Anak Genius - Beyond Recollection

Anak Genius - Beyond Recollection
BAB 36 ~ Mendapatkan Kembali ~


__ADS_3

Usaha Ny. Rowenna untuk mendapatkan hak asuh Ozora memang tidak tanggung-tanggung. Komisaris wanita itu bahkan mencari orang-orang dari masa lalu Celina untuk mendukung kesaksiannya.


Maura yang tetap menjadi wanita penghibur di club malam itu tiba-tiba didatangi seorang laki-laki berpakaian jas hitam. Tentu saja gadis materialistis itu langsung menghampiri, namun Maura justru diajak bertemu dengan seorang wanita setengah abad lebih yang masih terlihat cantik.


"Ada keperluan apa nyonya ingin bertemu saya" tanya Maura sambil mengagumi interior mobil mewah itu.


"Kamu masih ingat dengan Celina ?" tanya Rowenna.


"Tentu, dia temanku dulu saat di kampus juga di night club. Memangnya ada apa nyonya ?" tanya Maura.


"Aku ingin kamu membantuku" ucap Rowenna.


"Apa yang bisa ku bantu ? Aku sendiri sudah lama tidak bertemu dengannya.


Sejak malam yang heboh itu, dimana saat itu adalah rekor pengunjung terbanyak di night club, mereka berlomba menawar keperawanan Celina hingga harganya menjulang fantastis, tapi ternyata dia justru sudah berhenti bekerja.


Pengunjung-pengunjung itu jadi marah padaku karena Celina tak bisa ditemukan sementara mereka sudah bela-belain menyediakan uang untuk membeli keperawanan Celina, mereka justru melampiaskan kekesalannya padaku.


Eh... saat bertemu di kampus Celina justru marah-marah dan bahkan ingin menampar ku.. huh.. dasar tidak tau terima kasih.


Harganya aku bikin naik malah marah-marah" ucap Maura.


Ny. Rowenna memperhatikan gadis didepannya itu, sebenarnya nyonya kaya itu sama sekali tidak mau berurusan dengan orang kelas bawah seperti itu. Tapi demi tujuannya Ny. Rowenna terpaksa berpura-pura ramah pada orang sekelas Maura.


Perfect, gadis ini bisa jadi penolong ku, kebenciannya pada Celina bisa ku gunakan untuk melawannya, batin Rowenna.


"Nyonya !!! dari tadi saya bicara, memang nya ada urusan apa, waktu saya habis percuma karena nyonya, time ia money nyonya" ucap Maura.


"Uang tidak masalah, aku bisa memberimu lebih banyak apabila kamu mau membantuku" ucap Rowenna mulai menjalankan rencananya.


Maura menampilkan wajah heran sekaligus antusias, segala sesuatu yang bisa menghasilkan uang bagi gadis itu adalah penting.


"Kamu bisa memberikan kesaksian yang memberatkan Celina agar dia tidak bisa mendapatkan hak asuh atas cucuku" ujar Rowenna.


"Haaa... Celina punya anak ? dia cucu anda nyonya ?" tanya Maura.


"Ya, itu dulu karena sebuah accident tapi justru hamil dan diam-diam memiliki cucu saya" ujar Rowenna.


Maura kaget setengah mati, tanpa diketahuinya sama sekali Celina ternyata telah memiliki seorang anak. Sepengetahuannya Celina tidak masuk kuliah lagi saat memasuki semester lima.


Maura yang akhirnya memutuskan untuk drop out dari kampus memang tidak mengetahui kabar tentang Celina lagi. Begitu juga saat Celina kembali melanjutkan kuliahnya hingga akhirnya di wisuda dengan predikat Summa Cumlaude, yang berarti “With Highest Praise” atau dengan kehormatan tertinggi dengan IPK 3.9.


"Apa yang harus saya lakukan ? kesaksian bagaimana ?" tanya Maura penasaran.


"Kamu harus bersaksi bahwa selama menjadi pelayan di night club gadis itu sengaja melelang keperawanannya seperti yang dihebohkan waktu itu dan berhasil mendapatkan pelanggan dengan penawaran tertinggi" ucap Rowenna.


"Baiklah lalu bagaimana ? setelah keperawanan laku tentulah tidak perawan lagi ? bagaimana ceritanya apa Celina langsung pergi atau bagamana ? soalnya saya dengar dia menghilang beberapa hari, bagaimana kalau dibilang di pergi untuk melayani laki-laki yang berhasil mendapatkan keperawanannya itu" ucap Maura menambahkan ide busuknya.


"Bagus kamu bisa diandalkan, tenang saja jika kamu berhasil meyakinkan hakim untuk menetapkan putraku sebagai pemegang hak asuh, aku akan menambah tips untuk mu" ucap Rowenna.


"Benar nyonya ? baiklah aku akan datang ke pengadilan dengan baju terbaikku yang anggun yang bisa mempesona laki-laki di gedung pengadilan itu" ucap Maura langsung berangan-angan.


"Jangan ! justru kamu harus mengenakan pakaianmu yang paling norak dan seksi, aku ingin menampilkan image gadis itu perempuan murah bukan wanita penghibur kelas atas" ucap Rowenna.


Maura bersungut-sungut tapi akhirnya mengikuti kemauan Ny. Rowenna. Gadis itu juga ditugaskan mencari orang-orang yang bisa diajak kerja sama untuk mendukung kesaksiannya.


Tiba waktunya persidangan, Celina sangat terkejut saat melihat Maura, orang yang telah lama tidak bertemu tiba-tiba muncul dihadapannya.


"Maura apa yang kamu lakukan disini ?" tanya Celina heran bercampur panik.


Celina mendapat firasat buruk atas kemunculan gadis itu.


"Aku ingin memberikan kesaksian atas perebutan hak asuh anakmu" jawab Maura jujur.


"Siapa yang menyuruhmu ? kesaksian apa yang akan kamu ungkapkan ?" tanya Celina semakin panik.


"Bahwa kamu pernah melelang keperawananmu dan menghilang selama beberapa hari untuk melayani pelangganmu" ucapnya santai.


"Kamu tau itu tidak benar, saya tidak pernah melakukan itu, kenapa kamu memberikan kesaksian seperti itu ?" ucap Celina dengan mata yang berkaca-kaca.


"Benar atau tidaknya aku tidak tau, bisa jadi kamu benar-benar menerima tawaran itu tapi kamu tidak ingin ketahuan olehku, kamu ingin bermain sendiri, huh.. siapa yang tau ?" ucap Maura.


"Tega kamu Maura, aku tidak seperti itu, aku tidak melakukan itu" jerit Celina semakin panik.

__ADS_1


"Mana aku tau, beritanya telah heboh dan kamu digosipkan menghilang, bisa jadikan kamu pergi untuk melayani laki-laki itu kan ?" ucap Maura sambil memperhatikan kukunya.


"Kamu benar-benar jahat, kamu tidak boleh melakukan itu, aku bisa kehilangan anakku. Maura ingatlah kita pernah berteman baik" ucap Celina.


Gadis itu tak tahan dengan sikap Maura, Celina mulai menangis.


"YA..! aku memang jahat, kenapa aku harus memikirkan masalahmu, bukankah kamu sendiri yang bilang kalau kamu tidak punya teman sepertiku ?" ucap Maura dengan suara tinggi.


Celina tertunduk, gadis itu menangis. Saat itu Celina benar-benar membenci Maura karena gosip yang disebarkannya, Celina setiap hari harus menghadapi laki-laki yang kurang ajar padanya hingga akhirnya muncul Raffa yang menculik dan memperkosanya.


Celina duduk diruang sidang mendengarkan semua kesaksian. Yang bahkan berasal dari orang-orang yang tidak dikenalnya, menyebutkan Celina dan Kevin adalah pasangan yang hidup bersama tanpa ikatan pernikahan.


Celina membantah sebisa mungkin namun gadis itu tak bisa memberikan bukti bantahan karena menyangkut nama baik Raffa.


Semua kesaksian menyudutkan Celina sebagai seorang ibu yang tidak patut dicontoh dan bisa membawa pengaruh buruk pada perkembangan mental anaknya.


Celina menangis, Raffa hanya bisa menatap gadis itu dengan perasaan iba. Raffa tau Celina tidak bisa menceritakan semua kejadian sebenarnya demi menjaga nama baiknya.


Akhirnya keputusan pun dibacakan.


Berdasarkan pertimbangan yang ada, berdasarkan dalil-dalil dan bukti-bukti fakta yang dipenuhi pihak pemohon maka majelis hakim yang menangani perkara ini berpendapat bahwa hak asuh patut diberikan kepada


penggugat sebagai ayah biologisnya.


"Tidak.. tidak.. saya tidak terima, itu bohong, saya tidak terima. Ozora adalah anak saya" jerit Celina.


Celina tidak tahan mendengar hasil keputusan hakim. Gadis itu menangis sejadi-jadinya. Raffa menatap gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca. Tidak tahan melihat kesedihan Celina, Raffa maju untuk menyampaikan keberatannya.


"Saya juga tidak terima keputusan ini, saya selaku ayah biologisnya menyatakan tidak sanggup mengasuh Ozora, dan saya memutuskan untuk menyerahkan kembali hak asuh anak kepada ibunya, Celina" ucap Raffa tegas.


Semua orang yang menghadiri sidang tertegun. Celina tercenung, tidak menyangka Raffa akan menentang ibunya dan justru berbalik membelanya.


"Celina adalah ibu yang baik bagi Ozora, tidak ada yang lebih pantas membesarkan anak itu selain Celina.


Saya berterima kasih karena diberikan kepercayaan untuk mengasuh anak saya sendiri.


Tapi saya merasa tidak percaya diri untuk bisa menjadi ayah baik untuk Ozora, karena saya sendiri bukanlah orang yang bersih.


Banyak keburukan dalam diri saya dan saya tau persis apa yang dituduh kepada Celina semua hanyalah rekayasa.


"Jika memang seperti itu, tuan harus memberikan pernyataan secara tertulis dan disahkan dengan beberapa orang saksi" ucap hakim.


Raffa mengangguk dengan pasti, laki-laki itu tersenyum lalu tertunduk. Raffa tau apa yang dilakukannya ini akan membuat ibunya murka. Raffa tidak ingin memandang wajah ibunya saat ini. Laki-laki itu akan menerima konsekuensi dari ibunya nanti.


Celina menatap Raffa dengan haru, gadis itu sangat ingin memeluknya untuk berterima kasih. Kevin merasa kagum akan keberanian Raffa menentang ibunya dan dalam mengambil keputusan itu.


Celina membasuh wajahnya yang penuh air mata ditoilet gedung pengadilan. Gadis itu tersenyum menatap cermin, sebentar lagi dia akan segera bertemu dengan putranya. Rasa rindunya sudah tidak tertahankan lagi.


Menepuk air dingin ke wajahnya dengan tersenyum, gadis itu tidak ingin ada sisa air mata diwajahnya. Setelah puas tersenyum di cermin gadis itu hendak keluar menemui Kevin yang sedia menunggunya.


Terdengar bunyi tamparan, langkah Celina terhenti, gadis itu kaget, urung melangkah keluar toilet, bunyinya sangat keras membuat jantung gadis itu seperti berhenti berdetak.


"Tega kamu mempermalukan aku, kamu tau bagaimana usahaku untuk mendapatkan hak asuh itu ?


Aku benar-benar tidak percaya bisa mendapat perlawanan dari anakku sendiri.


Kenapa ? kenapa kamu tidak mengikuti keinginanku padahal semua ini demi kebaikan kita, demi kebaikan kamu yang juga sangat menyayangi Ozora" teriak Rowenna.


"Aku tidak ingin karena rasa sayangku, membuat orang-orang yang kusayangi menderita.


Bagiku kebahagiaan Celina dan Ozora adalah yang terpenting diatas kebahagiaaku sendiri" ucap Raffa tertunduk dengan mata yang berkaca-kaca.


"Dasar bodoh.. bodoh.. bodoh" jerit Rowenna sambil memukuli dada putranya.


Celina menahan tangis, menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Perkataan Raffa membuat hatinya terharu bercampur sedih. Ditempat lain Kevin tersandar mendengar percakapan ibu dan anak itu saat ingin menyusul Celina ke toilet.


Keputusan hakim telah ditetapkan, Ozora kembali dalam pengasuhan Celina. Ozora akan kembali berkumpul dengannya, tidak ada yang akan memisahkan mereka lagi. Jika Ny. Rowenna nekat mencekal mereka maka Ny. Rowenna bisa dituntut dengan pasal perlindungan anak.


Kevin menggandeng tangan Celina sambil tersenyum, setelah mendapat dokumen pengesahan, mereka berjalan meninggalkan gedung pengadilan. Senyum bahagia mereka berbanding terbalik dengan wajah sedih Raffa. Laki-laki itu hanya bisa memandang gadis yang dicintainya melangkah bersama pria lain.


"Aku belum melihat Raffa, dimana dia ?


Setelah menandatangani dokumen pengesahan tadi dia tidak terlihat lagi?

__ADS_1


Kita harus berterima kasih padanya" ucap Kevin.


Celina hanya mengangkat bahu, gadis itu hanya tersenyum simpul. Celina sudah berterima kasih padanya meski hanya didalam hati. Beribu-ribu bahkan berjuta-juta terima kasih untuk pernyataan laki-laki itu. Untuk kelapangan hatinya dan untuk cintanya.


Mengingat itu raut wajah Celina kembali murung.


"Mama... " terdengar suara kecil yang sangat dikenalnya.


Terlihat Ozora berlari dari sebuah mobil sedan mewah langsung menghambur kedalam pelukan Celina. Gadis itu mengendong Ozora sambil menciumi wajah anaknya berkali-kali namun tak pernah puas.


Ozora tertawa geli, mendapat ciuman membabi-buta dari ibunya.


"Gantian dong" ucap Kevin yang langsung menyambar tubuh Ozora dari gendongan Celina.


Gadis itu merengut membuat Ozora tertawa melihat ekspresi ibunya. Kevin tak kalah serunya, melambungkan Ozora tinggi lalu menangkapnya. Ozora tertawa, Celina mengurut dada cemas namun ikut tertawa. Hanya Raffa yang menatap mereka dengan tatapan yang sedih.


Selama di perjalanan Celina tak lepas memeluk anaknya. Bercanda dan berbincang-bincang. Celina bahkan duduk dikursi tengah bersama Ozora.


"Selama ini Ozora nginap dimana sayang ?" tanya Celina penasaran.


"Di hotel sama grandma" jawab Ozora.


"Di hotel, cuma sama grandma ? trus ngapain aja di hotel ?" tanya Celina lebih penasaran lagi.


"Nggak sama grandma aja, tapi sama pengawalnya juga. Kalau grandma pergi, Ozora sama om pengawal, Ozora kadang-kadang diajak main ke taman hiburan" jawab anak tampan itu.


Celina memeluknya anaknya, tak terbayangkan jika hak asuh itu jatuh pada keluarga Saltano. Celina pasti tidak bisa menikmati senyum dan suara kecil Ozora lagi.


"Grandma bilang Ozora akan tinggal dirumah grandma, tapi nggak jadi ya ma ?


Grandma sedih waktu Ozora pulang, grandma tanya apa Ozora suka tinggal disana sama mereka" cerita Ozora.


"Trus Ozora jawab apa nak ?" tanya Celina.


"Ozora bilang suka, trus grandma nanya, apa Ozora mau tinggal disitu ? Ozora bilang mau tapi sama mama" jawab Ozora.


Celina hanya tersenyum, sekarang Ozora telah tau kalau Keluarga Saltano adalah keluarganya juga, dan Raffa adalah ayahnya. Kevin mendengar percakapan mereka dengan perasaan yang tidak karuan. Ozora jelas-jelas ingin berkumpul dengan keluarga Saltano dan juga ibunya.


Mereka kembali ke toko, sementara Kevin kembali ke kantornya. Celina kembali menjalani hari-harinya bekerja di toko buku. Ozora kembali menyambut pengunjung yang datang. Anak itu akan langsung mengajak anak-anak yang berkunjung menikmati mainan edukasi baru mereka.


Sementara itu di kediaman keluarga Saltano, Ny. Rowenna duduk termenung di meja kerjanya. Sebentar-sebentar terdengar bunyi barang-barang yang pecah. Kepala pengurus rumah tangga keluarga Saltano terpaksa standby di depan pintu ruang kerja komisaris wanita itu.


Ny. Rowenna berjalan menuju ruang tengah, melangkah mondar-mandir diruangan yang sangat luas itu.


Apa yang harus kulakukan sekarang, kenapa pikiranku jadi buntu, batin Rowenna.


Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di teras, Jessica turun sambil membawa barang-barang belanjaannya. Melewati ruang tengah tanpa melihat kanan kiri langsung menaiki tangga menuju kamar tidurnya.


"JESSICA ! ! !" teriak Rowenna.


Jessica berhenti melangkah, lalu memandang kearah Ny. Rowenna.


"Kalau ada yang ingin mommy bicarakan, nanti saja mom, aku ingin istirahat dulu" ucap Jessica kembali menaiki tangga.


"CUKUP ! ! ! , aku sudah muak melihatmu, sekarang juga kemasi barang-barangmu dan pergi dari rumah ini" lanjut Rowenna.


"Ada apa ini ? kenapa tiba-tiba mommy uring-uringan seperti ini" tanya Jessica.


"Aku ingin kamu pergi dari rumah ini, sekarang juga !!!" teriak Rowenna.


Jessica turun dari lantai atas, memandang Ny. Rowenna dengan wajah heran, namun masih tersirat kesombongan disitu. Seakan-akan apa yang diucapkan Ny. Rowenna adalah sesuatu yang akan disesalinya nanti.


"Kenapa mommy seperti ini ? kenapa mengusirku dari sini ?" tanya Jessica.


"Aku tidak ingin kamu disini, kamu tidak ada gunanya bagiku, kamu dan keluargamu hanya benalu bagi keluargaku" ucap Rowenna.


Jessica berdiri dihadapan Ny. Rowenna seakan-akan menantang wanita tua yang masih cantik itu.


"Benalu ? mommy lupa, jika bukan tanpa pertolongan keluargaku perusahaan mommy itu sudah bangkrut" ucap Jessica.


"Aku tidak lupa, karena keluargamu selalu mengingatkan jasa mereka padaku, setiap kali mereka meminta bantuanku. Aku sudah membayarnya puluhan bahkan ratusan kali, aku sudah tidak ada hutang budi apapun lagi dengan keluargamu. Sekarang bawa anakmu, angkat kaki dari rumah ini" ucap Rowenna tegas.


"Kamu bahkan tidak bisa memberikan keturunan bagiku" ucap Rowenna memutuskan untuk mengusir Jessica.

__ADS_1


...~ Bersambung ~...


__ADS_2