
Ozora mengajak Olivia duduk di sofa. Lalu beranjak untuk mengambilkan minuman untuk gadis remaja yang cantik itu. Melihat Ozora yang pergi, Tita datang mendekati Olivia dan menyapanya.
Mereka berbincang-bincang banyak hal karena telah lama tak berjumpa. Tita tidak mengira Olivia masih tinggal menetap di rumah keluarga Saltano. Hal itu mengingatkan Olivia kalau dirinya adalah seorang anak yang menumpang di rumah itu.
Tita menanyakan kabar ibu kandung Olivia, membuat gadis itu hanya tertunduk. Sejak kecil ditinggalkan ibunya di rumah itu tanpa berkata apa-apa padanya hingga kini. Olivia tak mengetahui kabar dari ibunya sedikit pun. Gadis itu dilarang membaca, mendengar dan menonton berita infotainment atau berita dunia hiburan oleh Celina
Demi rasa sayangnya pada Celina, Olivia patuh. Gadis itu juga tak tega menentang perintah Celina yang begitu menyayanginya tak beda dengan putra putri kandungnya. Namun, rasa penasaran terhadap keberadaan ibu kandungnya membuat Olivia terpancing untuk mengikuti ajakan Tita.
Tita yang terbiasa membaca berita tentang dunia model dan entertainment. Dengan mudah menemukan berita tentang Felicia, ibu kandung Olivia. Namun, sayang, berita yang mereka temukan bukanlah berita bahagia melainkan berita duka. Ibu kandung Olivia diberitakan telah meninggal dalam sebuah kecelakaan beruntun di sebuah jalan bebas hambatan di luar negeri. Mengakibatkan jatuhnya korban dari beberapa pengguna jalan. Salah satunya adalah aktris Felicia.
Air mata Olivia langsung berderai. Gadis itu sontak berlari meninggalkan Tita. Sementara Ozora datang dengan raut wajah heran, melihat Olivia yang berlari sambil menangis meninggalkan sofa tempat duduknya.
Celina pun tanpa sengaja melihat Olivia yang berlari meninggalkan pesta dan naik ke lantai atas. Celina langsung bertanya pada Ozora. Pemuda tampan itu hanya mengangkat bahu karena tak mengetahui apa-apa.
"Kenapa Mama tega rahasiakan ini pada Livia," jerit gadis itu begitu Celina datang menghampiri dan bertanya penyebab kesedihannya.
Celina terdiam. Wanita itu langsung mengerti dan memang merasa bersalah untuk itu. Setiap kali ingin membicarakan kematian ibu gadis itu, hati Celina melemah. Tak pernah tega membayangkan kesedihan anak yang disayangi dan telah dianggap seperti anak kandungnya itu.
Celina membelai rambut gadis remaja itu. Olivia langsung menepisnya. Celina terdorong lalu terdiam. Matanya langsung berkaca-kaca. Hal yang telah dibayangkannya sejak kematian Felicia dirahasiakan. Suatu saat Olivia pasti akan membencinya karena itu.
"Livia, dengarkan Mama. Sedikit pun Mama tidak ingin merahasiakan ini pada Livia. Mama ingin menunggu waktu yang tepat untuk beritahu Livia. Hanya saja Mama semakin lama Mama semakin tak berani ceritakan yang sebenarnya pada Livia. Karena Mama sayang Livia. Mama tak tega. Mama-"
"Livia benci Mama! Mama tega bohongi Livia! Mama tega biarkan Livia menunggu orang yang telah meninggal dunia! Mama tega membiarkan Livia menunggu! Mama jahat! Mama jahat! Livia benci Mama," teriak Olivia.
"Kalau begitu pergilah!"
__ADS_1
"Ozora!" bentak Celina pada remaja laki-laki yang berdiri di depan pintu kamar itu.
"Apa yang bisa dilakukannya di luar sana! Jika Mama tidak bersedia menjaganya sejak SD, apa yang bisa dilakukannya? Dia bilang Mama orang yang tega. Kalau Mama tega, harusnya Mama buktikan. Biarkan dia pergi. Dia sudah besar sekarang, dia bisa jadi pelayan atau pelayan, kasir di swalayan, atau apa pun. Dia juga bisa menggoda laki-laki kaya untuk membiayai hidupnya --"
"Ozora hentikan! Bicara apa kamu? Mama nggak pernah ajarkan kamu bicara seperti itu," ucap Celina.
"Mama tidak mengajarkan kata-kata seperti itu di rumah ini tapi dia mendengarnya di luar sana. Dia ini sudah remaja Ma, pengetahuannya tentang dunia gelap juga sudah banyak. Mama saja yang terlalu sayang padanya. Menganggap dia ini anak kecil yang polos dan nggak tahu apa-apa. Pergilah! Benci Mama, artinya benci kami semua. Karena kami tahu kejadian itu. Kami tahu Mama yang menangis sendirian saat mendengar berita kematian itu. Tak berhenti menangis jika Papa tidak datang untuk menghiburnya. Aku juga tahu berita itu, aku juga ikut membuktikan kebenaran beritanya. Bencilah! Bencilah kami yang memaksaku tinggal di rumah ini. Sementara ibumu justru menyerahkan kamu pada ibu yang sudah membesarkan kamu itu--"
"Ozora!" hardik Celina.
"Biar saja Ma. Biar dia tahu kenyataannya. Dia ingin tahu yang sebenarnya. Kita nggak boleh tutupi lagi. Tak ada gunanya ditutupi lagi. Livia, asal kamu tau, Tante Felicia serahkan kamu pada Mama, karena pacarnya tak ingin Tante Felicia punya anak. Mommy kamu memilih pacarnya dibandingkan memilih kamu. Sekarang kamu ingin mencarinya? Menunggunya? Dia tidak inginkan kamu--"
"Ozora!"
"Aku akan berikan alamat makamnya. Dia dimakamkan bersebelahan dengan pacarnya. Dia lebih memilih sehidup semati dengan pacarnya dibandingkan hidup bersama dengan kamu," ucap Ozora.
"Kejam mana dengan ucapan dia Mama? Ozora cuma cerita kenyataan yang sebenarnya. Sedangkan dia malah menuduh Mama," ucap Ozora membela diri.
Mendengar itu Olivia tertunduk hingga terduduk. Sedetik yang lalu begitu membenci Celina. Menganggap wanita itu jahat karena memisahkan dirinya dari ibu kandungnya hingga akhirnya meninggal sebelum sempat bertemu lagi dengannya. Kini gadis remaja itu bingung untuk menentukan sikap.
{Para reader yang Othor sayangi, numpang iklan ya hehe ... main-main ke rumah tetangga di blok F ya. Bacanya nggak pake koin kok... judulnya SIRKUIT CINTA napen Kak_ICHA. Mohon dukungannya untuk karyaku ini ya, masukin ke daftar pustaka aja dulu hehe ... ditunggu kedatangannya ... makasih}
Teringat setiap kali bersedih merindukan ibu kandungnya, Celina selalu hadir untuk menghiburnya. Memberikan pelukan yang hangat untuk menggantikan pelukan sang ibu. Kini dirinya justru menuding Celina sebagai seorang yang jahat. Olivia pun bahkan mengungkapkan kebenciannya pada Celina. Gadis itu tertunduk dengan isak tangisnya yang pilu. Ozora tak hanya diam sampai di situ. Lagi-lagi mengungkapkan kenyataan yang dilihatnya selama ini.
"Mamaku menderita setiap kali melihat kamu menangis. Menderita batin setiap kali teringat kamu yang ditinggal ibumu. Sangat bersedih setiap kali ingin ceritakan kejadian yang sebenarnya tapi merasa tak mampu. Bertahun-tahun, setiap kali melihatmu, Mamaku merasa bersalah karena tak bisa ceritakan kejadian sebenarnya padamu. Memendam rahasia menyedihkan selama bertahun-tahun demi menjaga hatimu. Kalau kamu bisa berfikir, mana yang lebih menderita, kamu atau Mamaku?" tanya Ozora yang lebih menekankan hubungan antara mereka.
__ADS_1
Tangis Olivia semakin kencang. Tak sanggup lagi mendengar cercaan Ozora. Hatinya pun terasa bingung. Ingin mendekati Celina, gadis itu bahkan tak berani lagi. Ingin memeluk Celina sepertinya tak pantas lagi. Setelah memaki wanita baik hati itu, Olivia merasa tak pantas mengharap kasih sayang dari wanita itu lagi.
Namun, berbeda dengan Celina. Ucapan apa pun tak akan menjadi dendam baginya. Kesedihannya mendengar ucapan Olivia tak akan menyurutkan kasih sayangnya pada gadis itu. Melihat Olivia yang ragu mendekatinya, Celina justru segera memeluk tubuh yang sedang terguncang itu. Memeluk erat Olivia yang hanya bisa menangis sesenggukan seorang diri.
"Mama maafin Livia," ucap gadis itu dengan suara serak, begitu Celina memeluknya.
Pelukan hangat Celina bertahun-tahun dirasakannya. Diinginkannya setiap kali bersedih. Diharapkan setiap kali merindukan ibu kandungnya. Menenangkan hatinya di saat mengalami mimpi buruk. Tiba-tiba Raffa datang mengejutkan mereka.
"Ada apa ini?" tanya Raffa langsung masuk memeluk kedua wanita beda generasi itu.
"Livia sudah tahu tentang Felicia, Kak," jawab Celina.
"Oh ya? Livia, jangan sedih ya Nak, kami berempat adalah keluargamu. Memang tak bisa menggantikan Mommy kamu, tapi kami bisa memberi kasih sayang yang sama banyaknya seperti kasih sayang Mommy-mu padamu," ucap Raffa menghibur.
Olivia mengangguk. Celina tersenyum sambil menghapus air mata gadis itu. Raffa pun meminta Celina turun ke ruang pesta karena ada tamu yang baru datang mencarinya. Celina meminta Olivia merapikan diri dan menyusul ke lantai bawah.
"Livia mau lanjutkan pestanya kan?" tanya Celina.
Olivia mengangguk. Saat Celina dan Raffa turun ke lantai bawah, Olivia pun memanggil Ozora. Remaja tampan itu urung melangkah meninggalkan kamar. Terlihat Olivia yang kembali berdiri sambil mengucurkan air mata menatapnya. Ozora heran melihat sikap Olivia lalu menghampiri gadis cantik itu.
"Kenapa masih menangis?" tanya Ozora.
"Apa Kak Ozora benar-benar ingin Livia pergi?" tanya Olivia kembali terisak-isak. Mendengar itu Ozora langsung tersenyum.
"Ya ampun! Mana mungkin kami mengusirmu? Tak ada satu pun yang ingin kamu pergi. Aku cuma menyuruh kamu pergi kalau kamu ingin pergi. Kalau nggak mau pergi, ya jangan pergi," ucap Ozora dengan senyum yang semakin mengembang.
__ADS_1
Olivia justru semakin tersedu-sedu. Teringat Ozora yang tadi menyuruhnya pergi. Pemuda tampan itu langsung memeluk Olivia, dan membelai rambutnya. Terasa jelas tubuh Olivia yang masih berguncang menahan kesedihannya. Ozora membujuk gadis itu agar jangan bersedih lagi dan jangan berpikir untuk pergi lagi. Olivia mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Ozora. Gadis itu pun menangis haru di dada bidang pemuda tampan itu.
...☘️☘️☘️ ~ Bersambung ~ ☘️☘️☘️...