
Ny. Rowenna tak bisa memejamkan matanya karena memikirkan kemiripan antara Ozora dan Raffa. Hati dan pikirannya bertarung, keluarga Saltano tidak mungkin memiliki hubungan apapun dengan orang-orang kalangan bawah.
Sementara hatinya memaksa untuk mencoba menerima segala kemungkinan, bahwa Raffa memiliki putra diluar pernikahannya. Mengingat betapa liarnya kehidupan Raffa sebelum menikah dengan Jessica.
Bergaul dengan eksekutif-eksekutif muda yang memiliki gaya hidup berfoya-foya dan bersenang-senang dengan banyak wanita, menghambur-hamburkan kekayaan mereka yang tak habis-habis bahkan justru bertambah.
Sekuat tenaga Ny. Rowenna menyangkal kemungkinan itu namun sebagian hatinya berharap itu sebuah kebenaran. Karena tak ada harapan bagi rumah tangga Raffa dan Jessica akan berjalan harmonis seperti yang diharapkannya. Mengharapkan hadirnya seorang cucu laki-laki dari pernikahan Raffa dan Jessica sepertinya adalah hal yang tidak mungkin.
Ny. Rowenna baru bisa tertidur menjelang subuh, membuatnya terlambat sarapan pagi. Disaat keluarga besarnya telah berkumpul di restoran hotel dengan nuansa alam terbuka itu.
Pandangan Ny. Rowenna mengitari para tamu undangan yang sedang menikmati sarapan mereka. Berkeliling menyapa, bersikap ramah dan loyal terhadap para sahabat dan kolega, membuat orang-orang penting didunia bisnis itu tak bisa mengabaikan kharisma Ny. Rowenna dalam menjalankan perusahaan meski sekarang kepemimpinan perusahaan telah beralih pada putranya.
Ramah dan sopan namun siap menerkam, sifat yang menurun kepada putranya itu, menjadikan Ny. Rowenna dan Raffa tidak akan membiarkan orang-orang mengalahkan mereka dalam segala bentuk persaingan.
Ny. Rowenna berjalan menuju meja besar dimana keluarganya berkumpul. Ozora berdiri untuk menarik kursi di sebelah tuan Robby, semua orang yang melihat tersenyum melihat tingkah Ozora yang berlaku seperti seorang gentleman.
Ny. Rowenna mengikuti permainan Ozora, duduk dikursi yang telah disiapkan anak itu. Ozora mengibaskan serbet sebanyak tiga kali kesamping belakang lalu menaruhnya dipangkuan Ny. Rowenna sambil tersenyum, lalu kembali ke kursinya. Mau tidak mau Ny. Rowenna tersenyum melihat tingkah Ozora.
"Aku tidak melihat Kevin dan keluarganya, apa kamu tidak mengundang mereka ?" tanya Ny. Rowenna memulai pembicaraan.
"Kevin tidak bisa datang karena sibuk mengurus perusahaannya yang baru di dirikan, sementara papanya meminta maaf tidak bisa hadir karena sedang medical check up rutin di Singapure" jawab Raffa.
"Kevin ada di Indonesia, mendirikan perusahaan baru ? kenapa tidak cerita padaku ?" tanya Jessica.
"Kenapa harus cerita padamu ?" jawab Raffa.
"Kamu selalu ketinggalan berita, Kevin menjadi CEO di sebuah perusahaan milik asing" ucap Ny. Rowenna pada Jessica.
"CEO perusahaan asing, wah dia memang hebat, bagaimana dia bisa sehebat itu" kagum Jessica.
"Kevin itu lulusan Stanford, Universitas kedua terbaik dunia, tentu saja dia mampu meraih jabatan itu" ucap Raffa.
"Kamu juga lulusan universitas terbaik, Yale University, aku tau itu karena Jodie Foster juga lulusan universitas itu, ah James Franco juga" ucap Jessica bangga.
"Pengetahuanmu luar biasa" sindir Raffa sambil bertepuk tangan.
Ozora hanya diam mendengar pembicaraan orang-orang dihadapannya. Anak itu menebak, orang yang mereka bicarakan adalah uncle Kevin-nya namun Ozora hanya diam mendengar.
"Bagaimana denganmu, sekolahmu ?" tanya Ny. Rowenna tiba-tiba pada Ozora.
"Untuk saat ini mama belum mengizinkan saya melanjutkan pendidikan nyonya, menurut mama saya masih terlalu kecil untuk memilih jurusan yang sesuai dengan passion saya" jawab Ozora.
"Jurusan ?" ucap Rowenna heran.
"Ya, tiga belas universitas terbaik dunia menawarkan saya untuk melanjutkan pendidikan disana, tapi mama belum mengizinkan" ucapnya santai sambil menyendok omelette kemulut kecilnya.
"Tiga belas universitas terbaik dunia, no way, that impossible" jerit Ny. Rowenna, Jessica bengong.
"Tentu saja possible nyonya, didunia ini banyak anak-anak yang bisa menempuh pendidikan di perguruan tinggi dalam usianya yang masih sangat muda.
Saya sering berhubungan dengan mereka.
Bahkan ada yang telah mendapat gelar sarjana diusia sepuluh tahun.
Dan ada kemungkinan akan tergeser posisinya sebagai sarjana termuda karena di beritakan seorang anak perempuan akan lulus universitas diusia sembilan tahun" jelas Ozora.
Jessica tak lagi bengong tapi terperangah, sementara raut wajah Ny. Rowenna seperti tak percaya.
"Dia masuk kuliah ketika berusia 8 tahun dan telah diatur untuk menyelesaikan program kuliah tiga tahun hanya dalam waktu 10 bulan. Anak-anak seperti itu dikenal dengan child prodigy atau anak ajaib yaitu anak yang punya kejeniusan lebih dari normal.
Kapasitas sistem penyerapan ilmu pada otak anak-anak seperti itu sangat tinggi, yang berarti bahwa semuanya berjalan lebih cepat dan kami adalah anak-anak yang dapat membahas lebih banyak materi dalam waktu yang singkat" jelas Ozora lagi.
"Apa ?" jerit Ny. Rowenna masih tak percaya.
"Itu bukan hal yang perlu diherankan nyonya ? ada remaja tujuh belas tahun yang tamat dari Harvard setelah lulus sebelas hari dari SMAnya
Ny. Rowenna semakin terperangah.
"Kamu juga seperti itu ?" tanya tuan Robby.
"Saya lebih mirip dengan seorang gadis Nigeria yang masih berusia lima belas tahun saat memilih kuliah di Havard University.
Dia juga diterima di tiga belas universitas ternama di dunia, termasuk universitas nomor satu terbaik dunia Massachusetts Institute of Technology atau MIT"
"Stanford, Havard, Yale, saya akan semakin bingung jika memilih unversitas karena selebriti Jodie Foster yang lulusan Yale, atau Natalie Portman yang lulusan Havard" jelas Ozora sambil tertawa.
"Oh my God, Natalie Portman lulusan Havard University ?" jerit Jessica.
__ADS_1
"Ya nyonya, cantik dan cerdas" sahut Ozora pada Jessica.
Perlahan namun pasti Ozora mendominasi pembicaraan keluarga kaya itu. Perlahan namun pasti juga satu persatu keluarga Saltano mengagumi Ozora. Raffa meninju pelan bahu Ozora menunjukkan kekagumannya pada bocah tampan itu.
"Lalu kenapa tidak mencoba menerima universitas-universitas itu, dengan usiamu sekarang ini kamu bisa melompat dari satu universitas ke universitas lain" ujar tuan Robby yang ternyata bisa bercanda.
"Mama meminta saya untuk memilih dengan pasti jurusan yang sesuai passion saya, beliau kurang suka dengan ungkapan mencoba-coba, saya juga ingin seperti beliau, bekerja dengan bahagia" ungkap Ozora.
Semua tercenung, berbicara dengan Ozora sama seperti berbicara dengan pria dewasa yang matang dalam pemikiran dan wawasan.
Namun seperti halnya anak-anak lain, Ozora juga anak yang ingin dimanja, dan tentu saja hanya bisa dirasakan bersama orang-orang yang memanjakannya.
"Aku sangat kagum dengan ibumu, aku rasa kecerdasanmu berasal darinya" ucap tuan Robby.
"Mmm.. mama diterima disebuah universitas dengan beasiswa penuh. Setiap pengunjung yang bertanya padanya, apa yang menyebabkan seorang anak menjadi cerdas ? beliau akan menjawab kecerdasan anak dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan.
Pengunjung akan langsung percaya karena saya tumbuh dilingkungan yang penuh dengan informasi dan ilmu pengetahuan" jawab Ozora.
Tuan Robby mengangguk-angguk. Secara genetik Ozora lahir dari orang tua yang cerdas, secara lingkungan sudah jelas, Ozora bahkan mengenal buku sejak masih bayi dua bulan.
Siangnya mereka isi dengan berjalan-jalan menikmati wisata alam pulau itu. Tita dan Ozora terlihat sangat bahagia, mereka menjadi sangat akrab. Ozora memberikan penjelasan dari tempat-tempat yang mereka kunjungi dari apa yang dibacanya.
Seperti biasa, tanpa mempedulikan Jessica, Raffa hanya sibuk dengan kedua anak itu. Ny. Rowenna dan Tn. Robby juga tidak lagi mempermasalahkan keberadaan Ozora.
Seperti sengaja menghindariku, bisik hati Jessica kesal.
Saat mendapati Raffa, Ozora dan Tita tak terlihat disekitar hotel.
Saat makan siang mereka kembali berkumpul, kali ini suasananya lebih santai. Tanpa sadar Ny. Rowenna selalu memperhatikan tingkah laku Ozora.
Sikap nyonya kaya itu semakin terbuka pada Ozora. Kekagumannya terhadap kecerdasannya, membuat nyonya yang selalu memilih orang untuk dijadikan teman, tak lagi mempermasalahkan Ozora berasal dari masyarakat kalangan apapun.
Ozora memberikan gelas minuman pada Ny. Rowenna yang sedang bersantai dipinggir kolam, sementara Jessica dan putrinya berenang dengan riang.
Nyonya kaya itu menerima minuman itu dengan heran.
"Kamu tau minuman kesukaanku ?" tanya Rowenna.
"Saya melihat nyonya memesan minuman itu beberapa kali" jawab Ozora sambil duduk dikursi panjang yang masih kosong.
Ny. Rowenna tersenyum, sambil mengangguk.
"Nggak nyonya, saya ada rencana dengan tuan Raffa pergi ke sauna" ucapnya.
Ozora masih memanggil tuan untuk panggilan Raffa karena menurutnya, Ny. Rowenna tidak begitu suka dia memanggil sebutan papa pada Raffa.
Ny. Rowenna menelan ludahnya.
"Panggil saya grandma, sama seperti Tita memanggilku" ucapnya lalu memalingkan wajahnya melirik pada suaminya yang tertidur dikursi panjang disebelahnya.
Ozora tersenyum.
"Baik grandma" ucap Ozora singkat.
"Lihatlah pasangan itu, mereka mesra sekali, mungkin pasangan bulan madu" ucap Rowenna sambil menunjuk pada sepasang kekasih berkebangsaan asing sedang berendam di kolam.
Ny. Rowenna seperti seorang yang ingin mencari bahan pembicaraan dengan Ozora. Seperti ingin mengakrabkan diri dengan anak genius itu. Ozora tersenyum menyambut pembicaraan yang sama sekali tidak mencerminkan pribadi Ny. Rowenna.
"Mereka bukan pasangan bulan madu nyonya, mm.. maaf grandma, mereka adalah atasan dan sekretarisnya" jelas Ozora.
Ny. Rowenna kaget hingga terperangah.
"Bagaimana kamu bisa tau ?" tanya Rowenna penasaran.
"Mereka duduk dibelakang kursi saya saat sarapan kemarin" jawab Ozora.
"Kamu mengerti apa yang mereka bicarakan ? mereka itu wisatawan asing" ucap Rowenna setengah percaya.
"Mereka dari Jerman, sang wanita sudah lama ingin berlibur kesini. Mereka baru mendapat kesempatan karena istri sang atasan baru masuk rehabilitasi karena kecanduan alkohol" jelas Ozora.
"Apa ? benarkah seperti itu ?" tanya Rowenna ragu.
Kepercayaan Ny. Rowenna semakin menipis, Ozora menyadari itu.
"Saya akan meminta bapak itu untuk menemui grandma dan memberikan kartu namanya" ucap Ozora lalu beranjak dari tempat itu.
"Tunggu Ozora, aduh.. apa yang harus kukatakan ?" panggil Rowenna mencegah Ozora menemui wisatawan itu.
__ADS_1
Namun sudah terlambat, Ozora sudah melangkah menemui wisatawan itu. Ozora berbicara padanya, wisatawan itu melihat kearah Ny. Rowenna, mengangguk dengan semangat. Tak berapa lama kemudian wisatawan itu keluar dari kolam lalu melangkah menuju Ny. Rowenna.
"Waduh, bagaimana ini ? urusan apa aku harus menemuinya ?" ucap Rowenna sendirian.
"Ada apa sayang ?" tanya tuan Robby yang melihat kepanikan istrinya.
"Itu, Ozora dia.. dia bicara.. bicara.." ucap Rowenna terputus.
Wisatawan itu telah berada dihadapannya, Ny. Rowenna tersenyum, Tn. Robby merasa heran. Wisatawan itu bicara langsung kepada Ny. Rowenna, sambil tersenyum Ny. Rowenna menatap Ozora. Spontan Ozora menerjemahkan perkataan wisatawan itu.
Ny. Rowenna tertawa tersipu, saat Ozora menerjemahkan ucapan wisatawan itu yang terkejut saat mengetahui pemilik perusahaan yang terkenal hingga ke negaranya itu seorang wanita yang mempesona dan terlihat awet muda.
Tuan Robby mengkerutkan dahinya, tidak mengerti apa yang terjadi. Seperti yang dijanjikan Ozora, wisatawan itu memberikan kartu namanya. Berharap suatu saat bisa menjalin kerjasama dengan perusahaannya.
Ny. Rowenna menerima kartu nama itu, wisatawan itu menjabat tangan Ny. Rowenna. Lalu mengucapkan sesuatu pada Tn. Robby dan Ozora, kemudian berlalu dari tempat itu kembali pada wanita yang menunggunya di kolam.
Ny. Rowenna menarik nafas lega lalu menatap pada Ozora. Bocah pintar itu tersenyum sambil rebah di kursi panjang. Ny. Rowenna mendekat lalu menggelitik pinggang Ozora, anak laki-laki tampan itu tertawa. Melihat adegan itu kerut kening Tn. Robby semakin bertambah.
"Grandma, grandpa, Ozora" teriak Tita melambaikan tangannya, menyapa kakek dan neneknya.
Ny. Rowenna berhenti menggelitik Ozora, lalu membalas lambaian tangan cucunya, Tita.
"Tita tumbuh dengan sehat dan cerdas sesuatu yang perlu untuk disyukuri" ucap Ozora menatap gadis kecil yang lebih tua tiga bulan darinya itu.
"Kami menjaganya dengan sangat baik" jawab Rowenna kembali melambaikan tangannya.
"Tentu saja, keluarga grandma memiliki segalanya untuk menangkal resiko kelahiran prematur" ucap Ozora.
"Kamu tau Tita lahir prematur ?" tanya Rowenna heran.
"Saya pernah membaca beritanya di internet. Saya biasa mencari informasi dan latar belakang anak-anak yang akan saya temani" ucap Ozora lagi.
"Oh ya, memang masuk berita waktu itu, seseorang mencelakainya hingga harus lahir sebelum waktunya" lanjut Rowenna.
"Studi mengindikasikan bahwa anak yang lahir prematur, memiliki risiko mengalami gangguan belajar saat usia sekolah. Biasanya mengalami gangguan menggunakan bahasa, kesulitan memusatkan perhatian, dan juga kelemahan pada kecerdasan visual motorik serta visual spasial" jelas Ozora.
Ny. Rowenna bingung dengan ucapan Ozora.
"Prematuritas juga dapat menyebabkan masalah bagi bayi sepanjang hidup mereka. Semakin cepat bayi dilahirkan, semakin besar kemungkinan memiliki masalah kesehatan dan perkembangan" ujar Ozora lagi.
"Penelitian di sebuah Universitas di London menemukan bahwa anak-anak yang lahir prematur memiliki skor tes IQ, keterampilan motorik, membaca dan mengeja yang rendah.
Penelitian melibatkan anak-anak pada usia tiga, lima dan tujuh tahun. Hasilnya, anak-anak yang lahir prematur cenderung mendapatkan skor yang lebih buruk pada penilaian kognitif dibandingkan dengan bayi yang lahir pada usia kehamilan yang cukup" lanjut Ozora sambil tersenyum melambaikan tangannya pada Tita.
"Bayi prematur berisiko mengalami keterlambatan tumbuh kembang karena beberapa organ tubuh belum berkembang sempurna dan belum berfungsi dengan baik ketika dilahirkan, organ-organ penting seperti paru-paru dan jantung belum berfungsi optimal. Hal ini membuat bayi prematur rentan mengalami masalah pernapasan dan kadang memerlukan alat bantu napas" lanjutnya lagi.
"Namun melihat Tita yang sehat dan cerdas, sama sekali tak terlihat seperti anak yang dulunya lahir prematur. Semua tentu berkat asupan gizi yang cukup serta pengawasan yang ekstra ketat keluarga Saltano terhadap Tita saat masih bayi" ucap Ozora akhirnya.
Pengawasan yang ekstra ketat ?
Hah, Jessica justru lebih sering bertemu dengan teman-temannya dibanding dengan bayinya.
Asupan gizi yang cukup ? saat bayi, anak itu hampir saja mati gara-gara demam dan dehidrasi, namun sekarang sama sekali tidak ada masalah ?
Anak itu seperti anak-anak yang dilahirkan dengan umur kehamilan yang cukup ?
Apa jangan-jangan Tita memang lahir normal ?
Jessica telah hamil sebelum mereka menikah ?
Tapi kapan mereka bertemu, bukankah Jessica telah lama pergi keluar negeri ?
Begitu banyak pertanyaan terlintas di benak Ny. Rowenna sehingga tak sadar Ozora yang memanggilnya.
"Grandma saya pergi dulu ya, papa eh.. tuan Raffa sudah memanggil saya" ucap Ozora sambil menunjuk pada Raffa yang telah menunggunya.
"Ok... baiklah... have fun" jawab Rowenna, masih sambil berpikir-pikir.
Ny. Rowenna menatap Ozora yang melangkah menuju Raffa yang telah menunggunya, lalu beralih menatap Tita yang ditemani ibunya berenang di kolam renang.
Apa mungkin Tita bukan putri kandung Raffa ?
Adakah hubungannya dengan sikap Raffa yang tak peduli pada Jessica ?
Mungkinkah Raffa tau kalau Tita bukan putri kandungnya ? batin Rowenna.
Aku harus menyelidikinya, kalau perlu melakukan tes DNA, batin Rowenna.
__ADS_1
Ny. Rowenna mulai meragukan kebenaran status Tita.
...~ Bersambung ~...