
Nazolla memeluk boneka yang diberi Celina dengan mata terpejam. Celina diam membiarkan gadis kecil itu memeluk boneka pemberiannya. Celina menunduk menghapus setitik bening yang muncul di sudut matanya. Gadis kecil itu membuka matanya dan tersenyum, Celina pun membalas senyuman itu. Nazolla memeluk Celina dan mencium pipi wanita baik hati itu.
Dokter Dino tertunduk sambil tersenyum, hatinya telah mantap. Sambil menggenggam surat wasiat dari mendiang istrinya, laki-laki itu melangkah menuju Celina. Namun, tiba-tiba seorang pria tampan mendatangi Celina. Laki-laki itu terlihat begitu akrab dengannya dan Celina pun menyambutnya dengan hangat.
"Kak Kevin?" sapa Celina.
Langkah Dokter Dino terhenti, memandang keakraban Celina dan laki-laki tampan itu. Dokter Dino mundur dan menyimpan kembali surat yang tadi digenggamnya. Hatinya tiba-tiba terasa perih, sekarang laki-laki itu hanya ingin segera pergi dari tempat itu.
Beruntung Nazolla mencari ayahnya untuk memamerkan boneka cantiknya hingga Dokter Dino bisa mengajaknya pergi dari toko itu.
"Papa, Lala dikasih boneka sama Tante cantik itu. Tante itu bilang kalau boneka ini dikasih mama Lala yang udah jadi bidadari" cerita Lala saat berada di dalam mobil.
"Papa, cantik nggak bonekanya?" tanya Lala.
Dokter Dino diam, laki-laki itu hanya fokus mengemudi.
"Papa, kok diam aja? Lala tanya kok nggak dijawab?" tanya Lala.
Dokter Dino tersentak setelah mendengar suara Lala yang cukup keras. Laki-laki itu menoleh pada putrinya dan memintanya untuk mengulangi pertanyaannya. Lala merajuk tak mau membahas lagi. Dokter Dino menyesal, menyesal karena tidak mendengarkan ucapan anaknya namun lebih lagi menyesal karena tidak bisa menjadikan Celina sebagai ibu bagi anaknya.
Maafkan papa sayang, ini salah papa. Papa terlambat, dia telah memiliki seseorang sekarang, batin Dokter Dino.
Laki-laki itu menarik napas berat, penyesalannya benar-benar dalam. Laki-laki itu bahkan menitikkan air mata.
Maafkan aku Lily, maafkan papa Lala, jerit hati Dokter Dino.
Sejak itu Dokter Dino tidak pernah berani lagi untuk mengemukakan keinginannya untuk memperistri Celina. Semua keinginan itu tenggelam di dalam hatinya. Permintaan istrinya agar menjadikan Celina sebagai ibu bagi putrinya tak bisa terlaksana. Surat wasiat istrinya itu pun tenggelam di balik laci meja kerjanya.
Dokter Dino menyimpan perasaan itu selama lebih dari dua tahun hingga saat Dokter Dino diminta untuk membeli alat peraga kesehatan di toko buku itu. Rumah sakit di mana Dokter Dino praktik telah bekerjasama dengan toko buku Celina dalam menyediakan segala macam kebutuhan management rumah sakit.
Bertahun-tahun Dokter Dino tidak menginjakkan kakinya di toko Celina lagi. Namun, kali ini dia terpaksa datang ke toko buku yang menyimpan banyak kenangan baginya itu. Dokter Dino berusaha untuk menghindar dari Celina, bahkan berharap gadis itu tidak bekerja lagi di sana.
"Dokter Dino" sapa seseorang.
Dokter Dino menoleh, tanpa melihat pun dokter itu sebenarnya telah mengenali suara lembut itu. Jantungnya berdegup kencang. Laki-laki itu berusaha untuk tersenyum.
"Benarkan? Ini adalah Dokter Dino?" tanya Celina ingin memastikan.
Dokter Dino tersenyum.
"Apa kabar Celina?" tanya Dokter Dino berbasa-basi.
"Wah, sudah lama tidak terlihat dokter. Apa kabar" tanya Celina dengan ramah sambil mengulurkan tangannya.
Dokter Dino menyambut jabat tangan Celina dengan jantung yang berdebar-debar.
"Ada keperluan apa dokter datang ke sini. Mungkin saya bisa bantu?" tanya Celina.
Gadis itu sekarang telah menjabat sebagai supervisor, berbicara dengan senyum yang selalu mengembang membuat Dokter Dino terpesona.
"Dokter? Ada keperluan apa Dokter Dino datang kesini, apa saya bisa bantu?" tanya Celina sekali lagi.
Laki-laki itu tersadar dan langsung gelagapan menjawab.
"Mencarimu, eemm... maksudku ingin mengambil barang yang di pesan rumah sakit" ucap Dokter Dino.
"Oh, biasanya bagian management rumah sakit yang datang mengambil barang-barang pesanannya" ucap Celina
"Ya, kebetulan barang itu aku yang membutuhkannya" balas Dokter Dino.
Apa dia sudah menikah sekarang? Pasti sudah, gadis seperti dirinya tidak mungkin hidup sendiri, pasti banyak yang mengincarnya, batin Dokter Dino.
Celina ingin menanyakan pada karyawannya tentang pesanan Dokter Dino. Namun, langkahnya terhenti karena ucapan dokter itu.
"Saya kira, saya sudah dapat jawaban pertanyaan-pertanyaan menyangkut kelebihan yang dimiliki Ozora" ucap dokter neurology itu.
Dokter Dino menjelaskan asal usul kecerdasan yang dimiliki Ozora. Hal yang telah lama dia ketahui tapi terhalang untuk mengungkapkannya karena permintaan istrinya yang ingin menjodohkan mereka.
Membuat Dokter Dino merasa tidak nyaman bertemu dengan Celina. Namun, kali ini justru diagnosanya itulah yang menjadi alasan baginya untuk berbicara dengan Celina.
Kesempatan ini juga dipergunakannya untuk menjelaskan perihal kematian dan permintaan istrinya untuk mempersunting Celina. Dokter Dino berharap bisa menyampaikan pesan istrinya yang telah terpendam selama lebih dari dua tahun itu.
Namun, ekspresi Celina yang terkejut dengan diagnosanya terhadap Ozora membuat dokter itu surut mengungkapkan niatnya.
__ADS_1
"Cedera otak?" seru Celina saat itu.
Penjelasan Dokter Dino yang menyinggung soal cedera otak yang diakibatkan karena tercekik itu justru membuat Celina panik. Celina hingga terhuyung, syok mendengar penjelasan itu membuat Dokter Dino urung mengutarakan maksudnya. Keinginannya untuk menjadikan Celina sebagai ibu untuk anaknya pun pupus.
Kembali dokter itu mundur dari niatnya, hingga suatu ketika Lala bertanya padanya.
"Papa" ucap Lala ragu-ragu.
"Ada apa, sayang?" tanya Dokter Dino.
Lala tertunduk, gadis itu terlihat ragu menanyakannya.
"Ada apa? putri cantik papa ingin bertanya apa?" tanya Dokter Dino.
"Ibu-ibu di sekolah bertanya siapa ibu Lala? Lala bilang mama sudah menjadi bidadari di surga. Ibu-ibu itu nanya kenapa tidak cari ibu baru? Ibu itu bilang dia mau jadi mama Lala tapi Lala nggak mau karena ibu itu pemarah, Lala nggak suka. Papa, Lala bilang ada orang yang mau jadi mama Lala. Ibu itu bertanya siapa namanya? Lala harus jawab apa?" tanya Lala.
Dokter Dino tercenung sebenarnya dengan cepat dia bisa menjawabnya. Nama seseorang yang telah mengisi hatinya beberapa tahun belakangan ini. Tapi kenyataannya masih sulit diwujudkan. Sementara Lala ingin sebuah jawaban.
"Celina, nama orang yang akan menjadi mama Lala adalah Celina" ucap Dokter Dino akhirnya.
Lala tersenyum, entah dia mengenal orangnya atau hanya karena bisa mendapatkan sebuah nama, gadis kecil itu merasa sangat senang. Setiap kali ada yang bertanya siapa nama ibunya dia akan menjawab 'Celina'.
Tanpa disadari Dokter Dino, putrinya selalu menyimpan nama itu dihatinya. Hingga akhirnya gadis kecil itu benar-benar bertemu dengan Celina. Dia yang telah lupa pernah bertemu dengan Celina di toko buku bahkan memberinya sebuah boneka.
Sementara Celina yang banyak bertemu dengan anak-anak tak menyadari kalau gadis kecil yang sedang memilih shampo itu adalah anak yang pernah dihiburnya dengan sebuah boneka buatan anak panti asuhannya.
"Kenalkan nama Tante adalah Celina, gadis cantik ini namanya Lala ya?" sapa Celina.
Mendengar nama itu disebut, Lala langsung menatap Celina dengan pandangan yang sedih. Nama yang selama ini selalu disimpannya di hati tanpa tahu siapa orangnya. Lala begitu senang, nama itu didengarnya dari mulut seorang wanita baik dan cantik. Orang yang selalu ditunggu-tunggunya ada di depan matanya. Lala tiba-tiba memeluk Celina.
"Mama" ucap Lala.
Lala tidak mau melepaskan pelukannya meski ayahnya membujuk, gadis kecil itu justru menangis. Celina yang tidak tega akhirnya membiarkan Lala memeluknya. Dengan lembut Celina membujuk Lala, menunjukkan kasih sayangnya pada gadis kecil itu. Hal yang memang biasa Celina lakukan pada anak-anak kecil.
Namun sikap itu justru membuat Lala semakin tidak bisa lepas darinya.
"Mama, mama" ucap Lala masih menangis.
"Pa, kita ajak mama pulang juga ya" ucap Lala yang sejak dulu telah terpatri nama Celina sebagai ibunya.
Dokter Dino akhirnya mencari alasan lain, laki-laki itu merasa malu di depan Celina karena putrinya mengakui Celina sebagai ibunya. Rasa malunya semakin menjadi saat Lala bersikukuh bahwa Dokter Dino sendiri yang mengatakan kalau Celina adalah ibunya.
Dokter Dino gelagapan dan panik hingga akhirnya membentak putrinya. Hal yang paling tidak disukai Celina, sikap Dokter Dino yang salah tingkah karena malu itu membuat Lala menangis.
"Jangan begitu dokter, tidak baik membentak anak" bela Celina dan langsung memeluk Lala kemudian mengecup puncak rambut gadis kecil itu.
Sejujurnya dalam hati dokter itu sangat senang Lala di bela oleh Celina. Hatinya senang melihat sikap Celina yang begitu menyayangi putrinya. Namun pertanyaan Celina membuatnya kembali gelagapan.
"Kenapa Lala berkata kalau mamanya bernama Celina?" tanya Celina saat itu.
Karena aku ingin kamu menjadi mamanya, karena aku ingin menikahimu, karena aku jatuh cinta padamu, jerit hati Dokter Dino.
Semua kata-kata itu tidak mungkin diucapkannya hingga Dokter Dino hanya bisa memberi alasan yang tidak relevan. Dokter Dino berkata karena Lala sangat menyukai Ozora dan ingin memiliki mama seperti mamanya Ozora.
Dokter Dino diam sementara Lala hanya menatap Celina lamat-lamat. Gadis kecil itu tetap memanggil Celina dengan panggilan mama dengan wajah yang basah karena air mata. Celina tidak tega dan akhirnya pasrah membiarkan gadis kecil itu memanggil mama padanya.
Celina yang teringat harus segera pulang untuk mengurus anaknya dan ingin pamit pada gadis kecil itu
"Baiklah kalau gitu sekarang mama pulang dulu ya" ucap Celina kemudian berdiri tapi Lala memegang tangan Celina sambil menggelengkan kepalanya.
Dokter Dino langsung mengajak Lala mengambil barang belanjaannya.
"Ya, kita pulang sama mama tapi kita ambil belanjaan Lala tadi ya" bujuk Dokter Dino.
Lala setuju dan segera berlari ke tempat anak itu menaruh belanjaannya. Dokter Dino berhasil mengalihkan perhatian Lala dari Celina. Laki-laki itu memandang Celina dengan sayu lalu meminta Celina untuk pulang.
Celina pun akhirnya pergi sementara Dokter Dino segera menemui putrinya. Mengalihkan perhatian Lala dan membuatnya lupa pada Celina. Namun, tetap saja saat gadis itu teringat, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari wanita yang disayanginya itu.
Air mata gadis itu kembali mengalir, Lala menunduk, dia tahu kalau Celina telah pergi. Dokter Dino berlaku seolah-olah tak pernah bertemu Celina. Setelah membayar semua barang belanjaannya. Laki-laki itu mengajak Lala unboxing belanjaan mereka dan membahasnya.
Kadang-kadang gadis kecil itu terpancing namun kadang-kadang kembali mengingat Celina. Setiap kali teringat ekspresi wajah sedih Lala, Dokter Dino menangis seorang diri.
"Maaf, apa ibu Celina ada di tempat?" tanya Dokter Dino pada seorang pelayan toko.
__ADS_1
Setelah tiga bulan berlalu Dokter Dino akhirnya menguatkan hati untuk menemui Celina. Laki-laki itu ingin menuntaskan perasaannya yang tak mungkin lagi mendapat kesempatan.
Celina telah menikah dan bahkan telah melahirkan anak keduanya. Dokter Dino bahkan membantu memeriksa kesehatan putri dari wanita yang dicintainya itu. Dokter Dino tidak bisa menggantung perasaannya sendiri karena itu sangat melelahkannya.
"Dokter Dino? Silakan duduk" sapa Celina saat melihat Dokter Dino datang.
Ada perasaan takut jika Dokter Dino menemukan fakta yang buruk pada putrinya. Celina begitu cemas saat melihat Dokter Dino khusus mendatanginya.
"Apa ada sesuatu yang buruk terjadi pada putri saya?" tanya Celina.
"Tidak Celina, ini tidak ada sangkut pautnya dengan Aurora. Putrimu dalam keadaan baik-baik saja, tidak ditemukan sesuatu yang buruk padanya" ucap Dokter Dino.
Celina mengelus dadanya, kadang gadis itu merasa khawatir untuk meninggalkan putrinya di rumah, namun karena tugas dan kewajibannya di toko membuat dia harus mulai masuk kerja.
"Maaf dokter tapi ada keperluan apa dokter menemui saya?" tanya Celina.
Dokter Dino mengeluarkan sepucuk surat yang telah lama disimpannya. Surat yang telah bolak balik dibawa untuk diberikan pada Celina.
"Itu adalah surat yang ditulis Lily sebelum dia meninggal. Surat ini ditujukan untukmu tapi saya belum sempat memberikannya" ucap Dokter Dino sambil menatap surat yang telah diletakkannya dihadapan Celina.
Meski merasa heran namun akhirnya Celina mengambil surat dihadapannya itu. Membukanya perlahan sambil mengira-ngira apa isinya. Celina membaca surat itu dengan ekspresi yang sedih bahkan menitikkan air mata.
Selama membaca surat itu ingatannya melayang pada sosok Lily yang baik, cantik dan murah senyum. Selama bergaul dengannya, Lily telah menganggap Celina sebagai teman karibnya bukan seorang pelanggan yang harus dilayani seperti seorang raja.
Beberapa kali Celina mengusap matanya untuk menghapus air menggenang yang hendak tumpah dari mata yang indah itu. Selama Celina membaca Dokter Dino hanya bisa memandang wajah gadis itu dengan perasaan yang perih.
"Tapi dokter, anda tentu tahu saya tidak bisa memenuhi permintaan mbak Lily karena saya telah...,"
"Saya tahu, saya tidak menuntutmu untuk memenuhi permintaan itu karena saya telah terlambat menyerahkan surat itu padamu. Mungkin ini memang sudah menjadi takdir kami" ucap Dokter Dino sambil menghela napas berat.
Celina tidak perlu lagi menjelaskan statusnya karena Dokter Dino tahu kalau Celina telah menikah dan beberapa kali bertemu dengan suaminya. Celina tertunduk, gadis itu bingung untuk menanggapi ucapan Dokter Dino.
"Dokter, surat ini tidaklah terlambat. Karena meski belum menikah pun, permintaan dalam surat ini tetap tidak bisa saya penuhi" ucap Celina.
Dokter Dino tertunduk, dari ucapannya Celina menunjukkan meski saat itu dirinya belum bersuami, Celina tetap tidak bisa memenuhi permintaan mendiang istrinya. Hening sejenak namun kemudian Celina kembali mengungkapkan isi hatinya yang mengganjal.
"Apa dokter tahu kenapa surat ini bisa terlambat sampai ke tangan saya? Itu karena dokter masih belum bisa melepaskan mbak Lily dari dalam hati dokter. Hingga akhirnya dokter menunda untuk menyampaikannya pada saya" ucap Celina.
Dokter Dino diam mendengar ucapan Celina.
"Sama halnya seperti saya yang tidak bisa melepaskan ayah Ozora dari hati saya. Meskipun saat itu kami belum menikah tapi dia sudah menetap di hati saya. Meski surat ini datang lebih cepat, saya tetap tidak bisa memenuhi permintaan mbak Lily, Dokter" ucap Celina.
Dokter Dino tersenyum melihat raut penyesalan yang terpancar dari wajah Celina. Namun, itu justru melegakan perasaannya. Ucapan Celina membuat perasaan menyesal menghilang dari dirinya karena selalu merasa terlambat menyerahkan surat wasiat istrinya.
Kata-kata Celina menunjukkan bahwa secepat apa pun dia menyerahkan surat itu, Celina tetap tidak bisa memenuhi permintaan Lily untuk menikah dengannya karena telah memiliki seseorang di hatinya.
"Baiklah, saya lega sekarang. Janji saya pada mendiang istri untuk menyerahkan surat itu telah saya penuhi. Sudah tidak ada lagi ganjalan di hati saya" ucap Dokter Dino sambil tersenyum.
Sesaat kemudian laki-laki itu berdiri hendak beranjak pergi.
"Oh ya, saya akan mencari peralatan kesehatan sebentar. Silakan lanjutkan pekerjaannya" ucap Dokter Dino sambil melangkah keluar dari kantor Celina.
"Saya antar dokter" ucap Celina sambil tertawa.
"Tidak perlu Manager yang melayani seorang pelanggan" ucap Dokter Dino tersenyum.
"Tapi ini pelanggan istimewa kalau tidak dilayani dengan baik, saya tidak mendapat pemeriksaan terbaik untuk putri saya" ucap Celina bercanda.
"Mana mungkin" ucap Dokter Dino juga ikut tertawa.
Celina mengantar Dokter Dino mencari alat-alat kesehatan yang diperlukannya. Sementara itu Raffa datang dan menanyakan istrinya.
"Ibu Celina ada di kantornya?" tanya Raffa pada seorang pelayan toko.
"Ada pak, saya antar bapak ke kantor ibuk?" ucap pelayan toko itu.
"Tidak usah, biar saya sendiri saja" ucap Raffa.
Laki-laki itu langsung mengetuk pintu dan masuk ke ruangan Celina. Namun, laki-laki itu tak mendapati istrinya di sana. Raffa hendak beranjak keluar ketika matanya tertumpu pada selembar kertas di atas meja kerja istrinya.
Raffa tertarik untuk melihat surat itu dan terkejut saat membaca isinya.
...~ Bersambung ~...
__ADS_1