
Celina menyampaikan pesan dari Kevin kalau laki-laki itu menelpon Raffa namun tak dijawab. Raffa langsung memeriksa notifikasi diponselnya. Dan memang ternyata beberapa kali Kevin menelponnya. Raffa memang kurang mempedulikan ponselnya sejak melakukan perjalanan bulan madunya.
Keesokan paginya Raffa menelpon Kevin, meminta maaf karena tak menjawab teleponnya. Kevin tertawa, laki-laki itu memaklumi kesibukan Raffa hingga tak sempat mengangkat telpon darinya. Raffa membalas tertawa, mereka berbicara santai.
Raffa menyuruh Celina sarapan lebih dulu karena menurutnya Kevin seperti masih ingin bicara lebih lama dengannya. Laki-laki itu seperti seorang yang kesepian butuh teman untuk bicara. Tak dapat menelpon Raffa akhirnya Kevin menelpon Celina. Raffa teringat sesuatu dan langsung menanyakannya.
"Oh ya, apa kamu kenal laki-laki bule campuran bernama Edward ?" tanya Raffa.
"Ya, dia memang teman semasa kuliah di Stanford. Tadi malam dia langsung menelponku dia bilang mendapatkan nomor ponselku dari Celina" jawab Kevin.
Raffa terdiam, hal itu tidak diketahuinya. Raffa tidak tau kalau Celina telah memberikan nomor ponsel Kevin pada Edward. Dan otomatis nomor Celina tentu telah tersimpan diponsel laki-laki itu.
"Dia orang yang seperti apa ? " tanya Raffa.
"Dia baik, cuma sedikit nakal maklumlah, orang setampan dia tentu saja memanfaatkan ketampanannya dengan maksimal. Tak jauh beda denganmu" ucap Kevin sambil tertawa namun tak lucu bagi Raffa.
Mendengar itu, segera Raffa mengakhiri panggilan teleponnya. Laki-laki itu menyusul istrinya yang sarapan di restoran hotel. Apa yang ditakutkannya memang terjadi, Celina terlihat sedang sarapan dengan laki-laki itu.
Bule itu sedang duduk dihadapan istrinya, segera Raffa meminta pelayan menambahkan kursi dimeja itu. Raffa datang dengan tiba-tiba dan membuat Celina terkejut. Sementara laki-laki itu terlihat tenang.
"Oh Raffa, mari duduk sarapan bersama" ucapnya tenang.
Tentu saja aku duduk disini, apa yang kamu harapkan ? aku duduk ditempat lain sementara kamu bersama istriku ? batin Raffa.
"Aku pikir kasihan melihat Celina duduk sendirian jadi saya temani" ucapnya lagi dengan begitu santai.
"Ya, aku sudah sampai" ucap Raffa berharap laki-laki itu tau diri dan minggir dengan sendirinya.
Tapi tak ada tanda-tanda kalau laki-laki itu akan pergi. Meski kesal akhirnya Raffa menikmati sarapannya di samping istrinya. Celina terlihat diam, naluri gadis itu merasa kalau Raffa sedang kesal dengan situasi ini.
Raffa mempercepat sarapannya dan meminta Celina untuk menyelesaikan makannya. Tak berapa lama kemudian mereka pamit kembali ke kamar.
"Kamu memberikan nomor ponselmu pada laki-laki itu ?" tanya Raffa langsung begitu sampai dikamar.
"Sebenarnya dia memintaku mengirimkan nomor kontak kak Kevin" jawab Celina.
"Kenapa kamu begitu bodoh ? kamu bisa saja menyebutkan nomor ponsel Kevin tanpa perlu mengirimnya melalui nomormu, sekarang dia sudah menyimpan nomor ponselmu.
Kamu suka memberi nomor ponselmu padanya, kamu biasa memberikan nomor ponselmu pada laki-laki yang tidak dikenal ?"
ucap Raffa emosi.
Celina tercenung mendengar tuduhan Raffa, tak menyangka laki-laki itu akan bicara begitu kasar padanya.
"Kenapa menjadi masalah jika menyimpan nomor telepon seseorang ? lagipula dia memang temannya kak Kevin" jawab Celina mulai berkaca-kaca.
"Kamu suka menyimpan nomor laki-laki di ponsel mu ?" tanya Raffa dengan tatapan tajam.
"Tidak, tapi dimana letak kesalahannya jika aku menyimpan nomor telepon seorang laki-laki, apa tidak ada satupun nomor telepon perempuan di ponsel kakak" ucap Celina, air matanya mulai mengalir.
"Kamu !!! baru menikah kamu mau sudah menentangku, baru menikah kamu sudah mau mengaturku" ucap Raffa.
"Aku tidak bermaksud seperti itu" ucap Celina.
"C U K U P !!! " bentak Raffa.
"Baiklah aku akan menghapus semua nomor di ponselku, kalau perlu kakak boleh ambil ponselku" ucap Celina sambil menyerahkan ponselnya pada Raffa.
Raffa menyambar ponsel digenggam istrinya, bersiap-siap membanting ponsel itu. Namun terhenti, akhirnya Raffa melemparnya ke ranjang dan langsung pergi meninggalkan kamar.
Celina menangis seorang diri, gadis itu menangis terisak-isak. Celina tidak menyangka, disaat bulan madu pernikahannya sudah diwarnai pertengkaran. Celina mengambil ponselnya, lalu duduk di balkon kamar hotel. Duduk termenung menyesali perbuatannya.
Harusnya aku pergi, harusnya aku tidak mempedulikan siapapun, harusnya aku tidak perlu mengenalnya, batin Celina.
Celina menatap layar ponselnya, lalu memilih beberapa perintah diponsel itu kemudian menaruhnya dimeja. Duduk menatap kosong pemandangan dihadapannya. Entah berapa lama gadis itu duduk diam tanpa melakukan apapun hanya air matanya yang terus mengalir.
Celina tidak tau apa yang harus diperbuatnya untuk menyelesaikan masalah mereka. Apa yang diucapkannya terlihat salah dimata Raffa. Gadis itu merasa ragu melalukan apapun dan hingga siang ini Raffa belum kembali ke kamarnya.
Celina memutuskan untuk diam menunggu, mencarinya diluar sana bisa menimbulkan prasangka lain bagi Raffa. Celina duduk diam di balkon hingga akhirnya tertidur.
__ADS_1
Menjelang sore gadis itu terbangun, ponsel dimeja berbunyi, Celina menatap nomor ponsel yang tertera disitu mengira-ngira siapa yang menelponnya, namun akhirnya gadis itu memutuskan menerima panggilan telepon itu.
"Aku tunggu direstoran" terdengar suara yang langsung bicara setelah Celina menyapa.
"Siapa ini ?" tanya gadis itu belum yakin dengan siapa yang menelpon dan ragu untuk mengikuti perintah yang singkat itu.
"A P A ? kurang ajar, baru mengenal laki-laki lain kamu langsung melupakan suamimu ?" ucap Raffa yang terdengar emosi.
"Kakak, aku... aku tidak tau kalau..." ucap Celina yang baru menyadari siapa yang menelponnya.
"C U K U P !! aku tidak mau mendengar alasanmu, cepat datang kemari, S E K A R A N G !!! teriak Raffa.
Dengan perasaan yang tidak karuan, gadis itu bergegas menuju restoran seperti yang diperintahkan suaminya. Celina memasuki restoran itu, tangan Celina langsung ditarik laki-laki itu menuju ke suatu tempat.
Di Restoran yang juga memiliki konsep alam terbuka dan kolam renang didalamnya itu, Raffa menunjukan pada Celina apa yang dilihatnya. Terlihat Edward yang sedang merangkul seorang wanita didalam kolam renang sambil meminum minuman keras.
"Untuk apa kakak memperlihatkan ini padaku ?" tanya Celina.
"Agar kamu tau kelakuan pria idamanmu" ucap Raffa.
Air mata Celina mengalir mendengar ucapan yang dilontarkan Raffa.
"Bagaimana kakak bisa berpikiran seperti itu ? apa aku perempuan seperti itu ? perempuan yang hatinya bisa berpindah begitu mudah pada laki-laki yang baru aku temui ? setelah lebih lebih dari tujuh tahun kakak mengabaikanku dan aku masih menerima lamaranmu ?" ucap Celina sambil menghapus air matanya.
Gadis itu melangkah keluar dari restoran, dia tidak peduli lagi dengan tuduhan suaminya. Gadis itu ingin segera pergi dari hadapannya, dadanya terasa sesak. Gadis itu ingin segera kembali ke kamarnya.
Celina ingin melampiaskan kesedihannya di dalam kamar, sementara Raffa tercenung mendengar ucapan Celina. Kecemburuan sudah membutakan pikiran logisnya.
Melupakan semua yang pernah terjadi, melupakan bagaimana Celina yang tak mau meninggalkannya saat berusaha menolongnya, setia menunggunya hingga mengabaikan cinta tulus Kevin padanya.
Dan sekarang hanya karena kehadiran seorang pria yang tak dikenalnya, Raffa menuduh istrinya tak setia. Laki-laki itu merasa menyesal atas sikapnya, menyesali sikap bodohnya. Mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati istrinya.
Raffa ingin kembali menemui Celina, ingin meminta maaf dan menyesali, mengakui kebodohannya mengikuti bisikan setan dengan kecemburuan.
Raffa mengetuk pintu kamar hotel, Celina membukakan pintu dan langsung berlalu. Raffa memeluk istrinya dari belakang, erat, memeluknya sangat erat. Meminta maaf untuk segalanya.
Celina mengangguk dengan air mata yang masih mengalir. Gadis itu merasa ini adalah cobaan pertama setelah menikah dan dia ingin bertahan demi kebahagiaan putranya yang sangat menyayangi ayahnya.
Raffa menghapus air mata gadis itu, lalu memeluknya erat. Malam itu mereka memutuskan hanya diam didalam kamar, Raffa menggunakan room service atau layanan untuk makan di kamar.
Memesan makanan yang sesuai dengan selera istrinya. Bersama-sama memilih menu yang ada. Pihak room service segera menyiapkan pesanan dan mengantar ke kamar mereka. Raffa dan Celina tidak perlu beranjak dari kamar karena pesanan akan diantar langsung ke kamarnya.
"Rasanya aku tidak ingin kemana-mana, hanya ingin dikamar saja bersamamu, terlalu banyak godaan diluar sana, terlalu banyak gangguan" ucap Raffa sambil memeluk erat istrinya.
Celina mengangguk, setelah mengalami kejadian yang membuatnya bersedih, Raffa memanjakannya. Laki-laki itu tidak lepas memeluknya, gadis itu merasa kalau Raffa benar-benar menyesal dengan sikapnya.
"Kenapa kakak meragukan kesetiaanku ? apa aku perempuan seperti itu di matamu ?" tanya Celina yang masih dalam pelukan Raffa.
"Tidak, kamu bukan perempuan seperti itu. Aku yang selalu merasa takut kehilanganmu, tak mampu melindungimu dari godaan laki-laki lain, aku hanya bisa menyalahkanmu. Aku laki-laki bodoh yang hanya bisa menyalahkanmu" ucap Raffa menyesal.
Raffa dan Celina menghabiskan waktu di dalam kamar, menonton film-film yang ditayangkan layanan tv berlangganan. Bermain games online bersama, saat Raffa menatap ponsel Celina, barulah laki-laki itu menyadari Celina telah setting ulang ponselnya hingga menghapus semua aplikasi media sosialnya berikut nomor-nomor kontak yang tersimpan di ponselnya.
Raffa tidak ingin membahas tentang kejadian itu lagi, teringat saat laki-laki itu hampir membanting ponsel istrinya. Disaat amarah menguasai, semua itu terlihat wajar, sekarang apa yang dilakukannya terasa berlebihan. Sikapnya, perkataanya, perlakuannya terasa begitu berlebihan.
Saat Celina tertidur laki-laki itu menginstal kembali semua aplikasi yang diperlukannya. Mengirim nomor kontak yang dimilikinya untuk Celina. Laki-laki itu membelai lembut rambut istrinya, tak berhenti menyesali perbuatannya.
Raffa duduk di balkon kamar hotel, memutuskan menelpon Kevin. Kevin menerima panggilan telepon Raffa saat sedang duduk disebuah caffe. Laki-laki itu merasa hampa, setelah merelakan Celina menikah dengan Raffa, Kevin merasa dirinya hampa.
Setiap kali selesai jam kerja di kantor laki-laki itu memilih duduk termenung di caffe. Pulang kerumah Alyssa hanya membuat laki-laki itu semakin merindukan Celina. Terbayang apapun yang dilakukan gadis itu disana.
Saat duduk di karpet tebal sambil menonton televisi, saat didapur menyiapkan sarapan dan makan malam mereka, saat gadis itu kaget dan memecahkan gelas hingga membuat jarinya terluka.
Itu adalah saat Kevin merasa hatinya luluh dan memaafkan Celina hingga membiarkan gadis itu tetap tinggal dirumah Alyssa.
Menghabiskan waktu dikantor lebih lama dari karyawan lain, lalu duduk termenung menatap keluar melalui dinding kaca. Setiap hari melakukan hal yang sama, menyesap minuman yang dipesannya lalu termenung sepanjang malam.
"Keira ? apa anda nona Keira ?" ucap seorang laki-laki yang langsung berdiri saat melihat seorang gadis cantik mengenakan cardigan berwarna merah datang menghampiri.
Kevin terkejut mendengar nama itu, mengintip kearah datangnya suara. Kevin buru-buru memalingkan wajahnya, Keira yang disebut laki-laki itu ternyata memang Keira yang dikenalnya.
__ADS_1
Kevin berniat diam-diam meninggalkan tempat itu, namun telinganya menangkap pembicaraan orang-orang dibalik tiang besar itu.
"Kenalkan saya Keira, maaf saya terlambat" ucap gadis itu.
"Tidak apa-apa saya yang datang terlalu cepat" ucap laki-laki itu.
"Ternyata anda lebih cantik daripada di foto" ucap laki-laki itu.
Kencan buta ? bisik hati Kevin.
"Terima kasih, anda juga lebih tampan aslinya" balas Keira.
Kevin terperangah, mengerutkan keningnya dan mengepalkan tangannya.
Dasar wanita penggoda, pandai sekali membuat orang tersanjung, batin Kevin.
"Orang tua kita sepertinya sangat berharap kalau pertemuan ini bisa berlanjut" ucap laki-laki itu.
"Anda sendiri tidak berharap ?" tanya Keira.
"Tidak.. maksud saya, saya suka anda dan saya juga ingin pertemuan ini berlanjut. Lalu bagaimana dengan nona Keira ? " ucap laki-laki itu terlihat salah tingkah mendapat pertanyaan dari Keira.
"Tergantung, jika anda memang serius, saya akan mencoba mengenal anda" jawab Keira.
"Begini nona Keira, nona pasti mengerti tujuan orang tua mempertemukan kita adalah untuk hubungan yang lebih serius, jadi untuk itu saya ingin langsung saja. Saya menyukai anda, dan saya ingin menikah dengan anda"
CUKUP !!! jerit hati Kevin.
"Oh sayang , disini kamu rupanya, apa yang kamu lakukan disini ? kencan buta ? baru kemarin kamu bilang kalau kamu menyukaiku.
Kamu bilang aku adalah cinta sejatimu dan sekarang kamu malah kencan buta dengan laki-laki ini ?
Keira kamu benar-benar tidak setia" ucap Kevin yang tiba-tiba muncul dihadapan mereka.
Keira terperangah mendengar ucapan Kevin yang blak-blakan, seperti orang mabuk.
"Kamu ini mabuk atau apa ? apa yang kamu katakan ?" ucapnya meminta izin dan langsung mengajak Kevin menjauh dari laki-laki yang dijodohkan dengannya itu.
"Ini caffe bukan bar, tidak ada minuman memabukkan disini, jelas aku ini tidak mabuk" ucap Kevin menatap tajam pada gadis itu.
"Kenapa kamu mengacaukan acara perjodohanku ?" tanya Keira heran dengan sikap Kevin.
"Karena aku ingin kamu jadi wanita yang bertanggung jawab atas ucapanmu, setelah menyatakan cinta padaku seenaknya kamu menjalani perjodohan dengan laki-laki lain, lalu kamu anggap aku ini apa ? untuk coba-coba ? lalu apa bagusnya laki-laki itu ?" tanya Kevin.
"Bukannya kamu sudah menolakku ? kenapa aku tidak boleh mengenal pria itu ?" tanya Keira.
"Aku bilang belum saatnya, aku harus memastikan perasaanku. Aku tidak ingin menjadikanmu wanita pelarian, kamu lebih berharga dari itu" ucap Kevin dengan suara yang ditekankan.
Mata Keira berkaca-kaca.
"Aku bisa menunggumu, sampai kamu bisa memastikan perasaanmu, tapi orang tuaku tidak, mereka sudah terlalu lama menunggu, terlalu sering kecewa karenaku. Laki-laki itu terlihat baik dan sopan, dia juga tampan. Aku tidak punya alasan untuk menolak nya" ucap Keira murung.
"Kamu punya alasannya" jawab Kevin.
"Apa ?" tanya Keira.
"Alasannya kamu mencintaiku, cinta sejatimu adalah aku" ucap Kevin.
Lalu meraih gadis itu kedalam pelukannya, menempelkan bibirnya pada Keira. Gadis itu memejamkan matanya, membalas ciuman Kevin. Laki-laki yang dijodohkan dengannya langsung berdiri terperangah.
Pengunjung caffe bersorak bertepuk tangan. Keira melingkarkan tangannya di punggung Kevin. Air matanya menitik, belum pernah merasakan sakit kehilangan seorang laki-laki sebelumnya.
Setelah mengenal Kevin, Keira baru merasa bahwa cinta itu memang ada. Kevin memiliki cinta yang begitu besar, begitu dalam. Dia ingin memiliki cinta itu, ingin merasakan dicintai seperti itu.
Namun cintanya bertepuk sebelah tangan, hingga akhirnya Kevin menyadari dia tidak ingin kehilangan cinta sejati Keira. Dia tidak tahan melihat gadis itu menyia-nyiakan perasaannya untuk laki-laki yang baru dikenalnya.
Kevin melepaskan ciumannya, menatap gadis cantik dihadapannya.
"Keira, bersediakah menikah denganku" tanya Kevin.
__ADS_1
Keira terharu, air matanya langsung mengalir, Keira mengangguk tanda setuju. Kevin baru menyadari cinta nya setelah hampir kehilangannya.
...~ Bersambung ~...