
Seorang karyawan berlari menuju ruangan David. Laki-laki itu kaget saat melihat karyawan itu masuk tanpa mengetuk pintu.
"Maaf Pak David, di depan mobil tuan Raffa menghalangi gerbang keluar tapi saat di cari tuan Raffa tidak ditemukan," ucap karyawan itu dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Apa? Kenapa bisa mobilnya berada di sana. Apa mungkin ada masalah dengan mesinnya?" tanya David langsung berdiri.
"Mobilnya tidak masalah Pak tapi ditinggal begitu saja dengan pintu terbuka. Tadi, kata orang-orang ada keramaian di jalan besar depan kantor sekitar dua jam yang lalu," jelas karyawan itu.
"Dua jam yang lalu? Keramaian apa maksudnya?" tanya David lagi.
"Katanya ada kecelakaan Pak, seorang perempuan berjalan mundur di jalanan lalu seorang laki-laki datang berlari menolongnya. Perempuan itu terlempar ke median jalan tapi yang laki-laki tertabrak hingga tak sadarkan diri," cerita karyawan itu.
Apa mungkin laki-laki itu Raffa? Lalu siapa yang ditolongnya? Bukankah Raffa ingin makan siang bersama Celina. Kenapa mobilnya tertinggal di gerbang keluar? Jangan-jangan yang mengalami kecelakaan itu benar-benar Raffa, batin David mulai merasa panik.
"Ayo kita lihat ke sana," ajak David.
"Mari Pak," sahut karyawan.
David dan karyawan kantor itu berlari menuju mobil Raffa sambil berlari David menghubungi Celina.
"Ya Kak David, Kak Raffa janji akan menjemputku untuk makan siang bersama tapi sampai sekarang masih belum datang. Aku pikir mungkin ada urusan penting jadi Kak Raffa menunda. Aku ingin menghubungi tapi takut mengganggu. Aku khawatir Kak, biasanya Kak Raffa jika telat datang pasti menyempatkan diri memberitahuku," tutur Celina.
"Ya, Celina kami saat ini juga sedang mencari Raffa. Dia menghilang meninggalkan mobil di gerbang keluar. Baiklah nanti jika mendapat informasi baru akan saya hubungi," ucap David.
"Kak David tolonglah jangan katakan terjadi sesuatu pada Kak Raffa," ucap Celina terdengar menangis.
"Tenang Celina, kami akan mencari tahu. Segera saya hubungi nanti, kamu jangan panik dan tetaplah di tempat," ucap David lalu memutus sambungan teleponnya.
Apa yang terjadi? Kenapa mobilnya tertinggal di luar? Di mana Kak Raffa? Apa yang terjadi padanya? jerit hati Celina.
Gadis itu duduk di meja kerjanya, kedua tangannya menopang kepalanya. Air mata Celina menetes di meja kerja. Berbagai macam pikiran buruk melintas di benaknya. Sekuat tenaga Celina menggelengkan kepalanya menepis pikiran buruk itu.
Gadis itu berdiri berjalan mondar-mandir di ruangannya. Menunggu kabar dari David. Sebentar-sebentar menatap ke layar ponselnya yang masih belum menunjukkan tanda-tanda pesan atau telepon masuk.
Kenapa Kak David menyuruhku tetap di sini? Apa yang kulakukan di sini? Aku ingin tahu keadaan suamiku, Oh.., ya ampun, apa yang terjadi? Jangan sampai terjadi hal yang buruk padanya? jerit hati Celina.
"Celina aku ada di depan toko buku. Bisakah kamu keluar?" tanya David melalui saluran telepon.
Celina langsung berlari ke depan toko, setelah setengah jam menunggu kabar dari David. Tiba-tiba Laki-laki itu menghubunginya. Mendengar David memintanya keluar
Celina langsung berlari, menelpon seorang karyawan kepercayaannya dan memberi tahu kalau dia harus pergi.
Celina sampai di depan teras toko, David sudah berdiri di samping mobilnya. Celina langsung menangis menanyakan apa yang terjadi.
"Kita akan ke rumah sakit Celina," ucap David.
Kaki Celina langsung terasa lemas, David memegang tangan Celina. Sopir dan karyawan David juga ikut memapah istri pimpinan tertinggi perusahaan itu. David meminta Celina masuk ke dalam mobil dan mereka pun melaju ke rumah sakit yang di sebut oleh seorang saksi kecelakaan.
"Apa yang terjadi Kak? Kenapa Kak Raffa bisa kecelakaan?" tanya Celina tak sabar ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya.
David menjelaskan apa yang di dengarnya saat mencari informasi di depan kantor. Sebagian besar saksi mengatakan kalau Raffa berlari menyebrang untuk menolong seorang gadis yang seperti ingin bunuh diri.
"Bunuh diri? Kak Raffa kecelakaan karena ingin menolong seorang gadis yang bunuh diri? Kak David apa mungkin gadis itu Natasha?" tanya Celina teringat Raffa yang pernah bercerita kalau dirinya di pantai hanya ingin menolong Natasha yang mencoba membunuh dirinya.
David mengangguk mengiyakan ucapan Celina. David sendiri telah mendengar cerita dari Raffa tentang kejadian Natasha yang ingin membunuh diri dengan cara menenggelamkan diri di laut. Mendengar cerita saksi mata itu David langsung memperkirakan siapa gadis yang di maksud.
Langsung mengkonfirmasi divisi di mana Natasha di terima bekerja. Segera laki-laki itu mengetahui bahwa Natasha hingga saat ini masih belum kembali dari makan siang. David langsung menyimpulkan kalau gadis yang di ceritakan saksi mata adalah benar Natasha.
Tak lam kemudian mereka masuk ke area rumah sakit. Celina tidak sabar ingin segera menemui suaminya. Mereka pun segera berlari ke bagian unit gawat darurat. Bertanya pada dokter jaga, dari sana mereka mengetahui jika Raffa telah di pindahkan ke ruang rawat inap.
Celina, David dan karyawan yang ikut dengan David berlari menuju ruang rawat inap Raffa. Segera mereka masuk dan tidak mendapati siapa pun di sana. Karyawan yang bernama Dany itu langsung kembali bertanya pada suster jaga.
"Di mana Kak Raffa? Kenapa tidak ada? Di mana dia?" ucap Celina panik.
__ADS_1
"Tenang Celina, Dany sedang bertanya, kita tunggu kabar darinya," ucap David menenangkan.
Namun yang datang bukan hanya Dany tapi juga suster yang sedang berjaga. Suster itu langsung terkejut saat mendapati ranjang rumah sakit telah kosong.
"Tadi ada di sini Pak, istirahat di sini. Tuan Reno tadi ada di sini," ucap suster itu.
"Reno? Siapa itu Reno? Kami bertanya pasien bernama Raffa?" bentak David yang merasa ada kesalahan informasi.
"Maaf pak saya kurang konsentrasi karena tadi bapak bertanya pasien yang barusan kecelakaan jadi langsung saya beritahu di sini tapi tidak ada pasien kecelakaan bernama Raffa," jelas suster itu.
"Apa, tadi saya mendapat informasi bahwa pimpinan saya yang bernama Raffa di bawa menggunakan ambulans dari rumah sakit ini. Lalu kemana perginya pasien kecelakaan itu?" bentak David semakin keras.
"Pasien kecelakaan di jalan yang masuk hari ini cuma pasien itu Pak. Tadi datang dalam keadaan tidak sadar dan cedera otak parah. Saat bangun pasien itu tidak mengenali dirinya sendiri beruntung ada istrinya yang juga ikut dengan ambulans dan memberitahu jati dirinya dan mengisi lembaran data pasien," jelas suster itu panjang lebar lalu melihat ke arah kamar mandi dan langsung ingin memeriksa.
David langsung menahan Suster itu dan bertanya.
"Pasien itu tidak mengenali dirinya? Apa maksudnya?" tanya David.
"Pasien itu mengalami amnesia Pak, akibat cedera otak yang di alaminya," jelas suster itu lagi.
"Amnesia?" teriak David dan Celina bersamaan.
Suster itu mengangguk dengan pasti. Dany menunjukkan foto yang ada di ponselnya dan bertanya pada suster.
"Benar Pak, ini pasien Reno yang mengalami amnesia itu," ucap suster itu pasti.
David langsung memegang kepalanya, panik. Celina menangis sambil menutup mulutnya. David bingung menenangkan Celina kemudian menelepon Alyssa dan menceritakan apa yang terjadi. Mendengar itu Alyssa ingin langsung menyusul ke rumah sakit.
"Jadi di mana dia sekarang Suster?" tanya David akhirnya.
"Aduh, sungguh saya tidak tahu Pak. Harusnya masih di rawat di sini, juga tidak ada catatan kalau pasien ini di izinkan pulang hari ini," ucap suster itu dengan wajah panik.
"Apa yang harus kita lakukan Kak? Kemana kita mencari Kak Raffa. Bagaimana dengan ponselnya? Coba Kakak hubungi ponselnya," tanya Celina.
"Suster dia bernama Raffa bukan Reno, kenapa dia di panggil Reno?Apa tidak memeriksa kartu identitasnya?" tanya Celina.
"Kami tidak menemukannya kartu identitasnya Nyonya, jangankan kartu identitas itu. Dompetnya pun tidak ada," jelas suster itu.
"Natasha pasti telah mengambilnya dan dia mengaku sebagai istri Raffa tentu saja dia leluasa mengambilnya," ucap David.
"Kalau begitu kita lacak nomor ponsel Natasha Pak," usul Dany.
"Bisakah kamu membantuku?" tanya David.
"Tentu Pak, saya kembali dulu ke kantor," ucap Dany pamit.
Tak lama kemudian Alyssa datang dan langsung memeluk Celina. Gadis yang sejak tadi sangat membutuhkan dukungan itu akhirnya menangis di pelukan sahabatnya.
"Apa tidak ada yang bisa menemukannya? Kamera pelacak atau apa pun?" tanya Alyssa masih memeluk Celina.
"Sudah pasti yang mengajak Raffa pergi adalah Natasha tapi kemana mereka pergi itulah yang sedang di lacak Dany," jelas David.
"Celina ayo kita pulang tidak ada yang bisa kita lakukan di sini. Kamu jaga kesehatanmu, ayo istirahatlah di rumah," ajak Alyssa.
"Bagaimana mungkin aku bisa istirahat Alyssa, suamiku tidak di temukan dan dia dalam keadaan amnesia. Bagaimana jika aku tidak bisa menemukannya lagi? Bagaimana jika selamanya dia amnesia? Dia mengira Natasha adalah istrinya, bagaimana denganku? Bagaimana anak-anakku, mereka kehilangan ayah mereka," ucap Celina menangis tersedu-sedu.
"Alyssa berkata benar sebaiknya kita pulang sekarang dan menjelaskan keadaan ini pada keluarga Saltano. Percayalah kami tidak akan tinggal diam, kami akan terus berusaha mencari Raffa sampai ketemu. Percayalah dia bukan sekedar pimpinan bagiku dia adalah sahabatku dan dia telah menganggapku sebagai saudaranya. Tidak ada seorang pimpinan yang bisa bersikap seperti itu pada bawahannya. Aku menyayanginya sama sepertimu," ucap David sambil mengusap matanya yang berair.
Celina akhirnya mengangguk setuju, dia percaya pada ketulusan David. Percaya laki-laki itu sungguh-sungguh menyayangi suaminya.
David mengantar Celina pulang ke rumahnya. Sampai di rumah David menceritakan kejadian yang diketahuinya pada kedua orang tua Raffa. Ny. Rowenna menangis meraung, Ozora memeluk ibunya dan menitikkan air mata. Namun, Ozora membisikkan kata-kata untuk menguatkan hati ibunya.
Edward menunduk merasakan kesedihan adiknya. Laki-laki itu segera berbincang dengan David mengenai langkah-langkah untuk mencari Raffa. David menyatakan sedang melacak ponsel Natasha.
__ADS_1
"Gadis itu aku tahu dia sangat berbahaya, dia bisa melakukan apa saja untuk mencapai keinginannya. Kita harus segera menemukan mereka sebelum Raffa benar-benar bisa dikuasainya. Kasihan Celina, kita semua tahu mereka saling mencintai," tutur Edward.
Tiba-tiba ponsel David bergetar, laki-laki itu langsung menerima telepon dari Dany. Laki-laki itu memberitahukan posisi ponsel Natasha.
"Di bandara, Natasha ingin membawa Raffa ke luar kota," ucap David.
"Ayo kita susul segera. Kemana pun dia pergi kita akan mengejarnya," ucap Edward.
Mereka pun pamit untuk mengejar Natasha karena posisi ponselnya yang berhasil di lacak. Saat tiba di bandara mereka bertanya pada pihak yang berwenang untuk mengizinkan mencari nama penumpang dan tujuannya.
"Kita harus menemukan mereka sebelum mereka berangkat," ucap Edward.
David mengangguk, mereka berpencar untuk mencari kedua orang itu namun mereka tak kunjung bertemu. Hingga akhirnya mendapat informasi bahwa penumpang dengan identitas Natasha dan Raffa berangkat ke luar kota.
"Natasha kembali menggunakan identitas Raffa," ucap David.
"Aku rasa dia yang membeli tiket dan mengatur semuanya," ucap Edward.
"Kita naik pesawat keberangkatan tercepat untuk menyusul," ucap David.
Mereka pun menyusul mengunakan pesawat yang lain hingga mencapai kota yang di tuju.
"Kita tunggu kabar dari Dany di mana posisi ponsel Natasha," ucap David yang tidak sabar ingin segera mendapat informasi dari Dany.
"Ponselnya masih berada di Bandara itu," ucap Dany melalui sambungan ponsel.
"Masih di sini, bagaimana mungkin? Apa mereka transit ke kota lain?" tanya David pada Edward.
"Ayo kita tanyakan pada pihak bandara," ucap Edward.
Setelah menelusuri nama penumpang satu persatu namun tak menemukan data penumpang atas nama Natasha dan Raffa yang akan berangkat ke kota lain. Mereka pun menunggu sambil terus mencari. Namun, tak ada tanda-tanda keberadaan mereka.
Sementara Dany tetap bersikukuh bahwa ponsel Natasha masih di posisi yang sama yaitu bandara.
"Jangan-jangan dia membuang ponselnya di bandara ini setelah menyadari kalau ponselnya bisa kita lacak," ucap David.
Edward langsung terduduk, jika memang Natasha membuang ponselnya maka akan sulit untuk menelusuri posisi mereka.
Sementara itu Natasha meminta Raffa masuk ke dalam sebuah apartemen mewah. Natasha menyuruh laki-laki itu untuk beristirahat di kamar. Raffa melihat-lihat apartemen itu mencoba untuk mengingat-ingat.
"Apa benar aku adalah suamimu?" tanya Raffa ragu.
"Ya, kita telah menikah dan tinggal di sini," jawab Natasha.
"Lalu mana foto pernikahan kita dan juga buku nikahnya?" tanya Raffa.
"Itu..., emm, itu.., tertinggal di rumah orang tuaku," jawab Natasha akhirnya.
"Sudah berapa lama kita menikah dan kenapa kita berada di kota lain?" tanya Raffa lagi.
"Kita baru saja menikah dan kita sedang melakukan perjalanan bulan madu hingga akhirnya Kakak mengalami kecelakaan itu," jawab Natasha pura-pura sedih.
"Maafkan aku karena keadaan ini pasti sangat merepotkanmu," ujar Raffa.
"Tidak, tidak merepotkan sama sekali tapi aku merasa sangat sedih karena Kakak telah melupakanku dan cinta kita," ucap Natasha menitikkan air mata.
Raffa tercenung, ingin menghibur gadis itu namun hatinya melarang untuk melakukannya. Raffa merasa sebelum bisa mengingat seperti apa perasaannya pada Natasha dia tidak ingin menyentuh gadis itu.
Ada rasa yang tak bisa digambarkan di dalam hatinya. Keraguan atas kebenaran status mereka karena Natasha tidak bisa membuktikan satu pun tentang status hubungan mereka.
Dan terlebih dari itu Raffa merasakan kekosongan, kesedihan dan kerinduan di hatinya namun tidak tahu kepada siapa semua rasa itu ditujukan. Raffa merasa dirinya tengah tersesat dan semakin mempercayai Natasha, laki-laki itu semakin merasa jauh tersesat.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1