
"Bayi siapa itu yang menangis ?" tanya bu Widya, sang Manager toko pada karyawannya.
"Mungkin bayi pelanggan bu ? " jawab karyawan toko itu.
"Tidak mungkin, Jika ada ibunya sudah pasti segera mendiamkannya" ujar bu Widya mencari arah suara.
Suara tangisan bayi terdengar ke seluruh ruangan ditoko bahkan para pengunjung pun heran, mereka saling memandang lalu mencari asal suara. Tak ada satupun diantara pengunjung yang membawa bayi.
Sejak bu Widya memegang jabatan sebagai Manager di toko ini, belum pernah ada pengunjung yang membawa bayi. Bu Widya dan beberapa pelayan toko mencari hingga kelantai dua.
"Sepertinya dari lantai tiga bu" ucap seorang pelayan toko.
Bu Widya langsung bergerak ke lantai tiga dan benar saja dari sudut ruangan yang luas itu terdengar jelas suara tangis bayi. Bu Widya langsung mendatangi. Namun apa yang dilihatnya sungguh membuatnya murka.
"PAK JERRY... APA YANG ANDA LAKUKAN" bentak bu Widya.
Terlihat Pak Jerry yang sedang berusaha menaklukkan Celina. Hati, pikiran dan pendengaran pak Jerry yang telah ditutupi oleh napsu membuat laki-laki itu tak mendengar tangisan bayi yang begitu keras.
Membuat laki-laki itu tidak peduli, tak menghentikan niatnya menaklukkan Celina. Celina yang meronta sekuat tenaga melindungi dirinya dari perlakuan pak Jerry, tak menyadari suara tangis bayinya telah membawa bu Widya ke lantai tiga dan menyaksikan perbuatan jahat pak Jerry.
Mendengar bentakan dari bu Widya barulah pak Jerry tersadar, segera melepaskan Celina dan berdiri tertunduk di depan bu Widya.
"Saya tidak akan mentolerir perbuatan yang merendahkan kaum perempuan, mulai sekarang anda saya pecat" bentak bu Widya dengan wajah penuh kemarahan.
Pak Jerry kaget, memohon pada Bu Widya memaafkan kekhilafannya. Laki-laki itu berjanji tidak akan mengulang perbuatan itu lagi. Namun Bu Widya adalah seorang yang tegas, wanita yang telah menjadi single parent diusia muda karena kematian suaminya itu tidak bisa dibujuk. Laki-laki itu langsung disuruh angkat kaki saat itu juga.
Celina yang merasa lega karena selamat dari niat jahat pak Jerry menangis bersimpuh dilantai. Gadis itu bersyukur suara tangisan Ozora menyelamatkan kehormatannya, namun sekarang harus dihadapkan pada permasalahan yang lain.
Bu Widya sekarang telah mengetahui Celina membawa bayi saat bekerja. Gadis itu meminta maaf atas perbuatannya yang diam-diam menyembunyikan bayinya di gudang di lantai tiga. Gadis itu memohon diberi kesempatan untuk tetap bekerja di toko buku itu.
Setelah berpikir keras akhirnya bu Widya memberikan kesempatan pada Celina untuk tetap bekerja di toko buku itu namun dengan beberapa pertimbangan.
Celina akan dipindahkan ke lantai tiga, dimana di lantai itu sepi pengunjung, di karenakan buku-bukunya adalah terbitan lama dan kurang peminat.
Mengurus semua buku-buku yang kebanyakan telah berdebu karena tidak ada karyawan yang bersedia ditempatkan disitu. Karyawan toko hanya sekedar mengantar pelanggan untuk mencari buku yang mereka inginkan jika kebetulan tersedia dilantai tiga, kemudian lantai itu akan kosong kembali.
"Kamu bersedia ditempatkan disini ? kamu mau bertanggung jawab terhadap semua yang ada dilantai tiga ini ?" tanya Bu Widya.
Celina memandang mengitari ruangan luas yang memajang banyak buku itu, dengan perasaan yang luar biasa senang. Ibu Widya memberikan kepercayaan padanya untuk menangani seluruh buku dilantai itu.
Gadis itu hingga menitikkan air mata haru saat bu Widya mengizinkan Celina membawa bayinya bekerja di lantai tiga itu. Celina sangat berterima kasih atas kebaikan dan kesempatan yang diberikan bu Widya kepadanya.
Celina berlari menghampiri Ozora dan menggendongnya.
"Bayimu sudah tertidur lagi ?" ucap bu Widya sambil menatap bayi digendongan Celina.
"Aneh, dia seperti bangun hanya untuk menolong ibunya lalu tertidur lagi, bayi mu telah menyelamatkanmu Celina" ucap bu Widya sambil tersenyum memandang wajah Ozora.
Ucapan bu Widya terdengar biasa namun membuat Celina tercenung. Celina menatap bayi yang tidur sambil tersenyum itu.
Bukan kali ini saja kamu menyelamatkanku nak, batin Celina.
Mengingat kembali saat Ozora bangun dari kematian sesaat setelah nafasnya berhenti. Bayi itu kembali bangun untuk menggagalkan Celina menjadi pembunuh bayinya sendiri.
Dan saat ini, bayi itu menangis sekeras-kerasnya saat kehormatan ibunya terancam. Celina mencium pipi bayinya sambil menitikkan air mata.
Sejak saat itu Celina lebih semangat bekerja. Datang lebih pagi, membawa Ozora, meletakkannya di gudang yang telah dibersihkan Celina sebelumnya. Lalu bergegas membersihkan semua buku-buku yang terpajang di rak yang berjajar rapi di lantai tiga itu.
Gadis itu juga membuat dekorasi dengan warna-warna yang menarik sebagai petunjuk masing-masing bidang ilmu buku-buku itu. Membuat ruangan itu menjadi lebih meriah dengan hiasan dan tulisan-tulisan yang menarik.
Gadis itu telah dipercaya untuk mengurus penjualan buku-buku terbitan lama itu. Celina bekerja dengan giat mengeluarkan ide-ide untuk melakukan promosi. Berbagai usaha dilakukannya.
Menaruh tulisan discount 50% untuk semua buku dilantai tiga dengan tulisan yang menarik dan memberikan katalog yang berisi daftar buku berikut resensinya tepat di tangga naik.
Perlahan, satu, dua pelanggan naik ke lantai tiga, mengamati suasana toko yang lebih meriah dari yang mereka bayangkan. Lama-lama mereka tertarik membeli beberapa buku berkat cara Celina yang pandai menerangkan isi buku tersebut.
Celina adalah gadis yang haus ilmu pengetahuan, semua buku sample di lantai itu telah habis dibacanya. Dan pengetahuannya itu digunakan untuk menarik perhatian pengunjung untuk memahami isi buku yang terdapat dilantai itu.
__ADS_1
Bahkan diantara pengunjung ada yang tertarik untuk kembali membeli buku-buku yang terdapat di lantai tiga itu. Namun disaat tak ada pengunjung, gadis itu menyempatkan mengajari putranya membaca meski awalnya hanya dengan melihat gambar-gambar yang ada dibuku.
Celina melihat seorang ibu muda yang sedang hamil berusaha naik tangga, gadis itu langsung membantu. Pelanggan itu ingin mencari buku yang pernah dimilikinya dulu namun sekarang telah hilang.
Menceritakan isi buku yang dicarinya pada Celina karena ibu itu sendiri lupa apa judul bukunya. Celina mencari beberapa buku yang isinya sama seperti yang dimaksud ibu muda itu. Celina meminta ibu itu untuk memilih buku yang dimaksud.
Ibu muda yang terlihat lelah karena kehamilannya yang telah besar itu dipersilahkan duduk oleh Celina di sebuah meja pendek besar bekas tempat memajang buku-buku.
Ibu itu mengamati Ozora yang dibiarkan merangkak diatas meja besar itu.
"Bayi siapa ini, bayimu kah ?" tanya ibu itu tertarik melihat tingkah Ozora yang terlihat serius memandang buku didepannya.
"Benar bu, bayi saya" jawab Celina.
Bayi Ozora yang telah berumur empat bulan itu, berceloteh sendiri sambil memandang buku yang ditaruh didepannya. Bayi yang telah bisa berguling dan tengkurap itu memukul-mukulkan tangannya ke buku yang terbentang dihadapannya.
Membuat ibu muda itu tertarik dan asyik memandangi Ozora. Hingga dia lupa memilih buku yang dibawakan Celina.
"Maaf sampai lupa, karena asyik memandanginya jadi lupa memilih buku" ucap ibu muda itu sambil tertawa.
Ibu itu mulai memilih buku yang diinginkannya, namun dia lupa yang mana buku yang pernah dimilikinya. Ibu itu menjejerkan diatas meja lalu sibuk berpikir. Ozora memukul salah satu buku itu. Ibu itu tertawa.
"Kamu ingin ibu pilih buku ini ?" ucapnya bercanda.
Kembali ibu itu bermain dengan Ozora mengganti posisi buku itu lalu meminta bayi itu memilih kembali, Ozora kembali memukul buku yang sama dengan tangan kecilnya. Ibu itu jadi penasaran, wajahnya yang tersenyum lebar berganti dengan raut penasaran.
Kembali mengganti posisi buku, namun Ozora kembali memilih buku itu, ibu muda dan Celina merasa heran, padahal sampul buku itu sama sekali tidak menarik. Akhirnya ibu itu memilih dua buku, pilihannya sendiri dan pilihan Ozora.
Celina membantu mengantar ibu muda yang sedang hamil itu menuruni tangga menuju kasir.
"Kamu akan meninggalkan bayimu dimeja itu" bertanya dengan heran pada Celina yang membiarkan bayi yang telah aktif bergerak berguling kesana kemari itu sendirian diatas meja.
Celina mengangguk. Ibu itu kembali memandang Ozora.
"Kamu tidak takut dia terjatuh ?" tanya ibu itu heran.
"Apa ? mana mungkin bayi bisa berpikir seperti itu" ucap ibu itu heran.
"Awalnya saya juga berpikiran sama seperti ibu, namun setelah mengamati Ozora. Anak itu punya insting yang kuat untuk menghindarikan diri dari bahaya" jawab Celina.
Dan terbukti di depan mata ibu itu, Ozora berbalik sendiri menjauh dari tepian meja.
"Luar biasa, anak ini luar biasa" ucapnya.
Sejak saat itu, ibu muda itu langganan datang ke lantai tiga. Kembali meminta Ozora memilihkan buku untuknya. Ibu itu bahkan meminta diambilkan foto bersama Ozora.
Dalam waktu singkat bayi Ozora menjadi terkenal, banyak pengunjung yang ingin berfoto bareng dengannya. Wajahnya yang lucu dan tampan membuat pengunjung ingin mengabadikannya dalam kamera ponselnya.
Suara tawanya yang menggemaskan membuat pengunjung betah berlama-lama bermain dengan Ozora. Lantai tiga telah menjadi spot selfie yang menarik bagi para pengunjung.
Buku-buku yang tadinya telah berdebu perlahan-lahan terjual dan bahkan ada yang memborong untuk diberikan pada perpustakaan-perpustakaan di daerah atau untuk disumbangkan.
Celina merawat buku-buku itu dengan baik sehingga masih terlihat sangat bagus dan tidak kusam. Bagi Celina semua buku-buku itu berharga karena gadis itu sangat menghargai para penulis buku yang telah bekerja keras menciptakan karya mereka.
"Kenalkan ini suamiku" ucap ibu muda yang menjadi langganan Celina.
Ibu itu mengajak suaminya menemui Ozora, dia sepertinya telah banyak cerita tentang Ozora pada suaminya. Setiap hari ibu itu selalu membicarakan Ozora pada suaminya hingga akhirnya ingin melihat bayi favorit istrinya itu.
Suami ibu muda itu ternyata seorang dokter saraf atau neurologis. Dokter spesialis yang biasa mendiagnosis dan mengobati masalah yang berkaitan dengan otak dan sistem saraf. Dokter itu menjadi penasaran setiap kali mendengar cerita istrinya.
Hari berganti hari, kemampuan berpikir anak itu melesat melebihi anak-anak seusianya. Di usia enam bulan telah lancar berbicara, dan sangat tertarik pada buku-buku dan majalah-majalah.
Semua buku-buku telah diamatinya, Ozora akan menolak buku yang telah pernah diamatinya, sambil merangkak bayi Ozora akan mendorong buku itu melewati tepian meja dan menjatuhkannya. Dia tau persis mana buku telah pernah diamatinya.
Semua itu jadi perhatian Neurologis itu dan semakin tertarik meneliti perkembangan Ozora. Saat berumur tiga tahun Ozora telah mampu membaca dengan baik, bahkan bisa menerangkan isi buku pada pengunjung.
Neurologis itu dibuat kagum oleh perkembangan kecerdasan Ozora. Diusia empat tahun telah mampu menyelesaikan soal matematika yang rumit.
__ADS_1
Dan Sekarang Ozora bahkan menjadi pemandu bagi para pengunjung yang ingin mencari buku serta memberi penjelasan tentang isi buku yang mereka cari.
Ozora juga mampu mengerjakan soal matematika yang ditugaskan pada seorang pelajar SMP yang berkunjung kesana. Mereka bahkan belajar pada Ozora cara menyelesaikan soal-soal yang ditugaskan pada mereka.
Lantai tiga telah menjadi ruang konsultasi bagi para pengunjung. Yang membutuhkan Ozora untuk dimintai pendapatnya bukan hanya dari kalangan pelajar, mereka datang dari berbagai profesi dan berbagai level pekerjaan.
"Ozora, kemarilah nak" panggil bu Widya.
"Ya Oma" sahut Ozora langsung menghampiri bu Widya.
Ozora yang tumbuh besar di toko itu, telah menganggap bu Widya sebagai neneknya dan semua karyawan disana sebagai om dan tantenya. Ozora telah menjadi anak kesayangan toko itu. Mereka memberikan hadiah apa saja pada anak yang telah terkenal karena kecerdasan dan ketampanannya.
Menjadi perbincangan dimedia-media sosial, diundang ke stasiun televisi untuk program talk show dan membuat penonton terpukau karena mampu menyelesaikan perhitungan matematis pelik dengan kecepatan luar biasa, dihadapan host dan seorang ahli matematika.
Ozora menjuarai berbagai olimpiade skala internasional sekaligus menjadikannya pemenang termuda. Kecerdasan Ozora membuat anak laki-laki tampan itu viral.
Anak laki-laki yang mengerti berbagai macam bahasa diusia lima tahun itu telah memiliki ijazah TK, SD, SMP, SMA dengan cara mengikuti ujian kesetaraan sekaligus dalam satu waktu.
Celina tidak mendaftarkan Ozora disekolah formal namun hanya belajar dirumah atau homeschooling. Mengajukan ujian kesetaraan hingga mendapatkan semua ijazah.
Perolehan nilai di ijazahnya bahkan melebihi juara umum di sekolah-sekolah favorit. Ozora juga mendapatkan tawaran dari berbagai perguruan tinggi baik negeri, swasta maupun universitas diluar negeri.
Ketenaran Ozora berimbas pada toko, toko buku itu tidak lagi sekedar menjual buku, namun berkembang menjadi sebuah stationery terbesar dan terlengkap hingga akhirnya bisa membuka beberapa cabang.
Celina menamatkan kuliahnya sambil bekerja. Celina sekarang telah menjabat sebagai supervisor di toko yang telah dilengkapi dengan segala macam alat-alat tulis, alat-alat peraga atau perangkat-perangkat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan.
"Saya kira, saya sudah dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan menyangkut kelebihan yang dimiliki Ozora" ucap dokter neurology itu.
"Apa itu dokter ? kenapa Ozora berbeda dari anak-anak lain ?" tanya Celina penasaran.
"Ozora mengalami sindroma kecendikiaan mendadak" lanjut dokter syaraf itu.
"Apa maksudnya dokter ?"
"Kemampuan luar biasa yang muncul setelah terjadinya cedera otak atau karena penyakit. Ini langka terjadi di dunia ini. Selama ini hanya 25 kasus seperti ini yang terverifikasi.
"Cedera otak ?" seru Celina khawatir.
" Cedera itu bisa seperti menghantam otak, menusuknya, menyetrumnya, menembaknya, mengirisnya atau menjauhkannya dari oksigen seperti tercekik" jelas neurologis itu.
"Tercekik ?" seru Celina dengan raut wajah panik.
"Dari kasus-kasus yang telah terverifikasi kebanyakan terjadi diusia dewasa, dalam kasus Ozora justru terjadi sejak anak itu masih bayi.
Ozora mengalami Hipoksia serebral atau bisa disebut dengan kekurangan pasokan oksigen ke otak.
Terputusnya pasokan oksigen selama 5 menit membuat sel-sel otak yang mati dan menjelang mati membuat suatu hormon yang merembes ke jaringan sekitarnya mendorong keterhubungan baru antar bagian-bagian otak, hal ini diperkirakan dapat meningkatkan kreativitas.
Kemungkinan Ozora pernah mengalami cedera otak itu, dan kasus yang mungkin terjadi pada bayi adalah tercekik" sambung neurologis itu panjang lebar.
Celina terhuyung, gadis itu terkenang kembali kejadian masa lalunya. Disaat Celina merasakan kebencian yang luar biasa terhadap bayinya dan juga ayah dari bayinya, hingga gadis itu berniat membunuhnya dengan cara mencekik bayi kecil itu.
Tercekik ? bukan, tapi sengaja mencekiknya, bisik hati Celina tertunduk.
Celina menatap kelantai bawah, dimana anaknya menyambut pengunjung yang datang, dan menanyakan keperluan mereka. Setiap pengunjung akan terpesona dengan ketampanan dan keramahannya.
"Selamat siang nona, ada yang bisa kami bantu ?" sapa Ozora pada seorang gadis kecil yang berpegangan dengan ayahnya.
"Dia orangnya daddy" ucap gadis kecil itu.
"Benarkah ? kalau begitu ayo perkenalkan dirimu" ucap ayahnya.
"Halo, saya Tita" ucap gadis kecil itu.
"Saya Ozora" ucapnya sambil menjabat tangan Tita, lalu kemudian menyalami ayah Tita.
"Saya Raffa, Raffa Saltano"
__ADS_1
...~ Bersambung ~...