Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 18 ~ Bertemu ~


__ADS_3

Ozora memperkenalkan diri dan menyalami Raffa. Raffa menyambut jabat tangan anak kecil yang tampan itu. Raffa berjongkok untuk mensejajarkan tinggi mereka. Raffa menatap wajah tampan yang tersenyum begitu manis.


Mata itu, tatapan itu, kenapa aku seperti mengenalnya ? merasa dekat dengannya ? batin Raffa.


Raffa terpaku hingga tak menyadari, Tita yang sudah memanggilnya bahkan hingga menggoyangkan tubuhnya. Raffa segera tersadar lalu tersenyum.


"Ternyata aslinya jauh lebih tampan" ucap Raffa menepuk pipi Ozora.


Anak laki-laki yang dipuji itu langsung mengucapkan terima kasih. Ozora tak lepas menatap lurus ke mata Raffa.


Raffa datang ke toko buku karena dibujuk Tita, putrinya. Karena teman-teman sekelas Tita telah berkenalan dengan Ozora, mereka sibuk membicarakan anak yang cerdas itu. Hanya Tita yang tidak tau apa-apa, karena itu Tita ngotot mengajak ayahnya ke toko buku yang telah terkenal itu.


Ozora selalu dapat memberikan arahan bakat dan minat anak-anak yang datang ke toko. Hanya dengan berbincang dengannya maka Ozora langsung dapat menebak kegemaran dan bakatnya.


Hal itu membuat Ozora disukai oleh anak-anak yang datang kesana. Toko buku yang telah berkembang sangat pesat itu menyediakan segala keperluan di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan.


Ozora bahkan sering memberikan praktek dalam bidang science yang menggunakan alat-alat peraga atau alat-alat laboratorium. Ozora yang bisa langsung mengerti apa yang dibutuhkan oleh para pelanggan akan langsung memberikan saran-saran.


"Tita pergi liat-liat sama Ozora ya dad" ucap Tita pada ayahnya.


"Ya baiklah, tolong jaga baik-baik putri om ya" pesan Raffa pada Ozora.


"Baik om Raffa" jawab Ozora.


Tangan Ozora langsung ditarik oleh Tita, Raffa menatap anak laki-laki yang melangkah menjauh itu. Seperti tau Raffa masih menatapnya, Ozora pun menoleh lalu tersenyum seakan-akan mengungkapkan kalau dia akan segera kembali.


Raffa tercenung hingga tak sadar seseorang menggenggam tangannya. Raffa menoleh lalu segera melepaskan genggaman dan menarik tangannya. Jessica mengerutkan mulutnya.


"Diakah anak yang terkenal itu ?" tanya Jessica berbasa basi.


Raffa diam, mengamati barang-barang yang dipajang, melihat-lihat hal-hal yang menarik dan berjalan kesana kemari tanpa mempedulikan Jessica, istrinya itu hanya bisa mengikutinya dari belakang.


"Disini membosankan, nggak ada yang menarik" ucap Jessica bicara sendiri.


"Tak ada yang mengajakmu kesini" ucap Raffa sambil mengamati kotak berisi pulpen dalam etalase.


"Aku ini seorang ibu yang baik, karena itu aku harus menemaninya kemanapun dia ingin pergi" jawab Jessica percaya diri.


"Ya... Ibu yang baik itu hampir membunuh bayinya sendiri" ucap Raffa sakartis.


"Kenapa selalu mengungkit kejadian itu ?" ucap Jessica kesal.


"Karena masih ada yang belum kapok" ucap Raffa sambil menjentikkan jari pada pelayan toko.


Menunjuk pada pulpen yang terselip dalam kotak kayu berwarna coklat muda. Pelayan menyerahkan kotak berisi pulpen itu, Raffa mengamati lalu mengangguk, pelayan membuatkan nota, menuliskan merk, lalu menyerahkan nota seharga tiga setengah juta itu pada Raffa.


Raffa melanjutkan kegiatannya melihat-lihat barang-barang yang tersedia di toko itu. Jessica mengikuti dengan tatapan mata yang tajam.


Masih teringat kejadian tengah malam itu, untuk pertama kalinya Raffa masuk ke kamarnya. Wanita yang masih pusing karena pengaruh alkohol itu tersenyum saat melihat suaminya menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya.


Tapi apa yang dilakukan Raffa, bukannya membalas senyuman istrinya, laki-laki itu justru menyeret Jessica ke luar kamar. Menariknya berjalan hingga ke teras. Jessica mengira Raffa akan mengusirnya, wanita itu berontak melepaskan diri dari genggaman tangan Raffa.


Tapi Raffa yang menggenggam tangannya dengan erat tetap memaksa wanita itu berjalan menuju teras lalu membanting Jessica ke lantai. Wanita yang mulai sadar dari mabuknya itu menatap Ny. Rowenna yang menunggu mobilnya sambil menggendong bayi.


"Mau kemana ? Tita mau dibawa kemana ?" tanya Jessica yang mulai tersadar dari mabuknya.


Lalu berdiri bertanya pada Raffa, laki-laki itu menatap dengan wajah merah.


"Kamu ingin bunuh anakmu lakukan diluar sana jangan dirumah ini" ucap Raffa dengan tatapan mata yang tajam.


Mobil tiba didepan teras, sopir membukakan pintu, Ny. Rowenna masuk begitu juga dengan Tn. Robby. Jessica nekat masuk kedalam mobil duduk dikursi penumpang disamping sopir. Mobil melaju, Jessica menatap bayinya yang diam dalam gendongan Ny. Rowenna.


Air matanya mengalir, wanita itu bertanya pada ibu mertuanya namun wanita setengah abad itu hanya memalingkan wajahnya. Tiba di rumah sakit, bayi itu langsung ditangani paramedis yang telah menunggu.


Dokter spesialis anak yang sekarang menjadi langganan keluarga itu langsung memeriksa keadaan bayi Jessica.


Menjelang subuh bayi itu akhirnya di pindahkan keruang rawat inap, bertanda kondisinya sudah mulai stabil.


Dokter menjelaskan jika demam dibarengi dengan dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh bisa sangat berbahaya bagi keselamatan anak.


Jessica tercenung, saat dilihat bayinya hanya diam tak mau menyusui mengira bahwa bayinya itu nyaman dalam tidurnya. Pergi menemui teman-temannya yang telah berkumpul menunggu di diskotik dan mabuk-mabukan bersama mereka.


Dokter menerangkan gejala-gejala yang muncul dari bayi itu seperti muntah-muntah, bibir kering, tidak mau menyusu, serta menangis tanpa keluar air mata itu adalah kondisi bayi yang mengalami demam yang dibarengi dehidrasi.


Ny. Rowenna menatap Jessica dengan pandangan tajam. Dirumah itu, satu-satunya orang yang tidak peduli pada bayinya justru ibu kandungnya sendiri. Sejak bayi itu lahir Ny. Rowenna selalu ketat menjaga kesehatan bayi itu, karena selalu menganggap bayi prematur itu lemah dan rentan terserang penyakit.


Ny. Rowenna akhirnya memutuskan untuk mengambil hak asuh terhadap anak itu, dan mengusir Jessica dari rumahnya. Namun Jessica memohon untuk diberi kesempatan memperbaiki kesalahannya.


Jessica tidak ingin berpisah dari Raffa karena reputasinya sebagai istri Raffa sangat penting baginya. Jessica juga tak ingin kehilangan fasilitas yang didapatkannya sebagai menantu satu-satunya keluarga itu.


Gaya hidupnya yang terlalu mewah membuatnya tak ingin melepas status sebagai istri Raffa. Meski laki-laki itu sama sekali tak menganggapnya sebagai istri, dan harus mencari kepuasan dari laki-laki lain, Jessica tidak peduli.


Raffa yang sudah kehilangan rasa cintanya pada Jessica sejak bertemu Celina. Tak peduli lagi dengan kedekatan Jessica dengan managernya. Bahkan sejak mereka menikah, Jessica dibiarkan melanjutkan hubungannya dengan laki-laki yang telah menghamilinya itu.

__ADS_1


Raffa tidak peduli, laki-laki itu telah kehilangan separuh jiwanya karena kehilangan satu-satunya gadis yang telah membuat hatinya tersentuh. Membiarkan kelakuan istrinya selama itu tidak menghalanginya mencari Celina.


Ny. Rowenna yang mengancam akan menghancurkan Celina dan panti asuhan tempat gadis itu dibesarkan. Tidak lagi bersikap terlalu keras, tidak lagi mengancam karena Raffa telah bersedia menikahi Jessica.


Namun sekarang nyonya yang terkenal keras hati itu sudah kehilangan kesabaran. Saat mengetahui cucu satu-satunya itu terancam keselamatannya, karena kelalaian menantunya yang memiliki kegemaran berfoya-foya, bersenang-senang dan bermabuk-mabukan.


Kegemaran yang tadinya di dukung oleh Ny. Rowenna karena menurutnya, hanya orang-orang yang mampu yang bisa berfoya-foya dan bersenang-senang, sekarang mendapat imbas dari dukungannya terhadap gaya hidup Jessica.


"Bercerailah, kami yang akan mengasuh Tita, ditangan kami, anak itu akan tumbuh dengan baik" ucap Ny. Rowenna pada Jessica yang sedang memandang bayi perempuan enam bulan itu.


Raffa yang duduk tertunduk di sofa sambil menyilangkan tangan di dada itu langsung menatap Jessica. Kata-kata yang ditunggu-tunggunya telah muncul, tinggal persetujuan wanita itu.


Ny. Rowenna telah membuka mulut, jika komisaris perempuan itu telah membuat keputusan maka tidak ada satupun yang bisa mengubahnya.


Jessica tersentak


"TIDAK.. !!! aku tidak bersedia, karena memutuskan memilih Raffa, aku harus melepas Kevin, kamu harus bertanggung jawab terhadapku... seumur hidupku" ucap Jessica sambil menunjuk Raffa.


"Kalau kamu menyesal melepasnya kenapa tidak mencarinya ?" tanya Raffa.


"Karena aku adalah segala-galanya bagimu, itu kata-kata yang bisa kuingat keluar dari mulutmu" ucap Jessica sinis.


"Kalau kamu tidak selingkuh tentu saja itu bisa terjadi" ucap Raffa dengan tatapan yang tajam.


"APA ? SELINGKUH ? CUKUP... aku tidak bisa mentolerir kelakuanmu lagi, pengacara kami akan segera menemuimu, kamu harus menandatangani surat perceraian itu" teriak Ny. Rowenna.


Ny. Rowenna berjalan hilir mudik karena kesal, wanita setengah abad lebih itu sudah merasa ada yang tidak beres dengan pernikahan anaknya.


Penolakan Raffa saat diminta menikahi Jessica. Tidur dikamar terpisah yang masih mereka jalani selama setahun ini. Sudah cukup meyakinkan Ny. Rowenna untuk memutuskan, membiarkan mereka bercerai.


"NGGAK... AKU NGGAK MAU" teriak Jessica yang tak rela melepas Raffa hidup bahagia dengan wanita lain.


Jessica bertindak nekat, membawa bayinya lari. Raffa yang tak peduli Jessica membawa bayinya hanya diam duduk melihat.


"Kejar, ayo cepat kejar dia" ucap Ny. Rowenna panik.


"Bukankah mommy ingin dia pergi, ya sudah biarkan saja" ucap Raffa santai lalu berdiri hendak pergi dari rumah sakit itu.


"Tapi dia membawa Tita, cucuku" teriak Ny. Rowenna kesal melihat sikap Raffa yang tidak peduli.


"Tita itu bukan..."


"Pak tolong ikut kami... Nyonya Jessica ada di rooftop, mengancam akan terjun bersama bayinya" ucap seorang perawat laki-laki dengan nafas tersengal.


"APA ?" jerit Ny. Rowenna.


"Tadi saya sempat menanyakan keadaan bayinya karena nyonya itu terlihat menangis. Karena tidak menjawab jadi saya ikuti, ternyata nyonya itu ingin ke rooftop saat saya tanya dia bilang tak ingin diceraikan oleh suaminya Raffa Saltano karena itu saya langsung menemui tuan Raffa" cerita perawat itu sambil melihat nomor lampu lantai yang menyala.


"Mudah-mudahan masih keburu, mudah-mudahan belum melompat" ucap perawat itu lagi.


"Apa-apaan kamu ini, omongan macam apa itu" teriak Ny. Rowenna panik dan gusar.


Raffa memandang perawat yang kaget dibentak Ny. Rowenna.


"Terima kasih telah mengabari kami" ucap Raffa tulus pada perawat itu.


Perawat itu kembali terlihat tenang, namun sudah tidak berani mengucapkan kata-kata apapun lagi. Lift terbuka mereka berlari ke tempat yang dituju. Terlihat Jessica menggendong bayinya berdiri di pinggir rooftop sambil menangis.


Raffa meminta Jessica menjauh dari situ.


"Kamu pikir aku ingin hidup seperti ini ? menjalani pernikahan seperti ini ? aku... aku... aku tau, aku ini orang yang selalu salah memilih, selalu salah mengambil keputusan.. aku bahkan tidak tau apa yang sebenarnya kuinginkan" ucapnya masih menangis.


Tubuh Jessica gemetar, gadis yang dimanja oleh keluarga Cartwright itu sebenarnya takut ketinggian. Hanya kenekatan yang membuatnya berdiri disitu.


"Tak ada yang peduli padaku, aku hanya hidup untuk menjalani perintah... saat aku sadar apa yang kuinginkan telah pergi, aku merasa kosong. Hanya menjalani apa yang menurutku bisa menghapus penyesalan-penyesalan itu dari kepalaku" jelas Jessica.


"Kamu ini bicara apa Jessica ?" teriak Ny. Rowenna.


"Aku rasa aku tau" ucap Raffa lalu tertawa kecil.


"Tidak ada yang memaksamu memilihku" ucap Raffa lebih keras.


"Keluargaku yang menginginkanmu, keluargaku memilihmu karena kamu terlalu pintar mengambil hati mereka" teriak Jessica membalas ucapan Raffa.


"Sekarang semuanya sudah terlanjur, aku tidak akan menceraikanmu... aku ingin, kamu hidup terpenjara sama sepertiku, Ny. Rowenna hanya bisa memisahkan aku dengan putranya jika aku mati.. ha..ha..ha.." ucap Jessica tertawa keras.


"Anak ini sudah gila" ucap Ny. Rowenna.


"Batalkan keputusanmu Ny. Rowenna atau berita-berita akan menyiarkan menantu dan cucu keluarga Saltano mati bunuh diri.. ha..ha..ha.." teriak Jessica.


Ny. Rowenna panik, melihat menantunya berbuat nekat seperti itu, gadis itu terlihat seperti orang gila tertawa sendiri, menangis lalu tertawa sendiri.


"Baiklah, aku akan membatalkan keputusanku. Asalkan kamu juga berjanji akan menjaga anakmu dengan baik" ucap Ny. Rowenna pasrah.

__ADS_1


"Ingat nyonya, aku akan melakukan ini setiap kali nyonya ingin mengeluarkanku dari daftar anggota keluargamu" ucapnya lalu kembali tertawa.


Jessica turun dari pinggir rooftop, disambut oleh perawat yang langsung menyuntikan obat bius sebagai penenang, untuk mengantisipasi keadaan, melihat wanita itu yang terus tertawa.


Ozora dan Tita telah berada disamping Raffa, laki-laki itu kaget karena Tita meminta izin untuk membeli sesuatu.


"Boleh sayang, ambil apa saja yang kamu mau" jawab Raffa pada Tita.


Laki-laki itu merasa agak sedikit aneh, biasanya Tita akan mengambil apapun tanpa seizinnya. Raffa berpikir Ozora-lah yang mengajari Tita untuk meminta izin terlebih dahulu sebelum mengambil barang-barang yang diinginkannya.


"Ozora kalau ingin sesuatu ambil saja, masukan saja dalam tagihan om" ucap Raffa pada Ozora.


"Terima kasih om, tapi nggak usah" jawab Ozora.


Anak-anak itu kembali pergi melihat barang-barang yang Tita inginkan.


"Jangan-jangan dia putra pemilik toko ini, kenapa harus menawarinya ?" tanya Jessica.


"Dia hanyalah anak dari karyawan toko ini" jawab Raffa singkat.


"Ow.. anak seorang karyawan toko ? lalu kenapa bisa begitu pintar" tanya Jessica.


"Karena dia suka membaca"


"Apa enaknya membaca ?"


"Lalu apa enaknya belanja" jawab Raffa membalas Jessica.


"Belanja itu menyenangkan" jawab Jessica


Raffa tak bernafsu membalas ucapan Jessica, Raffa menatap ke atas, terlihat Ozora dan Tita yang sedang menaiki tangga menuju lantai tiga.


Tita menggandeng tangan Ozora menaiki tangga sambil tertawa. Tita berdiri didekat rak yang berisi buku-buku, mengikuti Ozora yang memandang seorang wanita. Wanita itu sedang berbincang tentang sebuah buku yang dipegangnya.


Setelah orang yang berbincang dengannya itu pergi barulah Ozora mendatangi, wanita itu tersenyum pada Ozora.


"Mama kenalkan ini Tita, Tita ini mama Ozora" ucap Ozora memperkenalkan Tita.


"Halo Tita, senang berkenalan denganmu, kamu cantik sekali, dengan siapa datang kesini ?" tanya Celina sambil menjulurkan tangannya.


"Terima kasih tante, tante juga cantik, Tita datang kesini bersama mommy dan daddy" ucapnya sambil menyambut tangan Celina.


"Tita suka toko ini ? apa Tita dapat apa yang Tita mau ?" tanya Celina lagi.


"Ya tante, disini barangnya bagus-bagus" jawab Tita.


"Apa masih ada yang mau Tita cari ?" tanya Celina.


"Ya tante, kalau gitu kami pergi dulu ya" ucap Tita.


"Baiklah, senang berkenalan dengan Tita" ucap Celina membelai lembut rambut gadis kecil itu.


Tita dan Ozora kembali berkeliling mencari apa yang Tita inginkan. Tatapan Celina mengiringi langkah kedua anak itu, senyumnya tak lepas memandangi anak-anak yang cantik dan tampan itu. Hingga matanya terpaku pada sosok yang dikenalnya.


Celina terbelalak melihat seorang laki-laki yang berjalan santai sambil memasukan tangannya kedalam saku celana. Celina bersembunyi dibalik dinding. Dadanya berdegup kencang, sangat jelas terlihat dari lantai atas ini, Raffa yang sedang berjalan di lantai bawah sana.


Lima tahun tak melihatnya, sekarang, kenapa bisa berada disini ? bisik hati Celina.


Celina menatap laki-laki itu dari balik lemari buku, terlihat laki-laki itu tersenyum menyambut. Seorang gadis kecil menghambur dalam pelukannya. Diikuti Ozora yang membawakan keranjang belanjaan gadis kecil itu.


Celina membekap mulutnya dengan kedua tangannya.


Tita adalah putri mereka, Tita adalah putri tuan Raffa dan Jessica, jerit hati Celina.


Dadanya terasa sesak, melihat laki-laki itu menggandeng putrinya, sementara Ozora berjalan disampingnya. Ozora mengantar mereka menuju kasir, tak berapa lama kemudian mereka pergi.


Celina tersandar di lemari.


Sampai kapan ini akan berakhir ?


Sampai kapan aku harus terikat masa lalu.


Aku ingin ini berakhir, aku tidak ingin takut lagi bertemu dengannya.


Dia sudah melupakanku, dia telah bahagia bersama keluarganya.


Aku harus memikirkan kebahagiaanku, kebahagiaan putraku, jerit hati Celina.


Celina turun dari lantai tiga mencari putra kesayangannya lalu memeluk anak laki-laki itu erat.


"Kita pulang sekarang ? " tanya Celina yang dibalas anggukan oleh Ozora.


Shift kerja Celina telah habis, Celina mengajak Ozora berpamitan dengan karyawan toko dengan melambaikan tangannya. Memasuki area parkir, Ozora membukakan pintu mobil untuk ibunya.

__ADS_1


Mereka melaju keluar dari area parkir toko untuk pulang. Ozora menatap tuan Raffa yang baru saja menata belanjaan di bagasi mobilnya. Melambaikan tangan saat laki-laki itu melihatnya. Raffa membalas lambaian tangan Ozora.


...~ Bersambung ~...


__ADS_2