Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 45 ~ Honeymoon ~


__ADS_3

Celina menatap wajah laki-laki yang masih tertidur lelap itu, sambil tersenyum Celina mengamati setiap lekuk wajah laki-laki yang sekarang telah menjadi suaminya itu. Belum pernah gadis itu memperhatikan wajah Raffa begitu detail seperti saat ini. Tiba-tiba Raffa membuka mata dan langsung tersenyum.


"Senang sekali rasanya, begitu bangun langsung memandang wajahmu" ucap laki-laki itu sambil langsung meraih tubuh Celina dan membanting pelan gadis itu kesampingnya.


"Tetaplah disini, jangan kemana-mana dulu" ucapnya lalu mengecup bibir gadis itu berkali-kali.


Celina tertawa, namun membalas kecupan itu. Membelai wajah tampan suaminya, sambil terus membalas kecupan manis laki-laki itu.


"Ayo cepat mandi, aku lapar" ucap Celina.


"Mandiin ya" ucap Raffa.


Celina tertawa, lalu mendorong laki-laki itu ke kamar mandi. Sambil menunggu Raffa mandi, Celina menelpon keluarga barunya, Ny. Rowenna menerima telepon, Celina menanyakan kabar Ny. Rowenna sekaligus menanyakan keadaan putranya.


"Apa Ozora nakal nyonya ? apa Ozora merepotkan ?" tanya Celina lewat sambungan telepon.


"Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu jika kamu masih memanggilku seperti itu" ucap Rowenna.


Celina tercenung, Celina khawatir, kalau Ny. Rowenna kembali membencinya.


"Kamu sudah menjadi menantuku, kenapa masih memanggilku nyonya ?" ucap Rowenna lagi.


Celina mengelus dada, perasaannya lega.


"Ya mommy, maaf saya belum terbiasa" ucap Celina lagi.


"Ozora baik-baik saja, kamu tau kan kalau dia sangat mandiri. Anak itu sama sekali tidak merepotkan justru dia banyak membantu orang-orang disini" balas Rowenna.


"Makasih mommy, sungguh saya minta maaf kalau Ozora merepotkan" ucap Celina lagi.


"Kamu ini terlalu sungkan, sudah jangan pikirkan Ozora, nikmati saja bulan madumu ya" ucap Rowenna.


"Nelpon siapa ?" tanya Raffa setelah mengakhiri sambungan teleponnya.


"Mommy" ucapnya singkat.


Mereka keluar untuk menikmati sarapan sambil menikmati pemandangan laut. Setelah menikmati sarapan, mereka berjalan-jalan menikmati tempat wisata sambil melihat-lihat cinderamata-cinderamata unik hasil produk kerajinan setempat.


Selama berjalan-jalan Raffa tak lepas menggenggam tangan istrinya. Dalam setiap kesempatan, laki-laki itu memang selalu mengkhayalkan kejadian ini, berjalan-jalan sambil menggenggam tangan gadis yang dicintainya.


Bersama mencicipi makanan-makanan khas daerah yang mereka kunjungi. Pasangan itu selalu menjadi perhatian orang-orang yang berpapasan dengan mereka. Meski kebahagiaan dan kemesraan yang Raffa tampilkan bukan untuk dipamerkan tapi naluriah Raffa yang ingin selalu memanjakan istrinya, membuat orang-orang yang melihat mereka merasa kagum bahkan iri.


Manisnya bulan madu terlihat dari pancaran wajah mereka yang selalu ceria, pasangan muda yang menikah selalu menjadi perhatian orang-orang disekitar apalagi pasangan itu cantik dan tampan.


Raffa dan Celina juga menikmati berenang bersama di private pool sambil memandangi indahnya pemandangan laut, bercanda sepanjang hari. Raffa selalu menggoda istrinya, mengerjainya hingga Celina kesal setelah itu barulah membujuknya.


Celina tak akan bisa berlama-lama marah pada suaminya, Raffa selalu punya cara untuk meluluhkan kemarahannya. Dan memang gadis itu tak pernah sungguh-sungguh kesal padanya. Gadis itu juga ingin mengerjai suaminya.


Di sore hari duduk bersama dibawah pohon sambil menikmati angin laut memandangi pemandangan sunset serta deburan ombak, pohon-pohon yang tersusun rapi disepanjang pantai membuat pemandangan sejuk dan udara terasa segar.


Dimalam harinya mereka menikmati makan malam romantis yang letaknya dipinggir pantai, di atas kapal dengan pemandangan laut. Sebuah paket bulan madu yang sangat berkesan dan menjadi kenangan bahagia bagi mereka.


Celina dan Raffa menikmati makan malam di sebuah restoran dengan konsep kapal pesiar. Selesai makan malam Celina memilih berdiri di pagar pembatas restoran yang berbentuk menyerupai geladak utama sebuah kapal pesiar sambil terus memandang laut, angin laut menerbangkan helaian rambut gadis itu.


Tiba-tiba ponselnya bergetar, gadis itu memandang nama Kevin yang tertera di layar ponsel. Gadis itu segera menerima panggilan telepon itu. Kevin menanyakan kabar gadis itu, menanyakan apakah dia merasa puas dengan pelayanan dan fasilitas paket honeymoon yang dipilihnya.


Tak lupa Kevin menanyakan kabar Raffa, yang tadi di telponnya namun tak diangkat.


"Kakak menelpon tuan Raffa ?" tanya gadis itu.


"Mungkin dia tidak menyadari ada telepon masuk, nanti akan saya sampaikan agar tuan Raffa menelpon balik kak Kevin ya" ucap Celina.


Kevin membalas ucapan Celina, tak lama kemudian mengakhiri panggilannya.


"Baik kak... kak Kevin juga ya... salam juga untuk tuan dan nyonya Melviano" ucap Celina mengakhiri perbincangan melalui telepon itu.


"Permisi, apakah itu dengan Kevin Melviano ?" ucap seorang laki-laki muda yang ternyata tanpa sengaja mendengar pembicaraan Celina.


Celina menjawab dengan mengangguk.


"Kenalkan saya Edward, jika Kevin yang dimaksud tadi adalah lulusan Stanford university maka dia adalah teman sesama kuliah saya dulu" ucap Edward.


"Oh ya benar, kak Kevin memang lulusan Stanford university" jawab Celina.


"Wah... kalau begitu kebetulan sekali, aku kehilangan kontak dengannya setelah dia memutuskan pulang ke Indonesia" ucap Edward sambil mengulurkan tangannya.


Celina menjabat tangan laki-laki itu dan menyebutkan namanya.


"Kamu temannya Kevin ?" tanya Edward.


" Teman dari adiknya" jawab Celina.

__ADS_1


"Ow... sendirian disini ?" tanya Edward masih ingin mengobrol dengan gadis itu.


"Tidak, bersama suami" jawab Celina sambil menampilkan cincin pernikahannya.


"Wah masih muda sudah bersuami ? baru menikah ?" ucap Edward tersenyum.


Celina mengangguk, meski dalam hatinya ragu, dua puluh enam tahun baru resmi menikah apakah masih terlalu muda. Edward tersenyum memandang Celina yang seperti sedang berpikir.


"Gadis-gadis yang kukenal menikah di usia diatas tiga puluh tahun dengan berbagai alasan untuk menunda pernikahan mereka.


Ada yang karena sibuk mengejar karir, belum menemukan jodoh yang cocok atau kecewa karena pernah disakiti.


Bahkan ada yang sudah berumur namun memutuskan untuk tidak menikah" jelas Edward.


"Tapi kamu tidak mungkin mengalami itu, kamu sangat cantik pasti silih berganti laki-laki yang datang melamarmu" lanjut Edward sambil tersenyum.


Celina hanya diam, sesekali memandang kearah lain mencari-cari Raffa yang belum juga datang.


Edward ikut memandang kearah gadis itu melihat. Lalu kembali menatap Celina.


"Oh ya, bolehkah saya meminta nomor ponsel Kevin ?" ucapnya lalu menampilkan nomornya sendiri dilayar ponselnya.


"Tolong kirimkan ke nomor ini" ucap Edward.


Celina ragu namun akhirnya mengikuti, memberikan nomor kontak Kevin dan mengirimkannya ke nomor yang tertera di layar ponsel Edward. Tak lama kemudian nomor Kevin terkirim. Laki-laki itu langsung menyimpannya.


"Saya juga simpan nomor ponsel kamu ya ?" ucapnya meminta izin tapi seperti sekedar memberi tahu.


"C e l i n a" ucapnya mengeja nama gadis itu.


Celina merasa ragu apakah yang dilakukannya itu benar, memberikan nomor ponselnya dan Kevin pada orang yang baru dikenalnya. Gadis itu menyesal, laki-laki itu bersikap akrab hingga membuat orang percaya padanya.


"Terima kasih ya" ucap Edward.


"Saya tidak menyangka gadis-gadis di Indonesia itu cantik-cantik" lanjutnya lagi sambil tersenyum.


"Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah kelahiran ibuku, beliau tinggal di Amerika sejak masih muda. Menikah dengan pemuda Amerika dan melahirkan disana" lanjutnya bercerita tanpa ditanya.


Baru Celina mengerti mengapa laki-laki bertampang bule itu ternyata bisa begitu fasih berbicara dalam bahasa Indonesia, tanpa sadar Celina mengangguk.


Tak berapa lama kemudian Raffa datang. Langsung melingkarkan tangannya di pinggang Celina sambil menatap Edward. Edward tersenyum lalu menyapa Raffa dan langsung memperkenalkan dirinya.


"Tuan Edward ini mengenal kak Kevin" ucap Celina menjelaskan.


Edward menjelaskan detail perkenalkan mereka, menjelaskan apapun yang menunjukkan kalau dirinya benar-benar mengenal Kevin. Sebagian besar yang diucapkannya Edward bisa diterima Raffa karena sedikit banyak laki-laki itu sangat mengenal sahabatnya itu.


Namun untuk hal-hal tertentu Raffa hanya bisa mengangguk menerima pernyataan dari Edward. Mereka berbincang-bincang. Selama berbincang Raffa tak lepas menunjukkan sikap mesranya terhadap sang istri.


Tak lepas merangkulnya, kadang membelai rambutnya, bahkan mengecup pipinya. Orang yang melihat bisa berpikiran kalau Raffa sedang pamer kemesraan, namun semua itu dilakukannya agar pemuda bule tampan itu sadar kalau gadis didepannya itu adalah wanitanya.


Apapun yang dilakukan Raffa, tak dipedulikan Edward, laki-laki yang memang dibesarkan ditengah-tengah budaya dengan pergaulan yang lebih bebas itu, melihat apa yang dilakukan Raffa adalah pemandangan yang biasa.


Setelah puas berbincang akhirnya mereka minta diri untuk kembali ke kamar mereka.


"Baru menikah sudah menggoda bule, oh ya ampun cobaan apa lagi ini" ucap Raffa sambil merebahkan diri di ranjang.


Celina cemberut mendengar ucapan Raffa, kata-katanya seperti menuduh Celina sengaja ingin mengenal bule tampan itu. Gadis itu menunggu ucapan Raffa selanjutnya yang menunjukkan bahwa dia hanya bercanda dengan ucapan itu.


Namun tidak ada penyangkalan sedikitpun. Celina menilai bahwa Raffa sungguh-sungguh berpikir dia menggoda laki-laki bule itu.


Dengan mata yang berkaca-kaca gadis itu masuk ke kamar mandi, Raffa hanya diam memandangnya. Celina membasuh wajahnya, menghapus air matanya yang mengalir. Pedih rasa di dadanya mendapat tuduhan seperti itu.


Lama gadis berdiri bertumpu di wastafel, dia tidak ingin menangis namun ucapan Raffa itu sungguh menyakiti hatinya. Celina memutuskan untuk tidak keluar dari kamar mandi hotel itu sebelum dia bisa menenangkan diri.


Raffa merasa kalau Celina terlalu lama di kamar mandi. Barulah Raffa menyadari, laki-laki itu langsung mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang kamu ngapain dikamar mandi lama-lama" tanya Raffa.


Celina tidak menjawab, jika mengucapkan sesuatu Celina takut suaranya berubah serak seperti habis menangis.


"Celina, kamu ngapain disitu" ucapnya lagi, mulai merasa khawatir.


"Nggak apa-apa" hanya itu yang bisa diucapkan Celina, gadis itu tak ingin berkata lebih banyak lagi.


"Sayang, kamu marah ya ? aku cuma bercanda, aku tidak sungguh-sungguh dengan ucapanku" sahut Raffa.


Celina masih diam.


"Buka pintunya dong" ucap Raffa lagi, lalu menunggu.


"Ayolah buka pintunya" ucap Raffa sekali lagi setelah menunggu namun tak ada gerakan Celina membuka pintu.

__ADS_1


Celina kembali membasuh wajahnya, matanya yang habis menangis masih terlihat jelas. Mata merah begitu juga puncak hidungnya. Celina berusaha menghilangkan bekas menangis itu namun tetap saja masih terlihat. Celina memutuskan untuk tidak keluar dari kamar mandi dulu.


"Sayang maafkan aku, tapi aku tidak sungguh-sungguh dengan ucapanku" ucap Raffa pelan, memohon Celina memaafkannya.


Raffa menyandarkan wajahnya ke daun pintu, laki-laki itu menyesal dengan ucapannya. Kata-kata itu tidak sepenuhnya bercanda, sejujurnya laki-laki itu memang merasa kesal dengan kejadian tadi. Hatinya cemburu melihat gadis yang dicintainya berbincang akrab dengan seorang laki-laki muda yang tampan.


Hingga muncullah perkataan itu, namun dia tidak sungguh-sungguh menuduh Celina menggoda laki-laki itu. Raffa mengerti dan paham, Celina seperti bunga mekar yang bau harumnya menarik kumbang untuk mendekat.


Dan itu bukanlah salah bunga karena tercipta begitu cantik dan wangi hingga memancing kumbang datang.


"Sayang, tolong buka pintunya, aku mulai khawatir ini" mohon Raffa.


Celina membuka pintunya, meski wajahnya belum sepenuhnya normal, masih terlihat bekas menangis. Raffa tersenyum saat engsel pintu bergerak, begitu gadis itu muncul diambang pintu, Raffa langsung menarik gadis itu kedalam pelukannya.


Raffa menggendong Celina ala bridal style lalu merebahkan gadis itu di ranjang. Menatap wajah yang polos cantik alami itu. Perlahan menempelkan bibirnya, Raffa ingin Celina tau kalau dia sangat menginginkannya dan tak perlu mengkhawatirkan ucapannya tadi.


Menyesap lembut bibir yang selalu membuatnya gemas itu, membuat Raffa semakin hanyut dan ingin segera melepaskan hasratnya. Celina menunggu, menerima dan membalas perlakuan manis Raffa.


Menjelang tengah malam Celina terbangun, menatap wajah laki-laki yang membuat hatinya tak karuan itu. Laki-laki itu membuat hatinya kadang-kadang berbunga-bunga namun kadang membuat hatinya hancur. Semua itu rela diterimanya, karena selama jauh dari Raffa hatinya justru serasa mati, tak bisa merasakan apapun.


Hanya Kevin yang mampu membuat hatinya sedikit bergolak dan itu semua karena ketulusan Kevin. Ketulusan hati bisa menciptakan ketulusan-ketulusan lainnya hingga bisa menggugah perasaan orang yang menerimanya.


Celina ingin turun dari ranjang menarik kain putih lembut untuk menutupi tubuhnya.


"Mau kemana ?" tanya Raffa yang tangannya tiba-tiba sudah melingkar di pinggang Celina.


"Cuma ingin bangun" jawab gadis itu pelan.


Raffa menarik Celina, kembali merebahkan gadis itu dan menatapnya.


"Maafkan ucapanku, aku tidak sungguh-sungguh dengan ucapanku" ucap Raffa, wajahnya begitu dekat hingga hampir menyentuh puncak hidung gadis itu.


Celina mengangguk.


"Setengah sungguh-sungguh sebenarnya" ucap Raffa membuat wajah Celina kembali cemberut.


"Apa maksudnya ?" ucap gadis itu terlihat tidak terima dengan tuduhan Raffa.


"Baru menikah sudah menggoda bule bukankah itu benar" ucap Raffa.


"Benar bagaimana ? kapan aku menggodanya ?" tanya Celina dengan suara sedikit keras.


"Kamu memang tidak dengan sengaja menggodanya, tapi kecantikan dan kebaikan hatimu membuat orang tergoda untuk mendekatimu" ucap Celina.


"Apa yang harus kulakukan untuk itu. Aku tidak mungkin mengabaikan orang, aku yakin tidak semua orang tergoda olehku" jawab Celina bercampur kesal.


"Selalu ingat padaku, selalu ingat kalau kamu sudah menjadi milikku dan memberi tahukannya pada orang yang mendekatimu" jawab Raffa egois.


"Aku sudah memberi tahu itu, dia sudah tau kalau aku sudah menikah" ucap Celina, tak mau disalahkan.


"Bagus kalau gitu, kita liat saja apa itu ampuh mengusir bule itu menjauh darimu" ucap Raffa sambil tertawa.


"Baiklah, tapi itu juga berlaku untukmu tuan, awas kalau ketemu wanita cantik lalu lupa kalau sudah menikah" seru Celina.


Raffa tertawa, kemudian mencubit hidung gadis itu.


"Kenapa sampai sekarang masih memanggilku tuan ? apa kamu ini bawahanku ? iya benar juga, kadang-kadang kamu memang dibawah" ucap Raffa pura-pura serius.


Celina tertawa.


"Kebiasaan, jadi susah merubahnya" jawab Celina.


"Tapi aku iri pada Kevin, setiap kali kamu memanggilnya, terasa lebih mesra daripada kamu memanggilku" ucap Raffa serius.


"Benarkah, kalau begitu harus diganti seperti kak Kevin juga" tanya Celina.


"Tuh kan, enak dengarnya kak Kevin, kak Kevin" ucap Raffa mengulang.


"Kalau memanggilku, tuan.. ya tuan.. serasa bicara sama pembantu" ucap Raffa, pinggangnya langsung dicubit Celina.


"Panggil aku kakak" ucap Raffa akhirnya.


"Baiklah kakak.. kakak.. kakak.. kakak" ucap Celina berulang-ulang membuat Raffa tertawa.


Keesokan harinya, saat Celina memulai sarapannya seorang bule tampan datang mendekatinya.


"Boleh duduk disini ?" tanya bule itu.


Tentu saja permintaan itu membuat Celina bingung, sebentar lagi Raffa akan menyusulnya. Celina bingung cara menolaknya. Bule tampan itu langsung duduk.


"Jangan khawatir, aku cuma sebentar kok" ucapnya melihat kekhawatiran Celina.

__ADS_1


Sebentar namun tak cukup sebentar hingga akhirnya Raffa datang dan melihat posisinya diambil alih pria lain.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2