
Celina sabar menunggu giliran masuk ke ruangan Raffa, gadis sekretaris itu terlihat tidak enak hati. Apalagi setelah ditegur David yang mengatakan bahwa Celina adalah istri dari pimpinan perusahaan itu.
Tapi Celina justru meminta maaf pada sekretaris itu karena kesalahannya yang tidak mengenalkan dirinya sebagai istri Raffa, hingga sekretaris itu tidak tau. Tika, sang sekretaris terlihat sedikit lega karena Celina tidak ikut memarahinya.
Tak berapa lama kemudian pintu terbuka, Raffa berdiri didepan pintu. Celina dan Tika langsung berdiri menatap dan menunggu, keduanya langsung terkejut saat melihat wanita bernama Marissa itu langsung memeluk dan mencium bibir Raffa.
Tika sang sekretaris terperangah, hingga mengangkat tangan untuk menutup mulutnya. Celina menatap nanar apa yang ada dihadapannya.
Raffa melepas tangan Marissa yang melingkar di lehernya dengan kasar.
"Aku membuka pintu ini, agar kamu segera keluar dari tempat ini. Aku sudah tegaskan, aku sudah berkeluarga, dan aku sangat mencintai istri dan anakku, karena itu jangan temui aku lagi" ucap Raffa tegas.
laki-laki itu sama sekali belum menyadari kehadiran Celina di ruangan itu, sementara Tika masih terpaku. Marissa masih mencoba merayu Raffa.
"Aku tidak memaksamu untuk menikahiku, aku hanya ingin tetap bersamamu. Raffa, aku tidak pernah bisa melupakanmu" ucap gadis itu masih mencoba mendekati Raffa lagi.
"Pergi kamu dari sini atau aku usir secara paksa ?" ucapnya lagi.
"Tu-tuan, ini ada nyonya Celina" tiba-tiba Tika teringat, dan langsung memberanikan diri memberi tahu kedatangan Celina.
Raffa langsung menoleh dan terkejut. Dia tidak peduli lagi pada Marissa. Raffa langsung menghampiri Celina, dan menghardik Tika.
"Apa-apaan kamu ini kenapa tidak bilang kalau istriku datang" bentak Raffa.
"Kak, jangan salahkan dia, aku yang salah, aku yang ingin menunggu, tadi Tika sudah menawarkanku untuk masuk" ucap Celina sambil mengangguk agar Raffa yakin.
"Bagaimanapun sibuknya aku kalau istriku datang, segera beritahu aku, mengerti !!!" hardik Raffa lagi.
"Baik pak" ucap Tika menunduk.
Raffa langsung menarik tangan Celina, namun gadis itu menahannya, Raffa heran.
"Karena kakak aku jadi merasa bersalah pada Tika, minta maaflah padanya ini bukan kesalahannya. Dia bahkan tidak tau kalau aku istri kakak" ucap Celina.
"Aku harus minta maaf padanya ? sejak kapan atasan minta maaf pada bawahan ?" tanya Raffa.
"Sejak sekarang, kalau kakak tidak minta maaf, terpaksa aku lagi yang minta maaf" ucap Celina.
"Lagi ? kamu sudah minta maaf padanya ?" tanya Raffa.
"Ya, karena aku, tadi dia ditegur pak David" ucap Celina.
Raffa tak peduli masih menarik tangan Celina, tapi Celina kembali menahannya lalu memberi kode agar Raffa meminta maaf pada Tika. Raffa mengalah.
"Tika, maaf" ucap Raffa singkat.
"Ya tuan, sama-sama" ucap Tika.
Celina tersenyum pada Tika, Tika membalas senyuman Celina. Celina mengikuti suaminya masuk keruangan Raffa. Disana Raffa langsung ingin mencium bibir istrinya.
"Nggak mau ada bekas cewek itu" ucap Celina mengelak.
Raffa kecewa, menghela nafas lalu duduk dikursi. Wajahnya murung, Celina menghampiri lalu duduk bersandar pada suaminya.
"Apa aku juga yang salah ? dia tiba-tiba menciumku tanpa aku duga, apa ini juga salahku ? kalau aku benar-benar ingin berciuman dengannya aku tidak akan membuka pintu hingga bisa dilihat oleh sekretaris itu" ucap Raffa mengeluh.
"Aku tau, aku mengerti, ini adalah resiko memiliki suami berwajah tampan. Aku tau kakak tidak mengkhianatiku" ucap Celina.
"Benarkah ? kamu yakin padaku ?" tanya Raffa.
Celina mengangguk.
"Ya aku yakin, aku tau banyak yang menginginkan kakak, banyak yang menyukai kakak, banyak juga yang ingin memiliki kakak. Jika aku selalu memikirkan itu, hidupku tidak akan tenang.
Aku akan percaya pada kakak, aku akan percaya semua ucapan kakak. Tapi jangan membohongiku, jika tidak menginginkanku lagi, katakan padaku, katakan kalau kakak tidak menginginkanku lagi. Katakan, Celina aku tidak mencintaimu lagi, maka aku akan pergi dengan sendirinya dari hidup kakak" ucap Celina masih bersandar dibahu Raffa.
Raffa meraih tubuh istrinya lalu memeluknya. Mencium puncak rambut gadis itu.
"Apa yang kamu ucapkan ini, itu tidak mungkin, aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak akan mengucapkan kata-kata itu. Aku mencintaimu Celina, aku akan mencintaimu seumur hidupku" ucap Raffa.
Celina balik memeluk Raffa. Laki-laki itu menghirup wangi rambut gadis itu.
"Sekarang sudah boleh menciummu ?" tanya Raffa.
Celina tersenyum lalu mengusap pipi Raffa dan mendekatkan wajah mereka. Celina menempel bibirnya ke bibir suaminya. Raffa langsung menyesapnya dengan bernafsu, mencari-cari lidah Celina yang manis. Menyesapnya semakin dalam.
Laki-laki itu akan terus melakukannya jika Celina tidak segera mendorongnya.
"Aku tidak bisa bernafas" ucap Celina sambil menyentuh bibir Raffa.
"Bernafaslah, karena aku akan segera menciummu lagi" ucap Raffa.
Celina mendorong pipi Raffa menjauh, laki-laki itu tertawa.
__ADS_1
"Siapa Marisa itu ?" tanya Celina tiba-tiba.
"Wanita penggoda" ucap Raffa tertawa.
Celina heran, Raffa meraih gadis itu dan merebahkan dipangkuannya.
"Apa kamu ingat saat aku bertemu dengan Keira dan Ozora, di restoran ? saat itu aku sedang bersama Marissa, kami baru saja bertemu karena dia baru kembali dari Amerika.
Dia langsung mencariku dan mengajakku makan siang.
Sebagai teman lama tentu saja aku bersedia hanya untuk sekedar makan siang. Tapi Keira datang dan melabrakku, dia marah melihatku bersamanya.
Keira memancing niat Marissa jalan denganku akhirnya aku tau kalau dia berniat menggodaku. Sejak itu aku tidak mau menggubrisnya lagi.
Hingga tadi dia datang, aku membiarkan dia masuk dengan tujuan untuk memastikan bahwa aku tidak akan mau menemuinya lagi.
Melihat wajahnya aku langsung teringat padamu, aku tidak ingin gara-gara dia aku harus kehilanganmu" jelas Raffa sambil mengusap pipi gadis itu.
"Baiklah, cukup dan terima kasih atas penjelasannya, aku harus pulang sekarang, aku tidak bisa lama-lama meninggalkan toko" ucap Celina sambil bangun dari pangkuan Raffa.
"Oooh.. aku pikir kamu akan disini lebih lama" ucap Raffa.
"Aku kesini hanya mampir setelah menemani Keira memilih seragam untuk pesta" ucap Celina.
"Aku akan mengantarmu" ucap Raffa.
"Nggak usah" ucap Celina
"Aku nggak ada kerjaan sayang, biarkan aku mengantarmu ke depan" ucap Raffa.
"Baiklah CEO pemaksa" ucap Celina mengalah.
Mereka tertawa, Raffa menggandeng tangan istrinya. Berjalan santai keluar dari gedung perusahaan. Dan benar apa yang dikatakan Celina, sepanjang jalan para karyawan melirik, melihat, menatap dan mengomentari. Celina berjalan sambil menunduk.
Raffa menarik tangan Celina hingga melingkar di pinggangnya. Membuat Celina kaget, terlihat seperti Celina melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.
"Kenapa jalannya seperti itu?" tanya Raffa.
"Aku takut dinilai oleh karyawan perusahaan ini. Karyawati disini cantik-cantik" ucap Celina.
"Oh ya ? tapi tidak ada yang secantik istriku, sebaik dan sepintar istriku. Dan meski suatu saat kutemukan orang yang melebihi dirimu aku akan tetap mencintaimu" ucap Raffa.
"Kenapa ?" tanya Celina.
Celina ikut tersenyum.
Aku juga kak, cuma kakak satu-satunya yang bisa memberikan semua kenangan itu untukku, dan satu-satunya yang menghadiahkan Ozora dan bayi ini padaku, aku tidak inginkan yang lain, batin Celina.
Langkah kaki gadis itu berhenti lalu menatap suaminya, Celina mendekat dan mengecup bibir suaminya. Dan tentu saja Raffa tidak akan membiarkan itu hanya menjadi sebuah kecupan, Raffa menjadikan kecupan itu menjadi sebuah ciuman yang hangat, tak peduli dimanapun.
Laki-laki itu akan langsung mendekap istrinya erat dan memberikan ciuman yang dalam bagi istrinya. Berulangkali dan lama, tak peduli para karyawan dan karyawati yang menahan nafas menatap mereka.
Terpana, terpaku, memandang histeris melihat kejadian itu.Tak peduli berapa banyak kamera ponsel yang mengarah pada mereka.
Melalui dinding kaca pembatas kantor, para karyawati histeris sambil menatap layar ponsel mereka yang menangkap adegan romantis dari atasan yang mereka kagumi. Berteriak tertahan, melompat bahkan pingsan melihat adegan langka itu didepan mata mereka.
Raffa melepas ciumannya lalu menatap wajah istrinya.
"Kakak, aku lupa, kita ini sedang dikantor" ucap Celina dengan ekspresi yang lugu.
Raffa tersenyum.
"Oh ya ? aku pikir kamu sengaja pamer" ucap Raffa sambil melingkarkan tangan di pinggang istrinya.
"Mana mungkin aku seberani itu" ucap Celina.
"Tadi pagi ada yang berani menawarku, menyuruhku menunggu di tempat yang biasa, dimana itu ? dikamar atau di mobil ku ?" tanya Raffa.
Wajah cantik Celina langsung merona merah, Raffa sangat suka melihat wajah malu istrinya dan langsung mengecup kedua pipi yang merona itu lalu memeluknya erat sambil tersenyum.
Hari itu adalah hari pertama Celina menginjakkan kaki di kantor suaminya, dan langsung membawa kehebohan di dalam gedung tinggi itu. Sebagian yang pernah melihat Celina saat pernikahannya langsung pamer seolah-olah mengenal dekat dengan Celina.
Namun hal yang mungkin Celina harus tau, bagi mereka, Celina adalah wanita cantik, anggun dan sangat pantas menjadi pendamping pimpinan mereka.
Celina kembali ke kantornya setelah membuat kehebohan di kantor Raffa. Menjalani rutinitasnya seperti biasa, dengan kehidupan dan sifatnya yang sederhana gadis itu menjadi pimpinan di toko buku yang banyak berjasa bagi hidupnya.
Meski kantor Celina bukanlah sebuah gedung pencakar langit atau berisi orang-orang berdasi namun tempat itu merupakan magnet bagi para CEO yang dikenalnya untuk berkumpul.
Terbukti pagi itu sudah ada Keira, CEO wanita dari perusahaan keluarganya. Telah duduk sambil menyesap latte diruangan kerja Celina.
"Calon pengantin satu ini kenapa masih mondar-mandir, kesana kemari, bukannya tenang menikmati perawatan pranikah ?" tanya Celina.
"Aku kesini untuk menguatkan mental, apa kamu tau ? aku sudah lari dari pernikahanku sebanyak tiga kali" ucap Keira dengan cemberut.
__ADS_1
"Kali ini kamu akan lari juga ?" tanya Celina.
"Aku takutnya begitu, kakiku akan langsung berlari begitu saja saat mendengar suara Penghulu" ucap Keira langsung tertunduk.
Celina tertawa.
"Kamu mencintai kak Kevin bukan ?" tanya Celina.
"Pasti, tidak diragukan lagi. Tapi aku merasa seperti itu juga saat pernikahanku sebelumnya. Merasa pasti tapi disaat hari H aku kembali merasa bimbang" ucap Keira dengan wajah sedih.
"Kamu bisa berenang ?" tanya Celina.
"Nggak, kenapa ?" tanya Keira.
"Anak orang kaya tidak bisa berenang ? " tanya Celina lagi.
"Memangnya kamu bisa berenang ?" tanya Keira balik.
"Nggak" jawab Celina.
Mereka tertawa.
"Sudah pasti, anak orang kaya dan bisa berenang tidak ada hubungannya. Trus untuk apa kamu tanyakan itu ?" tanya Keira.
"Kamu tau tidak ? kalau kak Kevin itu juara renang ?" tanya Celina.
"Nggak, kami belum pernah membicarakan hal itu" ucap Keira.
Celina mengangguk.
"Kenapa ? kenapa kamu tanyakan itu" ucap Keira.
"Rahasia" ucap Celina.
"Ayo katakan, jangan bikin aku penasaran" ucap Keira.
"Aku tidak suka bikin kamu penasaran, tapi untuk yang satu ini aku tidak akan mengatakan apapun" ucap Celina.
Celina tertawa, meski Keira merengek tapi Celina tetap bersikukuh tidak mau menceritakan apapun. Gadis itu kesal karena tidak biasanya Celina begitu kukuh tak mau bicara.
Keira akhirnya pasrah dan mencari pelarian dengan menemui Ozora. Sementara siang itu Celina membuat janji temu dengan Kevin disebuah kafe.
Celina meletakkan kotak kecil dihadapan Kevin.
"Aku pikir, sebaiknya aku kembalikan pada kak Kevin" ucap Celina.
Kevin mengambil dan membuka kotak kecil yang diserahkan Celina, lalu tersenyum simpul.
"Aku tidak pernah meminta kembali apa yang pernah ku berikan" ucap Kevin membicarakan cincin pertunangan yang pernah diberikannya pada Celina.
"Aku tau kak, tapi ini memang tidak pantas untuk kusimpan. Keira lebih pantas menyimpannya, maaf bukan maksudku memberikan barang bekas pemberian padanya. Tapi kakak pernah menyimpan sebuah harapan dalam cincin ini. Harapan itu sekarang beralih ke tangan Keira. Aku harap kakak mau menerimanya kembali" ucap Celina.
Memang benar apa yang dikatakan Celina, Kevin pernah menyimpan sebuah harapan pada cincin itu. Harapan bisa hidup bahagia bersama wanita yang mengenakannya.
Kevin menarik nafas panjang, memandang Celina. Wanita yang pernah begitu dicintainya, begitu banyak kenangan indah yang dilaluinya bersama wanita itu.
Kebahagiaan dan kesedihan pernah kita rasakan bersama. Semua kenangan itu tidak mampu menggeser kedudukan Raffa di hatimu, aku sudah bertekad melupakanmu sejak memutuskan menyerahkan posisiku di hadapan penghulu.
Semoga kita bisa bahagia bersama meski dengan pasangan yang berbeda, batin Kevin.
Tiba-tiba ponsel Kevin bergetar, laki-laki itu kaget membaca nama kontak yang tampil di layar ponselnya. Dengan ragu-ragu akhirnya Kevin menerima panggilan telepon itu.
"Aku... ada di kafe" jawab Kevin setelah sama-sama menyapa.
Seseorang menanyakan keberadaan Kevin, dan Kevin terlihat ragu mengatakannya.
"Apa ? bersama... Celina" ucap Kevin akhirnya.
Meski berusaha menghindar mengucapkan bersama siapa dirinya saat ini tapi akhirnya Kevin jujur mengatakan kalau dia sedang bersama Celina. Celina yang mendengar namanya disebut merasa kalau yang menelpon Kevin adalah seseorang yang dikenalnya.
"Siapa ?" tanya Celina setengah berbisik.
"Raffa" jawab Kevin hanya dengan gerakan mulut.
Celina terkejut dan meminta Kevin meminjamkan ponselnya pada Celina. Kevin lebih terkejut lagi dengan sikap Celina, Kevin yang tadinya takut Raffa akan salah paham hingga berusaha menutupi keberadaan mereka justru terpaksa memberikan ponsel itu pada Celina.
"Halo kak, ayo datang kesini" ucap Celina dengan ringannya.
Membuat Kevin terkejut, bahkan Raffa yang darahnya mulai mendidih lebih terkejut mendengar santainya suara Celina mengajaknya bergabung bersama di kafe.
Secepat kilat laki-laki pencemburu itu langsung berangkat ke kafe yang telah disebutkan. Sesampai disana terlihat istri yang sangat dicintainya sedang tertawa dengan laki-laki yang pernah menjadi tunangannya.
Panas, cemburu, namun heran melihat Celina yang begitu santai tanpa sedikitpun niat menutupi pertemuan mereka. Raffa terpaku, dari balik kaca kafe terlihat Celina dengan wajah yang ceria bersama Kevin. Membuat laki-laki itu ragu melangkah menemui mereka.
__ADS_1
...~ Bersambung ~...