Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 59 ~ Berita Baik ~


__ADS_3

Celina kembali kekediaman Saltano, semua gembira, begitu juga Ny. Rowenna. Mertua Celina itu menyiapkan segala macam hidangan yang tertata dipinggir kolam. Nyonya itu ingin merasakan berkumpul dengan santai dipinggir kolam renang dikediamannya.


Keluarga Saltano mengundang Keira, Kevin dan Alyssa. Raffa mengundang David, personal assistant nya yang juga sangat kenal dengan Celina.


"Sudah lama tidak bertemu pak David" sapa Celina.


"Saya senang bisa melihat nyonya Celina sehat" balas David.


"Jangan panggil aku nyonya, panggil aku Celina seperti biasa" bisik Celina.


David tertawa.


"Maaf, mana bisa seperti itu nyonya, saya memanggil suami nyonya dengan panggilan tuan, tentu saja pasangannya adalah nyonya" jawab David sambil tersenyum.


"Padahal aku sudah menganggap pak David seperti abangku sendiri" jelas Celina.


"Itu karena kebaikan hati nyonya, menganggap semua orang saudara" jawab David kembali tertawa.


Celina kehabisan kata-kata, lalu melirik kearah Alyssa.


"Kemarilah pak David" ucap Celina mengajak David mendekati Alyssa.


"Masih ingat dengan gadis cantik ini ? ini saudariku, Alyssa" ucap Celina sambil merangkul sahabatnya itu, Alyssa terlihat malu-malu.


"Tentu saja, kami telah bertemu beberapa kali" ucap David.


"Oh ya kapan ? seingat ku ditoko buku" tanya Celina.


"Kami hampir setiap hari bertemu nyonya, saat nyonya dirawat dirumah sakit" ucap David.


"Ah benar juga, aku benar-benar bodoh" ucap Celina tertawa.


"Itu karena nyonya masih sakit dan belum sadar sepenuhnya" jawab David.


"Alyssa, pak David ini adalah laki-laki pertama yang bersikap baik padaku dan kamu adalah gadis pertama yang sangat, sangat, sangat baik padaku. Kalian adalah orang-orang yang tidak akan kulupakan kebaikannya seumur hidupku" ucap Celina.


"Jangan berlebihan" teriak David dan Alyssa serentak.


Celina terperangah, Alyssa dan David tertawa.


"Kalian kompak sekali" ucap Celina.


Mereka kembali tertawa


Ny. Rowenna memanggil semua yang hadir untuk berkumpul di meja makan besar yang telah disediakan. Para pelayan siap melayani makan malam bersama itu. Celina mengajak Alyssa dan David bergerak menuju Ny. Rowenna yang telah memanggil.


Keira langsung memeluk Celina, saat melihat gadis itu mendekat.


"Ini siapa ya ? aku kok merasa nggak kenal" ucap Celina.


Keira langsung melepaskan pelukannya sambil cemberut.


"Oh nggak kenal ? Amnesia ya ? Kalau gitu, kenalkan, ini anakku Ozora. Ayo Ozora kita pulang, ada yang nggak kenal kita disini " ucap Keira.


"Jangan coba-coba" teriak Celina.


Semua tertawa, Celina langsung memeluk Keira. Sahabat Celina itu langsung menangis sesenggukan.


"Kamu bikin kami panik tau nggak ? untung saja Raffa segera mengabarkan kami kalau kamu udah menelpon, kalau nggak, kami nggak bisa tidur nyenyak, aku bisa cepat tua, liat kerutku bertambah" ucapnya sambil memperlihatkan sudut matanya.


"Jangan berlebihan, kamu itu masih sangat muda, mana ada kerutan" ucap Celina menangkup wajah Keira lalu menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan.


Tapi tak ayal, pertemuan ini membuat mereka berdua menangis, Keira menangis karena terharu melihat Celina yang kembali dengan selamat. Sementara Celina terharu dengan perhatian dan rasa sayang Keira terhadapnya.


Mereka tertawa bersama-sama, Ny. Rowenna mempersilahkan semua duduk posisi masing-masing.


"Raffa, mulai sekarang kamu harus sewa pengawal untuk istrimu" ucap Keira yang duduk dihadapan Raffa dan Celina.


Sementara Ozora tentu saja duduk disampingnya, gadis itu tak pernah melewatkan kesempatan untuk dekat dengan Ozora.


"Kak, aku ingin protes, kalau kak Kevin masih belum nikahin Keira dalam waktu dekat ini. Aku akan carikan dia cowok lain, lihatlah Keira itu sudah pingin punya anak. Setiap kali kesini dia selalu menguasai anakku" ucap Celina membuat Kevin kelimpungan.


"Kamu ini, bikin malu calon suamiku, cuma pinjam Ozora sebentar aja protes. Ozora bener-bener aku bawa pulang, baru tau rasa kamu" ucap Keira.


"Tuh kan, ancamannya pengen bawa Ozora melulu" ucap Celina mengeluh pada Kevin.


"Ya, kami sudah menetapkan tanggal, dua bulan yang akan datang, kami akan menikah" ucap Kevin akhirnya.


Dengan wajah yang malu-malu Kevin mengumumkan perihal pernikahan mereka. Semua terkejut mendengar berita itu. Raffa langsung menggelengkan kepalanya sambil tertawa, Raffa selalu menanyakan kapan mereka akan menikah namun Kevin selalu mengelak.


Tapi begitu diprotes Celina, laki-laki itu langsung mengumumkan perihal pernikahannya.


"Ini adalah berita baik, berita yang sangat baik. Selain berita kepulangan putri menantu kami, berita tentang pernikahan Kevin dan Keira menambah hal baik yang datang dalam hidup kita, semoga berita baik lainnya segera menyusul" ucap tuan Robby yang tiba-tiba bicara setelah sejak tadi hanya tertawa.


Ny. Rowenna langsung mencium pipi suaminya, nyonya itu sangat bersyukur, dengan kondisi kesehatan tuan Robby sekarang ini, suaminya masih bertahan menemani melewati masa suka dan duka bersamanya.


Celina terharu melihat kemesraan pasangan yang telah lanjut usia itu. Dalam hatinya berdoa semoga keduanya selalu sehat dan memiliki umur yang panjang. Celina tidak bisa menahan air matanya.

__ADS_1


"Kok malah nangis ?" tanya Raffa sambil merangkul istrinya.


"Pidato daddy bikin terharu" ucap Celina berdalih.


"Harusnya senang, malah nangis, dasar cengeng" ucap Keira.


Kevin langsung merangkul Keira mendengar ucapan gadis itu.


"Jangan ngomong gitu nanti suaminya marah" ucap Kevin sambil melirik Raffa.


"Ya jaga calon istrimu, kalau nggak, aku ceburin dia ke kolam renang" ucap Raffa.


Semua tertawa, para pelayan mulai mengambil wadah appetizer yang telah kosong dihadapan mereka mengganti dengan main course. Ny. Rowenna sengaja memilih menu-menu yang disukai Celina.


Semua bersemangat melihat hidangan yang telah tersaji di hadapan mereka. Ozora melambaikan tangan pada Celina, anak itu tau pasti makanan kesukaan ibunya.


Celina telah siap menyantap hidangan kesukaannya itu, ketika tiba-tiba dia merasa sangat mual. Gadis itu hingga menahan mulutnya sekuat tenaga. Celina berusaha menahan agar jangan sampai mengeluarkan suara.


Tapi Celina tidak tahan hingga membuat Raffa yang duduk disebelahnya mengetahui sesuatu terjadi pada istrinya.


"Ada apa Celina ?" bisik Raffa.


"Nggak tau kak, mungkin masuk angin, perutku rasanya mual" ucap Celina.


Celina minta izin untuk ke kamar di temani Raffa, semua heran melihat tingkah sepasang suami istri itu.


"Kakak nggak usah ikut, aku istirahat sebentar saja" bisik Celina.


Tapi Raffa ngotot ingin menemani istrinya, akhirnya Celina mengalah. Celina istirahat di kamarnya.


"Kak, aku merasa nggak enak hati, kakak kembali bergabung disana kalau nggak mereka bisa heran" ucap Celina.


"Aku minta pelayan membawakan makanan untukmu ya" ucap Raffa.


"Nggak usah kak, nanti aku juga akan kembali kesana" jawab Celina.


Raffa mengangguk mengikuti kemauan istrinya, kembali bergabung dengan para tamu. Raffa langsung dihujani pertanyaan, laki-laki itu berdalih kalau Celina merasa kurang enak badan.


"Ya, dia baru saja pulang dari perjalanan jauh, harusnya aku biarkan dia istirahat dulu" ucap Rowenna menyesal.


"Nggak apa-apa mom, Celina juga merasa senang bisa segera bertemu dengan semua orang yang disayanginya" ucap Raffa sambil memandang pada semua tamu yang hadir.


"Sudah berapa lama ya sejak dia dibawa Edward pergi ?" tanya Keira tiba-tiba.


"Sudah lebih dari seminggu, jika perjalanannya tidak dihitung, mungkin Celina di New York selama seminggu" ucap Raffa.


"Kami belum sempat menanyakannya" ucap Raffa.


"Raffa, bawakan makanan untuknya, biar dia makan dikamar saja" ucap Rowenna.


"Tadi sudah saya tawari mommy tapi dia bilang akan kembali kesini" ucap Raffa.


"Raffa kamu itu nggak peka ya, Celina itu orang yang paling tidak suka merepotkan orang, tentu saja dia menolak. Tapi dimana-mana seorang istri pasti ingin diperhatikan oleh suaminya" ucap Keira.


Alyssa mengangguk setuju dengan pemikiran Keira.


"Mommy suruh pelayan menyiapkan hidangan untuknya, nanti kamu berikan padanya ya" ucap Rowenna.


"Ya, kalau perlu kakak suapi" ucap Alyssa yang sejak tadi tidak membuka suara.


Raffa tersenyum mendengar usul Alyssa, laki-laki itu akhirnya setuju untuk mengantarkan makanan. Bersama seorang pelayan Raffa mendatangi kamar Celina.


Namun Raffa tidak menemukan Celina diranjang, laki-laki itu memerintahkan pelayan menaruh makanan diatas meja bundar dikamar itu. Lalu meminta pelayan meninggalkan ruangan.


Raffa mencari Celina ke kamar mandi namun urung karena mendengar suara Celina di balkon. Laki-laki itu langsung menghampiri namun terhenti mendengar Celina yang seperti sedang berbicara dengan seseorang di ponsel.


Raffa berdiri dibalik dinding pemisah balkon dan kamar.


"Aku belum memutuskannya kak, aku bahkan belum memikirkannya" terdengar suara Celina bicara.


Lalu hening, Celina sedang mendengarkan orang yang menelponnya berbicara.


"Baiklah, dalam waktu dekat aku akan mencoba memutuskannya, tapi kak, seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Aku tidak bisa meninggalkan keluargaku" ucap Celina.


Yang langsung membuat Raffa terkejut. Seseorang meminta Celina meninggalkan keluarganya, dada Raffa bergemuruh. Laki-laki itu memiliki firasat kalau yang menelpon Celina adalah Edward.


Raffa juga merasa terkejut dengan cara Celina memanggil laki-laki itu dengan sebutan kakak. Rasanya Raffa ingin segera merampas ponsel itu dan meminta Edward untuk tidak menelpon istrinya.


Namun Raffa sekarang bukanlah Raffa yang dulu lagi. Laki-laki itu mencoba untuk lebih bersabar, mengikuti emosi hanya membuat hubungannya dengan Celina semakin renggang.


Rumah tangga mereka hampir saja hancur setiap kali Raffa mengikuti emosinya berprasangka buruk pada Celina. Tapi kali ini Raffa merasa ini bukanlah prasangka buruk atau tuduhan yang tak mendasar.


Jelas-jelas Raffa mendengar istrinya dihasut untuk meninggalkan keluarganya.


"Baiklah kak, setelah memutuskannya, aku akan segera menghubungi kak Edward lagi" ucap Celina setelah mendengarkan Edward bicara.


Benar, dugaanku benar, Celina bicara dengan Edward, apa yang mereka bicarakan ? kenapa dia meminta istriku meninggalkan keluarganya ? batin Raffa dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Ya kak, aku akan menjaga diri dan kesehatanku. Kak Edward juga ya, tentu saja kak, anakku adalah anak kak Edward juga" ucap Celina sambil tertawa.


Raffa terperangah, dadanya mendadak terasa sempit. Laki-laki itu tersandar di dinding, bermacam pikiran buruk kembali bergelayut dibenaknya.


Celina menyudahi pembicaraan lewat ponselnya, gadis itu segera kembali ke kamarnya. Dan terkejut saat mendapati Raffa telah berada dimeja bundar dikamarnya sambil merapikan sendok dan garpu.


Raffa tersenyum, dengan sekuat tenaga menahan perasaannya. Berusaha bersikap wajar seperti tidak mendengar apapun.


"Kakak sudah lama disini ?" tanya Celina.


Raffa menggelengkan kepalanya.


"Baru saja, mommy memintaku mengantar makanan ini. Mommy khawatir kamu kelelahan tapi kamu harus tetap makan" ucap Raffa berusaha bersikap wajar.


Namun tetaplah laki-laki itu berubah sikap, Raffa tak bisa menutupi hatinya yang sedang galau meski telah berusaha sekuat tenaga menutupinya.


Kak Raffa sepertinya mendengar pembicaraanku dengan kak Edward, apa dia salah paham ? pasti, kak Raffa selalu berpikiran buruk padaku, bagaimana ini ? batin Celina.


"Aku suapi ya ?" ucap Raffa mengikuti saran Alyssa.


Celina justru merasa takut dengan sikap Raffa yang tak biasa itu. Celina tau persis kalau Raffa orang yang pencemburu dan membabi buta. Namun sikapnya sekarang terlihat tenang padahal jelas-jelas telah mendengar percakapannya dengan Edward.


"Aku ingin kembali bergabung dengan mereka kak, rasanya sekarang aku sudah baikan" ucap Celina mengajak Raffa kembali ke pinggir kolam.


Namun Raffa menolak, dia ingin Celina tetap dikamar, dan menyantap makan malamnya di kamar.


"Aku sudah baikan kak, ayo kita kembali ke bawah" ucap Celina.


"Kenapa kamu tidak patuh padaku ?" tanya Raffa.


Ucapan Raffa menghentikan langkah Celina, gadis itu menatap suaminya yang masih memandang lurus kedepan. Tangannya gemetar memegang sendok dan garpu.


Akhirnya Celina menuruti keinginan suaminya, makan malam dikamar ditemani laki-laki itu. Raffa duduk disamping Celina. Memberikan sendok dan garpu pada istrinya.


Jangan-jangan kamu berpura-pura sakit agar bisa diam-diam menelpon bajingan itu, sekarang kamu terlihat baik-baik saja.


Lihat saja Celina, aku tidak akan membabi buta lagi, bersikap seperti itu hanya membuatmu semakin cepat berlari kearah bajingan itu.


Tapi jangan kira aku diam berarti aku membiarkan kamu seenak berhubungan dengan laki-laki itu, batin Raffa sambil memandangi istrinya yang mulai menyantap makan malamnya.


Celina merasakan perasaan yang canggung, gadis itu merasa Raffa telah memergokinya berbicara dengan laki-laki yang dibencinya. Hati Celina tidak tenang, namun dia mencoba untuk bersikap wajar seperti tidak terjadi apa-apa.


"Harusnya makanan kakak juga dibawa kesini, jadinya kita bisa makan bersama-sama. Aku ambilkan ya ?" tanya Celina, segera berdiri dari meja bundar dikamarnya itu.


Namun Raffa menghentikannya, Raffa meraih tangan Celina. Dengan senyum laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Entah mengapa senyum itu terasa menakutkan bagi Celina, gadis itu kembali duduk.


"Kalau begitu kita berbagi makanan ini saja ya ? aku rasa makanan ini juga terlalu banyak untukku" ucap Celina sambil memberikan sendok untuk Raffa.


Laki-laki itu menerimanya lalu makan bersama istrinya. Sesekali Celina melirik suaminya yang sedang menyantap makanan berbagi dengannya. Raffa menyuapi istrinya, Celina merasa heran.


"Kamu tidak bisa makan menggunakan garpu saja, harusnya kamu yang pakai sendok. Kamu harus makan lebih banyak" ucap Raffa menyuapi istrinya.


Celina menerima suapan dari Raffa, tersenyum pada suaminya. Lalu berbalik menyuapi suaminya dengan steak dan kentang yang tertancap di garpunya. Raffa menerima suapan dari istrinya. Lalu menatapnya dengan lamat-lamat.


Apa kamu masih menjadi milikku ? tanya Raffa didalam hatinya.


Celina kembali menyuapi suaminya, Raffa menahan dan menurunkan tangan Celina.


"Kamu saja yang makan, kamu yang harus makan lebih banyak. Apalagi sekarang sudah tidak mual lagi. Kamu pasti bisa menghabiskannya kan ?" ucap Raffa.


Celina tercenung lalu melanjutkan makan dengan mata Raffa yang tak berhenti menatapnya. Setelah selesai menyantap semua, Celina berniat untuk kembali menyapa tamu-tamunya namun Raffa melarang, dia ingin Celina kembali beristirahat.


"Tapi nggak enak kak, mereka datang untuk menemui kita, masa kita tinggalkan mereka begitu saja ?" tanya Celina.


"Tidak apa-apa mereka mengerti kalau kamu butuh istirahat" ucap Raffa.


"Tapi kak..."


"Sudahlah, mommy berencana mengundang mereka lagi lain waktu" ucap Raffa dengan nada suara tinggi.


Nada suara Raffa membuat Celina terdiam, gadis itu merasa ada nada kemarahan disitu. Celina menurut apa yang diinginkan Raffa. Gadis itu hanya diam dikamar hingga para tamu pamit pulang.


Celina kembali menjalani hari-harinya seperti biasa, dikantornya kadang-kadang Celina menerima telepon dari Edward. Gadis itu akhirnya meminta kakaknya untuk mengirimkan hasil scan dokumen-dokumen aset yang diwariskan kepadanya.


Celina berencana untuk tidak menerima semua warisan itu, gadis itu hanya memilih beberapa aset saja. Hal itu membuat kakaknya Edward keberatan hingga akhirnya mereka sering berhubungan.


Diam-diam Raffa mengetahui kalau Celina sering berhubungan dengan Edward. Namun laki-laki itu menahan diri, dia ingin Celina yang berterus terang padanya tentang hubungan mereka.


Hingga pagi itu, saat Celina terkejut menatap dua garis di test pack yang dipegangnya. Reflek gadis itu berteriak memberitahukan Raffa.


"Kak, aku hamil, aku telah hamil kak" ucap Celina begitu bersemangat.


"Anak siapa itu ?" tanya Raffa tenang.


Tenang namun tajam, Celina merasa dadanya terasa perih. Gadis itu tercenung, matanya berkaca-kaca, berita yang dipikirnya akan membawa kebahagiaan bagi mereka. Justru ditanggapi dengan kata-kata yang menusuk hatinya, Raffa meragukan anak yang dikandungnya.


...~ Bersambung ~...

__ADS_1


__ADS_2