Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 41 ~ Menghilang ~


__ADS_3

Seharian terkurung digudang, kelelahan fisik dan batin membuat Ny. Rowenna dan Celina akhirnya tertidur. Namun baru sekejap memejamkan mata. Tiba-tiba pintu gudang terbuka, Jessica masuk diiringi beberapa orang preman.


Wanita itu dengan sombongnya berkata ingin membalas dendam terhadap Ny. Rowenna dan juga pada Celina yang telah merebut cinta Raffa darinya. Seorang laki-laki masuk membawa anak kecil, laki-laki itu membawa Tita bersamanya lalu menyerahkan anak itu pada Celina.


Celina menyambut Tita, tak ada sedikitpun rasa ragu untuk menerimanya. Celina yang terbiasa menyayangi anak-anak sejak masih tinggal di panti itu tak ragu untuk menyayanginya meski Tita adalah anak dari orang yang membencinya.


Laki-laki itu mendorong Tita ke hadapannya, gadis kecil itu jatuh di pangkuan Celina. Anak itu menangis namun Celina menenangkannya, memeluk dan membelai rambutnya. Anak yang menangis tersedu-sedu itupun memeluk Celina erat.


Celina menatap laki-laki yang mendorong Tita itu, berpikir seperti mengenalinya. Hingga akhirnya gadis itu mengingatnya. Ucapan-ucapan Jessica yang kejam pada Tita membuat Celina geram hingga akhirnya mengungkit jati diri laki-laki itu.


"Kamu Chicco bukan ? orang yang pernah menjadi tunangan seorang CEO wanita, Keira ?" tanya Celina.


Jessica terperangah tak percaya, menatap Chicco seolah-olah bertanya kebenarannya.


"Jadi ini kelakuan kalian ? yang pria mencari mangsa wanita-wanita kaya ? dan yang perempuan menjadikan pria kaya andalan hidupnya ? jangan-jangan selama ini kamu mengandalkan tuan Raffa untuk membiayai hidup laki-laki ini" tuduh Celina.


Jessica geram, kesal, wanita itu sendiri baru tau kalau Chicco pernah bertunangan dengan wanita lain. Akhirnya mereka bertengkar, Jessica kesal selama ini dimanfaatkan Chicco untuk menguras harta Raffa.


Sementara Chicco diam-diam mencari wanita lain yang kaya raya untuk kesenangannya sendiri.


Beruntung Keira akhirnya melarikan diri tepat dihari pernikahannya. CEO wanita itu telah memiliki firasat buruk tentang Chicco karena pernah melihatnya bersama wanita lain, yang tak ayal adalah Jessica.


"Dasar perempuan tidak tau diri, jadi selama ini kamu memanfaatkan anakku untuk biaya hidup mewahmu, sementara kamu menjalin hubungan dengan laki-laki lain" ucap Rowenna.


"Kamu juga menjadikan Raffa yang membiayai hidup laki-laki itu, pacarmu itu ?" tanya Rowenna dengan suara keras.


"Ya aku memang seperti itu dan sekarang aku ingin kalian mati kelaparan disini, merasakan bagaimana rasanya mati seperti gembel.


Sejak kamu mengusirku, aku terpaksa hidup di apartemen kecil yang sesak.


Kadang kami makan kadang kami lapar dan sekarang aku ingin kalian mati kelaparan disini.


Akan menjadi berita yang mengejutkan Rowenna Saltano mati karena kelaparan" ucap Jessica tertawa.


Ny. Rowenna kesal maju kedepan menampar wajah Jessica. Nyonya itu benar-benar tidak tahan dihina seperti itu. Jessica kalap, mendapat tamparan lagi, hari itu dia mendapat tamparan dari Ny. Rowenna ketika masih berstatus menantu keluarga itu.


Namun sekarang Jessica bukan menantunya lagi dan dia tidak terima diperlakukan seperti itu. Jessica mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang bisa dipakainya untuk menganiaya Ny. Rowenna.


Pandangannya tertuju pada pisau yang terselip disaku seorang preman yang merupakan teman mabuknya itu. Menyambar pisau dan langsung mengarahkannya pada Ny. Rowenna.


Celina yang melihat kejadian itu berusaha untuk mencegah. Celina ingin merebut pisau itu namun terlambat Jessica sudah mengayunkan pisau itu. Celina tidak punya pilihan lain, Celina hanya bisa menghalanginya dengan berdiri diantara Jessica dan Ny. Rowenna.


Jessica berhasil menusukan pisau itu, namun bukan pada Ny. Rowenna tapi pada Celina yang berdiri diantara mereka. Pisau itu terlanjur menancap diperut Celina. Jessica kaget, tersadar, tangannya telah menghujamkan pisau ke perut Celina. Menarik pisau itu dan memandang tangannya, lalu membuang pisau itu, Ny. Rowenna menjerit, Celina ambruk ke lantai.


Darah segar mengalir membasahi gaun pengantin Celina, dalam sekejap gaun putih itu telah didominasi warna merah. Ny. Rowenna menjerit, lalu merangkul gadis yang langsung terkulai lemah itu.


Celina terlentang menatap langit-langit gudang yang tinggi. Tangannya dipenuhi darah yang mengalir dari perut sebelah kirinya.


Celina menatap cahaya yang redup dari atas langit-langit gudang, gadis itu lemah seperti mati rasa, badannya terasa dingin. Celina tak mendengar apapun kecuali hanya suara dengungan.


Ny. Rowenna menangis disampingnya menjerit-jerit meminta tolong. Tita menangis menatap Celina yang semakin lemah. Jessica menatap Celina yang terkapar, wajahnya panik.


"Kenapa kamu menusuknya ?" ucap Chicco menyalahkan.


Sementara itu Kevin dan Raffa yang berkumpul dirumah Alyssa baru mendapat kabar dari aparat. Pihak kepolisian memberikan koordinat posisi mobil yang dicurigai telah membawa Celina dan Ny. Rowenna.


Tanpa menunggu aba-aba, Raffa dan Kevin langsung menuju ke tempat yang disebutkan. Sebuah gudang bekas pabrik yang sudah tidak terpakai di pinggir kota. Raffa memacu sedan sportnya dengan kecepatan tinggi. Tak peduli dengan apapun lagi, pikiran laki-laki itu hanya tertuju pada kedua wanita itu.


Dia tidak ingin terlambat, dia ingin segera menyelamatkan mereka. Bulir bening menitik di sudut mata Raffa, teringat saat dia menyelamatkan Celina dari gangguan berandalan-berandalan. Saat itu dia sama sekali tidak memikirkan keselamatannya dirinya sendiri. Satu-satunya yang diinginkannya hanyalah bisa melindungi gadis itu.


Raffa berharap kali ini masih diberi kesempatan untuk melindunginya lagi. Meski pikiran buruk merasuki otaknya, Raffa berharap detik ini Celina dan ibunya masih selamat.


Mereka memasuki lokasi dengan koordinat yang telah diberikan polisi. Melihat dua buah mobil yang berjejer sesuai dengan mobil yang diidentifikasikan sebagai mobil penculik Celina. Mereka langsung yakin, tanpa menunggu aba-aba. Mereka merangsak masuk ke dalam gudang. Mendengar ada yang datang para preman langsung bergegas keluar menyambut Raffa dan Kevin.


Suara pukulan dan tendangan mewarnai lokasi yang tadinya sepi. Jessica panik melihat Raffa dan Kevin yang melakukan perlawanan dengan membabi buta. Wanita itu langsung memutuskan melarikan diri. Dalam waktu sekejap para preman dapat dikalahkan.


Para preman jatuh pingsan dengan luka-luka memar dan patah. Kevin segera masuk, saat mendengar suara Ny. Rowenna yang menangis, menjerit meminta tolong. Raffa pun segera berlari kesana. Tertegun mendapati Celina yang terkapar bersimbah darah. Air matanya langsung mengalir.


"Apa yang kamu lakukan ? cepat tolong dia, bawa dia ke rumah sakit" jerit Rowenna menyadarkan kedua laki-laki itu.

__ADS_1


Tanpa melihat kondisi Celina lagi, Kevin segera menggendong Celina.


"Ayo Raffa, cepat" ucap Kevin


Raffa menatap ibunya, nyonya Rowenna mengangguk mengisyaratkan untuk segera membawa Celina dan membiarkannya tinggal bersama Tita. Raffa langsung berlari menuju mobil dan duduk dibalik kemudi. Melajukan mobil sekencang-kencangnya.


Tak berapa lama kemudian terlihat iringan mobil polisi masuk ke lokasi. Raffa lega, konsentrasinya langsung penuh menuju rumah sakit. Raffa melirik spion tengah melihat Kevin menangis memandang Celina.


Celina di kursi belakang dipangku oleh Kevin yang tak henti menahan lukanya dengan sapu tangan guna menutup sumber perdarahan agar Celina tidak kehilangan banyak darah.


Sekilas Raffa melihat ke belakang, air matanya tak berhenti mengalir, laki-laki itu mengusapnya dengan kasar, dia ingin Celina diberikan kesempatan, dia ingin diberikan kesempatan untuk menyelamatkannya lagi.


Kemungkinan korban luka tusuk untuk bertahan hidup sangat bergantung pada seberapa cepat korban dilarikan ke rumah sakit. Celina tak boleh terlalu banyak mengeluarkan darah.


Harus dipastikan korban luka tusuk dapat tiba di rumah sakit, paling tidak dalam waktu tiga puluh menit. Sebab, kalau tidak bisa menyebabkan terjadinya kematian jaringan di anggota tubuh terkait.


Kehilangan terlalu banyak darah dapat memicu terjadinya syok perdarahan. Ini adalah kondisi darurat di mana jantung tidak mampu memasok darah ke seluruh tubuh akibat kurangnya volume darah di dalam tubuh.


Raffa melirik Celina yang semakin terlihat pucat.


Bertahanlah Celina, kita akan segera sampai, aku akan berusaha semampuku menyelamatkanmu, batin Raffa.


Raffa terus mengusap air matanya, dia tak ingin dihalangi oleh air yang selalu muncul dipelupuk matanya, karena harus konsentrasi mengemudikan mobil. Secepatnya laki-laki itu memacu mobilnya, tujuannya agar segera sampai di rumah sakit.


Raffa menghentikan mobilnya tetap di pintu masuk Unit Gawat Darurat. Kevin langsung berlari menggendong Celina diikuti oleh Raffa. Beberapa orang tenaga medis dengan brankar langsung menyambut Kevin dan meletakkan Celina di brankar, berlari menuju ruang pemeriksaan, tak butuh waktu lama dokter langsung memutuskan untuk mengambil tindakan operasi. Celina langsung dibawa ke ruang operasi.


Sambil berjalan cepat mengiringi brankar, Raffa dan Kevin tak lepas-lepas memandang wajah Celina. Lagi-lagi mereka menghapus air matanya, tubuh dan hati mereka terasa letih. Namun Raffa dan Kevin, masing-masing tak mau membiarkan gadis itu seorang diri, mereka terus mengikuti kemanapun paramedis membawanya.


Seorang perawat mempersilahkan dokter bedah untuk memasuki ruang operasi.


"Silahkan tunggu disini" ucap perawat menghentikan langkah Kevin dan Raffa.


Dokter masuk kedalam ruangan yang berjarak sekitar sepuluh meter didepannya. Diiringi beberapa petugas medis yang menjadi anggota tim bedahnya.


Lampu indikator ruang operasi pun menyala. Pertanda tindakan bedah sudah dimulai. Tidak ada lagi yang bisa Kevin dan Raffa lakukan selain pasrah, berdoa dan menanti.


Mereka duduk menunggu dan mencoba menenangkan diri. Raffa tertunduk, menangis terisak. Berdua mereka merasakan kecemasan, berbagai pikiran buruk melintas dibenak mereka.


Bagaimana jika terlambat ?


Bagaimana jika Celina tak bisa bertahan ?


Itulah pertanyaan yang sering terlintas dalam benak mereka. Kevin teringat untuk menghubungi Alyssa, sementara Raffa menghubungi Keira. Mereka semua adalah orang-orang yang mengkhawatirkan Celina.


Tak berapa lama kemudian Alyssa dan kedua orang tuanya datang, serta Keira dan juga Ny. Rowenna. Semua orang yang kenal dekat dengan Celina datang ke rumah sakit. Mereka langsung menemui Kevin dan Raffa bertanya tentang keadaan gadis itu.


Raffa menunjuk ruangan dengan lampu indikator yang masih menyala. Semua berharap semoga gadis itu masih bisa bertahan, berharap masih memiliki kesempatan.


"Mommy, bagaimana keadaan mommy ? aku pesankan ruang rawat untuk mommy ?" tanya Raffa mengkhawatirkan ibunya.


"Mommy tidak apa-apa, justru mommy khawatirkan keadaan Celina" jawab Rowenna.


Hati Raffa terasa hangat mendengar ibunya mengkhawatirkan Celina, ibunya seperti tidak membenci gadis itu lagi.


Tapi apa gunanya ? aku tetap tak bisa bersamanya.


Apa yang kupikirkan ini ? harusnya aku bersyukur mommy tidak lagi membenci Celina meskipun kami tidak bisa bersama lagi, batin Raffa.


"Apa kamu melihat Jessica kemarin, apa mereka berhasil menangkapnya ? orang yang menusuk Celina adalah Jessica" tanya Rowenna.


"Apa ? Jessica dalang semua ini ?" ucap Kevin kaget.


Ny. Rowenna mengangguk, nyonya Rowenna menjelaskan pembicaraan Celina dan Jessica tentang seorang laki-laki yang ingin menikahi seorang CEO wanita namun gagal karena CEO itu melarikan diri tepat dihari pernikahannya.


"Mereka berdua adalah dalang penculik kami" jelas Rowenna.


"Siapa nyonya ? Chicco ? Kevin dia adalah mantan tunanganku yang kita temui di pulau. Apa kamu ingat" ucap Keira.


"Aku ingat, tapi tadi aku tidak melihatnya. Kami hanya menghadapi preman-preman itu" jelas Kevin.

__ADS_1


"Kalau begitu, mereka berhasil melarikan diri" ucap Rowenna kecewa.


"Jangan khawatir mom, kita akan laporkan ke polisi. Jati diri mereka telah diketahui, mommy jangan khawatir lagi" ucap Raffa.


Mama Alyssa menghampiri, memberikan pengertian pada Ny. Rowenna untuk tidak perlu mengkhawatirkan Jessica yang melarikan diri itu lagi. Ny. Rowenna harus memperhatikan kesehatannya, karena telah mengalami kejadian yang bisa menyebabkan trauma.


Ny. Rowenna akhirnya menurut, mau menerima perawatan. Sejak diculik Ny. Rowenna dan Celina sama sekali belum memasukan apapun kedalam perutnya. Tubuhnya lemah, tapi pikirannya tak bisa lepas dari keadaan Celina hingga nyonya itu tidak mempedulikan kesehatannya sendiri.


Lampu indikator telah padam, pertanda tindakan di ruang bedah telah selesai. Dan pasien akan dipindahkan ke ruang pemulihan. Tanpa terasa lebih dari tiga jam lampu itu menyala dan selama itu pula Celina menjalani tindakan bedah.


Tim dokter bedah keluar dari pintu ruang operasi, Kevin, Raffa dan yang lainnya langsung menanyakan keadaan Celina.


"Operasi berjalan dengan lancar, namun kondisi pasien masih belum stabil" ucap dokter.


"Sangat disayangkan pasien dengan luka tusuk atau vulnus punctum ini mengalami pendarahan hebat.


Semua itu dikarenakan senjata yang berfungsi sebagai penahan pendarahan sementara telah dicabut paksa oleh pelaku.


Jika benda tersebut diangkat, tanpa tindakan yang tepat, pendarahan hebat dapat terjadi karena tak ada lagi penahan darah. Hal ini menimbulkan perdarahan sehingga berisiko tinggi untuk terkena infeksi lebih lanjut" jelas dokter.


Semua yang mendengar panik dan sedih, meski operasi berjalan dengan lancar namun kondisi Celina masih mengkhawatirkan.


"Apa kami bisa melihat Celina sekarang dokter ? " tanya mama Alyssa.


"Belum bisa bu, karena saat ini pasien akan dipindahkan ke dalam ruangan transisi. Di sana kondisi fisik pasien akan terus dipantau.


Jika tidak mengalami komplikasi apapun setelah operasi, dan jika kondisi pasien terus membaik, maka tim medis akan memindahkannya ke ruang perawatan.


Disana ibu bisa menjenguk pasien" ucap dokter itu menjelaskan.


Mama Alyssa mengangguk, semuanya kembali merasa tegang. Sebelum tim medis memutuskan untuk memindahkan ke ruang perawatan berarti kondisi Celina masih belum membaik.


Dokter pamit meninggalkan keluarga pasien, sebagian dari orang yang menunggui Celina pun kembali duduk dengan wajah murung.


"Pa, ma, Alyssa kalian pulanglah. Istirahatlah dirumah lagian kasian Ozora ditinggal sendiri dirumah. Anak itu pasti merasa khawatir" ucap Kevin.


Raffa teringat pada putranya itu, laki-laki itu sangat merindukannya namun tak bisa menjangkaunya. Sejak hak asuh diserahkan pada Celina laki-laki itu membatasi diri bertemu dengan Ozora. Karena ibunya yang masih berusaha untuk merebut Ozora, Raffa tidak ingin kedekatannya dengan Ozora dimanfaatkan ibunya untuk kembali merebut Ozora.


Tita yang sekarang duduk sendiri, tak punya siapa-siapa yang peduli padanya. Celina yang terlihat menyayanginya justru saat ini sedang diambang bahaya. Anak itu menangis sendiri, gadis kecil itu tau diri. Dia bukanlah anak kandung Raffa hingga dia tak berani mendekatinya.


Raffa justru mendekati anak itu, memeluknya, bagaimanapun juga selama bertahun-tahun Tita telah menjadi anaknya.


"Tita mau nunggu tante Celina disini sama daddy ?" tanya Raffa yang tak bisa membawa Tita pulang karena akan menjadi pertanyaan bagi tuan Robby.


"Tita ikut sama tante aja ya, kumpul sama Ozora" usul Alyssa yang kasihan dengan nasib anak itu.


Alyssa melirik pada Raffa yang menatapnya, gadis itu merasa canggung karena telah lama tidak bertemu Raffa. Laki-laki itu berterima kasih pada Alyssa yang peduli pada Tita.


Mereka pun pulang tinggallah Raffa dan Kevin yang menunggu. Ozora dan Tita tidur di kamar Alyssa. Sementara gadis itu duduk dimeja kerjanya sambil menatap surat yang diletakkan Celina sebelum berangkat ke pernikahannya.


Alyssa yang tak peduli, akhirnya membuka lembaran surat itu. Dengan air matanya yang mengalir Alyssa mulai membaca surat yang tadi diabaikannya begitu saja.


Sahabatku Alyssa,


Hari ini adalah hari pernikahanku, aku mohon datanglah demi kak Kevin, hanya demi kakakmu.


Kak Kevin sangat mengharapkan restumu.


Silahkan membenciku, tidak apa-apa terus membenciku, aku memang pantas untuk itu.


Jika Alyssa datang hari ini, aku janji akan menghilang dari kehidupanmu.


Aku tidak akan muncul lagi dihadapanmu.


Alyssa, maafkan aku.


( Celina )


"Tidak.. tidak.. kamu tidak boleh seperti ini, kamu tidak boleh pergi seperti ini. Aku akan menyesal seumur hidupku, aku akan merasa bersalah seumur hidupku. Jangan pergi seperti ini, aku mohon"

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2