan memaafkanmu Celina, jika kamu pergi aku tidak akan memaafkanmu.
Batin Alyssa yang menangis tertunduk.
Celina ingin menghilang dari kehidupannya dan tak akan muncul lagi dihadapannya. Membuat Alyssa terisak seorang diri, menatap Celina dikelilingi paramedis yang masih belum berhenti melakukan usaha menyelamatkannya
Letih, semua letih menahan perasaan tegang hingga akhirnya tim dokter keluar dari ruangan Celina. Tn. Saltano dan Tn. Melviano yang lebih tegar langsung menanyakan kondisi Celina.
"Apa yang terjadi dengan Celina dokter, bagaimana keadaannya ?" tanya mereka bergantian.
"Pasien mengalami henti jantung mendadak, kondisi dimana berhentinya detak jantung sehingga pasien sulit bernafas, ini membahayakan karena bisa mengakibatkan kematian dalam hitungan menit.
"Bersyukur sekarang kondisi pasien sudah kembali stabil tapi kita tetap harus waspada" ucap dokter lagi.
Semua langsung bersyukur, menarik nafas lega. kemudian dokter pamit meninggalkan keluarga pasien.
Semua berkumpul, Ny. Rowenna kembali tersenyum. Bersama-sama mereka bersyukur atas kesempatan yang diberikan pada Celina untuk tetap bertahan hidup. Alyssa tersenyum mengusap kaca, seolah-olah membelai wajah Celina.
Terima kasih Celina, terima kasih karena bertahan untuk kami, batin Alyssa.
Kevin membuka matanya, pandangannya mengitari ruangan.
"Celina ?" ucap laki-laki itu saat melihat seorang gadis tertunduk sambil menggenggam tangannya.
Keira langsung menoleh kearah Kevin yang telah siuman, gadis itu menangis sedari tadi merasa panik dengan keselamatan Celina juga kasihan melihat kondisi Kevin. Gadis itu bersimpati atas penderitaan mereka.
"Kamu sudah sadar ?" tanya Keira sambil menitikkan air mata.
"Bagaimana keadaan Celina ?" tanya Kevin sambil berusaha untuk duduk.
"Jangan duduk dulu, istirahatlah. Kalau tidak, kondisimu akan semakin lemah kamu tidak akan bisa menjaga Celina jika seperti itu" ucap Keira.
Akhirnya Kevin mengalah, laki-laki itu memandang jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya. Baru menyadari kondisinya yang memang sudah lemah. Letih badan dan perasaan tidak hanya dirasakannya sejak kehilangan Celina namun jauh sebelum itu.
Berkali-kali dia merasakan kekecewaan atas perasaannya yang tidak kunjung dibalas Celina. Meski Celina mengorbankan kebahagiaannya sendiri untuk Kevin, tapi apa yang dilakukan gadis itu, terasa tak cukup baginya.
Karena dia tau Celina hanya terpaksa melakukan itu, bukan karena cinta tapi karena kasihan dan sayangnya pada Kevin. Memaksakan kehendaknya meski bertujuan untuk membahagiakannya tak cukup membuat Celina jatuh cinta padanya.
Kevin menatap Keira yang menangis sambil menggenggam tangannya.
"Kenapa kamu menangis ?" tanya Kevin.
Keira menggeleng, ingin mengungkapkan isi hatinya namun takut ditertawakan Kevin.
"Apa karena Celina ? dia... " ucap Kevin teringat pada kondisi Celina saat terakhir kali.
"Tidak, tidak ada kabar buruk tentang Celina, aku sudah menghubungi Ny. Rowenna, mereka masih berusaha mengembalikan kondisinya" ucap Keira menenangkan Kevin.
Kevin lega, masih ada harapan, laki-laki itu menghembuskan nafas berkali-kali.
"Lalu kenapa kamu menangis ? " ulang Kevin bertanya.
"Karena aku sedih, kasihan padamu, kamu menderita karena mencintai Celina begitu dalam. Belum pernah aku melihat seorang laki-laki mencintai wanita seperti kamu mencintai Celina" ucap Keira akhirnya.
Kevin tertawa lemah, dan benar yang diperkirakan Keira. Laki-laki itu memang menertawakannya.
__ADS_1
"Benar kan ? kamu tertawa, makanya aku tidak mau bilang" ucap Keira dengan wajah sedih.
"Ya, tentu saja aku tertawa, aku yang menderita kenapa malah kamu yang menangis" jawab Kevin.
Keira menatap wajah Kevin.
"Aku juga tidak tau kenapa ? padahal sudah tau dia tidak mencintaiku, tapi tetap saja bersikeras ingin memilikinya" ucap Kevin menyesal.
"Bisakah merelakan orang yang dicintai memilih cintanya sendiri disebut cinta yang sejati ? " tanya Kevin pelan.
"Bisa, karena itu butuh pengorbanan yang besar. Merelakan orang yang kita cintai bahagia dengan pilihnya. Itu butuh pengorbanan yang besar." ucap Keira.
"Bagaimana kamu bisa tau ?" tanya Kevin.
"Aku rasa, aku mengalaminya" ucap Keira pelan hampir tidak terdengar.
"Pada siapa ? tunanganmu yang mengejarmu itu, kamu bilang dia bersama wanita lain ?" tanya Kevin, hanya laki-laki itu satu-satunya orang dari masa lalu Keira yang dikenalnya.
"Kalau itu, aku bukan merelakannya tapi melarikan diri darinya" ucap Keira menyangkal.
Kevin tertawa, tiba-tiba masuk petugas rumah sakit membawakan makanan untuk pasien. Keira langsung ingin menyuapi Kevin, tapi laki-laki itu menolak.
"Aku bisa makan sendiri" ucap Kevin lemah.
"Kamu jangan gerak, biar aku yang menyuapi mu" ucap Keira tak tega melihat lemahnya tubuh Kevin.
Kevin mengalah, jika kondisinya tidak lemah seperti itu. Dia pasti tidak akan tunduk pada Keira.
"Apa yang membuatmu mencintai Celina ? selain kecantikannya ?" tanya Keira.
"Entahlah, aku rasa, awalnya karena aku merasa kasihan padanya, Celina hidup menderita, karena tiba-tiba mendapati dirinya hamil" jelas Kevin.
"Gadis itu memilih meninggalkan rumah Alyssa demi menjaga nama baik kami. Dia tidak ingin status hamil diluar nikah merusak citra Alyssa.
Padahal Alyssa sama sekali tidak mempermasalahkan itu, dan aku merasa simpati padanya" jelas Kevin lagi.
Keira mengangguk mengerti.
"Awalnya dari rasa simpati, kasihan, ingin menghiburnya, lalu ingin membahagiakannya, kemudian jatuh cinta padanya" ucap Keira.
Pemikiran Keira disetujui oleh Kevin, laki-laki itu mengangguk. Keira menghembuskan nafas berat, bersandar pada kursi lalu menatap kosong.
"Kamu kenapa ?" tanya Kevin.
Melihat ekspresi Keira yang tiba-tiba murung.
"Aku rasa, aku benar-benar mengalaminya" ucap Keira sedih.
"Bukankah jatuh cinta itu menyenangkan, lalu kenapa kamu bersedih" tanya Kevin.
"Bukankah kamu juga mengalaminya ? apakah menyenangkan ? kalau menyenangkan, kamu tidak akan bersedih sampai drop seperti ini" ucap Keira sambil menghembuskan nafas berat.
"Karena cintaku bertepuk sebelah tangan" ucap Kevin.
"Lalu apa bedanya denganku ? aku rasa cintaku juga bertepuk sebelah tangan" ucap Keira.
"Siapa yang akan menolak gadis pintar dan cantik seperti dirimu ? " tanya Kevin sambil tersenyum.
"Apa bedanya denganmu, CEO perusahaan asing yang sangat sukses, cerdas dan tampan, tapi barusan bilang cintanya bertepuk sebelah tangan ?" ucap Keira.
Kevin tercenung.
"Kamu membuatku bingung, sebaiknya aku tidur saja" ucap Kevin mengelak.
"Kamu bisanya melarikan diri, habiskan dulu makananmu" ucap Keira mengguncang tubuh Kevin.
Kevin tetap bertahan, akhirnya Keira mengalah membiarkan laki-laki itu istirahat. Tiba-tiba ponselnya bergetar.
"Benarkah ? kondisi Celina sudah stabil ?" tanya Keira.
Kevin langsung membuka mata bahkan langsung duduk. Menunggu dengan penasaran hasil pembicaraan Keira melalui sambungan telepon. Gadis itu terlihat riang, senyumnya terlihat begitu manis. Kevin terpaku menatap gadis berhati tulus itu. Persahabatannya dengan Celina benar-benar tulus tanpa syarat.
Keira menutup sambungan ponselnya.
"Celina sudah kembali, dokter sudah memeriksanya, kondisinya membaik, dia masih bertahan. Celina masih bertahan bersama kita" teriak Keira senang hingga menghambur memeluk Kevin.
"Kalau kamu senang, apa selalu seperti ini, memeluk laki-laki sembarangan ?" tanya Kevin.
"Tidak, aku tidak seperti itu" ucap Keira perlahan melepaskan pelukannya.
"Waktu berhasil mengusir tunanganmu itu, kamu juga memelukku. Mulai sekarang jangan seperti itu, seorang gadis sembarangan memeluk laki-laki, masih mending kalau itu pacarmu, atau orang yang kamu cintai" ucap Kevin.
Keira diam mendapat ceramah dari Kevin. Mendengar kondisi Celina yang telah kembali stabil membuat hati mereka lega. Keira ingin segera melihat kondisi temannya itu namun tak tega meninggalkan Kevin.
"Kamu tidak ingin menjenguk Celina ?" tanya Kevin.
"Tentu saja aku ingin, tapi bagaimana denganmu ?" tanya Keira.
"Aku tidak apa-apa, pergilah, nanti jika aku sudah lebih kuat. Aku pasti akan kesana" ucap Kevin.
Keira akhirnya meninggalkan Kevin diruang rawat inapnya. Keira ingin melihat kondisi temannya, ingin berterima kasih padanya karena masih bertahan hidup bersama mereka.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...